ROYALTY
by Gyoulight
.
.
.
.
A CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Drama (?)
RATING: T (?)
.
.
.
.
*note: italic = flashback
"Chanyeol, ada sesuatu yang harus ayah katakan─"
Chanyeol masih menggenggam gelasnya. Jemarinya sedikit gelisah, bergerak pelan pada permukaan bening yang kosong. Sepanjang malam diserang dingin, namun tak sama dengan suasana dalam dirinya. Seperti yang ia tahu, tengah malam di Barcelona selalu dingin dan ramai. Malam panjang dihabiskan untuk bersenang-senang. Berdansa bersama lampu-lampu terang, mengantar pengendara meniti sisa pulang.
Tidak terpikirkan bagi Chanyeol untuk berani menatap kedua mata lelah yang tak pernah lepas menatapnya itu. Segenggam hatinya tak siap, ingin meminta interupsi pada waktu. Paling tidak ia diberitahu sebelumnya, bahwa ini adalah hal yang perlu ia persiapkan. Karena jika ayahnya mulai bicara, apa mungkin itu tentang hal yang menyenangkan seperti hari ini?
Ayahnya menuangkan sekali lagi gelas miliknya yang kosong. Sorot yang belum pernah ia temui kali ini mengusik tenangnya. Chanyeol bahkan bisa yakin akan mengingat bagaimana ayahnya menghindari tatapannya ketika ia berantusias. Seakan sang ayah memiliki beban lain di pundak, yang berat jika hendak dikatakan.
Ini pertama kalinya.
Chanyeol terus berisap, tidak mengindahkan sajian ayahnya yang begitu spesial. Tidak lagi, sebab siapa yang tidak berubah jika suasananya berubah dingin begini? Ayahnya saja mengambil nafas berulang kali sampai ia lelah menagih.
"Kau bisa tinggal disini," ujar sang ayah membuka. Memberi jeda sebelum manik Chanyeol berkedip. Ingin memberi ruang sejenak untuk Chanyeol mencerna kalimatnya. "Tinggallah disini atau kau menginginkan hal lain, ayah akan mengabulkan salah satunya."
Chanyeol bergeming untuk beberapa saat. Sementara ayahnya kembali membayang dirinya dalam sepasang jernih yang terlihat sama dengan milik Sehun. Manik itu begitu teduh, coklat, tidak seperti miliknya yang tegas. Namun ayahnya kini menurunkan ego saat buka bicara dengannya. Seakan ingin berbicara baik meski Chanyeol mengetahui apa yang akan terjadi padanya.
"Maksud ayah─"
Untuk pria yang telah melalui hidup selama 29 tahun lamanya, Chanyeol bukanlah seorang bocah yang tidak mengerti kalimat orang dewasa. Ia kenal benar siapa ayahnya, bagaimana emosi pria itu meledak, bahkan kapan suasana hati ayahnya berubah, Chanyeol tahu semua itu dengan mudah. Ia dapat membaca maksud hati sang ayah yang menginginkannya keluar dari rumah. Menetap di benua seberang dalam waktu tidak singkat. Ia tahu jika ayahnya menemukan sesuatu.
"Kau mungkin selama ini bertanya mengapa ayah tidak pernah memilihmu." Tatapan ayahnya begitu jelas memandanginya yang bergeming. Memintanya mendengar meski sulit untuk Chanyeol pahami.
"Sebelumnya ayah pernah memutuskan untuk mengubur kebenaran ini bersama kematian ayah. Tapi setelah ayah pikir, kau juga berhak tahu tentang siapa dirimu." Kali ini ayahnya menuang wine ke dalam gelas minumannya sendiri. Melupakannya yang membeku, tidak tahu harus berbalas apa selain mendengar dan membiarkan isi gelasnya menyepi.
"Jadi, kisah ini terkubur sekitar puluhan tahun yang lalu. Tepatnya saat usiamu masih empat tahun. Ibumu adalah alasan terbesar mengapa ayah setuju untuk membesarkanmu. Ayah berhutang budi padanya. Vionapun tidak pernah menolak."
"Kami mungkin bukan orang yang berperan penting dalam kelahiranmu, meski begitu, kami menyayangimu melebihi Sehun dan Jongin. Dan ayah melakukan hal yang sama sampai detik ini pula."
"Hanya saja─kali ini ayah tengah memikirkan kebahagiaan Baekhyun. Karena kesalahan ayah, sejak kecil dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang sama kalian dapatkan. Jadi ayah ingin kau mengerti bahwa ayah ingin dia menjadi putra yang bisa ayah banggakan─sepertimu."
Jemari Chanyeol beralih mengait satu sama lain. Mencoba menguatkan diri, menarik nafasnya dengan perlahan untuk semua sesak yang tiba-tiba mendera dadanya. Mata pria itu kini tak lagi mampu menatap sang ayah. Memilih menatap lututnya kosong tanpa memikirkan apapun. Sementara bayangan-bayangan kabur di kepalanya kini berjatuhan di lantai. Bersiap menimbunnya tenggelam dalam pedih, sesal dan emosi yang membah.
Chanyeol kini paham mengapa dirinya selalu dinomorduakan. Ia selalu menjadi yang paling iri. Merasa menjadi bagian yang berbeda meski ayah dan ibunya memperlakukannya sama baik dengan yang didapatkan Sehun dan Jongin. Dan Chanyeol bukanlah remaja yang akan menangis, meraung melempari pintu dengan barang mudah pecah ketika mendengar hal seperti ini. Ia jatuh terpukul, tentu. Siapa yang tidak terpukul mendengar hal ini, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya ia yakin dan terbiasa menjadi bagian dari orang lain.
Chanyeol yakin jika ia mendapatkan kontrol diri dengan cukup baik. Ia pria dewasa yang menatap bahwa ini bukanlah masalah. Ia hanya perlu membalas budi. Mengatakan terima kasih tanpa henti, tanpa menangis seperti bayi. Chanyeol yakin jika ini bukanlah masalah besar. Ia kini adalah Chanyeol, ayahnya ada di hadapannya dan itu tidak bisa merubah apapun.
Satu hal saja yang terpikir olehnya. Chanyeol merasa bersalah. Ia diluputi penyesalan, merasa berdosa sebagai orang yang tidak tahu diri. Wajar jika Sehun, Jongin dan Baekhyun membencinya. Ia benar-benar pria yang tidak tahu diri. Hampir saja ia merebut hak milik ketiganya untuk ia miliki sendiri. Padahal ia bukanlah siapapun. Ia tidak berhak untuk menerima sepeserpun dari ayahnya.
"Ayah paham perasaan yang tumbuh dalam dirimu. Dibandingkan dengan Jongin dan Sehun, ayah lebih mudah memahamimu. Dan kaupun tentu akan menganggap permintaan ini bukan sesuatu yang menyenangkan, ayah tahu." Pria di hadapannya kini menarik gelasnya. Mencicipi minuman yang entah sudah berapa kali tandas di tangan.
Selebihnya, ayahnya tahu jika ia dan Baekhyun menjalani hubungan yang tidak pantas untuk dilakukan. Ia benarlah pria yang tidak tahu diri jika setelah ini tetap menginginkan Baekhyun dan memohon pada seseorang di hadapannya itu untuk memilikinya. Jelas ia tidak lagi pantas menghadapkan wajah di depan ayahnya sendiri.
"Ayah mengirimmu kemari untuk menyerahkan perusahaan ini untukmu. Sebagai tanda terima kasih karena kau telah menjaga Baekhyun." Manik ayahnya kembali menenggelamkannya. Memberi sisa keyakinan rapuh, meski Chanyeol sendiri sudah ingin berbicara mengenai penolakan.
"Dan kuharap kau tetap menjadi Park Chanyeol. Tidak ada hal yang akan berubah setelah pembicaraan ini selesai," ujar ayahnya memberi keputusan mutlak.
Orang lain mungkin akan berpikir bahwa Chanyeol tengah beruntung, namun jika ia adalah Chanyeol yang lain, hal ini tetaplah peringatan terakhir. Ia jelas diminta untuk menjauh dari Baekhyun─
untuk selamanya.
e)(o
Diary tua bagi kebanyakan orang mungkin hal yang tidak berharga. Tiap lembaran menyisakan debu. Lembaran coklat mulai diresapi tinta pena yang tumpah. Benda itu tidak pula setebal kelihatannya. Hanya sekedar reminder, jurnal atau coretan ide yang dibutuhkan. Tapi bagi Chanyeol, peninggalan ibunya yang satu ini adalah harta tak ternilai harganya. Susah payah ia mencari seseorang yang tepat untuk menerjemahkan kalimat asing sang ibu. Mencari jejak mengapa ibunya tak pernah pulang, hingga tiba dimana semua orang dapat melihat keruntuhan keluarganya.
Tulisan kecil Baekhyun yang cukup rapi kemudian ia buka di atas meja. Disandingkan dengan milik peninggalan ibunya, lengkap dengan kehati-hatian saat membuka tiap lembarnya. Chanyeol dengan rasa penasaran sejak dahulu baru sempat membaca. Pria itu memupuk penyesalan karena baru sempat membuka kalimat ibunya.
Setelah perjalanan panjang bersama sang ayah di Eropa, Chanyeol rupanya banyak menerima pelajaran. Selain pelajaran berbisnis, ia ditawarkan untuk mewarisi salah satu yang besar. Ayahnya tentu masih percaya pada seluruh kinerjanya beberapa tahun terakhir. Chanyeol adalah yang terbaik dibandingkan dengan si kembar─dan ini selalu menjadi pengakuan sang ayah.
Namun setelah dipuji sedemikian rupa karena sukses menjadi sekertaris sang ayah seminggu lamanya, Chanyeol justru diberikan pilihan sulit. Mendapatkan apa yang ia inginkan atau meninggalkan apa yang ia butuhkan.
Chanyeol mengenal ayahnya dengan baik. Sang ayah yang dahulu merawatnya itu bukan seseorang yang gemar bercanda. Perintahnya adalah mutlak, waktunya adalah pilihan. Dan jika pilihan itu hari ini, maka Chanyeol tidak lagi punya waktu untuk berpikir. Bahkan ketika sang ayah memberinya beban besar di pundak. Chanyeol segera tahu, terjawab sudah mengapa ia tidak pernah menjadi seseorang yang dipilih ayahnya.
Bahwa nyatanya, ia hanyalah sebuah tambahan.
Chanyeol teringat ketika sang ayah mengambil gelasnya. Menuangkan minuman yang mereka pesan sebagai perayaan. Sebuah apresiasi yang Chanyeol pikir adalah pujian kerja sama sukses mereka.
"Jadi Chanyeol, kisah ini terkubur sekitar puluhan tahun yang lalu. Tepatnya saat usiamu masih empat tahun."
Chanyeol berhenti pada lembaran akhir yang ditulis Baekhyun di bukunya. Sementara jemarinya membeku, ikut membayang nyata kalimat ayahnya terakhir kali. Ia pun memaksa beralih pada diary ibunya lagi-lagi, membaca tiap untaian kata di dalam sana meski tidak paham benar maksudnya.
"Ibumu adalah alasan terbesar mengapa ayah setuju untuk membesarkanmu. Ayah berhutang budi padanya. Vionapun tidak pernah menolak," ujar bayangan ayahnya mengusik. Duduk di samping kursinya dengan segelas minuman. Tidak lupa bagaimana setelan jas pria itu membalut pekatnya malam. Melupakannya yang terdiam, tidak dapat melakukan apapun selain beku tanpa perasaan apapun.
Chanyeol meremas pegangannya pada sampul diary itu. Ia terus tidak menemukan apapun selain bahasa asing yang tidak ia pahami. Sementara bayangan ayahnya terus terngiang. Membisikkan banyak hal hingga Chanyeol tidak dapat membaca apapun dengan kedua matanya yang buram.
"Ayah mengirimmu kemari untuk menyerahkan perusahaan ini untukmu. Sebagai tanda terima kasih karena kau telah menjaga Baekhyun." Ayahnya tersenyum. Begitu lembut menatapnya bangga. Tanpa menghiraukan perasaannya yang hancur, sang ayah tetap membuat keputusan. Selayaknya keputusan mutlak pria itu dahulu, bahwa bukan ia yang akan mendapatkan sebuah kepercayaan. Terlebih sebagai seseorang yang dipercaya untuk mendapatkan Baekhyun, sosok itu seperti tengah merubah garis edar semestanya.
"Ayah paham perasaan yang tumbuh dalam dirimu. Dibandingkan dengan Jongin dan Sehun, ayah lebih mudah memahamimu. Dan kau pun tentu akan menganggap permintaan ini bukan sesuatu yang menyenangkan, ayah tahu."
Jelas, saat itu ayahnya tengah berbicara mengenai dirinya dan juga Baekhyun. Perkara hubungannya dengan Baekhyun yang rumit. Ayahnya tentu mengetahui segala hal meski tidak diberi tahu. Ada banyak orang yang berada di belakang sang ayah, memberitahu secara lengkap tanpa diperintah, hingga ayahnya bisa membuat putusan seperti ini.
Dan tiba pada Chanyeol yang menemukan deretan angka pada lembaran lain. Hanya enam digit angka, selayaknya sebuah kode rahasia untuk membuka sesuatu─
"Chanyeol?"
Panggilan itu membuat Chanyeol buyar. Entah bagaimana matanya memburam untuk meyakinkan bahwa panggilan itu bukan sosok sang ayah. Sebab jelas, bayangan ayahnya masih berada disana. Masih menatapnya tanpa menghiraukan sosok yang berdiri di dekat pintu. Bahkan hendak menerobos masuk karena lelah memanggilnya.
Pemuda di pintu segera mendekat. Memeluk dirinya sebentar sampai Chanyeol bisa melihat bayangan ayahnya memudar dari bahu sosok yang memeluknya.
Chanyeol mematung. Sama sekali tidak mengindahkan bisikan Baekhyun di pelukannya. Pemuda itu tersenyum manis, hendak menariknya bangkit dari kursi. Lalu setelah beberapa saat menuruti gundah, barulah Chanyeol teringat genggaman nyata yang Baekhyun buat pada jemarinya. Sebuah simpul imajiner yang dikatakan ayahnya kemudian mulai terlihat, mengikat kuat, namun tidak terhubung dengan miliknya.
Dada Chanyeol berdenyut. Ia tidak tahu kapan pastinya ia bisa membicarakan permintaan ayahnya perihal Baekhyun. Dengan Baekhyun yang hanya mempercayainya, dengan Baekhyun yang saat ini hanya bergantung padanya, kedua hal itu membuat langkah kakinya jauh terasa lebih berat. Tentu ia tidak bisa membiarkan sosok yang digenggamnya ini tinggal sendirian. Terlebih diantarnya pulang kepada rumah yang bukan lagi miliknya.
Maka Chanyeol mencari kemana bayangan ayahnya yang semakin menghilang. Buru-buru ia kembali memohon, mengatakan hal yang sama seperti kalimatnya malam itu─
"Aku mencintainya, ayah."
e)(o
Setelah menghilang selama dua hari, Baekhyun rupanya ingin menunjukkan sesuatu. Pemuda itu berlarian ke arah meja. Membuka kardus yang diletakkan di tengah ruang, tak lupa menyuruhnya untuk lebih mendekat. Chanyeol tentu menurut, siapa yang akan menolak ajakan Baekhyun?
Maka Chanyeol mendekat. Mencoba melihat ke dalam isi kardus kecil itu dengan tanda tanya besar di kepala. Sedangkan Baekhyun lebih dahulu memasukkan tangannya ke dalam benda itu. Hendak membangunkan sosok kecil berbulu coklat, walaupun kelihatannya makhluk itu sama sekali kurang bersih.
Sipit Baekhyun lalu menyipit riang. Senyumnya sudah sebersih udara malam di balkonnya. Chanyeol kini bertanya bagaimana pemuda itu bisa terlihat begitu berbeda setelah menemukan sesuatu. Bahkan untuk seekor anak anjing yang ia pikir sudah dibuang oleh salah satu pengguna jalan. Dan ini adalah kali pertama Chanyeol mendapati seseorang bahagia setelah membawa seekor puppy dari jalanan.
"Aku menemukannya di seberang jalan. Aku tidak tahu apa yang membuatku tertarik, tapi Kris bilang aku tidak boleh membawanya pulang ke rumah," bicara Baekhyun terdengar cepat sekali. Maniknya terlihat berkilau, berbanding terbalik dari muramnya kemarin. "Aku ingin kau membantuku bicara pada mereka─untuk mengizinkannya tinggal di rumah."
"Aku tidak suka anjing," ujar Chanyeol kemudian. Dan seperti yang Chanyeol pikirkan, Baekhyun berubah murung karenanya. Senyum pemuda itu mulai luntur, tidak menyisakan satupun kesan manis seperti biasanya.
Dan karena hal itu pula Chanyeol buru-buru meluruskan, "Tidak. Bukan berarti aku membencinya. Saat kecil, aku memiliki alergi pada bulu hewan."
"Maaf, aku tidak tahu soal itu." Baekhyun sedikit menyeret kardus itu menjauh dari Chanyeol. Iapun segera membuat jarak yang cukup jauh dari posisi si tinggi. Raut itu kembali murung, menjadi pemeluk rasa bersalah atas perlakuannya sendiri.
"Tapi saat aku memelukmu, aku sudah mencuci tangan," sambungnya.
Chanyeol mematung. Tidak tahu harus berbuat apa pada jarak mereka yang begitu jauh. Ia mungkin saja masih pria berpredikat tidak peka, terlebih kurang pandai menghibur hati seseorang. Di hadapan Baekhyun saja ia betah berdiri, terus menatap bagaimana Baekhyun sibuk menutup bagian atas kardusnya. Berharap puppy yang dibawanya itu tidak keluar dan bersuara terlalu keras.
Sedangkan Chanyeol tidak mampu menumpuk rasa bersalah. Raut murung Baekhyun entah bagaimana menular padanya, segera berkelana mengganggu sang kepala. Dan ia pikir, ia sudah mendapati gambaran suasana canggungnya dengan Baekhyun jika ia memilih pulang. Ia membayangkan mereka akan menjalani hari berjarak seperti ini di rumah. Tidak ada sapaan, kalimat selamat pagi, sarapan ringan di atas meja, atau mungkin pelukan di ranjangnya. Betapa hambar yang dirasakan Chanyeol jika hal seperti itu terjadi dalam hidupnya.
"Berjalan lancar?"
Untuk sesaat, Baekhyun mengangkat kepala. Melupakan kardusnya yang mulai bergerak kecil, karena ia sudah membuat lubang di sisi lain. Jadi pikirnya akan cukup aman untuk pernafasan makhluk yang dibawanya.
"Kasus Sehun sudah dikirim ke kantor kejaksaan." Baekhyun terdiam kemudian. Belum melepaskan sisi kardus dari kedua tangannya. Lantas pemuda itu nampak tidak ingin ditanyai masalah rumah. Walaupun ia sepenuhnya mengetahui bagaimana Chanyeol mampu menebak apapun yang ia lakukan. Termasuk saat ia menyelinap keluar rumah dan menyetop taxi untuk kembali kemari.
"Kau tidak apa-apa jika anjing ini jauh darimu?"
Chanyeol kemudian membuat senyum sederhana di wajahnya. Pria itu sangat ingin mendekat pada sosok itu. Mengusak surainya yang coklat, atau mencubit kedua pipi mengemaskannya. Chanyeol saja masih tidak percaya jika Baekhyun yang begitu murni ini mampu meruntuhkan betapa keras hatinya. Sejak dahulu hingga sekarang, entah bagaimana Baekhyun mahir menghancurkan tembok menjulang yang memenjarakan hatinya.
Setelah Chanyeol menggeleng, Baekhyun mulai bernafas lega. Ia pun segera beranjak menuju wastafel. Hendak mencuci tangannya sampai bersih dengan sabun. Takut jika nanti ia tanpa sadar akan menyentuh Chanyeol dengan kedua tangan.
"Dan soal Seyoon─oh, tolong izinkan aku bicara tentangnya. Aku hanya lega dia tidak mengalami hal yang terburuk. Aku menyesal karena dia akan mendapatkan kursi roda untuk waktu yang lama."
Chanyeol yang sebenarnya tidak tertarik dengan cerita itu terus menatap kemana punggung Baekhyun menjauh. Sosok itu rupanya sibuk mencari kain lap untuk mengeringkan tangan. Chanyeol pun tidak memberi tahu sebelumnya, tapi dengan ajaib Baekhyun menemukannya di suatu tempat.
"Dia sempat melalui masa kritis dan─kehilangan janinnya. Apa kau mau menjenguknya?" Raut itu mungkin terbaca sedikit gentar. Dimana jika Chanyeol mengiyakan, Baekhyun akan lebih muram satu tingkat tingginya. Jadi Chanyeol harus menyusun jawaban tepat untuk ini. Pria itupun tidak peduli pada kondisi mantan istrinya─sebenarnya.
Keduanya lalu mendadak terdiam. Hanya hening yang berhasil menyusup. Tapi Chanyeol yang mengambil duduk di kursi, sebenarnya tengah menunggu Baekhyun tenang dan ikut duduk di dekatnya. "Tidak perlu," jawabnya kemudian.
Punggung Baekhyun berbalik. Senyum canggung yang dibuatnya kemudian membawanya mendekat pada salah satu kursi. Sosok itu rupanya tidak memaksa Chanyeol untuk berbuat baik seperti berbagi rasa simpati. Karena ia pun merasa tidak punya muka setelah bungkam dan kabur pasca kejadian malam itu.
"Baek, bisa duduk sebentar?" Chanyeol pelan-pelan meminta. Sebenarnya ia pun tidak tahu mengapa bisa memutuskan untuk berbicara sekarang dibandingkan esok hari. Dimana malam ini ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Baekhyun. Termasuk mendengarkan penjelasan lengkap bagaimana keputusan untuk Sehun, meskipun Chanyeol sudah berubah tidak berhak untuk mengetahui. Karena bukan urusannya lagi. Sebab ia tak lebih dari orang asing yang berada di tengah keluarga Park.
Baekhyun sedikit menarik kursinya. Duduk tepat di samping Chanyeol dengan tatapan bertanya. Ia pun tidak akan menyangka bisa diminta dengan serius oleh Chanyeol. Sebab mengenai pembicaraan, sudah pasti pria itu akan membicarakan hal yang penting. Sekalipun Chanyeol yang dikenalnya itu tidak pernah meminta izin jika ingin bicara, dia adalah seseorang yang akan langsung menyatakan sesuatu bagaimanapun kondisinya.
"Baekhyun," mulai Chanyeol ragu-ragu. Salah satu tangannya kemudian bergerak. Menyentuh puncak kepala Baekhyun yang tergugu. Meninggalkan elusan kecil disana sambil menyambut dinginnya permukaan kulit Baekhyun di tangan.
"aku selalu ingin mengatakan ini sejak dahulu." Jemari Chanyeol mengabsen satu persatu fitur wajah Baekhyun. Menyentuh pipi favoritnya dengan lembut. Sementara sang empunya hanya berdiam menganalisa debaran halus di dada. "Aku menyukaimu sejak pertama kau menerimaku di Dies Buenos."
Chanyeol lalu beralih pada jemari mungil yang balas menyentuh jemarinya. Melihat hal sesederhana itu saja membuat Chanyeol senang bukan kepalang. Merasa sudah menang, berhasil menggapai apapun, sebab jemari itu seakan diciptakan untuk melengkapi sisi kurang hidupnya.
"Aku memfavoritkan waktu dimana duniaku menghilang, perjalanan kita yang tidak berujung, dimana hanya tersisa dirimu di sisiku. Jemarimu adalah salah satu yang paling ingin kugenggam kemanapun aku pergi."
Baekhyun yang menyernyit lantas mencium keganjilan dari dalam dirinya. Dan bukannya Baekhyun tidak suka dipuji, hanya saja ini pertama kalinya Chanyeol memuji sebegitu banyak. Berhasil menambah intensitas debaran gila di dadanya, namun terdengar seperti arti yang lain.
"Sesuatu mengganggumu?"
Chanyeol sedikit mengeratkan genggamannya. Menatap manik Baekhyun yang berubah gundah itu sekali lagi. Tahu-tahu ia berubah ingin membatalkan niat untuk bicara. Namun kapan lagi Chanyeol sempat? Sebab ayahnya bukan seseorang yang sabar menunggu.
"Aku memikirkannya─" Chanyeol menjeda. Ia telah bertekad, ingin melakukan ini dengan segenap kemampuan. Alih-alih berhati-hati, sebab sedikit saja membuat kesalahan, Baekhyun akan berakhir hancur mendengarnya.
"Seperti yang kau bilang, perasaan seseorang begitu mudah berubah. Aku pun lelah memikirkan kemana aku harus pergi, apa yang harus aku lakukan untukmu─untuk kita. Dan aku tahu kau lebih lelah dengan beban yang kau pikul ini sendirian."
Baekhyun berakhir bisu. Gemetar manik itu memandangnya kosong. Seakan patung, tubuhnya hanya menerima terpaan angin yang mengikis. Mendadak ia tidak sanggup bicara, padahal ia sempat membulatkan betapa inginnya ia menjelaskan banyak hal pada Chanyeol. Tentang perasaannya, tentang perencanaan panjang yang tergambar di kepala. Namun dimana letak kesalahannya sehingga ia tidak diijinkan bicara?
Dan Chanyeol memikirkan hal yang sama sejak awal. Ia selalu percaya diri untuk menyelesaikan semua akar masalah. Bisnis, keluarga dan pencapaian, semua pernah selesai di tangannya. Tapi perihal ayahnya, entah mengapa ia tidak bisa berbuat banyak. Berakhir buntu, tidak tahu harus melakukan apa selain memutuskan untuk menyerah tanpa memiliki pembenaran dalam hidup. Lantas satu-satunya yang tersisa di tubuh Chanyeol kini hanyalah sesal yang tidak akan pernah menghilang.
"Maaf telah membuatmu terjebak dalam semua ini, Baek. Maaf karena memberimu perasaan tak pantas dan harapan yang kurang menjanjikan. Seharusnya aku tidak membiarkan ini sejak awal─"
Butuh banyak detik sampai Chanyeol mendapati linangan Baekhyun di matanya. Pemuda itu menunduk, kian menggigit bibirnya yang tak bersalah. Kalimatnya pun bergetar ketika ia menarik kembali jemarinya. "Kau menyesal bertemu denganku?"
Chanyeol menggeleng. Ia bersumpah bukan hal itu yang ia maksudkan. Bahkan jika ia bisa memutar waktu, ia ingin tetap bertemu dengan Baekhyun. Namun dalam kisah yang dapat ia putar dengan baik. Dengan tidak membuat kekacauan atau tidak dengan sikap serakah yang ia miliki.
"Chanyeol, jika kau melakukan ini karena kau merasa bersalah atasku─aku telah melupakannya. Aku telah melupakan bagaimana bentuk kecewa yang kau berikan dan menelan semua hal ini bersamamu. Bagiku tidak masalah, tidak ada hal yang perlu kau perbaiki."
Mendengar itu Chanyeol semakin menahan pedih di hatinya. Entah bagaimana hal ini layaknya boomerang yang meluncur kembali ke arahnya. "Baek, kita tidak bisa melakukan ini lebih jauh lagi. Tidak ada masa depan yang bisa kau gantungkan, tidak ada hal yang bisa menjamin kau akan bahagia bersamaku─"
"Aku hanya akan melukaimu."
Air mata Baekhyun lalu meluap. Menganak sungai pada permukaan pipinya yang terus menghadap lantai. "Dia yang memintamu?" tanyanya merapus air di pipi yang membasah. Tidak hirau akan Chanyeol yang menantikannya membalas menatap.
"Walaupun ayah tidak meminta, beban pikiranmu, rasa traumamu, rasa bencimu, tetap akulah pelakunya. Di hadapan mereka, aku tidak akan bisa menggenggam tanganmu. Mereka akan mengutuk jika aku melakukannya─"
Chanyeol kembali meraih jemari Baekhyun untuk ia genggam kuat-kuat. Berharap dengan hal kecil semacam itu dapat menahan ledakan emosi Baekhyun. Berharap bahwa Baekhyun akan memahami keputusan yang dibuatnya dengan mudah.
"Aku bukannya tidak ingin berusaha, hanya saja kupikir─aku tidak pantas untukmu."
Seketika jemari Baekhyun terasa gemetar dalam genggamannya. Manik itu kini menatapnya lamat dalam buram. Begitu pedih, dan Chanyeol menyesal karena tatapan nanar itu tidak mampu membawanya memecah keputusan yang sudah bulat.
"Baekhyun─maafkan aku." Raut pedih kian terlukis. Bagi Chanyeol, menyaksikan Baekhyun yang menangis seperti itu membuat Chanyeol berakhir menyesal. Begitu berat ia melepaskan Baekhyun dari sisinya.
Maka Baekhyun mengetahui bahwa Chanyeol tidak hanya ingin meluruskan keadaan mereka, tetapi pula meninggalkannya sendirian. Pergi seperti yang dilakukan Sehun dan Jongin. Entah untuk berapa lama, atau mungkin selamanya? Lebih jelas, perkataan Kris hari itu benar. Ini adalah resiko karena mereka sudah memilih.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Chanyeol mendekat, menangkup kedua pipi yang basah. Menyatukan dahi mereka, sebelum menjemput ciuman terakhir yang tidak akan bisa mereka lakukan lagi mulai esok hari.
"Aku harus pulang ke tempat dimana aku seharusnya."
e)(o
Hujan mengguyur seisi kota sebelum mengawali musim dingin. Kaca mobil berderai, dibaluri air tanpa henti seakan tidak mengizinkan siapapun melintas. Petir di ujung jalan membelah keramaian malam. Terasa begitu gelap, namun Sehun masih peduli untuk membanting setirnya di atas genangan air.
Penerangan remang menemani kiri dan kanan jalan. Mengantarnya memasuki pekarangan seluas satu hektar. Dimana kiri dan kanannya adalah batang pepohonan, rerumputan kering, hingga sampai pada sebuah kolam penyambutan.
Sehun segera menarik payungnya dari kursi belakang. Mengembangkan benda itu sebelum keluar, lalu membanting pintu mobil keras-keras. Pria itu tidak peduli jika mobil managernya itu akan rusak, atau mengalami sesuatu karena tidak kunjung ia matikan.
Langkahnya lalu melenggang panjang tanpa bantahan. Sambutan oleh beberapa pelayan ia tolak, berakhir dengan dirinya yang memecahkan beberapa vas dan lemari kaca di ruang depan. Hal itu membuat semua pelayan berlari bersembunyi. Tetap di posisi yang tidak terlihat, seperti yang Sehun pinta.
Sesampainya di lorong kiri, ia kembali mengayunkan payung yang dibawanya. Memporak-porandakan barang pecah belah disana hingga berhamburan di lantai. Tak lama, ia pun bertemu dengan seseorang yang dicarinya, Seyoon. Wanita itu berdiri di ujung lorong. Menatap Sehun ketakutan seperti tikus terjerat.
Sehun menyunggingkan senyum kemenangan. Melangkah dengan pelan, sebelum Seyoon hilang, berlari memasuki pintu kamarnya.
"Jung Seyoon─"
Pintu kamar Seyoon lantas terkunci. Sehun pun menurunkan payung rusaknya. Menendang dengan keras pintu di depannya itu berkali-kali. Namun tidak ada pergerakan berarti. Seyoon tetap saja mengunci pintu, meski seisi ruangan itu bukanlah miliknya.
Sehun berakhir mengangkat sebuah patung berukuran cukup besar di sudut lorong. Menghantamkan benda itu pada pegangan pintu. Berkali-kali ia lakukan hingga pegangan itu rusak.
"Kau meremehkanku," ujar Sehun murka. Sempat menendang pintu itu hingga rusak total.
Seyoon kini tidak terlihat di dalam. Kamar itu seakan kosong tak berpenghuni. Samar-samar, Sehun mendengar langkah kecil di belakangnya. Hampir lengah ia membiarkan Seyoon memecahkan vas bunga di belakang kepalanya. Beruntung ia cepat-cepat menghindar, menangkap lengan Seyoon kuat-kuat agar wanita itu berhenti menyerang.
"Kau pikir Chanyeol akan berpihak padamu?!"
Seyoon terus memberontak. Menarik dirinya menjauh, berusaha lepas dari cengkraman mematikan Sehun, atau ia akan celaka. "Lepas!" tuntutnya.
Maka Sehun mendorongnya. Membiarkan wanita itu terhempas keras di sudut nakas bersama dengan pecahan vas yang terinjak di kaki. Seyoon lantas merasakan nyeri yang hebat pada sekitar perutnya. Berakhir merintih di dekat kaki Sehun yang hanya berjarak selangkah.
"Kau melakukan hal sekotor ini hanya untuk menyingkirkanku. Mengambil perhatian ayahku dengan drama kehamilanmu? Kau pikir aku tidak tahu tujuanmu?" Sehun berbicara dengan nada penuh penekanan. Mengepalkan emosinya sampai keras pada jemarinya sendiri. "Seberapa banyak kau menginginkan uang ayahku?"
Sehun pun menarik rambut panjang Seyoon kuat-kuat. Membuat wanita itu mendongak terpekik, susah payah ia memohon untuk dilepaskan. "Dengar. Ayahku tidak akan memberikan sepeserpun pada Chanyeol."
Seyoon mulai gemetar. Air matanya tidak tertahankan untuk meleleh di pipi.
"Chanyeol bukan bagian dari Park. Sedikitpun tidak ada darah Park yang mengalir dalam tubuhnya. Bajingan itu hanya sampah yang ayahku pungut demi permohonan cinta pertamanya. Dia tidak lebih dari seorang sampah sepertimu."
Menatap Seyoon yang mendadak bisu, Sehun akhirnya melepaskan tarikan di rambut itu. Membiarkannya jatuh dalam kebuntuan, sebagaimana dirinya mendapatkan hal itu sama buruknya ketika Chanyeol datang dalam kehidupannya. "Kenapa? Terkejut jika Chanyeol tidak sesuai harapanmu?"
Sehun terus menatap ketidakberdayaan Seyoon dalam maniknya yang berkilat. "Sekarang kau tidak lagi memiliki alasan untuk mempertahankan janin itu."
Seyoon menggeleng kuat. Tersulut mundur dirinya menjauh. "Kau tidak bisa melakukan ini. Kau akan menyesal─"
"Menyesal?" Sehun terkekeh. Untuk pertama kalinya ia mendengar lelucon sekelas 'menyesal' dari mulut seseorang. "Asal kau tahu, Seyoon. Aku tidak pernah menyesal dalam hidupku."
Langkah Sehun kemudian mulai mendekat. Melenggang perlahan dengan seretan payung di tangan. Seyoon yang dipenuhi ketakutan, mati-matian menggerakkan kakinya untuk mundur. Berkali-kali wanita itu menyeret diri di lantai, memilih untuk segera berlari dari kejaran Sehun yang seakan sengaja menerornya.
"T-tidak, kumohon─"
Seyoon terus memohon, berlari dengan kedua kakinya tertatih. Sementara salah satu tangannya menekan perutnya yang luar biasa nyeri, bersama dengan darah yang mulai mengalir di kakinya.
Sehun mengejar dengan langkah pelan. Tahu benar jika Seyoon tidak akan bertahan dengan semua pertahanan yang wanita itu miliki. Pun ia dapat menyaksikan Seyoon terpojok di dekat tangga, menggenggam kayu pembatas dengan erat hingga tubuh itu jatuh terduduk di lantai.
"Kemanapun kau berlari─" seringai Sehun puas. Ia mengayunkan payung rusaknya ke hadapan Seyoon. "aku tidak akan membiarkan janin itu hidup."
"Kau akan menyesal, Sehun. Aku bersumpah, kau akan menyesal!"
"Kau pikir aku bodoh?" Sehun dengan geram meletakkan ujung payungnya pada dagu Seyoon. "Bahkan jika dia adalah milikku, aku tidak akan pernah menyesal."
Seyoon kembali menatapnya tajam. Tanpa Sehun sadari tangan wanita itu mulai terangkat, mencoba merampas payung yang berada dalam genggamannya. Maka Sehun segera bergerak mundur, menahan payung yang hampir direbut darinya.
Namun sekenario terburuk mulai terbaca ketika Seyoon mundur melawan arahnya. Punggung wanita itu terhantam ujung pembatas tangga, berakhir terjatuh tertekan gravitasi pada setiap anak tangga yang menurun. Sehun kemudian mendapatkan kembali keseimbangannya setelah menyaksikan tubuh itu berguling jauh─memberi jejak genangan merah pada setiap sudut tangga.
e)(o
Turun dari mobil, genggaman Chanyeol masih terasa erat di jemari Baekhyun. Di hadapan mereka telah berdiri sebuah rumah megah. Rumah itu melebar luas hingga menghabiskan separuh halaman di dalam pagar. Terbagi menjadi dua wilayah, sayap kiri dan kanan. Bercat putih tulang dengan air mancur di sisi depan. Pun halaman luas yang kini bernuansa coklat, telah disesali keduanya karena tidak pernah menginjakkan kaki di atasnya.
Chanyeol terlalu sibuk bekerja, dan Baekhyun sibuk mengurung diri. Mereka bahkan tidak pernah tahu seberapa luas tempat yang mereka tinggali. Berapa jumlah pelayan rumah yang mereka miliki, atau mungkin berapa total yang dihabiskan ayah mereka untuk memiliki tempat seluas ini. Hingga sampai pada meragu keduanya untuk masuk. Merasa tidak ingin menjejak kembali walaupun rumah itu selalu menyambut.
Baekhyun mendongak. Hendak bertanya sekali lagi jika seseorang yang menggenggamnya itu telah yakin. Jikalaupun tidak, Baekhyun akan senang luar biasa. Ia siap melintasi tanah manapun. Asal dengan Chanyeol, ia yakin bisa melanjutkan hidup. Sebab ia terbiasa dengan hidup tanpa kasih sayang, tanpa orang tua, tanpa hamburan uang, mereka selain Chanyeol tidak begitu penting bagi Baekhyun.
Namun Chanyeol yang begitu penting bagi hidupnya, telah membuat keputusan. Jadi tolehan pria tinggi itu adalah yang paling menyakitkan bagi Baekhyun. Meski senyum itu menghias, berusaha tampak manis dari gula manapun, entah bagaimana rasanya begitu pedih menyentuh hati. Bahkan saat jemarinya kembali dibawa melangkah masuk. Dimana pria itu tahu jika semua orang berada di dalam sana. Ayahnya, Jongin dan juga Seyoon, tentu sudah kembali dari segala rentetan masalah.
Lalu wajah tegas, manik hitam jernih, rambut memutih, yang terlihat pas dengan pakaian serba hitam adalah figur yang pertama kali mereka temui. Keduanya terkadang berat memanggilnya 'ayah'. Sosok tegas itu menunggu di ruang tengah bersama orang kepercayannya. Seperti biasa, namun tidak sedang menikmati kopi. Seluruh tuan rumah terlihat hendak menggelar rapat untuk membicarakan sesuatu.
Chanyeol memberi salam. Tidak juga melepas genggamannya pada Baekhyun sampai Kris diserang cemas. Sang ayah yang terduduk di kursi utama kemudian hanya bisa menatap. Berdiam seperti menahan banyak kalimat di kepala. Berusaha percaya pada cara kerja Chanyeol lagi dan lagi.
Sementara Baekhyun tidak merasakan apapun dari hal itu. Perasaan takutnya mengabur, dibelakangi buraman matanya sendiri. Ia lantas mengeratkan genggamannya pada Chanyeol, membiarkan dirinya dibawa semakin jauh ke dalam. Untuk menemui sosok Seyoon dengan kursi rodanya.
Tak jauh dari sana, mereka mendapati Jongin yang hendak turun dari tangga. Namun bukan hal itu yang membuat hening begitu luas menyergap. Tetapi genggaman Chanyeol yang lepas adalah alasannya.
Tangan Baekhyun seketika merasa kehilangan sesuatu. Bahkan ketika Chanyeol melangkah meninggalkannya, dadanya terasa sesak menghimpit. Sampai ia sendiri tidak menyadari jika dirinya ditatap berbeda oleh Seyoon. Sebab wanita itu tak lagi menatap sinis padanya, hanya penuh kosong, tidak ada lagi perut besar yang mengganggu dirinya.
"Aku─" Suara Chanyeol menggema pelan. Begitu jelas, terasa menusuk telinga Baekhyun yang teredam perasaannya sendiri. Siapapun kini tidak percaya jika Chanyeol bisa melakukan ini tanpa berpikir. "Kelak, jika seseorang bertanya padamu siapa ayah janin itu, kau bisa bilang aku ayahnya."
Seyoon berakhir tergugu. Terlepas gengamannya pada roda kursinya.
"Aku akan memberikan semua tanggung jawab yang kau inginkan─meski sudah terlambat," sambung Chanyeol tetap pada keputusan yang dibuatnya. Sekalipun, pria itu tidak menatap Seyoon sebagai lawan bicaranya. Hanya menatap kosong pada lantai. Kehabisan kata-kata.
Mungkin bagi orang lain, Chanyeol terdengar seperti hendak mengatakan sesuatu secara asal. Mengeluarkan kata-kata yang terlintas, namun sebenarnya bukan. Chanyeol hanya memberi sebuah peringatan. Dan Seyoon tahu benar bagaimana Chanyeol akan mengajaknya bernegosiasi.
"Chanyeol─"
"Aku mengatakan ini sekarang─di depannya. Membawa serta dirinya ke hadapanmu karena aku ingin dia mendengar bahwa ini bukanlah sesuatu yang harus dia pikirkan." Chanyeol sekali lagi mencegah Seyoon angkat bicara. Mengizinkan maniknya bergulir pada wanita yang pernah ia bawa serta dalam kehancuran. "Aku amat mencintainya, jadi aku ingin dia baik-baik saja."
Seyoon mematung dengan sejuta pikiran. Entah wanita itu tengah terkejut atau yang lainnya. Chanyeol pun melenggang pergi kemudian. Tidak menoleh sedikitpun pada Baekhyun di belakang sana. Mengharapkan dirinya berbalik untuk menjelaskan semua hasil putusan mengejutkan ini.
Baekhyun yang menyaksikan punggung itu menjauh, hanya bisa membiarkan air matanya membasahi lantai. Genggaman jemarinya mengerat satu sama lain, tidak ingin terlihat gemetar oleh siapapun. Sementara Jongin hening menyaksikan, berakhir melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Melenggang tenang melewati Seyoon, kemudian berlanjut membiarkan Baekhyun mematung sepi.
e)(o
Malam itu, semua lampu meredup dibayangi hujan di luar. Tidak cukup deras untuk membawa angin ribut. Sesekali petir menyambar, memberi cahaya kilat dari jendela. Namun semua dingin yang merambat masuk hanya membuat Baekhyun menatap kosong. Ia tidak lagi terkejut dengan semua suara bising itu.
Selimut Baekhyun naikkan sampai pinggang. Mengambil posisi miring menghadap jendela. Tengah malam mungkin sudah terlewat. Bantalnya yang basah bahkan sudah mengering dengan sendirinya. Dan kini hanya hampa tersisa. Seakan semua emosinya tersedot keluar. Ditelan waktu yang semakin tenggelam dalam hujan.
Sesaat suara pintunya terbuka. Mendengar dengan jelas langkah kaki yang mendekat, Baekhyun bukannya berpikir perihal cerita yang menakutkan. Sudah ia bilang jika semua rasa di hatinya sudah menguap di udara. Tersisa diri yang pura-pura terpejam membelakangi.
Baekhyun memang sengaja tidak mengunci pintu. Pemuda itu tahu Chanyeol akan kembali, masuk ke kamarnya seperti sebelumnya. Dan Baekhyun cukup sadar jika ia tidak bermimpi. Ia pun tidak tertidur dengan mudah akhir-akhir ini. Ia mengetahui dengan baik jika Chanyeol mulai mengambil duduk di dekat punggungnya. Mengelus kepalanya lembut tanpa bicara sepatah katapun.
Baekhyun sendiri tidak mengerti mengapa ia tidak kunjung berbalik. Padahal perasaannya berhianat ingin berbalik mendekap Chanyeol dalam-dalam sebelum fajar merebutnya pergi. Mengatakan kalimat untuk tidak pergi, atau mungkin ia bisa merubah pemikiran pria itu. Sebab Baekhyun yakin bisa menemukan solusi terbaik nanti jika Chanyeol tinggal, walaupun ia tidak tahu pasti apa itu.
"Aku sudah berbicara dengan mereka," ujar Chanyeol pelan. Menyentuh jemarinya dalam sepi. Di belakangnya pria itu menunduk. Menghadiahkan sebuah kecupan manis di pelipisnya. "Mereka akan membantumu merawat puppy kecil─" lanjutnya berbisik.
Ada jeda panjang kemudian. Menyambut getaran kecil dari bibir Baekhyun yang lelah menahan pilu.
"Aku berengsek, Baekhyun. Sejak awal aku hanya menginginkan posisimu, warisan yang ayah berikan padamu. Kau harus mengingat ini ketika kau memikirkanku. Aku tidak pernah pantas untuk menjadi alasanmu menangis."
Mendengar itu Baekhyun berakhir menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Menyalurkan rasa sakit yang kembali menerkam dadanya. Ia nyatanya tidak butuh membuka mata untuk membiarkan air matanya mengalir membasahi bantalnya sekali lagi.
Seakan kecewa tidak mendapatkan jawaban apapun, sentuhan di jemarinya kini berangsur pergi. Terasa hilang begitu saja meski mati ingin Baekhyun genggam. Ia pun lelah menolak perasaannya sendiri. Lelah dengan tangisan tak berarti. Berakhir bertempur dalam segala ego untuk memutuskan bagaimana ia mengantar Chanyeol demi perpisahan yang adil.
"Aku sudah memberikan puppy kecil pada orang lain─"
Baekhyun berbalik menahan ujung bayangan Chanyeol di dekat pintu. Menemukan pria itu hendak meraih gagang pintu membuatnya mengambil duduk, menurunkan kakinya menggantung mencapai lantai. Ia tidak akan malu bersiap jika Chanyeol memutuskan untuk tidak mendengar sisa kalimatnya.
"Kau tidak menginginkannya, jadi aku membiarkan orang lain merawatnya."
Chanyeol bergeming di depan pintu. Tidak pula kunjung berbalik menatapnya yang terluka, menginginkan sebuah pelukan biasa dibandingkan pelukan perpisahan. Sebab dirinya tidak menginginkan pelukan terakhir dari pria itu. Baekhyun sepenuhnya percaya jika Chanyeol tidak akan pergi meninggalkannya.
"Kau bisa pergi besok. Kenapa harus malam ini?" Linangan di mata Baekhyun kembali membuat kalimat itu bergetar. Tanpa henti air matanya berderai, memohon pada Chanyeol untuk dirinya sendiri.
Sepenuhnya Baekhyun sadar jika ia cukup egois untuk menghadapi masalah. Ia menahan Chanyeol untuk dirinya sendiri. Ia yang egois bahkan belum mendengar alasan pria itu pergi, apa yang Chanyeol hadapi, sampai menyerahkan diri tanpa berbicara dengannya begini. Baekhyun begitu ingin mendengar cerita Chanyeol, meski ia telah mendengar ayahnya memberi jawaban atas itu.
"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah aku tangisi sekarang. Sebelumnya kau membuatku yakin. Kau membuatku berpikir jika kau akan terus disini apapun yang terjadi."
Sekali lagi tidak ada jawaban, Chanyeol terus membisu dengan punggungnya. Tidak ingin menghadapnya barang sekali.
"Kau mencintaiku, kan?" Baekhyun meremas kain seprei di sampingnya. Menyalurkan kekacauan hatinya sendiri. Sedikit berharap hal itu akan membuatnya tenang. Berharap Chanyeol akan berbalik dan menatapnya sebentar. Atau mendengarnya mengatakan 'ya' dengan yakin agar ia bisa lega.
"Chanyeol, kau mencintaiku, bukan?" ulangnya.
Jemari Chanyeol bergerak. Butuh hitungan detik sampai pria itu berbalik dengan langkahnya yang sunyi. Dalam gelap, Baekhyun dapat menyaksikan buram dari sepasang manik yang menatapnya itu. Terasa menyakitkan kini ketika ia selami jernih hitamnya.
Kedua tangan Baekhyun berpindah ke dalam genggaman Chanyeol. Tersisa jarak keduanya yang semakin mengikis. Chanyeol meraih bibir Baekhyun lembut dalam pagutannya. Kalimat mereka menghilang, tertelan dalam perasaan yang meledak.
Chanyeol nyatanya tengah memberinya jawaban. Pria itu tidak bicara, namun seakan tengah menyentuh hatinya yang menyempit. Dan lewat tatapan rapuh itulah, Chanyeol mencoba memberinya jawaban yang paling ia inginkan.
"Ya," bisiknya jelas, namun linangan pahit itu mengalir seperti miliknya. Tatapan dalam itu kembali menawannya. Hanya mendengarnya terisak pilu, tidak pula mencegahnya untuk menangis.
Dan pada saat yang sama, genggaman itu Baekhyun lepas. Habis ia genggam kerah pakaian Chanyeol di tapak tangan kecilnya. "Kumohon, jangan pergi," ujar Baekhyun gemetar. Memohon untuk yang kesekian kali.
Chanyeol meraih kembali jemarinya. Mencium jemarinya dingin, sebelum berpindah ke hadapannya. Dalam gelap, pria itu mencium pipinya yang berair. Dibiarkannya jemari Chanyeol menjelajah naik menuju lehernya. Berakhir meraih tengkuknya sebelum dirinyalah yang ditarik ke dalam ciuman panjang memabukkan.
Emosi Baekhyun semakin tumpah. Isakannya melawan sendiri perasaan takjub akan perlakuan Chanyeol akannya. Nafas pria itu kemudian sampai pada telinga, memberi ciuman sayap kupu-kupu yang menyapu turun menuju perpotongan lehernya. Lalu entah bagaimana, tangisan Baekhyun berhenti disana. Digantikan oleh beku yang diciptakan Chanyeol pada kedua maniknya yang berair.
Rasa panas menjalari setiap kulit. Percikan kembang api seakan meletup lewat bunyi hujan di luar. Sepasang hitam milik Chanyeol kini memberinya kilatan emas yang indah. Berkali-kali dada Baekhyun berdebar sembarang. Dan saat Chanyeol mendorong jatuh bahunya, ia dapat merasakan jantungnya habis meledak. Mati-matian Baekhyun menahan gejolak api yang membakarnya habis.
Chanyeol menaikkan tempo ciumannya. Menghimpitnya sesak, hingga ruang paru-parunya berhenti memasok udara. Kulit terbakar Chanyeol menyerukan pelarian hingga jemarinya kembali menjelajah. Menarik sekali lagi pakaian Baekhyun yang tak berbentuk.
Malam itu, Baekhyun tak mengingat persis seberapa banyak air matanya tumpah. Seberapa banyak permohonannya tenggelam, seberapa banyak ia menyebut nama Chanyeol dalam desau angin. Ia hanya dapat mengenang bisikan Chanyeol akannya. Pelukan hangat yang tidak akan pernah ia lupakan, sebagaimana ia tanpa bosan meminta semua itu.
Namun Baekhyun akan ingat bahwa Chanyeol tidak membangunkannya. Pria itu telah pergi. Hal pertama yang ia temukan ialah tak lebih dari bantalnya yang basah.
Maka Baekhyun hanya bisa memeluk dirinya sendiri─
di ujung pagi yang bahkan sudah berakhir.
.
.
.
.
TBC?
.
.
.
.
Atau...
.
.
.
.
lanjut atau enggak?
