Halo, Shuukou Jin di sini.
Kali ini aku menghadirkan sebuah fanfiksi AU, yang terinspirasi dari suatu mimpi aneh di malam November 2020 ... dan aku realisasikan jadi cerita. Kisah ini pertama terbit di Facebook dengan 8 chapter, dan kini tengah aku cross-post di sini, simultan dengan AO3.
Anyway, selamat membaca! Fanfiksi ini insya Allah akan diperbarui rutin setiap hari, jadi nantikan terus kelanjutannya!
Pada suatu hari, langit terkurung dalam kegelapan.
Kekejaman berkuasa, dan keputusasaan membelenggu hati seluruh penghuni langit.
Namun, bukan berarti harapan tidak sepenuhnya punah.
Jauh di sisi lain angkasa, terdapat sebuah kota di mana bintang tidak pernah berhenti berkelip.
Kota itu berjuluk 'Negeri para Pahlawan Terasing'.
Pahlawan dari berbagai zaman berkumpul di sana. Mereka para pemberani, tangguh dan berjiwa kesatria.
Jika sudah tiba masanya, matahari akan terbit menyinari kota itu.
Gerbang akan terbuka, dan para pahlawan akan berarak menuju penjuru langit.
Kedatangan mereka akan membawa harap, mengusir penderitaan.
Hingga pada akhirnya semua orang akan hidup damai dan berbahagia.
Remaja laki-laki itu menutup buku dongeng yang dibacanya, sebelum menyelimuti adiknya. "Nah, Djeeta, sekarang kamu tidur, ya."
Namun Djeeta rupanya masih penasaran. "Tapi, Kak Vane, aku mau tanya ... apa Negeri para Pahlawan Terasing itu beneran ada?"
Vane terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum simpul. "Siapa tahu? Yang pasti, suatu saat kita bisa bebas. Selamat malam, Djeeta."
"Selamat malam, Kakak."
Djeeta pun mulai terlelap, tenggelam dalam mimpi. Sementara Vane mengintip jendela, dan bernapas lega; bersyukur bahwa mereka masih belum ditemukan oleh prajurit imperial Erste. Perang besar yang meluluhlantakkan kerajaan Feendrache begitu banyak memakan korban, dan mereka yang selamat hidup mengungsi.
Namun ia masih percaya. Suatu saat, ia dan adiknya akan membawa kebebasan. Tidak hanya bagi Feendrache, tapi untuk seluruh Phantagrande.
Dan ia pun akan ikut berjuang. Biarlah pengorbanannya nanti jadi penebus dosa, atas kepergian seseorang itu ...
Exiled Wings, Seeking Freedom
Episode 1: in this cage, regrets lingers
"Pagi, Djeeta. Mau ke mana?"
Sapaan hangat terdengar manakala gadis itu baru keluar dari kabin. Ia tersenyum, membalas 'pagi juga, Bibi Elaine' dengan nada ramah. Di sampingnya, seorang pemuda berperawakan tinggi besar mengikuti; pun menyapa tetangganya itu dengan ceria. Mereka adalah Djeeta dan Vane, kakak-beradik penyintas perang itu, kini telah bertumbuh.
"Kalian ada jadwal patroli sekarang?" Elaine bertanya, "Udah sarapan, belum?"
"Hari ini kami agak bebas, sih, niatnya kami pergi ke tempat biasa." jawab Djeeta. "Kami udah sarapan, tadi aku buat roti isi."
"Biar sederhana, tapi roti isi buatan Djeeta enak banget!" celetuk Vane, sebelum bertanya, "Ngomong-ngomong, Bibi ... Paman mana? Tumben jam segini belum keluar."
Wanita paruh baya itu tersenyum sendu. "Dia masih bermeditasi di altar keluarga. Yah, hari ini peringatan 17 tahun ... kamu tahu."
Vane terpekur sesaat. "Eh, hari ini? Oh ... nggak kerasa, ya." Menghela napas panjang, ia berujar, "Bahkan setelah apa yang terjadi, Paman dan Bibi masih nau merawatku dan Djeeta. Karena itu, aku berterima kasih."
Sementara Djeeta malah kebingungan mendengarnya. "Peringatan 17 tahun? Apa?"
"... haa, rupanya Bibi kelepasan. Tapi nggak apa-apa, udah waktunya kamu tahu-"
"Eh-ehh, kami berangkat, ya! Takut entar kesiangan. Sampai nanti, Bibi! Titip salam buat Paman!"
Tanpa basa-basi lagi Vane pamit, menggamit tangan Djeeta. Tentu saja gadis itu semakin heran: apa maksudnya? Padahal kakaknya itu tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya. Tapi, jika dikatakan sudah waktunya ia tahu, ia akan mencari tahu ... cepat atau lambat.
Mereka terus melangkah, di bawah langit musim dingin itu, menyusuri bangkai-bangkai kapal udara yang dialihfungsikan jadi pemukiman. Tiada pilihan lain bagi penduduknya, yang desanya luluhlantak akibat perang. Mereka menyebut tempat ini "Kota Gebrochenefluegel", karena seperti itulah keadaannya; bagai burung bersayap patah, terkungkung dalam sangkar.
Akhirnya mereka tiba di tujuan: sebuah kapal penumpang berukuran sedang yang tidak dihuni oleh siapa pun. Djeeta mengetuk jendela, sembari bertanya, "Permisi, kau di sana?"
Tidak lama kemudian, seorang pria mengintip dari jendela itu. "Oh, Djeeta dan Vane. Ada perlu apa?"
"Kami mau berkebun mawar untuk memancing naga." Vane membalas. "Bisa?"
Memahami apa yang ia maksud, penjaga itu membukakan pintu. "Seperti biasa, ya. Bisa, kok. Ayo, masuk. Barang-barang kalian di loker."
Usai masuk, Djeeta dan Vane segera mengambil senjata dari loker: sebilah pedang untuk Djeeta, kapak perang milik Vane. Begitu mereka memasuki aula, deru pedang yang beradu memenuhi udara; nampak beberapa orang tengah melakukan tanding latihan. Sehelai bendera merah menghiasi dinding, simbol naga dan mawar terlukis di sisi mukanya.
"Oh, kalian datang ternyata." Salah satu kesatria yang tengah beristirahat menyapa. "Salam Rozendrache."
"Salam Rozendrache." Vane membalas. "Djeeta, kamu latihan duluan, ya. Kakak ada urusan sebentar."
"Eh? Tapi ... hhh, iya deh."
Djeeta pasrah saja. Sebetulnya ia ingin berlatih dengan kakaknya itu, tapi biarlah. Menggenggam pedangnya, ia mundur beberapa langkah; siap bertarung. Sebagai calon kapten dari Gerakan Rozendrache, sudah semestinya ia memantaskan diri. Menjadi ujung tombak perlawanan suatu saat nanti.
"Aku mulai! Haaa!"
Serangan awal dilancarkan, namun dengan mudah ditangkis oleh lawannya. "Ayunanmu masih kurang bertenaga, coba lagi!"
"Baik!" Djeeta mengangguk, kemudian mengulang lagi serangan yang sama. "Hyaaah!"
Ditangkis lagi, tapi kali ini sedikit berbeda. "Nah, ini lumayan. Tapi posturmu masih belum stabil. Ulangi lagi."
"Baik!"
Begitulah rutinitasnya tiap hari, mengasah kemampuan berpedangnya. Dalam hati ia bersyukur bisa dibina oleh kesatria profesional; mereka yang masih setia pada kedaulatan Feendrache, dan memutuskan bergabung dalam gerakan rahasia ini. Walau ia masih belum lama memulai, namun ia yakin ia mampu.
Demi ayah dan ibu yang mengorbankan diri demi keselamatan dirinya. Demi nenek yang telah membesarkannya. Demi Paman Banwick dan Bibi Elaine, yang merawat dan menyayangi walau tidak berhubungan darah. Demi Vane, sang kakak yang senantiasa melindungi.
Ia akan berjuang.
Sesi latihan selesai, dan Djeeta tengah beristirahat. Ia menoleh ke kanan-kiri, menyadari bahwa kakaknya belum kembali. Kak Vane ke mana dulu, ia bertanya dalam hati, apa ada hubungannya dengan 'peringatan 17 tahun' yang dimaksud Bibi? Tidak tahan dengan pertanyaan yang membanjiri kepala, ia memutuskan untuk berkeliling; barangkali Vane berada di ruangan lain.
Jika ia ingat cerita bibinya, perang meletus sekitar 5 tahun yang lalu. Pun, serangan wyvern yang merenggut nyawa orangtuanya terjadi saat usianya masih enam bulan. Lantas, apa yang terjadi dua tahun sebelum perang? Mengapa Vane menutup-nutupi soal masalah itu?
Langkahnya terhenti kala ia melihat sosok kakaknya berada dalam kabin berjendela lebar; tertunduk dalam doa, di hadapan sebuah altar kecil. Tentunya semakin menambah keheranan gadis itu; altar untuk mendiang keluarga mereka terletak di kabin tempat mereka tinggal. Lantas, untuk siapa altar ini didedikasikan?
Agaknya Vane menyadari ada yang menunggu di ambang pintu. "Djeeta? Tahu dari mana aku di sini?"
"Aku cuma kebetulan lewat. Permisi."
Dengan langkah pelan Djeeta masuk dan berlutut di samping kakaknya, memanjatkan doa singkat untuk kedamaian jiwa pemilik altar itu. Diamatinya altar itu dengan cermat; selain benda-benda umum seperti lilin dan pelat nama, altar ini dihiasi oleh pot-pot bunga astragalus dan beberapa buku usang. "Lancelot du Lac." Ia membaca nama yang terpampang. "Eh, nama belakangnya mirip Paman dan Bibi. Mendiang ini siapanya mereka, Kak?"
Vane tidak membalas, tepatnya tidak tahu apa yang harus ia katakan. Keengganan untuk memberitahu yang sebenarnya itu, semata-mata agar adiknya tidak tahu beratnya dosa yang ia pikul. Dosa tidak termaafkan itu, yang sampai hari ini masih ia coba untuk menebusnya.
Tapi nasi sudah jadi bubur; walau ia terus menutup-nutupi, Bibi Elaine tentu akan menceritakannya pada Djeeta. Dengan hela napas berat, ia mulai bercerita. "Paman dan Bibi dulu punya anak laki-laki, sekitar 2 tahun lebih tua dariku. Namanya Lancelot. Aku biasa panggil dia 'Lanchan'.
Dia itu anak yang cerdas dan pemberani. Dia suka sekali membaca buku; buku-buku di altar ini adalah judul kesukaannya. Seringkali dia bantu aku kerjakan PR, dan dia nggak segan buat ajari aku sampai mahir.
Dia keren, pokoknya. Dan aku beruntung bisa bersahabat dengannya.
Andai dia masih hidup sekarang, dia tentu bakal jadi teman sekaligus mentor yang hebat buatmu. Kamu masih bayi waktu dia meninggal, jadi kamu nggak pernah kenal dia."
Pemuda itu tersenyum pahit, kenangan dengan sahabat masa kecilnya itu begitu manis namun menyakitkan.
"Wah, aku baru tahu kalau Paman dan Bibi pernah punya anak." Djeeta berkomentar. "Kalau boleh tahu, apa sebab dia meninggal? Apa karena penyakit, atau ada hal lain?"
"Bukan." Vane menggeleng. "Itu ... aku udah bilang kalau aku dan Lanchan bersahabat dekat, kan?
Suatu hari, di pinggir danau dekat desa kita dulu, kami berselisih. Aku nggak ingat apa penyebabnya, yang pasti kami bertengkar hebat waktu itu. Sampai pada akhirnya aku bilang padanya kalau aku benci dia dan aku nggak mau berteman dengannya lagi.
Aku dorong dia, biar dia enyah dariku.
Dan, yang terjadi kemudian adalah ... dia, dia jatuh ke danau, yang dingin dan hampir membeku itu ..."
Air matanya tumpah kala ia terus bercerita, meluapkan emosi yang tertahan bertahun-tahun lamanya.
"Aku memang nyesel waktu itu. Aku nggak bermaksud celakakan dia
... Aku coba raih tangannya, tapi ia malah tepis tanganku. 'Cari bantuan', itu yang terakhir dia bilang padaku.
Cepet-cepet aku balik ke desa, dan cari pertolongan ... tapi, tapi ... Waktu aku sampai di danau, semua udah terlambat."
Dada Djeeta sesak mendengar kisah itu; tidak menduga bahwa Vane ternyata menyimpan rahasia yang begitu kelam. Ia mendekat, menarik kakaknya itu dalam pelukan, tidak tega mendengar tangisnya. "Kakak nggak perlu salahkan diri atas kematiannya."
"Tetep aja aku salah! Paman dan Bibi begitu baik sama aku, sama kamu juga ... tapi yang kulakukan malah bunuh anak semata wayang mereka!" isak Vane, "Aku nggak ngerti, kenapa mereka mau aja maafin aku ..."
"Karena itu kecelakaan. Nggak ada yang patut disalahkan." Pelan-pelan Djeeta mengusap punggung Vane. "Dan aku yakin, Kak Lancelot pun akan maafkan Kakak. Dia tahu kamu nggak punya niatan buruk."
"Hh, Djeeta ..." Melepaskan diri dari dekapan adiknya, Vane berujar lirih. "Kamu tahu, sejak dulu Lanchan bercita-cita jadi kesatria, katanya dia ingin jadikan Feendrache jadi kerajaan yang aman dan berjaya. Maka dari itu aku ikut Gerakan Rozendrache, akan aku tepati mimpinya itu." Seulas senyum terlukis di wajahnya, yang basah karena air mata.
Mendengar kesaksian kakaknya, Djeeta turut tersenyum. "Dan kita akan berjuang sama-sama. Demi keluarga dan sahabat yang udah pergi duluan, juga buat tanah air kita. Ya, Kak?"
"Tentunya. Sekarang, ayo latihan lagi."
Keduanya pun berlalu, usai mengucap salam perpisahan di hadapan altar itu; untuk kembali mengasah diri.
Di sisi lain, seorang pemuda berlutut di tepi lautan bunga: padang luas entah di mana ujungnya, dengan bunga astragalus bermekaran memenuhinya. Satu lagi bunga baru mekar, ia membatin. Ia beralih dan mendekati danau yang terletak dekat dengan padang itu, sepasang pedang beku bermanifestasi di genggaman.
Satu, dua tebasan dilancarkan, berdansa di tengah kristal es nan bertemperasan. Mengatur langkah, melompat dan menerjang penuh keanggunan. Itulah rutinitasnya setiap hari, sendirian di tengah malam abadi yang menaungi. Melatih teknik berpedang yang dikombinasikan dengan sihir es, persiapan untuk hari yang dijanjikan itu.
Satu sesi latihan usai, ia duduk di tepi dermaga sembari menatap gerbang besar di kejauhan. Membaca lekat tulisan yang terukir di atasnya: orwynh avi saskareva eiryuein, yuresha ra tsuigel. 'Kami adalah pahlawan terasing, sayap-sayap pembebasan'.
Sesaat ia bertanya, entah pada siapa.
"Kapan gerbang itu akan terbuka?"
(Bersambung.)
