運命の絆 (Unmei no Kizuna)

Jujutsu Kaisen © Akutami Gege

Unmei no Kizuna © Elliz Rokuou & Chisa Fuyuki

Rinai hujan menjadi latar berkabung upacara pemakaman, titik air turun tak deras namun rintikanya tetap terdengar jelas. Awan berwarna kelabu pekat menyelimuti langit, seolah- olah dapat mengetahui suasa duka yang sedang terjadi. Beberapa orang bersetelan jas dan gaun hitam memenuhi ruangan duka. Terlihat jejeran kursi berwarna hitam seragam, di atur berderet rapi dari baris kanan dan kiri meninggalkan ruangan kosong di bagian tengah yang di gunakan agar para tamu dapat melewati deretan bangku dengan mudah. Sedangkan ujung ruangan tersebut terdapat meja panjang yang penuh dengan bunga serta dupa yang dinyalakan, tepat ditengahnya terdapat foto almarhum yang sedang tersenyum.

Almarhum Wasuke Itadori di kenal sebagai sosok yang memiliki hati yang kuat dan tidak pernah menunjukan sisi lemahnya. Walaupun di usianya yang telah memasuki masa pensiun, beliau tetap berusaha dan berkerja keras untuk memenuhi biaya kehidupan dirinya sendiri beserta cucu semata wayangnya tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Bagi Wasuke Itadori sendiri, cucunya adalah satu- satu sanak keluarga yang di miliki olehnya.

Namun sekarang setelah kepergian Wasuke Itadori, sang kakek itu meningalkan cucunya seorang diri. Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun, seorang anak yang saat ini tengah duduk tepat di bagian depan ruangan. Duduk berdiam diri dengan kepala menunduk dalam, memandang hampa pada kedua kakinya sendiri yang tergantung tidak menyentuh tanah. Tubuh sedikit condong kearah depan, memeluk sebuah figura berframe hitam yang menampilkan potret seorang kakek dengan senyum berkembang tipis.

Anak kecil itu tidak bergerak barang sedikit pun, seperti takut jika bergerak dia akan kembali menangis untuk kesekian kalinya. Fushiguro Megumi yang sejak tadi memperhatikan sang anak kecil dari jarak tak terlalu jauh menatap iba. Tidak pernah terbayangkan dalam benaknya anak kecil itu harus kehilangan satu- satunya tumpuan hidupnya.

Perlahan Fushiguro berjalan mendekat tanpa melepaskan sedikitpun tatapan dari sang anak. Berdiri tepat di hadapan hingga akhirnya memilih untuk duduk tepat di samping sang anak yang masih betah terdiam tanpa menghuraukan kehadiran dirinya.

"Tenang saja, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Fushiguro sadar dia bukanlah orang yang pandai mengucapkan kata- kata penenang. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak akan sedikit pun membiarkan anak yang saat ini mulai mengalihkan perhatiannya kepada dirinya bersedih dalam kesendirian. Fushiguro berjanji, dia akan selalu berada di sisi anak itu dan menjadi seorang kakak yang dapat di andalkan dalam situasi apa pun.

"Fus..shiguro nii… chan." Suara serak dan terbata membuat Fushiguro tidak tahan untuk membawa sang anak kecil ke dalam pelukan erat.

"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu."

Fushiguro Megumi tidak dapat melupakan pertemuan pertamanya dengan Itadori Yuuji. Kenangan itu sangat membekas di dalam hatinya, saat ini pun kenangan itu masih dapat dia ingat dengan jelas. Perlahan tapi pasti kenangan itu kini hadir dalam bentuk nyata di dalam ingatannya, membawa pemuda itu kembali kemasa lampau di mana dirinya masih seorang pemuda berseragam sekolah menengah pertama.

Saat itu musim semi, awal tahun ajaran baru, diiringi dengan bunga sakura yang bermekaran dimana-mana, para anak sekolahan mulai kembali masuk. Seharusnya itu yang dilakukan Fushiguro saat ini tetapi dia memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah hari ini. Duduk termenung di bangku taman tak jauh dari sekolah yang harusnya dia datangi. Samar terdengar suara yang berasal dari beberapa siswa berseragam sekolah yang sedang bersenda gurau, terlihat sangat senang berjalan beriringan menuju sekolah.

"Haaah." Helaan nafas terdengar bersamaan dengan pandangan mata bergulir ke arah lain, memandangi bunga sakura yang berjatuhan. Fushiguro masih belum dapat memutuskan apa yang ingin dia lakukan saat ini.

Sejak dirinya memutuskan untuk meninggalkan panti asuhan, Fushiguro memutuskan untuk hidup mandiri. Berbekal uang tabungan dan uang sukarela dari panti asuhan dia dapat menyewa sebuah apartemen sederhana di pinggiran kota. Selama beberapa hari pun dia dapat bertahan dengan itu, tetapi dia sadar uang yang dia miliki tidaklah akan cukup untuk menghidupi dirinya di kemudian hari. Sehingga dia berencana tidak akan melanjutkan sekolahnya dan memutuskan untuk mencari pekerjaan.

Tetapi hal yang tidak terduga terjadi, seseorang tiba- tiba datang, orang itu mengaku sebagai kenalan dari ayahnya yang telah tiada. Memberikan uang dengan jumlah yang tidak sedikit, bahkan orang itu telah mendaftarkan dirinya di salah satu sekolah ternama. Segala hal telah di persiapkan oleh sosok itu, sepatu, buku, hingga seragam pun telah lengkap tanpa ada yang terlewatkan.

"Bukankah terasa mencurigakan." Gumaman terlantun pelan. Kepala menengadah ke atas menatapi kelopak- kelopak bunga sakura yang terlihat cantik berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Fushiguro tahu seharusnya dia merasa senang karena dengan kedatangan orang itu dia tidak perlu bersusah payah untuk mencari pekerjaan, tetapi dia pun merasa harus tetap waspada kepada orang lain. Dimatanya orang yang mengaku sebagai kenalan ayahnya itu sangat lah terlihat mencurigakan. Sikap terlalu santai dan terlihat seenaknya bukanlah sikap yang dapat ia percayai semudah itu.

'Terima atau tolak saja.' Dalam hati Fushiguro bergumam bimbang, masih belum dapat memutuskan untuk menerima tawaran yang berarti dia dapat bersekolah layaknya anak- anak pada umumnya ataukah tetap pada pilihan pertamanya yaitu mencari pekerjaan.

"Onii-chan sedang apa?" Kedua mata Fushiguro berkedip cepat. Sebuah suara asing membuat dia mengalihkan tatapan dengan segera.

'Siapa bocah ini?' Fushiguo menatap seorang anak kecil yang entah sejak kapan sudah berada di hadapannya dengan sebelah alis terangkat tinggi.

Matanya menatap awas pada anak di hadapannya. Meneliti sang anak dari atas hingga bawah, rambut berwarna merah muda yang cepak di bagian bawah. Mengenakan hodie merah dan celana hitam pendek. Dilihat dari postur tubuhnya Fushiguro menebak mungkin anak itu berusia sekitar empat atau lima tahun.

'Kenapa ada anak kecil disini? Mana orang tuanya?' Fushiguro membatin kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kiranya sosok yang merupakan orang tua dari anak yang masih menatap dirinya sambil memeluk sebuah boneka berbentuk harimau.

"Onii-chan sedang apa? Kenapa terlihat bingung?" Sekali lagi anak kecil itu bersuara membuat Fushiguro segera memfokuskan pandangan pada anak kecil di depannya.

"Siapa namamu?" Fushiguro berusaha bersikap seramah mungkin sambil mencondongkan diri, membuat tubuhhya lebih membungkuk.

"Yuuji. Itadori Yuuji." Suara khas mengalun ceria, senyuman berkembang di wajah polos yang terlihat sangat mengemaskan.

"Apa kamu tersesat?"

Gelengan kepala yang menjawab pertanyaan Fushiguro, anak itu kembali memperlihatkan deretan gigi susu yang tersusun rapih. "Tidak. Ojii-chan bilang Yuuji harus tunggu di sini. Ada yang tertinggal."

Tanpa sadar Fushiguro menganggukan kepalanya pelan, memahami apa yang di katakan anak kecil bernama Itadori yang masih berdiri dengan senyuman di hadapannya.

"Berapa umurmu?"

"Lima tahun."

Fushiguro tersenyum tipis saat melihat tangan anak di depannya terangkat naik menunjukan jumlah yang berbeda dari apa yang di katakannya, 'Jadi maksudnya lima atau enam tahun.' Dalam hati Fushiguro tertawa kecil melihat tingkah lucu dari Yuuji.

"Kalau oniI-chan. Sedang apa di sini?" Mata bulat itu berpendar penuh keingintahuan, melihat itu Fushiguro tersenyum lebih lebar.

"Merenung. Mungkin." Ada ketidak yakinan di dalam ucapannya.

"Merenung apa itu?"

Fushiguro tidak langsung menjawab dia kembali mengalihkan tatapan kearah lain, kepada beberapa siswa berseragam yang kembali melewati taman tempatnya berada.

"Sekolah atau bekerja mana yang akan aku pilih." Fushiguro sadar, tidak ada gunanya untuk menceritakan hal yang menjadi keresahannya kepada anak kecil yang mungkin tidak dapat mengerti arti perkataanya, "Aku sudah memukirkannya berkali-kali tetapi aku masih belum menentukan pilihan yang menurutku tepat. Apakah lebih baik melanjutkan sekolah ataukah bekerja?" Tetapi tidak ada salahnya bukan? Anggap saja dia sedang terbawa suasana.

"Hmmm." Memiringkan kepala sambil berkedip adalah pemandangan yang membuat Fushiguro mendengus geli dalam hati. Dia sudah membuat anak kecil di hadapannya berpikir. Tentu saja anak itu tidak akan mengerti ucapannya.

Perlahan sebelah tangan Fushiguro terangkat ingin menyuruh sang anak kecil untuk duduk sambil menunggu kakeknya yang katanya sedang pergi. Tetapi gerakannya terhenti saat sang anak berseru ceria.

"keduanya!"

Kedua alis Fushiguro mengernyit dalam menatap aneh anak yang mulai tersenyum sangat lebar ke arahnya.

"Kalau begitu lakukan keduanya."

Terkejut

"Ojii-chan bilang kalau Yuuji bisa melakukan semuanya. Untuk apa memilih salah satu."

Fushiguro lebih terkejut lagi saat anak kecil itu menaikan satu kakinya ke atas bangku, lalu dengan bantuan tanganya sebagai tumpuan anak itu berhasil berdiri tepat berdiri di sisi tubuhnya. Membuat tinggi mereka berdua menjadi sejajar.

"Yoshi yoshi" Dengan lembut tangan mungil mengusap pelan puncak kepala Fushiguro, membuat pemuda itu tertegun sesaat.

"Apa yang kamu lakukan?" Nada datar fushiguro lakukan saat dai sedikit merasa tersinggung dengan tindakan yang Itadori lakukan, 'Memangnya bocah ini pikir aku anjing!' Teriak tidak terima Fushiguro dalam hati.

"Ojii-chan selalu mengelus kepalaku ketika aku sedang sedih atau ketika aku sudah berusaha jadi aku juga melakukanya ke onii-chan" jawab Itadori dengan polos dan tak berdosa. Wajah anak kecil di hadapannya tersenyum lebar, terlihat sangat hangat.

Fushiguro tertegun lugu menatapi sang anak kecil yang tersenyum memancarkan kehangatan. Selama ini dia tidak pernah membiarkan siapapun menyentuh dirinya, tetapi elusan lembut penuh afeksi yang ia dapat dari anak kecil di hadapannya membuat hatinya ikut menghangat seketika. Kehangatan yang baru pertama kali ia rasakan.

Di tengah bunga sakura yang berguguran sebagai latar seorang anak yang tersenyum ceria, Fushiguro akhirnya dapat mengerti dan memahami artinya dari ketulusan yang sesungguhnya. Yang mungkin belum tentu dimiliki oleh orang lain, bahkan orang dewasa sekali pun.

'Apakah ini yang disebut kehangatan keluarga?' Fushiguro bergumam pelan dalam hati di iringi oleh lengkungan di bibir tipisnya.

'Ting'

Suara lonceng yang disuarakan biksu menyadarkan Fushiguro dari lamunanya ke masa lalu.

Ruangan duka senyap hanya terdengar alunan doa dibacakan oleh biksu. Doa terdengar khidmat seluruh pelayat mendengarkan dari kursi yang mereka duduki, wajah mereka menunduk menggambarkan suasana duka.

Doa selesai dikumandangkan sang biksu meninggalkan ruangan, satu-persatu tamu pemakaman memberikan penghormatan terakhir. Mereka bangkit berjalan menuju altar, menancapkan dupa dan berdoa untuk sang almarhum.

Fushiguro melirik melalui ujung matanya, menatap Itadori yang duduk di sisi tubuhnya dengan tatapan sendu. Sejak pertemuan awal mereka beberapa tahun lalu Fushiguro sadar Itadori Yuuji lah yang sudah mengajarkan pada dirinya arti dari kehangatan keluarga, yang selama ini dia cari- cari. Jadi untuk kini Fushiguro lah yang akan selalu ada untuk nya, dia tidak akan membiarkan Itadori sendirian. Fushiguro sudah berjanji, berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga dan selalu berada di sisi Itadori Yuuji.

'Iya. Aku berjanji.'

Selesai berdoa beberapa pelayat yang mengenal sang cucu memberikan sepatah dua patah kepadanya untuk tetap kuat dan sabar. Meski mereka tidak tau apakah maksud mereka tersampaikan kepada sang anak mengingat anak itu masih sangat kecil, mereka lebih memilih berbicara pada Fushiguro walau umurnya juga masih tergolong muda tapi lebih dapat diandalkan.

"Kasihan sekali padahal masih kecil tapi sudah tidak punya keluarga."

"Apakah Itadori-kun akan diberikan ke panti asuhan, dia kan sudah tidak punya keluarga."

Bisik – bisik terdengar dari arah pelayat yang datang, Fushiguro yang mendengarnya mengepalkan tangan tanpa sadar. Bagaimana bisa orang- orang itu berbicara tanpa memikirkan mereka yang sedang berduka. Berbicara seolah- olah tidak akan menyakiti yang mendengarnya.

Jika saja tidak mengingat keadaan mungkin Fushiguro akan berteriak atau bahkan mengusir mereka yang sudah berani membicarakan hal itu di hadapan Itadori.

Ruang duka mulai sepi dan waktu kunjungan pun mulai habis, hanya tertinggal beberapa orang di ruangan. Fushiguro yang duduk disamping Itadori kecil melihat gestur mengajak dari tetangga yang juga pelayat. Ia ingat meminta bantuan untuk pengurusan ritual soushiki, mulai dari masa semayam, kremasi, sampai penguburan. Baginya yang masih muda tentu saja hal itu sangatlah tidak mudah, oleh karenanya meminta bantuan dari orang dewasa adalah hal yang tepat. Ada beberapa kenalan almarhum Wasuke yang membantu pengurusan dokumen ataupun pengurusan ke kuil.

Fushiguro baru mau meninggalkan kursinya untuk berbicara dengan para orang dewasa, ia berhenti sebentar untuk menengok ke Itadori, kemudian ia menginggalkan Itadori. Ia berbicara sekalian menuntun menuju keluar ruangan karena waktu pelayat sudah hampir habis.

Sebelum makin menjauh, Fushiguro kembali menatap Itadori khawatir.

Di luar ruangan masih tersisa gerimis dan awan sore yang gelap karena mendung. Dilihat dari luar, ruang duka itu sudah kosong dari para pelayat hanya terlihat kursi kosong, altar, juga Itadori yang masih duduk sendiri di kursi bagian depan. Fushiguro masih membicarakan pengurusan pemakaman sambil megawasi Itadori dari luar.

Sebuah mobil hitam empat pintu Rolls-Royce terlihat parkir tak jauh dari ruang pemakaman. Sang supir turun dari mobil tersebut mempersiapkan payung untuk sang penumpang. Pintu mobil terbuka dan menampakan seorang kakek tua, kepalanya botak dengan janggut panjang, telinga dan hidungnya terdapat banyak tindik. Kakek itu mengenakan setelan tradisional nagajuban berwarna putih dengan hakama berwarna biru gelap, sedangkan kakinya mengenakan zori dan tabi. Sang supir sekaligus pengawalnya mengenakan jas hitam dan kemeja putih, wajahnya terlihat muda berumur 20an, rambutnya hitam dan kelopak matanya tertutup.

Kakek itu berjalan menuju ruang pemakaman sambil dipayungi. Fushiguro melihat sekilas kedua orang tersebut, ia tidak mengenal mereka. Ia berpikir mungkin teman Wasuke-san mengingat umur mereka yang sudah tua. ia tak terlalu mempertanyakan, ia masih melanjutkan pembicaraan.

Tak lama setelah kedua orang tersebut masuk ke ruang pemakaman, Fushiguro melihat satu orang lagi yang asing, pria berambut pirang yang dilihat dari wajahnya berkepala tiga, ia berjalan memasuki ruangan sambil membetulkan kacamatanya.

Kakek tua itu duduk dibarisan bangku paling depan dekat altar, ia menatap foto almarhum.

"Wasuke ternyata kau mendahuluiku" katanya dengan suara parau.

"Kau yang penakut, memang tak pantas untuk hidup di dunia gelap. Kabur dari jalan gokudo itu tidak akan menyelesaikan masalahmu, itu justru hanya akan menumpuk masalah"lanjutnya.

"Kamo"panggil sang kakek.

Kamo yang sedang berdiri disampingnya, berbalik untuk merespon.

"Ya"

"Laksanakan tugasmu" perintahnya singkat.

Pria bernama Kamo sudah menerima perintah dari sebelum berangkat ke tempat ini, yaitu untuk membunuh keturunan dari Itadori-gumi yang masih tersisa. Keluarganya turun temurun melayani musuh dari Itadorigumi. Ayahnya yang menjabat sebagai wakagashira memerintahkanya untuk menyelesaikan misi ini. Ia tidak mengetahui bahwa yang akan ia bunuh adalah anak kecil. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk bekerja dalam dunia gelap, namun untuk membunuh anak kecil juga bukanlah hal yang mudah.

"Saiko-komon, apakah target sudah dipastikan?" tanya Kamo yang ragu.

"Kamo, kau lihat ruangan ini sudah tidak ada orang lain, yang tersisa pastilah keluarga"

"Lagipula, kalau melihat wajah anak itu, tidak salah lagi, dia seperti pinang dibelah dua dengan sukuna. Kamo, aku tau kau ragu, namun keberadaan anak ini sangat berbahaya kedepanya. Lebih baik kita membunuhnya sekarang daripada kesulitan nantinya" jelasnya meyakinkan.

Kamo yang paham, menelan ludah dan memantapkan dirinya. Matanya berubah dingin, dirinya mempersiapkan sebuah kotak berisi dari sakunya, jarum itu sudah dilapisi dengan bisa beracun. Bisa beracun dari ular laut Belcher sangatlah mematikan dan dapat membunuh korbanya dalam waktu 30 detik. Ia perlahan mendekat ke arah Itadori, langkahnya pelan dan tak terdengar.

"Berhenti, jangan bergerak" geretakan tersebut membuat Kamo menghentikan langkahnya dan pandanganya tertuju pada pria berambut pirang berkacamata tepat dibelakang Itadori.

Itadori yang sedang duduk diam pun, ikut terkaget dengan pria dibelakangnya, dirinya menengok ke sekeliling bingung apa yang sedang terjadi.

"Apa tujuanmu?"tanyanya dengan singkat kepada Kamo.

Kamo kesulitan bergerak, korbanya sudah menyadari keberadaanya padahal hanya tinggal tiga langkah lagi. Dia memperhatikan pria yang sudah mengusik rencananya, tangan kanan pria itu masuk kedalam jas, terlihat bentuk senapan terceplak dari balik jasnya. Sedikit salah langkah saja maka mungkin saja peluru akan bersarang di tubuhnya tanpa berhasil menjalankan misinya.

Sebuah ketukan terdengar memecah keheningan ruangan tersebut. Ketukan itu berasal dari tongkat kayu kakek bertindik yang masih berada di ruangan.

"Kamo, kita kembali" ucap kakek tersebut sambil pergi meninggalkan ruangan.

Kamo yang sedikit terkaget, meninggalkan ruangan mengikuti kakek tersebut.

"Kenapa?"tanya Kamo bingung. Ia yakin atasanya itu tidak melanjutkan misi tanpa alasan.

"Pria itu"katanya merujuk pada pria pirang yang berada dibelakang korbanya.

"Dia wakagashira dari Itadorigumi, itu berarti anak itu sudah ada dibawah perlindungan Itadorigumi, kalau kita salah langkah mungkin akan terjadi perang antara dua klan" jelasnya.

Ruangan kembali sepi meninggalkan Itadori dengan pria berumur tiga puluhan berambut pirang. Pria itu telihat rapih dengan rambut tersisir ke belakang, garis wajahnya terlihat tegas dan serius. Itadori memperhatikan pria itu dengan pendangan bingung, ia tidak mengerti apa yang terjadi tadi, hanya kehadiran pria itu membuatnya penasaran. Ekor mata anak kecil itu terus mengikuti jejak pria itu yang mengambil dupa dan berdoa selayaknya para pelayat lain. Karena Itadori duduk di baris paling depan ia dapat melihat pria itu dengan jelas, raut wajahnya yang serius itu merenggang menunjukan kesedihan. Ekspresi pria itu terlihat berbeda dengan yang lain, terkesan ia sudah lama mengenal almarhum kakeknya pikir Itadori padahal ia tidak pernah melihat pria itu dengan kakeknya. Pria itu berkata sesuatu di depan altar tapi Itadori tidak dapat mendengar apa yang diucapkanya.

Setelah selesai pria itu membalikan badanya dan menuju ke bangku Itadori. Pandangan Itadori dan pria itu bertemu, menyadari pria itu mengarah ke tempatnya Itadori membalikan pandangan tidak mau terkesan memata-matai orang tersebut.

"Kau Itadori Yuuji?" tanya pria itu yang ternyata sudah berada tepat di depan bangku Itadori.

Itadori mendongak mencoba menatap pria itu,"Tinggi sekali".

Pria itu menyadari itadori yang mendongak tapi tidak dapat melihat wajahnya, ia mencoba berlutut agar sejajar dengan anak itu.

"Paman siapa?"

"Nanami Kato, panggil saja Nanami. Apakah kamu nak Itadori Yuuji?"

Itadori hanya menjawab dengan anggukan.

"Yuuji-kun, apa kau ingin bertemu dengan kakakmu?"

"Kakak?"

Itadori yang selama ini hanya tau kakeknya dan Fushiguro nii-san tidak mengerti perkataan pria bernama Nanami itu. Itadori ingin bertanya apa ia masih punya keluarga, apakah kakak yang dia maksud benar kakaknya, kemana kakaknya selama ini, dan banyak pertanyaan lain.

"Anda siapa?!" tidak sempat Itadori bertanya, Fushiguro datang mengintrupsi. Ia menarik itadori dari bangkunya dan mengendongnya. Pria dihadapanya tidaklah familiar, Fushiguro merasa khawatir.

"Maaf, aku lupa memperkanalkan diri. Nanami Kato dari Itadorigumi"

"Itadorigumi?"

"Saya kemari untuk mengambil Itadori Yuuji"

To Be Continue… (Review?)

Glosarium

Soushiki: Upacara pemakaman

Nagajuban: pakaian tradisional sejenis kimono

Zori: sandal kayu

Tabi: kaos kaki

Wakagashira: posisi dalam dunia yakuza yang tingkatanya dibawah Oyabun (tingkatan paling atas)

Saiko-komon: penasihat Oyabun