運命の絆 (Unmei no Kizuna)

Jujutsu Kaisen © Akutami Gege

Unmei no Kizuna © Elliz Rokuou & Chisa Fuyuki

Terdengar ringan, dentuman bambu kayu dengan batu mengalirkan air dari sebuah water fountain di sebuah taman bergaya zen. Walau hanya terlihat samar dengan penerangan lentara batu yang menghiasi, taman yang sebagian nuansa hijau pohon bonsai dan kelabu pasir itu seharusnya membuat siapapun menjadi lebih rileks dan tenang. Namun tidak dengan Fushiguro Megumi yang sedang berhadapan dengan dua orang petinggi dalam klan yakuza.

Fushiguro melirik sebelah kananya dan memastikan Itadori masih ada disampingnya. Ia kini duduk dalam posisi seiza dalam ruangan berlantai tatami, disampingnya pintu geser terbuka menampakan taman. Berbalik menghadap dipisahkan dengan sebuah meja pendek panjang didepanya dua pria itu juga duduk menatapnya.

"Berikut, Salinan Koseki Touhon milik keluarga Itadori 8 tahun yang lalu" pria berambut pirang menyodorkan kertas dokumen tersebut di atas meja, mengarahkan kepada Fushiguro.

Membacanya dengan teliti, dalam Kartu keluarga tersebut terdapat ayah, ibu, dan dua orang sebagai anak. Kalau melihat data dari Kartu keluarga tersebut, Itadoru Yuuji yang terlampir disini adalah Itadori Yuuji yang sedang bersama dengan Fushiguro. Melihat dari Itadori lain yang ada di depanya sangatlah mirip dengan Yuuji meyakinkan mereka memang punya hubungan darah, apalagi kalau pria itu menghilangkan tato diwajahnya.

Tetapi Fushiguro masih belum dapat menerimanya.

"Itadori-san" panggil Fushiguro.

"Paggil saja Sukuna" jawab pria yang dipanggilnya itu.

Fushiguro bingung melihat nama yang tercantum dalam Koseki dengan yang disebutkan oleh pria ini berbeda.

"Bukankan disini" Fushiguro mencoba untuk menanyakan pebedaan nama yang disebutkan oleh anak pertama dengan nama yang tercantum dalam koseki.

"Diriku yang memutuskan akan dipanggil dengan apa, keberatan?" jawabnya dengan santai, tanganya memangku dagu, mengalihakan pandanganya pada Fushiguro.

Tidak mau berdebat lebih panjang, Fushiguro tidak mengungkit lagi dan mencoba kembali ke permasalahan.

"Baiklan, Sukuna-san. Saya masih belum menerima ini. Dibandingkan kalian, saya lebih lama tinggal dengan Yuuji dan mengenal Yuuji dengan lebih baik." Jelasnya dengan tegas. Ia berbicara dengan lugas dan tidak ada keraguan agar dapat lebih dipercaya.

"Dan saya sudah menganggap Yuuji seperti keluarga sendiri." Lanjutnya.

Melalui ujung matanya Fishiguro melirik Yuuji yang ternyata sedang menatap kearah dirinya. Kedua mata Yuuji membulat lucu, ada binar kebahagiaan yang dapat Fushiguro artikan dengan mudah. Melihat itu Fushiguro segera menarik senyum lembut. Ia tahu Yuuji pasti mengerti maksud dari perkataanya, bahwa dirinya telah menganggap Yuuji seperti adik kandungnya sendiri.

"Ha, ha, ha."

Suara tawa kencang yang terdengar sangat di buat- buat mengalihkan perhatian Fushiguro, membuat ia segera menatap ke asal suara.

"Kau tidak mengerti Fushiguro Megumi." Ada seringai mengejek yang nyata terpampang jelas pada wajah pemuda di hadapannya, menimbulkan kernyitan samar di antara alis Fushiguro.

"Kau pikir siswa SMA yang baru dikenalnya tiga tahun dengan kakak sebenarnya yang sudah berpenghasilan dan mampu menghidupinya, kalau dibawa ke pengadilan, siapakah yang akan menang?" tatapan meremehkan sama sekali tidak menghilang dari wajah Sukuna, justu terasa semakin menyebalkan dengan tambahan dengusan di akhir ucapannya.

Tanpa mempedulikan rasa nyeri di sudut bibirnya yang robek Fushiguro mengertakan giginya kuat. Dengan kedua tangan terkepal erat, tatapan tajam Fushiguro menghunus tepat pada sepasang iris berwarna merah terang.

"Ayolah, jangan buat sulit masalah ini."

Fushiguro berusaha sebisa mungkin menahan amarahnya yang semaki memuncak, ia ingin sekali membalas semua perkataan Sukuna, tetapi tidak ada satu pun kata yang mampu dia keluarkan. Pemuda itu benar, mereka yang memiliki hubungan darah lah yang kuat, tanpa di beritahu pun Fushiguro sudah paham dirinya telah kalah telak.

"Kau hanya tinggal mengiyakan, Beres. Kalau kau tidak -"

"Fushiguro nii-san, tidak apa aku akan ikut dengan mereka."

Sebuah genggaman erat pada lengan pakaiannya membuat Fushiguro tertegun, matanya menatap terkejut Yuuji yang tengah menunduk dalam. Tubuh anak itu bergetar hebat, melihatnya membuat Fushiguro membuang nafas panjang, emosinya teredam.

Kenapa ia bisa sampai melupkan hal penting di sisinya? Yuuji pasti merasa takut sekaligus bingung dengan apa yang sedang terjadi. Sehingga dapat berujar seperti itu. Fushiguro berusaha menebak jika Yuuji mungkin saja mengkwatirkan dirinya.

Perlahan tapi pasti sudut- sudut bibir Fushiguro tertarik tipis, sebelah tangannya yang bebas terangkat maju menuju puncak kepala yang masih bertahan menunduk dalam.

PLAK!

Tangan Fushiguro terhenti di udara, ke dua matanya membulat tak percaya menatap kejadian yang berlangsung sangat cepat. Baru saja ia menyaksikan Sukuna menampar keras wajah Yuuji hingga menimbulkan noda merah yang sangat ketara tepat di hadapannya.

"Siapa yang menyuruhmu untuk memotong pembicaraan, kozo!"

Kedua mata Fushiguro semakin terbeliak saat melihat air mata menggenanggi sudut- sudut mata Yuuji. "Berengsek!" teriakan kesal bercampur amarah Fushiguro layangkan dengan kencang.

Fushiguro menarik Yuuji kedalam pelukanya. Tanganya mengarah ke arah Sukuna dan balik meninju pipi Sukuna dengan kepalan tanganya.

"Tenyata aku memang tidak bisa meninggalkan Yuuji kepada kalian." ucapnya tegas sambil menunjuk ke arah pria yang menampar yuuji.

"HAHAHA" tawa Sukuna lebih keras dari yang sebelumnya. Ia tertawa puas sambil mengusap-usap bekas tamparan yang mengenai pipinya.

"Ternyata memang mirip sekali. Aku berhutang pada banyak pada nenek sialan itu" lanjutnya.

'mirip? apa maksudnya?' pikir Fushiguro yang masih memeluk Yuuji.

"Oi Nanami, dingin sekali kenapa kau tidak mencoba untuk melindungiku." Sukana berucap dengan nada mengejek sambil mengelus- elus bekas pukulan dari Fushiguro.

"Itu tidak diperlukan, lagipula Sukuna-sama apa kau tidak ingat saya bekerja untuk siapa" jawab singkat pria yang sejak tadi hanya diam tak bergeming di samping Sukuna.

Tanpa mempedulikan percakapan kedua orang di depannya, Fushiguro lebih memilih untuk memastikan ke adaan Yuji. "Kau tidak apa Yuuji?" tanya Fushiguro dengan nada penuh kekhawatiran.

"Iya, tidak apa." jawab Yuuji sambil menganggukan kepalanya. Ia tersenyum meyakinkan Fushiguro,

"Apa kau yakin tetap ikut dengan mereka?" tanya Fushiguro ragu.

"Hnn" Yuuji mengangguk lagi dan tersenyum.

Fushiguro mengusap bekas tamparan Sukuna yang memerah di pipi Yuuji, ia merasa gagal untuk melindungi Yuuji. Fushiguro lengah, tiba-tiba menampar di depan seperti ini Fushiguro memahami bahwa kakak dari Yuuji ini bukanlah tipikal orang yang bisa menahan diri.

Namun mengingat Yuuji yang berkata ingin ikut dengan mereka, ia merasa mungkin dirinya tidak memikirikan perasaan Yuuji yang ingin mengenal Kakak kandungnya.

Tapi melihat perilaku kakak kandung yuuji yang menaparnya tadi dan lingkungan mereka yang berbahaya, mustahil untuk memberikan Yuuji dengan mereka.

"Kenapa wajahmu murung sekali Fushiguro Megumi?" tanya Sukuna dengan nada meledek. Tidak ada unsur kepedulian dari nada bicaranya.

"Ah, aku tau kamu merasa tidak tega untuk meninggalkan Yuuji bukan? Kamu takut kalau Yuuji akan berakhir dengan seorang kakak yang suka menyiksanya?" tambahnya.

Hanya sumpah serapah balasan yang terpikir di benak Fushiguro yang kesal. Pukulan telak yang diarahkanya ke Sukuna tadi sama sekali tidak membuatnya puas.

"Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami?"

"Haah?" kali ini Fushiguro menjadi bingung.

"Sakazuki denganku." ajak Sukuna.

"Dengan begitu kau akan menjadi keluarga ini dan dapat melindungi Yuuji sepuasmu."

'Sudah kuduga.' batin Nanami sambil menghela napas.


"Mulai sekarang ini adalah kamarmu, Yuuji" jelas Nanami kepada bocah 8 tahun di depanya sambil menyalakan lampu kamar.

Anggukan singkat yuuji menjawab instruksi Nanami. Sejak pertama bertemu dengan Nanami di pemakaman kakeknya Yuuji merasa Nanami bukanlah orang yang jahat, namun itu hanyalah insting anak-anaknya. Mengetahui dia orang yang membuat Fushiguro-nii chan nya terlukan tentu saja Yuuji tetap waspada.

Kamar yang Yuuji tempati tampak kosong, kamar dengan gaya jepang itu terlihat lebih besar sedikit dari kamarnya dulu. Kamar itu berukuran delapan tatami dengan pintu geser yang memisahkan ruang kamar dengan koridor dalam dan teras luar. Disebelah kanan terdapat tokonama dengan hiasan kaligrafi tergantung dan sebuah pohon bonsai pendek

"Fushiguro, kamarmu ada disebelah" jelas Nanami lagi.

"Anu hari ini aku ingin tidur dengan Fushi-nii, boleh?" minta Itadori pada Fushiguro.

"Baiklah, aku akan minta Ogami-san untuk menyiapkan dua futon"

Belum Fushiguro menjawab pertanyaan Yuuji, Nanami membalas. Nanami memahami dan ia rasa tidak ada ruginya untuk membiarkan Itadori untuk tidur dengan Fushiguro mengingat ia belum tebiasa dengan rumah barunya.

"Sebelum itu, Fushiguro, kau ikut denganku" ajak Nanami sambil membalikan badan untuk keluar dari kamar.

"Kalian mau kemana? Kau tidak akan menyakiti Fushi-nii kan?" tanya Itadori meyakinkan.

"Tenang saja, aku tidak akan menyakitinya" jawab Nanami.

"Fushi-nii, janji tidak akan meninggalkan Yuuji kan?"

"Tenang Yuuji, kurasa ini tidak akan lama."

"Kau janji?" tanya Itadori sambil menyodorkan jari kelingkingnya.

'Oh, ayolah iya hanya mengajak Fushiguro sebentar saja.' batin Nanami.

"Ya, Fushi-nii janji."

Fushiguro menyamakan badanya dengan Yuuji dan meraih kelingking bocah itu.

"Yubikiri genman~"

"uso tsuitara~"

"hari sen bon nomasu~"

"yubi kitta~" Yuji dan Fushiguro bernyayi sambil mengayunkan kelingking mereka.

"Paman juga."

Yuuji memberikan tanganya ke arah Nanami. Menghela napas, Nanami menyerah dan meberikan kelingkingnya. Melihat paman di depanya yang kooperatif Yuuji tersenyum kecil.

Yuuji mulai menyanyikan yubikiri, sedangkan Nanami hanya diam dan kelingkingnya bergerak mengikuti karena terkait dengan kelingking Yuuji.

Fushiguro tersenyum kecil, 'ternyata pria bernama Nanami walau berwajah stoik namun masih terbawa oleh sikap kekanakan Yuuji.'

Fushiguro mengikuti langkah kaki Nanami. Ia dibawa ke suatu ruang, di dalamnya terdapat tumpukan barang dan tas belanja.

"Kau pilihkan baju untuk Yuuji aku akan membawakan baju ganti untukmu dan P3K."

Fushiguro membuka salah satu tas belanja dan menemukan baju balita.

"Kurasa bukankah ini terlalu kecil untuk Yuuji?"

Fushiguro mencari lagi di tas yang lain.

"Kurasa ini juga terlalu kecil?"

"Apa kau sudah menemukanya Fushiguro?"

"Nanami-san, ini bukankah terlalu kecil untuk Yuuji?"

"Ah, Coba kalau kau cari disebelah sana?"

"Nanami-san, tumpukan baju baru sebanyak ini milik siapa? Ukuranya terlalu bervariasai dari balita sampai anak-anak."

"Milik Sukuna-sama, atau lebih tepatnya milik Yuuji" jawab Nanami sambil ikut mencari.

"Sukuna-sama membelikanya untuk Yuuji, karena Sukuna-sama selalu menanti kedatangan Yuuji setiap tahun, setiap tahun juga Sukuna-sama memebelikan baju namun Wasuke-sama tidak kunjung pulang membawa Yuuji hingga ajal menjemputnya."

"Kau mungkin tidak percaya melihat setelah meilhat perlakuan kasar Sukuna-sama tapi memang begitulah dia, tidak bisa ditebak."

"Bahkan aku yang sudah mengabdi pada keluarga ini lebih dari 10 tahun tidak mengerti jalan pikiranya." lanjut Nanami.

"Namun satu hal yang dapat kusimpulkan sepertinya Sukuna-sama tertarik denganmu."

Fushiguro terdiam.

"Apa maksudmu Nanami-san?"

"Tidak ada maksud, hanya mengatakanya."kata Nanami sambil melemparkan baju kepada Fushiguro.

Fushiguro yang menyadari langsung menangkap baju tersebut.

"Bagaimana?" tanya Nanami.

"Bagaimana? Maksudnya bajunya?" tanya balik Fushiguro sambil membuka baju yang dikiranya untuk Yuuji.

"Kurasa ini bisa dipakai." jawab Fushiguro.

"Ah dan ini pakaian ganti untukmu dan kotak P3K."


Fushiguro terbangun dari tidurnya. Ruangan yang asing baginya dan Yuuji. Fushiguro membangunkan dirinya dari tidur dan melihat ke sampingnya Yuuji sedang tertidur pulas. Tanganya meraiih Yuuji dan mengelus wajahnya dan ia tersenyum.

Fushiguro bangkit dan membuka pintu geser yang ke arah luar. Ia menundukan diri di engawa dan kembali menutup pintu geser agar angin malam tidak masuk ke kamar. Terlihat pohon ume yang mekar berwarna merah muda menyala terkena pantulan sinar bulan.

"Cantiknya." komentar Fushiguro pelan seakan berbisik.

Di tengah keheningan malam Fushiguro menyamankan diri dengan hembusan angin malam yang ringan. Dirinya memutar kilas balik hari ini, tidak menyangka ia dan Yuuji akan terlibat dengan seseorang yang berbahaya dan kenyataan bahwa Yuuji bukan berasal dari keluarga biasa. Fushiguro sungguh mengharapkan ia dan Yuuji memiliki kehidupan yang normal.

Dan lagipulan ada apa dengan pria yang mengaku bernama Sukuna, pikir Fushiguro. Mana ada seorang kakak yang menampar adik yang sudah lama tidak ia temui, bukankah mereka seharusnya bertemu dengan suasana haru dan rindu.

Namun perkataan Nanami membuatnya penasaran, kenyataan yang pria itu katakan bahwa Sukuna sangat menunggu kehadiran Yuuji. Serta semua pakaian yang disediakan untuk Yuuji, Fushiguro memastikan bahwa itu tidaklah bohong, semua pakaian itu merupakan pakaian untuk anak laki-laki, jika Sukuna hanya mengarangnya mungkin pakaian asal yang dibeli baik pakaian perempuan ataupun lelaki. Juga Ketika menemukan pakaian untuk usia yang lebih muda tas kantong pembungkus pakaian akan lebih berdebu dan telihat tua menandakan itu dibeli lebih lama dibandingkan pakaian untuk usia yang lebih tua mendekati usia Yuuji bungkusnya tidak begitu telihat lama dan hanya sedikit berdebu.

Itu artinya pakaian dalam ruangan itu dibeli sesuai dengan umur Yuuji saat itu.

Dan lagi ada sebuah foto tua yang tergeletak di atas sebuah meja dalam ruangan tersebut, foto keluarga berisi ayah berambut merah muda dengan kacamata, ibu yang berambut hitam mengendong bayi mungil berusia kurang dari satu tahun, serta sosok Sukuna muda dengan baju sma.

"Yo, selamat malam Fushiguro Megumi" sapa sang tuan rumah. Ia berdiri tidak jauh dari tempat Fushiguro

"selamat malam"

Fushiguro menjawab sang tuan rumah, sebenarnya ia sedikit terkejut dengan kehadiran Sukuna. Fushiguro sedang terbawa oleh pikiranya sendiri.

"apa kau sedang memikirkanku?"

Kalimat percaya diri yang sangat ingin disangah oleh Fushiguro. Tetapi hal itu tidak dapat disanggahnya.

Nanami perna berkata bahwa Sukuna tertarik denganya, Fushiguro tidak sepenuhnya percaya. Ia pasti memiliki maksud lain dengan ketertarikanya itu, Sekarang Fushiguro mencoba untuk mencari tahu.

"Sukuna-san, apa yang sebenaranya kau rencanakan?"

"rencana? Tidak ada" jawabnya dengan singkat sambil mendekat ke arah Fushiguro.

"Sungguh sangat sopan sekali, bahkan kau tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya, Megumi"

"Me-megumi?!"

"Tidak, aku tidak memikirkanmu. Lagipula sungguh sopan sekali memanggil dengan nama depan sepertinya kita belum kenal cukup dekat"

"Kau tidak suka dipanggil dengan nama depanmu, padahal kau memiliki nama yang cantik, megumi"

"Kalau begitu kenapa kau mengajaku untuk masuk kedalam kelompok ini? Bukankah kalau Yuuji kembali itu sudah sesuai dengan keinginanmu"

"Begitukah menurutmu" kata Sukuna sambil mendekatkan diri pada Megumi dan meraih dagu pemuda itu dengan tanganya.

Tidak ada perlawanan dari Fushiguro.

"Aku tertarik dengamu"kata Sukuna.

Sukuna kemudian mengunci bibir Fushiguro dengan bibirnya dan kemudian melepaskan sebelum Fushiguro sempat bereaksi.

Sukuna berbalik dan melambaikan sebelah tanganya.

"Inu mo arukeba bou ni ataru" kata Sukuna sambil melangkah pergi.

'Apa-apaan tadi?' batin Fushiguro melengos melihat sang tuan rumah melanggang pergi meninggalkanya.


Uraume. Begitulah namanya, seorang bawahan kepercayaan Sukuna yang mengerjakan berbagai pekerjaan. Awalnya ia merupakan karyawan di sebuah perusahaan biasa tapi semenjak bertemu dengan Sukuna kehidupanya berubah. Ia berhenti dari pekerjaanya dan menjadi pelayan setia yang berkerja untuk Sukuna "itu takdirku" begitulah alasanya. Bukan karena tanpa alasan Sukuna menjadikanya pelayan serbagunanya, Uraume sangat terampil mengurus urusan kantor seperti sekertaris pribadi namun ia juga ahli untuk beladiri setidaknya setara dengan sabuk hitam. Menjadi pelayan keluarga yakuza tentu saja membuat keluarga Uraume khawatir tapi yang bersangkutan sendiri sudah seperti fanatik dan sangat terobsesi dengan Sukuna.

Jadwal pagi ini, ia harus menyerahkan laporan keuangan usaha mereka di bagian barat dan kemudian mengantar Sukuna untuk melihat perkembangan pembangunan klub hostess yang akan dibangun dibagian utara.

Tapi ini belum waktunya Sukuna bangun masih ada sekitar 1 jam. Ia biasa mampir ke dapur dan mengunjungi Ogami, sang pelayan keluarga Itadori.

Uraume mencium aroma masakan membuka noren.

"Ogami-san, hari ini kau memasak apa?"

Terkejut. Yang ada di dapur bukanlah Ogami-san, melainkan pemuda dengan rambut hitam yang sedang didapur dan Sukuna-sama dalam bentuk kecil sedang memakan sarapan. Pipi gembulnya menguyang makanan.

"Aku pasti sedang bermimpi."dirinya kemudian membalikan badan dan meninggalkan dapur, nenutup kembali noren.

Ia berjalan kembali, di lorong ia bertemu dengan Nanami.

Melihat Uraume yang berbalik arah bingung bertanya

"Ada apa Uraume?" tanya Nanami pada rekan kerjanya.

"Saya sedang bermimpi indah, saya akan kembali tidur untuk bangun." Jawabnya sambil tetap melongos pergi.

"Huh?" heran Nanami.

"Dan aku pinjam kamarmu ya, Nanami."

"HAH?" Nanami hendak protes lebih namun yang bersangkutan sudah pergi menjauh.

"Terima kasih baa-san" ucap Yuuji pada Wanita tua yang memasakan sarapan untuk mereka. Pagi itu Ogami-sam memasakan satu set sarapan yang berisi nasi, ikan panggang, dashimaki tamago, sup miso dan acar. Sebenarnya ini belum waktunya sarapan tapi karena mendengar Yuuji dan Fushiguro akan berangikat pagi-pagi sekali ia membuatkan makanan lebih cepat.

"Panggil saja Ogami-san" balas Wanita tua itu pelan. Wanita tua itu memakai tsumugi dan kappogi berwarna putih terlihat rapih dengan rambutnya yang dikonde kebelakang.

"Terima kasih Ogami-san" jawab Yuuji.

"Terima kasih Ogami-san" jawab Fushiguro mengikuti, dirinya baru saja selesai membantu mencuci piring kotor.

"Ara~kau tidak perlu repot-repot mencucinya"

"Tidak apa, aku hanya ingin membantu"jawab Fushiguro.

Ogami-san hanya tersenyum membalas kedua anak baru yang akan tinggal di kediamaan Itadori.

"Kalian berdua, mau kemana pagi-pagi begini?" Tanya Nanami yang baru menampakan diri di ruang makan.

"Tentu saja ke sekolah, karena rumah ini letaknya jauh sekali jadi kita berangkat lebih pagi" jawab Fushiguro sambil melepasakan celemek yang ia pinjamkan.

"Ah aku lupa mengatakan, aku sudah mendaftarkan Yuuji untuk pindah sekolah di dekat sini, ini seragam barunya" jelasnya sambil memberikan totebag berisi seragam Yuuji.

"Dan Fushiguro aku juga sudah mencarikan sekolah untukmu, kau bisa pindah mulai besok biar aku yang urus" lanjutnya sambil mendudukan diri di kursi ruang makan. Ogami menyiapkan set sarapan untuk Nanami sementara Nanami berbicara dengan Fushiguro.

'Pindah sekolah ditengah semester begini yang benar saja, lagipula sekolah mana yang mau menerima, kalau Yuuji yang masih awal sekolah dasar ia masih bisa dimaklumi, bagaimana dengan dirinya sudah kelas 3, kurang dari setahun juga akan lulus' celoteh Fushiguro dalam hati.

"Dan aku yang akan mengantar kalian berdua jadi tidak perlu terburu-buru"

"Lebih baik kau gantikan baju Yuuji terlebih dahulu"

''Seragam? Untuk sekolah dasar?" tanya Fushiguro sambil memandang aneh totebag tersebut.

"Sugisawa private school?"

'Aah, tentu saja sekolah khusus mana ada sekolah umum yang membuka pendaftaran siswa di tengah semester begini, pasti mereka memberikan banyak uang.' batin Fushiguro sambil melirik Nanami yang sedang menyantap serapan paginya.

"Yuuji kemari."pangil Fushiguro.

"Ya!" jawab Yuuji dengan riang dan menghampiri Fushiguro.

"Yuuji ganti baju dulu ya"kata Fushiguro sambil memberikan setelan seragam baru milik Yuuji.

"Ya!" Yuuji menjawab dengan menganggukan kepala.

Yuuji mulai melepaskan bajunya, tentu saja karena ia masih kecil dan di ruang makan hanya ada laki-laki dan Ogami-san, Fushiguro memintanya memakainya langsung disini. Seragam milik Yuuji merupakan setelan sailor berwarna hitam dengan kerah putih dan dasi putih, celananya berwarna hitam senada dengan panjang selutut. Tidak lupa ia memakai kaos kaki berwarna putih.

"Begini." jawab Yuuji yang sudah selesai memakai seragamnya.

'Manisnya.' ucap Fushiguro dalam hati.

'Sekolah private tidak buruk juga' lanjut Fushiguro dalam batinya.

"Ah, kau lupa topimu." Fushiguro memakaikan topi baret berwarna putih ke kepala Yuuji.

'Ughhh manisnyaaaaaa.' sentuhan terakhir memberikan seragan telak pada Fushiguro.

"Wahh cocok sekali"komentar Ogami.

"Yuuji, tahan sebentar ya, Fushi-nii ambil foto" Fushiguro menggambil ponselnya dan menyalakan fitur kamera.

"Ehhh." Yuuji sedikit protes.

Sementara di sela waktu makanya, Nanami Kento menyempatkan diri menggambil ponsel dari sakunya dan ikut memotret.


Sekolah Sugisawa, salah satu sekolah elit yang terdiri dari sekolah dasar sampai menengah atas. Sekolah yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi, juga gedung tempat belajar yang tak kalah tinggi dan besar. Gedung sekolah dengan arsitektur dengan gaya baroque yang populer di Eropa pada abad ke-16 dimana didominasi dengan pilar-pilar putih menjulang dengan langit-langit tinggi, tangga yang lebar dan megah memberikan kesan mewah pada sekolah tersebut. Serta ornamen kaca dan lantai keramik manjadikan cahaya yang masuk kedalam gedung terlihat cantik dan dramatis. Dengan interior seperti lukisan cat minyak dan patung pahatan yang indah membuat orang yang pertama kali memasuki sekolah tersebut merasa seperti memasuki museum.

Ketika memasuki lobi utama pemandangan yang terlihat adalah sebuah tangga besar yang melingkar naik ke lantai dua. Di ujung lobi terdapat sebuah lukisan besar sebagai pusatnya, lukisan dengan judul 'Lucheon on the grass' karya Claude Monet. Siapapun yang memasuki ruang lobi pasti pandanganya akan tertarik ke dalam lukisan rindang itu. Termasuk Yuuji yang langsung terpesona dengan lukisan besar tersebut. Di dalam lukisan tersebut menggambarkan sekumpulan wanita dengan gaun dan pria berjas yang sedang berpiknik di hutan.

Sambil berjalan mengikuti Nanami, Yuuji tidak mengalihkan pandanganya dari lukisan tersebut. Pemandangan dalam lukisan tersebut mengingatkanya ketika ada perayaan hanami dimana ia, kakeknya serta Fushiguro berpiknik bersama. Saat dimana ia dan kakeknya membawa bekal yang mereka buat, sedangkan Fushiguro bagian membeli minuman. Fushiguro akan membeli teh hijau dalam kemasan botol untuk dirinya sendiri dan Yuuji dan beberapa kaleng beer untuk kakeknya. Mereka mengobrol dan bersenda gurau sambil memandang bunga sakura yang berguguran.

Nanami berhenti disebuah ruangan yang diatasnya terdapat papan bertuliskan ruang guru. Belum sempat masuk, pintu terbuka dan menampakan sosok seorang wanita muda berusia 20 tahunan. Sepertinya wanita itu melihat kehadiran Nanami dari jedela kaca ruang guru dan bergegas menghampiri. Terlihat ia dan Nanami berbincang, kemudian wanita berambut biru langit itu mengalihkan pandanganya pada Yuuji dan memperkenalkan bahwa namanya adalah miwa dan ia akan menjadi wali kelas barunya.

Setelah dirasa cukup Nanami meninggalkan Yuuji kepada walikelas barunya itu. Sebelum pergi Nanami mengatakan pada Yuuji ia akan menjemputnya sepulang sekolah. Yuuji hanya mengangguk setuju.

Miwa meminta Yuuji untuk menunggu sebentar di tempatnya dan masuk kembali ke ruang guru. Tak lama berselang Miwa kembali dengan membawa seorang siswi seumuran Yuuji dibelakangnya. Sang guru memperkenalkan bahwa mereka adalah murid baru di kelas 2-A sambil berjalan menuju kelas.

Yuuji melirik sekilas ke siswi baru disampingnya, rambutnya panjang di bawah bahu wajahnya putih dan cantik tampak seperti boneka, di bibir sebelah kananya terdapat tahi lalat yang membuatnya semakin manis.

Anak perempuan itu tampak sadar dan melirik balik ke arah Yuuji dan tersenyum.

Yuuji yang sadar mengalihkan pandangan malu.


Fushiguro memberikan kunci rumah kepada pria berambut perak didepanya.

Sang rambut perak tidak mengambil kunci tersebut. Hanya ekspresi wajahnya mengatakan apa maksudnya.

"Mulai sekarang aku tidak tinggal lagi di apartemen tersebut, karena Gojo-san yang membayar sewanya sampai 3 bulan kedepan jadi kuserahkan kuncinya padamu" jelas Fushiguro.

"Megumi…"

Gojo menatap Fushiguro dibalik kacamata hitamnya.

"Seharusnya kalau kau mau pergi liburan, kau ajak-ajak akyu."

"SIAPA YANG MAU LIBURAN?!"

Gojo memberikan wajah puas karena mengoda pemuda berambut hitam tersebut.

"Ah aku tau, apa kau menemukan pacar dan memutuskan untuk tinggal bersama. aaa~ megumi mesum, kau seharusnya melakukanya setelah lulus."

"GO JO SAN"

"Ma…ma… tenanglah Fushiguro." pria dibalik konter bar mencoba menenangkan Fushiguro. Sudah cukup lama bersama dengan Gojo membuatnya mengenal baik pria itu. Kesal karena digoda oleh gojo hanya akan membuatnya semakin mengodamu, apalagi yang seperti Fushiguro.

"Kau seharusnya tidak mempedulikan satoru." ucap wanita yang sedang duduk di bangku pelanggan tak jauh dari meja konter. Diatas mejanya terdapat bungkus rokok dan laptop. Kantung matanya mengatakan bahwa wanita itu sangat memerlukan tidur.

"Jadi, kau akan tinggal di mana?" tanya Geto mencoba mengalihkan Gojo yang mungkin akan menggoda Fushiguro lagi.

"Kediaman Itadori."

"Itadori?" Tanya Gojo rautnya mengatakan kalau nama itu asing di telinganya.

"Hei, Aku sudah perna cerita kan." protes Fushiguro.

"Kalau aku tidak tertarik aku tidak akan mengingatnya megumi."

Geto yang baru saja selesai membereskan meja counter mencoba untuk mengikuti obrolan Gojo dan Fushiguro.

"Bukakah Itadori tetanggamu baru meninggal beberapa hari lalu."

"Kau tau Geto-san? Ah- Aku tinggal bersama cucunya. Kerabatnya mengajak tinggal di rumahnya."

"Bukankah itu berarti kau tidak perlu repot-repot tinggal bersama cucunya. Hora bukankah lebih tidak enak kalau kau ikut tinggal dengan kerabatnya" jelas Geto.

Tentu saja tinggal dengan keluarga orang lain yang mungkin saja keluarga tersebut sudah cukup kerepotan dengan tambahan satu anggota keluarga apalagi ditambah dengan orang lain yang bukan keluarga. Pemikiran tersebut cukuplah umum dimana seharusnya menjadi alasan yang cukup agar Fushiguro tidak perlu ikut dengan Itadori.

"Itu…Karena aku belum bisa mempercayakan Yuuji kepada mereka." Jawaban Fushiguro terdengar sangat natural seakan Itadori merupakan tanggung jawabnya.

"Megumi kau ini sangat peduli sekali ya dengan si Yuuji ini, itu membuat papa cemburu"

"Siapa yang papa huh."

"Itadori… jangan-jangan klan Itadori yang itu." bisik Geto sekilas tidak terdengar oleh Fushiguro yang mulai tersulut dengan candaan Gojo.

'Krek.' suara pintu bar terbuka membuat seluruh perhatian tertuju ke pintu masuk.

"Okkotsu-senpai, Riko-san, Kuroi-san." sapa Fushiguro.

"Ah, lama tidak berjumpa Fushiguro."

Ieri yang melihat kedatang tiga orang tersebut terlihkan dari pekerjaan di laptopnya. Ia mananyakan bahwa tidak biasanya Yuuta dan Riko datang bersamaan. Tentu saja hal itu merupakan kebetulan saja Yuuta bertemu dengan kakak iparnya tersebut di jalan. Sejak tahun lalu Yuuta sudah ditunangkan dengan sepupu Riko tetapi hal itu masih dirahasiakan karena umur tunangan Yuuta yang masih di bawah umur.

Yuuta Okkotsu, 20 tahun. Lulusan dari sekolah Sagisawa, anak tunggal dari seorang politikus yang memutuskan untuk meniti karir di dunia tarik peran. Bakatnya yang memukau dibuktikan dengan peranya dibeberapa serial televisi dan layar kaca. Kemampuan aktingnya tidaklah main-main dari drama percintaan berjudul "falling in spring"ataupun film bioskop bergenre action berjudul "police mystery" mendapat banyak pujian dan kritik positif. Dalam waktu dua tahun dari debutnya ia bahkan mendapat nominasi aktor pendatang baru.

Awalnya Yuuta adalah seorang yang lemah dan tidak percaya diri, tapi semenjak ia mengenal gojo dan mengajarinya beladiri ia menjadi lebih percaya diri dan dapat mengatasi pembuli yang menyerangnya. Bahkan ia mendalami kendo ketika di sma dan masuk ke semifinal interhigh.

Di bar dan kafe ini yuuta kadang menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan temanya ataupun dengan gojo. Bahkan berkenalan dengan Fushiguro serta mengalami kecocokan ketika mereka mengobrol.

Riko Amanai, 25 tahun. Sama dengan Yuuta, ia merupakan lulusan dari sekolah Sugisawa, keluarganya memiliki perusahaan kecil yang cukup stabil namun kehidupanya berubah drastis ketika dilamar oleh pewaris tunggal keluarga konglomerat Tengen. Kehidupan mewah berkelas tinggi didapatkanya hanya dengan menyandang nona tengen. Bukan hanya harta dan kekayan tapi juga kekuasaan. Saking bosan dan ingin menghamburkan uang yang banyak, ia menjadi sponsor bagi kegiatan yang dilakukan oleh gojo, geto, dan ieri di bar ini.

Sedangkan Misato Kuroi 30 tahun, merupakan pelayan setia keluarga Amanai. Semenjak Riko menjadi tunangan Tengen, Kuroi menjadi pelayan pribadi untuk Riko.

Terlalu terbawa suasana reuni dan saling mengobrol, mereka tidak menyadari bahwa Geto dan Gojo sudah bersiap di mini stage bar tersebut. Di mini stage tersebut terdapat beberapa alat musik seperti piano, biola, cello, bassoon dan theorbo.

Gojo menyerahkan busur biola pada Yuuta. Sang pemuda berambut hitam awalnya menolak tetapi Ieri menjelaskan bahwa lenganya terkilir dan meminta Yuuta untuk mengantikanya hari ini.

Petang itu bar di sudut kota mengalun melodi indah permainan musik para alumni Sekolah Sugisawa. Lagu klasik yang terdengar harmonis dan indah membawa energi kebahagian bagi yang mendengarkanya. Termasuk Fushiguro yang terpikat oleh alunan-alunan melodi tersebut.

Lagu yang dibawakan ialah favorit bagi Riko Amanai.

J.S. Bach: Trio Sonatas.

Glossarium

Kosaki Touhon: Kartu Keluarga.

Sakazuki: Tradisi betukar cawan sake dengan maksud memberikan tanda kesetiaan. Biasanya dalam yakuza, sakazuki dilakukan oleh anggota baru yang diakui oleh atasan.

Tokonoma: bagian dalam kamar di Jepang yang tingginya lebih tinggi sedikit dari lantai, digunakan , untuk menaruh hiasan berupa guci, lukisan dan lain-lain

Futon: Kasur lipat

Yubikiri: atau disebut dengan janji jari kelingking dimana dua orang mengaitkan jarinya dan mengucap janji.

Arti dari lagu yang dinyanyikan Yuuji

Janji kelingking,

kalau kamu berbohong,

aku akan membuatmu menelan seribu jarum

dan memotong jari

Engawa: koridor bagian luar dari rumah.

Inu mo arukeba bou ni ataru:Anjing yang berjalan bisa menabrak sebuah tongkat juga. Ini merupakan pribahasa jepang, yang artinya dapat berarti seseorang yang mendapatkan keberuntungan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Dashimaki tamago; telur dadar khas Jepang

Tsumugi: Kimono yang lebih kasual biasanya digunakan untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari atau berkebun

Kappogi: Baju luaran dari kimono yang gunanya meindungi kimono dari noda ketika memasak.