ROYALTY
by Gyoulight
.
.
.
.
A CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Drama (?)
RATING: T (?)
.
.
.
.
Lantai apartemen pagi itu tidak begitu hening. Di dapur ada beberapa keributan soal ketukan panci, hentakan piring dan pisau. Seseorang dengan keahlian tertentu tidak menampilkan keterampilan memasak dengan baik. Ia berakhir menghancurkan menu yang dibuatnya. Mengharuskan mengulang kembali, sambil memikirkan menu yang bisa dibuat dengan sisa bahan di kulkas.
Chanyeol menyadari bahwa apartemennya bukan gedung toserba. Kulkasnya pun tidak selalu tersedia bahan makanan yang ia cari. Ia sampai harus berlarian ke seberang jalan demi menemukan salah satu yang buka lebih awal. Membeli banyak makanan instan tanpa berpikir dua kali, hingga counternya habis dipenuhi bungkusan plastik berhamburan.
Pria tinggi itu terpaksa memasak mie tumis dengan sosis. Memasukkan nasi instan ke dalam microwave, sambil berharap benda itu akan menjadi layak untuk dikonsumsi. Tidak berakhir seperti terakhir kali ia memasukkan beras ke dalam mesin penanak nasi. Hasilnya terlalu buruk, dan ia harus melupakannya karena cukup memuakkan.
Siap dengan beberapa hal, Chanyeol meninggalkan keberantakan dapurnya begitu saja. Kaki panjangnya melintas ke dalam kamar besar yang sudah lama ia tinggalkan. Sekali lagi mendekat pada sosok Baekhyun yang terlelap disana. Sebab ia ingin sosok itu bangun sekarang. Namun membangunkan Baekhyun entah mengapa rasanya kian tak tega. Terlebih bayangan semalam masih betah melekat di benak.
Chanyeol mengambil duduk di tepian ranjang. Menunggu sekali lagi, meski Baekhyun sudah mulai bergerak kecil membalikkan posisi miringnya menjadi menekuk diri. Diam-diam ia mencuri jemari mungil itu ke dalam genggaman. Mengusap jemari Baekhyun lembut bersama belaian halus di kepala.
Dan Baekhyun berhasil menggumamkan sesuatu. Menggerakkan kepala sedikit mendekat padanya. Lalu Chanyeol tidak tahan untuk menyapu pipi halus itu dengan ujung jemarinya. Memuja bagaimana pemandangan pagi itu teramat indah mengusik. Membuatnya betah berlama-lama menunggu sampai melupakan nasi instan yang mungkin sudah mendingin di atas meja.
Terserah, Chanyeol sudah terlanjur masa bodoh. Ia bisa membuatnya lagi nanti.
"Baek?" panggil Chanyeol mencoba mengganggu. Semakin mendekat untuk menyugar surai kekasih hatinya yang begitu berantakan.
Yang dipanggil kemudian berkedip. Masih belum ingin bergerak tubuhnya yang meringkuk. Maka Chanyeol menghadiahinya kecupan singkat di bibir manis itu. Merasa segera ingin mengigit Baekhyun saja ia rasanya.
"Saatnya bangun, sweetheart."
Sosok manis itu kemudian bergerak. Mengusak matanya yang memburam namun tidak juga ingin bangkit dari sana. Baekhyun rupanya merasa begitu betah dengan posisi ini. "Dimana kita?" tanyanya serak.
"Apartemenku," jawab Chanyeol menyentuh hidung mungil itu dengan telunjuk. Membuat Baekhyun merengut, tapi tidak bertahan lama. Si pemuda justru bergerak memeluk kakinya, meletakkan kepalanya malas ke atas pangkuan Chanyeol begitu saja. Dipikir kapan lagi Baekhyun bisa bermanja-manja begini? Lagipula mereka punya banyak jam yang bisa dihabiskan berdua.
Chanyeol yang menyaksikan itu malah turut prihatin. Bahunya turun untuk mengelus surai itu berkali-kali. Pikirannya kemudian melayang bebas. Entah mengapa pagi ini tidak seberantakan menit miliknya yang lalu, malah menyisakan pahit. Entah apa sebabnya.
"Apartemen yang bagus," puji Baekhyun dengan mata kantuknya. Tak lupa sipit itu mengedar pada seluruh penjuru kamar. Padahal ia belum sempat memeriksa jendela besar yang mengarah ke balkon. Chanyeol malah lebih yakin jika kekasihnya itu akan sangat menyukai pemandangan luar jendelanya saat malam.
Chanyeol lalu bersuka hati menggodanya. Ia gemar sekali membuat Baekhyun merespon dengan cebikan. "Kau menginginkannya?"
Dan hal itu membuat Baekhyun mendongak menatap lurus pada paras Chanyeol yang terpampang di atasnya. "Untuk apa?" baliknya bertanya.
"Bersembunyi─mungkin?" Seulas senyum Chanyeol mengembang tanpa sadar. Pria itu pun akhirnya mendapatkan kedipan halus menangkapnya. Padahal sesederhana itu, tapi bagi Chanyeol rasanya seperti mendapatkan alam semesta.
"Chanyeol?" panggil Baekhyun mengangkat tangannya. Menggapai pipi Chanyeol pelan, sambil membicarakan masalah yang mungkin sejak kemarin dipertanyakan oleh banyak orang. "Terima kasih karena tidak bertanya soal semalam."
Chanyeol tersenyum senang mendengar hal itu. Walaupun ia menginginkan detail lebih, ia merasa sudah cukup dengan ketenangan Baekhyun di sisinya. Tidak sehancur kemarin dimana ia menemukan tubuh itu tak berdaya. Betapa Chanyeol tidak bisa membiarkan semua itu terjadi kembali.
Tidak ingin menunggu terlalu lama, akhirnya Chanyeol mengulurkan tangannya. Berharap Baekhyun akan luluh dan setuju untuk pergi ke ruang makan bersamanya. "Sarapan denganku?"
Dan tentu, Baekhyun tidak pernah menolak ajakannya. "Kau memasak?"
"Hm─" Chanyeol mengangguk menyambut Baekhyun yang beranjak dari pangkuannya. Ia kemudian membantu pemuda itu membuka selimut. Tak lupa mengantarnya keluar mendekati meja makan. "Tapi aku tidak bisa menjamin rasanya akan enak."
Dengan sabar, Chanyeol membiarkan Baekhyun mendekati dapurnya. Ia memilih menunggu di kursi. Sambil menata beberapa hal yang sedikit tidak beres, seperti menggeser kursi, atau sekedar menuangkan air ke dalam gelas. Ada sebersit keinginan Chanyeol dimana meja makannya harus pantas untuk menjamu Baekhyun duduk.
"Ya Tuhan, Chanyeol, kau baru saja melawan tentara utara di dapurmu?" Baekhyun terkekeh ringan menertawakan keberantakan dapurnya. Ia akhirnya mengambil duduk di seberang meja. Masih memperhatikan setiap sudut dapur, tanpa henti menunjuk lantai yang penuh sampah.
Dikomentari seperti itu justru tidak membuat rasa percaya diri Chanyeol menciut. Pria itu tetap menyunggingkan senyum paling menawan. Karena sudah Chanyeol katakan, melihat Baekhyun terhibur demikian membuatnya kepalang lega luar biasa.
"Mereka menyerang keahlian memasakku."
Chanyeol tanpa ragu mencicipi hasil masakannya. Ia pun cukup lega karena hasil kerja kerasnya itu tidak terlalu buruk untuk dimakan.
Dan benar saja ketika Baekhyun mencicipi suapan pertamanya, pemuda itu tampak begitu takjub. Matanya terlihat berbinar-binar meski menyisakan muram. Mata indah itu melukiskan lelah, sementara air wajahnya pucat disapu gelisah. Chanyeol tahu benar jika Baekhyun tengah mencoba untuk tenang. Melarangnya bertanya banyak hal, padahal Chanyeol sudah penasaran setengah mati.
"Akan kupastikan mereka menyesal karena ini enak," puji Baekhyun kembali menyantap bagiannya. Melupakan Chanyeol yang terdiam mencari momen tepat untuk buka bicara. Tak lupa memperhatikan setiap pergerakan Baekhyun dengan teliti. Kian memeriksa si pemuda kalau-kalau ada sesuatu yang salah. Namun percuma saja, ia tidak menemukan satupun jawaban pasti. Mungkin ia harus bertanya pada seseorang untuk sebuah kejelasan.
e)(o
Jongin segera membuka pintu kecil dengan kusen abu-abu di hadapan. Penampilannya cukup oke, tidak bermasalah walaupun ia mengaku belum sempat bercukur. Mantelnya tersampir di lengan. Begitu lenggang langkahnya bersisian dengan para aparat yang bertugas. Salah duanya seorang detektif veteran bersama seorang asistennya. Berbanding terbalik dengan penampilan Jongin, pria kepala tiga itu hanya mengenakan jaket hitam lusuh. Sedangkan tangannya sibuk mempertahankan map keras yang entah serumit apa isinya hingga dibawa kemanapun pergi.
Setelah jauh terburu-buru dengan kalut soal tiket pesawat, Jongin tidak bisa percaya sekalipun perihal ia yang bisa memasuki sarang kepolisian setelah sekian lamanya. Menyentuh tiap lorong riuh alasan pelaku kejahatan, menatap jeruji penahanan di ujung ruangan, dan entah mengapa ia harus menerima bahwa Sehun adalah salah satu penghuni mereka.
Jongin sudah cukup malu, mati rasa menyaksikan kepeningan ayahnya menangani ledakan berbagai warta berita. Dan untuk sesaat, ia bisa mencari absennya seorang Chanyeol sebagai kakak tertua disini. Sekedar ingin memastikan bahwa ini semua bukan perbuatannya, bukan rencana jahat Chanyeol untuk Sehun seperti peperangan mereka yang tiada habisnya. Namun melihat Sehun mendekam di ruang interogasi sejak dini hari tadi, membuatnya menyesal telah mencurigai pria itu. Ini masalah yang jauh lebih serius jika dibandingkan dengan skandal kencan Sehun dengan seorang pria tahun lalu.
Ini mungkin bukan lelucon, dan Jongin baru saja mendalami peran seorang kakak disini. Baginya, Sehun mungkin pria yang super merepotkan, tapi saudara kembarnya itu tidak pernah berurusan dengan polisi. Sekalipun pernah melakukan kekerasan fisik, ia tidak pernah sampai dituntut. Pria itu menyelesaikan masalahnya dengan rapi, membayar kompensasi diam-diam, atau yang paling tegas─pria itu pintar mengendalikan musuh.
Kini Jongin tidak menyangka jika Sehun dimasukkan ke dalam kasus percobaan pembunuhan bagi polisi. Mansion mereka bahkan sudah ditutup dengan garis polisi. Noda merah memenuhi TKP, tidak luput dari informasi bahwa Seyoon mengalami hal serius akibat hal ini. Oleh sebab itu Ayahnya bersiap dengan pengacara terpercaya untuk menyelesaikan sang masalah pelik sampai tuntas.
Lalu disinilah Sehun dengan wajah acuh tak acuhnya. Pakaian pria itu masih bernoda merah pekat. Sangat berantakan untuk diliput media, bahkan meluncur untuk sebuah artikel koran kriminal. Siaran langsung atau majalah, entah mengapa semua jenis media terlihat cocok untuk penampilan Sehun yang menyedihkan itu.
"Tidakkah merepotkan harus berurusan dengan semua ini?" keluh Sehun menyaksikannya duduk. Mengabaikan Pengacara Kim yang berangsur undur diri, keluar bersama dengan para petugas. Namun di samping semua itu, mereka mengetahui bahwa kamera pengawas menyala dengan baik di sudut. Bahkan untuk dinding kaca gelap di sebelah kiri adalah layar utama pengawas. Mereka disaksikan banyak mata jauh disana.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Jongin mendapatkan tiba-tiba naluri kekeluargaannya. Sudah lama ia tidak merasa sekhawatir ini pada Sehun, kapan terakhir pun tidak pernah teringat. Sebab Sehun selama ini betah dengan sikap menyebalkan. Ia cepat sekali bosan berurusan dengan saudara kembarnya itu.
"Seperti yang kau lihat," jawab Sehun tidak peduli. Mata itupun sempat memicing tajam sebelum menghindarinya. Sementara Jongin yang ditatap demikian malah merasa ingin memukul seseorang. Karena menurutnya ini bukan saat yang tepat untuk mengabaikan etika, alibi dan rentetannya.
"Aku membunuhnya seperti bunyi headline paling panas di korea."
"Perhatikan ucapanmu," ujar Jongin geram. Kepalang lelah dengan sikap Sehun yang selalu menganggap semuanya mudah. Tentu akan sulit jika polisi menganggap kalimat itu sebagai sebuah pengakuan. Dimana Sehun akan mendekam di penjara, menghancurkan imej keluarga Park dalam sekali dayung.
Tidak ada celah untuk mengembalikan citra Sehun yang hancur, bahkan ketika ia terlibat dengan Seyoon. Ada banyak pihak yang berspekulasi negatif, sampai menghubungkan skandal asmara mereka tanpa berpikir. Ini tentu sebuah bencana yang bisa menggulingkan seluruh reputasi keluarga, meski hidup Jongin tidak kalah penuh masalah.
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya tapi mereka terus bertanya. Ini jauh lebih melelahkan. Mereka terus menggali sesuatu seolah aku adalah satu-satunya yang paling gila disini." Sehun terus mengeluh. Hampir memukul meja kalau saja ia tidak ingat bahwa ada banyak pasang mata yang tengah memperhatikan.
Jongin lantas kesal. Ini bukan saatnya mereka berdebat. Bukan tempatnya, kecuali di rumah. "Singkirkan pemikiran bodohmu itu. Hanya katakan padaku bahwa kau tidak melakukannya."
"Apa aku terlihat tidak melakukannya?" tanya Sehun maju dari sandaran kursinya. Harga diri pria itu jatuh terperosok, karirnya pun kian bergerak ke tepi jurang. Siapapun tahu bahwa tidak mudah untuk publik figur bangkit jika terlibat masalah di negeri ini. Namun Sehun adalah satu-satunya yang tidak peduli.
Jongin mendegus. Secuil kalimat itu tentu tidak cukup untuk membuatnya tenang. Sehun masih memiliki alasan untuk ditindak pidana. Semua bukti pun hampir mengarahkan pisau padanya. Terlebih ketika Sehun tidak menghubungi bantuan apapun, malah menikmati bagaimana detik-detik Seyoon berjuang dengan taruhan nyawa. Siapapun bisa menebak bagaimana para jaksa akan menuntutnya.
Sehun berdecih kesal. Pria itu berakhir menendang kaki meja dengan salah satu kaki. "Lihat, tidak ada gunanya kau datang. Kalian sama saja seperti semua keparat itu."
"Lebih dari itu, aku kemari hanya ingin bertanya satu hal padamu." Jongin menautkan jemarinya. Sedikit mencondongkan kepala pada Sehun untuk membahas sesuatu. "Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang Seyoon?"
Seperti dugaannya, Sehun pun menyernyit. Pria itu tampak bingung dengan pertanyaan itu. Padahal Jongin tahu benar jawaban Sehun. Melalui terkaannya sendiri ia sudah bisa membaca bahwa Sehun lebih merasa terancam di dekat Seyoon. Berbeda halnya dengan Chanyeol yang terlihat santai, Sehun justru berpikir keras untuk menyingkirkan Seyoon, seakan esok adalah hari terakhir yang pria itu miliki.
"Dia mengandung anakmu, aku benar?" bisik Jongin tepat pada intinya. Sebab dirinya bukanlah seseorang yang gemar berbasa-basi. Ia ingin cepat pulang, lalu merindukan bantal. Ia belum tidur sekalipun sejak kabar Sehun menguras akal sehatnya. Tapi walaupun sedemikian ingin, Jongin tahu rumahnya sudah dikosongkan untuk kebutuhan penyelidikan. Ia mungkin harus memesan kamar hotel untuk melepas penat.
"Tidak," jawab Sehun tegas. Menolak dengan keras pada Jongin yang menurutnya asal bicara. "Seyoon mengatakan itu milik Chanyeol. Aku jelas tidak melakukannya."
Sehun menyeringai dalam emosi. Jongin pun tidak terlihat terkejut sama sekali. Mereka bahkan pernah membuat keberantakan yang cukup parah di tiap sudut rumah. Bagi keduanya, hal ini cukup biasa untuk diresapi kepala.
Sikap tempramen Sehun adalah hal yang bisa Jongin pahami sejak kecil. Saudaranya itu selalu jadi yang paling tidak menerima kekalahan. Baik saat Jongin menang atau hal lainnya, Sehun satu-satunya yang keberatan. Bahkan sampai sekarangpun, pria pucat itu masih gemar mengejeknya ketika salah. Namun hal itu bukan satu-satunya. Ada satu hal lain yang tidak diketahui banyak orang perihal Sehun.
"Soal Luhan─"
Hanya Jongin yang mengetahuinya. Hanya Jongin yang mengetahui bagaimana Sehun kehilangan hal yang paling berharga selain ibu mereka.
"Jangan bawa namanya!"
Sehun selalu membenci ketika nama itu disebut ke dalam pembicaraan. Pria itu marah, bahkan bisa memukulnya jika Jongin nekat membicarakan Luhan.
"Kau seharusnya tidak sehancur ini karena orang sepertinya."
"Kuperingatkan kau untuk tidak menyebut namanya!" tegas Sehun dengan mata melotot tajam. Tangannya terkepal kuat di kedua sisi tubuh tingginya, bersiap dengan amukan paling mematikan jika Jongin tidak ingin dengar.
Bukan tanpa alasan ketika Jongin ingin membicarakan Luhan lebih sering pada saudaranya itu. Ia hanya ingin Sehun menerima kondisi. Menerima kenyataan baru yang harusnya bisa dihadapi. Bahwa Luhan, sang masa lalu, sudah berbahagia dengan kehidupan barunya. Memiliki keluarga yang sempurna, sesempurna pandangan banyak orang soal pasangan menikah. Sumpah mati sang pria dan wanita yang saling mencintai. Bahkan jika salah satunya tidak terlihat demikian, kata 'terbiasa' adalah alasan untuk bertahan. Karena Jongin tahu, bahwa Luhan-lah yang paling ingin kehidupan Sehun menjadi benar.
Meski tidak adil, ini adalah sebuah pilihan. Jika Luhan telah memilih, bukankah Sehun-pun harus? Seseorang harusnya tidak pernah hidup dalam angan yang tertinggal.
"Benar, kau harus melanjutkan hidupmu. Sudah nyaris empat tahun─jika Luhan bisa melakukannya, kau harus jauh lebih bisa. Kau adalah Park Sehun, tidak ada hal mustahil yang tidak bisa seorang Park lakukan." Jongin menatap kemana mata teduh Sehun mengarah. Meski tak setajam beberapa waktu lalu, Jongin jelas dapat melihat kerapuhan dalam diri saudaranya.
"Dan aku berjanji akan mengeluarkanmu dari tempat yang tidak pantas ini."
e)(o
Chanyeol perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Tatapannya kosong, rahangnya kaku untuk sekedar membalas ucap seseorang yang berbicara dalam sambungan telpon. Pria tinggi itu tidak kunjung bereaksi pada suara klakson di belakang mobilnya. Gema keributan itu bahkan meninggalkan hening yang mengendap. Membawa Chanyeol pada bantingan setir ke arah kiri, kemudian menciptakan keributan klakson yang lain karena ia melawan arah sejauh lima meter.
Tujuan Chanyeol memakai pakaian formalnya adalah bukan untuk bekerja. Ia punya janji temu dengan Junmyeon untuk menghadiri pemakaman keluarga koleganya. Chanyeol tentu tahu bahwa peristiwa meninggalnya seseorang harus dihadiri dengan duka. Chanyeol tahu sepenting apa mereka harus datang untuk menghormati mendiang. Tetapi baginya datang ke pemakaman dalam kondisi seperti ini menurutnya kurang tepat. Ia pun tidak pernah lagi menghadiri prosesi pemakaman manapun selain pemakaman ibunya dahulu.
Baekhyun kemudian menjadi alasan mengapa ia membanting setirnya seolah pasien rumah sakit jiwa yang lepas kendali. Dadanya berdenyut menyesali hal yang baru saja ia dengar dari kepala pelayan rumahnya. Kacau, terlalu berantakan sampai tidak ada seorangpun yang ingat untuk menghubunginya. Selain Junmyeon, tentu tidak ada lagi yang memintanya bertemu untuk membicarakan sesuatu. Apa yang sudah dilewatkannya?
Chanyeol nyaris membanting pintu. Matanya buram untuk menemukan sisa bayangan Baekhyun yang ia temui terakhir kali. Kamar, dapur dan bahkan ruang tengah, ia gusar mencari. Sampai pada akhirnya ia menemukan pintu kamar mandi yang terbuka. Sosok yang dicarinya tepat keluar dari sana dengan bathrobe miliknya.
Chanyeol tidak sempat memuji betapa indah sosok Baekhyun dengan rambut basahnya. Kulit putih yang terlihat mengkilap oleh titik air, lalu bibir mungil yang memanggilnya heran adalah alasan mengapa Chanyeol mematung. Kehilangan kagumnya dalam sekali untaian detik.
Maka ia meraih tubuh itu ke dalam pelukan. Sepenuhnya Chanyeol mengabaikan kemejanya yang ikut membasah. Terlebih mengabaikan bagaimana Baekhyun berusaha menyingkirkan pelukannya karena terlalu tiba-tiba.
Mendapatkan tubuh itu dalam pelukan entah mengapa rasanya begitu melegakan. Menenangkan tiap ujung syarafnya, bahkan untuk semua pemikiran buruk di perjalanan tadi. Ia lega karena Baekhyun masih bernafas di pelukannya, tidak terluka sebagaimana kemungkinan buruk kepala pelayan rumahnya bercerita. Meski terlambat untuk tahu, Chanyeol merasa dunianya masih berotasi pada porosnya secara utuh.
"Maafkan aku," mohon Chanyeol menyesal dalam bisikan. Masih mendekap erat tubuh mungil Baekhyun dengan lengannya. Sesekali mencium pelipis basah si pemuda. "Aku tidak di sisimu malam itu."
Yang dipeluknya berakhir berdiam. Masih terhimpit pelukan tiba-tiba. Mata bulan sabitnya kemudian mengerjab dengan jemari yang terangkat bebas ke udara. Enggan menyentuh lengan Chanyeol yang kering, karena Baekhyun tidak ingin setelan mahal pria itu basah.
"Aku mendengarnya dari Kepala Pelayan Lee," sambung Chanyeol melonggarkan pelukan. Menatap kemana kekasihnya mematung, sambil menangkup kedua pipi halus itu.
Namun bukannya Baekhyun menatap, justru sorot itu bergetar menghindari maniknya. Tidak sampai hitungan tiga, jemari lentik Baekhyun sudah meraih jemari Chanyeol untuk minta dilepas.
"C-chanyeol, maafkan aku─" ujarnya balik penuh sesal. Pemuda itu lantas melipat kakinya. Berlutut dalam tundukan di depan kakinya. "Aku meninggalkannya sendirian."
Chanyeol lalu diluputi perasaan berkecamuk. Terlebih saat tubuh kecil itu meratap di lantai. Memohon di depan kakinya seperti seseorang yang tidak akan termaafkan. "Baek, hey─"
Chanyeol ikut bersimpuh. Meraih lengan Baekhyun dengan lembut, sebelum ia mengetahui bahu itu bergetar menahan tangis. Hati Chanyeol entah mengapa terasa teriris menyaksikan ini. Ia tentu tidak akan membiarkan Baekhyun berlutut untuk sesuatu yang tidak jelas seperti ini.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu." Wajah sembab itu terus menunduk. Tak terhitung air matanya menetes di lantai. Sekalipun Baekhyun tidak ingin menghadapnya. "Aku meninggalkannya sendirian, Chanyeol. Yang terjadi pada Seyoon─semua adalah salahku. Aku membiarkan Sehun mencelakainya, aku tidak menghubungi siapapun untuk menyelamatkannya. Aku─"
"Tidak," sanggah Chanyeol masih berusaha menenangkan. "Kau tidak salah, Baek. Kau tidak salah."
Baekhyun lalu membebaskan lengannya. Menghindari Chanyeol sekali lagi, meski pria itu terus mengambil lengannya. "Aku bersalah, Chanyeol. Aku membunuh─aku membunuh anak kalian."
"Baek─" Chanyeol meraih pipi Baekhyun yang basah. Pria itu tanpa ragu menelisik kemana manik hitam kekasihnya berkelana. Tak luput air mata, isakan sesak dan tatapan nanar itu kembali membuatnya merasa bersalah. Dan kini satu kesalahan kembali Chanyeol sarangkan pada tubuh Baekhyun yang rapuh. Tidak ada kata lepas yang bisa melenyapkan mereka dari Baekhyun jika ia terus memupuk kesalahan.
Isakan Baekhyun terus mengangganggu, Chanyeol bersumpah jika semua itu menghujamnya begitu dalam. Membawanya pada perasaan lapang penuh pilihan. Dan Chanyeol harus membuat keputusan untuk membicarakan setiap hal kecil yang dialaminya pada Baekhyun.
"Kau harus mendengar ini," buka Chanyeol mencoba memulai. Ia mau tidak mau harus membuat pilihan dengan kalimat menenangkan. Sebab baginya perasaan Baekhyun tengah menjadi pertaruhan, harus segera disentuh untuk meluruskan segalanya.
"Seyoon bukan tanggung jawabku. Aku pun tidak pernah mencintainya. Hanya saja aku dan Seyoon membuat kesepakatan kecil sebelum hubungan itu dimulai."
Chanyeol melanjutkan, "Pernikahanku tidak lebih dari bisnis kontrak dengan beberapa keuntungan. Pun selama delapan bulan pernikahan, kami sepakat untuk tidak berbagi ranjang di rumah. Aku dengan duniaku, dan kubiarkan Seyoon tenggelam dalam dunianya sendiri. Aku hanya mencoba menghormati privasinya, pilihannya, pekerjaannya, dan aku tidak pernah lupa pada batasanku sendiri. Tidak pernah sekalipun aku berniat melakukan hal sekeji itu di atas kontrakku sendiri."
"Aku dan Seyoon tidak punya alasan untuk berbicara satu sama lain. Bukan karena aku bermasalah dan aku tidak peduli padanya. Hanya saja kaulah yang terpenting disini, Baek. Aku mengkhawatirkanmu, tidak ada hal lain yang bisa kupikirkan selain dirimu. Kau percaya padaku, kan?"
Baekhyun pun tergugu. Sosok itu masih berderai air mata ketika mendengarkan. Namun Baekhyun mendengar kalimatnya dengan baik, segera kepala itu mengangguk dalam pilu. Mengiyakan dengan yakin, hingga Chanyeol perlahan merapus air mata itu.
"Semua akan baik-baik saja, percaya padaku." Chanyeol mencoba tersenyum lembut. Ingin menulari Baekhyun untuk segera tersenyum, namun nampaknya akan sulit. Terlalu banyak hal buruk yang terjadi. Tentu Baekhyun tertekan akan hal itu.
"Kau harus mengeringkan rambutmu."
Baekhyun kembali mengangguk.
Melihat pemuda itu masih berlutut, ikut merapus air matanya sendiri, akhirnya perasaan meletup Chanyeol muncul. Entah bagaimana ia menjadi semakin kagum melihat Baekhyun yang menangis di hadapannya begini.
"Butuh pelukan?" Chanyeol mencoba mencairkan suasana. Dan kalau memang bisa, ia sebenarnya ingin Baekhyun menciumnya. Atau mungkin ia sendiri yang akan melakukannya? Tapi sayang sekali, Chanyeol tidak ingin dicap sebagai pria tak bermoral. Ia tidak bisa menjerumuskan Baekhyun pada dosa dengan penampilan sepolos ini.
Manik Baekhyun kini berkilauan. Rambut coklatnya yang basah masih betah berantakan. Kaki telanjangnya pun masih di lantai, beradu bersama dingin yang bertambah dua kali lipat rasanya. Poin-poin kecil seperti itu tentu dapat meluluhkan hati siapa saja. Termasuk Chanyeol yang sudah ingin kehilangan rasa sabar. Ia harus mengontrol dirinya untuk bekerja semaksimal mungkin. Menekan 'ingin' yang menariknya agar aman terkendali.
"Baekhyun, berhenti menatapku begitu."
Baekhyun dengan wajah polosnya pun berubah bingung. Teramat menggemaskan hingga Chanyeol ingin memuji.
Lama bersitatap, Chanyeol akhirnya menyerah. Pria itu lelah dengan debaran gila yang bersemayam dalam dadanya. Iapun memutuskan untuk mendekat. Mengikis jarak mereka dengan perlahan, sampai Baekhyun tidak bergerak kemanapun.
Semburat merah mengembul dari pipi Baekhyun. Ditatap sedekat itu tentu membuat dada siapapun meletup. Jemarinya di lutut kini sudah meremas kain bathrobe. Sempat ingin mundur, tapi Chanyeol sudah mencapai hidungnya.
Chanyeol meresapi bagaimana jemarinya menghangat akibat bersentuhan dengan kulit polos itu. Debaran dadanya meluap, bercampur dengan deru nafas Baekhyun yang terasa begitu dekat di wajahnya. Chanyeol tentu tak sabar, ia sudah lama merindukan bibir mungil itu menyambutnya. Dan ia lebih dari senang saat mendapati Baekhyun mulai terpejam, siap menerima dirinya.
Telah terbayangkan di benak, sosok itu akan menyambutnya dengan sapuan kecil ketika Chanyeol menangkup kedua pipinya. Namun tidak lama sebelum semua itu berjalan seperti yang Chanyeol harapkan, Baekhyun dengan tega mendorong bahunya.
"Aku ingin menelponmu sebelumnya─"
Tanpa bisa dipungkiri Chanyeol berakhir kecewa. "Oh, aku pergi menyelesaikan sesuatu," balasnya mengusap tengkuknya pelan. Karena demi apapun keinginannya masih terbang. Masih mengais-ngais harapan bahwa Baekhyun akan memberinya waktu untuk melepas rindu.
Baekhyun hendak memprotes. Entah mengapa saat ini bagi Baekhyun, Chanyeol menjadi lebih tidak bermoral dibandingkan dengan sebelumnya. "Aku mendapatkan panggilan polisi sebelum kau datang. Aku harus segera pergi atau mereka menerobos masuk ke apartemenmu."
Chanyeol menjatuhkan kedua bahu. "Mau kuantar?"
"Aku bisa pergi sendiri," jawab Baekhyun menggeleng. Segera beranjak meninggalkan Chanyeol yang terdiam sendirian. Tahu benar jika Baekhyun tidak ingin mereka terlibat dengan sang ayah dalam satu waktu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Sebelumnya, aku mau minta maaf, Royalty baru bisa aku lanjutkan sekarang. Thank You juga karena udah ngingetin kalau ff ini masih ada. Semoga kalian masih ingat dengan kisah di ff ini ya.
Dua bulan kemarin aku kerja nonstop, dan sekarang aku dapet kerjaan lagi wkwk Tapi syukurnya gak sesibuk bulan lalu, sih. Jadi akan aku usahakan supaya ff ini bisa selesai. Tinggal sedikit lagi kok, hehe.
So, sampai jumpa di part selanjutnya ^^
