ROYALTY
by Gyoulight
.
.
.
.
A CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Drama (?)
RATING: T (?)
.
.
.
.
Baekhyun tidak mengapa saat Kris mengoceh berjam-jam di dalam mobil. Telinganya sudah terbiasa dengan ribuan tipe omelan. Pria itu tahu kemana ia pergi setelah menghilang beberapa menit. Meski Baekhyun mengaku jika ia pergi ke kamar mandi karena urusan pencernaan, Kris tentu tidak bisa dibodohi.
Seharian mengikuti Kris, Baekhyun akhirnya tahu bagaimana kesibukan menjadi orang penting. Terlebih menggantikan ayahnya, pria itu tentu harus bisa melakukan semua pekerjaan, termasuk mengenalkannya dengan bisnis hingga tengah malam.
Baekhyun tidak tahu bagaimana ia berakhir nyaris tertidur di atas bukunya. Dengan Kris yang masih penuh kesadaran menuliskan sesuatu di papan tulis. Masih memunggunginya tanpa belas kasih sedikitpun. Pria tinggi dengan gurat kerasnya itu masih mengabaikannya yang seolah berteriak lelah. Hampir meregang nyawa dengan gunungan buku. Sayangnya, sampai detik ini Baekhyun tidak pernah mengeluh. Padahal sudah berjam-jam Kris menahan amarah padanya.
Dan percikan amarah itu berhasil dilampiaskan ketika sebatang spidol dihempas keras ke permukaan lantai. Benda itu berakhir menggelinding bebas di bawah kolong meja Baekhyun. Bahkan untuk sesaat Baekhyun mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan Kris pada papan itu semakin tidak jelas bentuknya. Pada bagian kata akhirnya pun tercoret panjang, tidak terbaca.
Kris berakhir menatap tajam kedua matanya. Tidak peduli seberapa mati kantuk Baekhyun ditahan, pria itu tetap gila mencari solusi. Maka langkahnya mendekati meja dimana temannya duduk, hendak menghentak benda itu dengan kedua tangan di setiap sudut. Kris kini terlihat tidak peduli jika Baekhyun takut. Sama sekali tidak mundur pria itu menagih sebuah jawaban.
"Katakan Baek, ini tidak benar, bukan?"
Baekhyun berkedip bingung. Menyelam ke dalam sepasang hazel coklat seorang Kris. Pria itu jauh terlihat berbeda. Kali ini perlakuan Kris adalah hal yang sama dengan sikap dingin yang selalu diceritakan Wendy. Rahang tegas itu seakan tengah menjelaskan banyak hal. Sebab tinggal lama dengan bayangan Kris adalah alasan mengapa Baekhyun begitu pintar membaca maksud pria itu.
"Kau tahu jika Chanyeol merencanakan pembunuhan rapi untukmu?" lanjutnya bertanya.
"Kris, aku tahu ini cukup gila tapi─"
Belum selesai dengan bicara, Kris buru-buru memotong kalimatnya. "Please, Baek, kau seharusnya tidak melangkah sejauh ini untuknya. Kau tengah dipermainkan."
Kris menegakkan punggung. Melakukan aksi protes dengan berbalik dan berputar di hadapannya, seakan dunia ini tengah menghitung detik-detik bom meledak. "Aku tidak masalah jika kau menjadi orang sepertiku. Tidak masalah jika kau menyukai pria atau wanita. Tapi Chanyeol bukan sebuah pilihan─"
"Aku menyukainya." Baekhyun penuh yakin menjawab. Jika sebelumnya ia meragu masalah perasaan, kini biarkan dirinya mengakui dengan benar. Bahwa ia tidak bisa berada jauh dari Chanyeol. Merasa membutuhkan pria itu seperti bagaimana paru-parunya memasok oksigen yang membuatnya hidup. Atau perandaian lain yang membuat Kris akan muntah selama sisa hidupnya. Ia tahu jika Kris bukan orang yang suka mendramatisir sesuatu. Pria itu benar akan menganggapnya konyol karena menyukai Chanyeol sekarang.
"Seperti kau mencintainya?"
Demi Tuhan, kali ini Kris lebih koyol dari deskripsi Baekhyun. Alis Kris sudah menukik, begitu tajam. Satu-satunya alasan yang membuat Kris tahan selama ini adalah Baekhyun bukanlah seseorang yang memiliki penyimpangan dalam hidup.
Namun Baekhyun tetap mengiyakan terkaan Kris yang tidak masuk akal. Dengan tenang ia menjelaskan, bahwa dirinya telah memilih untuk menjalani hal yang tidak diperbolehkan. "Kris, ini masalah yang tidak bisa aku kendalikan. Masalah yang rumit, sebuah perasaan─"
"Tapi ini salah."
"Aku tahu, Kris."
Untuk sesaat Kris terdiam. Mencari kembali jawaban yang melontar dari tatapan jujur Baekhyun padanya. Ia pun tahu jika Baekhyun tidak akan pernah berbohong. Jikalaupun ingin, kali ini bukan saatnya.
"Baek, ayahmu sudah berharap banyak padamu. Jika kau tetap tidak memikirkannya, entah apa yang akan terjadi."
"Dia bahkan tidak bisa membuktikan jika aku benar putranya."
"Bukti apa lagi yang kau butuhkan jika semuanya telah jelas?" Kris menahan amarahnya kembali. Tidak habis pikir ia jika Baekhyun masih mempertanyakan perihal jati diri setelah sekian lama melalui segala hal. "Ibumu mengandungmu jauh sebelum hubungan mereka hancur karena─"
Bagai dihantam sesuatu, Baekhyun terdiam sesaat. Seolah tidak percaya, dan tentu tidak akan pernah percaya jika Kris menyimpan banyak cerita darinya. "M-mereka─apa?"
Kali ini Kris terdiam menggantung kalimatnya. Tatapan pria itu kosong untuk bertemu pandang dengan Baekhyun yang menuntut. Bahkan ketika pintu perpustakaan dimana mereka beradu bicara terbuka lebar, memunculkan sosok Chanyeol yang entah darimana memiliki keberanian untuk masuk.
Jelas Kris marah karena kedatangan seseorang yang tidak diharapkan. Bagaimana tidak, semua buku di atas meja beralih disingkirkan oleh Chanyeol. Mengabaikan Kris yang sudah ingin mencakar dinding, Chanyeol kini menarik tangan Baekhyun ke dalam genggamannya.
"Kau membawanya berkeliling seharian, itu sudah cukup untuknya." Chanyeol berkomentar ketika Baekhyun tersadar bahwa posisinya tengah berada dalam medan api. Kantuknya hilang seketika, digantikan dengan mata yang membola lebar, awas akan kemurkaan Kris di depan sana.
"Lepaskan," perintah Kris tegas. Telah terlihat bagaimana pria itu menahan emosi di kepala. Hendak meledak jika saja detik ini bukan jam malam. Seisi rumah butuh ketenangan, dan ia tidak ingin membangunkan orang-orang penting untuk mengendus gosip miring, soal Chanyeol yang berani melangkahi aturan. Menggenggam jemari adiknya sendiri dengan satu-satunya sebab─sebuah perasaan.
"Chanyeol," panggil Baekhyun menarik kemeja milik pria tinggi itu. Menginginkan Chanyeol memahami situasi yang bisa berubah menjadi lebih buruk, kemudian berharap pria itu berbaik hati melepaskannya.
"Aku memperingatkanmu," ujar Kris memperingati.
Namun Chanyeol tetap menggenggam jemari Baekhyun erat. Berupaya untuk membuat Kris menyerah. Alih-alih mencegah semua kisah kedua orang tuanya dibongkar. Chanyeol tidak suka mendengar cerita-cerita pahit yang ia alami ketika kecil. Dan ia percaya jika Baekhyun setuju untuk tidak berminat mendengarnya. "Kau bisa mengatakannya pada ayahku. Bilang padanya bahwa tidak ada seorangpun yang bisa melarangku."
Beberapa detik kemudian, Chanyeol menarik Baekhyun keluar dari sana. Pria itu terlihat begitu kesal, langkahnya panjang-panjang diayun. Lupa diri untuk mengimbangi langkah Baekhyun yang kecil. Sementara Baekhyun hanya melirik punggung lebar di depannya. Pikirannya berhasil terbang pada perkataan pria tinggi itu terakhir kali. Pun untuk semua kalimat Kris padanya, Baekhyun mempertimbangkan mereka dengan sangat baik.
"Menurutmu, apa Kris akan mengatakannya?" tanya Baekhyun yang membuat langkah panjang Chanyeol terhenti pada muka pintu. Raut gelisah Baekhyun rupanya bukan karena mereka sampai pada lorong sayap kanan. Dimana lorong tersebut begitu sepi selain dihuni oleh mereka berdua.
Dan karena bukan kamarnya, Baekhyun bertambah resah jika suatu waktu mereka akhirnya bertemu sang ayah dengan kebersamaan yang 'aneh'. Tentu ini akan menjadi hal yang rumit. Bagaimana jika mereka akhirnya dipisahkan dengan kisah yang tidak disangka seperti peringatan Kris barusan?
Mengerti kegelisahan seseorang yang digenggamnya, Chanyeol berubah muram. Entah apa yang ada di dalam pikirannya karena telah melontarkan kalimat demikian pada Kris. Padahal Chanyeol tidak siap, ia tahu benar bagaimana ayahnya. Bahkan keterdiaman ayahnya sejak lama ini pun membuatnya bertanya-tanya tentang apa saja yang telah pria tua itu lakukan selama ini. Apa yang ayahnya rencanakan, atau mungkin ada sesuatu yang ayahnya ketahui, ia benar-benar ingin tahu.
"Kris selalu punya alasan. Jika dia mulai marah, dia pasti tengah dikacaukan sesuatu─"
Merasakan genggaman itu merenggang, Baekhyun segera menyesali perkataannya. Pun saat jemarinya dilepas, barulah teringat ia dengan Chanyeol yang tidak menyukai kisah orang lain disaat yang tidak tepat. Pria itu sudah kepalang kesal, tidak memungkinkan baginya mendengar sesuatu yang bukan urusannya.
"Aku hampir tertidur karena menunggumu. Aku menyiapkan banyak hal tapi kau tidak kunjung datang." Chanyeol mengeluh demi rencana makan malam sederhana yang sudah ia susun di suatu tempat. Benar-benar mencoba untuk tetap tenang demi kebaikannya dan juga Baekhyun. Tidak seperti pemikiran pujaannya, Chanyeol rupanya tengah memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada soal Kris yang dibawa-bawa. Ia tentu lebih memikirkan keraguan yang terbaca pada wajah lelah Baekhyun malam ini.
"Aku hanya menginginkan waktumu sebentar."
"Maaf," Baekhyun menunduk menyesal. Ia bersumpah untuk menyesal karena seakan menggagalkan rencana mereka yang sudah dua kali tertunda. Ia tidak mungkin membuat Chanyeol terus menunggu, sebab pria itu bukanlah seseorang yang akan bermain-main dengan rencana.
Chanyeol menggapai puncak kepala Baekhyun. Mengelus surai halus si pemuda dengan penuh sayang. Berakhir dengan tatapan menyesal yang begitu besar. Chanyeol mungkin tidak mengatakan maaf pada Baekhyun, tapi dari raut itu siapapun tahu jika Chanyeol sedang mengakui semua kesalahan.
"Aku khawatir saat mereka bilang kau sering menolak untuk makan malam," ujarnya.
Sayang, Baekhyun tidak begitu tersentuh oleh penyesalan Chanyeol yang besar. Ia hanya memperturutkan resah. Ketidakdamaian hidup membawa Baekhyun menjadi seseorang yang labil dalam membuat keputusan. Berakhir dengan pikirannya yang penuh, menjadi tidak berminat dengan pembicaraan panjang.
"Tidak, Chanyeol─bukannya aku tidak menginginkannya. Ada banyak hal yang membuatku berpikir akhir-akhir ini. Jadi─"
"Kau butuh istirahat," maka kata Chanyeol. Menyingkirkan lagi-lagi tangannya dari jangkauan Baekhyun yang ia butuhkan. Sekali lagi, ia tidak berhasil membuat pemuda itu bernafas dengan tenang.
Namun bukannya menawarkan tinggal, Chanyeol justru menyuruh Baekhyun lekas pergi. "Kau bisa kembali ke kamarmu."
Baekhyun kini mendongak mencari kedua manik Chanyeol yang tidak berkedip. Ia mendadak merasa kehilangan sesuatu. Ada gurat kecewa ketika Chanyeol tidak berusaha keras membujuknya. Ia pun mengusap matanya yang berair. Merasa tidak berhak untuk kecewa setelah menyebabkan ini semua. Dipikir dirinya siapa hingga Chanyeol harus mengorbankan hidup demi meladeninya.
"Kau juga lelah, bukan?" gumam Baekhyun tersenyum pilu. Lantas mencoba berbalik untuk pergi. Merasa ini adalah pilihan terbaik, kesempatan besar untuk mendinginkan kepala. Juga, ia tidak ingin berakhir begini dengan Chanyeol.
"Tidak bisakah kau tinggal?" tanya Chanyeol di belakang punggungnya. Pria itu masih berdiri di depan pintu ketika ia berbalik. Menunggunya kembali, tidak masuk ke dalam kamarnya seperti dugaan.
Baekhyun tergugu. Kalimat itu terlalu jelas untuk didengar siapapun. Mendengung di telinganya bagai dentingan jam dinding sebagai pengingat waktu. Pun sepasang biner yang menangkapnya sepi itu tengah memohon untuk menyuruhnya tidak pergi. Tanpa disangka semua itu membuat sebuah kekuatan besar untuknya berdiri. Membuat langkah kecil Baekhyun mengayun, mengarah perlahan pada jarak lantai yang memisahkannya dengan Chanyeol.
Baekhyun nyatanya bisa yakin untuk menggapai tubuh itu untuk dipeluknya. Seakan Chanyeol akan menguap, hilang dari muka bumi dan tidak akan pernah ditemukan kembali. Chanyeol sendiri membalas pelukannya erat. Membisikkannya sekali lagi kata yang begitu tulus dan juga hal lain yang ingin ia dengar.
"Kau menghadapi ini denganku. Kau hanya perlu menggenggam tanganku. Dan aku tidak akan membiarkan seorangpun menghalangi kita─sekalipun itu ayah."
Dan setidaknya pelukan itu membuat Baekhyun tenang. Mencoba yakin bahwa esok hari adalah hari yang lebih baik untuk mereka. Lantas keduanya berakhir menikmati kisah di ujung malam. Memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua, tidak pernah menyadari bila seseorang tengah menyaksikan dengan mata penuh amarah.
e)(o
Meja tertata rapi seperti biasa. Sarapan dengan menu sehat memenuhi meja bak selimut pagi yang menawan. Di sisi kanan meja duduk Jongin dan Sehun yang mendadak tenang. Keduanya tidak lagi meributkan sesuatu yang tidak penting. Sementara di seberang mereka, Baekhyun dan Chanyeol sudah mengisi kekosongan kursi.
Lalu kursi tengah kembali kosong tak terisi oleh sang ayah, namun di sisi ujungnya baru saja terisi oleh Seyoon. Empat hari sudah wanita itu bergabung dengan keluarga Park. Meski si kembar menunjukkan ekspresi tak sukanya, Seyoon tetap unjuk diri tanpa diperintah.
Sehun boleh saja muak dengan pemandangan paginya. Ia menyelesaikan sarapan lebih cepat. Meninggalkan setengah porsi lalu mengambil buah apel di tengah. Tidak ada kata apapun selain suara langkahnya yang bosan. Pria berkulit pucat itu pergi sebelum Jongin sibuk dengan panggilan telpon.
Keterdiaman semua orang kemudian menjadi alasan untuk Baekhyun menyelesaikan sarapannya tak kalah cepat. Ia tertekan seakan menjadi seseorang yang harus menepi. Pikirnya, Seyoon tengah mengamatinya sejak terakhir kali mereka bertemu. Bahkan sekarangpun wanita itu terlalu sering meliriknya dingin. Entah apa yang terjadi sampai orang di sampingnya itu hanya diam tanpa menyuarakan kalimat apapun soal Chanyeol seperti kemarin.
Tiba pada Baekhyun yang mengangkat piring sarapannya yang telah tandas. Sengaja memberi ruang untuk Chanyeol dan Seyoon jika ingin saling melempar pertanyaan. Karena baginya, mereka seperti membutuhkan hal itu. Sedikit tidak mereka bisa meluruskan ketegangan lalu meluruskan permasalahan yang ada. Bukankah itu akan menjadi lebih baik? Mereka bisa berdamai seperti pasangan cerai di luar sana. Bukan saling memaki satu sama lain, atau saling menghindar begini.
Tapi bukan urusan Baekhyun pula untuk mengharapkan keduanya berdamai. Berharap saja ia enggan, apalagi membiarkan Chanyeol berinteraksi dengan mantan istrinya. Memikirkannya saja membuat Baekhyun malas mencuci piring kotor.
Seorang pelayan dengan rambut pendek menghampiri kemudian. Meminta dirinya menyingkir dan menyerahkan pekerjaan kecil yang tengah ia lakukan. Penolakan Baekhyun bukannya tanpa alasan, ia hanya perlu menjauh dari dua sosok yang jauh di belakang punggungnya itu. Membutuhkan pekerjaan tambahan untuk mengalihkan pemikiran-pemikiran pendek yang mudah menyerang. Sebab Baekhyun tidak senang mengerutu kesal. Ia tidak punya hak untuk mengutuk siapapun. Bahkan untuk hatinya yang berat, ia perlu mengatasinya sebelum terlambat.
Hentakan piring yang berbentur dengan tempat cuci kini semakin menggema. Baekhyun tidak pernah menyadari jika Chanyeol menyusulnya. Mengambil sabun cuci piring tanpa berpikir dua kali, lalu melakukan pekerjaan rendah ini dengan kedua tangannya. Pelayan yang sejak tadi melarang bahkan sudah terusir. Bersikap patuh pada perintah Chanyeol untuk pergi menjauh.
Hampir satu menit berlalu, Baekhyun belum juga tersadar dari kebingungan. Masih menyaksikan Chanyeol yang merampas piringnya, membuang sisa makanan yang belum habis ia makan ke dalam tempat sampah, dan semua hal itu membuat Baekhyun terpaku sedemikian rupa. Siapa yang bisa menyangka bahwa pria tinggi itu bisa melakukan kegiatan mencuci piring sebaik ini?
"Aku tahu, aku memang tampan dari sisi manapun."
Mendengar celotehan tak terduga itu, Baekhyun justru ingin menjatuhkan rahangnya ke lantai. Ia lalu bersumpah jika ia menyesal karena sudah terpaku demikian pada Chanyeol. Akibatnya, dada Baekhyun kini meraung-raung mempertanyakan getaran apa yang berhasil merembet, sampai pipinya sepanas ini. Tapi serius, Chanyeol yang menggulung lengan kemejanya itu terlihat luar biasa menawan. Tidak peduli dengan pekerjaan apapun yang dilakukannya. Chanyeol yang memungut sampah di jalanan saja Baekhyun yakin akan tetap terpesona.
"Kau meninggalkannya sendirian?" Diam-diam Baekhyun sempat menoleh ke belakang. Memeriksa keterdiaman Seyoon setelah kepergian Chanyeol dari kursinya, nyaris seperti tidak punya pekerjaan yang berarti. Baekhyun saja heran sendiri mengapa dirinya bisa sepeduli ini pada Seyoon.
"Aku sudah selesai," jawab Chanyeol terus mencuci piring-piring yang ada. Dan bukan tanpa alasan Chanyeol mengacaukan area bersih-bersih di rumahnya. Pria itu enggan pula berinteraksi dengan mantan istrinya. Jadi ia butuh sesuatu yang bisa mengatasi kemarahan.
"Tidakkah kalian membutuhkan sebuah pembicaraan?" Baekhyun menggenggam spons yang telah lama berada dalam genggaman. Sebenarnya ada nada berat saat ia menyuarakan pertanyaan demikian. Namun dibandingkan dengan menonton drama rumit yang menimpa Chanyeol, bukankah lebih baik menyarankan sesuatu? Siapa tahu bisa cepat mencapai ending.
Tapi sayang, Chanyeol bukan pria yang akan mengambil jalan tengah dalam menjalani hidup. Ia selalu jadi pihak yang dikabulkan permohonannya. Sekalipun ia tidak pernah memohon untuk sesuatu, apalagi membicarakan permasalahan tanpa dendam. Chanyeol tidak akan pernah demikian pada seseorang yang tidak dikehendakinya.
"Baek, aku tidak punya urusan lagi dengannya."
Sepasang manik itu kemudian membayangi Baekhyun dalam-dalam. Baekhyun pun tak kunjung bicara lagi saat berhasil mencuci tangan dari busa cuci. Dan ini adalah pilihan Chanyeol, jadi ia pikir untuk apa membujuk seseorang yang berkepala batu?
Baekhyun bukannya marah, hanya saja mengganggap hal ini terserah pada si pelaku. Karena sekali lagi, ini bukan urusannya.
Chanyeol dengan senang hati membiarkannya mendahului. Menaiki anak tangga putar, kemudian berjalan masuk ke sayap kanan rumahnya. Tidak ada yang terpikirkan oleh Baekhyun selain berusaha menghindari tatapan Seyoon yang terus mengawasi dari meja makan. Ia hanya perlu pergi menjauh, membiarkan dirinya terbebas dari Chanyeol. Sebab ia ingin pria itu tetap di sisinya. Baekhyun hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.
Mendapati jendela besar di salah satu dinding, Baekhyun tertarik mendekat. Membiarkan sinar pagi menyelimuti, lengkap dengan pemandangan halaman depan yang dipenuhi guguran daun. Sekali lagi Baekhyun berandai, ada banyak 'jika' yang terpikirkan dalam kepalanya. Dimana salah satu 'jika' yang ia sebutkan membuatnya selalu merasa salah.
Bukankah ia tidak akan pernah mengenal Chanyeol jika ia menjadi orang lain?
Genggaman yang berhasil mengenai kulitnya─Baekhyun tidak akan tahu seperti apa rasanya jika tidak menjadi Park Baekhyun. Senyum manis bak gula, tubuh tinggi yang selalu membuatnya mendongak, kemudian dekapan yang ia rasakan kini mungkin tidak akan pernah sampai jika ia bukan Park Baekhyun. Bukankah lucu jika Baekhyun masih berandai?
Baekhyun nyaris lupa dunia saat Chanyeol berhasil menyusul dan meraih jemarinya. Menghimpitkan bahu mereka di dekat jendela mungkin menjadi pemandangan asing bagi yang melihat, tapi sepertinya Chanyeol memang tipe orang yang akan memberontak jika merasa hidupnya tidak adil. Pria itu tidak peduli, meski kini salah satu pelayan menemukan mereka di bawah sana.
Lantas Baekhyun merasakan dadanya meledak cepat. Bukan karena dirinya merasa gugup, ia hanya tidak bisa menebak masa depan yang tidak terbayangkan. Takut kalau-kalau mereka dipisahkan karena ketahuan. Tidak bisa bertemu seperti saat ini, bahkan untuk bicara.
"Aku akan bicara dengannya," ujar Chanyeol lembut. Pria itu tiba-tiba merasa yakin jika ia akan baik-baik saja jika menuruti kemauan Baekhyun. "setelah aku meminta seseorang untuk mencari tahu─untuk meyakinkanmu."
Baekhyun mencoba melawan degupan keras dadanya untuk menatap kemana manik hitam itu mengarah. Chanyeol disana dengan wajah penuh puja. Minta dipuji sedemikian rupa, tapi Baekhyun menolak mentah. Pun ia dapat merasakan pria itu menggenggam jemarinya begitu erat, seakan sosok itu takut ia menghilang.
"Chanyeol, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan soal─" Baekhyun menjeda, sebab semakin gugup karena ditatap lekat oleh si pelaku yang berhasil mengacaukan ketenangan perasaannya.
Chanyeol lalu semakin dalam menenggelamkannya. Seulas senyum berhasil Baekhyun temukan di wajah itu, yang kemudian sosok itu mendekat. Menyentuh wajahnya untuk dibawa ke hadapan.
"Baekhyun,"
Ditatap sedekat itu entah mengapa memberi reaksi fatal dalam diri Baekhyun. Terlebih ketika suara berat itu menyebutkan namanya, entah bagaimana dunia ini terasa mudah sekali terhenti. Merasakan banyak sensasi yang menghujani kepala, hingga kupu-kupu berhasil terbang mengelitiki perut.
Chanyeol mendorong bahunya kemudian. Membuat punggungnya merapat pada dinding di sebelah jendela. Pria itu pun berani memberi kecupan singkat di bibirnya. Bahkan setelah itu Chanyeol tidak mau menyingkir. Malah menempelkan dahinya nyaman, lengkap dengan bisikan-bisikan yang membuat Baekhyun tidak bernyali membuka mata.
"Aku berdiri tepat di depanmu, dan kupikir itu cukup karena kau berdebar sekarang─" Chanyeol sedikit memundurkan kepalanya kemudian. Namun kedua maniknya tak lepas menyaksikan tundukannya yang gugup. Pun Baekhyun tidak pernah tahu jika dirinya yang merona adalah bagian favorit Chanyeol.
"Bisakah kita membicarakan hal lain? Aku tidak menghabiskan sarapanku, ngomong-ngomong," lanjutnya terus berbisik.
Dan Baekhyun masih tidak bersuara. Ia tahu benar maksud kalimat itu. Chanyeol terdengar menginginkannya sampai ia tidak mampu menatap. Meski lantai di bawah kakinya terlihat hening, ini bukanlah waktu yang tepat bagi Baekhyun. Namun disinilah Chanyeol mencium bibirnya kembali. Membawa dirinya semakin merapat di sudut, mengizinkannya meraih apapun yang bisa ia jangkau, dan entah kemana lagi Chanyeol akan membawanya pagi ini.
e)(o
Baekhyun mungkin menjadi pihak yang sulit terbuka pada Chanyeol. Pemuda yang jauh lebih muda darinya itu hanya mengatakan yang terpikirkan, perihal dirinya, lelucon, pendapatnya soal pakaian yang ia kenakan, bahkan untuk sesuatu yang bagus untuk dinikmati saat malam, tapi tidak dengan masalah yang menguasai dirinya. Dan kali ini Baekhyun memberanikan diri untuk mengundangnya menghabiskan waktu di luar setelah lama bersembunyi di balik dinding rumah.
Selain dirinya, Baekhyun kadang punya ide cemerlang soal kabur dari mata-mata Kris. Pemuda itu mengenal Kris lebih baik dari siapapun. Dan berkat Kris, tidak ada rahasia yang terdengar oleh ayah mereka. Pria itu menyimpannya dengan rapi namun masih memberikan saran yang cukup keras. Sehingga Baekhyun menyarankannya untuk lebih berhati-hati, walaupun sebenarnya Chanyeol jauh tidak peduli pada hal-hal seperti ini.
Bagi Chanyeol jatuh cinta bukanlah sebuah dosa. Ia paham bagaimana perasaan manusia tumbuh dengan sendirinya. Dan ia pun yakin, sebuah perasaan bukanlah sesuatu yang manusia ciptakan sendiri, melainkan sebuah pemberian Tuhan yang menghendaki. Jikalaupun hal ini adalah sebuah hukuman atas semua kesalahan yang Chanyeol perbuat terhadap Baekhyun, bagaimana dirinya kini jatuh bertekuk lutut di kaki Baekhyun, baginya tidak mengapa. Kenyataan ia mendapatkan karmanya sendiri bukanlah hal yang harus diratapinya serius. Ia hanya harus percaya, bahwa ini adalah sebuah alasan meski dirinya tidak sepenuhnya paham tentang apa.
Tuhan mungkin tengah memberi Chanyeol pukulan yang cukup keras agar ia segera meneruskan hidup. Tidak hidup dalam bayangan Baekhyun, dalam perasaan berpusat pada Baekhyun, dan bukan nama itu pula yang seharusnya Chanyeol panggil berulang kali saat rindu.
Tapi Chanyeol hanya ingin Tuhan terus menghukumnya.
Karena tidak masalah. Hanya perlu meniti bagaimana perasaannya sendiri meletup. Mengalun dengan indah, bagai debur ombak yang kini menghantam kedua kakinya. Rasa cintanya telah mengeras sekeras karang, terlalu batu untuk membiarkan perasaannya hanyut dibawa kenyataan. Selama Baekhyun berada di sisinya, mengisi kekosongan jemarinya, bersedia memeluknya di bawah terik yang berperang dengannya, baginya tidak mengapa.
Mobil yang keduanya tumpangi menyita perjalanan tidak bertujuan sejauh puluhan kilo dari kota. Nyanyian Baekhyun pun bak radio dalam kemudi. Mereka sampai pada langit berbatas laut, matahari tenggelam dengan rona kemerahan di ujung, hingga kibaran api unggun berhasil membakar perasaan.
Seharian mereka menghilang karena mobil yang mogok, tangan mereka masih saling genggam. Meski penampilan Chanyeol belum berganti dari ikatan dasi yang miring, atau seberapa kotor celana formal miliknya yang terlipat, tidak masalah ia meninggalkan Junmyeon yang marah karena diabaikan. Baekhyun adalah segala yang ia butuhkan, jadi ia tidak peduli dengan apapun.
Kini Baekhyun mulai terbuai dalam kantuk. Daya ponsel mereka menipis, tapi mendorong mobil bukanlah solusi tepat. Sehingga Chanyeol tidak punya pilihan ketika memasuki box telpon tua dengan tiga keping koin. Mendial nomor Kris sebagai ganti untuk meminimalisir kemungkinan terburuk. Maka tepat sebelum pria tinggi itu datang, Baekhyun sudah memarahinya karena tidak menawarkan berunding.
Chanyeol menarik Baekhyun yang marah ke dalam pelukan. Membujuk sosok itu untuk tetap tenang karena mereka memiliki tiga jam lebih sebelum Kris sampai. Maka sebagai gantinya, ia memperkenalkan rasi bintang untuk Baekhyun. Membuat sosok itu takjub dengan pemandangan luas dari atap mobil yang terbuka. Baekhyun yang tidak memikirkan apapun langsung menaiki atap. Duduk disana dengan Chanyeol yang mengoceh menyuruhnya turun.
Tawa Baekhyun berdebur, begitu manis wajah itu bersinar di atas sana. Chanyeol yang lelah takjub harus menarik bintangnya turun. Memberi banyak cium sebagai hukuman namun Baekhyun selalu menyukainya. Dalam gendongan Chanyeol yang hampir jatuh, Baekhyun menarik helaian rambutnya kuat karena ingin melampiaskan kemarahan.
"Aku mencintaimu," namun bisiknya.
Lantas bisikan cinta Baekhyun kemudian menjadi salam pembuka Chanyeol, sebelum tubuh itu dibawanya masuk ke dalam mobil. Pria itu kemudian menuntun kekasihnya berkenalan dengan bintang-bintang yang ia ciptakan sendiri. Mengusir dingin yang memberi embun pada kaca, tidak peduli jika Kris bisa datang kapan saja.
"Kau tidak senang mobil kita mogok?" Baekhyun masih saja tidak menerima bagaimana kecerobohannya menelpon Kris. Bagaimana tidak, hanya Kris yang memungkinkan untuk menempuh perjalanan jauh untuk Baekhyun. Ia yakin jika Kris akan melakukan apapun untuk sosok adiknya ini.
"Aku harus bekerja esok hari." Chanyeol membalas dengan usakan lucu di kepala Baekhyun. Sementara pemuda itu sibuk membenarkan pakaiannya, tak lupa memasangkannya kancing kemeja yang kusut tak tertolong.
Hati Chanyeol luluh lantah. Memuja betapa manisnya bayangan Baekhyun yang berada di atas pangkuannya. Rambut coklatnya yang mulai memanjang, kedipan halus sipitnya, lalu senyum yang kembang di balik rembulan, walaupun seharian Chanyeol memandanginya entah mengapa selalu terkesan menakjubkan.
Jika Chanyeol dalam dirinya adalah manusia serakah, ia bersumpah untuk memperjuangkan bagaimana keinginannya untuk membawa Baekhyun pergi bersamanya. Ia mampu membayar mahal untuk itu.
"Apa bekerja semenyenangkan itu?"
Lirikan lembut dari kedua manik itu selalu berhasil membuat Chanyeol lupa dunia. Sepasang sipit itu kadang terlihat seperti permata hitam yang bersih. Ditambah senyumnya yang semanis gula, Chanyeol kadang tanpa sadar terus memohon pada waktu untuk memperlambat waktunya sebentar. Hanya ingin memuja, ingin mengagumi indah yang melekat pada semua bagian diri Baekhyun.
"Kau akan tahu suatu hari."
"Apa sudah?" tanyanya melirik kembali. Pemuda itu rupanya telah selesai memasang asal dasinya, padahal sudah Chanyeol tolak berkali-kali.
Lantas Chanyeol tidak keberatan dengan dasinya yang sedikit mencekik. Ia tidak lupa merapikan penampilan Baekhyun yang berada di pangkuannya. Memastikan keberantakan itu menghilang, lalu menata rambut halus si pemuda dengan jemarinya. "Rambutmu berantakan."
"Kau pikir siapa pelakunya?" balas Baekhyun menangkup kedua pipi Chanyeol. Sengaja membenturkan hidung mungilnya dengan milik Chanyeol─ditemani tawa khasnya. Hingga tak lama, sorot lampu mobil mulai terlihat dari kejauhan.
"Kris kini datang, kau puas?"
"Tentu."
Untuk beberapa hal, Chanyeol menyukai sensasi aneh saat pipi Baekhyun merona parah. Mencuri cium pipi itu pun kemudian menjadi favorit Chanyeol mulai sekarang. Ia pun segera menurunkan Baekhyun dari pangkuannya. Bersiap menyambut Kris meski mungkin pria itu akan sangat marah.
Dan benar ketika Kris membawa dua mobil datang bersamanya, yang kemudian meletakkan Baekhyun ke dalam mobil yang berbeda dengannya. Chanyeol mulai merasakan sesuatu yang memang harus menjadi resiko saat ini.
"Aku akan mengantarmu ke bandara," ujar Kris dingin setelah selesai menutup pintu untuk Baekhyun.
Menatap senyum Baekhyun di balik kaca itu adalah sisa perpisahan pahit yang Chanyeol rasakan di dadanya malam ini. Beruntung Baekhyun tidak mendengar kalimat Kris yang terakhir.
"Ketua ingin kau menyusul."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Special update for CB Day~
Happy 614
