ROYALTY
by Gyoulight
.
.
.
.
A CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Drama (?)
RATING: T (?)
.
.
.
.
Mansion besar keluarga Park saat itu berubah menjadi dingin. Baekhyun yang baru saja sampai sudah mulai merasakannya sejak turun dari mobil. Semakin memasuki pintu suasana semakin mencekam, tersisa dengan banyak pria berpakaian hitam yang melempar barang-barang keluar dari lorong kiri.
Sehun hanya terpaku pada barang-barangnya yang dibuang. Berbeda dengan Jongin yang mencoba untuk tidak terganggu dengan kegiatan minumnya di dekat kolam. Padahal tahu betul barang-barangnya telah disingkirkan. Berceceran di lantai, tidak jauh berbeda seperti milik Sehun.
Awalnya Sehun hanya merasa jika Baekhyun-lah penyebab ayahnya memutuskan sesuatu. Namun menyaksikan ketidakhadiran Seyoon dimanapun, membuatnya mengepalkan kedua tangan. Terlebih ketika frame besar mendarat di dekat kakinya. Sebuah potret besar yang bahkan Baekhyun tahu isinya─kaca itu pecah berkeping-keping.
Entah apa yang sampai pada ayahnya sampai harus membuang kenangan terakhir mereka bersama sang ibu.
Maka Sehun segera mengambil langkah panjang, mengabaikan tolehan Jongin yang tidak mau ambil pusing. Pria tan itu berpikir jika Sehun akan berminat menikmati wine di seberang mejanya. Sedikit berpikir jika mereka bisa membeli apapun yang diinginkan nanti. Sebab mengambil barang yang sudah dibuang bukanlah gayanya. Dan ia pikir Sehun akan sependapat soal itu.
Namun kali ini Jongin harus peduli sampai pria itu menurunkan gelasnya. Matanya yang coklat menembus beningnya dinding kaca yang terhubung dengan dapur. Pria itu bisa menyaksikan bahwa Sehun pergi ke sana. Menghampiri Seyoon yang bisa santai dengan makan malamnya.
Tidak ada seorangpun yang bergerak ketika Sehun menarik kerah pakaian Seyoon. Menarik wanita itu ke hadapannya dengan geram. Tidak peduli bagaimana Seyoon terkejut karena perlakuan itu.
"Kau puas sekarang?" bicara Sehun menekan tiap kalimatnya.
Seyoon bergeming. Menatap bagaimana sorot tajam itu menusuknya. Dan wanita itu jelas merasakan bagaimana jemari Sehun gemetar karena menahan emosi.
"Bukankah sudah kukatakan? Aku tidak akan merasakan kehancuran ini sendirian," jawab Seyoon.
Sehun mendorong tubuh itu kemudian. Merasa sudah cukup untuk mengambil sebuah pisau di meja makan. Benda itu pun ia arahkan di depan leher Seyoon. Semua pelayan kemudian memekik tertahan. Tidak terkecuali dengan Jongin yang mulai mengambil langkah mendekat. Namun bukan mencegah Sehun mengayunkan pisaunya, pria itu beralih pada pemantik yang tersimpan di laci dapur.
"Kau tahu apa yang akan kau dapatkan?" ujar Jongin menyalakan pemantik. Menyulut api pada salah satu helai pakaian yang sempat dijuputnya dari lantai. Dan tanpa berpikir Jongin melempar benda yang menyala itu pada taplak meja yang kering. Dengan segera api menjilat permukaan, semakin membesar kala menemukan lipatan serbet yang terhampar di dekatnya.
"Terbakar api pun tidak akan cocok."
Seyoon terhenyak. Tidak bisa bergerak karena Sehun menahan kuasanya. Lebih dari itu, ini adalah kali pertama siapapun menyaksikan Jongin marah. Baekhyun pun demikian. Tidak ada satupun orang yang berani mendekat setelahnya.
"Aku tidak pernah memungut sesuatu yang sudah dibuang. Jadi kurasa, aku tidak membutuhkan apapun di tempat ini." Jongin menoleh sebentar pada Sehun yang masih belum berminat menurunkan pisaunya. Menunggu saudara kembarnya itu berubah pikiran, lalu meninggalkan rumah ini begitu saja seperti yang ia pikirkan. Dan bukankah lebih merepotkan melakukan hal yang sia-sia? Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Tidak akan ada yang berubah meski mereka menghabisi setiap nyawa penghuni rumah ini.
Tak lama Sehun membanting pisaunya. Melangkah pergi begitu saja untuk mencari seseorang yang berani melempar satu-satunya foto keluarga yang mereka miliki. Pria pucat itu kemudian memukulnya dengan tinju yang keras hingga pria itu tersungkur ke lantai.
Baekhyun berakhir gemetar menyaksikan keberantaan ruang tengah itu. Belum peduli dengan sorot tajam Seyoon disana. Wanita itu terus mengawasinya, seakan menargetkannya pada sebuah rencana-rencana panjang di kepala.
e)(o
Langit Barcelona ketika siang adalah pemandangan yang tidak asing lagi bagi Chanyeol. Ia pernah tinggal di tanah asing ini selama dua bulan penuh. Menggeluti pekerjaan siang dan malam seperti orang kesetanan, bolak balik menuju dermaga atau mungkin bingung dengan selera makan.
Chanyeol terbiasa dengan menyengatnya siang di musim panas dan dinginnya malam di dekat laut Mediterania. Dan kali ini ia kembali dengan segenggam kenangan. Menginjakkan kaki kembali pada jalanan ramai dimana ia pernah menjejakinya berdua dengan Baekhyun kala itu.
Tujuan taxi yang membawanya tidak begitu jauh dari distrik Gracia. Berhenti di sudut kota dengan guguran daun coklat mengguyur sepanjang jalan. Chanyeol tentu tidak lupa pada bangunan berarsitektur tua di depannya kini, sebuah penginapan yang dahulu ia pilih. Atas saran Baekhyun yang saat itu masih menganggapnya pria baik hati.
Tidak ada yang berubah dari setiap sekat yang ia lihat. Deretan bangunan tinggi di seberang sana masih bercat sama. Berbeda halnya dengan restoran tempat Baekhyun bekerja dahulu. Dies Buenos merubah pintu depannya, ada sedikit renovasi di bagian dinding. Ia pun menemukan Wendy di depan pintu, namun tidak punya waktu mampir. Mempertimbangkan banyak hal pula, Chanyeol tidak ingin ada pertanyaan setelah bertemu teman-teman Baekhyun yang dahulu sempat diperkenalkan padanya.
Seakan tidak punya waktu, Chanyeol bersiap dengan beberapa hal. Kali ini ia tahu bahwa penginapan ini telah dibeli haknya oleh sang ayah. Semua sudut telah dipersiapkan untukknya. Bahkan lemari berisi pakaian formal sudah bisa ditemukan di lemari. Chanyeol bisa lega, sebab ia hanya punya empat jam untuk memulihkan tenaga tanpa beres-beres.
Chanyeol sebenarnya bertanya-tanya sejak berangkat. Ia kepalang bingung, jauh-jauh pergi ke tempat ini hanya untuk menemani kegiatan bisnis ayahnya. Sepenting itukah sampai ia harus menyusul? Ia bahkan belum mengatakan sepatah katapun untuk Baekhyun. Entah bagaimana kabarnya pemuda itu kini.
Chanyeol berakhir menyesal tidak mempersiapkan banyak hal soal ponsel. Kartu simnya benar-benar tidak terpakai. Sebuah kondisi yang memuakkan ketika berada di luar negeri. Ia tentu tidak bisa menghubungi siapapun dengan ponsel lokalnya saat ini. Maka ia turun demi meminta bantuan.
e)(o
Baekhyun memandangi setiap sudut rumah dengan tatapan kosong. Ponselnya terus ia genggam kuat. Berharap Chanyeol menelpon, sebab ia tidak dapat melakukannya kali ini. Dari tangga, ia dapat menyaksikan Sehun dan Jongin yang pergi dengan tangan kosong. Kedua pria itu menatap sinis namun tidak berbicara sepatah katapun.
Jauh yang Kris katakan padanya beberapa saat lalu, Sehun dan Jongin sudah terusir dari kediaman Park. Kedua pria itu memilih menyerah dengan sikap keras kepala sang ayah. Toh tidak akan bisa melawan setelah seluruh aset keduanya disita. Namun yang diketahuinya, Jongin adalah satu-satunya orang yang tidak dirugikan dari masalah ini. Pria tan itu bisa terbang ke Macau, tinggal lama disana dengan kekasihnya. Tanpa mengkhawatirkan kebutuhan seperti Sehun yang kali ini berjalan di tepi jurang.
Baekhyun tahu jika Chanyeol pun akan diperlakukan sama oleh ayahnya. Pria itu tidak punya tempat untuk berlari. Sama dengan Sehun yang sudah lama bergantung dengan ayahnya. Lalu saat semuanya dikembalikan, hanya tersisa kebencian pada dirinya. Cepat atau lambat Park bersaudara tentu akan menaruh dendam.
Tepat di tangga sayap kiri, ia menemukan Kris dengan beberapa map di tangan. Langkahnya terburu-buru, sempat menolak untuk dihalangi jalannya. Lantas saat Kris berhasil melewatinya, Baekhyun mengekor cepat di belakang. Masih mengejar langkah Kris yang turun menyisir anak tangga.
"Dimana dia?" Baekhyun bertanya tanpa ragu. Wajah pucatnya masih berusaha untuk baik-baik saja saat Kris tidak kunjung menatap.
"Ayahmu melarang untuk memberitahu," jawab Kris berhasil keluar dari pintu. Tak butuh waktu lama sampai seorang pria berpakaian serba hitam mendekat padanya. Berlarian untuk menerima dokumen yang entah apa isinya.
Dan setelah pria itu pergi, Kris membuka pintu mobilnya yang siap. Melempar mantelnya ke kursi penumpang, lengkap dengan ponselnya yang aktif. Baekhyun mau tidak mau menahan pintu itu kuat. Nyaris tidak mengizinkan Kris menarik kembali pintunya.
"Kris, kumohon─"
Pria bersurai hitam itu menatapnya tajam. Bahkan sejak semalam pria itu sudah bersikap dingin padanya. "Saat kau pergi, perusahaan telah mengadakan rapat besar. Kau telah resmi memiliki semua saham ayahmu. Wajar baginya mengusir ketiga putranya."
Baekhyun tergagap. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa pada keputusan orang yang sulit disebutnya ayah itu. "Tapi aku tidak pernah menyetujui ini."
Kris menyingkirkan jemarinya yang menghalangi pintu. Sedikit menunduk pria itu menghadapnya. "Setuju atau tidak, semua keputusan selalu berada di tangan ayahmu. Aku bahkan sudah mengatakannya berulang kali, ini adalah sebuah resiko karena kau sudah memilih."
Mata Baekhyun tak bisa dicegah untuk berair. Mengaburkan pandangannya terhadap Kris. Lengkap dengan resahnya sendiri, yang demi Tuhan, Baekhyun tidak pernah merasa sebuntu ini dalam menghadapi sesuatu. "Kau yang mengatakannya?"
"Ini pilihan yang tepat untukmu."
Baekhyun menatap kembali ke dalam iris teduh Kris yang coklat. Tak kalah perasaannya mengatakan dunia ini telah runtuh. Bak retakan langit yang menghantam kepalanya keras, tubuh Baekhyun lebur disapu angin. Ia rupanya telah kehilangan sosok yang paling ia percaya di dunia ini. Sosok temannya, Kris.
Kris beralih dari kedua maniknya. Berbalik dengan tekanan di kepala, pria itu tentu lelah menekan diri untuk tidak tersulut emosi. "Aku tidak bisa menyimpan rahasiamu. Dan kau seharusnya tahu bahwa aku bukan orang yang baik." Pria tinggi itu lalu melanjutkan, "Aku sudah memberi kalian waktu, tapi kalian tidak menggunakan kesempatan itu untuk berpikir."
"Kau tidak pernah mengerti─"
"Menurutmu, apa yang harus aku mengerti?" Kris bertanya dengan raut yang mengeras. Habis sudah pria itu marah kini. "Kau menghancurkan dirimu sendiri, Baek. Kau hanya membuat luka yang akan sulit kau hilangkan di dalam dirimu."
Kris berhasil menutup pintunya. Menyalakan mesin dengan dengungan halus, lalu bersiap dengan bantingan setir. Tapi sekali lagi Baekhyun mengetuk jendela itu. Tidak lelah baginya memohon pada Kris. Setidaknya hari ini saja. Biarkan ia mendapatkan jawaban dari keberadaan Chanyeol yang entah dimana.
"Aku mencintainya, Kris. Aku tahu aku dipenuhi kegilaan ketika aku mengakuinya. Aku pun tidak mengerti mengapa aku memiliki perasaan seperti ini. Aku menjadi takut kehilangannya. Aku ketakutan setengah mati."
Kris terdiam cukup lama setelah enggan menatapnya. Sorot pria itu kosong menatap ke depan. Tidak ada balasan, tidak ada pesan yang bisa pria itu sampaikan, beralih hanya menutup kaca jendela. "Aku akan berpura-pura untuk─tidak pernah mendengar ini."
"Kris!"
e)(o
Pukul 11 siang, Chanyeol masih tenggelam dalam meja rapat. Sang ayah yang sejak tadi ditunggu pun baru saja datang. Memilih duduk di kursi utama lalu mendengar ocehan-ocehan asing yang tidak pernah ia pahami. Hanya menunggu salah satu karyawan yang ditunjuk sebagai penerjemah mengatakan sesuatu di dekat mereka.
Sebenarnya tidak ada masalah yang rumit. Hanya beberapa rencana lama yang harus disampaikan. Menurut pandangan mereka, perusahaan perlu melakukan proyek dalam kesempatan ini. Chanyeol yang pernah menduga pun tahu hal ini akan terjadi sejak lama, sebab sulit baginya meyakinkan beberapa pemegang saham untuk tenang. Mereka selalu mendesak, tidak peduli dengan kondisi Chanyeol yang terjepit.
Para pemegang saham domestik membuat permintaan rumit sebelum melirik angka yang merosot tajam. Siapa yang menyangka jika kasus penjualan desain yang diciptakan Sehun saat itu rupanya berbuntut panjang. Kerugian besar telah ditanggung perusahaannya sepanjang tahun ini. Dan memusingkan ayahnya? Tentu, Sehun berhasil melakukan itu, hingga membawa Chanyeol ikut serta dalam menangani ini.
Chanyeol sebenarnya tidak berminat meladeni permintaan mitranya. Mereka terlalu banyak menuntut, tapi mungkin tepat sasaran. Ia jelas menyadari bahwa perusahaan yang tengah dipimpinnya ini akan mengalami krisis besar cepat atau lambat. Sementara ayahnya akan sulit meyakinkan para kepala untuk bersabar, meski tak separah ketika Chanyeol melakukannya.
Maka perjalanan Chanyeol tidak sampai dua hari menjejaki dataran Eropa. Sampai hari ketiga ia harus menggantikan Kris yang entah berada dimana, untuk menemani ayahnya sebagai asisten dadakan. Tidak keberatan sebenarnya, justru akan menjadi pengalaman sekali seumur hidup bagi Chanyeol. Sebab ini adalah kali pertama sang ayah mendengarnya. Percaya padanya seperti posisi Kris yang selalu diimpikannya.
Namun lebih dari pada itu, jauh di lubuk hati, Chanyeol merasakan sesuatu yang ganjil terhadap sikap ayahnya. Sosok itu memang dingin, tidak pandai bicara seperti ayah kebanyakan orang. Sosok itu terlihat selalu kaku saat makan semeja dengannya. Bahkan ketika kamar yang dipesan mereka hanya disekat dinding, ayahnya tak kunjung mengajak bicara. Padahal ada banyak hal yang harus mereka diskusikan sebagai tim.
Seperti halnya kini, sang ayah mengajaknya berdiskusi di dalam limousine keluarga Kol. Sepanjang perjalanan mereka berbicara dengan pemikiran berbeda. Chanyeol yang tetap dengan pendiriaan, kemudian ayahnya yang memiliki pendirian yang jauh lebih bertentangan dengannya. Chanyeol mengakui jika ayahnya bukan sosok yang akan bertele-tele. Sang ayah cenderung berbicara tepat pada intinya, sesuai dengan aturan, kemudian kembali diam sebagaimana mereka selesai dan setuju.
Dan tiba dimana mereka membuat kisah canggung dalam acara pelelangan. Sang ayah kembali mendapatkan benda berharga lainnya untuk dikoleksi. Mereka tak langsung pulang seperti para penjelajah lainnya. Memilih mampir di lantai teratas gedung untuk mendapatkan perayaan kecil. Dan Chanyeol kembali menjadi satu-satunya orang yang mendampingi. Mendengar ayahnya bicara panjang lebar untuk kali pertama, sampai sebuah gelas mengosong tanpa musik pengiring.
"Apa yang kau inginkan jika kita berhasil meyakinkan mereka dengan desain barumu?" Ayahnya bertanya dengan kesan cukup serius. Chanyeol sendiri merasa harus berbesar hati karena ia mendapatkan tawaran langka dari ayahnya.
Chanyeol lantas tak punya tujuan lain selain menginginkan kakinya menginjak Seoul. Walaupun sebenarnya tidak ada yang menarik di Negara itu, entah mengapa ia lebih ingin pulang dibandingkan meminta tiket perjalanan impian ke New York yang menenangkan.
"Pulang?"
"Kau seperti bukan Chanyeol yang ku kenal." Ayahnya menyelam lebih dalam ke dalam matanya. Penuh arti hingga Chanyeol berpikir lebih serius perihal senyum yang terlukis untuknya itu.
"Chanyeol yang kukenal tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan sekalipun itu hadiah kecil."
Chanyeol memainkan gelas tingginya. Pun heran sendiri mengapa ia menjadi cepat sekali berubah tidak berambisi seperti dahulu. "Bukankah pulang ke rumah adalah hadiah besar?"
Sang ayah terkekeh. Tahu benar jika putranya mulai menganalisa semua kalimatnya. "Jika tidak?"
Tepat setelah genap satu jam menyesap minuman, Chanyeol kemudian mengetahui bahwa ayahnya tidak tengah bercanda. Ada sesuatu yang lebih serius dari semua pembicaraan ini. Namun pria itu tidak yakin, ia sama sekali tidak bisa menebak maksud ayahnya.
"Chanyeol, ada sesuatu yang harus ayah katakan─"
e)(o
Baekhyun bergerak mematikan lampu. Kamarnya sudah ia tinggalkan jauh disana. Dibiarkan kosong karena para pelayan terus menawarkan makan malam. Baekhyun yang bosan lalu menyelinap kabur ke dalam kamar Chanyeol. Mencoba merebahkan kepalanya yang penuh. Kemudian meringkuk dingin ditemani kesedihannya sendiri.
Di luar langit kian menggelap. Tidak menampakkan bintang yang saat itu pernah diperkenalkan Chanyeol padanya. Baekhyun yang lelah menahan rasa khawatir, sepenuhnya tidak bisa benafas lega. Meski sudah tersesat pada kamar yang dipenuhi aroma Chanyeol, ia tetap tidak bisa terlelap dengan baik. Masih terbayang-bayang soal masa depan yang mungkin akan hancur berantakan.
Sudah lebih dari satu minggu, seiisi mansion itu menghilang. Hanya menyisakan dirinya dan juga puluhan pelayan yang bekerja. Meski ramai saat pagi, Baekhyun terus merasa sepi. Kris pun tidak pernah kembali setelah tiga hari pulang. Terakhir yang ia lihat, Kris hanya datang untuk mengambil beberapa dokumen. Melewatinya begitu saja, tidak bicara meski Baekhyun panggil berulang kali.
Namun Baekhyun terkadang menemukan Seyoon yang berkeliling di halaman saat pagi. Wanita itu terlihat tidak memiliki beban apapun, sementara perutnya kian hari kian membesar. Baekhyun yang tidak memahamipun kini mulai mempertanyakan perihal apa yang wanita itu lakukan di rumah ini.
Belum sampai pada semua lamunan, suara memecah tiba-tiba samar terdengar di telinga. Tiba bersama dengan petir yang membelah keheningan. Desau angin pun membawa korden melayang hingga melebihi dinding. Tidak ingin mendapatkan rasa penasaran, Baekhyun kini beranjak menghidupkan lampu. Pemuda itu akhirnya mencoba keluar dari pintu dengan tangan kosong.
Pikir Baekhyun seisi rumah tengah diserang sekelompok pencuri setelah melihat benda-benda berserakan di lorong sayap kiri. Dan tanpa berpikir panjang, Baekhyun bergerak menuruni tangga putar. Berlarian mencari para penjaga yang ia harapkan masih terjaga di lantai satu.
Hujan kemudian mengguyur dengan deras dari luar. Jendela besar di depan sana tentu basah sepenuhnya. Mengaburkan pemandangan halaman dimana deretan lampu temaram masih berfungsi dengan baik. Tidak menandakan apapun yang buruk, selain mobil asing yang terparkir sembarangan di depan.
Maka Baekhyun keluar untuk memastikan jika mobil itu bukan milik Chanyeol. Pemuda itu bergerak menyentuh jendelanya. Memeriksa seisi mobil seperti orang kehilangan akal. Hujan pun dengan cepat membasahi pakaian. Menguyurnya habis hingga ia menyerah dan berlarian kembali ke dalam.
Kaki kecil itu kemudian Baekhyun ayun kuat-kuat. Menggapai kembali tangga yang sempat ia tinggalkan. Pun kini Baekhyun hendak memeriksa bagaimana keadaan lorong sayap kiri. Berharap Chanyeol akan berada disana untuk menungggunya. Tapi hal lain tiba-tiba membuat tubuhnya membeku seketika.
Baekhyun tidak dapat menahan beban tubuh ketika melihat bagaimana tubuh seseorang menggelinding dari atas tangga melewatinya. Menyisakan genangan darah yang luar biasa pekat pada tiap anak tangga, hingga sampai pada kakinya.
Gemetar jemari Baekhyun membekap mulutnya sendiri.
Sampai pada tubuh itu berhenti berguling di lantai, Baekhyun akhirnya jatuh terduduk dengan salah satu tangan yang masih menggantung pada pembatas tangga. Membiarkan pakaian basahnya bercampur dengan bau anyir yang membuat mual. Pun tubuh yang tak berdaya di bawah sana bergerak seakan memanggilnya. Memintanya untuk menolong, namun lebih dahulu Baekhyun menemukan sosok yang lain di atas sana.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di atas. Tampilannya rapi dengan pakaian mahal membalut kulit pucatnya. Di tangan kanannya sudah tergenggam payung hitam setengah rusak. Masih cukup kontras, meski payung itu bersanding dengan ceceran darah yang kental. Sorot kosong si pria kemudian menemukannya terduduk dengan malang. Baekhyun tak kalah ketakutan saat menyaksikan langkah pria itu turun mendekat.
Lolongan petir kembali menerobos masuk, beriringan dengan ketukan langkah pelan pria itu. Hujan di luar seolah berlomba-lomba menjadi musik pengiring ketakutan, semakin menambah kesan horror yang sulit untuk diabaikan. Nyaris Baekhyun tidak mengenali siapa pria pucat itu.
"Oh, adikku, Baekhyun," tutur pria itu melempar payungnya keluar dari tangga. Pria itu kini sampai di hadapan Baekhyun. Ikut mengambil duduk di tengah genangan darah yang menjejak. Tak lepas dari menatap kemana korbannya terjatuh. "sayang sekali kau harus menyaksikan ini."
Suara berat itu lantas membuat Baekhyun semakin gemetar ketakutan. Bahkan ketika jemari penuh darah itu menyentuh kepalanya, Baekhyun sudah berpikir akan menyusul sosok wanita di bawah sana cepat atau lambat.
"Lihat dia," tunjuk sosok itu dengan jarinya. Senyum pria itu bahkan bisa terlukis begitu lebar, tidak kunjung merasa bersalah sedikitpun. "Wanita angkuh itu tidak berdaya setelah melawanku."
Pupil Baekhyun melebar menyaksikan sosok pucat di bawah sana. Tubuhnya tidak berdaya disinari lampu. Ada banyak darah yang mengalir di kakinya. Belum lagi dengan deru nafas terputus yang tubuh itu suarakan. Dengan melihat helaian rambut itu menutupi wajah sang empunya, Baekhyun kemudian mengenali dengan jelas bahwa sosok itu adalah orang yang didapatinya pagi ini di halaman belakang.
"S-seyoon?"
Getaran dari suara Baekhyun kemudian membuat pria di sampingnya itu tertawa puas. Diraihnya bahu Baekhyun yang gemetar. Menuntun si pemuda meninggalkan sandarannya pada dinding pembatas tangga. "Tentu, dia Seyoon. Orang yang sudah merebut Chanyeol darimu."
Baekhyun bersumpah ingin berlari sejauh yang ia bisa. Meninggalkan Park Sehun yang menggila. Bahkan berbuat kejam sampai berani melakukan hal ini di depan kedua matanya. Namun Baekhyun samar dapat melihat bayangan pelayan yang menghilang di balik lemari. Bukan alasan lain jika semua orang tidak terlihat dimanapun. Mereka semua hanya berlari ketakutan. Berpura-pura tidak melihat apapun, atau mungkin mereka sudah disibukkan dengan mematikan kamera pengawas di setiap sudut rumah?
Sehun tentu tahu jika orang-orang ayahnya adalah anjing yang setia. Sudah berapa kali pria pucat itu berbuat salah kemudian hanya menyaksikan sang ayah sibuk membersihkan namanya. Selalu begitu, sampai Sehun sendiri muak menjadi orang yang selalu dielukan publik. Menjadi pribadi yang cukup kotroversial, penuh rumor tak berdasar, namun kenyatannya memang demikian. Sehun hanya perlu melihat bagaimana kehancuran sang ayah setelah melihat hasil perbuatannya ini.
"Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?" Sehun kembali bertanya dengan santai. Menemani sorot kosong Baekhyun yang nyaris pingsan, tidak berdaya dalam genggamannya.
"A-apa yang kau─" Baekhyun kehilangan kata-kata yang bisa ia ucapkan. Kepalanya buntu, hanya ada bayangan dimana sirine polisi bergerak, menangkapnya dengan berbagai pertanyaan tuduhan, lalu ikut dikurung dalam sel tahanan. Tentu hal itu akan terjadi cepat atau lambat, kemudian Sehun ada untuk semua ancaman tutup mulut.
"Hukuman," jawab Sehun masih merangkul bahunya. Mengelus surainya kotor, hingga tengkuk Baekhyun dipenuhi ceceran darah. "Inilah yang akan terjadi jika seseorang melawanku."
Baekhyun berakhir bergidik ngeri. Ia teringat bagaimana ia pernah menerima minuman dari pria itu kemudian jatuh tak sadarkan diri. Tentu hal itu membuat Baekhyun menyingkirkan tangan Sehun dari bahunya. Bergerak mundur, meski tidak tahu harus mundur kemana.
Sehun kembali menyeringai. Menganggap lucu tingkah Baekhyun yang lebih mirip tikus masuk perangkap. "Kenapa? Kau ingin menyelamatkannya?"
Namun Baekhyun mencoba mengendalikan kakinya yang mati rasa. Meski dengan merangkak, ia terus membawa langkahnya menuruni tangga. Jika bisa ia ingin segera menelpon ambulan untuk segera menyelamatkan Seyoon yang kehilangan banyak darah.
"Baekhyun, kau terlalu innocent untuk menjadi bagian dari Park. Tanganmu ini belum pernah melakukan sesuatu yang buruk. Kau bahkan belum pernah berjudi, tidur dengan jalang yang kau bayar, memukuli orang, menyingkirkan pesaingmu atau membunuh. Betapa membosankannya hidupmu yang tumbuh tanpa kasih sayang itu."
Langkah Baekhyun kemudian terhenti. Ia kini dengan jelas menyaksikan Seyoon perlahan menggerakkan jemarinya. Berusaha menggapai kakinya yang bahkan masih jauh jaraknya.
"Lihat baik-baik, dia adalah orang yang menabrakmu malam itu," Sehun kembali melanjutkan cerita. Memberitahunya seperti dahulu, sekaligus menunjukkan betapa mudahnya ia menyingkirkan seseorang dengan tangannya. "Wanita licik ini adalah sumber kehancuran keluarga kita. Orang yang seharusnya tidak Chanyeol bawa ke dalam hidupnya. Orang yang seharusnya tidak mengandung keponakan kita di rahimnya─"
"Dia orangnya, Baekhyun, orang yang menjauhkanmu dari Chanyeol."
Baekhyun kemudian terjatuh sekali lagi. Tenaganya habis terkuras, digantikan ketakutan besar yang habis melingkupinya. Sebuah bisikan asing lalu muncul dalam dirinya. Melahirkannya keinginan untuk mundur. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, sampai Sehun berhasil menggapai punggungnya.
Tatapan dingin milik Sehun kemudian menjadi pemandangan terakhir saat Baekhyun menoleh. Ia pun bersumpah seringaian itu seakan menguliti kulitnya dengan pisau. "Pilihannya kini berada di tanganmu. Larilah atau kubuat kau terlibat dengan ini?"
e)(o
Sejak malamnya di Budapest, Baekhyun kerap merasa cemas jika ditinggal sendirian. Ia terus membayangkan kematian yang mengejarnya, bahkan mencekik lehernya sampai ia kehilangan nafas. Ia tidak pernah tahu jika tragedi seperti itu memberikan dampak yang besar bagi hidupnya. Sejak saat itu pula ia menemukan tidurnya yang tak lagi nyenyak. Terhambat sendiri, cenderung memikirkan bagaimana ia bisa melarikan diri dari semua ini.
Langkahnya beberapa detik yang lalu sempat meneriakkan kemanusiaan. Ia yakin jika ia masih memiliki rasa kasih untuk manusia lainnya. Tapi ketika ia beranjak, ingin mendekat pada Seyoon yang menelungkup tak berdaya, ia malah berlari menjauh, masuk tergesa ke dalam kamar mandi setelah menabrak apapun yang menghalangi jalannya. Jemarinya yang gemetar segera terangkat. Memutar keran shower dan membiarkan air mengguyur habis tubuhnya.
Baekhyun kemudian tenggelam dalam genangan merah di lantai kamar mandinya. Berpikir sekali lagi, terlebih hampir menyesali pilihan yang dibuatnya. Hingga sampai pada genangan merah itu menghilang, barulah Baekhyun bangkit dari keterpurukan. Menarik apapun yang ia temukan di lemari. Memakainya tergesa lalu kembali berlari keluar.
Ponsel terus ia tempelkan di telinga, jauh-jauh kakinya melenggang keluar dari halaman. Baekhyun yang malang tidak dapat memikirkan apapun selain memanggil Chanyeol dalam hati. Terus merasa bersalah atas pilihan yang dibuatnya, dimana ia membiarkan Seyoon tergeletak disana. Diserahkan pada Sehun yang berubah menjadi gila. Sama sekali tidak peduli jika Seyoon bisa mati di tangan pria itu.
Hujan sedikit reda saat Baekhyun memutuskan keluar dari pagar. Langkahnya tak kenal arah, hanya berlari kemana hatinya bergerak. Pun panggilan yang ia buat tidak pernah sampai. Tidak ada jawaban apapun sejak terakhir dilihatnya Chanyeol pergi.
Maka Baekhyun menyerah, menggenggam ponselnya erat-erat dalam pelarian. Terus berlari, sesekali mengusap air matanya pedih seorang diri. Ia benarlah seseorang yang jahat. Bagaimana jika Seyoon mati? Bagaimana jika Chanyeol marah karena hal ini? Entah bagaimana ia baru saja menyadari jika Seyoon tengah mengandung. Membiarkan wanita itu celaka sama saja dengan mencelakai janin tak bersalah pula.
Tetapi Baekhyun diluputi takut luar biasa. Bersumpah bahwa ia begitu ketakutan setelah menemukan Sehun yang mengakui perbuatannya. Menunjukkannya betapa pria itu mudah melenyapkan apapun yang dirasa tidak diinginkannya. Baekhyun mati tidak ingin terlibat, tidak ingin terlibat dengan Sehun apapun alasannya. Biarlah ia menjadi jahat untuk sesuatu seperti ini. Selagi ia tidak mengenal baik Seyoon. Wanita itu tidak pernah ingin melihatnya sejak pertama kali.
Sesampainya ia pada sebuah jembatan kecil, Baekhyun tidak lagi dapat menahan gejolak di perutnya. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya di tepian. Terduduk lemah menggenggam kepalanya dalam tangisan memuakkan. Ponselnya entah terlepas dimana. Berakhir pada lutut yang ia peluk erat-erat, tenggelam disana sendirian tanpa takut gelap menghinggapi sekitar.
Baekhyun nyatanya tidak bisa menghilangkan ingatannya tentang genangan darah yang diinjaknya beberapa waktu lalu. Mengingat cairan pekat itu pernah menempel pada tangannya membuat perutnya terus mual, terlebih ia ingat benar bagaimana aroma anyir itu menodai pakaiannya.
Malam terasa panjang tanpa ada suara mesin yang lewat. Jalanan itu terlalu gelap. Mencekam karena di kiri dan kanannya hanya ditinggali oleh pepohonan besar. Jauh di depan sana hanya ada jalanan menurun. Tidak ada cahaya apapun selain lampu jalan yang berkedip.
"Chanyeol─"
Suara paraunya kini tanpa sadar memanggil sebuah nama. Nama yang selalu disebutnya dalam berbagai hal tidak peduli apapun. Bahkan untuk segenggam rindu yang membelah hatinya, Baekhyun sepenuhnya sadar bahwa ia bukanlah apa-apa tanpa Chanyeol.
Namun sebuah tangan berhasil menyentuh bahunya. Begitu tiba-tiba sampai Baekhyun terperanjat kaget. Luar biasa terkejut sampai ia berteriak mundur. Baekhyun yang susah payah menggerakkan lengannya untuk beranjak berakhir ditahan. Seseorang itu berhasil menariknya, mengguncang bahunya dengan beberapa panggilan samar.
Baekhyun dengan penampilan kacau kini memalingkan wajah. Mencoba mengenali sosok tinggi yang masih menunggu responnya. Pria itu berbadan tegap, matanya jernih disinari lampu. Jemari pria itu tanpa henti menangkup kedua pipinya. Dan sekali lagi nama Chanyeol-lah yang Baekhyun panggil dalam tangisnya.
Meski pria itu telah membenarkan dirinya adalah Park Chanyeol yang ditunggunya, entah mengapa Baekhyun terus menangis. Chanyeol dengan wajah cemas buru-buru menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukan. Menyembunyikan tangisan Baekhyun yang meraung ketakutan.
"Bawa aku pergi," mohon Baekhyun terisak. Jemarinya terus menarik kuat pakaian yang Chanyeol kenakan. Sementara Chanyeol hanya diam memeluknya erat. Ingin bertanya mengapa ia bisa berlari keluar dari rumah tanpa dicegah siapapun, namun urung. Pria itu terlihat tidak ingin membuat Baekhyun semakin ketakutan dengan ceritanya. Terlebih ketika ia melihat sesak yang diderita Baekhyun.
Chanyeol akhirnya membawa Baekhyun ke dalam taxi yang ia tumpangi. Mengatakan alamat apartemen pribadinya dengan panik, sebelum Baekhyun jatuh tak sadarkan diri di lengannya.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Sengaja up hari ini. Biar kangen cb nya gak berat berat amat.
Be happy, tetap semangat menunggu cb balik.
