Disclaimer: Haikyuu (c) Furudate Haruichi

Warning: Typo, ooc, slash, dll

.

.

.

"Suga, kami mau beli bakpau daging, kau ikut?"

Suga yang tengah menarik resleting jaketnya menoleh pada Daichi. "Ah, gomen Daichi," jawabnya tersenyum bersalah. "Aku tidak ikut, aku mau pulang duluan," lanjutnya sembari mengalungkan tas dan setengah berlari ke arah pintu. "Jya ne minna," sahutnya melambai dan pergi.

"Ada apa dengan Suga-san?" sahut Nishinoya menatap kepergian senpainya dengan raut bingung. "Akhir-akhir ini dia selalu buru-buru pulang seusai latihan."

Tanaka mengangguk menyetujui. "Dan dia selalu mengecek ponselnya seusai latihan. Tidak seperti biasanya."

"Daichi-san, Asahi-san, kalian tahu sesuatu?" Nishinoya beralih pada kedua siswa kelas tiga tersebut. Keduanya menggeleng.

"Tidak. Kami sendiri merasa ada yang aneh dengan Suga," balas Asahi.

"Tapi dia tidak mengatakan apapun. Malah mengelak kalau ditanya," tambah Daichi.

Para kelas satu kini mendekat. Ikut melibatkan diri dalam pembicaraan. "Memangnya Sugawara-san menyembunyikan sesuatu?" Hinata bertanya dengan raut penasaran.

Asahi dan Daichi mengangkat bahu serempak.

"Jangan-jangan…" Nishinoya dan Tanaka saling pandang kemudian tersenyum penuh arti. "Suga-san punya pacar," cengir keduanya dengan kilatan jahil.

"Mungkin Sugawara-san hanya melatih teknik baru untuk voli," sela Kageyama.

Nishinoya dan Tanaka berbarengan menggeleng dengan ekspresi sedih. "Kau ini Kageyama, di otakmu itu hanya voli saja," omel Tanaka merangkul Kageyama dengan tenaga cukup keras sehingga pemuda itu limbung. Yang dirangkul hanya mengerutkan dahi, menggerutu kesal.

"Tapi mungkin saja…" gumam Yamaguchi tampak berpikir keras. "Akhir-akhir ini Sugawara-san kelihatan lebih senang dari biasanya."

Tsukishima mengangkat alis. "Oh ya? Sugawara-san bukannya memang selalu terseyum?"

Yamaguchi menggeleng. "Memang Suga-san selalu tersenyum, tapi entah kenapa dia kelihatan, bagaimana ya, lebih cerah."

Tsukishima mengangkat bahu tak peduli kemudian melanjutkan kegiatannya memasukkan baju latihan ke dalam tas.

"Bagaimana kalau begini saja," seru Nishinoya memaksa atensi semua yang ada di ruangan klub kembali padanya. Matanya bersinar penuh semangat dan jahil. "Kita ikuti Sugawara-san besok kalau dia buru-buru pulang lagi?"

"Woah, ide bagus Noya-san!" Tanaka dan Nishinoya langsung ber-high five.

Tapi Daichi dan Asahi memasang wajah tidak setuju.

"Bukannya tidak baik menguntit Suga? Dia tidak akan senang," sahut sang Ace dengan raut cemas. "Itu melanggar privasinya."

Daichi menggelengkan kepala sebagai bentuk ketidak persetujuan pada ide Nishinoya. "Tidak boleh. Suga akan marah pada kalian kalau dia tahu!"

"Tapi Daichi-san…" protes Nishinoya setengah merengek. "Memangnya Daichi-san tidak penasaran atau curiga?"

Daichi terlihat ragu menjawab. "Yah, walau begitu juga tetap saja kita tidak seharusnya melakukan itu."

Kedua anak kelas dua itu serempak mengerang kecewa. "Ayolah Daichi-san… Ini soal Suga-san lho!"

"Iya Daichi-san," Hinata nimbrung dan membuat wajah Tanaka dan Nishinoya langsung cerah karena didukung kouhai kesayangan mereka. "Suga-san tidak biasanya merahasiakan sesuatu pada kita! Aku sedikit sedih kalau dia menyembunyikan sesuatu yang membuat dia bahagia dari kita," lanjut Hinata memasang wajah murung yang malah diikuti oleh Nishinoya dan Yamaguchi.

Daichi dan Asahi bertukar pandang melihat ketiga kouhai itu memasang wajah sedih yang mengalahkan pandangan memelas anak kucing. Akhirnya Daichi menghela napas menyerah.

"Baiklah…"

"Yosha!" Tanaka, Hinata, dan Nishinoya melompat dan ber-highfive riang.

Daichi tahu dia akan menyesali ini nanti.

.

.

"Suga-san sedang menunggu siapa ya?" bisik Nishinoya menatap senpainya yang sedang berdiri di sebuah toko sambil mengecek sesuatu pada ponselnya. Yang lain berada di belakangnya ikut mengintip. Mereka semua—minus Tsukishima—sedang bersembunyi di balik tembok rumah yang ada di samping toko tempat Sugawara tengah berdiri.

Mereka menguntit Sugawara semenjak pemuda itu meninggalkan sekolah seusai pamit lagi dengan buru-buru. Dengan pasukan yang sebanyak ini dan tidak bisa disangkal cukup berisik dan konyol, heran juga tidak ada yang mencurigai mereka.

"Kenapa dia di sini?" Tanaka ikut mengomentari. Asahi dan Daichi yang awalnya memasang wajah cemas sedari awal menguntit Sugawara, kini berubah menjadi penasaran juga. Apa lagi saat Sugawara sekarang mendapat panggilan telepon.

"Oh, kau tidak bisa datang hari ini?" mereka dapat mendengar suara Sugawara yang sedikit kecewa. "Ah, tidak apa-apa. Itu urusan yang penting bukan? Kita bisa ketemu lagi besok," terdengar kalau Sugawara sedang menenangkan lawan bicaranya.

"Wah, ini beneran Sugawara-san punya pacar?!" sahut Hinata tertahan namun bersemangat.

"Ouch, Hinata, kau menyikutku," desis Yamaguchi kesakitan.

"Gomen Yamaguchi."

"Sshh!"

"Kageyama, kacamata hitam dan topimu itu mencurigakan sekali!"

"Diam boke! Ini penyamaran tahu!"

"Tapi penampilanmu itu mengganggu!"

"Kalian diam!"

Seperti biasa, sekelompok gagak tidak mungkin dapat berdiam diri tenang.

"Ehem."

Serempak mereka menegang diam. Patah-patah mengalihkan wajah pada Sugawara yang kini telah berdiri di hadapan mereka. Berkacak pinggang dengan senyum yang biasanya memberi mereka semangat namun kali ini membuat semuanya menelan ludah takut.

"Boleh aku tahu apa yang kalian lakukan bersembunyi di situ, hm?"

Semuanya saling pandang, dalam batin kompak ingin kabur. Setelah saling sikut, memilih siapa yang harus diserahkan untuk menerima amukan anggota Karasuno yang biasanya paling baik ini.

"Siapa yang mau jawab?" Sugawara mengangkat sebelah alis.

Dan tanpa aba-aba …

"Eh? Eh?!" Asahi panik dan kebingungan begitu semua teman-teman setimnya mendorongnya maju. Ia berikan mereka pandangan terkhianati, yang dibalas pandangan maaf.

"Jadi?"

Asahi menelan ludah gugup dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Begini Suga, kau sepertinya aneh akhir-akhir ini, dan itu membuat kami penasaran."

"Dan kalian memutuskan untuk mengikutiku, begitu?" potong Suga yang tampak makin membuat Asahi ciut.

"Habis, Sugawara-san menyembunyikan sesuatu dari kami!" seru Hinata dengan wajah protes.

Hal itu membuat Sugawara tertegun.

Melihat kouhainya angkat bicara, Nishinoya ikut ambil suara. "Iya! Seharusnya teman tidak merahasiakan sesuatu dari yang lainnya kan!"

"Sugawara-san terlihat begitu senang akhir-akhir ini, rasanya sedih juga kalau kau tidak membaginya pada kami," ujar Yamaguchi pelan sambil menggaruk pipi.

Sugawara menghela napas dan kemudian tersenyum lembut. "Gomen, bukannya aku tidak percaya pada kalian, hanya saja ini bukan sekedar tentang aku. Aku juga tidak yakin bagaimana reaksi kalian nanti."

"Eh, memang kenapa?" Daichi mengerutkan dahi bingung. "Suga, kami teman mu. Kau selalu bisa cerita pada kami, dan kami tidak akan memberimu pendapat yang buruk kalau hal yang kau rahasiakan itu membuatmu senang."

Sugawara tersenyum bersalah pada sahabatnya.

"Omong-omong Sugawara-san, kau punya pacar ya?" sela Tanaka.

"Eh?" Sugawara tampak terkejut. Tapi kemudian ia menggaruk pipi, salah tingkah.

"Wah, beneran ya!" Nishinoya mulai melonjak semangat. "Dare? Apa kami mengenalnya? Apa dia dari Karasuno? Sekolah lain? Kapan kami bisa ketemu?"

"Woa, tenang Nishinoya," sahut Sugawara sambil tertawa menenangkan kouhainya yang menembaknya dengan rentetan pertanyaan. "Bagaimana ya…"

"Ayolah Sugawara-san, kenalkan pacarmu pada kami!" pinta Hinata dan Nishinoya berbarengan.

"Eh?" Sugawara tersenyum bingung.

"Sugawara-san, jangan pelit!" kali ini Yamaguchi, Tanaka, dan bahkan Kageyama ikut dengan Hinata dan Nishinoya merengek.

"Lakukan saja lah Suga," sahut Asahi. Ace Karasuno itu meletakkan tangannya pada bahu Suga. Ia tersenyum lembut pada Suga yang menatap ragu.

"Lagipula kami juga ingin tahu siapa orang yang dikencani sahabat kami ini," Daichi tersenyum jenaka. "Yah, kalau kau keberatan aku tidak akan memaksa kok."

Sugawara tersenyum dan kemudian menggeleng. "Tidak apa. Aku akan bicarakan padanya dulu, jika dia setuju nanti aku akan kenalkan dia pada kalian." Ucap Sugawara tersenyum cerah pada kouhai-kouhai dan sahabatnya.

"Hore!"

.

..

..

.

"Moodnya benar-benar bagus ya," komentar Hanamaki menatap Oikawa yang bersenandung sebelum melatih servenya.

"Saking bagusnya sampai membuatku ngeri," balas Matsukawa.

"Iwaizumi, kau tahu sesuatu? Sudah seminggu ini dia selalu tersenyum seperti orang bodoh," Hanamaki menoleh pada Iwaizumi yang sedang mengelap keringat di dagunya menggunakan kerah kaus latihan.

"Dia memang bodoh jadi aku tidak heran kalau dia bersikap seperti orang gila begitu," komentarnya. "Tapi aku tidak tahu kenapa dia sesenang ini. Dia tidak memberitahuku saat ditanya."

"Kurasa ini ada hubungannya dengan pacar baru yang minggu lalu dia ceritakan," sahut Kunimi dengan nada datar.

"Dia sama sekali tidak bisa berhenti membicarakan pacar barunya," sambung Kindaichi menggelengkan kepala atas sikap kaptennya.

"Iya juga sih," Hanamaki mengangguk setuju. Tapi Matsukawa nampak berpikir serius.

"Apa kalian tidak merasa aneh?" sahutnya.

"Aneh kenapa Matsukawa-senpai?" balas Yahaba bingung.

"Dia itu, walau tidak berhenti mengoceh soal pacarnya, sama sekali tidak pernah menyebutkan nama pacarnya," semua tertegun atas ucapan Matsukawa. Seolah baru menyadari hal itu.

"Eh, benar. Kenapa ya?"

"Jangan-jangan, pacarnya itu cuman ilusi?" sahut Yahaba ragu.

"Hah?" yang lain memandangnya heran.

"Ingat kan kalau dia baru putus? Mungkin saking patah hatinya dia jadi berilusi punya pacar?"

Hanamaki dan Matsukawa kompak tertawa. "Ku kira itu tidak mungkin. Kelihatannya dia biasa saja waktu kemarin diputuskan. Yah, bagaimanapun yang waktu itu dia tampak memang tidak serius," balas Matsukawa.

"Jangan-jangan pacar yang dia maksud itu voli? Kan dia sering putus larena alasan terlalu mementingkan voli. Siapa tahu akhirnya Oikawa-san memutuskan bahwa lebih baik pacaran saja dengan voli saking cintanya dengan voli," kini Kindaichi yang memberikan asumsinya.

Iwaizumi mendengus geli. "Yah, kalau itu Oikawa mungkin saja sih."

"Apa yang sedang kalian diskusikan, hm?" Oikawa mendekat dengan satu alis terangkat. Dia baru menyadari bahwa sebagian besar anggota reguler klub Seijou sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu bukannya latihan.

"Na, Oikawa," panggil Hanamaki. "Ada yang ingin kami tanyakan padamu."

"Tentang apa?"

"Yah…" Hanamaki melirik teman-teman setimnya yang semuanya mengangguk serempak. "Soal pacarmu itu, kenapa kau tidak pernah memberitahu siapa dia?"

"Tentu saja, rahasia!" balas Oikawa dengan memberi pose peace.

"Eh? Kau tahu, kami mulai berpikir kalau dia itu cuman halusinasimu," ujar Matsukawa.

"Memangnya kalian pikir aku ini semenyedihkan apa?!" protes Oikawa.

"Oikawa, kau bisa cerita pada kami kalau kau bermasalah, jangan malu," sahut Hanamaki lembut sembari menepuk pundak Oikawa dengan wajah penuh simpati.

"Hei!"

Iwaizumi tidak bisa lagi menahan tawanya. Pemuda berkulit kecoklatan itu terbahak memegangi perut.

"Iwa-chan, kau seharusnya membelaku!"

"Warui na," sahut Iwaizumi masih berusaha meredakan tawanya. "Tapi bagaimana caranya aku membelamu kalau aku sendiri juga tidak yakin pacarmu itu nyata," lanjutnya mengangkat bahu santai.

Oikawa mengerucutkan bibir sebal. "Dia nyata kok. Aku tidak memberitahu kalian karena aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman," ucapnya sambil memantulkan bola pada tangan seperti latihan receive.

"Oh, kau sepertinya serius dengan yang satu ini," komentar Hanamaki tertarik.

Sebuah senyum lembut terbit di wajah Oikawa. Ketiga rekannya yang kelas tiga saling pandang melihat ekspresi kapten mereka. Sebuah sinar hangat yang jarang terlihat memantul di matanya.

Hanya satu yang dapat mereka simpulkan. Oikawa benar-benar menyukai pacarnya ini. Siapapun dia.

"Kau harus memperkenalkan dia pada kami Oikawa," sahut Matsukawa mengembalikan atensi Oikawa. Pemuda itu berhenti bermain dengan bola voli yang dipegangnya.

Sekelebat ragu tergambar di wajahnya dan Iwaizumi kemudian menambahkan, "Maa, itupun kalau dia bersedia. Kami tidak memaksa, tapi kami memang ingin tahu orang seperti apa yang sangat kau suka itu."

Oikawa tersenyum lebar. "Aku bisa menanyakan pendapatnya. Kalau dia tidak keberatan, secepatnya akan ku kenalkan kalian dengan malaikatku itu."

Iwaizumi, Hanamaki, dan Matsukawa saling pandang dan tersenyum. Mereka akan sangat menantikannya.

.

Tbc

.

A/N:

Haloha~ ada Doujin yang judulnya Introduce My Boyfriend, imut banget, dan aku kepikiran mau bikin cerita kayak itu dengan nambahin versi di Karasuno, soalnya doujinnya cuman ngambil scene di Seijo.

Chapter pertama ini cuman kayak prolog ya. Fic ini cuman bakalan ada 3 chapter ^^

Aku ngepublish ini karena bertepatan dengan tanggal ultahnya Oikawa :)

Otaome…

Salam

Ai19