Owari no Seraph bukan saya yang buat. Saya cuma pinjam judul dan nama para karakternya saja. Kecuali OC yang saya buat :)


Chapter VII: Melapor

Shinku POV

Dalam perjalanan kembali ke kediaman Hiiragi, aku tak henti-hentinya memikirkan tentang dua masalah. Yang pertama tentang Kakak yang tinggal satu apartemen dengaan Sayuri dan Shigure. Lalu masalah yang kedua adalah mengenai Gereja Hyakuya.

Perintah dari ayah angkatku kan untuk memata-matai Mahiru, termasuk hubungannya dengan Kak Guren. Jadi kurasa aku tak perlu melaporkan mengenai serangan Hyakuya. Lagipula sejak awal aku memang tak berniat untuk membeberkan sampai segalanya yang kutahu pada pimpinan keluarga Hiiragi itu.

Begitu pula Kureto. Aku tak akan membeberkan penyerangan singkat Hyakuya terhadap Guren. Hanya akan kulaporkan hal-hal yang umum saja.

Sekembalinya ke kediaman Hiiragi, aku langsung bergegas ke ruangan kerja Kureto. Saat dia meneleponku tadi, dia menyuruhku langsung menuju ruangan itu.

Sebuah ruangan layaknya perpustakaan kecil. Di sisi kanan dan kiri ruangan itu terdapat lemari tinggi yang penuh dengan buku-buku yang hampir semuanya adalah buku dan dokumen mengenai ilmu sihir. Kureto sedang duduk di ujung tengah ruangan itu sambil memegang beberapa lembar kertas.

"Kau sudah kembali. Bagaimana pengalamanmu kembali bertemu dengan mantan kakakmu itu?" Kureto berkata dengan nada dingin.

"Nama keluargaku mungkin sudah berubah, tapi Kak Guren selamanya tetaplah kakakku." Ucapku membalas pertanyaannya dengan nada dingin yang sama.

Kureto meletakan lembaran kertas yang dipegangnya lalu beranjak berdiri dan berjalan mendekatiku yang sejak tadi berdiri di tengah-tengah ruangan.

"Kau harus ingat posisimu. Walaupun hanya anak angkat, kau yang sekarang adalah anggota keluarga Hiiragi, terlebih lagi tunanganku. Rendahan seperti Ichinose, sudah tak sejajar lagi denganmu."

Seluruh tubuh dan hatiku sangat membenci ucapannya itu. Aku mengepalkan kedua tanganku di samping tubuh berusaha menahan amarah.

"Dengan segala hormat. Apapun yang anda katakan ataupun apapun yang anda lakukan, Keluarga Ichinose tetaplah keluargaku. Kalian hanya mengambil diriku paksa dari keluargaku."

Aku berkata setegas mungkin. Namun, balasan yang kudapatkan dari laki-laki yang menjadi tunanganku itu hanyalah sebuah senyuman licik.

"Nah. Sekarang saatnya laporanmu. Apa saja boleh. Apa yang kau lihat dan kau tahu mengenai Guren dari kunjunganmu itu?"

Kureto menuntut laporanku sesuai dengan perjanjian.

"Tak ada yang penting. Kalaupun perlu kulaporkan paling hanya Shiguren dan Sayuri yang semakin lengket dengan Kakakku."

Ucapku berusaha bernaja sejujur mungkin. Lagipula selain bait awalnya, apa yang kukatakan memang kebenaran.

"Ooh. Masa puber memang sulit ditolak ya" Ucap Kureto dengan seringai liciknya.

"Bukan! Kakakku bukan orang seperti itu!" Ucapku sedikit membentak.

"Yah. Itu lebih baik kan. Daripada terus mengejar Mahiru yang tak akan pernah digapainya, bukankah lebih baik menghibur dirinya sendiri dengan dua orang gadis yang selalu bersamanya itu"

Aku benar-benar tak menyukai orang ini. Dia menganggap kakakku orang yang seperti itu.

"Orang sepertimu tak akan mengerti perasaan kakakku. Aku sudah melaporkannya sesuai keinginanmu. Laporanku selesai. Aku akan kembali ke kamarku."

Merasa Kureto tak akan membicarakan apapun lagi, aku mengundurkan diri untuk kembali ke kamarku. Tetapi, beberapa langkah lagi sebekum aku sampai menuju pintu, Kureto kembali berbicara.

"Shinya. Hanya dengan menyebut nama itu, kau tahu maksudku kan?"

Aku kembali berjalan keluar setelah berhenti beberapa detik untuk mendengarkan ucapan itu. Hanya dengan menyebutkan namanya, aku tahu apa yang dimaksud Kureto. Selain menjauhi Kakakku, aku juga tak boleh terlalu dekat dengan Shinya. Untuk alasannya pun... aku sudah tahu...

Hari ini adalah hari latihan praktik. Semua murid dipasangkan untuk berlatih. Semuanya bertarung dengan serius, bahkan ada beberapa orang yang pingsan setelah dikalahkan lawannya. salah satunya adalah orang yang dipasangkan denganku.

Tentu saja aku tak memberikan luka fatal baginya.

Terdengar suara pukulan yang sangat keras dan suara orang jatuh yang tak kalah kerasnya. Saat aku melihat sumbernya, rupanya itu adalah pertarungan antara Norito Goshi dan kakakku. Yang terkena pukulan dengan sangat keras hingga terjatuh tentunya Kakakku. Dia masih terus memerankan orang bodoh nan lemah dengan sangat menjiwai.

Aku sangat ingin menghampiri kakakku, namun Shinya yang entah sejak kapan ada di belakangku menepuk bahuku seakan menyuruhku untuk tak mendekati Kak Guren. Tak lama kemudian, terjadi pertarungan sengit antara Norito Goshi dan Jujo Mito. Guru yang sedang mengawasi latihan tanding ini malah menyuruh para murid untuk memperhatikan dan mempelajari pertarungan mereka berdua dibandingkan melerai pertarungan yang lebih mirip pertengkaran kedua orang itu.

Shinya menggunakan kesempatan itu untuk mendekati kakakku yang sedang membersihkan seragamnya dari debu.

Tak terlalu jauh di depanku, ada dua orang yang tak boleh terlalu kudekati menurut perintah Kureto. Sebelum aku selesai menguatkan hatiku untuk kembali melanggar perintah, entah apa yang tadi sempat mereka berdua bicarakan, Shinya mengeluarkan kekuatan penuhnya untuk menyerang Kak Guren.

Kelanjutannya... Sudah tak diragukan lagi. Pastinya Kakakku kalah karena terus menjiwai perannya. Wajahku memucat begitu melihat Kakakku terpukul dan terhempas beberapa meter kemudian mendarat dengan sangat keras hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.

Bersambung...