Chapter 1
CREEPIN' IN YOUR HEART
I
I
Sehun yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria manis yang memakai tuxedo berwarna gading dengan corak bergaris emas pada kerah jas itu, berdiri terpaku saat menunggu di altar dekat podium pendeta yang akan menikahkannya dengan pria yang baru hari ini, saat ini, jam ini, menit ini dan detik ini dipertemukan dalam pemberkatan Pernikahan dadakan untuk menyatukan perusahaan keluarga Xi dan keluarga Oh.
I
I
Cast :
Luhan
Seo Hyun
Sehun
Jongin
Chanyeol
Dll..
I
I
Tetapi wajah cantik yang di kagumi Sehun itu sepertinya sangat menentang pernikahan ini karena terlihat di wajahnya seperti—
I
I
CREEPIN' IN YOUR HEART
HUNHAN
I
Main Cast : Hun-Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
YAOI STRAIGHT UKE
I
You left a stain
On every one of my good days
But I am stronger than you know
( Matchbox 21 )
I
I
3th Fanfiction from me LoveLulu
Boy x Boy
Warn! Mature!
I
I
Happy reading!
I
I
I
"Luhan..ini malam pertama kita, kau mau kemana?" Sehun bertanya saat Luhan mengganti pakaiannya, kemeja hitam dengan celana panjang berbahan Smooth-cotton yang terlihat luxurious and expensive ia memperbaiki tatanan rambutnya dengan menyisir kebelakang dan terlihatlah Luhan dengan wajah yang tegas walau masih terlihat kecantikannya tetapi sungguh Sehun terperangah menatap wajah Luhan yang hilang kepolosannya.
Luhan menutup sebentar matanya dan Sehun makin terpana melihat bulu lentik disekitar kelopak mata yang tertutup itu dan tersentak saat Luhan membuka matanya dengan menatapnya tajam walau terlihat imut bagi Sehun tetapi tetap saja Sehun merasa ia menjadi submissive dalam hubungan ini padahal ia adalah pen-dominant sejati.
"Tidak ada kata kita dan tidak ada malam pertama Sehun-ssi." Ucap Luhan tegas.
"T-tapi Lu—kita sudah menikah dan.."
"Maaf, mungkin kau menginginkan pernikahan ini, tetapi aku tidak!" Potong Luhan mengakui secara terang-terangan dan tak perduli jika itu menyakiti hati Sehun.
Sehun terdiam menatap Luhan memakai jas abu-abu yang dia ambil di dalam lemari memakainya dan setelah itu membuka bagian laci yang sedikit lebar dan pipih memperlihatkan koleksi jam tangan dari berbagai merk yang ia miliki, mengambil salah satunya dan memakainya dengan cepat.
Luhan menatap Sehun yang menatapnya tajam dan Luhan hanya tersenyum menyeringai padanya. "Mungkin tadi saat kita diatas altar kau berpikir akan ada malam pertama dengan aku yang mendesah di bawah kukunganmu Sehun-ssi, tapi..tentu saja hal itu tak akan terjadi..tidak akan pernah." Ucap Luhan lagi sambil membenarkan style-nya di depan cermin.
Sehun menatapnya dalam diam dan menahan nafasnya sampai Luhan kembali berbicara..
"Aku tidak akan pernah mengubah orientasiku sampai aku mati dan aku bukan 'GAY' sepertimu Sehun-ssi."
Deg!
Oh Tuhan, serasa berbagai pisau yang menusuk dada Sehun dari berbagai arah mendengar penuturan dari Luhan.
"Jujur saja aku benci menjadi orang lain, tapi aku akan bersikap manis di depan orang tua kita, aku akan menjadi istri yang baik untukmu, dan..jangan berharap lebih."
"Jika kau tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa kau menyetujuinya?" Akhirnya Sehun membuka suaranya tanpa lepas menatap tajam kearah Luhan dengan mata elangnya.
"Orang tua! pekerjaan! dan fasilitas!" Luhan menatap Sehun kedalam matanya tanpa perduli dengan suara Sehun yang bergetar seperti akan meledak.
"Maksudmu?" Tanya Sehun lagi.
Luhan terkekeh seperti mengejek. "Aku mencintai baba dan mama! Aku anak tunggal mereka yang tentu saja akan meneruskan bisnis baba! Jika aku lari dari pernikahan ini, baba akan menarik semua fasilitas yang aku miliki, kau paham Tuan Oh!"
Sehun mengusap wajahnya kasar dan menghempas kedua telapak tangannya ke permukaan kedua lututnya. "Straight?"
"Seo Hyun.. Kim Seo Hyun..anak sulung Tuan Kim Jong Kook, sahabat karib baba dan appa adalah kekasihku." Luhan mengatakan itu sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, berpaling tak ingin menatap Sehun sambil mendongkakkan wajahnya kelangit-langit kamar pengantin itu.
Sehun terdiam tapi seketika matanya membola mengingat seseorang, yah ingatannya kembali pada saat beberapa jam yang lalu, ketika ia dan Luhan saling mengucapkan janji, mengatakan bersedia sehidup semati dalam senang mau pun susah juga saat Sehun mengecup bibir Luhan matanya menangkap dari jauh sesosok wanita cantik dengan wajah yang polos terlihat sedang terisak menatapnya dan wanita itu adalah anak sulung paman Kim Jong Kook, sahabat appanya.
"Aku mencintainya dan tergila-gila padanya. Begitu juga Seo Hyun, hubungan kami sudah terlalu jauh dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku pergi dan kau tak perlu menungguku karena aku tak akan pulang malam ini!" Kata-kata itu mengalir seperti air dan Luhan terus melangkah keluar dari kamar pengantin mereka meninggalkan Sehun yang kini terdiam tak bisa berkata-kata.
BLAM!
"Dan kau tidak tau walau bukan penyakit, 'Gay' itu bisa menular menyebar seperti virus, Luhan sayang." Ucap Sehun lirih hampir berbisik sambil menatap pintu yang dari tadi telah tertutup.
I
I
CREEPIN' IN YOUR HEART
I
I
Sebuah mobil sport memasuki pelataran parkir di sebuah perusahaan besar, kendaraan tersebut pun terparkir tepat dibagian papan bertuliskan 'PRESDIR'.
Sepasang sepatu black pentofel berhiaskan perak diujung sepatu tersebut terlihat keluar saat pintu mobil itu terbuka dan sang pemilik melangkah angkuh bak model memasuki pintu kaca secara otomatis terbuka dengan sendirinya. Sebelum memasuki perusahaan miliknya pandangannya mengarah ke seluruh para karyawan yang berlarian ke arahnya sambil menyambutnya dengan hormat.
Tanpa memperdulikan sekitar ia membenarkan jas Canali abu-abu yang sangat pas di tubuhnya.
Ia buka kaca mata hitamnya terlihatlah mata tajam nan kelam itu memandang ke segala arah sambil melangkah memasuki lobby resepsionis dan menatap para pegawai yang telah datang lebih dulu. Sebagian dari mereka ada yang memberi hormat menyebut nama dan jabatannya dengan menundukkan tubuh mereka kearahnya dan ia hanya merespon dengan sedikit gerakan dari kepalanya dengan tatapan yang dingin dan datar kearah setiap pegawai yang menundukkan pandangan mereka saat mata elang itu menatap mereka sekilas.
Akan tetapi ketika di telisik lebih dalam, pandangan manik hitam tajam seperti elang itu akan berubah terlihat seperti dirimu akan tenggelam dalam pesona sorotan matanya. Yang terlihat hanya seperti pandangan penuh erotis yang memabukkan membuat tubuhmu terasa kaku dan sulit menompang tubuhmu..tetapi hal itu tidak akan terjadi jika kau tidak bisa mencuri hatinya.
"Jadwal-ku hari ini?" Pertanyaan yang sangat dingin dan datar keluar dari bibir tipisnya yang sesekali ia jilat.
"Untuk hari ini sampai minggu depan jadwal semua dikosongkan oleh Tuan dan Nyonya Oh karena Presdir akan bulan—" sebelum salah satu pegawai sekaligus pengawalnya memberitahu secara rinci ia mengangkat lengannya dan memperlihatkan kelima jarinya agar pegawainya tersebut menutup mulutnya.
"Kembalikan jadwal sebelumnya dan buat perjanjian dengan para kolega lainya yang sudah ayah-ku batalkan..dan lakukan sekarang." Ia mengibaskan jemarinya dua kali seakan mengusir semua pengawal yang mengikutinya.
Oh Sehun,
Namja berusia tiga puluh tahun..dialah sosok pengusaha muda yang paling di segani oleh para kolega-nya dan tak sedikit para pengusaha yang lain ingin bekerja sama dengannya, tak terkecuali para pengusaha tua yang mengincarnya untuk menjadikan menantu mereka juga para kaum hawa yang siap melakukan apa saja agar bisa mencuri hatinya.
Tak ayal beberapa majalah bisnis terkenal di KorSel memuat artikel tentangnya juga tak lupa terpampang gambar wajah tampannya, rahang yang tegas, mata yang tajam dan kelam, hidung mancung, bibir tipis tetapi terlihat penuh dan sangat pas dengan dagu lancipnya, tubuh proposional yang gagah dan semakin sempurna dengan kekayaan dan kecerdasannya dalam mengelola bisnis keluarga yang kakeknya rintis melanjutkan apa yang telah Tuan Oh kerjakan, terdahulu. Tuan Oh yang sudah hampir lima tahun duduk manis dirumah mewahnya dengan istri tercinta, Nyonya Oh.
Beberapa pria submissive dan wanita yang mencintainya menangis sedih saat Sehun menikahi putra tunggal Tuan Xi dan yang lainnya merasa iri karena ia mendapatkan Xi Luhan yang juga tak kalah menariknya di mata para pria dominan juga wanita. Dan Luhan adalah pria yang telah membuat Sehun jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tentang Xi Luhan. Pria yang dinikahi Sehun dua puluh dua jam yang lalu adalah putra tunggal dari pasangan Tuan dan Nyonya Xi. Kebalikan dari Sehun yang sekarang adalah seorang Presdir sedang Luhan hanya seorang wakil direktur di perusahaan sang baba. Walaupun begitu bukannya sedikit yang mengenal dan memujanya. Perangai yang ceria, selalu tersenyum manis dan ramah kepada siapa saja tak terkecuali. Nilai plus buat Luhan adalah ia dekat dengan siapa saja tanpa memilih teman dan selalu terlihat aura positive disekitarnya saat ia tersenyum, Luhan pun tak pernah lelah mengulurkan bantuan kepada siapa saja yang mambutuhkan, tentu saja semampu yang ia bisa.
Akan tetapi Luhan sangat membenci pernikahannya dan yang membuat ia makin merutuki pernikahannya adalah karena ia tidak di beri pilihan untuk menikahi orang yang ia cintai, dipaksa untuk menikahi pria yang berbeda orientasi dengannya. Tentu saja Luhan membenci itu..sangat.
I
I
Sehun masuk ke dalam lift khusus untuknya dan. menekan angka dua belas menuju lantai kantornya. Saat bunyi dentingan dan pintu lift terbuka Sehun melangkah kan kakinya lebar agar ia sampai ke ruangannya sebelum—
"Hei..dengar..tadi pagi aku bertemu dengan Tuan Xi Luhan saat membawa dokumen-dokumen yang akan di tanda tangani oleh perusahaan ini..oughh senyumannya, suara lembutnya juga perlakuan gentlenya benar-benar membuatku lumpuh seketika."
—terdengar suara salah satu karyawannya.
"Jeongmal? Aish..kau beruntung sekali, ya! Nappeun yeoja, kau tidak mengajakku dan pergi sendirian dengan supir kantor ish.." Ucap yang satunya lagi membuat yang lain terkekeh sebelum—
"Ehem.."
Sehun berdehem sambil menatap tajam kearah mereka dan yang mereka lakukan hanya bisa menunduk juga—
"Selamat pagi Oh Depyo-nim.."
—mengucapkan salam dan kembali ke kursi masing-masing.
Sehun menggelengkan kepalanya mengernyit dan memijat pangkal hidung bangirnya sedikit merasa pusing dan masuk kedalam ruangan miliknya sambil sedikit membanting pintu membuat para karyawan lain yang berada di lantai tersebut berjengit saat mendengar pintu yang dibanting atasan mereka.
Semua saling memandang satu sama lain dan mereka hanya mengedikkan bahu tidak tahu menahu kenapa atasan mereka seperti itu. Walau di hari biasa sama saja tapi pagi ini terdengar agak berbeda.
Sehun dengan kesal membanting jas kantornya di sofa dekat meja kerjanya. "SENYUMAN?? HAHH.. SUARA LEMBUT?? HAHH.. GENTLE?? HAHH..HAAAHH.." Sehun berteriak kesal dan mengacak-acak rambutnya tanpa mengetahui seseorang dibelakangnya terkikik tertahan.
"Pffttt..."
Sehun agak berjengit dan cepat berbalik, menatap jengah setelahnya kearah seseorang yang sedang menahan tawa sembari menutup bibir tebalnya dengan kedua telapak tangannya.
"Lain kali ketuk pintu!" Sehun merapikan rambutnya dan membenarkan dasinya lalu menatap pria di hadapannya yang melangkah mendekati sambil terus menahan tawanya.
"Aishh—" Sehun membuat gerakan seperti ingin memukul dengan dokumen diatas mejanya.
"Wow-wow tahan pengantin baru, cemburu itu wajar dan Luhan hanya milikmu." Seseorang itu menunjuk kearah Sehun.
"KIM JONGIN!" Teriak Sehun makin kesal saat ia mendengar nama Luhan dan kekesalan itu bertambah saat mengingat malam tadi Luhan tidak pulang ke rumah mereka.
Yang di panggil Kim Jongin atau biasa di panggil Kai atau sesekali Kkamjong ini hanya mengangkat kedua lengannya setinggi bahu seperti gerakan 'oke-baiklah-maafkan aku' dengan wajah idiotnya.
"Hahh.." Sehun membuang nafasnya dan menghempas tubuhnya di kursi kerjanya. Jongin sang sahabat Sehun yang merangkap menejer perusahaan yang ia pegang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kau baik-baik saja Sehun?" Tanya-nya sambil menarik kursi di hadapan meja Sehun.
"Aku baik." Dan mata itu terlihat tidak baik menurut Jongin.
"Mau bercerita atau berbagi sedikit pengalaman malam pertamamu? Mmm.." Tanya-nya lagi.
Sehun menumpu wajahnya dengan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya dan mengusapnya perlahan.
"Tidak ada malam pertama Jongin..tidak ada."
"MWO??"
"Sebenarnya—" Dan Sehun menceritakan semua yang terjadi malam tadi, semuanya membuat Jongin hanya bisa menggelengkan kepalanya karena baru tadi malam Sehun mengatakan padanya bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama saat Luhan memasuki pintu masuk menuju altar.
"Jadi dia straight? Dan Seo Hyun kekasihnya? Ow. My. God!" Jongin serasa tak percaya dengan pengakuan Sehun.
Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya. "Dan tadi malam dia tidak pulang, aku rasa dia bermalam bersama kekasihnya."
"WHAT?? Asdfghjk.." Jongin mengumpat tak abis pikir.
Sehun menyandar pada kursi kerjanya. "Luhan..kau harus mencintaiku..apapun caranya." Lirihnya dan Jongin hanya bisa masih tak percaya dengan pernikahan bos sekaligus sahabatnya ini. Keheningan pun terjadi diantara mereka, Sehun yang masih saja melamun dengan tidak elitnya sambil sesekali mengupil juga—
BRAK!!!
"Sehunn-iieeee...~"
"Akh!" Sehun hampir menusuk telunjuknya dalam di-lubang hidungnya mendengar suara berat terdengar dibuat semanja mungkin, tak terkecuali Jongin yang sedang asik berselancar dengan smartphone-nya hampir menghempas benda segi empat itu saat suara nista itu terdengar sangat..menjijikkan?
"YA! PARK CHANYEOL!!" Teriak Jongin dan Sehun bersamaan.
Yang dipanggil melongo. "W-Waeyo~" sahutnya sambil mempoutkan bibirnya dan tentu saja membuat Sehun dan Jongin memutar bola mata mereka jengah, sungguh Chanyeol itu tidak imut.
"Kenapa aku mau bersahabat dengan-mu Park, terkadang aku bertanya-tanya." Ucap Sehun menatap sahabat-nya kesal.
"Begitu juga denganku, entah kenapa aku bisa mau menjadi teman sejatimu." Jongin pun ikut-ikutan.
"Akh! Auch!" Telapak tangan Chanyeol mencengkeram dada di bagian kiri-nya. "Seperti dua belati menusukku secara bersamaan, akh sa.kit se-ka-lihh ohh kalimat yang kalian lontarkan sungguh tajam, setajam cutter Irine di meja kerjanya..ouhh!" Lanjutnya mendramatisir membuat Jongin menganga dengan aktingnya dan Sehun hanya memutar bola matanya sekali lagi—jengah.
"Kau seharusnya tidak menjadi Wakil Presiden di perusahaan ini, seharusnya kau menjadi artis, tuan Park." Sehun terkekeh mengejek dan Jongin menahan tawanya melihat Chanyeol yang mengedip-kedip matanya sampai—
"Jeongmal?? Jincha?? Aigoo..akhirnya ada yang memuji akting ku." Chanyeol bersedekap menutupi bagian dada seperti tanda 'X' sambil terharu dengan mata yang berkaca-kaca membuat kedua sahabatnya makin menganga tak percaya.
Tak sampai di situ saja, sekali lagi Sehun dan Jongin disuguhkan sebuah adegan yang membuat mata mereka hampir keluar dari tempatnya menatap Chanyeol yang mengangkat sebelah kaki kanannya diatas meja di depan sofa dan mengepalkan tangan kirinya keatas lalu—
"AKU..PARK CHANYEOL..AKAN BERUSAHA..UNTUK MENJADI..AKTOR TERKENAL..YANG TERBAIK..AKU BERJANJIII!!!" Teriaknya tanpa malu.
"Bruuhhhh..!" KaiHun pingsan dengan sukses.
I
I
CREEPIN' IN YOUR HEART
I
I
Ditempat lain seorang pria berparas manis sedang duduk di ruangannya dan pria itu adalah Luhan yang tengah asik tersenyum mengulum bibirnya kedalam menatap layar benda persegi empat miliknya sampai tak mengindahkan siapa yang mengetuk pintu ruang kerjanya, dan ia hanya mengucapkan—
"Ne~"
—tanpa melihat siapa si pelaku pengetuk pintu, tetap saja ia tak perduli dan terus saja melihat sambil tersenyum pada objek di layar ponselnya.
Seseorang yang masuk tadi hanya diam tak mengeluarkan suaranya, dan bibirnya melengkung keatas lalu seketika mempoutkan bibirnya imut dengan pipi chubby-nya.
"Kau lebih suka menatap layar ponsel itu dari pada aku mmhh?" Dan suara lembut itu keluar dari bibir yang ternyata adalah seorang yeoja.
Seketika Luhan tersentak mengingat suara yang selalu ia rindukan setiap detik, membuat senyumnya makin menawan dan Luhan mendongkakkan wajahnya menatap objek yang selalu ia puja.
"Seohyun-ah.." Sahutnya sambil beranjak dari kursi dan mendekat dengan cepat kesatu arah dan Luhan menarik pinggang wanita yang ia panggil Seo Hyun itu kedalam dekapannya.
"Luhan ka-mmmphhh.." Seo Hyun tak bisa bersuara lagi dan Luhan membungkamnya dengan ciuman yang dalam, Seo Hyun tersenyum dalam ciuman itu dan beberapa detik kemudian ikut membalas ciuman Luhan yang makin menuntut.
Mungkin karena terlalu rindu Luhan makin memperdalam ciumannya menarik bibir bawah Seo Hyun dengan sensual dan menghisapnya sepenuh jiwa, yeoja itu selalu menikmati setiap ciuman yang Luhan berikan karena ia sangat mencintainya.
Saat Luhan terus saja melumat bibir tipis Seo Hyun, tangannya pun tak tinggal diam begitu saja. Pelan tetapi pasti seketika jemarinya merambat keatas dan meremas gundukan lembut itu, membuat sang wanita melenguh. "Ahh—Luhan.." Ciuman itu terputus dan saat itu juga Seo Hyun menahan jemari Luhan yang ingin menjamah payudaranya.
Luhan mengernyit. "Wae?" Bisiknya bertanya 'kenapa' dengan seduktif.
"Kau lupa atau berpura-pura tidak ingat mmm?" Seo Hyun memeluk Luhan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.
"Ingat tentang apa sayang?" Tanya Luhan sambil memainkan rambut panjang Seo Hyun dan lengan yang satunya memeluk tubuh mungil itu.
"Ish..kau benar-benar lupa Tuan Xi, aku tau nantinya akan berakhir seperti apa jika kita melakukannya, dan kau telah melakukannya denganku tadi malam sampai pagi, apa kau belum puas juga eoh?" Seo Hyun mengerucutkan bibirnya sambil melepaskan lingkaran lengan Luhan dan si pria bermata rusa itu mengecup cepat bibir pink itu lalu menarik kembali tubuh mungil kesayangannya kedalam pelukannya.
"Kau tau, aku takkan bisa bosan jika menyentuhmu sayang, dan aku ingin melakukannya terus menerus karena kau candu bagiku." Bisik Luhan menggoda ditelinga Seo Hyun yang seketika merona saat Luhan mengatakan itu.
"Dan.." Luhan menjeda kata-kata yang akan keluar saat ia mengelus lembut perut rata Seo Hyun. "Aku ingin menanamkan benihku disini, agar bisa menikahimu secepatnya dan memanggilmu yeobo tiap harinya." Ucap Luhan tersenyum sangat manis dan tampan secara bersamaan.
"Wo ai ni, Luhan..dipanggil laopo-pun aku mau." Ujar Seo Hyun lembut dan memeluk Luhan erat.
"Ahaha..hao-lah..wo ye ai ni Seo Hyun."
Tatapan keduanya begitu penuh cinta sampai Seo Hyun memekik.
"Ah! Ya Tuhan."
"Wae geurae?" Tanya Luhan bingung melihat Seo Hyun menepuk dahinyanya dan Luhan dengan lembut mengelus dahi kekasihnya.
"Ish..bodoh sekali aku sayang, padahal aku kemari membawa makan siangmu." Seo Hyun mengambil tas kecil yang ia bawa tadi.
"Tadaaaa... Seperti biasa sayang, aku memasak bekal kesukaanmu." Lanjutnya sambil memperlihatkan berbagai makanan olahan dan di kemas dalam bentuk yang lucu.
Luhan tersenyum bangga. "Kau yang terbaik sayang, dan aku tak sabar melihat anak kita setiap pagi ke sekolah membawa bekal yang kau buat." Seo Hyun tersipu malu dan Luhan melihat itu mengecup pipi chubby kecintaanya.
Luhan menikmati makan siangnya dengan Seo Hyun yang terus menyuapi.
"Haahh..aku ingin kita begini setiap hari sayang. Andaikan aku tidak takut mengakui hubungan kita ini dan tidak menyembunyikannya pasti pernikahanmu tidak akan terjadi..Mianhae.." Lirih Seo Hyun sendu menatap Luhan yang mengunyah makanannya dan menelannya dengan cepat.
Luhan menggenggam jemari lentik yeoja-nya dan mengecup punggung tangan itu.
"Aku memang sudah menikah dengan Sehun tapi kau tak perlu kuatir karena aku bukan gay, aku hanya mencintaimu sayang dan aku janji akan menikahimu walau tanpa restu orang tua kita." Luhan menarik wanita-nya dalam pangkuannya dan melingkarkan lengannya di pinggul sempit itu, Seo Hyun pun memeluk leher Luhan dan menyatukan dahi mereka sambil memejamkan mata keduanya.
"Aku tidak meminum pil pencegah kehamilan dimulai tadi malam seperti keinginanmu, dan aku berharap bisa melahirkan anak-anak kita. Aku siap dihujat asal selalu ada kau disisiku Lu—" Seo Hyun membelai pipi Luhan dan menikmati hembusan nafas pria dihadapannya.
"Apapun yang terjadi nanti, aku takkan meninggalkanmu..kita akan selalu bersama 'Nyonya Xi'." Luhan beranjak mendadak, mengangkat Seo Hyun yang tiba-tiba memekik.
"Kyaaa..apa yang kau lakukan sayang?" Pekik Seo Hyun dan membelalakkan matanya karena terkejut dengan apa yang Luhan lakukan, menggendongnya ala bridal.
"Apa yang aku lakukan? Yang akan aku lakukan adalah membuatmu cepat hamil." Luhan melangkahkan kakinya lebar membuka pintu kamar khusus untuk dirinya beristirahat dan menutupnya rapat.
Kamar minimalis dengan warna putih biru mendominasi tatanan yang lembut dan kekasihnya lah yang mendekorasi setiap sudut tempat peristirahatan Luhan ketika ia lelah bekerja. Tubuh mungil Seo Hyun dengan lembut ia baringkan diatas ranjang seprai warna biru laut itu serasi dengan warna dress selutut miliknya yang berwarna magenta lembut.
Yang membuat Luhan membasahi bibir bawahnya adalah saat kekasihnya terlihat telentang dengan pasrah menatap sayu kearahnya.
Luhan serasa sesak dibagian tenggorokannya dan menarik kasar dasi abu-abu kebiruan miliknya, menariknya cepat sambil membuang sembarang.
Melihat pipi Seo Hyun yang merona membuat Luhan makin lapar. Ia membuka kedua kancing lengan panjangnya dan menariknya sampai siku terlihatlah kulit lengan yang putih kesukaan wanita-nya, dengan pelan Luhan pun membuka tiga kancing kemejanya dan tertahan di kancing keempat karena ia melihat paha mulus Seo Hyun ketika dress wanitanya tersingkap membuat Luhan semakin ingin menerkam kekasihnya yang tak pernah membuatnya bosan disetiap harinya, malah membuat cintanya semakin besar.
Luhan menundukkan dirinya mengukung Seo Hyun, wajah sayunya membuat Luhan menggila. Jemari lentik itu membantunya membuka kancing yang tersisa, yeoja itu pun melakukannya membuat Luhan menahannya sampai kancing terakhir sebelum—
"Lu—mmmphh." Luhan melumat bibir merah itu tanpa menunggu lama menyesapnya sampai sang lawan mengeluarkan desahannya yang tak tertahan dan tautan itu terlepas ketika Seo Hyun membantu Luhan membuka kemeja dan melemparnya asal, begitu juga sebaliknya Luhan penuh kehatian menyentuh kulit kekasihnya yang seperti porcelain berharga ia membuka dress magenta itu perlahan dan mata Luhan tak berkedip menatap setiap lekukan tubuh kekasihnya.
I
I
Menyalahi aturan, melakukan penghianatan dan menyakiti pasangan hidup walau secara tidak langsung adalah dosa? Mungkin.. tapi tidak untuk Luhan karena ia tidak mencintai Sehun orang yang telah melakukan janji sehidup semati dan bersama dalam suka dan duka didepan Tuhan, pastur dan para saksi.
Malahan Luhan merasa menjadi pendosa saat dirinya walau dengan keterpaksaan mau menikah dengan Sehun yang notabene-nya gay dan tentu saja adalah anak dari sahabat baba-nya. Tetapi bukankah Seo Hyun juga anak dari sahabat baba-nya Luhan juga appa-nya Sehun? Itu semua karena—
'Perjodohan'
—yang dilakukan orang tua mereka. Dan perjanjian masa muda dulu jika anak mereka akan lahir nantinya, dan bagaimana dengan Kim Seo Hyun? Ia juga telah di jodohkan sebelum ia dilahirkan untuk menikah dengan anak kedua Tuan Kim Tae Woo yang tentu saja bersahabat dengan Tuan Xi, Tuan Oh, juga Tuan Kim Jong Kook. Mungkin beberapa dari anak mereka menentang semua keinginan orang tua mereka, contohnya seperti Luhan, Seo Hyun, dan juga Jongin anak Tuan Kim Tae Woo yang bekerja diperusahaan Tuan Oh yang kini telah diturunkan kepada anaknya Oh Sehun sahabat Kim Jongin.
Walau telah digembar-gemborkan akan dijodohkan dengan anak sahabat baba-nya, Luhan telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada anak sulung Tuan Kim Jong Kook saat pesta natal di mansion keluarganya yang saat itu juga ada keluarga Kim lain dan keluarga Oh. Kemana anak dari kedua keluarga tersebut, Jongin dan Sehun saat itu merayakan natal mereka di Jepang mengikuti kakak tertua Jongin.
Dan di sinilah Luhan yang sangat mencintai Seo Hyun, begitu juga sebaliknya. Cinta mereka dari hari ke hari semakin dalam dan hubungan mereka tidak bisa dibilang biasa saja karena ingin menorehkan masa depan dengan hidup bersama selamanya. Tentu saja harapan Luhan dengan Seo Hyun hamil ia bisa menikahinya, dan agar keinginannya tercapai sang namja terus saja melakukan sesuatu agar sang yeoja pujaannya menjadi seperti yang ia inginkan yaitu 'mengandung benihnya' dengan menyatukan tubuh dan hasrat mereka seperti sekarang ini dan berharap benihnya akan bekerja dengan cepat, berharap yeoja yang dia cintai ini mengandung anaknya kelak.
I
I
I
Sehun agak tersentak mendengar bunyi 'pip' pada pintu utama. Matanya memicing dan dahinya mengerut-keruh namun terlihat masih tampan. Dalam hatinya berdecih melihat siapa yang masuk.
"Kau pulang.. Akhirnya.."
Luhan yang baru datang mendongkakkan wajahnya saat ia agak menunduk untuk membuka sepatunya.
"Ahh..ne..aku pulang Sehun-ssi." Jawab Luhan ketus dan langsung melangkah melewati Sehun..tak peduli.
Sehun hanya bisa menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya cepat. Ia mengikuti Luhan yang masuk ke kamar mereka.
"Kau baru pulang..sedang baba dan mama tiga jam lagi akan mengunjungi kita, dan kau tak menginginkan adanya maid dirumah, setidakny—"
"Kau duduk saja atau enyah dari hadapanku sampai orang tua-ku tiba..aku bisa mengatasi semua sendiri!" Potong Luhan dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya tanpa menoleh kearah Sehun yang kini benar-benar kesal dengan perkataan Luhan.
"Shit!"
BRAK!
Sehun dengan kesal menendang ujung kaki ranjang didekatnya dan keluar sambil membanting pintu kamarnya
"Dia kira dia siapa? Seenaknya saja mengusirku..aishh!" Sehun menggerutu keluar dengan langkah lebarnya menuju ruang tengah sambil mengambil koran dimeja nakas sisi sofa. Membukanya lebar-lebar sambil menarik lembar per lembar koran tersebut dengan kasar.
Beberapa menit kemudian Luhan keluar dari kamar dengan kemeja kebesaran memperlihatkan mulusnya setengah paha Luhan yang memang sengaja terekspos begitu saja dan Sehun sedikit menurunkan korannya menatap penampilan Luhan saat ini, dengan harum green tea yang menguar dari tubuh juga rambutnya yang setengah basah membuat Sehun dengan susah payah menelan ludahnya.
Luhan yang tak perduli melangkah menuju pantry, membuka laci dan mengambil apron berwarna biru dengan cepat memakainya.
'Apa yang dia lakukan?' Tanya Sehun dalam hatinya sambil melipat koran ditangannya dan melemparnya asal dengan matanya tak lepas memandang objek yang kini membuka kulkas mengeluarkan beberapa bahan-bahan makanan mentah seperti daging dan beberapa sayuran.
Dan yang membuat Sehun membelalakan matanya adalah saat Luhan dengan mahirnya memotong beberapa bahan seperti bawang, jamur dan yang lainnya termasuk sayuran dan daging.
'Luhan memasak? Maldo andwae.' Sehun terus saja bertanya-tanya dalam hatinya antara percaya dan tidak.
Namja bermata rusa yang memakai apron biru itu pun mulai menumis, memasukkan beberapa bahan yang ia rajang diatas nampan tadi dan bau harum lezatnya masakan buatannya membuat Sehun menutup matanya menghirup bau gurih dan tentu saja membuatnya lapar.
"Lebih baik kau mandi dan jangan lupa keramas Sehun-ssi." Pekik Luhan tanpa mengalihkan pandangan dari masakannya yang menurutnya lebih penting dari pada melihat Sehun.
"Aku sudah mandi!" Seru Sehun datar.
"Kau tetap harus mandi lagi!" Ucap Luhan lebih datar yang kini membalikkan tubuhnya menatap Sehun lurus. "Dan keramas!" Lanjutnya, tegas.
'Aku benar-benar tak mengerti, apa mau namja ini? Ish.' Lirih Sehun dalam hati walau kesal tetap ia lakukan permintaan Luhan yang terdengar memerintah.
Setelah masuk kedalam kamar Sehun membuka semua bajunya dan mengambil bathrobe miliknya segera membersihkan diri lagi tanpa mengetahui apa yang Luhan rencanakan.
I
I
Saat Luhan telah siap menghidangkan makan malam diatas meja terdengar bunyi bell dari intercom. Sehun baru keluar dari kamar sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya, seketika ia merasa merinding melihat Luhan tersenyum padanya dan ini yang ke dua kalinya Luhan tersenyum padanya, yang pertama adalah saat mereka mengucapkan janji di altar.
Sehun melangkah kearah intercom pandangannya berbinar saat layar tersebut memperlihatkan dua sosok yang telah menjadi mertuanya ia tersenyum sumringah dan menekan cepat tombol buka, senyum yang jarang pangeran es ini perlihatkan kepada siapapun dan hanya pada orang-orang tertentu saja, seperti pada pasangan pria dan wanita paruh baya dihadapannya kini, mertuanya.
"Mama.. Baba.. Kalian datang tepat waktu." Sehun memeluk sang mama dan baba, lalu mengajak mereka masuk kedalam.
"Mmmmhh...harum..masakan Luhan yang terbaik, semoga Luhan kami menjagamu dengan baik, sayang." Nyonya Xi menepuk pipi Sehun yang tersenyum canggung kini. Nyonya Xi pun menuju ke dapur ingin menyapa anak se-matawayang-nya di ikuti oleh Sehun dan Tuan Xi.
"Luhan sayang anak kesayangan mama." Pekik Nyonya Xi melangkah sedikit berlari kearah sang namja yang memakai apron itu, dan Luhan membalikkan tubuhnya kebelakang melangkah kearah sang mama dan—
"Akhh..sshh!" Erang Luhan sedikit mendesis dan menghentikan langkahnya sambil tangan sebelah kiri menahan panggul belakangnya terlihat menahan perih yang tak tertahan.
"Ya Tuhan sayang, kau baik-baik saja!?" Pekik Nyonya Xi menatap kuatir anaknya, sedang Sehun dan Tuan Xi yang mendengar juga ikut datang kearah dapur melihat apa yang terjadi.
Saat Sehun dan Tuan Xi datang wajah Luhan terlihat seperti malu-malu.
"M-mama aku b-baik-baik saja." Ucapnya terlihat malu-malu dan canggung.
Melihat anaknya yang malu-malu dengan wajah yang merah muda membuat Nyonya Xi mengulum senyumnya menatap kearah Sehun, begitu juga dengan Tuan Xi yang menatap nakal kearah Sehun.
"Ya! Anak muda.. Aku tau kau sangat menikmati pernikahan kalian, tapi ingat! Jangan terlalu bermain kasar eoh..hahahaha..darah muda.." Tuan Xi mengacak rambut Sehun yang memang masih basah dan menepuk pantatnya sambil menjauh melangkah keruang tengah, Sehun hanya bisa melongo dan bertambah menganga saat Nyonya Xi menepuk dadanya pelan sambil berkata
"Aigo..rambutnya masih basah..nappeun.." Bisiknya sambil terkekeh dan mengikuti Tuan Xi yang juga tak berhenti tertawa terlalu bahagia melihat rumah tangga anaknya yang harmonis.
Dan beberapa detik kemudian baru Sehun mengerti apa yang terjadi dan apa yang Luhan rencanakan.
"Kau benar-benar licik.." Lirihnya berbisik kearah Luhan.
Mendengar itu Luhan menatapnya dengan senyum miring menyeringai. "Gomawo pujiannya Sehun-ssi." Ucap Luhan masih dengan senyum liciknya meninggalkan Sehun yang masih terpaku dengan apa yang Luhan lakukan.
'Okay jika itu yang kau mau Luhan, aku akan ikut permainanmu dan jangan menyesal karena kau yang memulai.' Lirihnya dalam hati sambil mengepal telapak tangannya ia merasa dimanfaatkan dan tak pernah ada yang bisa melakukan ini padanya.
I
I
Awal makan malam yang tenang hanya terdengar dentingan sendok dan sumpit yang beradu dengan piring dan mangkuk, hening tanpa suara yang lain karena mereka berempat menikmati makan malam dengan khidmat. Setelah semua selesai Luhan merapikan semua piring kotor dan sengaja masih berakting berjalan tertatih-tatih membuat Sehun benar-benar tak habis pikir melihat kelakuan Luhan yang terlihat kekanak-kanakan atau malah terlihat bahagia didepan orang tuanya. Sehun tersenyum mengejek tapi beda pendapat dengan Nyonya Xi yang melihat Sehun seperti pria yang sangat ingin menyerang Luhan segera.
"Sabar ya sayang..tunggu kami pulang dulu baru kau bisa menyerang suamimu lagi hmmm..heheehe.." Nyonya Xi terkekeh sambil mengantup bibirnya saat suaminya tersenyum sambil memutar bola matanya.
"Sudahlah laopo..jangan mengganggu Sehun terus, nanti dia malu." Sela Tuan Xi membuat Sehun mengusap wajahnya sambil tersenyum salah tingkah karena benar-benar tak habis pikir harus bagaimana lagi. Luhan yang duduk di sebelah Sehun tersenyum manis.
"Mama..hentikan..jangan mengganggu Sehun-ku." Ucap Luhan sambil membelai lengan Sehun dan bergelayut manja membuat Sehun benar-benar ingin muntah jika tidak ada kedua mertua-nya ini, tentu saja muntah di wajah Luhan tepatnya.
'Mwo? Sehun-ku katanya? Pintar sekali iblis kecil ini' ucap Sehun dalam hatinya sambil melihat Luhan. 'Baiklah manis, kita lihat siapa yang lebih kuat.'
"Tidak apa-apa kok sayang.." Sehun melingkarkan lengan kirinya di pinggul Luhan bergerak turun sampai ke bagian pantat Luhan dan meremasnya lembut secara sensual membuat Luhan seketika berjengit dan kaku. "Sesekali baba dan mama datang kemari dan menggodaku iya kan mama hehehe.." Sehun tersenyum menang sambil mengedipkan sebelah matanya pada Luhan.
'Rasakan kau Luhan. Ahh..pantat yang kenyal.' Lirih Sehun dalam benaknya.
"Aiaah laopo..mesranya mereka..aku jadi ingin cepat-cepat menimang cucu. Kapan kira-kira kalian berbicara kepada pihak rumah sakit agar mendapat wanita yang mau mengandung anak kalian?" Tanya Nyonya Xi antusias.
"Eum..i-itu nan—"
"Segera mama.. Ya kan sayang?" Potong Sehun dan sekali lagi ia meremas pantat Luhan membuat namja bermata rusa itu menundukkan pandangannya menahan amarah dan hanya mengangguk.
'Awas kau Sehun.' Lirihnya dalam hati.
"Jangan terburu-buru.." Tuan Xi menjeda kalimatnya sambil mengambil sesuatu dalam kantong celananya dan meletakkan satu amplop berwarna coklat muda diatas meja. "Ini.." Katanya lagi membuat Sehun dan Luhan menatap kearahnya.
"Ya! Jangan melihat baba begitu..ayo dibuka..itu hadiah pertama dari baba dan mama dan akan ada hadiah kedua setelahnya." Pekiknya sambil bersedekap saat Luhan dan Sehun masih menatap kearahnya yang tentunya membuat Luhan makin takut dengan isi dari amplop tersebut.
'Apa yang baba dan mama rencanakan?' Luhan bertanya-tanya dalam hatinya sambil mengambil amplop itu dan membukanya.
"Tiket? Paris? Baba..apa ini?" Tanya Luhan bingung dan Sehun hanya dengan wajah datarnya tetapi dikepalanya banyak pertanyaan apa maksud yang Luhan katakan.
"Tempat kalian berbulan madu, baba memberimu cuti dua minggu untuk berbulan madu dan ehem..melakukan apa yang kalian suka..ehem" Tuan Xi menatap istrinya agak malu dengan kalimat terakhirnya, makin salah tingkah saat istrinya mengedipkan mata padanya.
"Kalian suka ke paris kan?"
"PU YAO! / JOHAA..!" Luhan dan Sehun menjawab dengan kata yang berbeda dan Luhan menatap Sehun yang tersenyum sumringah dengan sengit.
"B-baba, bukankah di Seoul juga banyak tempat untuk berbulan madu, dan tak kalah indahnya dan kenapa h-harus ke Paris?" Tentu saja Luhan tidak mau karena dia tidak bisa jauh dari Seo Hyun kekasihnya. Berbeda dengan Sehun yang sangat menyukai hadiah yang diberikan mertuanya.
"Tidak sayang, ini akan menjadi bulan madu yang luar biasa, mama dan baba juga telah menyewa apartemen untuk satu bulan atas nama kalian berdua, mana tau kalian masih ingin berlama-lama disana dan kau tau Luhan..baba tidak suka penolakan." Tuan Xi tersenyum lebar, dan Luhan hanya bisa mengangguk tanpa melakukan perlawanan lagi.
'Bulan madu? Jalan-jalan di taman? Berdua dengan Luhan pria yang berstatus istri-ku? Ahh..indahnya..' Lirih Sehun dalam hati dan tersenyum mesum sambil menaik-turunkan alisnya kearah Luhan, membuat namja di sebelahnya memperlebar mata rusanya dengan bibir yang mencibir kesal melihat Sehun yang tersenyum kearahnya.
I
I
I
TBC
I
I
Maafkan aku yang membuat Luhan menjadi benar-benar Manly disini saat bersama si polos Seo Hyun dan membuatnya menjadi lelaki sejati di tempat tidur, itu semua aku lakukan agar melengkapi jalan cerita ini. Gak apa-apa ya sesekali Luhan yang enak, kalo sama author yang lain kan Sehun tuh yang enak nge'NC ama yeoja-yeoja yang lain. Nah kalo di ff aku teteup Luhan yang ena-ena uuhhuuuuyyyy..jangan maraaaaahhh.
Dan kenapa aku melakukan itu? Karena inilah nikmatnya menjadi penulis, bisa menistakan cast sesuka hati aku wakakakakakakabuuuurrr...
ByTheWay..setiap penulis pasti meminta di-review, di-favorite, dan di-follow, tapi yang tidak mau / silent reader juga gak apa-apa, karena dengan di baca aja itu udah membuat daku senang hehehehe..
Semoga ada yang menanti chapter selanjutnya.
Review *kisseu* Review
