Not Even Mine
January 30, 2020
By Candyroll
Based on song "Happiness – Yazumi Kana"
Fly Higher, and Higher
Where wings of love
Come flying over me,
While my heart is calling out
For you.
"Tunggu, Ondorus," Micah menatap lawan bicaranya tidak percaya. "Maksudmu, karena ternyata Sharance Tree tidak kunjung berbunga—tapi hanya berkuncup, aku harus menikah?"
Ondorus menutup buku yang sedang dibacanya, lalu menatap Micah tegas. "Itu hanya pendapatku. Di buku ini, dikatakan bahwa orang yang menjaga Sharance Tree harus memiliki ikatan yang sangat kuat, dan—"
"—dan kau yakin itu adalah cinta?" tanya Micah, yang dibalas Ondorus dengan anggukan kecil. "Geez¸ menikah 'kan tidak segampang itu," gumam Micah pelan.
"Aku tahu. Tapi bukankah banyak gadis cantik, ya, di desamu itu?" Ondorus kemudian tertawa kecil.
Micah memalingkan wajahn, menopang dagunya dengan tangan di atas meja kamar Ondorus. "Kau pikir begitu?"
"Seperti siapa ya itu, gadis berambut oranye?"
"Maksudmu Shara?" Micah melirik Ondorus. Pria berbangsa univir itu juga sedang menopang dagunya, menatap lurus pada Micah, membuat lelaki berambut moka keemasan itu kembali memalingkan netra. "Dia 'kan anak kesayangan kakek. Aku tidak mau kakek membenciku—ya sebenarnya memang sudah benci, sih, berhubung aku ini monster."
"Begitu, 'kah?"
Micah terdiam sejenak, sebelum tiba-tiba membalas panik. Duh, dia lupa. Ondorus itu juga sejenis monster. "Ah, bukan begitu! Maksudku—uh… ayolah."
"Hahaha," Ondorus tertawa kecil, kemudian bangkit dari duduknya dan mengelus rambut Micah lembut. "Santai saja."
Micah mengangkat kepalanya, kaget dengan sikap Ondorus yang tiba-tiba. Ia pun menutup rambutnya dengan kedua tangan begitu Ondorus selesai mengelus rambutnya. Pipinya menunjukkan sedikit semburat merah.
"Hei, aku bukan bocah, tahu!" pemuda setengah monster itu sedikit menekuk alisnya. "Aku bahkan sudah mau menikah."
"Oh, jadi kau sungguhan mau menikah dengan Shara?"
"…ayolah, jangan menggodaku lagi."
"Habisnya," Ondorus menggantungkan ucapannya, berjalan perlahan keluar tendanya, sebelum sedikit menengok ke arah Micah dan melanjutkan, "kau lucu, 'sih."
Micah membaringkan badannya di kasur kesayangannya begitu sampai rumah. Perbincangannya dengan Ondorus sore tadi memang sangat membantunya untuk mencari cara agar Sharance Tree dapat memekarkan bunganya, tetapi sisa pembicaraannya sama sekali tak menolong. Padahal dia berharap Ondorus dapat bersikap dewasa dibandingkan teman curhatnya yang lain, yaitu Gaius, namun pria univir itu malah jadi sering menggodanya belakangan ini.
Namun lucunya, pernah suatu waktu ketika Ondorus tengah menjahili dirinya, Kuruna tiba-tiba masuk ke dalam tenda Ondorus. Ondorus dalam sekejap langsung memasang wajah dewasa dan menanyakan perihal kedatangan ketua univir itu. Sayangnya Kuruna sudah terlanjur menyaksikan apa yang sedang dilakukan Ondorus. Lalu gadis itu tersenyum miring.
"Ah, sebelum itu, kau ada hubungan apa dengan domba kesayanganku ini?"
"Eh, apa—" Ondorus menengok ke arahnya yang masih memiliki sedikit semburat merah dan wajah kesal, lalu kembali menatap Kuruna, "—kau salah paham!"
Kuruna hanya terkekeh kecil sebelum berpamitan keluar, "Urusanku nanti saja. Nikmati waktumu dengan anak tersayangku itu. Tapi tolong jangan sakiti dia, ya. Hatinya rapuh."
Mengingat kejadian itu, Micah malah tiba-tiba kembali merasa malu. Lain kali ia akan menjauh secepatnya ketika kejahilan Ondorus sudah mulai muncul. Pria itu lebih mengerikan daripada Monica, menurutnya. Untung saja Monica masih memiliki Shara sebagai 'penjinak'-nya, tidak seperti Ondorus yang justru didukung oleh Kuruna.
Omong-omong Shara, Micah tidak bohong saat secara tidak langsung mengatakan kalau dia tak mau menikah dengannya. Bukan berarti Shara tidak menarik baginya. Shara itu cantik dan perhatian. Tutur katanya juga halus. Ditambah lagi dengan kepribadiannya yang sangat peduli pada orang-orang sekitarnya. Tetapi Micah sudah memiliki seseorang yang spesial di hatinya.
Apakah itu Raven? Tentu saja tidak. Gadis phoenix itu terlalu sulit untuk Micah dekati, dalam artian cinta, oke. Mereka memang sudah berteman baik, namun tidak sampai tahap di mana Micah ingin menjadikannya istri—ataupun kekasih.
Kalau Karina? Micah hanya dapat mengembuskan napas berat. Karena, ketika Hazel mengetahui fakta bahwa dirinya dan Karina sudah berteman baik, Hazel langsung menyarankan Micah agar tidak terlibat hubungan lebih jauh dengan anaknya. Ia kira alasan Hazel melakukan itu adalah karena Hazel tak mau berpisah dengan Karina. Nyatanya tidak. Hazel tak mau kemalasan anaknya malah mengganggu orang lain. Duh.
Lalu bagaimana dengan kandidat-kandidat lain di desanya? Maria? Micah terlalu takut keracunan, terimakasih. Sofia? Otak Micah bisa terbakar lama-lama jika mau mengerti kalimat yang diucapkan oleh gadis konglomerat itu. Collette? Selera makan Micah tidak sebesar itu, lagipula keuangannya mungkin tidak cukup untuk membiayai makan tiga kali sehari untuk Collette. Carmen? Pass, Micah enggan ikut campur dengan satu-satunya adik kesayangan Carlos.
Pia? Gadis duyung itu terlalu easy going sampai-sampai Micah jadi canggung saay bersamanya. Sakuya? Ah, kembali ke masalah pada Collette, keuangan Micah tidak cukup besar untuk disandingkan dengan Sakuya dan ibunya. Daria? Micah pernah sekali menjadi tempat curhat pelukis itu. Dia bilang kalau dia tak tertarik pada Micah dalam konteks 'cinta', karena bagi Daria, ia sudah cukup menjadi 'babu' sehari-hari. Haha. Menyedihkan, tapi lucu juga.
Gadis terakhir, Kuruna? Seperti yang sudah terjadi sebelumnya, gadis ketua univir itu malah mendukungnya bersama menjalin kasih dengan Ondorus. Micah sampai tak habis pikir dengan pemikiran Kuruna. Maksudnya, bagaimana mungkin laki-laki menjalin hubungan dengan sesama jenisnya? Itu tidak normal.
Lantas siapa? Micah merenung, menarik salah satu bantal dan memeluknya erat. Ya, mencintai orang yang berjenis kelamin sama itu tidak normal. Sama sekali tidak normal. Micah sendiri bukannya mencintai laki-laki, dia cuma tidak mencintai siapapun, kok.
… harapnya sih begitu.
Mungkin kalau Micah boleh jujur, bukan Shara atau Karina atau siapapun yang tidak menarik di matanya. Mereka semua menarik dalam bidangnya masing-masing. Hanya saja, jika ada sesuatu yang salah, pasti itu adalah Micah sendiri. Dialah yang tidak dapat menyukai perempuan lebih dari teman atau sahabat.
Makanya, ketika Ondorus menjelaskan cara membuat bunga Sharance Tree mekar adalah dengan menikah, Micah sudah menjerit putus asa dalam hati. Itu mustahil, setidaknya, untuknya. Alasannya tidak bisa menikah ini juga berkaitan dengan Micah yang belakangan hari selalu mampir ke tenda Ondorus, entah untuk curhat atau sekedar menghilangkan kebosanan.
Micah tak lagi memiliki keberanian untuk dekat dengan Gaius, setidaknya setelah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Hal itu pula yang membuatnya menyadari sesuatu dalam dirinya.
Ya, kau pasti sadar. Micah menyukai Gaius. Bukan dalam artian sebagai teman, sahabat, atau rekan bisnis. Perasaannya pada Gaius lebih daripada itu.
"Hm?" Gaius menoleh padanya. "Tumben sekali kau kemari malam-malam begini. Ada apa?"
Micah hanya bersandar pada dinding di ruang pandai besi milik Gaius. Ia tidak membalas apa-apa selain menggeleng dan menunjukkan raut wajah lelah.
Gaius membalas dengan mulut 'o' sebelum menaruh palu kesayangannya di samping pedang yang sedang ia buat, lalu bersandar tepat di sebelah Micah, membuatnya menoleh ke arah Gaius.
"Apa ini? Kau cemberut sambil datang padaku." Gaius tersenyum tipis. "Katakan, kau kangen denganku ya?"
Ia lagi-lagi tidak membalas. Pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan. Kenapa Sharance Tree tak kunjung mekar? Bahkan setelah festival univir sudah dilaksanakan sebagai perbaikan hubungan antara manusia dengan univir, pohon simbolik desa itu hanya berkuncup bunga. Sudah lebih dari sebulan, namun kuncup itu tak juga menunjukkan tanda-tanda akan mekar dalam waktu dekat. Apa dia berbuat salah?
Sebelumnya dia sudah mampir ke desa univir guna menanyakan perihal tadi. Ondorus mengatakan kalau dia akan membaca buku-buku kuno untuk mencari tahu jawabannya. Kalau begitu, berarti Micah harus menunggu. Tapi sampai kapan? Dia—
"Hei, jawab, dong," ujar Gaius, memecahkan lamunan Micah. Bahkan kedua telapak tangan Gaius sudah menangkup wajah Micah daritadi. Sejak kapan? "Sekali lagi kau tak mengacuhkanku, aku akan menjahilimu, nih."
"Hm?" Micah kembali melamun, memikirkan sejak kapan wajahnya mulai dekat dengan Gaius, lengkap dengan kedua tangan pandai besi itu yang masih berada di wajahnya. Bau semerbak besi pun ikut melengkapi indra penciumannya, menjadikan Micah makin tak bisa fokus berpikir.
"Mi—cah."
"…"
"…aku sudah memperingatkan, lho, ya."
"Hm? Ga—"
Micah benar-benar kembali ke realita ketika Gaius memiringkan sedikit wajahnya dan mengecup bibir Micah tanpa ragu. Gaius sendiri tak bergerak lagi sampai beberapa detik kemudian, menarik wajahnya ke posisi semula dan menyengir lebar.
"Ini hukuman untukmu karena sudah cuek padaku daritadi, hehe. Kasihan nanti istrimu tidak mendapat ciuman pertamamu, Mic," ucap Gaius, masih terkekeh dengan asiknya, menyisakan Micah yang tengah memproses kejadian barusan.
"Ja-jahatnya!" balas Micah beberapa saat kemudian. "Apa kau tega kalau aku menikahi Raven dan dia malah mendapat bekasan darimu?"
Gaius beranjak dari posisinya dan kembali bersiap-siap untuk melanjutkan pekerjaannya. "Tak apa, toh kalau kau menikah dengannya, malah kau yang mendapat bekasan dariku."
"Hah?" ia menatap Gaius tak percaya. "Kau—apa?"
"Mau kuperjelas kalau aku pernah berciuman dengan Raven?" balas Gaius, sebelum tertawa lebar, menyisakan dirinya yang sudah protes panjang lebar karena teringat fakta bahwa Raven memandang Gaius sebagai figur ayah.
TBC
A/N : Halo, fandom yang sudah mati. Belakangan ini aku mulai main RF3 lagi dan ternyata aku masih demen Gaius /sobs. Sayang juga karena dia bukan bachelor yang bisa dinikahin. Coba aja protagonis RF3 itu cewe, auto gebet Gaius /sobs but harder. Anyway, aku bikin ff ini dalam rangka memenuhi asupanku sendiri karena baik Micah, Ondorus maupun Gaius itu sangat precious n adorable that i wanna hug them thight. Karenanya, meski aku tau ff ini ga bakal ternotis siapapun, please do enjoy these bois. Tq.
Oh ya, tambahan. Jika memang ada yang baca fic ini, dan merasa ada beberapa plot hole atau alur yang ga sesuai dengan RF3, ataupun typo, aku sangat berharap kalian bisa review sambil menyebut kesalahanku di mana. Jadi aku bisa bikin ff ini jadi lebih baik dan realistis lagi. Terimakasih.
