Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Healing by me.
Enjoy Reading
Sharingan adalah salah satu kekkai genkai kuat milik klan Uchiha. Kemampuan mata turunan Uchiha itu tak diragukan lagi kekuatannya. Hampir semua ninja menginginkan mata itu. Praktek pencurian mata dari menculik anggota klan Uchiha sudah terjadi sejak lama. Bahkan untuk pemilik aslinya, mata ini juga membawa beban terlepas dari betapa kuatnya kemampuan mata sharingan.
Sebelumnya, hal-hal seperti mentransplantasi sharingan kepada non-Uchiha adalah hal yang biasa. Memang kemungkinan resiko kegagalan terbilang besar, namun masih banyak yang berhasil dan dapat menggunakannya meski orang itu bukan dari Uchiha.
Kakashi adalah kasus yang sama. Ia bukan seorang Uchiha tetapi nemiliki sharingan di salah satu matanya. Tentu saja sharingan itu bukanlah hasil ia merampas dari klan Uchiha, melainkan pemberian dari sahabatnya. Uchiha Obito.
Kakashi selalu menutupinya, hingga hanya sebelah matanya saja yang terlihat setiap hari. Meski ia bukan dari klan Uchiha, kemampuannya mengendalikan sharingan itu sangat baik. Anak dari taring putih Konoha yang tersohor itu nyaris dikenal seluruh dunia shinobi. Seluruh shinobi dari berbagai desa sepertinya sangat mengenal siapa itu Hatake Kakashi.
Dari seluruh ketenaran serta kemampuannya yang tersohor, memiliki mata sharingan di tubuhnya yang bukan seorang Uchiha juga membawa beban. Kakashi bukan lagi seorang anbu, tapi jiwanya masih terkontaminasi aturan-aturan anbu. Bahkan ketika ia beralih menjadi Jonin pembimbing para genin, hanya tim 7 milik Naruto saja yang berhasil lolos pada tesnya.
Ada kalanya ketika Kakashi pulang dari menjalankan misi tingkat S, jiwanya seolah benar-benar terganggu. Ia pernah nyaris membunuh shinobi Konoha rekannya sendiri karena jiwanya yang terganggu dari misi tingkat S sendirian. Karena itulah, Tsunade-Hokage kelima selalu menyuruh Kakashi untuk segera menemuinya seusai misi. Kakashi bisa menjadi sangat berbahaya di saat-saat kritis. Kejadian seperti ini sudah terjadi berulang kali. Mereka yang mengerti posisi Kakashi akan memaklumi, namun tak sedikit pula yang jadi benci dengan perilaku Kakashi karena mereka tidak tahu.
Seminggu yang lalu, Tsunade kembali memberinya misi level S ke desa Kabut sendirian. Kakashi sering mendapatkan tugas level S sendirian. Ia sudah menyelesaikannya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ia sampai di gerbang desa. Tubuhnya benar-benar sudah lelah, kepalanya sangat pusing serta mata sharingannya terus menghantarkan rasa sakit yang membuat kepalanya jadi semakin pusing.
"Kaka-"
Srak!
Kakashi memiliki reflek yang bagus. Seseorang tercekik di depannya. Kakashi mencekik orang itu dan menodongkan kunai padanya.
"Akh! Ka...Kashi-san"
Seorang shinobi yang lebih muda darinya meringis menahan sakit. Badannya bergetar hebat saat cengkraman Kakashi di lehernya menguat. Kakashi yang sadar siapa yang berada di depannya segera melepas cengkramannya.
"Ohok! Ohok!" Sang shinobi yang telah dilepaskan jatuh terduduk, terbatuk-batuk hingga muntah.
"Iruka." desis Kakashi.
Iruka belum juga bicara, ia masih terbatuk-batuk. Wajahnya benar-benar pucat.
"Kau baik-baik saja?" Kakashi berjongkok, memegangi bahu rekan sesama shinobi nya.
"Aku kira aku akan mati." Iruka bernapas lega, ia menyandarkan badannya pada batang pohon besar di belakangnya.
"Maaf." gumam Kakashi pelan.
Iruka mengibaskan telapak tangannya. "Tidak... Tidak... Aku yang minta maaf Kakashi-san. Apa yang ku lakukan pasti cukup mencurigakan makanya kau sampai mencekik ku."
"Apa yang kau lakukan di luar desa?"
"Aku baru pulang dari misi. Yah, hanya misi kecil sih."
Kakashi mengerutkan sebelah alisnya. "Kau 'kan guru akademi?"
"Lalu? Hokage-sama tetap mempercayakan beberapa misi padaku tau! Meski misi biasa saja sih."
Kakashi membantu Iruka berdiri. Sesaat sebelum Iruka sendiri berhasil memposisikan dirinya sendiri, Kakashi tiba-tiba oleng dan jatuh menimpanya.
"Kakashi-san! Kakashi-san! Oi? Kau baik-baik saja?" Iruka menepuk-nepuk wajah Kakashi yang bersandar di bahunya. Beban tubuh Kakashi membuat Iruka yang sudah nyaris berdiri kembali duduk karena tak kuat. Kakashi sama sekali tak menjawab. Hanya deru napas tak beraturanlah yang dirasakan Iruka di perpotongan leher dan bahunya.
Pelan-pelan Iruka membaringkan Kakashi di rerumputan. Padahal tinggal beberapa langkah lagi mereka sampai di gerbang desa. Iruka tidak mampu kalau harus menggendong Kakashi, terlalu berat untuk dirinya yang lebih kecil.
"Menjadi shinobi elit sulit sekali ya." gumam Iruka pelan. Ia menyibak rambut perak Kakashi dan melepaskan ikat kepalanya. Kening jonin itu mengerut seolah menahan sakit.
Iruka sedikit panik, tetapi sebisa mungkin mengendalikan diri. "Bagaimana ya... Aku bukan ninja medis." Iruka mengacak-acak rambutnya sendiri saking tak tahunya harus melakukan apa. Setiap kali Iruka melihat Kakashi nampak kesakitan, ia hanya akan mengusap helaian perak di kepala Kakashi hingga sang jonin lebih tenang.
Iruka berusaha mengirimkan pesan kepada Izumo dan Kotetsu yang selalu berjaga di gerbang untuk membantunya membawa Kakashi. Iruka tidak mungkin meninggalkan Kakashi di luar desa meski jaraknya sudah sangat dekat. Ketika Iruka baru saja berdiri untuk naik ke atas pohon, ia mendapati sebuah sinar menyilaukan di tubuh Kakashi. Torehan hitam seperti segel muncul secara tiba-tiba memenuhi wajah dan seluruh tubuhnya.
"Hah? A-apa itu?"
Kakashi segera bangun, dengan sharingan menyala terang dan sorot wajah menyeramkan. Iruka yang masih tidak tahu apa yang terjadi hanya berdiri mematung hingga Kakashi tiba-tiba mencengkram lengannya, menariknya hingga jatuh di pangkuannya.
"Waaaaaaa! Kakashi-san, apa yang kau lakukan?!" Iruka berteriak panik. Posisi ini benar-benar aneh, apalagi dengan sorot wajah Kakashi yang menyeramkan. Kakashi tidak mungkin akan membunuhnya 'kan?
Kakashi menarik rompi Konoha milik Iruka hingga robek dan tergeletak di tanah. Ia mencengkram erat pinggang Iruka sementara tangan lainnya menarik pakaian Iruka hingga menampakkan lehernya.
"Kakashi-san! Sadarlah!" Teriak Iruka putus asa. Tak ada tanggapan apapun dari Kakashi selain suara geraman dan gerakan tangannya yang terus berusaha menampakkan leher Iruka. Sebisa mungkin Iruka melepaskan diri, namun semuanya percuma mengingat Kakashi bukanlah shinobi sembarangan.
Iruka berteriak ketika Kakashi tiba-tiba menghisap lehernya kuat-kuat. Ada rasa sakit serta perasaan jiwanya seolah tertarik karena perlakuan itu. Perlahan tubuh Iruka melemah, ia cukup sadar bahwa yang dilakukan Kakashi adalah menyerap chakranya. Iruka tidak mengerti mengapa Kakashi melakukan ini. Ia jelas bukan Zetsu putih yang gemar menyerap chakra lawannya.
Lantas mengapa?
Tubuh Iruka terasa sangat lemas, kesadarannya pun sudah diujung tanduk. Ia tidak tahu lagi apa yang terjadi selain kepalanya pusing dan semuanya tampak gelap.
Iruka membuka kelopak matanya perlahan ketika merasakan chakra penyembuhan di lengannya. Tubuhnya terasa berat.
"Kau sudah sadar rupanya. Kau baik-baik saja?"
Tsunade sendiri yang mengobatinya. Iruka yang terkejut otomatis bangun namun kembali ambruk karena tubuhnya masih sangat lemah.
"Berbaring saja, tubuhmu sedang dipulihkan."
"Ma-maafkan aku Tsunade-sama."
"Tenang saja. Kau tidak salah apa-apa." Tsunade melanjutkan pengobatannya sementara Iruka diam berbaring. Pikirannya mengembara mengingat kejadian sebelumnya. Sekarang di kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan. Ada apa dengan shinobi bermasker itu?
"Aku tau kau pasti kebingungan." seru Tsunade tiba-tiba.
"A-ah... Itu-"
"Tak perlu khawatir, aku akan menjelaskan semuanya. Sebelumnya, apa yang dilakukan Kakashi padamu sampai kau pingsan dan dia berlari panik kemari dengan menggendongmu?"
"Eh? Menggendong?"
Tsunade mengangguk. "Dia menerobos kantor Hokage dan menyuruhku segera mengobatimu. Apa yang terjadi?"
Iruka mengusap wajahnya, tak yakin dengan apa yang baru saja ia alami.
"Kakashi-san menghisap leherku, lalu aku merasakan bahwa chakra ku terserap bersamaan dengan hisapannya. Sebelumnya aku melihat sharingan Kakashi-san menyala juga tanda seperti segel menyebar di tubuhnya."
Tsunade mengangguk. "Jadi begitu. Ternyata perkiraanku selama ini benar."
"Maksud anda apa, Tsunade-sama?"
Tsunade menyudahi pengobatannya. Iruka bangkit mendudukkan diri sementara Tsunade berpindah ke sofa di dekat ranjang tempat Iruka berbaring.
"Sharingan Kakashi membawa beban bagi tubuhnya. Sekuat apapun dia, tetap saja tubuhnya bukan seorang Uchiha. Memasang sharingan di tubuh non Uchiha membawa dampak buruk bagi tubuh penggunanya."
"Benarkah itu? Lalu apa Kakashi-san baik-baik saja?"
Tsunade mengangguk. "Ku rasa sekarang dia baik-baik saja. Apa yang kau lihat adalah bentuk dari tidak terkendalinya kemampuan sharingan di tubuhnya."
"Apa tidak ada cara untuk membuat Kakashi-san tetap baik-baik saja?"
"Melepas sharingannya atau..." Tsunade menatap Iruka tajam.
Iruka menelan ludahnya gugup. "Atau?"
"Kau merelakan dirimu sebagai pendonor chakra ketika Kakashi merasakan tubuhnya mulai tak terkendali."
"Eh? Maksudnya?"
"Ini memang sesuatu yang sulit, kau mungkin juga akan kembali pingsan saat melakukannya. Tapi lama-kelamaan kau akan terbiasa. Insting Kakashi telah menemukan seseorang yang cocok untuk menyembuhkan ketidakterkendaliannya, dan itu adalah kau, Iruka."
"B-bagaimana bisa? Memangnya transfer chakra itu tidak bisa dilakukan oleh semua orang?"
Tsunade menggeleng. "Sharingan bukan kemampuan biasa. Tidak semua orang cocok mentransferkan chakranya pada pemilik sharingan non Uchiha, jika sembarangan salah-salah si pemilik sharingan malah semakin tak terkendali."
"Begitu ya."
Tsunade bangkit, menepuk bahu Iruka. "Aku tak akan memaksamu untuk melakukan ini, karena bagaimanapun kau mungkin tidak mendapatkan keuntungan apapun. Ini sukarela."
"J-jika aku tidak mau, apa yang akan terjadi pada Kakashi-san?"
Tsunade mengangkat bahu. "Seperti yang kau lihat sebelumnya. Ia mungkin akan melukai dirinya sendiri untuk menahan diri, atau melukai orang di sekitarnya saat benar-benar lepas kendali."
Iruka menggigit bibirnya. "Benarkah chakra ku bisa menahan Kakashi-san?"
"Ya. Selama pengobatan tadi aku juga sekalian memeriksanya. Hanya kau yang cocok dengan tubuh Kakashi. Aku yakin Kakashi sendiri juga menyadarinya. Perumpamaannya, chakra mu menetralkan racun di tubuh Kakashi sehingga Kakashi bisa kembali sehat. Semacam itulah."
Iruka mengangguk. "Baiklah, aku mau."
"Kau yakin?"
"Ya. Aku tidak bisa melihat Kakashi-san tersiksa seperti itu."
Tsunade tersenyum. Kau beruntung sekali, Kakashi.
Iruka keluar dari ruangan Tsunade setelahnya. Setelah pengobatan itu, tubuhnya sudah kembali seperti semula, ia hanya merasa mengantuk saja. Ia ingin pulang untuk beristirahat, tetapi ia juga ingin bertemu dengan Kakashi.
Di lorong kantor Hokage, Iruka melihat Kakashi tengah menyandarkan tubuhnya pada dinding sambil bersidekap. Tiba-tiba, keinginan untuk bertemu Kakashi menjadi hilang. Bukan apa-apa, Iruka hanya merasa canggung dengan kejadian sebelumnya.
"Yo! Iruka, kau sudah sehat?"
Iruka tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. "Hahaha, iya Kakashi-san."
Kakashi mendekat, memeriksa leher Iruka. "Ah! Ini berbekas. Maafkan aku.".
"Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah setuju untuk memberikan chakra ku padamu."
Kakashi mencengkram bahu Iruka. "Kau yakin? Kau benar-benar yakin? Kau tak mendapatkan apapun dari semua ini lho."
Iruka mengangguk mantap. "Ku rasa, bisa menolongmu sudah menjadi balasan yang menyenangkan, hehe."
Kakashi melebarkan matanya tak percaya. Ia tahu Iruka adalah shinobi yang baik. Kebaikan Chunin guru akademi itu terkenal seantero Konoha, tapi mendapatkan kebaikannya langsung seperti ini benar-benar tidak disangka oleh Kakashi.
"Kau baik sekali." gumam Kakashi lirih.
"Eh? Apa?"
Kakashi menggeleng. "Tidak ada. Ayo kita makan, aku yang akan traktir." Kakashi menggandeng Iruka membawanya menuju kedai ramen untuk makan bersama. Ia kira, dengan begini mungkin mereka akan sedikit lebih dekat lagi.
Iruka sedikit kikuk. Mereka memang saling mengenal, tapi hanya sebatas rekan sesama shinobi Konoha saja. Seandainya Kakashi bukan guru Naruto, Iruka yakin dirinya juga tak akan pernah kenal dengan seorang Hatake Kakashi. Tahu tentu saja, kalau berbicara seperti ini, rasanya tak mungkin mengingat dirinya hanyalah seorang chunin rendahan sementara Kakashi adalah elit jonin dan mantan ketua anbu.
"Aku yakin kau sering kemari untuk mentraktir Naruto. Iya 'kan Iruka-sensei?"
Iruka tertawa kikuk. Yang dikatakan Kakashi tentu benar. Ichiraku Ramen adalah favorit Naruto sejak lama, dan bocah serampangan itu sering sekali meminta traktir padanya.
"Ngomong-ngomong, maafkan aku karena telah melukaimu. Aku tahu, kau pasti sedikit takut padaku karena kejadian sebelumnya."
Iruka terlonjak kaget. "Tidak apa-apa Kakashi-san, tidak perlu minta maaf. Aku memang takut karena terkejut, siapapun akan takut kalau berhadapan denganmu Kakashi-san, memangnya siapa yang akan dengan percaya dirinya berhadapan denganmu sementara dirinya hanya chunin rendah."
Kakashi terkekeh. "Jadi menurutmu aku hebat?"
"TENTU SAJA! Kau seorang yang sangat hebat, ku rasa seluruh desa mengakuinya!" seru Iruka jujur.
Kakashi terdiam dengan mata melebar. Ia tidak pernah mengira Iruka akan dengan semangat memuji dirinya. Kakashi tahu Iruka bukan jenis orang penjilat yang suka meninggikan orang lain. Lagipula hanya dengan melihat kedua netra kecoklatan itu, Kakashi tahu apa yang dikatakan Iruka murni tanpa maksud apapun.
Keduanya makan ramen dengan nikmat sambil sesekali mengobrol. Perlahan, Iruka jadi kembali seperti biasa dan tak kikuk bersama Kakashi. Kakashi sendiri bersyukur karena dengan begitu, mereka bisa lebih dekat.
"AAAAAAAARRRGHHHH AAAH AKH!"
Kakashi mengeram kesakitan. Rasa pusing yang menyengat di area mata sharingannya kembali terjadi. Tubuhnya terasa sakit, ia berusaha keras mempertahankan kesadarannya dan memanggil Pakun.
"I... Ru... Ka... "
Pakun mengerti. Buru-buru ia melompat menuju kediaman Iruka sebelum Kakashi tak terkendali. Sekarang sudah tengah malam. Kakashi tak mengira kejadian ini terjadi dua kali dalam sehari. Apakah resiko sharingan itu telah semakin parah merusak tubuhnya?
Pakun menggedor-gedor pintu rumah Iruka dengan kakinya, panggilannya juga keras. Ia mendengar suara langkah kaki terburu-buru dari dalam.
"Ada ap-Pakun? Kau anjingnya Kakashi-san bukan?"
"Kenalannya nanti saja, sekarang keadaannya gawat. Kakashi kembali lepas kendali kau harus menolongnya."
Iruka membelalak kaget. "Apa? A-aku baiklah ayo cepat!" Iruka berlari mengikuti si anjing ninja. Ia bahkan tak sempat mengikat rambutnya sendiri.
Sesampainya di kediaman Kakashi, keadaan si copy ninja benar-benar buruk. Ia duduk menelungkup sembari membenturkan kepalanya ke dinding, berusaha keras mempertahankan kesadarannya.
Iruka berlari menuju Kakashi. Disibaknya surai perak Kakashi. Iruka tak berani membuka masker milik Kakashi. Ia hanya kembali melihat sharingan Kakashi bersinar terang secara aktif.
"Kakashi-san, Kakashi-san! Cepat, hisaplah chakra ku." Iruka menuntun kepala Kakashi menuju lehernya. Ia menyibak rambut panjangnya sendiri untuk memudahkan Kakashi melakukannya.
Kakashi memeluk pinggang Iruka, di sisa kesadarannya, ia menghisap chakra Iruka melalui lehernya. Iruka merasakan tarikan dari dalam tubuhnya. Ia merasa lemas, namun tak sampai sakit seperti sebelumnya. Kedua tangannya berpegangan pada pundak Kakashi memperhatankan posisinya. Lama-kelamaan, tubuhnya yang semakin lemah terkulai jatuh di dada Kakashi. Kondisi Kakashi sudah pulih, sharingan miliknya juga sudah kembali normal.
Kakashi menggendong Iruka, memposisikan tubuhnya di ranjang miliknya kemudian menyelimutinya.
"Maaf aku merepotkanmu lagi." Gumam Kakashi lirih, ia menyibak rambut Iruka, mengusapnya pelan. "Selamat tidur."
TO BE CONTINUED
A/N : Ini bakalan jadi beberapa bagian hehe. Mau bikin kisah yang detail. Semoga suka ya 3
