Daiya no A belongs to Terajima Yuuji

PERHATIAN!

AU! Typo, OOC, dll.

Selamat membaca!


Beranjak Dewasa

Pada akhirnya ini semua hanyalah permulaan

Pada akhirnya kita semua berkawan dengan sebentar

Berbaring, tersentak, tertawa

Tertawa dengan airmata

.

Aku ingat malam hari itu. Saat itu suasana rumah sangat sepi, bahkan terlalu sunyi. Biasanya rumah kami selalu dilatari oleh suara-suara teriakan antara Ayah dan Ibu, tetapi malam hari ini tidak terdengar suara apapun, bahkan suara jangkrik.

Itu hal yang wajar, karena Ayah dan Ibu baru saja bercerai. Ibu sudah melempar semua baju-baju Ayah dari lantai 2 rumah kami dan meludahinya setelah itu. Aku sudah tidak pernah bertemu dengan Ayah lagi sejak mereka pisah ranjang. Ayah sudah tinggal dengan Nyonya barunya dan setelah perceraian, Ibu mengganti nama keluarganya, tetapi aku tidak.

Aku tetap Sawamura Eijun.

Malam hari itu, Ibu masuk ke dalam kamarku dan memelukku. Pelukannya terasa sangat menyesakkan. Ibu menjadi kurus selama proses perceraian dan wajahnya selalu tampak Lelah. Ibu sudah menanggung banyak hal, mulai dari selalu bertengkar dengan Ayah, bekerja seperti budak negara, sampai merawatku.

"Eijun sayang," panggil Ibu. Nada suaranya lemah dan penuh kesedihan, "tidak perlu khawatir."

Ibu menyedot ingusnya dan mengusap airmatanya. Ibu masih memelukku. "Di dalam hidup, orang memang akan datang silih berganti. Orang akan pergi juga. Mereka tidak pernah menetap dalam hidup."

Aku balas memeluk Ibu. "Eijun tidak pergi. Eijun tetap di sini."

Ibu mengangguk dalam tangisan. Wajahnya dibenamkan di bahuku. Aku merasa berat, karena sebagian berat tubuh Ibu harus kutopang. "Ibu tahu. Tapi kau harus tahu juga bahwa pada akhirnya semua orang akan pergi."

Ibu melepaskan pelukannya. Matanya sembab dan kantung matanya berwarna ungu kehitaman. Hidungnya merah dan jejak ingus tersisa di antara lubang hidungnya. Namun, tatapan matanya tegas dan tidak terbantahkan.

"Yang tidak pernah meninggalkanmu adalah dirimu sendiri."

Itu adalah hari terakhir Ibu menangis di depanku.

.

Namanya Miyuki Kazuya. Usianya setahun lebih tua dariku, kelas 5 SD. Meskipun seorang kakak kelas, tingkah lakunya tidak mencerminkan seorang senior. Dia memakai kacamata yang tebal dan besar, sehingga hampir seluruh wajahnya seperti dibingkai kacamata. Dia hobi memakai topi. Di taman, di sekolah, sampai-sampai kadang di tegur guru karena memakai topi di dalam ruang kelas.

Aku bertemu dengannya ketika bermain baseball sendirian di taman dekat apartemen. Setelah perceraian, Ibu mendapat promosi di kantor pusat, yang artinya aku dan Ibu pindah ke sebuah apartemen kelas menengah di daerah Tokyo. Rumah di Nagano di jual, karena Ibu juga tidak sudi lagi kembali ke rumah itu.

"Aku bisa menjadi catcher," katanya. Itu adalah kalimat pertama yang dia ucapkan padaku.

"Tidak, terima kasih," jawabku. Peralihan lingkungan membuatku sedikit susah beradaptasi di Tokyo. Tokyo merupakan sebuah kota yang sangat besar dan megah, sangat berbeda dengan Nagano. Semua di Tokyo seperti berjalan dengan waktu yang sangat cepat dan tidak pernah berhenti berputar. Ibu tidak mengeluh, dan aku juga tidak berani mengeluh. Gedung-gedung tinggi menjulang dan kondisi jalan raya benar-benar tidak bersahabat.

Dia menghampiriku. Di lengannya sudah terpasang gloves milik catcher. Senyumnya lebar, dan giginya terlihat. "Kau yang baru pindahan itu ya? Yang tinggal di Gedung 2B," katanya.

Aku mengangguk dan berniat mengabaikannya.

"Baseball itu tidak bisa dimainkan seorang diri," katanya. Dia berdiri di sebelahku. "Pitcher harus punya tujuan kemana dia akan melempar dan tujuannya adalah gloves catcher ini," jelasnya sambil menunjukkan gloves tua tersebut.

Mendengarnya bicara panjang lebar seperti itu membuatku pusing. Sekali lagi, aku susah beradaptasi saat ini, karena perubahan lingkungan yang mendadak, entah itu lingkungan keluargaku atau pun lingkungan sekitarku. Kadang, jika aku ingat aku ada di Tokyo, itu membuatku mual dan ingin menangis. Aku ingin kembali ke Nagano dan rasanya semua masih terasa mudah di sana.

Dia mengulurkan tangannya yang tidak ditutupi gloves, "aku Miyuki Kazuya," katanya.

Aku menatap tangannya yang menunggu tanganku untuk menjabatnya. Ini kah yang mereka lakukan di kota besar? Saling berjabat tangan seperti di luar negeri? Aku sering melihat kebiasaan itu di acara televisi yang ditonton oleh Ibu.

Dengan ragu, aku menyambut tangannya. Tangan kami berjabat. "Sawamura Eijun," kataku, "apa kau tinggal di apartemen juga?" tanyaku.

Dia mengangguk. "Ya, tapi kita tidak satu lantai," jawabnya.

Aku mengangguk. "Jadi, apa kau mau main catch ball denganku?" tanyanya.

"Kenapa kau tidak bermain dengan orang lain?" tanyaku.

Dia mendesah lelah. "Tidak banyak yang suka baseball di sini. Lagipula, anak-anak di sekitar apartemen banyak yang ikut les privat," jelasnya.

"Les privat?" aku bertanya bingung. Banyak kosa kata baru yang aku dengar sejak datang ke Tokyo. "Apa itu?"

Miyuki Kazuya menatapku. Dia seperti tidak percaya bahwa aku tidak tahu les privat. "Kau tidak tahu?" Aku menggeleng. "Tidak pernah dengar?" Aku menggeleng lagi.

Dia menatapku seolah aku adalah sebuah artefak yang sangat langka dan rasanya mustahil ditemukan di seluruh dunia. "Itu sejenis belajar, tapi guru yang datang ke rumah dan hanya mengajar khusus untuk kita saja," jawabnya.

"Terdengar mengerikan," kataku.

Miyuki mengangguk setuju. "Memang mengerikan," katanya, "kita dipaksa duduk selama dua jam di depan soal dan seorang guru tidak akan pernah melepaskan pandangannya pada kita. Tekanan yang sangat berat."

"Kau ikut les privat itu?" tanyaku.

Miyuki hanya mengangkat bahunya. "Aku sedang bolos," jawabnya. "Aku ada jadwal les piano, tapi aku sedang tidak ingin."

"Jadi kau memilih bolos dan menawarkan akan menangkap lemparanku?" tebakku.

Dia mengangguk secara ringan. "Iya," katanya.

Aku tidak mengerti jalan pikiran anak dihadapanku ini. Mungkin ini adalah pemikiran dari anak-anak di Tokyo. Mungkin memang aku yang kurang beradaptasi.

"Kau sepertinya susah beradaptasi ya?" tebaknya. Aku tidak mengangguk ataupun menggeleng. Dia tidak peduli juga pada diamnya aku. Dia malah membawaku ke sebuah lapangan yang cukup lapang dan jauh dari jalan raya.

"Kalau di sini, kita bisa main catch ball sepuasnya," jelasnya.

"Aku tidak boleh main jauh-jauh dari apartemen," kataku.

"Ini tidak jauh," katanya, "nanti aku akan mengantarmu sampai depan apartemenmu," janjinya.

Dia lalu mengambil jarak dariku dan mulai berjongkok, bersiap dalam posisi catcher. "Silahkan lempar sampai kau puas, Sawamura Eijun," katanya.

Aku merasa seperti terbawa oleh sebuah arus yang sangat aneh. Arusnya tidak deras ataupun mematikan dan sebenarnya bisa kuhindari dengan cepat. Aku bisa saja beranjak pergi dan kembali mengurung diri di dalam apartemen, berharap bisa kembali ke Nagano. Namun, tidak. Aku tidak melakukan hal itu. Aku justru terbawa oleh arus itu tanpa sadar. Arus itu membawaku perlahan-lahan, tetapi ternyata setelah sadar, aku sudah terbawa jauh.

Sejujurnya, aku juga bosan main baseball sendirian. Rasanya selain tidak seru, juga menyedihkan. Anak macam apa yang kerjanya hanya melempar dan menangkap bola baseball sendirian di taman dekat apartemen? Pantas saja aku tidak punya teman sampai sekarang, mungkin karena mereka mengganggap aku anak aneh.

"Aku tidak tanggung jawab kalau kena kacamata besarmu itu ya," kataku.

"Tenang saja, aku punya banyak stok kacamata di rumah," jawabnya ringan.

Aku menghela napas dan bersiap-siap. Rasanya sudah lama aku punya teman bermain baseball atau hanya sekedar catch ball. Dulu Ayah sering menjadi catcher dan kita bermain sampai aku kelelahan dan tidur. Namun, yah, tentu saja sekarang hal itu mustahil. Aku tidak bisa meminta Ibu untuk menemaniku bermain juga, karena Ibu sudah sangat sibuk sejak ia mendapat promosi. Tujuan hidupnya hanya satu sekarang, bekerja, bekerja, bekerja, dan bekerja.

Aku mulai melempar dan dengan cepat bola masuk ke dalam gloves miliknya. Dia menangkap bolaku dengan mudah. Suara yang dihasilkan juga bagus.

"Nice ball," katanya sambil melempar bola baseball kembali padaku.

Aku tersenyum bahkan sebelum aku sadar. Ternyata, sudah lama sekali tidak ada yang memuji lemparanku. Teman-teman di Nagano lebih banyak mengeluhnya ketika aku melempar daripada memujiku. Yang memujiku hanya Ayah, tapi, itu kan Ayah. Lalu Ibu, beliau sendiri tidak paham mengenai baseball. Mendengar pujian ternyata sedikit menyenangkan.

"Kau bersekolah dimana?" tanya Miyuki ketika kami berjalan pulang kembali ke apartemen.

Sepanjang sore kami habiskan untuk bermain catch ball sampai keringatan. Kami berhenti ketika langit sudah berubah menjadi berwarna jingga dan ungu serta tanganku yang sudah pegal melempar.

"Di SD Seidou," jawabku.

"Wah, sekolah kita ternyata sama!" seru Miyuki sambil tersenyum lebar. "Kau kelas berapa?" tanyanya lagi.

"Empat," jawabku, "kau?"

"Kelas lima," katanya. Rupanya dia seniorku. "Kenapa kita tidak pernah bertemu di sekolah?" tanyanya.

"Aku saja baru pindah," jawabku, "dan aku tidak banyak berkeliaran di sekolah."

"Kau harus ikut eskul baseball," kata Miyuki. "Tim sekolah kami kuat!"

Aku hanya menatapnya sambil menimbang-nimbang. Memang, selama ini aku suka dengan baseball. Setiap ada kesempatan, aku selalu bermain catch ball sendiri. Di Nagano tidak begitu banyak klub baseball yang cukup bagus dan aku belum pernah berpikir untuk bergabung dengan sebuah eskul baseball.

"Kau bergabung di eskul baseball?" tanyaku.

"Tentu saja!" jawabnya semangat. Dia menatapku. "Aku akan menjadi catcher terbaik di Jepang!" imbuhnya dengan percaya diri.

Terbaik di Jepang.

Kata-kata itu terasa ringan dan juga berat. Rasanya seperti mengucapkan hal yang mustahil, tetapi bisa digapai.

Dia menunjukku. "Dan kau, Sawamura Eijun," katanya, "kau menarik."

Aku ikut menunjuk diriku sendiri. "Aku?" tanyaku bingung.

"Lintasan bolamu, caramu melempar, semuanya menarik," katanya.

"Aku tidak mengerti," jawabku jujur. Aku tidak paham dimana menariknya sebuah bola yang susah ditangkap. "Teman-temanku selalu bilang bolaku susah ditangkap."

Miyuki menjentikkan jarinya. "Itu dia. Di sana. Itulah yang menarik." Dia berkata dengan tidak jelas. "Ada yang bilang bahwa lemparan dari seorang pitcher melambangkan kepribadiannya. Bolamu liar, tidak beraturan, dan sulit diprediksi."

"Apa itu menandakan aku ini manusia liar, sulit diprediksi?"

Dia tertawa. "Bukan, bukan. Maksudku, kau sangat menarik dan membuat penasaran."

Aku menatapnya. Suasana taman dekat apartemen sudah mulai sepi. Anak-anak sudah kembali masuk ke dalam Gedung apartemen. "Darimana kau tahu hal itu?" tanyaku.

Dia memberikan senyum yang lebih lebar lagi sambil terkekeh singkat. "Aku ini catcher. Sudah menjadi tugas catcher untuk mengetahui bakat dan kemampuan para pitcher."

Untuk kedua kalinya hari itu, tanpa sadar aku sudah tersenyum lagi. Mungkin dia penasaran denganku, tetapi aku jauh lebih penasaran lagi dengannya.

Miyuki Kazuya adalah teman pertamaku di Tokyo. Orang yang membuatku ikut eskul baseball. Orang yang memperkenalkanku pada dunia baseball.

Orang yang menginspirasiku.

.

Unstoppable

.

Aku merasa bahwa aku akan mati. Paru-paruku rasanya hampir pecah dan untuk beberapa lama aku lupa caranya bernapas dengan normal. Semua otot di leherku tegang karena ikut membantu aku menarik napas. Perutku bergolak dan aku beberapa kali merasakan bahwa asam lambungku naik ke kerongkongan.

Training camp memang sebuah neraka.

Aku memaksakan kakiku terus berlari stabil sambil membawa beban seberat 5 kg di masing-masing tangan. Setidaknya masih dua kali lari bolak-balik sebelum Latihan selesai dan masuk ke pendinginan. Kalau lebih lama lagi, bisa-bisa tanganku copot dari persendiannya.

Suara peluit panjang terdengar dan aku langsung melepas begitu saja beban di kedua tanganku. Para anggota klub yang lain melakukan hal serupa. Keringat sudah membuat seluruh bajuku basah. Rasanya aku ingin membuka seluruh bajuku saat ini juga dan langsung masuk ke bak mandi untuk berendam. Namun, keinginan untuk membuka baju kutahan. Kulap seluruh keringatku dengan bagian depan seragam baseball, meskipun tidak ada perubahan. Udara lembab di awal musim panas benar-benar menjengkelkan.

"Mungkin lama-lama kita bisa mengidap pneumonia," kataku sambil mendongak menatap langit senja.

Harucchi hanya mendesah. "Tidak akan terjadi, Eijun-kun," katanya.

"Kau tidak merasa udara begitu lembab, Harucchi? Aspergillus hidup dari udara lembab," kataku.

Kepalaku dijitak dari belakang. Kanemaru pelakunya. "Aspergillus juga pilih-pilih ketika meninfeksi," katanya, "orang bodoh seperti kau tidak akan mengidap pneumonia."

"Apa-apaan kau?" tanyaku tidak terima. Aku menatapnya protes, tetapi Kanemaru hanya menanggapinya dengan santai. Dia mengambil pocari dingin miliknya dan meminumnya dalam dua teguk.

"Katanya orang bodoh tidak akan sakit," katanya, masih menghinaku, "yang artinya kau tidak akan pernah sakit."

Aku meneguk pocari dinginku untuk menyejukkan seluruh tubuhku. Rasanya menyenangkan dan membuat rileks. "Ah, rasanya aku ingin berendam di kolam yang dingin," kataku. Malam hari ini sangat-sangat gerah.

"Ya ya, silahkan saja," kata Kanemaru, "aku hanya ingin tidur cepat."

Kami berjalan menuju asrama untuk mandi dan makan malam. "Haha," tawaku bernada sindiran, "mimpi siang bolong."

"Benar-benar neraka," kata Kanemaru. "Bagaimana para senior bisa tetap bertahan?" gumamnya sambil menatap ke arah lapangan. Para senior masih terus berlatih, tanpa henti. Kami disuruh ke asrama duluan karena pembagian mandi. Suara teriakan para pemain baseball terdengar bersahut-sahutan dalam sebuah nada suara yang sudah tidak asing lagi.

Inilah baseball.

Inilah dunia tempatku.

Aku terhenti di depan asrama. Teman-teman yang lain sudah memasuki kompleks asrama terlebih dahulu. Seidou merupakan Yayasan yang cukup besar. Yayasan itu memiliki SD, SMP, dan SMA dan fasilitas yang sangat lengkap, terutama klub baseball.

Aku teringat kalimat Miyuki bertahun-tahun yang lalu. Dia bilang bahwa Tim Baseball Seidou sangat kuat, dan aku bisa membuktikannya sendiri saat ini. Aku adalah bagian dari Tim Baseball yang kuat itu.

Langit sudah semakin berwarna ungu dan setitik bintang mulai terlihat. Langit Tokyo begitu cerah, sampai di malam hari pun rasanya tidak membutuhkan lampu jalan karena terang benderang. Suara-suara serangga sudah mulai terdengar, sangat khas di musim panas. Aku masih menatap langit sampai leherku sakit. Langit terasa sangat tinggi, bertahun-tahun berlalu dan semakin tinggi diriku, tetap saja tidak bisa menjangkau langit.

"Sawamura."

Aku menoleh karena mendengar namaku dipanggil.

Yang memanggilku adalah catcher utama tim kami, Takigawa Chris Yuu. Dia anak kelas 3, dan sebentar lagi pensiun. Jadi, ini adalah musim panas terakhirnya.

"Selamat malam Chris-senpai!" seruku sambil membungkuk.

Chris-senpai sendiri adalah pribadi yang bisa membuat siapapun kagum, termasuk aku. Aku mengagumi dan menghormatinya. Awal-awal aku bergabung, dia ditunjuk untuk menjadi mentorku dan sekarang dia juga adalah catcher yang selalu menangkap lemparanku.

"Sedang apa?" tanyanya. Aku suka mendengar Chris-senpai bicara. Nadanya lembut dan tidak tergesa-gesa. Logatnya halus. Dia ikut memandang langit bersamaku. "Apa yang kau lihat tadi?"

Aku merasa sedikit malu jadinya. "Tidak ada," jawabku, "aku hanya berpikir bahwa musim panas sudah mulai datang, dan itu akan menjadi musim panas terakhir anak kelas tiga," jawabku.

Dia menatapku. Tatapannya lembut dan dia selalu tersenyum tipis ketika sedang bicara. Rambutnya keriting dan dipakaikan wax. Ada sebuah anak rambut yang turun dan jatuh ke dahinya. Rasanya aku ingin mengambil anak rambut itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Namun, perasaan itu kutahan dalam-dalam.

"Jangan pikirkan itu," katanya. "Itu bukan beban yang harus kau tanggung. Kau fokus saja pada permainanmu saat pertandingan nanti."

Chris-senpai sangat baik. Namun, terlalu baik sampai aku merasa tidak enak hati karena terus menerima kebaikannya. "Bagaimana mungkin tidak kepikiran senpai," kataku, "baseball itu sebuah tim."

Lalu, Chris-senpai melakukan hal yang biasa dia lakukan, mengusap-usap kepalaku. Aku mencoba menghindar, tetapi tangannya sudah menyentuh rambutku lebih dulu. "Senpai, aku keringatan!" seruku.

"Kita sama-sama keringatan," jawabnya. Dia selalu menjawab dengan curang, sehingga aku tidak pernah bisa membantahnya. Jadi, aku biarkan dia mengusap-usap kepalaku untuk beberapa saat.

"Kau ini selalu saja berusaha menanggung semuanya sendirian," katanya, "kan sudah selalu kukatakan bahwa anggota tim yang lain selalu siap membantu."

"Tapi, kalau Ace–"

"Jangan cari-cari alasan." Chirs-senpai memotong ucapanku.

"Ugh… maaf," kataku akhirnya. Aku benar-benar tidak bisa melawannya.

"Bagus," katanya puas. Aku menatapnya dan dia sedang tersenyum lagi. Rasanya perasaanku seperti bergolak ketika dia tersenyum seperti itu padaku. Apa dia selalu menampilkan senyuman seperti itu pada orang lain juga? Apa aku aneh jika selalu merasa ada yang bergolak setiap kali dia tersenyum? Mungkin aku saja yang aneh, karena Chris-senpai selalu baik pada semua orang.

"Mandi dulu," kata Chris-senpai, "nanti malam kita akan briefing dengan yang lain."

Aku mengangguk dan akhirnya masuk ke dalam asrama.

.

Beranjak Dewasa

.

Aku jarang melihat anak seusiaku bermain baseball, tapi Miyuki Kazuya, dia benar-benar hebat. Caranya menangkap bola, caranya mengevaluasi para pitcher dan menganalisa para batter, semuanya tampak sempurna. Miyuki Kazuya bagai seorang professional. Dia tidak tampak seperti anak kelas 5 SD yang mengajakku berkenalan beberapa waktu lalu. Rasanya ketika dia sudah memakai alat-alat pelindung catcher, dia sudah menjadi manusia yang berbeda.

"Kau hebat," kataku setelah kami selesai berlatih. Karena kami tinggal di kompleks apartemen yang sama, maka setelah selesai Latihan kami berjalan pulang bersama.

"Tentu saja! Aku kan si Jenius Miyuki Kazuya!"

Aku menjauh darinya. "Kutarik kembali kata-kataku."

Dia merangkulku, sehingga kami berjalan beriringan lagi. "Kan aku sudah bilang, kalau aku ingin jadi catcher terbaik di Jepang."

Terbaik di Jepang.

Kalimat itu lagi. Setiap kali Miyuki mengatakannya, seluruh tubuhku terasa merinding. Kalimat sederhana itu begitu berat dan mengerikan. Bagaimana mungkin, kalimat dengan beban sebesar itu dapat ditanggung oleh anak yang usianya hanya selisih satu tahun dariku? Apakah dia tidak remuk dan hancur akibat beban berat itu?

Miyuki Kazuya?

"Kenapa?" tanyanya.

Kacamatanya melorot ketika dia menunduk untuk menatapku.

"Kacamatamu miring," jawabku. Dia segera memperbaikinya lagi.

"Kau bilang ingin menjadi catcher terbaik di Jepang," kataku, "tapi orangtuamu mengizinkan?" tanyaku.

Setelah beberapa lama aku berteman dengan Miyuki, aku perlahan-lahan mulai mengenalnya lebih jauh. Ayahnya merupakan seorang Direktur Perusahaan Besar dan Ibunya seorang wanita yang penuh dengan tuntutan. Setiap hari Miyuki selalu diberikan les privat, dari mulai mata pelajaran dasar, kemampuan Bahasa asing, sampai musik. Hidupnya sudah ditentukan oleh orangtuanya, dan satu-satunya pilihan yang dibuat sendiri oleh Miyuki Kazuya adalah bermain baseball.

"Ini kan bukan tentang mereka," katanya, "ini tentang diriku sendiri."

Dia menatapku. Dalam dan lama. Mata Miyuki selalu hidup dan selalu tampak berbinar-binar. Mata itu seperti siap melakukan apa saja untuk menggapai impiannya. Mata itu berbicara banyak padaku dan aku memahami Miyuki lewat tatapan matanya. Ambisinya, keinginannya, dan semua yang disukainya, dipancarkan dengan jelas lewat kedua matanya.

"Eijun," katanya (dia seenaknya memanggil nama kecilku), "mereka ingin menjadikanku penerus mereka. Perusahaan Ayahku, koneksi Ayah dan Ibuku, semuanya." Miyuki tersenyum, "tapi itu kan impian mereka, bukan tentang aku."

Aku menatapnya dengan bingung. Kadang, aku tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh tetangga dan kakak kelasku ini. Kadang, bahasanya terlalu tinggi sampai aku hanya bisa bengong saja. "Kalau impian kalian saling bertabrakan dan berlainan seperti itu, impian yang mana yang akan tercapai?" tanyaku.

Di luar dugaan. Miyuki tersenyum dan mulai tertawa. Dia tertawa dengan lepas dan setelah selesai tertawa, dia membenarkan posisi kacamatanya lagi.

"Aku juga tidak tahu," katanya, "mau mencari tahu?"

.

Beranjak Dewasa

.

Dunia olahraga merupakan dunia yang sangat keras. Bertahan hidup di dunia ini merupakan hal yang mustahil jika tidak diikuti dengan kesiapan tekad dan mental. Persaingannya begitu besar dan sangat ketat. Tim baseball yang akan menginjak lapangan saat pertandingan hanya 20 orang, tetapi anggota klub ada hampir 120 orang. 120 orang akan saling sikut dan bersaing untuk bisa duduk di posisi bench saat pertandingan nanti. Dan, dari 20 orang pemain utama, hanya 9 orang yang bisa berdiri di lapangan. Hanya 9 orang.

Bisa bayangkan betapa terjal dan curam jalannya?

Bola baseball itu masuk sempurna ke dalam mitt milik Chris-senpai. Suara yang dihasilkan juga bagus. Aku suka mendengarnya.

"Nice ball."

Bola dilempar lagi ke arahku. Chris-senpai bangkit dari posisinya. Dia membuka pelindung kepala dan wajahnya. "Latihan hari ini cukup dulu."

Aku protes padanya. "Kenapa? Ini kan baru pemanasan!"

"Sawamura, kau sudah melempar hampir 2 jam sendirian dari tadi," kata Chris-senpai. "Bahu dan lenganmu butuh istirahat," jelasnya.

Aku mengerang tidak setuju. Semangatku masih membara, tidak bisa mendadak dihentikan. "Tapi aku masih sanggup!" protesku.

"Kau akan menjadi pitcher awal untuk pertandingan lusa," kata Chris-senpai, "jangan memaksakan diri."

Nada suaranya tegas, sehingga membuatku enggan untuk membantahnya. Chris-senpai memang orang yang lembut, tetapi juga bisa tegas dalam situas-situasi tertentu dan membuatku enggan.

"Kalau kau tidak sanggup, aku bisa menggantikanmu selama pertandingan."

Aku mendelik pada Furuya. Dia juga baru selesai latihan melempar di bullpen bersama dengan Ono-senpai.

"Cih," desisku, "aku tidak butuh cadangan sepertimu. Padahal kau sendiri yang bisa pingsan kapan saja."

"Sudah, hentikan kalian berdua," kata Ono-senpai. Dia mulai membuka semua pelindung tubuh catcher. "Mandi dan makan malam sana," perintahnya. "Habis makan malam, kita semua akan briefing dengan pelatih untuk pertandingan besok."

"Baik Ono-senpai!" seruku. Aku dan Furuya membungkuk secara bersamaan. Setelah pamit juga dengan Chris-senpai, kami berdua berjalan bersama menuju asrama. Kanemaru, Harucchi, dan teman-teman yang lain baru selesai dari lapangan indoor, setelah melakukan latihan peregangan dan memukul.

"Benar-benar," kata Kanemaru, "sudah dimulai pertandingan musim panas ya."

"Kau takut?" tanya Toujou.

"Yang benar saja," kata Kanemaru, "yang seharusnya lebih takut adalah anak kelas 3. Pertandingan ini menentukan antara menang atau pensiun."

Aku mengangguk setuju.

"Anak kelas 3 sampai sekarang masih latihan memukul," kata Kanemaru lagi, "sepenting itu musim panas ini bagi mereka."

"SMA ini sudah tidak pernah ke Koshien selama 6 tahun," kata Toujou, "mereka sedang berusaha sekeras mungkin."

Impian para senior terdahulu yang gugur, impian yang tidak tergapai, semuanya akhirnya menjadi beban peninggalan yang harus dipikul oleh para junior. Hal itu bukannya terjadi sekali dua kali, tetapi setiap tahun, terus-menerus. Beban impian kosong itu sekarang berada di pundak kami semua, terutama anak kelas 3. Beban itu akan selalu ada, dan kalau pun kami berhasil menuju Koshien, beban baru akan selalu ada untuk dipikul.

Beban itulah cambuk bagi kami semua untuk terus berusaha dan berlatih. Untuk terus mengasah diri. Beban itu begitu berat dan sangat menyiksa. Rasanya ingin lari karena terlalu berat, tetapi jika melihat para senior yang tidak mengeluh dengan beban itu, kami bertahan. Beban itu menjadi sebuah tradisi yang sudah turun-temurun.

"Eijun-kun."

Pundakku ditepuk oleh Harucchi. Aku mengerjap. "Kenapa?"

"Tidak mau berendam?" tawar Harucchi. Furuya, Kanemaru, Toujou semuanya sedang menyamankan diri berendam di kamar mandi. Aku segera membilas rambutku dan mengikuti Harucchi yang masuk lebih dulu dan bercakap-cakap dengan Toujou. Mereka membahas mengenai teknik batting yang tidak begitu aku mengerti.

Iya, iya. Aku tahu apa yang ada dipikiran kalian semua. Aku ini anggota tim utama, seorang pitcher, tapi pengetahuanku mengenai baseball benar-benar jongkok seperti anak SD. Miyuki Kazuya pernah mengatakan hal itu dulu sekali. Aku ingat bagaimana dia tertawa terpingkal-pingkal saat tahu aku tidak begitu memahami baseball. Katanya aneh, karena orang bisa menyukai sesuatu dimulai dari perkenalan. Miyuki Kazuya memang suka mengatakan sesuatu yang tajam dan menyakitkan, tetapi secara mengesalkan, semua yang dikatakannya benar.

Mendengar percakapan antara Harucchi dan Toujou, yang sesekali ditimpali oleh Kanemaru, jujur saja membuatku pusing. Furuya sudah setengah tertidur sambil berendam. Kalau dia tidak dibangunkan, dia bisa pingsan karena dehidrasi dan kepanasan. Aku tergoda untuk melakukannya.

Setelah kami mandi dan makan malam (yang porsinya membuat mual dan ingin muntah), kami semua briefing dengan pelatih. Pertandingan musim panas sudah dimulai, dan untuk pertandingan pertama, Furuya yang akan menjadi pitcher awal dengan catcher Chris-senpai. Ono-senpai dan aku akan selalu bersiap di bench kalau-kalau Furuya mendadak pingsan di atas mound (semoga saja, supaya aku bisa naik mound).

"Aku siap kapan saja, kalau-kalau kau pingsan atau mendadak mulas sebelum pertandingan," kataku.

"Aku akan melempar sampai babak tambahan, kalau diperlukan," balas Furuya.

"Kau bahkan tidak bisa bertahan 2 menit di bawah sinar matahari."

"Pertandingannya akan kuselesaikan dalam waktu 1 menit."

"Diam kalian berdua!" tegur Toujou pelan, tapi menusuk. Pelatih Kataoka masih berbicara mengenai susunan pemain. Selanjutnya, kami berdiskusi mengenai taktik dan para pemain lawan. Aku masih mengikuti di awal-awal diskusi, tetapi setelah lebih dari setengah jam, kurasa aku lebih banyak bengongnya, terutama jika pelatih dan Chris-senpai sudah berbincang-bincang. Kulirik Furuya yang sudah tidur dalam posisi duduk tegak. Harucchi dan Toujou masih memperhatikan, sementara Kanemaru berusaha mempertahankan perhatiannya.

Kira-kira selesai briefing, sudah pukul 9.30 malam. Furuya sudah berjalan sambil tidur menuju kamarnya. Harucchi, Kanemaru, dan Toujou ingin latihan memukul sebentar sebelum tidur. Ketika aku ingin mengikuti jejak mereka, kepalaku ditepuk dengan pelan. Sentuhan itu membuat seluruh tubuhnya merinding.

"Istirahat," kata Chris-senpai.

Aku menoleh dan menatapnya. "Selamat malam senpai," sapaku.

"Istirahat Sawamura," katanya lagi, "besok akan menjadi hari yang penting untuk kita semua."

Aku mengangguk. "Aku tahu," kataku. Lalu, mataku menangkap tangan kiri Chris-senpai yang memegang bat logam. "Tapi senpai sendiri sepertinya belum akan istirahat."

Chris-senpai ikut melihat ke arah yang kulihat. Dia mengangkat bat logamnya. "Kau akan berperan besar besok, jadi harus jaga stamina," katanya.

Aku ingin sekali protes. "Senpai juga berperan besar besok," kataku, "tidak adil kalau hanya pitcher yang istirahat, tapi catcher nya masih latihan sendirian."

Tanpa diduga, Chris-senpai tersenyum. "Ini berbeda."

"Apanya yang beda?" tanyaku. "Senpai bilang bahwa aku tidak boleh menanggung semuanya, tapi senpai sendiri juga menanggung semuanya sendirian."

Berat bukan, beban impian itu?

"Sawamura…"

Aku mendadak sadar bahwa aku seperti melampiaskan kemarahan dan kekesalanku secara sepihak, entah karena apa.

"Maaf Chris-senpai," kataku akhirnya. "Sepertinya aku memang harus istirahat." Aku membungkuk untuk memberikan salam dan kemudian berlalu menuju kamarku.

Impian itu sesuatu yang sangat menakutkan, sekaligus sangat indah. Demi impian, orang rela berbuat apa saja untuk mencapainya, dan karena impian, banyak kehidupan yang hancur lebur, tidak sanggup untuk diperbaiki lagi.

Impian.

Apa sebenarnya impian itu?

Mengapa semua orang berlomba-lomba untuk menggapainya?

Apa yang akan terjadi jika kita telah menggapai impian itu?

Kelas 3 menanggung impian yang jauh lebih besar saat ini. Beban impian kosong para senior terdahulu yang tidak tercapai, semua berada di pundak mereka, siap untuk menghancurkan mereka kapan saja. Dengan tekanan sebesar itu, wajar jika mereka berlatih terus-menerus seperti orang gila. Beban itu tidak boleh menghancurkan mereka, karena jika mereka hancur karena beban itu, tidak ada lagi yang bisa menanggungnya.

Masako-senpai dan Kuramochi-senpai sedang beradu main PS4 di dalam kamar. Itu tradisi mereka berdua, sebelum pertandingan, selalu bermain PS sampai puas.

"Sudah diusir dari indoor oleh Chris-senpai?" tanya Kuramochi-senpai.

"Aku istirahat karena besok aku akan menjadi peran penting," jawabku sambil duduk di atas tempat tidurku, menonton mereka berdua saling berusaha menjatuhkan karakter lawan.

"Ya ya," kata Kuramochi-senpai, "paling-paling kau diseret sampai depan kamar karena keras kepala melempar."

Aku merenggut kesal. "Tidak seperti itu senpai!"

Masako-senpai jatuh KO oleh Kuramochi-senpai. Kini, dia harus merelakan pudding kesayangannya diambil oleh Kuramochi-senpai sebagai bahan taruhan.

"Oi Sawamura!" seru Kuramochi-senpai. Stik PS dilempar dan dengan gesit aku menangkapnya. Jika aku telat menangkapnya, bisa kupastikan kena wajahnya dengan keras. "Ayo taruhan!" katanya, "wajahmu jelek kalau manyun seperti itu."

Aku mendesah. Aku tidak punya niat main saat ini, tetapi menolak Kuramochi-senpai juga bukan pilihan yang bagus. Aku sudah sering dijadikan samsak gratisan untuk latihan ilmu bela dirinya yang sadis. Malam ini aku tidak mau tidur dengan tubuh sakit-sakit karena dipelintir oleh Kuramochi-senpai.

Aku turun dari tempat tidur dan duduk bersila di sebelahnya.

"Aku pasti mengalahkanmu malam hari ini senpai," kataku.

Dia menepuk punggungku dengan keras. Aku menahan diriku untuk tidak memekik. "Hyahahaha! Itu baru semangat! Aku akan membuatmu babak belur!"

Permainan baru dimulai. Jari-jariku otomatis segera menggerakkan stik PS. Kami larut dalam permainan. Namun, otakku melayang jauh.

Miyuki Kazuya, aku tidak mengerti.

Impian manusia itu sangat berat.

Apa itu juga membebanimu seperti impian para seniorku? Apa kau tidak hancur Miyuki Kazuya? Apa kau bertahan sampai sekarang?

.

Beranjak Dewasa

.

Aku ingat kemenangan kami berdua untuk pertama kalinya. Kami melawan tim baseball yang isinya anak kelas 6. Tubuh mereka besar-besar, membuat tubuh Miyuki dan aku seperti bocah kelas 2 SD. Kemenangan itu rasanya luar biasa. Rasanya seperti hatimu diangkat ke angkasa dan tidak akan jatuh meskipun di lepas begitu saja. Rasanya memabukkan dan membuat ketagihan.

Langit sudah beranjak sore, dan aku baru selesai membantu pelatih merapikan alat-alat yang kami gunakan selama pertandingan tadi. aku dan Miyuki punya tradisi mencari satu sama lain supaya kami bisa pulang bersama. Biasanya, Miyuki sudah menungguku di kursi dekat lapangan baseball, tapi kali ini aku tidak bisa menemukannya di tempat biasa.

Aku baru saja akan mencari ke dalam sekolah ketika kulihat Miyuki dikerubungi oleh anak-anak kelas 6 yang tadi kami kalahkan. Langkahku terhenti ketika mereka menarik kerah baju Miyuk, membuatnya terangkat sampai kakinya tidak menyentuh tanah. Miyuki sendiri tampak tidak melakukan perlawanan.

Aku ingin pergi menghampiri Miyuki, tetapi kelas 6 begitu menakutkan dan kakiku serasa dipaku di tanah. Aku hanya bisa menatap Miyuki yang masih dengan tenang menghadapi para anak kelas 6. Sampai puncaknya, salah satu dari mereka meninju Miyuki dan membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.

Aku berlari tanpa sadar. Segala sesuatu tentang Miyuki selalu diluar kesadaranku. Aku merespon Miyuki dengan refleks, bukan akal sehat. Detik berikutnya yang aku tahu, anak kelas 6 itu jatuh tersungkur juga dan tanganku terjulur. Belakangan aku baru tahu bahwa aku mendorongnya sampai jatuh.

"PAK GURU!" raungku. Aku tidak bisa mendengar apapun selain suara raunganku yang bercampur dengan tangisanku. Aku baru berhenti menangis ketika Miyuki membekap mulutku dan menuntunku untuk duduk di bangku bench.

"Sudah, sudah," katanya sambil menyerahkan saputangannya. Aku langsung membuang ingusku. "Untukmu saja."

"Anak kelas 6 sudah pergi semua," kata Miyuki, "terima kasih pada teriakanmu yang maha dashyat itu."

Aku membuang ingus lagi dan mengelap sisa-sisa airmata. "Kenapa mereka memukulmu?" tanyaku.

Miyuki hanya mengangkat bahunya dengan santai dan bersandar pada punggung bangku. "Karena aku mengatakan kebenaran," katanya, "dan mereka tidak bisa menerima hal itu."

"Kebenaran?"

Miyuki mengangguk. Kacamatanya miring akibat kena pukul dan jatuh. Pipi kirinya mulai bengkak dan berwarna kemerahan gelap. Seragamnya kotor kerkena tanah. Siku kirinya lecet akibat jatuh.

"Aku bilang bahwa lemparannya payah. Catcher tidak bisa menangkapnya. Dia melempar secara asal. Itu yang menyebabkan tim mereka kalah."

"Dan mereka memukulmu?"

Miyuki mengangguk. "Begitulah."

"Kurasa kata-katamu juga jahat," kataku. Miyuki menatapku. "Siapapun akan kesal kalau kau mengatakan hal sefrontal itu."

"Tapi aku hanya mengatakan kebenaran."

"Tetap saja!" seruku. "Kau harus mengatakannya dengan baik,"

Miyuki mendengus. "Seperti pelatih? Buktinya mereka tidak mendenagrkan saran pelatih, selama ini." Miyuki menatapku. "Kau tidak bisa berkembang dengan pujian, Eijun."

Lagi-lagi Miyuki mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Pemikiran Miyuki sangat luas. Miyuki membenarkan posisi kacamatanya dan dia menatapku. "Begini," katanya, "kalau kau tidak pernah jatuh, maka kau tidak tahu rasanya jatuh dan sakit itu seperti apa."

"Bukankah itu malah bagus? Jatuh itu sakit dan aku lebih memilih untuk tidak jatuh."

Miyuki menggeleng. "Kau bisa berpikir seperti itu karena kau sudah pernah jatuh dan tahu rasanya jatuh. Karena itu kau selalu berhati-hati untuk tidak jatuh. Karena kau tahu apa yang menanti jika kau jatuh."

Aku menatapnya.

"Ini juga sama seperti itu. Kalau kau tidak pernah ditegur dengan keras atau diberitahu apa salahnya, maka kau tidak akan pernah tahu, karena menganggap semua yang kau lakukan itu benar. Dan itu bahaya, bukan untuk dirimu sendiri, tapi untuk tim."

Apa yang dikatakan Miyuki masuk akal, meskipun sebagian besarnya aku tidak mengerti. Miyuki mengusap pipi kirinya yang kemerahan. "Baseball itu permainan tim. Kesalahan satu orang akan ditanggung oleh satu tim. Aku tidak bisa membiarkan orang sepertinya menghancurkan tim."

Ekspresi Miyuki selalu serius jika sudah menyangkut baseball. Dia mendedikasikan seluruh waktunya untuk baseball. Dia bagai pakar.

"Kenapa?" tanyaku.

"Karena aku ini catcher."

.

Beranjak Dewasa

.

Aku sudah sering melihat Chris-senpai tersenyum, tetapi tertawa lebar sampai matanya menyipit? Itu hal yang pertama kali aku lihat dalam hidupku. Aku tidak tahu siapa yang merangkulku dan aku tidak sadar merangkul siapa. Ke-20 pemain saling bertubrukan satu sama lain di atas mound. Keringat kami bercampur dengan air mata dan telingaku berdenging karena mereka bersorak-sorak tepat di kupingku. Namun, aku tidak keberatan, sama sekali tidak.

Aku bahkan tidak sadar jika Chris-senpai membawaku ke dalam pelukannya. Aku hanya terlalu senang sampai tidak bisa berpikir lagi. Aku bahkan tidak ingat apakah aku membalas pelukannya atau tidak.

Kami menuju Koshien di musim panas ini!

Para baris kedua dan ketiga saling bertepuk tangan setelah kami keluar dari lapangan. Pelatih Kataoka dan Tetsu-san sedang melakukan wawancara dengan wartawan majalah olahraga. Para junior baris kedua dan ketiga membawa tas perlengkapan kami dengan senyuman. Kami masih terlarut dalam euphoria.

"Sawamura!"

Chris-senpai menghampiriku. Aku masih tidak tahu caranya berhenti tersenyum.

"Senpai, aku…"

Aku dipeluk lagi. Kali ini, aku sadar sepenuhnya. Aku bergeming ditempatku. Tanganku menunggu perintah dari otakku, apa aku harus membiarkan pelukan sepihak ini atau membalasnya. Aku tidak bisa bertindak dengan refleks pada Chris-senpai.

"Terima kasih Sawamura."

Aku mendengus. "Kenapa berterima kasih padaku? Baseball adalah sebuah tim."

Aku bisa mendengar Chris-senpai tertawa. "Benar."

Dalam pelukan itu, aku bisa mendengar detak jantung Chris-senpai. Entah karena euphoria atau karena adrenalin habis bertanding, denyut jantungnya sangat keras dan cepat. Aku bisa merasa denyut jantungku juga seperti itu.

"Senpai," panggilku, "sebaiknya kita kembali ke bis sebelum ditinggal pulang," kataku.

Chris-senpai baru melepaskan pelukannya. "Kau benar," katanya, "aku sepertinya terlalu bersemangat."

Aku hanya menanggapinya dengan senyuman dan tawa. Kami berjalan berdua kembali ke bis.

"NGAPAIN KALIAN BERDUA?" teriak Ishashiki-senpai di depan bis. Tatapannya galak. "Hampir ditinggal kalian!"

Aku hanya cengengesan minta maaf dan kami berdua masuk ke dalam bis.

Aku kembali duduk di tempat dudukku, di sebelah Harucchi dan menatap ke arah jendela ketika bis mulai melaju.

Impian.

Miyuki Kazuya, aku sudah selangkah lebih dekat dengan impian.

Anak tangga selanjutnya, akan semakin susah dicapai. Rintangannya akan semakin banyak, dan beban yang kami pikul akan semakin berat.

Namun, kami harus berusaha untuk tidak hancur.

.

Malam harinya, aku benar-benar tidak tahan lagi. Setelah kami briefing dan melakukan perayaan singkat, otakku hampir pecah rasanya.

Aku ingin menghubungi Miyuki Kazuya.

Kami selesai makan malam, dan para anggota tim sudah mulai berlatih kembali. Untuk para pitcher, kami diminta istirahat selama 3 hari untuk memulihkan bahu dan lengan dan hanya boleh melakukan peregangan ringan. Aku memilih untuk berlari dengan ban saja.

Langit sudah mulai semakin malam, tetapi hawa musim panas menjadikan langit terang benderang. Lapangan outdoor kosong, para anggota memilih menggunakan lapangan indoor untuk berlatih. Aku menghentikan langkahku.

Keringatku jauh lebih banyak karena musim panas menyumbangkan hawa panas yang membuat pori-pori kulitku lebih aktif mengeluarkan air garam bernama keringat. Aku menaruh ban di ruang penyimpanan dan aku akhirnya duduk dulu di bangku bench yang lumayan gelap.

Kuraih ponselku dan kutatap nama Miyuki Kazuya di daftar kontakku.

Kami bertukar nomor telepon sekitar 4 tahun yang lalu, jadi sesungguhnya aku tidak tahu apakah nomor ini masih terhubung dengan Miyuki Kazuya atau tidak. 4 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah perubahan.

Namun, akhirnya aku memilih untuk menghubungi nomor tersebut.

Mendadak, perutku terasa melilit.

Aku merasa tegang.

Sudah 4 tahun lamanya aku tidak bercakap-cakap dengan Miyuki Kazuya. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Mendadak otakku kosong. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku menghubunginya.

Nada sambung terdengar sangat lama. Aku berharap-harap cemas. Aku tidak tahu mana yang lebih dominan, antara diangkat atau sambungan terputus. Perutku melilit-lilit dan tanganku mulai gemetar.

"Miyuki Kazuya di sini."

Napasku mendadak seperti terampas keluar.

Suara lelaki yang berat menyapa di ujung sambungan dengan nama yang sangat kukenal. Suara Miyuki berubah jauh, menjadi lebih berat dan laki. Dulu, suaranya bernada tinggi.

Otakku serasa meleleh menjadi keringat dan aku kehilangan kemampuan bicaraku. Nomornya masih aktif! Dan Miyuki sendiri yang mengangkat. Kini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tanganku gemetar dan mulai berkeringat. Jantungku bertalu-talu.

"Halo?" suara itu bicara lagi.

Bibirku terasa kelu.

"Miyuki…. Kazuya…"

Aku bicara terbata-bata seperti orang stroke yang sedang rehabilitasi.

"Ya," katanya, "dengan siapa ini?"

"Miyuki Kazuya!" seruku dengan segenap perasaanku. "Ini Eijun!"

Pecah sudah semua yang aku tahan-tahan selama ini. Aku sudah tidak lagi membiarkan akal sehatku bekerja. "Ini Eijun! Kasuya! Tim baseball Seidou lolos ke Koshien! Aku masuk tim inti! Aku melempar di lima pertandingan dan tim kami sangat-sangat kuat saat ini! Kami punya catcher yang hebat, anak kelas 3. Aku rasa kemampuannya menyaingi dirimu saat ini!"

Apa kabar Miyuki Kazuya?

Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu saat ini. Aku ingin menceritakan semua yang terjadi selama aku tidak bersama denganmu. Aku ingin kau tahu.

Miyuki Kazuya, aku masih tidak paham dengan impian, tetapi sedikit demi sedikit aku menuju impian itu. Bagaimana denganmu?

Sudah sampai mana kau menapaki anak tangga menuju impianmu?

"Kazuya, aku–"

"Bisakah kau diam?"

Kalimat tidak lengkap itu terpotong oleh sebuah kalimat tanya 3 kata tersebut. Jantungku yang bertalu-talu mendadak berhenti. Seluruh sel-sel tubuhku rasanya dingin mendadak dan aku menggigil.

Kazuya punya kebiasaan mengatakan banyak hal yang tidak aku mengerti. Miyuki Kazuya orang yang jenius, jadi pemahamannya lebih cepat dariku. Jika dia mengatakan hal yang tidak aku mengerti, aku terbiasa diam sambil menunggunya menjelaskan. Aku suka melihat Kazuya menjelaskan, apalagi mengenai baseball. Kazuya tampak sangat menikmati apapun dengan baseball. Dia sangat mencintai baseball.

"Aku sudah tidak bermain baseball lagi. Jangan menghubungiku lagi."

Lalu, telepon itu ditutup sepihak.

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada desau angin, tidak ada orchestra serangga-serangga musim panas. Begitu hening. Tanpa sadar, tanganku jatuh begitu saja dari telingaku dan ponselku tergantung lemas di antara genggaman tanganku. Layar ponselku sudah mati, begitu pula dengan perasaanku saat ini.

Aneh sekali.

Rasanya seperti dihempaskan dengan kuat setelah dibawa terbang tinggi. Hancur hingga berkeping-keping tanpa sempat merasa kesakitan. Aku merasa kosong dan bingung.

Aku akan menjadi catcher terbaik di Jepang.

Itu adalah impian Kazuya.

Jika kalian memintaku untuk mendeskripsikan lebih detail, aku sanggup melakukannya. Aku masih ingat hari dimana dia mengatakan itu padaku. Kacamatanya yang miring, senyumnya yang percaya diri, dan tatapan matanya yang berbinar-binar. Kazuya serius mengatakan hal itu.

Ketika aku mulai pulih dari rasa terkejutku, aku merasakan hal lain. Rasanya ada ruang di dalam hatiku yang dirampas begitu saja. Perasaan itu seperti rumah yang habis kena rampok. Kacau balau dan berbagai barang penting hilang. Barang-barang penting yang sudah dijaga dan dirawat selama bertahun-tahun, dengan gampangnya dirampas begitu saja.

Entah mengapa, percakapanku dengan Ibu bertahun-tahun lalu kembali teringat. Di malam setelah perceraian, sambil menangis Ibu mengatakan padaku bahwa orang akan datang silih berganti di dalam kehidupan. Datang dan pergi. Tidak akan ada yang tinggal untuk selamanya.

Kecuali diri kita sendiri.

Inilah yang sedang terjadi pada diriku saat ini. Seseorang sedang datang dan pergi di dalam hidupku. Ini merupakan sebuah fase yang tidak dihindari. Kazuya ternyata hanya satu dari sekian banyak orang yang datang lalu pergi di kehidupanku. Butuh waktu 4 tahun bagiku untuk menyadari hal itu.

Bagaimana dengan impianmu, Kazuya?

Bisikan itu datang dari dalam hatiku, seolah dia menentang pemikiran akal sehatku.

Apakah impian itu sudah menghancurkanmu lebih dulu sebelum kau sempat meraihnya?

Kazuya pasti punya alasan mengapa dia mengatakan hal seperti itu.

Impian Miyuki Kazuya bukanlah impian yang sanggup diucapkan begitu saja.

Ada beban di dalamnya.

Baseball adalah pilihan yang dibuat oleh Kazuya sendiri. Bukan dari orangtuanya, bukan dari lingkungannya.

Miyuki Kazuya memilih baseball karena dia mencintai olahraga itu.

Dia ingin bermain baseball.

Jadi, kenapa?

4 tahun adalah waktu yang tidak sebentar. 4 tahun rupanya sudah cukup untuk mengubah Miyuki Kazuya.

Aku bangkit dari bangku bench dan mulai berjalan kembali ke dalam asrama.

Kalimat yang sudah di ujung lidah itu tidak pernah keluar dari dalam mulutku. Kalimat itu kini berputar-putar di dalam pikiranku seperti racun dan harus aku hilangkan.

Kazuya, aku selalu merindukanmu.

.

Beranjak Dewasa

Pada akhirnya tirai tertutup

Pemeran harus menunduk

Pada akhirnya aku berdoa

Namaku akan kau bawa


A/N: Oke, ini sama sekali gak saya cek lagi typo nya.. jadi, mohon dimaklumi jika para pembaca banyak menginjak ladang typo. Ini masih ada 1 part lagi, yang gak tahu kapan saya publish, karena saya nulis ini sebagai pelarian. Saya harus ujian stase kulit dengan dokter super kritis dan saya stress berat! Jerawat sudah mulai berunculan dan ujian di depan mata, tapi tiba-tiba pengen nulis lagi. setidaknya, ini yang saya rasakan ketika di stase radiologi. I don't know, tapi entah mengapa stase radiologi dan kulit itu rasanya bikin gigit jari. Huhuhu... dan akhirnya butuh pelarian. Habis ini harus langsung belajar!

Yah, sebelum ini jadi bahan curhatan gak jelas, sampai disini dulu. Jangan tanya saya mengenai alur cerita, karena saya hanya menulis apa yang ada di otak saya saja. Yang pasti alurnya tidak rumit, karena itu akan menambah beban pikiran. Jangan tanya kapan bisa update lagi, karena saya masih ngejer ujian juga. Beranjak Dewasa merupakan sebuah lagu milik Nadin Amizah.

Sampai bertemu di part 2!

Salam,

Sigung-chan