PROLOG


Tahun keenam, Hogwarts, 1997

.

Harry tidak ingat kapan dirinya pernah merasa seperti ini sebelumnya. Amarah, rasa sedih, dan duka berkecamuk membutakan pikirannya. Tangannya gemetaran memegang tongkat sihir.

Harry menabrak dua anak laki-laki sesaat sebelum berlari menyebrangi Aula Depan dan keluar ke halaman yang gelap.

Udara malam menamparnya. Sebenarnya rasanya nyaman mengingat dia pernah mengendap-endap berdua bersamanya—tertawa dan duduk di tepian Danau Hitam sekitar dua tahun lalu. Tetapi sekarang perasaannya berbeda. Satu-satunya yang ingin dilakukan Harry adalah menghabisi Snape dan dia—sama seperti bagaimana Snape membunuh Dumbledore tanpa ampun tadi sore.

Dia bisa melihat tiga sosok berlari di padang rumput, menuju gerbang—bersiap-siap untuk ber-Disapparate. Jika dilihat dari sosoknya, mereka adalah si Pelahap Maut pirang yang besar, dan agak jauh didepannya, Snape dan Malfoy.

Langkah Malfoy sedikit terseok karena berusaha mengimbangi langkah Snape. Rambut pirang pucat Malfoy sedikit berkibar dan Harry berusaha melupakan bagaimana rasanya mengelus helai lembut itu.

Dilihatnya kilatan sinar di kejauhan yang sekejap menerangi buruannya. Dia tak tahu apa itu, namun terus berlari, belum cukup dekat untuk menyerang dengan kutukan.

Kemudian apa yang diingatnya adalah Hagrid yang meraung marah berusaha mencegah para Pelahap Maut kabur, dan meskipun setiap tarikan napas terasa merobek paru-parunya dan dadanya sakit seperti terbakar, Harry berlari lebih cepat berusaha mengenyahkan pikiran jika Hagrid akan mati dengan cara yang sama seperti Dumbledore.

Ada yang menghantam bagian belakang pinggangnya dan dia terjerembap, wajahnya menghantam tanah, darah mengucur deras dari kedua hidungnya. Dia tahu, bahkan selagi berguling membalik, tongkat sihirnya siap, bahwa kakak-beradik Carrow yang telah disalipnya tadi di kastil sekarang sudah dekat di belakangnya.

"Impedimenta!" teriaknya lantang seraya berguling berjongkok rendah di tanah yang rendah. Seleret sinar mengenai salah satu Carrow sehingga jatuh dan menimpa yang satunya. Harry melompat bangun dan berlari lagi berusaha mengejar Snape, melewati Hagrid yang berduel dengan si Pelahap Maut pirang.

Snape dan Malfoy tidak mengacuhkannya. Mereka terus berlari dan akan melewati gerbang sebentar lagi. Amarah meluap di dadanya sekali lagi. Dia sadar betul ketika tongkatnya teracung ke arah Snape.

"Stupefy!" jeritnya. Sayangnya serangannya luput. Pancaran sinar merah meluncur melalui kepala Snape.

Snape berteriak, "Lari Dracia!" dan berbalik. Dalam jarak dua puluh meter dia dan Harry saling pandang sebelum mengangkat tongkat mereka bersamaan.

Tatkala Harry ingin melancarkan kutukan Cruciatus, Snape menangkis kutukan itu, membuat Harry terlempar ke belakang sebelum dia menyelesaikannya. Harry berguling dan lewat sudut matanya dia dapat melihat wajah Malfoy—yang dalam ingatannya, tidak pernah sepucat ini sebelumnya.

Malfoy gemetaran dan dia tak mampu berbuat apa-apa. Harry mencoba menghilangkan rasa iba di hatinya dan melupakan bagaimana Malfoy menangis di hadapan Dumbledore tadi. Mau bagaimanapun juga, Malfoy ikut andil dalam tewasnya Dumbledore dan Harry menanamkan hal itu kuat-kuat di pikirannya.

Snape berteriak lagi, "Dracia, lari!" Tetapi sia-sia. Malfoy masih diam gemetaran di tempatnya.

Emosi yang sudah menumpuk membuncah, meledak. Hati Harry terasa sangat sakit. Menggenggam tongkatnya kuat-kuat, dia menyerang Snape lagi.

Duel mereka tidak imbang. Snape berhasil menangkis semua kutukannya. Jika Snape membalas menyerang, tentu saja Harry bisa mati. Namun, Harry sudah tidak perduli lagi. Persetan dengan Voldemort dan semuanya. Satu-satunya hal yang diinginkannya sekarang adalah pergi menyusul Dumbledore.

Harry tersengal. Dia merasa lecutan panas-putih menghantam wajahnya dan dia terpelanting ke belakang tanah. Bintik-bintik cahaya menyembur di depan matanya dan sejenak seluruh napas telah meninggalkan tubuhnya. Buckbeak kemudian datang menyerang Snape.

Napasnya tidak beraturan, pandangannya buram. Sosok Malfoy masih diam. Lingkaran hitam yang selama setahun telah ada di pelupuk matanya semakin jelas. Meskipun begitu, dia masih tetap terlihat begitu cantik—dan rapuh.

Snape menarik lengan Malfoy dan berlari secepat kilat.

Entah hanya firasatnya—atau memang begitu, Harry seolah dapat mendengar Malfoy bebicara lirih. "Harry, maafkan aku."

Kemudian Harry terhuyung bangun, mencari-cari tongkatnya dengan grogi, berharap masih dapat mengejar lagi—tetapi bahkan ketika jari-jarinya meraba-raba di rumput, melempar ranting—dia tahu benar, dia sudah terlambat.

Satu-satunya pemandangan yang dilihatnya ketika Snape dan Malfoy ber-Disapparate adalah—butiran tangis yang terjatuh dari kelopak mata Malfoy sewaktu pandangan mereka bersibobrok barang sepersekian sekon.

Snape telah tiada. Begitu juga Malfoy. Harry limbung ke belakang kehilangan keseimbangannya. Matanya terpejam. Ada bagian hatinya yang terasa kosong dan begitu sakit. Harry ingin berharap jika bagian itu untuk Dumbledore—tapi sayangnya tidak.

Kilasan-kilasan singkat dia dan Malfoy berciuman di koridor dekat kandang burung hantu sebelum tugas terakhir Turnamen Triwizard sewaktu kelas empat berputar secara tidak terkendali di otaknya.

"Aku-aku rasa aku menyukaimu Harrymaksudku Potter!"

Rasa pening menjalari kepalanya. Harry tertawa bodoh. Seharusnya dia sudah tahu akan jadi begini hasilnya sekarang. Mengutuk dirinya sesekali, Harry terisak pelan sebelum Hagrid datang.

Bahunya gemetaran. Bahkan meskipun ada Ginny yang menjadi kekasihnya sekarang—Harry tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia tidak dapat melupakan gadis itu. Tak pernah dia sangka jika hubungan singkatnya dengan Malfoy dua tahun lalu akan sebegini berdampak pada dirinya.

Harry masih mencintainya. Mencintai Malfoy yang sudah pergi meninggalkannya.


paradoks

.

(c) ulil. olala

Harry Potter (c) J. K. Rowling

Harry Potter x Fem!Draco Malfoy