Hei, aku punya permintaan yang sangat egois. Bisakah kau mencintaiku hanya selama 365 hari terakhir ini?


Love Me For 365 Days

Yuuki Azusa Present

Kuroko no Basuke Fanfiction

Desclaimer : KnB © Fujimaki Tadatoshi

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama.

Pair : MayuAka slight NijiHai dan beberapa pair lainnya

Warning : Fem!Akashi, Fem!Haizaki, beberapa karakter GoM juga mengalami genderbend, typo(s), dll.

Selamat Membaca!


Episode 1 : My Name is Mayuzumi Chihiro


"Nijimura-san, terima kasih sudah mengantarku sampai rumah."

Akashi Seishiina tersenyum manis pada pemuda tinggi bersurai hitam yang berdiri di hadapannya. Nijimura Shuuzou—nama pemuda itu—sedikit membungkukkan tubuhnya agar ia dapat melihat rona merah di kedua pipi Akashi yang kedinginan.

"Sampai kapan kau terus bersikap canggung seperti ini padaku? Lagipula, bukannya wajar jika aku mengantarmu? Hari sudah gelap. Aku tidak mau pacarku yang cantik ini kenapa-kenapa."

Suara berat yang mengucap kalimat tersebut dengan lembut. Akashi terkekeh pelan. Nijimura selalu punya cara untuk membuatnya tertawa.

"Maaf karena selama ini aku selalu merepotkanmu, Nijimura-san."

Kepala merah itu menunduk. Kedua tangan mencengkeram rok sekolahnya agak kuat. Akashi selalu merasa nyaman saat berada di dekat Nijimura. Ia selalu merasa bahagia setiap kali hatinya berdesir hangat saat Nijimura membisikkan kalimat-kalimat lembut yang membuatnya merasa hangat. Bukan kalimat romantis penuh gombalan seperti yang dilontarkan para lelaki pada umumnya. Hanya kalimat sederhana, namun penuh makna.

Karena itu, Akashi selalu merasa takut. Ia takut kehilangan Nijimura. Ia tidak mau kehilangan sosok yang sangat dicintainya sejak SMP itu. Akhir-akhir ini, Akashi sering merasa khawatir. Rasa kekhawatiran yang bukan tanpa sebab. Ia tau ada sesuatu atau mungkin seseorang yang mengusik hubungan mereka.

Nijimura tau ada yang aneh dari Akashi. Akhir-akhir ini, gadisnya itu sering kali terlihat cemas.

"Kau tidak pernah merepotkanku kok. Malah aku senang setiap kali mengantarmu pulang. Dengan begitu, aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganmu," ujar Nijimura.

Akashi mengangguk. Ia kembali tersenyum.

Nijimura menghela napas. Akashi menyembunyikan sesuatu darinya.

"Kau kenapa? Ada masalah? Apa ada yang mengganggumu? Ceritalah padaku. Akan kuhabisi siapapun yang berani mengganggu pacarku," ujar Nijimura dengan penekanan di kalimat terakhirnya.

Akashi menggeleng cepat membuat surai merahnya yang panjang sedikit bergoyang. "Tidak, tidak ada yang menggangguku. Aku hanya… sedikit cemas," lirih Akashi.

"Cemas kenapa?" Nijimura menatap Akashi khawatir. Akashi diam sejenak. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Nijimura, namun ia ragu untuk menanyakannya.

"Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Tapi, jika kau punya masalah, bukankah lebih baik jika kau bagi denganku. Aku akan membantumu sebisaku, seperti kau membantuku setiap kali aku berada dalam masalah."

Akashi terkesima dengan senyum hangat yang Nijimura berikan padanya. Tangan besar dan kekar milik Nijimura mengelus lembut puncak kepala merah Akashi.

Kedua manik sewarna ruby milik Akashi memanas. Ia berharap semua yang Nijimura lakukan saat ini tulus, tanpa ada kebohongan ataupun kepura-puraan. Akashi sangat berharap Nijimura memang benar-benar mencintainya seperti yang pemuda itu selalu katakan padanya. Akashi berharap semuanya tidak berakhir begitu saja. Ia selalu berharap akhir yang indah bersama Nijimura.

Sekali lagi, Akashi mengulas senyum. Ia mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Nijimura.

"Aku akan menceritakan semuanya besok," ujar Akashi.

"Aku selalu siap kapan saja," sahut Nijimura.

"Terima kasih. Aku masuk duluan ya. Kau hati-hati di jalan. Sampai bertemu besok di sekolah, Nijimura-san."

"Ah, iya. Good night, Akashi. Have a nice dream."

Akashi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewahnya. Nijimura masih menunggu dan menatapnya dari pintu gerbang. Sebelum Akashi masuk ke dalam pintu utama, Akashi kembali tersenyum sambil melambaikan tangan.

Lalu, pintu kayu besar itu tertutup rapat.

Nijimura masih setia berdiri di depan gerbang. Untuk waktu yang cukup lama, ia tersenyum. Hingga senyum itu hilang, bergantikan dengan wajah muram penuh penyasalan. Kepala hitamnya menunduk dalam, memperhatikan bayangannya di jalan.

"Maafkan aku, Akashi…" bisiknya dalam hati.

Setelah merasa cukup lama berdiri di sana, Nijimura memutuskan berbalik dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. Hingga langkahnya terhenti saat suara seseorang memanggil namanya.

"Shuuzou."

Sosok gadis bersurai abu-abu muncul dari balik pohon yang cukup tinggi. Kedua matanya yang sewarna rambutnya menatap Nijimura.

"Shouko, kenapa kau ada di sini?" Nijimura mengernyit heran.

"Aku mengikutimu dan Akashi," Haizaki Shouko menjawab datar.

Nijimura tidak tau apa yang diinginkan Haizaki darinya. Hendak ingin mengacuhkan dan pergi, Haizaki malah menahan tangannya.

"Shuuzou, aku ingin bicara denganmu," pinta Haizaki.

Nijimura menatapnya sinis. "Bicara apa?"

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Mana tatapanmu yang biasa kau berikan padaku?" Haizaki menuntut. Nijimura membuang muka.

"Shouko, hentikan. Kita tidak bisa terus seperti ini. Aku sudah bersama Akashi dan—"

"Justru kau yang harusnya menghentikan ini semua!"

Haizaki memotong cepat membuat Nijimura kembali menatapnya bingung.

"Apa maksudmu?"

"Berhentilah bersikap pura-pura bodoh! Karena kau sudah bersama Akashi, tapi kenapa kau masih meladeniku? Kenapa kau selalu mau setiap aku mengajakmu kencan? Kenapa kau selalu menjadi orang pertama yang datang untukku setiap aku jatuh? Kenapa kau selalu mendahului kepentinganku dibandingkan Akashi? Bukankah itu aneh?"

Nijimura bungkam. Ia tidak membantah dan menyetujui apa yang Haizaki katakan. Rasanya aneh memang. Ketika ia telah terikat dengan seseorang namun hatinya bukan untuk orang itu. Itulah yang ia rasakan sekarang. Perasaan yang membuatnya selalu dihantui penyesalan setiap malamnya.

"Kau tidak bisa terus membohongi dirimu seperti ini terus, Shuuzou. Kau memberikan Akashi harapan dan kau juga memberikanku harapan. Kau harus segera memutuskannya, dimana hatimu yang sesungguhnya. Untukku atau untuk Akashi. Jika kau tidak bisa memutuskan selayaknya seorang laki-laki, maka…" Haizaki menggantung kalimatnya. Ia tidak mau terlalu terbawa emosi.

"…kita hanya akan saling menyakiti. Dan aku tidak mau menyakiti Akashi. Bagaimanapun juga dia adalah temanku sejak SMP."

Nijimura masih setia bungkam. Haizaki menunduk untuk mengatur emosinya kembali.

"Aku hanya ingin mengatakan itu. Selebihnya, tergantung padamu. Lebih baik kau segera mengakhirnya, sebelum Akashi tau yang sesungguhnya."

Setelah berkata seperti itu, Haizaki pergi meninggalkan Nijimura yang masih diam. Nijimura kalut dengan pikirannya sendiri. Ia tidak percaya kalau semua masalahnya akan menjadi serumit ini.

Tanpa Nijimura sadari, sejak tadi Akashi terus memperhatikannya dan Haizaki dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Akashi memang tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi setidaknya ia sudah tau. Bahwa selama ini Nijimura diam-diam mengkhinatinya. Dan Akashi ingin segera mengakhiri semua sandiwara ini.


Keesokkan harinya…

Seperti biasa, hari ini klub basket SMA Rakuzan menjalani latihan neraka yang sangat menguras tenaga. Apalagi sebentar lagi Interhigh diadakan, manajer dan para pelatih pun menggila dan menambah porsi latihan mereka.

Nijimura duduk di bench. Beristirahat sebentar setelah melakukan dunk hebat dan mencetak beberapa skor saat latihan tanding tadi. Ia meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal sambil mengatur napasnya yang masih terengah.

"Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini."

Sebotol minuman isotonik dingin dan sebuah handuk kecil disodorkan padanya. Akashi yang memberikannya sambil tersenyum.

Nijimura balas tersenyum. Ia menerima minuman dan handuk yang diberikan Akashi. "Terima kasih."

Akashi duduk di sebelahnya. Sama seperti Nijimura, Akashi juga baru selesai latihan tanding. Timnya melawan tim Nijimura tadi. Dan seperti biasa, Akashi-lah yang selalu meraih kemenangan.

Akashi menatap anggota lain yang masih bertanding. Kebetulan klub basket sekolah mereka adalah klub basket campuran. Baik siswa maupun siswa bebas menjadi pemain di klub ini, asalkan mereka berbakat.

Layaknya Akashi Seishiina. Saat pertama kali mendaftarkan diri di klub, semua orang meragukannya bahwa ia bisa bermain basket. Tubuh mungil dan ramping, tidak tinggi, wajah cantik yang terlihat anggun, sama sekali tidak cocok untuk seorang pemain basket. Namun, kenyataan saat ia mengalahkan semua anak kelas tiga saat ujian masuk hanya dengan ankle break andalannya, tak ada lagi orang yang berani meremehkannya. Bahkan kini ia langsung ditunjuk sebagai wakil kapten beberapa hari setelah ia resmi diterima.

"Sepertinya semua anggota kita bersemangat sekali ya. Sebentar lagi Interhigh, semua orang mempersiapkan diri," ujar Akashi.

"Kau benar. Tapi, kemenangan kita di Interhigh sudah pasti kan?" Nijimura menatap Akashi penuh arti. "Karena kita memiliki ace handalan seperti dirimu."

Akashi tertawa pelan sambil menyingkirkan helaian rambutnya yang tidak terikat ke belakang telinga. Nijimura memang senang memujinya. "Tidak juga, tanpaku pun kita bisa menang. Karena kita memiliki kapten yang hebat seperti dirimu," Akashi tidak mau kalah.

"Ahahah, baiklah. Aku menyerah."

Keduanya kembali menonton jalannya latih tanding. Tampak Haizaki bermain disana. Akashi mengernyit, sesekali melirik Nijimura yang tampak serius memperhatikan.

"Haizaki Shouko ya. Dia memang hebat sejak SMP."

Nijimura terkejut saat Akashi tiba-tiba membahas Haizaki. "A-ah, iya. Kau sudah tau seperti apa kemampuannya seperti apa kan?" Dan sialnya, ia malah gugup.

Akashi mengangguk. "Benar, tapi entah atas alasan apa, dia berhenti bermain. Kalau tidak salah, setelah kau lulus. Kenapa ya? Apa kau tau alasannya?"

Akashi memicing, menatap intens pada Nijimura yang tampak kebingungan.

"A-apa maksudmu? Kenapa kau bertanya padaku."

Akashi mengalihkan tatapannya sambil menjawab santai. "Kau kan teman masa kecilnya."

Nijimura diam. Faktanya memang benar, ia adalah teman masa kecil Haizaki. Tapi, bukan itu masalahnya. Pertanyaan Akashi tadi sekaan sengaja menyudutkannya. Mungkinkah Akashi mulai curiga padanya?

"Shouko memang temanku sejak kecil. Tapi, bukan berarti kami cukup dekat. Aku tidak tau apa yang menyebabkan dia berhenti main basket saat itu."

Akashi hanya diam. Ia hanya melirik sekilas dari sudut matanya. "Beraninya kau membohongiku."

"Kau cukup dekat dengannya. Buktinya, kau memanggilnya dengan nama kecilnya," ujar Akashi dengan sedikit penekanan.

Nijimura mengernyit. Sepertinya ia menyadari bahwa Akashi sedang cemburu. Hal itu malah iya manfaatkan untuk menggoda Akashi.

"Heh~ Ada apa ini? Kau iri karena aku memanggil Shouko dengan nama kecilnya?"

Wajah Akashi seketika memerah. "B-bukan begitu! Hanya saja, kau tidak pernah memanggilku dengan nama kecilku," cicitnya lucu.

Nijimura tambah gemas dan terus menggodanya. "Kau sendiri tidak pernah mau memanggilku dengan nama kecilku kan? Bukannya ini berarti kita impas?"

"T-tapi kan aku tidak mau melakukannya karena kau seniorku!"

"Tapi kau adalah pacarku. Seorang pacar bebas melakukan apapun pada pacarnya. Akashi, kau tak bisa mengelak lagi."

Akashi cemberut. Ia tak menyangka Nijimura akan membuatnya skakmat. Nijimura tertawa puas melihat wajah kesal Akashi yang lucu.

"Pacarku yang imut ini kalau sedang marah memang manis sekali ya, hahaha." Dan Nijimura belum juga puas untuk terus menggoda Akashi. Akashi semakin kesal. Kalau saja Nijimura bukan pacarnya, Akashi pasti sudah menggunting pita suaranya sejak tadi.

"Aku tidak cemburu! Berhentilah tertawa atau—"

"ARGH!"

Tawa Nijimura berhenti saat suara teriakan serta rintihan seseorang terdengar di telinganya. Atensi Akashi pun ikut teralihkan. Di tengah lapangan, tampak Haizaki yang berbaring sambil memegangi pergelangan kakinya.

Nijimura dan Akashi bergegas ke lapangan. "Apa yang terjadi?"

"Tadi Nebuya tidak sengaja bertabrakan dengan Shouko-chan dan karena tubuh Shouko-chan mungil, jadi dia yang terdorong," jelas Mibuchi.

Mendengar itu, Nijimura langsung naik pitam. Ia menarik kaos Nebuya sambil menatapnya tajam.

"Apa. yang. kau. lakukan. padanya?" nada bicaranya sangat dingin dan penuh penekanan. Kedua tatapan Nijimura seakan ingin menusuk Nebuya.

Nebuya yang ketakutan hanya bisa gelagapan. Padahal ia bisa saja mendorong Nijimura yang lebih kecil darinya. Namun, nyalinya langsung ciut saat bertatapan dengan Nijimura.

"A-aku benar-benar t-tidak sengaja, K-Kapten…"

"Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kubunuh kau."

Akashi benar-benar terkejut. Belum pernah ia melihat Nijimura semarah ini.

Tampak beberapa manajer klub sedang memeriksa pergelangan kaki Haizaki. "Kakinya cedera, seseorang bawa dia ke UKS," ujar salah satu manajer.

"Aku saja." Nijimura langsung mengajukan diri. Menatap tajam sekali lagi pada Nebuya sebagai peringatan, lalu menghampiri Haizaki. Ia menggendong Haizaki yang juga tampak terkejut ala bridal style. Tanpa mengatakan apapun, ia membawa Haizaki menuju UKS.

Nijimura sama sekali tidak menyadari tatapan tersakiti yang Akashi berikan padanya.


"Sudah selesai. Untuk sementara kau tidak boleh berlari dulu," ujar sang perawat UKS setelah selesai memberi perban pada kaki Haizaki.

"Arigatou, Sensei," ujar Haizaki.

Sang Sensei mengangguk lalu pergi keluar UKS meninggalkan Haizaki bersama Nijimura. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan yang canggung.

"Kau benar-benar membuatku khawatir. Aku sampai tidak bisa mengendalikan diriku," Nijimura yang pertama kali bicara.

"Kau terlalu peduli padaku. Kau menyakiti Akashi," sahut Haizaki.

Nijimura terkejut. "Apa maksudmu?"

Haizaki mendengus. Nijimura benar-benar tidak peka.

"Kau tidak lihat bagaimana ekspresinya tadi saat melihat kau menggendongku? Saat kau marah pada Nebuya karena aku? Aku yakin Akashi sangat membenciku sekarang."

Nijimura masih diam. Ia melakukan semuanya tanpa sadar. Tubuhnya refleks bergerak saat Haizaki terluka. Emosinya mendadak tidak terkendali saat melihat sosok yang berharga baginya tersakiti.

"Shuuzou, berhentilah bersikap seperti pengecut. Aku tidak ingin seperti ini terus," Haizaki memohon. Ia menggenggam tangan Nijimura erat.

Nijimura mengepalkan tangan. Ia membulatkan tekad.

"Kau benar. Aku harus menghentikan ini semua. Karena itu Shouko, aku telah memutuskan untuk siapa hatiku yang sesungguhnya."

Mata Haizaki membola. Keputusan Nijimura sudah tidak bisa diubah kembali.


Sepulang sekolah, Nijimura meminta Akashi menemuinya di atap sekolah. Akashi sudah sampai lebih dulu karena kelasnya selesai duluan. Akashi menatap pemandangan langit jingga dari atap sekolahnya. Angin semerbak yang meniup rambutnya selalu berhasil membuatnya tenang.

"Akashi."

Nijimura berdiri di belakangnya. Tanpa memanggil pun, Akashi sudah menyadari kehadirannya.

"Maaf membuatmu menunggu."

Akashi tersenyum. "Tenang saja. Kau hanya terlambat lima menit. Lebih baik daripada kencan pertama kita."

Nijimura tertawa canggung. "Iya, kau benar."

Akashi menghampiri Nijimura yang tampak tegang. "Jadi, ada pembicaraan sepenting apa sampai kau memanggilku kesini?"

Lidah Nijimura mendadak kelu. Padahal, ia ingin segera mengakhiri ini semua. Ia tidak mau semakin menyakiti Akashi. Namun, senyum manis Akashi selalu berhasil melumpuhkannya.

Tidak bisa. Aku tidak bisa seperti ini terus.

"Akashi…" Nijimura menggigit bibir bawahnya, menyiapkan hatinya. Ia tidak bisa selamanya menjadi pengecut.

"…aku ingin kita mengakhiri hubungan ini."

Cepat dan menusuk. Kalimat yang berhasil memudarkan senyum manis di wajah cantik nona muda itu. Keduanya lama-lama terdiam. Nijimura yakin Akashi pasti syok sekali karena ia memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba. Nijimura tidak tau apa dia masih bisa pulang dalam keadaan hidup-hidup setelah ini.

"Kenapa?" suara Akashi akhirnya keluar. Nijimura memberanikan diri untuk menatapnya. "Kenapa Nijimura-san ingin mengakhirinya?"

"Ah, itu…" Lagi-lagi Nijimura kehilangan keberaniannya. Sungguh, ia sangat tidak suka menyakiti hati wanita. Terlebih wanita seperti Akashi Seishiina.

"Itu karena…"

"Karena hatimu hanya untuk Haizaki Shouko, begitu?"

Sekali lagi mata Nijimura membola. Ia tau gadis merah itu dapat membaca pikiran orang lain layaknya cenayang. Tapi ia tak menyangka sampai bisa membaca perasaannya juga.

"Tidak perlu terkejut begitu. Aku sudah tau apa yang terjadi di antara kalian. Sudah sejak lama."

Apa yang dikatakan Akashi benar-benar membuat Nijimura lumpuh. Ia berdiri kaku dengan lidah kelu tanpa mampu membantah sedikitpun perkataan Akashi.

"Aku sudah menyadarinya sejak lama. Nijimura-san memang tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kau memang bersamaku, tapi hatimu hanya untuk Haizaki. Aku bisa melihatnya. Tatapanmu untuknya sangat berbeda. Bahkan, kau tidak pernah memberikan tatapan itu padaku. Tapi, aku berusaha bertahan selama ini karena berpikir bahwa aku bisa membuatmu mencintaiku sepenuhnya. Namun, hati memang tidak pernah bisa dibohongi. Dan untuk pertama kalinya, aku kalah."

Akashi menunduk. Nijimura yakin sekali, Akashi bersusah payah menahan tangisnya. Ia dapat melihat dengan jelas, bahu gadis itu bergetar.

"Aku juga ingin mengakhiri ini segera. Namun, aku selalu belum siap. Karena itu, aku sangat bersyukur sekali karena Nijimura-san yang mengakhiri semua ini lebih dulu."

Akashi mengangkat kepalanya kembali, menatap Nijimura sambil tersenyum. Senyum paling menyakitkan yang pernah Nijimura lihat dari paras cantik gadis keturunan keluarga paling disegani seantero Jepang itu. Nijimura pasti sangat menyesal karena menjadi laki-laki pertama yang berani-beraninya menyakiti hatinya.

Tanpa sadar, tangan Nijimura bergerak dan menarik Akashi dalam pelukannya. Akashi diam saja. Ia bahkan tak balas memeluk.

"Akashi, maafkan aku. Maaf karena telah membohongimu selama ini. Sungguh, aku tidak bermaksud—"

"Aku tau kok." Akashi memotong cepat. Perlahan ia lepaskan dirinya dari pelukan Nijimura. "Nijimura-san tidak pernah sengaja menyakitiku. Karena Nijimura-san bukan orang yang seperti itu. Nijimura-san adalah orang terbaik yang pernah aku temui selama aku hidup."

Detik berikutnya, Nijimura terpuruk dalam rasa penyesalan yang dalam. Padahal ia telah menyakiti hati Akashi, tapi Akashi tetap menganggapnya baik. Nijimura memang tidak pantas untuk gadis sebaik Akashi.

Akashi meraih tangan Nijimura. Ia ingin menggenggam tangan yang selalu membuatnya hangat itu untuk terakhir kalinya, sebelum tangan itu menggenggam tangan orang lain.

"Nijimura-san, terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku selama ini. Setelah ini, kita bukan lagi sepasang kekasih. Tapi aku harap kita masih dapat berteman baik."

Akashi mengatakannya dengan sangat tulus dan itu menambah perasaan bersalah Nijimura. Namun, memang inilah yang terbaik bagi mereka. Agar tidak terus saling menyakiti, lebih baik berakhir seperti ini.

"Aku akan berusaha agar kita tetap dapat berteman baik," ujar Nijimura.

Akashi mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu.

"Nijimura-san, aku punya satu permintaan yang cukup egois. Mungkin ini membuatmu tidak nyaman, tapi…"

Seperti yang biasa Akashi lakukan saat gugup. Ia menggantung kalimatnya sambil meremas roknya. Nijimura menunggu kelanjutan kalimat Akashi dengan sabar.

"…bisakah kau menciumku untuk yang terakhir kalinya?"

Permintaan yang tak pernah diduga oleh Nijimura membuatnya kembali teringat bahwa ia memang tidak pernah mencium Akashi selama mereka berpacaran. Nijimura memang sengaja tidak mau menyentuh Akashi karena ia merasa ia belum pantas melakukannya.

Namun, karena ini adalah permintaan Akashi untuk yang terakhir kalinya, mana mungkin Nijimura menolaknya?

Nijimura membungkukkan tubuhnya sejenak. Mendekatkan wajahnya pada wajah Akashi. Akashi refleks memejamkan mata. Bukan ciuman di bibir seperti yang diduga Akashi. Hanya sebuah ciuman singkat di dahi, namun sangat hangat dan penuh makna.

Nijimura segera melepaskan wajah Akashi setelah ia merasa sudah cukup. Ia tersenyum geli melihat Akashi yang kebingungan.

"Aku tidak mau merebut ciuman di bibirmu. Kau bukan milikku. Sampai kapanpun, aku tidak akan bisa memilikimu. Karena itu, kau harus menjaga bibirmu untuk orang yang benar-benar mencintaimu. Jangan sampai first kissmu direbut orang yang salah."

Akashi hanya diam. Walaupun tidak sesuai keinginannya, namun ia sudah merasa cukup.

"Arigatou, Nijimura-san."

Setelah saling mengucap salam perpisahan, Nijimura memutuskan untuk pergi lebih dulu. Akashi masih ingin tinggal di atap. Ia ingin menenangkan diri sejenak.

Walau sudah berakhir, rasanya tetap saja sesak. Pada akhirnya, ia kembali ditinggalkan. Semua ini juga sudah pernah terjadi pada dirinya, dulu. Ibu yang sangat menyayanginya, satu-satunya orang yang mendukung dirinya diantara semua orang yang memperlakukannya layaknya boneka, malah pergi meninggalkannya. Saat ia menemukan secercah cahaya yang membuatnya hidup kembali, nyatanya cahaya itu terlalu terang untuknya. Dan ia kembali ditinggalkan. Selalu ia yang ditinggalkan.

Terkadang, Akashi merasa semua ini tidak adil. Apakah ia tidak boleh merasakan cinta? Apakah tidak ada orang yang benar-benar mencintainya sepenuhnya? Akashi tidak mengerti. Semua orang menganggap hidup Akashi paling sempurna. Namun, nyatanya tidak. Dibalik kesempurnaan yang ia miliki, ia sebenarnya menderita. Namun, ia tidak pernah menunjukkannya. Harga dirinya terlalu tinggi hanya untuk menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain.

Sebagai gantinya, tak ada orang yang benar-benar memahaminya. Semua orang menganggapnya baik-baik saja. Karena Akashi sendiri tidak pernah jujur pada dirinya.

Akashi menatap lapangan di bawah sana. Betapa tingginya gedung sekolah ini. Akashi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika ia terjatuh dari sana.

"Patah hati itu memang sakit, tapi kau bukan orang yang segila itu untuk menghabisi nyawamu hanya karena putus cinta bukan?"

Akashi terkejut. Ia hampir saja terjungkal dan jatuh ke bawah sana kalau saja tidak ada pagar pembatas yang mengelilingi atap sekolahnya.

Tampak seorang pemuda berdiri di hadapannya. Helaian abu-abunya yang tampak lembut tertiup angin. Kedua mata sewarna rambutnya menatap Akashi datar.

Akashi mengernyit heran. Apa-apaan pemuda itu? Sejak kapan dia berdiri di sana? Mengapa Akashi tidak menyadari kehadirannya?

"Siapa kau? Sedang apa kau disini? Dan sejak kapan?" Akashi menyerangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.

"Sejak tadi. Sejak kau belum datang, aku sudah duduk di pojok sana, membaca novel. Atap ini teritoriku. Aku tidak menyangka akhir-akhir ini banyak yang mengacau di wilayahku," jawab si pemuda datar.

Akashi tak terima. Pemuda itu seakan menantangnya. "Apa maksudmu? Kau pikir ini sekolahmu hah? Sejak kapan atap ini jadi wilayahmu? Ini kan tempat umum—OH!"

Akashi yang tidak biasanya nyerocos panjang lebar seperti itu mendadak diam. Ia teringat sesuatu.

"Jangan-jangan rumor hantu di atap yang beredar di sekolah ini kau pelakunya!"

"Hah?" pemuda itu tampak tak mengerti apa yang Akashi katakan. Ia makin bingung saat Akashi tiba-tiba menudingnya.

"Hantu atap apanya? Kau lihat kedua kakiku menapak kan? Aku belum jadi hantu," protes si pemuda, masih dengan suara datar.

"Lalu, kalau kau bukan hantu, kau ini siapa?"

Pemuda itu memutar bola matanya malas. Ia menghela napas, tampak jengah.

"Kau benar-benar lupa padaku ya? Wajar sih, aku kan cuma bayangan. Aku mudah dilupakan. Karena itu…"

Akashi mengernyit tak mengerti dengan perkataan si pemuda. Ia semakin waspada saat pemuda itu menghampirinya. Ia menjulurkan tangan kanannya, hendak berjabat tangan.

"Namaku Mayuzumi Chihiro. Catat itu dan jangan sampai kau melupakannya lagi!" titahnya dengan penuh penekanan.

To be continued…


Author's note:

Arrggghhhh! Apa iniiii?! Fic baru teroooss! Tambah banyak aja utang fic gue. Bodo amat lah yang penting publish. RnR?