Ch 1: Sixth Holy Grail War
Lima tahun berlalu sejak perang Holy Grail yang ke lima. Emiya Shirou dan Tohsaka Rin kini sedang bersantai.
"Hhh...dunia benar-benar tenang tanpa adanya Holy Grail" Kata Shirou dengan kelegaan.
"Kau sadar kan Emiya-kun, Holy Grail tidak benar-benar hancur" Kata Rin 'menyadarkan' Shirou. "Sulit dipercaya, Excaliber tidak sepenuhnya menghancurkan Holy Grail"
"Ya, dan dengan koneksi antara Asosiasi Sihir dengan Academy City, kita lah yang ditugaskan untuk menjadi penengah nya kali ini" Kata Shirou.
"Siang ini kita berangkat ke Academy City" Ucap Rin mengingatkan.
"Sungguh, kenapa bisa bisa Holy Grail berada di Academy City?" Batin Shiro bertanya-tanya.
Siangnya, Rin dan Shiro berangkat ke Academy City. Saat ini pun, mereka sudah berada di gedung tak berjendela.
"Kalian sudah datang, Tohsaka Rin, Emiya Shirou. Aku senang karena kalian mau datang dan menjadi mediator di Holy Grail pertama Academy City" Kata Aleister, seorang laki-laki yang berada pada tabung dengan posisi tubuhnya terbalik.
"Sudah katakan saja, apa kau tau penyebab Holy Grail bisa muncul disini?" Tanya Rin.
"Ah, mengenai itu. Ya, mungkin saja Holy Grail tertarik dengan para Esper kami" Jawab Aleister dengan bangga.
"Apa kau ada sangkut paut nya dengan ini?" Tanya Rin lagi.
"Aku tidak bisa bilang iya maupun tidak. Aku hanya membantu Holy Grail menyebarkan kartu untuk pemanggilan Servant nya" Jawab Aleister.
"Begitu ya, karena Esper akan mengalami luka yang sangat berat jika melakukan ritual pemanggilan, maka dari itu dipermudah" Kata Shirou mencerna kata-kata Aleister.
"Lalu? Apa kau yang akan menentukan peraturan Holy Grail ini?" Tanya Rin lagi, lagi.
"Hm, sepertinya sama seperti sebelumnya, hanya saja..." Aleister yang berhenti sejenak menarik perhatian Rin dan Shirou. "Kurasa akan lebih menyenangkan jika kita membiarkan mereka membentuk tim mereka sendiri. Jadi kali ini, master tidak hanya bertarung bersama servant nya, akan tetapi juga bersama dengan teman-temannya" Sambung Aleister.
"Begitu, baiklah. Ayo Emiya-kun" Kata Rin berjalan menjauhi Aleister.
"Hhh... segarnya setelah mandi" Kata Mikoto keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Ia pun berjalan ke meja belajarnya. Disana, ia melihat kartu dengan gambar seorang ksatria yang memegang oedangnya secara vertikal. Pada bagian bawahnya terdapat tulisan 'Saber'.
"Aku masih penasaran ini apa" Kata Mikoto pada dirinya sendiri.
"Kau sedang memikirkan apa, Onee-sama?" Tanya Kuroko menoleh ke arah Mikoto.
"Hanya tentang sebuah kartu. Aku sendiri tidak ingat kapan mendapatkannya, atau dimana. Tiba-tiba saja itu ada di saku milikku" Jawab Mikoto.
"Oh, Onee-sama, kau terlalu kelelahan. Sini Kuroko akan-AAAAH" Arah pembicaraan Kuroko sudah dapat di prediksi oleh Mikoto dan langsung menyambarnya dengan listrik.
Kuroko yang tersengat oleh listrik milik Mikoto sudah tak berkutik.
Tiba-tiba, tangan Mikoto bercahaya crimson. Dan kartu yang tadi berada di pegangannya kini melayang ke arah meja belajar mereka. Kartu tsb bercahaya sangat terang.
Setelah cahaya redup, terlihatlah sosok tsb. Sosok berjubah hitam dengan dua pedang di punggungnya. Yang satu hitam dan yang satu biru kehijauan.
Rambut nya pun sama dengan warna jubah, baju dan celana panjangnya. Sosok tsb membuka matanya dan terlihalah iris onyx pada mata laki-laki tsb.
"Begitu rupanya" Kata sosok itu berbicara. "Akan kutanya, siapa dari kalian yang merupakan Master ku?" Tanya sosok tsb.
"Ha? Tu-Tunggu dulu. Siapa kau?" Tanya Mikoto.
"Oh, maaf" sosok tsb seperti sedikit bergidik. "Servant Saber, Kirito" Jawab Kirito.
"S-Saber?" Tanya Mikoto agak bergidik mengingat tulisan pada kartu sebelumnya. "Maksudmu kau berasal dari kartu yang kupegang tadi?" Tanya Mikoto penuh dengan ketika percayaan.
"Oh, begitu ya. Jadi kau adalah master ku" Kata sosok Kirito mendengar Mikoto. "Yoroshiku, Master" Kata Kirito mengulurkan tangannya.
"T-Tunggu dulu Onee-sama" Kata Kuroko menghentikan Mikoto. "Kita tidak bisa percaya padanya begitu saja. Bagaimana jika dia hanya menipu kita?" Kata Kuroko menyadarkan Mikoto.
"Kalian serius butuh pembuktian?" Tanya Kirito terlihat kerepotan.
"Tentu saja! Kau bisa saja seorang Esper teleporter yang berpindah kemari dan menipu kami" Kata Kuroko penuh dengan kecurigaan.
"Esper?" Tanya Kirito nampak jelas wajah bingungnya.
"Ya, Esper. Memangnya kau tidak tau apa itu Esper?" Tanya Kuroko ikut kebingungan.
"Seingatku, kurasa tidak. Memangnya apa itu Esper?" Jawab Kirito kemudian bertanya.
"Hhh... Kau yakin kau tidak tau?" Balas Kuroko dengan pertanyaan yang dijawab dengan gelengan kepala oleh sosok Kirito.
Ruangan pun menjadi hening seketika. Keheningan itu dipecah oleh Kirito yang mulai berbicara. "Master, kurasa ada seorang penyihir yang mendekat" Kata Kirito mengejutkan Mikoto dan Kuroko.
"Ha? Penyihir? Apa maksudmu? Tidak ada penyihir didunia ini" Kata Kuroko Membantah.
"Ada hanya saja mereka tersembunyi" Suara lain pun terdengar. Bukan Mikoto, Kuroko, maupun Kirito. Suara itu berasal dari seorang wanita berambut hitam twintail dengan baju merah.
Melihat sosok tsb, Mikoto dan Kuroko hampir saja berteriak, namun mereka berhasil menghentikannya.
"Kerja bagus, Saber. Kau berhasil mendeteksi ku" Kata sosok tsb.
"Bisa kau tolong jelaskan apa yang terjadi? Bukankah Master dalam Holy Grail harusnya seorang penyihir?" Tanya Kirito tanpa ragu.
"Ya, mengenai itu aku akan menjelaskannya. Tapi sebaiknya jangan disini" Jawab sosok tsb. "Sebelumnya, namaku Rin, Tohsaka Rin. Aku yang akan menjadi penengah dari Holy Grail kali ini"
Sosok yang mengaku bernama Rin mengeluarkan sebuah permata dan mengucapkan sebuah kalimat. Namun, didengar dari bahasanya, sepertinya itu bahasa luar negri. Setelahnya, permata itu bersinar dan dua buah sosok yang mirip dengan Kuroko dan Mikoto terbaring di kasur mereka masing-masing sambil memejamkan mata mereka.
"Dengan begini, kita bisa mengelabui penjaga asramanya. Sebaiknya kita bergegas" Kata Rin membuka jendela.
"Hhh... Mau bagaimana lagi" Kata Kuroko menyentuh Rin dan Kirito. Mikoto pun ikut menyentuh Kuroko. Dalam sekejap mata, mereka sudah berada diluar.
Mereka pun berjalan sampai pada sebuah bangunan. Tidak, itu bukan gereja.
Mereka berjalan memasuki gedung tsb. Bagian dalam Gedung tsb terlihat seperti Guild yang biasa terdapat di anime anime isekai. Rin berjalan pada salah satu meja berbentuk lingkaran (bukan meja bundar).
Rin pun mulai menjelaskan. Menjelaskan apa itu Holy Grail, aturan-aturan di dalamnya, bahkan apa yang terjadi di Holy Grail War kelima.
"Tunggu sebentar, jika ini memang sangat rahasia, bukankah hanya orang-orang yang ikut serta dan Asosiasi tsb yang mengetahuinya. Kenapa kau membiarkan Kuroko tetap hidup sampai sekarang?" Tanya Mikoto dengan penuh kecurigaan. Kirito dan Kuroko pun tersadar dengan maksud Mikoto.
"Oh iya, aku hampir saja lupa. Baguslah kau ingatkan aku" Balas Rin. Merasakan temannya dalam bahaya, Mikoto mulai bersikap menggunakan kekuatannya. Namun ia dikejutkan oleh sosok Kirito yang berdiri di depannya.
"Hm? Apa yang kau lakukan Saber?" Tanya Rin.
"Tidak ada sebenarnya. Aku hanya akan menghentikanmu jika kau berniat menyerangnya" Kata Kirito mengejutkan semuanya.
"Kenapa? Bukankah kau tau ini rahasia?" Tanya Rin.
"Memang benar ini rahasia. Tapi, ada beberapa hal yang harus dilakukan walau itu berarti melanggar sesuatu seperti aturan Holy Grail" Jawab Kirito.
"Begitu ya. Tapi usahamu sia-sia" Kalimatnya agak menyinggung Kirito. "Karena aku tidak akan menyerangnya"
"Eh?" Kata Kuroko, Mikoto, dan Kirito secara serentak.
"Kami sudah berbicara dengan Asosiasi dan Academy City, dan mereka memperbolehkan kalian untuk membentuk kelompok sendiri" Jawab Rin. "Oh iya, nanti setelah kalian kumpulkan orang-orang yang akan menjadi tim kalian dalam Holy Grail, beritau aku. Karena selama Holy Grail, kalian akan tinggal di tempat khusus" Kata Rin lagi.
Setelah perkenalan yang tertunda, Kirito kini telah mengenal nama kedua perempuan tsb.
Mereka kini berjalan dengan keadaan tenang. Sayangnya, terlalu tenang bahkan tidak ada orang lain disekitar. Saat yang tepat bagi seorang servant untuk menyerang secara tiba-tiba.
"Jadi, Master" Kirito memanggil masternya. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Kirito membuat Mikoto terbingung.
"Maksudmu?" Tanya Mikoto.
"Kalian mengenal 6 level 5 yang lain bukan?" Kata Kirito yang dijawab dengan anggukan kepala kedua siswi SMP tsb. "Menurut kalian, apa mereka semua memiliki niat baik jika bukan kita yang mendapat Holy Grail?"
Keduanya pun langsung memikirkan hal tsb. "Kita harus memikirkan rencana ini matang-matang. Karena jika tidak, kejadian seperti di Fuyuki 15 tahun lalu dan yang hampir terjadi 5 tahun lalu bisa terulang, atau bahkan lebih buruk. Dan kita tidak tahu master kedelapan ini" Kata Kirito.
"Lalu, saranmu?" Tanya Kuroko. "Kau berbicara seolah kau sendiri sudah mempunyai rencana"
Kirito pun menjawabnya. "Rencananya sih... simpel. Menyerang atau bertahan. Karena kita sudah mengetahui 6 master lainnya, kita sudah tau sasaran kita. Akan tetapi, kita tidak tau yang mana dengan servant kelas apa. Kita juga tidak tau master ke-8 dan servant nya. Jadi lebih baik untuk bertahan kurasa"
"Kalau begitu bukankah lebih baik kita menggunakan rencanamu yang sudah jadi itu?" Kata Mikoto.
"Baiklah kalau begitu" Kata Kirito mendengar jawaban Mikoto.
Suasana kembali tenang. Kesunyian ini dihancurkan oleh bunyi dia pedang yang saling beradu. Ternyata, Kirito sedang berusaha menahan sebuah serangan tak terlihat.
"Cih" Kirito mendorong mundur lawannya. Ia kembali melihat sekitar untuk bersiap pada serangan berikutnya.
Suara pedang yang berbenturan kembali menghiasi malam yang sepi tsb.
Kemudian, secara mengejutkan Kirito mengayunkan pedangnya dan berhasil mengenai sesuatu. Sayangnya, ia bukan mengenai kulit lawannya namun sebuah kertas.
Sosok tak kasat mata itu pun mulai terlihat. Tubuhnya yang berotot memegang dua buah katana bergerigi dan berkepala, babi?
"Sudah kuduga, kau memang Assassin" Kata Kirito setelah melihat sosok tsb.
"Huh, penganatanmu bagus juga Saber. Aku, Inosuke-sama adalah seorang Assassin terhebat. Tunjukkan kemampuanmu!" Teriak sosok berkepala babi tsb.
"Dia menyebutkan namanya... apa dia meremehkanku?!" Kata Kirito pada dirinya sendiri. "Huh... Master, bisakah kau gunakan kemampuanmu untuk menghambatnya? Tolong beri aku waktu 15 detik" Pinta Kirito berjalan mundur.
"Baiklah" Mikoto pun kemudian menggunakan listriknya dan mengendalikan pasir besi disekitar. Ia menggunakannya dan mengikat Assassin bernama Inosuke sehingga ia tidak bisa bergerak.
Sementara itu, Kirito mengayunkan kedua jarinya dan mencari sesuatu. Setelahnya, ia menoleh pada Kuroko. "Shirai-san, bisakah kau pindahkan aku ke belakangnya?" Pinta Kirito lagi.
"Haik" Jawab Kuroko kemudian langsung men teleport Kirito ke belakang Assassin.
Kirito kini telah mengangkat kedua pedangnya. Kedua pedangnya sudah siap untuk diayunkan. Tepat sebelum mengenainya, sebuah pedang menahannya. Pedang bergerigi milik Assassin menahan pedang hitam dan biru kehijauan milik Kirito.
"Cih" Kirito pun melompat mundur, memberi jarak diantara mereka.
"Apa dia memprediksi serangan ku?" Tanya Kirito dalam pikirannya. "Tidak, dia jelas memperhatikan pasir besi yang sedari tadi mengganggunya. Lalu, bagaimana dia menahannya? harusnya itu berada di titik butanya"
Assassin kini berlari ke arah Kirito. Kedua ujung katana bergerigi nya mengarah pada Kirito. Kembalilah beradu nya kedua pasang pedang mereka.
Kirito sangat terkejut ketika Inosuke berhasil menahan semua serangan yang ia rencanakan. Kirito sudah sangat memperhatikan, apalagi titik kosong yang seharusnya tidak mungkin dilihatnya.
Apa dia melihat arah tatapan Kirito? Tidak, jika memang benar begitu, seharusnya ia sudah tertebas pada serangan yang berasal dari titik butanya.
Kirito pun kembali terdorong mundur oleh Inosuke. Setelah menormalkan nafasnya, Kirito mulai berbicara. "Kau tadi menyebutkan namamu bukan?" Kata Kirito dengan santainya.
"Hah! Tentu saja. Kau harus tau siapa yang kau hadapi! Aku, Hashibira Inosuke-sama akan memenggal kepalamu" Jawab si kepala babi.
"Begitu ya. Kalau begitu sebagai tanda terimakasih nya, aku akan memberitau namaku" Kata Kirito mengejutkan Mikoto dan Kuroko. "Kirito, namaku Kirito! Ingat itu!" Kata Kirito memperkenalkan dirinya.
"Yosh, Kuritsuto. Mari kita akhiri semua ini" Kata Inosukr bersemangat.
"Hhh..percuma kukatakan namaku" Keluh Kirito mempersiapkan pedangnya.
Namun, Inosuke tidak berlari. Hal ini sempat membuat Kirito curiga. Namun kecurigaannya menghilang ketika Inosuke beteriak. "Apa maksudmu mundur?! Aku, Hasibira Inosuke tidak akan mundur!" Teriaknya kemudian terdiam.
"Ah! Baiklah!" Keluh Inosuke sambik berteriak. "Oi, Ketsuto! Kita sudahi dulu hal ini. Nanti kita lanjutkan!" Kata Inosuke kemudian menghilang.
Mikoto dan Kuroko pun kembali ke asrama mereka. Keesokan harinya, mereka meminta Uiharu dan Ruiko untuk ikut dalam peperangan ini. Walau bukan untuk bertarung namun mencari informasi.
Yosh, segitu dulu buat hari ini. Uh, untuk parameters dan skill Kirito, nanti Author bikinin Chapter khusus sekalian buat servant yang lain. Oke? Oke!Jangan lupa follow ceritanya biar nggk ketinggalan. Follow author juga kalo mau baca cerita author yang lain. Kalo kalian suka ceritanya, favoritkan juga oke. Author pamit dulu.
