Sepi sekali. Setelah kepulangan Sehun serta Vivi yang di bawa juga. Kediaman lama Kim kembali sunyi, lagi pasangan Kim hanya tersisa berdua. Kim Youngwoon dan Park Jungsoo. Yang mana kini wanita itu sedang terduduk diam di kamar mendiang putri kecil mereka yang telah tiada. Menatap tumpukan boneka di atas tempat tidur yang kini bertambah penghuni hasil pemberian dari Sehun.
Perempuan itu termenung, setelah kepergian Sehun, mendadak kepalanya dipenuhi berbagai hal yang terasa mendesak dan berebut minta di pikirkan. Sehunnie dan segala kelakuannya, mengapa begitu mirip dengan Minseokkie. Batinnya merintih.
[ Selagi Sehun bersiap di kamar dan mengganti pakaiannya setelah mau di bujuk untuk kembali pulang. Luhan dengan langkah gugupnya menghampiri dapur. Dia sedikit mengejutkan Park Jungsoo yang hendak menyiapkan sajian guna sarapan dan sebelum Sehun pergi.
Semalam, sebelum tidur anak itu berceloteh kalau dia merindukan masakan ibunya. Sayup-sayup sebelum jatuh tertidur sehingga Jungsoo yakin kalau itu adalah igauan dari alam bawah sadar karena kerinduan. Dan Sehun juga sempat mengatakan kalau masakan ibunya terasa seperti masakan Jungsoo jadi dengan inisiatifnya, ia akan memasak untuk Sehun.
"Luhan, ada apa?" tanya Jungsoo pada Luhan setelah mengendalikan jantungnya yang bertalu karena terkejut.
"Apa, ahjummonie memasak cukup banyak?" tanya pria itu sedikit gugup.
"Oh ya. Kulihat nafsu makan Hunnie sangat bagus, jadi aku memasak banyak. Ada apa?"
"Benarkah? Kalau begitu, apa boleh kau membawakannya untukku? Aku ingin seseorang mencicipi masakanmu juga. Dia juga memiliki nafsu makan sebaik Sehun"]
"Perasaanku saja atau Luhan memang nanpak sangat takut?" gumam Jungsoo bingung, dia masih terpikirkan hal tersebut dan masih belum bisa mengenyahkan keanehan tersebut. Apa sebenarnya yang terjadi pada perasaannya.
"Sooie" panggilan dari arah belakang, membuatnya kembali sadar, dan segera menoleh pada sumber suara dimana sang suami berdiri di depan pintu. "Iya?" ia menyahut pelan dan menunggu kemudian suaminya yang sedang berjalan menuju arahnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" katanya setelah sampai di hadapan sang istri, matanya lekat menatap sembari tangannya menggenggam erat, memunculkan semakin banyak kebingungan di kepala kecil Jungsoo.
"Apa sebaiknya, kita buka kembali kasus kematian Minseokkie?"
.
.
EXO Fanfiction
XiuHan
By
Moonbabee
.
.
Kabar pertengkaran antara Kai Park dan tuan muda Lu Sehun rupanya terdengar sampai ke telinga tuan besar Byun. Membuat pria itu semakin marah besar terhadap putrinya yang lama kelamaan dirasa tidak becus lagi dalam menangani masalah.
Emosi tuan byun mulai memanas sejak awal pemberitaan tentang cinta terlarang Baekhyun dan Chanyeol kembali berhembus, lalu lama kelamaan berita seputar Baekhyun kian santer terdengar dan semakin parah ketika mulai bermunculan masalah-masalah yang terasa memuakan.
Isu perselingkuhan Luhan, pergantian posisi sementara pimpinan dan sekarang malahan kabar pertengkaran Sehun dan Kai yang seakan menjadi puncak kemarahan bagi tuan Byun. Baekhyun harus segera disadarkan kalau posisinya akan terguncang kalau seperti ini.
"Byun harabeoji..."
Dan pada akhirnya, sang pangeran kembali ke istananya. Pemuda itu mendesah, saat laju kendaraan mulai melambat setelah melewati pagar besi yang dijaga ketat. Rumahnya, istananya, penjaranya.
Yang dibangun di dataran super luas yang memerlukan jalan berliku hanya untuk sekedar menemukan pintu utama, belum lagi lorong-lorong panjang serupa labirin hanya untuk mencapai kamarnya. Dia bukan tawanan kan? Tapi kenapa anak berusia tujuh belas tahun seperti dirinya harus mengalami jalan yang panjang seperti ini hanya untuk mencapai kamar. Hidup memang sesulit ini, dunia mulai bercanda dan candanya sungguh keterlaluan.
Dan ketika akhirnya dia berhasil melewati pintu dan ingin segera memasuki singgasananya, ia harus kembali tertahan karena matanya menangkap sosok yang tidak asing dan sesungguhnya tidak ingin ia temui.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu? Apa ini disebabkan oleh Kai Park?"
.
.
"Sehun sudah pulang?" Luhan mengernyitkan keningnya saat direktur sekolah mengatakan kalau Sehun tidak ada. Padahal sengaja lelaki itu menyempatkan diri untuk mampir kesekolah hanya untuk menjemput anaknya. Tapi dia malah tidak ada.
"Tidak tuan, maksud saya dia tidak ada disekolah. Kami tidak melihatnya"
"Mwo?"
Anak itu? Lalu kemana kalau tidak sekolah? Bukankah mereka sudah sepakat kalau Sehun aka masuk sekolah hari ini sebelum nanti pulang bersama. "Ah, dia pandai sekali membangkang." Ia mengesah lelah. Sembari tangannya merogoh saku untuk mengambil ponselnya dan menghubungi ponsel supir yang tadi ia tugaskan untuk mengantar Sehun.
"Kemana Sehun meminta dibawa? Apa sekarang kalian masih berada diluar?" tanyanya tanpa basa-basi. Dan jawbannya malah semakin mengejutkan. Keningnya berkerut semakin dalam ketika sahutan disana terdengar [ Tuan muda ingin diantar pulang, katanya tuan kecil Vivi sakit perut]
" Ne?" minta pulang? Tuan kecil Vivi? Siapa yan dimaksud tuan kecil?
Guk. Guk. Guk.
Suaranya mengisi seluruh penjuru ruanga. Rumah yang biasanya sepi sunyi tiba-tiba menjadi ramai dan cukup mengejutkan Baekhyun ketika dia baru memasuki pintu malah disambut oleh suara anjing serta beberapa pelayan yang berlarian mengejar.
"Apa yang sedang terjadi disini?" sontak suara Baekhyun menghentikan kegiatan orang-orang yang sibuk dengan kehebohan.
"Nyonya..
Guk. Guk. Guk. Si anjing putih itu yang menyahuti, berlari semakin jauh dan keluar melewati pintu.
"Kami harus menangkap tuan kecil nyonya. Tuan muda sedang marah-marah"
Tuan kecil? Tuan muda? Apa maksudnya adalah Sehun?
"Kenapa kalian masih disana? Apa kalian sudah menangkap Vivi?" suara lain menyapa pendengaran Baekhyun dan kali ini lebih mengejutkan dari apapun karena yang ia dengar adalah suara ayahnya " Abeoji?" bisiknya denan raut terkejut. Mataya membola tidak mampu menutupi keterkejutan.
Si anjing kecil rupanya menikmati halaman luas yang ada. Dia berlarian kesana kemari. Tidak peduli kalau dibelakangnya sedang rusuh orang berlarian mencoba menangkap.
"Kau sudah pulang?" tuan Byun mengabaikan keterkejutan anaknya dan menyapa sok ramah yang membuat Byun Baekhyun sejujurnya sangat mendidih. Dia sedang tidak ingin bertemu siapapun yang dirasa akan memancing emosinya tapi kenapa ayahnya malah muncul di depan matanya, di rumahnya pula. Sial, entah emosi semacam apa yang akan meledak nantinya. Ia hanya berharap tidak akan semakin memperkeruh keadaan atau dia akan lepas kendali.
Si putra mahkota mengintip dari balik pilar sembari mencuri dengar. Kakek Byun ada disini dan wajah ibu palsunya tampak sangat berkerh. Sepertinya keadaan sangat kacau selama dia tidak ada atau semakin kacau lebih tepatnya.
Sehun tidak tahu mengapa tiba-tiba kakek Byun datang tapi entah mengapa ada perasaan lega yang bercampur rasa senang. Untuk pertama kalinya dia senang melihat kakek dari pihak ibu palsunya karena ini seakan menolong dirinya.
Dia sedang tidak mau berbasa-basi dengan Luhan atau menemui ibunya pun dia masih belum mau karena rasa sakit yang bercampur itu pasti akan muncul kembali. Setidaknya dengan adanya kakek Byun dia akan menghindari hal tersebut sedikit lebih lama, ia akan menata hatinya untuk menghadapi, masih butuh waktu karena beberapa hari yang lalu masih belum cukup untuknya.
.
.
Mobil mewah yang kali ini dikemudikan langsung oleh pemiliknya berhenti di parkiran samping yang menghadap langsung pintu pavilion sehingga tidak terlalu jauh kemudian untuk pria itu segera mencapainya.
Luhan tampak membenahi penampilannya sebelum turun dari kendaraan itu sembari tangannya mengangkat rantang makanan yang sejak tadi mengisi ruang kosong di kursi penumpang. Waktu itu Luhan belum sempat membawakan masakan orangtua Minseok karena kabar percobaan bunuh diri yang dilakukan si mungil.
Kedua kalinya gagal karena makanan itu malah disajikan untuk Baekhyun ketika ibunya datang berkunjung. Mengira kalau Baekhyun yang sedang sakit. Dan kali ini tidak boleh gagal lagi karena ia sudah dengan segenap keberanian dan kemampuannya untuk membujuk ibu Minseok mau membawakan untuknya. Dia sudah berusaha setengah mati agar tidak ketahuan jadi ia harus berhasil saat ini. Dan merasa bangga karena usahanya.
"Selamat datang tuan" sapa para pelayan yang langsung datang menyambutnya. "Dimana Minseok?" bukannya membalas sapaan tersebut dia malah langsung menanyakan si mungil. Objek yang paling dirindukan namun malah tidak ikut menyambut kedatangannya.
"Nona sedang ada ditaman. Apa ingin sayang panggilkan?"
"Tidak usah, aku akan kesana. Kalian siapkan ini saja." Ujarnya dan ia menunjuk dua rantang makanan yang sudah dipegang pelayan. Lalu segera bergegas ketaman untuk menemui Minseok.
Disana, ditemani seorang pelayan Minseok tampak sedang memandang pada danau kecil yang terdapat bunga teratai. Dia tampak menatap lurus dan diam. Sepertinya sedang melamun. Minseok pasti memikirkan Sehun lagi.
Dengan pelan ia mendekati istri kecilnya itu, memberi isyarat pada pelayan yang menemani sejak tadi untuk pergi karena dia akan menggantikannya menjaga, setidaknya sampai makanan selesai dihidangkan dan mereka masuk kedalam.
Luhan berencana makan malam dengan Minseok dan Sehun, sekalian menumpas kerinduan Minseok terhadap putra mereka juga untuk membuat keduanya kembali akur. Nanti setelah ia meyakinkan Minseok bahwa semuanya baik-baik saja ia tinggal memanggil Sehun. Sehun sudah dirumah, supir yang tadi ia tugaskan sudah mengabarinya tentang permintaan Sehun yang ingin diantar pulang dan menolak sekolah.
Anak itu, dia sangat keras kepala, mirip sekali dengan ibunya.
" Sajjang- nim" suara lembut itu segera menyapa, bersamaan dengan kepalanya yang mendongak. Mempertemukan dua pasang mata yang saling berbinar menemukan satu sama lain.
"Tidakkah diluar dingin?" pria itu menangkupkan jasnya di bahu sang istri, meski dipahanya tersampir selimut tebal namun tidak membuat Luhan puas dan masih beranggapan kalau itu tidak cukup. Dia masih perlu kehangatan lain, seperti pelukan darinya misalnya.
"Aku sudah memakai baju panjang dan selimut" akunya.
"Iya, tapi tidak terlihat memuaskan, kau masih butuh yang lebih hangat"
Setelah itu kembali diam. Minseok tidak membalas dan kembali menjatuhkan pandangan pada bunga teratai yang mengapung di permukaan air seperti seakan itu adalah hal paling menarik di dunia ini daripada apapun. Menghadapi Minseok yang seperti ini memang harus penuh kesabaran karena salah sedikit saja akibatnya sangat fatal. Dan Luhan tentu tidak mau membahayakan siapapun apalagi pusat dunianya saat ini – Kim Minseok.
"Tuan, makanannya sudah siap." Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara kepala pelayan yang merobek keheningan mengundang keduanya untuk menoleh sesaat sebelum pandangan Luhan jatuh pada Minseok.
"Kau ingin makan sekarang? Aku membawa hidangan spesial khusus untukmu, dan ada hadiah lainnya" katanya mencoba menarik minat Minseok, mencoba untuk setidaknya membuat wanita mungil ini menyunggingkan senyumnya.
Namun "Hmm" ia hanya menggumam pendek tanpa minat, mengiyakan begitu saja ajakan Luhan membuat lelaki itu menghela nafas kecewa, kenapa susah sekali membuat Minseok kembali bersemangat. Ia benci wajah muram itu. Ini terasa seperti matahari tidak terbit saja.
"Okay, ayo kita makan. Kau pasti menyukai makananku dan hadiah dariku" tapi dia tidak boleh menyerah. Ia tidak boleh kalah dalam bertanding atau nanti Sehun bisa besar kepala, beranggapan cuma anak itu saja yang penting bagi ibunya sementara Luhan tidak.
Tidak-tidak, Luhan juga penting bagi Minseok karena pria itu adalah separuh jiwanya. Mereka berdua sama-sama penting bagi si mungil ini jadi tidak boleh hanya Luhan saja yang berpikir seperti itu tapi Sehun juga. Kekanakan, memang. Hahaha.
Sajian dimeja makan tampak begitu penuh, dan Minseok bisa melihat masakan yang tersaji disana agak berbeda dari yang biasanya disiapkan oleh pelayan. Ini nampak lebih sederhana dari yang biasa ia lihat, namun terlihat begitu menggugah selera, aromanya memang menyengat tapi tidak terasa menjijikan seperti biasanya.
Malahan sebaliknya mengundang selera makan Minseok segera naik kepermukaan padahal sejak tadi ia sama sekali tidak berminat terhadap makan. Namun hanya melihat dan menghirup aromanya sudah membuatnya lapar seakan makanan sederhana itu memiliki daya tarik serupa magnet.
"Sepertinya kau terlihat lapar sekali?" Luhan berkomentar. Sepertinya dia mengamati perubahan mimik wajah Minseok yang tadi malas-malasan kini berubah penuh binar.
"Baunya enak sekali" katanya bersama seulas senyum kecil yang membuat Luhan juga ikut tersenyum dan segera menyingkirkan salah satu kursi untuk mendekatkan Minseok pada meja.
"Ada cemilan sebelum makannya, sangat enak. Mau coba?" tanya Luhan sembari menata beberapa makanan kecil di atas meja dan di letakan didepan Minseok.
Minseok mengangguk saja, dia tidak peduli apakah itu cemilan sebelum makan atau makanan utama, baunya sangat menggugah selera dan dia tidak tahan untuk segera mencoba.
"Ini buatan rumahan, orang yang membuatnya sangat baik dan menyayangi Sehun" kata Luhan saat Minseok mulai menyuapkan makanan kedalam mulut, makanan yang sepertinya langsung meleleh di dalam mulut. Enak, benar-benar sangat lezat.
Tapi kenikmatan makanan itu tidak lantas membuatnya menelan begitu saja. Sesuatu justru seperti mengganjal di tenggorokan dan menghalangi dia untuk segera menelan. Rasa ini, aroma ini, Minseok mengenalinya. Meski telah bertahun-tahun lamanya tapi dia tidak akan pernah lupa dengan rasa masakan ini.
"Eomma" ini rasa masakan ibunya.
"Hmm? Apa? Kau bilang apa?" Luhan bertanya disela kegiatannya menata makanan untuk Minseok, pria itu tidak terlalu jelas mendengar gumaman Minseok yang lirih.
" Eomma" ulangnya dan kini semakin terdengar jelas.
Eomma? Dia tahu kalau ini masakan ibunya?
" Eomma"
Perlahan tubuh Minseok mulai gemetar dan sumpit dalam genggamannya jatuh, tidak menunggu waktu lama untuk ia menjadi histeris, mengejutkan Luhan dan seluruh orang yang menyaksikan.
Kenapa dia tiba-tiba menjadi seperti ini padahal tadi baik-baik saja. Minseok sedang mencoba masakan ibunya tapi kenapa reaksinya seperti ini? Bukankah seharusnya dia merasa senang dan bahagia karena dapat kembali merasakan masakan ibunya. Orangtua yang dirindukan.
"Kenapa Minseok? Ada apa?" tanya Luhan sembari segera memeluk Minseok, mencoba menenangkan dengan menghentikan semua gerakan. Dapat ia rasa tubuhnya bergetar hebat dan Luhan hafal dengan reaksi demikian.
Traumanya kembali menyerang, tapi apa yang membuatnya sampai seperti ini, tidak ada yang salah dengan mereka dan Luhan juga tidak mengatakan sesuatu yang aneh, mereka baik-baik saja.
"Tenanglah, tenang. Semua baik-baik saja. Tenang-tenang" ia mencoba membujuk. Namun bukannya mereda, dia malah semakin brutal, Minseok meronta semakin keras dan mulai memukuli Luhan sampai menyebabkan selang infus yang menempel di punggung tangannya terlepas dan darah segar mengalir dari sana.
"Apa yang kalian lakukan?! Cepat panggil dokter!!!!!!" teriaknya murka, mendapati para pelayan hanya menatap dengan bodoh tanpa ada inisiatif apapun.
"Minseok-ah, ada apa?"
" Andwae, eomma... eomma . eommaa"
"Tenanglah, tenang. Kumohon"
.
.
Ahn Jaehyo mendapati kabar kalau Sehun sudah kembali, anak itu pulang dalam keadaan lebih baik. Walau luka lebam dan pucatnya masih belum hilang. Tapi secara keseluruhan dia sudah lebih baik, seakan mendapat perawatan dokter terbaik padahal selama ini dia menghilang begitu saja. Walaupun ia tahu kemana anak itu kabur namun perawatan yang diberikan tetaplah seadanya.
Bahkan Kai Park yang mendapat perawatan kelas A kini masih terbaring tak berdaya dirumah sakit. Padahal kalau dibandingkan Sehun jauh lebih parah, anak itu dihajar oleh tujuh belas orang sekaligus, dipukul dengan tongkat baseball serta mendapatan luka batin yang parah.
Akan tetapi sekarang dia tampak baik-baik saja – katanya. Karena Jaehyo sendiri belum melihat dan ini baru ingin memastikan. Ia harus melihat sendiri karena dia juga salah satu dari tujuh belas orang yang menghajar Sehun, dia sempat memukul wajahnya dan menendang perutnya kala anak itu meronta pada ibunya. Ia sungguh merasa bodoh dan sangat bersalah.
Tidak seharusnya dia melakukan itu, karena apa yang dikatakan Sehun malam itu adalah kebenaran dan seharusnya dia bersimpati karena memang lukanya terlampau parah, namun ia yang terbawa emosi malah ikut-ikutan menghajar anak itu. Nanti kalau Sehun menghajarnya ia tidak akan terkejut. Memang pantas Jaehyo mendapatkannya kan.
"Ah, pekerjaanku banyak sekali" keluhnya sembari melepaskan sabuk pengaman dan segera melangkahkan kaki panjangnya untuk turun dari kendaraan.
Ia sudah sangat ingin melihat Sehun, memastikan dia memang sudah baik-baik saja lalu meminta maaf, Jaehyo harus segera melakukannya agar segera tenang. Tetapi, saat langkah kaki panjangnya sudah siap di ayunkan untuk menuju pintu rumah utama, matanya menangkap sosok tidak asing yang tidak seharusnya berada disana.
Kwon Boa – ibu Baekhyun. Sedang berjalan pelan menuju arah pintu paviliun.
Bukan, itu bukan masalah karena wanita itu memang mengetahui keberadaan paviliun megah dibalik tembok ini namun yang menjadi kepanikannya adalah, mobil Luhan yang terparkir di parkiran samping pintu paviliun, sebuah tanda mutlak kalau lelaki itu sedang berada disana.
Kepalanya mengedar dan semakin terkejut saat mendapati mobil mewah lainnya terparkir di parkiran lain berdampingan dengan kendaraan mewah milik Kwon Boa. Sepertinya ada tamu tidak diundang. Mobil Byun Kangta juga ada disana. Orangtua Baekhyun ada disini dan Luhan ada di paviliun. Sial, tanda bahaya.
Secepat yang ia bisa Jaehyo mencoba menghubungi Luhan. Menanyakan apakah pria itu tahu keberadaan mertuanya atau tidak, atau apakah dia sudah mengamankan Minseok atau belum. Ah sial, Minseok tidak mungkin pula disembunyikan. Dia sedang sakit. Lalu bagaimana caranya dia menghentikan Kwon Boa agar tidak mendekat kesana.
Sial, Luhan tidak mengindahkan panggilannya. Kepala keamanan paviliun. Dengan mengubah langkahnya ia berlari segera menuju pintu belakang rumah Luhan, menuju ruang kendali rumah utama untuk memberikan peringatan pada orang-orang di paviliun. Dia juga harus memastikan siapa saja orang-orang yang ada dirumah ini. Apakah Baekhyun ada atau tidak.
.
.
Si anjing kecil masih saja berlarian. Dia nampaknya tidak peduli kalau sekarang bulunya sudah tidak lagi putih, malahan basah kuyup. Hasil dari mencebur ke kolam ikan dan menewaskan dua penghuninya. Semakin membuat keributan dan kekacauan.
Tapi tidak ada yang berani melakukan kekerasan pada si anak anjing tersebut. Karena dia dibawa langsung oleh tuan muda dan bahkan panggilannya adalah tuan kecil. Bukankah terdengar begitu jahat. Ya tuhan, derajat anjing pembuat onar ini terdengar lebih tinggi daripada manusia yang masih mengejarnya untuk segera di bawa pada tuan muda mereka.
Tentu saja setelah dibersihkan dan kembali dipercantik. Kalau tidak mereka bisa kena damprat dan dianggap tidak becus. Sudah membuat tamu menyebalkan ini menjadi sangat kotor seperti anjing jalanan. Dunia benar-benar kejam bukan.
Guk. Guk. Guk.
Gonggong Vivi sambil terus berlari. Menghindari kejaran para pelayan yang sudah lengkap membawa handuk untuk menghindari pakaian mereka kotor kalau seandainya berhasil menangkap si kecil.
Sampai kemudian si anjing kecil itu menabrak seseorang, sepasang kaki jenjang nan indah yang dibalut sepatu mahal. Membuat para pelayan segera memekik tertahan, apalagi kala si Vivi kemudian melompat kedalam pelukan wanita itu – Kwon Boa yang juga terkejut mendapat serangan tak terduga semacam ini.
Guk. Guk. Guk.
Sialannya, setelah membuat baju indah nan mahal milik nyonya besar itu si anjing kembali melompat dan berlari. Meninggalkan Boa yang terkejut mendapat serangan demikian.
Si anjing itu sepertinya sedang menyebabkan kekacauan karena selepas itu dia kembali berlari masuk kedalam rumah menyebabkan jejak kaki anjing yang kotor berceceran. Berhasil memancing emosi Byun Baekhyun yang langsung meradang namun sebisa mungkin ditahan karena keberadaan sang ayah juga Sehun yang entah sejak kapan sudah berdiri disana untuk menyambut Vivi yang berlari kearahnya. Melompat kedalam pelukan dan berubah menjadi anjing manis yang menggemaskan.
" Aigoo, kau bersenang-senang ya? Sampai kotor begini" ujar Sehun sembari mengusap puncak kepala Vivi dan berlalu begitu saja, tidak peduli dengan tatapan murka ibu palsunya serta tatapan tak berdaya para pelayan yang agaknya akan memiliki kerja ekstra.
Dalam hati Sehun mengesah senang dan merasa bangga pada Vivi yang sudah memberikan pertunjukan menyenangkan di hari dimana ia kembali memasuki neraka. Anak baik, aku bangga padamu. Batin Sehun senang.
"Nyonya, astaga" seorang pelayan segera menangkupkan handuk di tubuh Kwon Boa dan segera menuntun wanita itu untuk segera memasuki rumah dan membersihkan diri. Mengejutkan kedua kalinya penghuni rumah ketika nyonya besar itu datang dalam keadaan berantakan. Apalagi tuan Byun, yang segera datang menghampiri dengan kening berkerut.
"Apa yang terjadi?"
"Maaf tuan, ini kesalahan kami" aku si pelayan takut-takut. "Kami gagal menangkap tuan kecil dan dia...
"Nanti saja, sekarang kalian bereskan ini dan bantu ibuku membersihkan diri. Cepat!" sela Baekhyun galak. Risih sekali melihat rumah kacau seperti ini. Sial, apa yang sedang terjadi. Tapi sedikit membuat Baekhyun bernafas lega karena dapat mengulur waktu. Dengan kekacauan ini ia berharap kalau paviliun telah siap dibereskan. Ibunya sangat menyukai paviliun itu akan menjadi bencana kalau tiba-tiba ia ingin kesana tapi ada Minseok, bahaya semua akan kacau.
.
.
Keadaan kacau, sepertinya kekacauan sesungguhnya bukan ada di rumah utama melainkan di paviliun karena ketika Jaehyo masuk kesana orang-orang tampak begitu panik dan beberapa pelayan yang sepertinya dikirim Baekhyun pun lupa akan tugas sebenarnya datang kemari. Mereka ikut kepanikan dan tidak tahu harus bagaimana.
"Nona mengalami serangan." Salah satu pelayan paviliun mendekati Jaehyo yang terkejut.
"Lalu apa yang terjadi disini? Kenapa semua benda berhamburan?"
"Nona mengamuk saat sedang makan dengan tuan Lu. Lalu tiba-tiba menjadi seperti ini"
Apa yang terjadi? Apa lagi ulah Luhan? Kenapa dia senang sekali membuat kekacauan padahal dokter sudah mengatakan sebisa mungkin Minseok tidak mengalami apapun. Kenapa sekarang malah begini. Sialnya ada tuan dan nyonya Byun. Kacau, Baekhyn juga pasti tidak ingin sesuatu terjadi.
Pelayan yang dikirimnya pasti untuk memastikan kalau Minseok segera diungsikan seperti biasanya tapi keadaan malah begini.
"Sekarang kalian bersihkan kekacauan ini dan pastikan tidak ada jejaknya" ia mengintruksi lalu segera mengayunkan langkah untuk mencari Luhan.
"Luhan?" panggilnya segera.
"Minseok-ah, bangun? Buka matamu? Minseok-ah" terdengar pria itu memanggil, sepertinya Minseok pingsan. Pertanda buruk.
"Cepat! Apa tidak bisa lebih cepat lagi?!"
Luhan semkin murka. Minseok jatuh pingsan dalam pelukannya dan dokter tidak kunjung datang. Ketakutan semakin menjalar dalam dirinya. Kemungkinan terburuk mulai berseliweran dikepalanya dan yang paling menakutkan adalah ia akan kehilangan calon anak keduanya.
"Tidak, bertahanlah. Kumohon" mohonnya bersama ari mata mulai bercucuran. Tubuhnya mulai ikut bergetar. Ah, selain Minseok sebenarnya Luhan juga memiliki trauma pasca kejadian. Ini rentan sekali mempengaruhi pria itu.
"Luhan, astaga"
"Jaehyo? Jaehyo, tolong panggil dokter sekarang. Minseok- Minseok...
"Tenanglah. Dokter akan segera datang. Ayo kita pindahkan Minseok dulu" kata pria itu mencoba mengambil alih tubuh Minseok namun di tepis oleh Luhan, lelaki itu segera meraih tubuh istrinya masuk semakin dalam pada pelukannya.
Sadar kalau dia telah membuat Luhan semakin marah dengan perbuatannya pria itu segera mengangkat tangannya. Luhan tidak boleh terpancing amarahnya atau akan semakin kacau.
"Apa yang kau lakukan!!" serunya.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud. Tapi ini mendesak, diluar ada orangtua Baekhyun."
.
.
" MWoo?"
Baekhyun berhasil meredam suaranya untuk tidak berteriak ketika ia mendengar laporan dari pelayan yang ia utus untuk pergi ke paviliun.
Disana keadaan juga sedang kacau, Luhan sudah berada disana sejak tadi dan entah kenapa Minseok tiba-tiba mengamuk, mengacaukan keadaan rumah seperti baru dilanda gempa.
Kenapa waktunya bisa bertepatan seperti ini? Disaat yang bersamaan orang tuanya juga datang. Sial, kalau ia tidak bisa menangani keadaan ini tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.
"Pastikan Sehun tidak pergi kesana dan tetap berada dikamarnya" katanya sambil berpikir. Dia harus memastikan Sehun ada ditempatnya dengan begitu ia bisa menyuruh Luhan keluar dari sana.
"Kim Minseok sialan" ia menggeram, tidak tahu bagaimana harus menanganinya. Kim Minseok yang mengamuk hanya bisa ditangani oleh Luhan dan kalau dalam keadaannya Luhan tidak ada, itu juga sama kacaunya.
"Nyonya" seorang pelayan lain memasuki ruangan Baekhyun. Wajahnya terlihat begitu panik membuat Baekhyun was-was. Apalagi sekarang.
"Nyonya besar ingin bicara dengan anda. Dia sudah menunggu di depan pintu"
"Sial." Erangnya semakin frustasi. "Pergilah ke paviliun dan pastikan keadaan disana. Jangan sampai Sehun turun dari kamarnya" kata Baekhyun sebelum menyuruh pelayan itu keluar dan mempersilahkan ibunya memasuki ruang kerjanya.
Dan tidak butuh waktu lama wanita yang merupakan ibu kandungnya telah duduk dengan angkuh di sofa si sana.
"Aku akan segera menemui eomma dan appa. Kenapa kau repot-repot mendatangiku kesini?" tanya Baekhyun dengan nada yang terdengar sebiasa mungkin. Ia tidak mau terlihat sedang panik atau dirinya sendiri yang akan semakin mengacaukan keadaan.
"Kau terdengar lebih ramah ketika kita bertatap muka seperti ini? Ketimbang ketika kau berbicara melalui telepon. Apa sesuatu sedang terjadi?" namun tentu saja nyonya Byun tidak begitu saja bersikap ramah pada Baekhyun.
Dan dari apa yang ia katakan jelas mengandung makna yang cukup untuk membuat keningnya berkerut.
"Aku melihat wajah cucu ku yang hancur. Apa saja yang sudah kau lakukan sampai membuatnya mengalami hal seperti ini?"
"Itu kesalahannya, tidakah eomma melihat berita?"
Wanita yang lebih tua mendecih. Mencemooh jawaban putrinya yang terdengar tidak memuaskan. Ia sudah melihat betapa luka-luka itu menghiasi wajah Sehun dan cara berjalan anak itu pun terlihat pincang dan tertatih. Itu jelas tidak nampak seperti perkelahian dua remaja SMA seperti yang diberitakan.
Daripada luka perkelahian itu lebih mirip luka penganiayaan dan Boa juga melihat bekas luka benda tumpul di tengkuk Sehun.
"Aku tidak butuh tahu siapa yang salah atau apa konsekuensinya. Yang aku pertanyakan, apa yang kau lakukan?"
" Eomma pikir apa? Apa eomma berpikir aku akan melukai Sehun?"
Kwon Boa mengedikan bahunya, dengan anggun ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja kerja putrinya. Disana ia tidak mendapati satu foto atau bingkai apapun. Membuatnya menengok dan memandang punggung Baekhyun serta beberapa pemikiran yang singgah dikepalanya.
"Mungkin? Kau melakukan sesuatu karena yang terlibat dengan Sehun adalah Kai Park"
"Itu tidak ada hubungannya" sentak Baekhyun terlalu cepat, membuat kening nyonya Byun mengerut karena merasa kalau reaksi Baekhyun terlampau berlebihan. Mengundang satu lagi pemikiran dalam kepalanya kalau memang ada yang sedang terjadi.
"Lalu apa ini berhubungan dengan orang yang bersama Luhan di paviliun?"
" Ne?"
.
.
TBC/END?
.
.
Hallaww, ada yang menunggu cerita ini seperti kita nungguin comeback Eksoh???? Huhu, lama sekali aku nggak muncul disini.
