Bugh
Bugh
"Ibu! Ibu! Hiks! Hentikan ayah! Hentikan!" Jerit seorang bocah lelaki 7 tahun tatkala melihat sang ibu dipukuli oleh ayahnya.
Melawan rasa takut, ia mengepalkan tangan mungilnya. Mengabaikan air mata yang membasahi wajah, ia maju untuk mendorong sang ayah agar menjauhi sang ibu yang sudah kepayahan di lantai.
"HENTIKAN AYAH!!!" Jeritnya lagi namun kini sembari mendorong si pria dewasa.
Tentu lah tenaganya tidak ada apa-apanya. Namun gangguan kecil itu berhasil membuat si ayah berhenti menyerang si ibu dengan brutal. Naas bagi si anak karena tatapan membunuh itu beralih kepadanya.
"Masih belum kapok, Jaehyun? Pukulan ayah yang kemarin masih belum cukup?"
Anak kecil itu sungguh ketakutan, bayangan malam lalu ketika ia dihajar muncul lagi, tubuhnya kaku namun kaki dan tangannya gemetar. Bagaimana bisa lupa? Lukanya pun masih terasa sakit hingga kini.
Mata si anak menatap horor kala sabuk yang sebelumnya menjadi pecut untuk tubuh si ibu kini mengarah padanya.
Waktu terasa melambat tapi juga terasa cepat. Si anak bersiborok mata dengan si ayah, tatapan mata nyalang bagaikan hewan buas dengan mudahnya meneror si lemah.
Dengan gerakan lambat namun syarat amarah, lelaki dewasa itu berjalan sambil membuat gulungan sabuk di telapak tangan kanan. Seakan menjanjikan kesakitan luar biasa karena telah mengganggu urusannya.
Si ibu yang sudah terkulai lemah di lantai, menahan semua rasa sakit di seluruh tubuh. Dengan susah payah ia bangun. Tangannya gemetar tak kalah hebat dengan si anak. Namun semua sakit dan takutnya tidak lebih besar dari rasa cintanya.
Muak. Hanya itu yang dirasakan si wanita yang tengah menderita. Hanya satu keinginannya, yaitu kebahagiaan untuk anaknya.
"Tidak ada yang boleh menyakiti anakku." Bisiknya pada angin dengan wajah menakutkan. Diam-diam ia mengambil guci besar yang terletak di lantai, mengangkatnya tinggi-tinggi dan tanpa ragu memukulkannya ke belakang kepala si suami.
Praankk
Guci tersebut pecah, darah bercecer. Bahkan beberapa cipratannya menempel pada kulit dan tubuh si bocah lelaki.
Tangis si anak berhenti, matanya melotot lebar. Terlalu terkejut dengan apa saja yang baru terjadi.
Meski kepalanya baru saja terluka, tidak membuat si pria dewasa langsung ambruk. "BRENGSEK" teriaknya murka. Ia berbalik dan langsung mencekik pelaku yang telah melukainya.
Si istri melawan sekuat tenaga untuk melepas cekikan si suami. Dengan berderai air mata, rambut berantakan dan wajah yang kusut, matanya beralih pada si anak yang masih diam bagai batu.
"Pergi anakku, pergi." Ucapnya dengan suara serak yang kewalahan.
Ucapan sang ibu membuat si anak tersadar dari syoknya dan mulai kembali menangis. Di hadapannya adalah ayahnya yang bersimbah darah sedang mencekik ibunya yang penuh luka di tubuh. Apa yang bisa seorang bocah lakukan?
Si anak kecil melihat di depan matanya sendiri bagaimana ibunya mulai terbatuk dan melemas hingga akhirnya tubuhnya berhenti meronta. Mulut ibunya menganga dengan mata yang masih terbuka.
Lalu si ayah menghempas tubuh si ibu yang sudah tidak berdaya itu ke lantai sebelum berbalik untuk kembali memberi pelajaran pada si anak.
Tatapan mengerikan si ayah menusuk hingga ke sanubari terdalamnya. Pun juga tubuh si ibu yang terkulai di lantai dengan wajah mengenaskan. Saat itu lah si anak berlari meninggalkan ruangan terkutuk tersebut.
Namun suara berdebum membuatnya berhenti dan menengok ke belakang.
Si ayah sudah akan mengejarnya, namun sekejap kemudian ia ambruk ke lantai. Sekali lagi, si anak melihat bagaimana orangtuanya ambruk ke lantai. Lantai yang kini sudah menjadi kubangan darah ayahnya sendiri.
Semua kekacauan membuatnya pusing dan sakit kepala, perutnya bergejolak ingin memuntahkan isinya. Ia ingin menghampiri ibunya, membangunkannya, namun rasa mual dari darah ayahnya mendominasi.
Pun wajah kedua orangtuanya yang tergeletak di lantai sangat mengerikan dan menakutkan. Ia ingin kabur dari semua yang matanya lihat.
Akhirnya ia berlari, berlari dan terus berlari. Tak mengindahkan kaki telanjangnya, ia terus berlari menjauhi rumah. Berlari tanpa tujuan. Melewati sunyinya malam, dingin di bawah salju ia tahan.
Hingga akhirnya ia tak dapat menahan perih di telapak kaki, ia pun menggigil karena dinginnya udara yang menyakiti kulit dan hidung.
Entah berapa lama ia meringkuk sendiri dalam sebuah kolong pipa besar di daerah sebuah proyek. Giginya bergemeletuk, hidungnya sudah mengeluarkan cairan merah kental yang bahkan kini sudah mengering.
Jaehyun kecil merasakan kantuk yang luar biasa. Si bocah sudah bersiap tidur ketika secara tiba-tiba ada kehangatan menyelimutinya.
Ia bangun dari posisi meringkuknya. Merangkak keluar dari dalam pipa besar untuk melihat apa yang terjadi. Apa salju sudah berhenti turun?
Di ujung pipa tersebut, seorang kakak perempuan yang cantik tersenyum padanya. Rambutnya pendek dengan poni menutupi alis, bajunya terusan putih panjang yang terlihat tipis.
"Hey, Jaehyun." Ucapnya ramah.
Jaehyun kecil malang yang baru saja mengalami kejadian menyeramkan tidak bisa berkata apa pun. Ketika seorang asing menyebut namanya, ia menunduk takut.
"Aku tidak akan menyakitimu." Ucap si kakak perempuan asing dengan lembut.
Jaehyun beringsrut mundur dan batal untuk keluar dari pipa, ia bersiap kembali bersembunyi di dalam pipa besar. Di dalam pipa memang gelap, namun Jaehyun merasa aman di sana.
Tiba-tiba ada segerombolan cahaya kecil yang sangat indah beterbangan ikut memasuki pipa besar tersebut. Titik-titik cahaya itu menyebar di sekitarnya, seakan melindungin Jaehyun dari gelapnya malam.
"Mereka adalah kunang-kunang peliharaanku." Lagi-lagi si kakak perampuan asing bersuara dan lagi-lagi Jaehyun tidak menggubris.
"Kamu sangat menyukai mereka? Baiklah malam ini akan aku membiarkan mereka untuk menemanimu semalaman."
Jaehyun hanya menunduk, kembali dalam posisi meringkuk. Sekarang rasanya jauh lebih nyaman karena tidak ada lagi dingin yang menggigit kulitnya.
Meski pun menunduk, Jaehyun bisa merasakan kalau si kakak perempuan asing bergerak memasuki pipa dan merangkak mendekatinya.
"Biasanya manusia kecil akan bersikap norak dan berlebihan jika melihat peliharaanku. Tapi aku mengerti, malam ini pasti sangat menyakitkan untukmu." Ujarnya lagi lembut.
Jaehyun perlahan merasakan usapan di kepalanya, usapan yang halus dan hangat. Membuatnya sedikit nyaman.
"Kemarilah. Mendekat padaku."
Suara si kakak asing ini seperti menyihir Jaehyun, membuat si bocah lelaki menurut. Perlahan Jaehyun beringsrut mendekat, kemudian duduk tepat di sampingnya. Sangat dekat hingga pundak mereka bersentuhan.
Tapi nyatanya si kakak asing belum puas. Ia tertawa ramah dan mengusak rambut Jaehyun, "aku ingin memelukmu, sini naik ke pangkuanku."
Si bocah 7 tahun terdiam, ia tidak memberi respon sama sekali. Rasanya sudah cukup mereka duduk bersampingan seperti ini.
Tiba-tiba tubuhnya diangkat dan diletakkan di pangkuan si kakak perempuan asing. Jaehyun kecil didekap, dipeluk dengan erat namun tidak menyesakkan. Jaehyun merasakan ketenangan juga kedamaian.
"Tidak perlu takut lagi Jaehyun-ie. Ayahmu yang mengirimku kesini untuk menemanimu. Dia sangat menyesal karena sudah membuatmu takut."
Mendengar kosa kata 'ayah' membuat Jaehyun yang sudah merasa aman kembali menegang. Perasaan horor dan mencekam kembali ia rasakan.
"Hssttt. Ayahmu sangat menyayangimu, Jaehyunie. Jangan pernah merasa takut atau membencinya. Jaehyunie adalah segalanya bagi ayah Jaehyunie, ayah Jaehyun-ie bilang bahwa ia hanya orang bodoh yang sok tahu. Ia sangat menyesal sudah menyakiti Jaehyunie."
Jaehyun tidak tahu apakah yang dikatakan si kakak asing tentang ayahnya jujur atau bohong. Tapi menurut Jaehyun, kakak asing ini hanya tidak mengenal ayahnya yang jahat makanya bisa berbicara seperti itu.
Jaehyun menenggelamkan wajahnya diceruk leher si kakak asing. Ia kembali gemetar mengingat kejadian mengerikan beberapa saat lalu. Matanya terlalu lelah hingga tak mampu menangis lagi.
"Aku akan memberi miniatur peri kesukaanku supaya Jaehyunie tidak bersedih lagi."
Si bocah malang tetap tidak peduli. Namun mau tidak mau, ia harus melihat tatkala si kakak asing mendorong sedikit tubuhnya untuk mendongak. Lalu sebuah boneka kecil berwarna putih sudah berada di dalam genggaman tangan si kakak tersebut.
Sekelebat logika Jaehyun bertanya-tanya, bagaimana bisa ada boneka tersebut? Si kakak asing hanya memakai baju tipis yang tidak terlihat memiliki saku, pun orang itu bertangan kosong ketika mendatanginya. Tapi pikiran anak kecil yang sederhana tidak akan memperumit masalah seperti itu.
"Aku tidak suka moomin." Jawab Jaehyun dengan suara kecil dan wajah yang kembali menunduk.
Lama tidak ada respon dari si kakak asing membuat Jaehyun mengangkat kepala untuk melihat kenapa orang asing tersebut hanya diam.
Si kakak menyipit tidak suka, membuat alisnya berkerut. "Sekalinya membuka mulut justru hanya membuatku kesal."
Jaehyun pun kembali diam. Kesal si kakak asing pun dengan cepat menghilang, ia sudah kembali memeluk Jaehyun dan mengucapkan kata-kata yang menyenangkan untuk didengar.
Hingga akhirnya gelap perlahan menghilang dan langit berubah kelabu sebelum fajar menyingsing. "Aku akan bertemu dengan ayah Jaehyunie, apa ada yang ingin Jaehyunie sampaikan?"
Jaehyun terlihat berfikir sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang masih terdengar sangat rapuh. "Jangan memukul ibu dan aku lagi."
Si kakak perempuan asing tersenyum, kemudian menyisir rambut Jaehyun dengan jari-jarinya. "Ayah Jaehyunie tidak akan bisa menyakiti siapa pun lagi. Baiklah aku ganti pertanyaannya, jika ayah Jaehyunie pergi ke tempat jauh, apa yang ingin Jaehyunie katakan padanya?"
Jaehyun kembali teringat kondisi terakhir ayahnya yang jatuh ke lantai dengan bersimbah darah. Jika ayahnya yang penuh luka seperti itu harus pergi jauh, maka yang ingin ia sampaikan adalah, "ayah harus selalu sehat."
"Pasti akan aku sampaikan padanya. Jaehyunie memang sungguh anak yang baik, pantas saja ayahmu sangat menyayangimu."
Jaehyun kembali diam, ia tidak memiliki komentar akan ucapan si kakak asing tersebut. Karena nyatanya ia masih tidak percaya bahwa ayahnya yang galak dan pemarah menyayanginya.
"Sebentar lagi fajar datang, tidur lah. Anak kecil sepertimu memang tidak seharusnya begadang."
Ucapan si kakak asing terdengar seperti alunan musik pengantar tidur, Jaehyun kecil pun terlelap nyenyak dalam pangkuan dan pelukan hangatnya.
Jaehyun kecil terbangun sendirian di atas sebuah kasur dan ruangan serba putih. Ia linglung dan tidak tahu ada di mana dan bagaimana.
Yang terakhir ia ingat adalah bersembunyi di dalam pipa besar dengan seorang kakak perempuan kenalan ayahnya dan segerombol kunang-kunang peliharaan milik si kakak tersebut.
Ditangan mungilnya, ternyata tanpa sadar ia sedang menggenggam sebuah boneka moomin pemberian si kakak perempuan yang sebelumnya sudah ia tolak.
Beberapa waktu kemudian ia tahu bahwa ayahnya meninggal malam itu juga, di hari terakhir mereka bertemu.
Beberapa waktu setelahnya ia diberitahu bahwa ibunya selamat tapi harus mendekam di penjara. Jaehyun kecil tidak mengerti apa pun permasalahannya.
Yang ia tahu hanya, ia kini hidup sendiri tanpa orangtuanya menemani. Boneka moomin mini yang beberapa saat lalu ia tolak justru menjadi benda paling berharga miliknya.
20 tahun kemudian
Bocah kecil yang malang sudah berubah menjadi pria dewasa yang gagah perkasa. Perawakannya tinggi tegap dengan wajah yang rupawan. Jaehyun tumbuh menjadi sosok yang memukau.
Masa kecil yang menyakitkan dan masa remaja yang menyedihkan menempanya menjadi pribadi yang kuat dan tegas. Bahkan karisma dan wibawanya terkadang melebihi orang-orang yang lebih tua darinya.
Berjalan kaki sendirian menahan dingin, ia berniat hanya akan pergi ke minimarket 24jam. Sayangnya entah kenapa toko tujuannya tutup. Ia putuskan berjalan lebih jauh untuk menuju toko yang lain.
Udara malam membuatnya menggigil, ia berjalan cepat sembari mengeratkan jaketnya. Jaehyun tidak suka rasa dingin, namun ia suka salju dan warna putih. Itu lah yang membuatnya tetap bersemangat untuk keluar rumah di malam bersalju ini.
"Hiks hiks hiks." Sayup-sayup terdengar suara anak kecil menangis. Makin lama makin terdengar jelas.
Pria berusia 27 tahun itu menghentikan langkahnya, melihat sekitar sekaligus juga mempertajam indera pendengarannya guna mencari sumber suara isakan.
"Hiks hik hiks"
Lalu Jaehyun menemukannya, seorang anak kecil yang menangis sendirian itu terduduk di bawah sebuah pohon. Segera Jaehyun kembali berjalan cepat untuk menghampirinya.
Namun langkah Jaehyun terhenti tatkala matanya melihat suatu kejadian yang ganjil. Benar-benar tidak masuk di akal.
Satu titik cahaya seperti kunang-kunang lambat laun muncul dari kegelapan, lama kelamaan titik cahaya tersebut makin banyak. Titik cahaya seperti kunang-kunang itu berkumpul lalu membentuk cahaya yang menyerupai bentuk tubuh manusia.
Lalu cahaya tersebut meredup, seketika bentuk tubuh manusia yang terbentuk dari cahaya benar-benar berubah menjadi sosok manusia. Kemudian titik-titik cahaya tersebut kembali terang. Kini ada sekolompok kunang-kunang dan satu manusia berada di hadapan si anak kecil.
Sayang sekali anak kecil itu menyembunyikan wajahnya di lutut sehingga tidak melihat kejadian aneh tersebut.
Jaehyun hanya bisa membolakan matanya. Ia merasakan de javu, de javu pada dirinya sendiri puluhan tahun lalu. Ia selalu mengira kejadian 20 tahun lalu itu adalah khayalan, mimpi yang diciptakan otaknya sendiri untuk menghibur dirinya.
Bayangan-bayangan serta imajinasi-imajinasi buatan untuk membantunya melewati rasa sakit dari tragedi kedua orangtuanya yang terjadi di depan mata. Meski boneka moomin itu benar-benar ada, ia menganggap benda itu hanya kebetulan berada di sana.
Ingatannya dipaksa kembali mengelana pada malam itu, berusaha mengingat semuanya. Ia bisa mengingat wajah, rambut dan pakaian yang dikenakannya.
Semua itu sama persis dengan yang ia lihat sekarang, meski ia sekarang hanya dapat melihat punggung makhluk ajaib itu saja dan bukan wajahnya. Ditambah dengan kunang-kunang yang katanya adalah peliharaannya. Sama persis.
Saat keterkejutannya masih belum selesai, ia mendapat kejutan lain. Jaehyun dapat melihat si makhluk ajaib menyodorkan sebuah boneka moomin berukuran kecil. Seakan hal tersebut mengkonfirmasi semua dugaannya.
Entah ia ingin tertawa atau menangis.
Otomatis ia mengingat kehangatan yang diberikan makhluk itu. Entah ia malaikat atau jinn atau bahkan iblis sekalipun Jaehyun tidak peduli. Rasa damai dan aman yang ia dapat, kata-kata lembut yang ia terima, semua benar-benar terjadi.
Selolos air matanya jatuh. "Ayah.." lirihnya sedih. Hidup yang ia lalui sangat berat dan ia menyalahkan ayahnya untuk semua itu.
Ibunya yang menjadi korban kekerasan bahkan mendekam di penjara dengan masa kurungan seumur hidup karena pengadilan memutuskan bahwa ia sudah membunuh suaminya.
Tidak adil. Tapi itu lah yang terjadi.
Tiba-tiba semua kebencian di dalam hati menyeruak kembali ke permukaan. Pahitnya kehidupan kembali terasa di lidahnya. Menenggelamkan semua kebahagiaan yang susah payah ia dapat setelah kejadian tragis itu.
Jaehyun merindukan pelukan dan sentuhan hangat itu.
Ia ingin sekali berlari dan memeluk sosok indah berpakaian putih itu. Haruskah?
end atau continue? tidak tahu.. hehe.
parah banget aku nulis jaeren, padahal noren jaewin belom kelar. wkwk.
gomawong~ udah baca juteyong~ hehe.
