.

.

.

[ prolog : 1 – tipikal ]


Jika kau bertanya siapa entitas yang paling kucinta, ialah Mama. Seorang perempuan tegar yang berdiri sendiri; untukku, untuk keluarganya. Seorang yang tak akan pernah tega kulukai meski hanya setitik.

Bulan ini, tahun kesepuluhku hidup di dunia ini—tahun kesepuluhku mengenal Mama. Dan aku tahu banyak hal tipikal tentang Mama; namun hanya tiga yang sampai saat ini masih tertempel segar di ingatan.

Pertama; membaca.

Mama berkata bahwa ia lulus SMA di usia enam belas; jurusan IPA tetapi Mama menyukai sastra lebih dari apapun di dunia (jangan hitung aku). Ia mengambil program akselerasi saat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Dan bukanlah hal yang asing untuk si cerdas identik dengan buku-buku—begitu pula aku; aku cinta buku setelah musik.

Tetapi bagi Mama; di mataku, membaca adalah sebuah distraksi.

Kami hidup di bawah atap apartemen murah di pinggiran Suna pada awalnya. Itu adalah hal yang sulit ketika Mama harus mempertahankan segalanya tanpa menerima bantuan orang lain. Satu hal yang kumengerti tentang Mama dan orang cerdas lainnya; mereka malu untuk meminta dan menerima karena mereka lebih memilih untuk jatuh dan bangun dalam pencarian. Teman Mama, dan Guru Mama menawarkan bantuan (dulu aku tidak tahu apa, tapi sekarang aku tahu; uang) tetapi Mama bergeming. Ia memilih sendiri.

Untuk menata ulang kekacauan; Mama memulainya dengan distraksi—membaca. Aku tidak tahu apa. Aku hanya duduk melihat Mama meneliti isi buku dalam temaram cahaya akibat biaya listrik yang telat dibayarkan. Mama nampak serius, tetapi di satu waktu—Mama menatap lurus kosong dengan lensa yang berkaca-kaca.

Dalam sebulan setidaknya Mama pasti sempat melakukannya; duduk, membaca, dan menangis.

Yang bisa kulakukan? Dengan tidak bertanya, aku hanya memeluknya dengan tubuh kecilku dan Mama akan membalasnya erat—terlampau erat. Lalu Mama pasti berbisik, "Aku beruntung memilikimu, Sarada."

Di sini aku berdiri, di tahun kesepuluh hidupku dan berpikir bagaimana Mama bisa merasa beruntung memilki entitas yang entah disengaja atau tidak; telah menghancurkan hidupnya.

Kedua, musik.

Mama menyukai seni; tetapi tidak memahaminya dengan baik—bahkan Mama mengaku buta nada dan tidak bisa menggaris lurus bahkan dengan penggaris sekali pun.

Tetapi berbeda denganku, aku menyukai musik. Keahlianku adalah menekan tuts hitam dan putih demi mencipta harmoni. Aku mempelajari semua nada-nada itu sebelum mulai taman kanak-kanak.

Mama kerap menyanyikanku lagu kuno; twinkle-twinkle little star. Aku menyukainya, dan Mama terkejut aku bisa memainkannya lewat piano di kafetaria di mana ia bekerja. Mama terkejut; entah seberapa terkejut hingga ia menitikan air mata. Aku memeluknya saat itu, tidak paham mengapa, dan Mama; untuk pertama kalinya tidak balas memeluk.

Aku dibawa Mama ke tempat kerjanya karena ia terlalu khawatir meninggalkanku sendirian. Di sebuah tempat yang disebut kafetaria; di mana ada sebuah piano dengan seorang laki-laki yang menarikan jari di atas tutsnya. Aku teralihkan, perhatianku hanya terfokus pada bagaimana bisa sebuah benda usang menghasilkan harmoni sedemikian rupa? Bagaimana bisa dengan tarian jemari dan hentakan kaki; ada sebuah euforia yang mengalir dalam diri?

Aku mengamati. Sepanjang minggu itu dan setelah piano kosong; dengan segala ketidaksegananku, aku duduk di sana memainkan twinkle-twinkle little star dengan wajah yang kutahu pasti sumringah. Seperti memiliki mainan baru setelah sekian lama hanya berkutat pada boneka bulu rontok dan buku-buku di rak.

Mama berkata saat itu, setelah menenangkan dirinya dari tangisan; aku punya potensi. Ia bekerja, lebih keras lagi. Dan aku tidak punya hal yang bisa kuperjuangkan selain menyapu apartemen kecil kami dan menunggunya pulang. Aku tetap diam sampai Mama bertanya apakah aku mau terus memainkan piano itu tanpa terus datang ke kafetaria.

Tentu, aku mau. Mama mengantarkanku ke sebuah tempat yang lebih dari sekadar taman bermain impian anak-anak; itu adalah kursus musik. Aku menyukainya, lebih dari keinginanku untuk bermain perosotan dan menimbun diri di bak pasir. Aku suka semua benda usang tetapi elegan itu menyatukan bunyi dalam harmoni.

Aku tidak bisa menahan diri. Ketika usiaku enam tahun; aku sudah pergi resital di balai kota dan menjadi tamu undangan tetap tiap tahunnya. Guruku melihat potensi dan peluang; ia mengirimku ke berbagai kompetisi. Tidak semuanya menang tetapi semuanya menyenangkan.

Aku mencintainya; bermusik. Karena setelah tangis di kafetaria itu; Mama selalu menampilkan senyum hangat lalu memelukku dan berkata kalau ia bangga, bangga padaku, bangga pada pencapaianku. Uang yang kudapat dari resital, dari kompetisi, serta uang hasil kerja keras Mama—membuat kami mampu ke tempat yang lebih baik dan kami punya rak buku tingkat impian Mama bahkan sebuah piano hitam untukku latihan.

Kalau aku bermain di rumah; Mama tidak pernah melewatkannya. Ia selalu memperhatikanku, lekat-lekat, terkadang berkata bahwa aku hebat (meski aku tahu Mama buta nada dan tidak sadar jemariku meleset tadi) terkadang ia hanya tersenyum dan bertepuk tangan.

Tetapi pandangan Mama padaku saat aku mulai memainkan piano terasa asing, tetapi sarat akan sesuatu yang tak kumengerti. Aku lanjut bermain, ta npa paham arti kendati aku merasa ada yang mengusikku akibat tatap-tatap itu.

Di tahun kesepuluh ini aku paham; itu rindu, nostalgia, dan kurungan air mata.

Ketiga; Permen Kapas dan Komidi Putar.

Dua tahun lalu, kami mengunjungi Festival Musim Panas. Dengan yukata kembar, kami mengelilingi semua stan dan menanti kembang api. Ketika aku meminta untuk dibelikan sebuah permen apel Mama bertanya, "Sarada, kau tidak suka permen kapas?"

Aku menjawab saat itu, "Bukannya tidak suka. Hanya saja itu terlalu manis."

Mama menelengkan kepala. "Hee, kukira Sarada suka makanan manis."

"Aku suka kok! Kue dan panekuk madu adalah favoritku! Hanya saja aku tidak suka sesuatu yang terlalu manis. Terlalu."

Mama tertawa, mata hijaunya mengerling lucu. "Kau benar-benar unik."

Satu kali kedipan, dan hijau itu berubah redup.

Pun saat kami mengunjungi sebuah taman bermain—aku tidak terlalu menyukainya; bianglala, komidi putar atau apapun itu. Aku hanya berkeliling dan mencoba permainan ringan tetapi Mama;

ia berhenti di depan komidi putar, tas dalam genggaman lemah nyaris terlepas, matanya lekat memandangi anak-anak di sana; kebanyakan perempuan. Aku tidak paham kenapa redup pada lensa hijau Mama makin menjadi, jadi aku bertanya, niatku adalah untuk menggoda sekaligus menghibur,

"Mama kenapa? Ingin naik juga ya?"

Yang tak kusangka Mama tertawa kering. "Mama sudah terlalu tua untuk itu."

Tiga hal tipikal Mama yang mengusik pikiranku selama ini ternyata bukan hal yang pantas diabaikan, karena ini berhubungan tentang Mama dan keluarga yang ia miliki sebelum aku ada;

Mungkin Kakek, Nenek, Ayah dan seorang pria bernama Uchiha Sasuke.

[ prolog : 1 – tipikal : selesai ]


.

.

.

(( mungkin satu lagi tipikal yang terlewat; Mama selalu memaksaku untuk memiliki mimpi, dan ia bilang akan selalu ada untuk mendukungnya. Ia akan kerahkan segalanya untuk mewujudkannya bersamaku; tetapi bagaimana bisa?

Satu-satunya hal yang kuinginkan adalah melihat Mama melakukan semua tipikalnya tanpa sendu maupun ragu. ))

.

.

.


[ prolog 2 : orang ketiga ]

.

Di penghujung bulan ini Sarada akan berusia sepuluh tahun—begitu pula denganku; dengan selat beberapa hari sebelum ulang tahunnya usiaku telah bertambah menjadi dua puluh tujuh. Terkadang aku menyetujui apa yang orang luar katakan mengenai waktu; kejam dan tak berperasaan—tetap saja bergerak maju tanpa peduli berapa banyak hati yang hancur karenanya.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat; tetapi relativitasnya membuatku ingin menangis setiap harinya. Tanpa kusadari, Sarada sudah bertambah tinggi—ujarannya yang awalnya hanya sebatas ocehan semata kini menjadi sangat serius. Anak itu ... aku merasa bersalah padanya—keadaan kami memaksanya untuk dewasa lebih cepat.

Seperti apa yang terjadi padaku dulu; pada seusianya. Aku dipaksa dewasa sebelum waktunya—mempercepat sekolahku semata-mata untuk menyenangkan orang tua. Aku sendiri paling muda di kelas dan tidak pernah merasa istimewa maupun diistimewakan. Mereka lebih banyak meremehkan dibanding mengapresiasi—aku bersyukur bisa melewatinya tanpa harus menyakiti siapapun selain diriku sendiri.

Maka ketika tawaran beasiswa dengan akselerasi datang untuk Sarada—aku tidak mengizinkannya. Aku ingin putriku hidup normal kendati kata orang ia terlampau cerdas di kelasnya—ia tidak dapat mengimbangi pelajaran dan Sarada membuat teman-temannya terlihat bodoh. Tidak. Tidak seperti itu. Sarada hanya melakukan apa yang dia bisa sesuai kemampuannya—kalau pun ia terlalu cerdas untuk anak seusianya, Sarada tidak pernah keberatan membagi ilmunya pada siapapun. Aku tidak pernah mendidiknya untuk menjadi anak yang pelit.

Sarada memiliki kontur wajah sepertiku, tetapi lensa mata dan helai rambutnya terlalu kontras dengan milikku. Maka dari itu hari-harinya di sekolah tidak pernah mudah; namun Sarada selalu mengatakan kalau ia memiliki lebih banyak orang yang mencintainya dibanding membencinya. Aku tahu. Aku tahu itu, seberapa kecilnya itu; itu tetap menyakitimu, Sarada.

Orang-orang menanyakan identitas Sarada; apakah ia sungguh anakku? Mana Ayahnya? Mengapa yang menjemput Sarada selalu Mamanya? Dan anak kecil itu mengabaikan segalanya; suatu tingkah yang selalu mengusikku bagaimanapun juga—mengingatkanku pada seseorang yang saat ini seharusnya ada.

Sarada anak yang ceria—ia mengabaikan segala pengucilan terhadapnya dan memiliki berkonfrontasi lewat jalan lain; prestasinya. Dengan segala piala dan piagam yang pernah dibawanya untuk sekolah; tidak akan ada anak jahil yang berani mengusiknya. Malah semua mendekatinya, kendati itu demi ilmu dan ketenaran semata—Sarada berkata padaku bahwa ia tidak masalah sebab itu berarti orang-orang mengakuinya tidak peduli darimana asalnya.

Ketika semua orang bertanya asal-usul Sarada, anak itu tidak pernah bertanya. Ah, pernah, dulu—ketika ia masih balita. "Mama, apa aku punya Papa?"

Tentu saja. Tentu saja kau punya, Nak. Aku berusaha mengatakan kebenarannya tetapi air mata tanpa persetujuan lolos dari pelupuknya—aku tidak pernah berusaha menjadi selemah ini. Aku ingin mengatakan segalanya pada Sarada. Tetapi anak itu tidak pernah mengizinkannya; sejak saat itu Sarada tidak pernah bertanya, menjadi anak paling penurut yang pernah ada, mendebat hanya untuk hal-hal kecil yang tak perlu.

Mungkin karena ... karena sosok Ayah sudah hadir mengisi tempat kosong di hatinya tepat pada ulangtahunnya yang ketujuh. Tentu saja Sarada tetap diam, karena kendati dalam hati ia terus mempertanyakan; orang ketiga itu terbukti selalu hadir untuknya.

Dan Sarada tak punya pilihan lain selain menerimanya, dengan senang hati.

—dan mengabaikanku yang ingin mengutarakan kebenaran, setengah mati.

.

.

.

[ prolog 2 : orang ketiga : selesai. ]


.

.

.

.

(( pada suatu malam aku memintanya untuk merangkai mimpi; lalu mengutarakannya padaku. Dan dengan wajah hangat dan senyum gemas ia hanya ingin; aku, dan kami hidup dengan damai dan bahagia. Aku percaya, tetapi suatu waktu menyangsikannya—

ketika tatap netra hitamnya memandang sendu pada sebuah keluarga lengkap yang bergandengan tangan pada satu malam di festival musim panas. ))

.

.

.


[ prolog 3 : kasih tak terhingga ]

.

.

Orang-orang sangat ingin tahu sekaligus sok tahu dengan kehidupan orang lain—tidakkah ada yang bisa memikirkan urusannya sendiri? Aku sama sekali tidak tertarik menjawab pertanyaan mereka tentangku; bagaimana bisnismu? Bagaimana bisa kau sangat sukses di usia yang sangat muda ini? Dan mengapa kau belum juga menikah?

Mereka bilang aku punya segalanya; wajah, harta, kekuasaan dan wanita. Tetapi pada kenyataannya bukan. Aku tidak merasa memiliki segalanya, lagi, setelah lulus SMA.

Adalah waktu yang singkat untuk masa-masa klise remaja di mana kau menyebutnya jatuh cinta. Sesuatu yang kukutuk seumur hidup karena itu terlalu menjijikan; aku melihat Kakakku, bagaimana ia buta akan cinta hingga dikhianati tanpa kira. Melepaskan segala hal penting hanya untuk wanita, ia lepas kontrol tetapi kini seiring berjalannya waktu—ia telah baik-baik saja.

Masa klise yang kukutuk itu pada akhirnya kualami juga. Pada seseorang yang setahun lebih muda; tetapi isi kepalanya melebihi orang berkepala dua. Ia muda, dan belia, dengan helai merah muda panjang dan tatap netra hijau yang menenangkan—namanya Haruno Sakura.

Aku tidak berpikir untuk menyerahkan segalanya padanya—tetapi gadis itu merebut segalanya. Atensi, afeksi, dan adiksi. Ia adalah satu-satunya gadis yang berani melawan pendapatku; berani berdiri menatap langsung mataku tanpa gentar sedikit pun. Aku mengakuinya; gadis itu hebat—dan ketika aku mengikis jarak di antara kami; aku tidak tahu kalau ia bisa sehebat ini.

Ia punya mimpi besar; berkeliling dunia. Simpel, mengapa kusebut besar? Karena eksekusinya butuh waktu panjang. Dedikasi untuk mencapai mimpi seperti itu terlihat darinya. Gadis itu jurusan IPA—sama sepertiku, ia adik kelasku—tetapi ia lebih banyak belajar bahasa dan sastra. Ia berbicara bahasa Inggris dengan aksen British yang terlampau pasif. Ia mempelajari Mandarin, dan beberapa bahasa yang menurutnya berpengaruh di dunia internasional.

Gadis itu memilih mimpi menjadi diplomat untuk bisa berkeliling dunia. Mungkin aktivis—katanya, tetapi gadis itu akan berpikir ulang karena ia tidak terlalu suka politik. Aku bertanya, "Kau sudah mengatakan mimpi ini pada orangtuamu?"

Saat itu Sakura tersenyum sendu. "Hmm. Aku tahu segala mimpi ini tidak akan direstui—mereka bilang aku akan jadi dokter. Tetapi aku jijik—aku benci darah dan bau rumah sakit. Aku tidak peduli mereka melarangku atau bagaimana—toh hubunganku dengan mereka tidak pernah baik."

Tekadnya kuat. Aku tidak bisa untuk tidak tergerak. Hingga aku memutuskan; aku mencintai musik, tetapi dipaksa untuk ke jalur teknik arsitektur di perguruan tinggi nanti—maka aku akan mengabaikan mereka, sebagaimana aku selama ini. Sebelum mengambil alih perusahaan Ayah—aku akan membuat studio musikku sendiri, untuk keluargaku ... nanti.

Betapa bermimpi adalah hal yang manis. Aku bermimpi memiliki studio musik, bermimpi untuk tinggal di rumah sendiri; lalu aku bertanya pada Sakura, "Rumah seperti apa yang kauinginkan?"

"Mungkin," Ia menjeda, tersenyum manis. "Kalau aku jadi diplomat aku akan jarang sekali berada di rumah. Jadi aku ingin rumah yang tidak terlalu luas—tetapi asri dan menyejukkan. Halamannya tidak perlu ditanami bunga, cukup pohon untuk merindangkan suasana. Ah—mungkin bonsai juga bagus. Ah, kenapa kau bertanya?"

"Aku ... ingin tahu," Sial, pikirku saat itu. Seharusnya aku mengatakan ini. "Selain bermusik aku ingin tetap menjadi arsitek. Selain studio musik, aku juga ingin membuat ... rumah."

Sakura tertawa. "Kau serakah sekali! Tapi ... yah, tidak ada salahnya untuk bermimpi."

Rumah impiannya; yang entah sejak kapan menjadi rumah impianku juga adalah desain pertama yang kuselesaikan tepat setelah mendapatkan lisensi sebagai arsitek.

Aku selalu ingin menunjukan ini untuknya, berkata kalau kini impianku sudah tercapai—tetapi ia ... tidak ada di sini.

Kelulusan SMA dan ia menghilang tanpa jejak. Ayah dan Ibunya berkata mereka bertengkar hebat tentang pilihan perguruan tinggi dan gadis itu kabur ke Suna. Aku marah. Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang mencegah? Aku pergi ke Suna, mencarinya nama dan sosoknya di perguruan tinggi terkenal di tanah kering itu. Tetapi nihil, tidak ada, tidak ada sama sekali.

Aku membuang terlalu banyak waktu; jadi aku menyerah. Memilih mengubur diri bersama tugas-tugas dan kelas-kelas padat. Aku lulus lumayan cepat, dan niatku untuk membangun studio musik dan menanam saham di sebuah hotel yang auditoriumnya kerap dijadikan lokasi resital telah terealisasikan.

Setelahnya aku merasa tidak berguna; tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Karena satu-satunya mimpi yang belum terealisasikan adalah rumah itu; aku ingin aku dan Sakura ada di sana. Dan sampai saat ini, masih hanya aku. Tak seorang pun selain aku.

Lalu pada penghujung musim semi aku melihatnya; menggenggam payung merah di tangan kanannya dan mengenggam tangan mungil gadis kecil di tangan kirinya. Ada afeksi antara mereka; Sakura dengan tatap hangatnya berbicara pada sang gadis—aku melihatnya, sosok Ibu dengan kasih tak terbatas yang selama ini memang selalu ada dalam dirinya. Aku melihatnya, akhirnya. Setelah sekian lama.

"Mama, lihat pria itu kehujanan!"

Aku tidak bisa berteriak pada diriku sendiri;

(Kenapa kau menyerah, sialan!)

.

.

.


(( persona kasih tak terbatas ada pada Sakura. Sedangkan aku bukanlah apa-apa. Kami tidak bisa berada di rumah itu—kami, bukan, aku yang tidak pantas. Untukmu. ))


.

.

.

.

..

[ mereka adalah pemimpi, dan semesta tidak merestui. Mimpi itu; sang wanita membunuhnya, sang pria menguburnya, dan gadis kecil di antara mereka berdiri sendiri; sampai akhirnya melarikan diri. ]

.

.

.

.

.


dream catcher © tarinapple

Naruto © Masashi Kishimoto

| 2019


(( for ytamano a.k.a fanfan.

thank you for everything you've done. ))


.

.

.

chapter 0 : prolog ( tipikal, orang ketiga, kasih tak terbatas) – selesai.

upcoming chapter 1 : satu untuk sejuta mimpi.

.

.

.

terimakasih sudah membaca sampai di sini!