"Malam ini tidak terlalu ramai," Chanyeol bermonolog. Ia mengalungkan headphone di lehernya lalu mengangguk-anggukan kepalanya; mengikuti irama lagu yang ia remix.
Ia mengecek ponselnya, tidak ada notifikasi penting yang masuk, kecuali dari para penggemarnya yang selalu aktif di instagram dan twitter nya. Memangnya tidak bosan memenuhi kolom komentar terus, pikirnya.
Chanyeol mengantongi ponselnya, lalu melihat sekitar. Dan ia mendapati sahabatnya, Kim Jongin, sedang melamun sambil memegangi gelas kaca berisi whisky. Chanyeol menyeringai tipis, ia segera meraih microphone.
"Guys! Are you ready for the beat?"
"Drop it! " lautan manusia itu menyahut bersamaan.
"Aye aye! "
Alunan lagu up beat yang menyihir orang-orang untuk menghentakkan kakinya di lantai dansa.
"Teman-temanku yang sedang galau dan bersedih, c'mon, kita menari bersama!" Chanyeol berseru nyaring di depan microphonenya .
"Kim Jongin jangan menangis! Lebih baik menari di panggung!" Chanyeol kembali berseru sembari memandangi Jongin yang mengacungkan jari tengah padanya.
"Bandit sialan," Jongin menggerutu kesal.
Ia pun maju ke depan panggung dan masih saja menggerutu sebal. Chanyeol hanya mendengus geli.
"Apa? Ingin kutonjok?" Jongin bertanya dengan kesalnya.
"Calm dude, kau sedang pms?" ledek Chanyeol.
"Sialan kau," umpat Jongin yang diakhiri dengan gelak tawa.
Akhirnya Jongin melampiaskan rasa kesalnya dengan menari di atas panggung bersama para penari wanita yang seksi.
Ngomong-ngomong Kim Jongin adalah partner in crimenya Chanyeol dan ada seorang lainnya lagi bernama Oh Sehun.
Mereka bertiga selalu bekerja sama dengan baik dan saling berbagi, dalam hal apapun. Misalnya berburu wanita, kemudian disantap bersama, iykwim.
Namun mereka tidak lagi mengoleksi wanita, karena masing-masing sudah mendapati belahan hati, kecuali Park Chanyeol. Satu-satunya pria jomblo di trio pentolan sekolah.
Kalau kata Sehun, kekasih idaman Chanyeol itu terlalu spesifik cirinya,
"Yang gemes, kalau bisa dadanya montok, bokongnya semok."
okelah jenis ini masih beribu jumlahnya,
"Terus dia nerd, soalnya kalo udah famous biasanya kendor gitu."
tapi nerd yang gemes, apa lagi di sekolahnya, bisa dihitung pakai jari kakinya setan. Yang mana biasanya setan itu melayang, alias tidak punya kaki.
Maka dari itu, visi misi trio koplak ini diubah total. Dari yang awalnya menindas siswa culun, menjadi perburuan siswa culun untuk diangkat menjadi kandidat-pacar-yang mulia-Chanyeol. Kemudian tiap harinya Chanyeol mulai rajin berdoa, agar cepat-cepat diberi culun yang gemes dari Tuhan.
Begitulah kisah Chanyeol, ngomong-ngomong Kim Jongin sudah terlihat lelah menari dan mabuk. Penampilannya benar-benar messy.
"Sudah lelah, bung?" Chanyeol bertanya.
"Apa itu lelah?" Jongin balik bertanya.
"You already fucked up," Chanyeol memperhatikan layar hp Jongin yang mengintip dari saku celana, "dan sepertinya ada yang sedang kangen."
"Baiklah kalau kau memang mengusirku dari sini," jawab Jongin sedikit ketus.
Ponsel Jongin terus bergetar di saku celananya, mengganggu kegiatan menarinya, akhirnya mengangkat panggilan tersebut,
"Yes babe," Jongin menjawab panggilan kekasihnya.
".."
"Kau memaafkanku? Ow, I love you baby, I'll back in 5 minutes, don't worry."
Chanyeol hanya bisa memutar bola matanya, jengah.
"Okay darl, muah," Jongin mengakhiri panggilan dengan kecupan mesranya lalu segera turun dari panggung dan berjalan menuju pintu keluar.
"Good bye Cringe Jongin!" Chanyeol berseru.
Jongin mengacungkan jari tengahnya tanpa menoleh ke Chanyeol.
Jam menunjukkan tepat pukul dua belas malam, saat itu juga lelaki berparas ayu memasuki club. Mata cokelatnya mulai mengawasi Chanyeol.
"DJ Chan, kamu selalu menarik perhatianku ya," diakhiri tawa kecilnya yang menggemaskan sekaligus membuat merinding. Ia mendudukkan bokong besarnya di sofa paling empuk dan privat; area vip.
Pria cantik itu mengacungkan tangannya, memanggil seorang pelayan, "Berikan aku sebotol Rose."
"Ada angin apa hari ini?" pelayan tersebut menyeringai tipis.
"Sedang tidak ingin mabuk berat."
"Yah, sekarang pun tuan sudah mabuk berat," pelayan itu melirik Chanyeol yang sedang beraksi dengan laptop dan controllerism-nya.
Ia kembali lagi dengan gelas juga sebotol Rose wine, "Silakan."
Pria cantik itu segera menuangkan Rose nya kemudian menelanjangi Chanyeol dengan tatapan berhasratnya yang besar. Netra kecoklatannya tidak sekalipun berkedip.
"Bagaimana bisa pria itu memikatku?" Ia terus meneguk anggurnya, "Ya ampun, dasar Park kecil."
Tatapan tajam Chanyeol selalu memabukkan pria cantik itu. Bibir sang DJ yang tebal selalu berhasil membuatnya membayangkan fantasi terliarnya. Ia yakin bisa berhenti merokok.
Asalkan kedua belah bibir Chanyeol mau menggantikan lintingan ganjanya.
"Sayang, bertahanlah. Aku akan menjemputmu nanti," senyum posesif terukir pada wajah Bai Xian, nama pria yang sudah dimabuk berat oleh DJ tampan yang sedang beraksi di panggung. Ia terus meracau tentang Chanyeol yang maha sempurna di matanya.
Ponsel Chanyeol terus bergetar di sakunya. Sehingga ia kembali mengecek notifikasi. Para ambis mulai meramaikan group chat kelasnya dan membahas kuis Matematika wajib pada jam pertama.
"Damn it, bagaimana bisa aku melupakan kuis sialan itu," Chanyeol mulai kepanikan.
"Siapa yang bisa kumintai kunci ya," Chanyeol berdiam sejenak untuk berpikir.
Kemudian ia mendapat pesan lagi,
Albino
Ini berkas negara.
(jawaban kuis.DocX)
Sehun selalu cepat dalam mencari kunci kusi dan ulangan.
"Wah presiden kunci jawaban memang dapat diandalkan," Chanyeol terbahak.
Kemudian ia mulai menghapalkan angka-angka di layar ponselnya yang lebih memabukkan dari wine. Pemandangan tidak biasa ini, disadari Bai Xian.
"Ada apa dengan ponselnya?" Pria Chinese itu sedikit kesal. Ia jadi tak bisa sering-sering melihat wajah Chanyeol, karena saat ini DJ itu lebih sering menunduk.
01.53
"Hampir jam 2 malam. Saatnya mempersiapkan kejutan untuk Chanyeol," Bai Xian keluar dari area vip lalu menghilang dari kermunan orang yang masih berjoget ria di lantai dansa.
Chanyeol juga menyadari jam hampir menunjukan pukul 2 malam, artinya ia bisa meninggalkan club. Ia mulai merapikan DJ stuff dan laptopnya. Lalu menemui salah satu staff di belakang panggung,
"Yo, James aku pulang," James adalah sepupu Chanyeol. Pria berdarah campuran Australia dan Korea itu diseret Chanyeol untuk membantu mengembangkan klub malamnya.
"Aye capt. Jam tampilmu sudah selesai kan."
"Yoi," Chanyeol segera menuju tempat parkir dengan kawalan bodyguard.
Jangan heran, Chanyeol adalah siswa yang hidup di dunia malam sebagai disc jokey, juga merangkap bakal penerus Tech-Park. Tidak aneh jika pria berotot dengan wajah menyeramkan selalu berada di sekitarnya.
Badannya pun dilapisi rompi anti peluru, menghindari akibat fatal keisengan tikus-tikus yang bersaing dengan Tech-Park. Tak jarang sniper tikus-tikus resek itu mengawasinya dari jauh dan siap menembakkan peluru panas.
Dan tak jauh dari tempat Chanyeol berdiri, ada seorang pria yang berusaha menyapanya,
"Hoi Park Chanyeol!"
Chanyeol pun menoleh ke sumber suara. Ah, teman lamanya!
"Woho, Ruben! Long time no see, bro!" Chanyeol segera menghampiri Ruben dan sebaliknya.
"Waddup Capt?" tanya Chanyeol.
"Hahahah, baik-baik saja dan bertambah baik setelah mampir ke club," jawab Ruben.
"Dan reuni dadakan? Hahahah," Chanyeol menyahut dan mereka tergelak.
Chanyeol meredakan tawanya, ia kembali bertanya, "Ngomong-ngomong, bagaimana basket di AS?"
"Tentu saja jauh lebih baik dari pada di Korea. Aku pun bergabung dengan tim basket jalanan," Ruben menjawab dengan begitu bangganya.
"Baguslah kalau begitu!" Chanyeol melirik jam tangannya "Alright then, sepertinya kita harus berpisah dulu, bro."
"Baiklah, see you, Park !"
"See ya Ruben."
Chanyeol segera memasuki mobilnya dan kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan, ia masih memikirkan Ruben yang tiba-tiba menyapanya. Sangat berbeda dengan Ruben umur 14 tahun yang ia kenal.
Dahulu, untuk mendekatinya saja menghabiskan waktu hampir dua tahun. Dia sangat pendiam dan melempem, susah untuk berdekatam dengannya.
Akan tetapi, beda urusan kalau ia diturunkan di lapangan basket. Jemari dan matanya selalu memberi isyarat apa yang harus dilakukan tim basketnya.
Chanyeol sebenarnya tidak ingin menaruh curiga pada Ruben, tetapi pikiran itu semakin melekat di otaknya. Kembali memutar memori Chanyeol. Sehari sebelum Ruben pindah ke AS, kapten basket itu masih juga datar.
Dan sekian menit yang lalu, ia melihat secara langsung, Ruben dengan auranya yang menggebu-gebu bukan di lapangan basket.
Semakin memikirkan Ruben, kepalanya semakin pening. Chanyeol berakhir mengabaikan pemikiran negatifnya
[another . side]
Beberapa puluh meter dari tempat Chanyeol memarkirkan mobil, terdapat dua orang yang menunduk, menerima semprotan emosi pria mungil di depan mereka.
"Bangsat, siapa bajingan itu hah!" seru Bai Xian, "Dia membuat darling ku pergi! Kau membiarkan bocah tengil itu menarik perhatian pangeranku, kan?" lanjutnya.
Pria cantik itu menekan tombol merah pada remote genggamannya. Seketika pria gagah di depannya langsung mengerang kesakitan dan tersungkur.
"Rasakan sialan! Padahal aku hampir menembakan babyku ini pada Chanyeol," Bai Xian mengelus revolver warisan keluarganya.
"Lily, bersihkan tempat ini sekarang juga! Aku malas berurusan lagi dengan Baba," seru Bai Xian sambil melirik pria gagah yang terbaring di sebelahnya.
Wanita yang dipanggil Lily segera mengangkut pria yang terbujur kaku itu. Bai Xian memasuki mobil BMWnya dan segera melaju menjauhi kawasan hingar bingar itu.
[.]
"Oh my gosh, what should I wear?" Bai Xian melongok pada Luke, sopir pribadinya.
"Tentunya seragam sekolah tuan," Luke menjawab dengan sangat hati-hati.
"Of course bodoh, maksudku apa aksesoris yang bisa ku kenakan?"
"Uh-"
"Oh bagaimana dengan choker? Atau stocking jaring-jaring?" Bai Xian memotong jawaban sopirnya.
"Sepertinya tidak masalah tuan."
"Hum, tapi sepertinya choker terlalu menonjol ya."
"Ah tidak juga tuan, saya pikir choker akan sangat cocok tuan kenakan."
"Aih, bisa saja kau ini," Bai Xian menepuk bahu Luke malu-malu, "baiklah kalau kau memaksa."
Luke melirik spion dalam, tuannya sedang menatapnya lewat spion dengan revolver kesayangan yang mengarah ke padanya.
Bai Xian menunjukkan senyum terlebarnya.
Shit, Luke mulai merasakan aura membunuh dari belakang.
Bai Xian menyadari wajah ketakutan Luke langsung berujar, "Ahahah, maaf Luke, aku hanya mencoba berpose imut."
PYAR!
Peluru panas melesat, menembak boneka yang menggantung di spion dalam dan menembus kaca depan.
"Oopsie, telunjukku licin sekali, hehe," Bai Xian terkekeh, lalu diikuti tawa canggung Luke.
"S-sudah sampai tuan," Luke menghentikan mobil di pinggiran jalan dan membuka kunci mobil.
"Terimakasih Luke sayang. Maaf aku tidak sengaja merusak bonekamu," kata si Pria Cantik itu sembari menyisir rambut dengan jemari lentiknya dan segera memakai kacamata bulat dengan lensa yang tebal.
Ia pun menanggalkan coat serta sepatu pantofelnya, kemudian memakai sneakers yang baru saja ia beli. Tak lupa memakai jaket yang sudah lusuh. Lalu ia pun keluar dari mobil.
"Hati-hati di jalan Luke, pai pai," ia membanting pintu mobil dan melambaikan tangan pada BMWnya yang mulai menjauh.
Di sini, di pinggiran jalan yang lengang, Bai Xian berdiri sambil melongok ke kanan dan ke kiri.
"Seharusnya dua menit lagi dia datang," gumamnya.
Benar saja, dua mobil sedan putih melaju dengan kecepatan sedang, diikuti mobil sedan hitam di belakangnya. Bai Xian segera mengacungkan jempolnya. Ketiga sedan itu berhenti dan kaca mobil pengemudi salah satu sedan putih itu terbuka.
"Maaf, seat nya sudah penuh," pria dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam berkata dengan tegas.
"Ahh sayang sekali," Bai Xian segera berlari menuju sedan hitam dan mengetok kaca mobil pengemudinya.
"Heyy, aku butuh tumpangan, tidak jauh kok," Pria cantik itu memanyunkan bibirnya, merayu dengan aegyo. Akhirnya kaca mobil itu terbuka.
"Maaf, kami tidak menerima tumpangan," jawab pemuda dengan style yang sama seperti pengemudi sedan putih tadi. Bai Xian memperhatikan tempat duduk belakang mobil itu.
"Sepertinya di belakang masih luas," Ia menunjuk seat belakang yang memang masih sangat leluasa untuk bokong besarnya.
"Yak! Kau!"
Penumpang di belakang sopir itu sepertinya mulai risih. Ia segera berujar, "Sudahlah, pak. Biarkan dia menumpang."
"Tapi t-tuan.."
"Cepat masuk kalau ingin menumpang," penumpang di belakang memotong perkataan sopirnya dan membukakan pintu untuk Bai Xian.
"Astaga! Terimakasih?"
"Panggil Chanyeol saja."
"Baiklah, terimakasih Chanyeol ssi," Bai Xian segera masuk dan menutup pintu mobil.
Chanyeol memberi kode pada sopirnya untuk melanjutkan perjalanan pulang.
"Dimana rumahmu?" Chanyeol melirik penumpang di sebelahnya.
"Rumahku di Guryong, Chanyeol ssi," jawab Bai Xian.
Kawasan orang miskin, pikir Chanyeol. Matanya menelisik penampilan pria itu. Tunggu, apa-apaan itu, sepatu nike air force 1 featuring g-dragon?!
"Jangan bohong," Chanyeol sedikit was-was, memasukan tangan kanannya ke saku jaket, menggenggam pistolnya.
"Aku bersungguh-sungguh Chanyeol ssi," Bai Xian menunduk, menyiapkan aegyonya.
"Meh, miskin tapi bisa membeli sepatu mahal itu? Bahkan aku harus menunggu dua hari lagi untuk mendapatkannya," Chanyeol berujar pedas.
"Oh ini?" Bai Xian melirik sepatunya, "Ini hanya barang tiruan Chanyeol ssi."
Chanyeol kembali memutar matanya, sebal.
"Besok aku akan melanjutkan studi ke sekolah yang sangat keren, Chanyeol ssi, jadi aku membeli sepatu untuk bergaya," Bai Xian tersenyum lebar hingga membuat mata sipitnya menjadi semakin sipit.
Chanyeol pun penasaran, "Memangnya sekolah apa itu?"
"Big Cosmos High School, Chanyeol ssi. Bukan kah itu keren sekali, Chanyeol ssi?" Pria cantik itu menerawang langit-langit mobil. Sebenarnya menanti reaksi Chanyeol.
"Otakmu benar-benar encer dan sponsor mu sangat baik," Chanyeol menaikkan satu alisnya, menahan reaksi terkejut.
Ia langsung melanjutkan obrolan, "Ngomong-ngomong namamu?"
"Namaku Ba-" jawaban Bai Xian teredam suara decitan ban mobil. Sopir Chanyeol mengerem mendadak hingga kepala tuannya terantuk kursi di depannya.
"M-maafkan saya tuan, tadi ada anjing liar yang melesat. J-jadi.."
"Sudahlah, cepat jalan," Chanyeol yang sudah telanjur sebal itu menyandarkan punggungnya yang sempat tegang.
"Namamu Bacon?"
"Yang benar Baekhyun, Chanyeol ssi," Ia menjawab pelan sambil membenarkan kacamatanya yang melorot.
Chanyeol akan mengingat nama itu.
"Tuan k-kita sudah memasuki kawasan Guryong," sopir Chanyeol mencicit.
"Mobilnya tidak akan cukup untuk masuk lebih dalam. Jadi aku turun di sini saja, Chanyeol ssi," Bai Xian menunjukan senyum canggungnya.
"Sama-sama," Chanyeol berucap dengan nada arogan.
"Eh? T-terimakasih tumpangannya Chanyeol ssi," Pria cantik itu segera keluar dari mobil dan membungkukan badannya pada Chanyeol.
Park muda mengamati pria pendek yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Wah, apa-apaan ini, bau Rose menguar dari mulutnya," Chanyeol memberi kode untuk segera melanjutkan perjalanan.
Ia pun segera menghubungi seseorang,
"Joshua, berikan data seseorang bernama Baekhyun."
"Ada info lain selain namanya?"
"Pipi chubby, mata empat, tinggal di Guryong."
"Baik. Apa yang harus saya cari?"
"Semuanya. Besok pagi harus sudah masuk di emailku."
"Baik tuan muda."
Pip
[.] Scene yang Terpotong
"Lily, pastikan bocah tengil tadi mati."
"Baik tuan."
"Bermain dengan cepat dan bersih, lalu simpan kepalanya bersama koleksiku."
"Laksanakan tuan."
.
"Fuck! Kamu pasti kaki tangan pria pendek tadi?!"
Wanita dengan rambut hitam pendek itu tidak merespon dan hanya menatap tajam pengganggu acara tuannya.
"Kalian sudah gila ya? Mengacungkan senjata api pada warga sipil!"
"Prefer diacungi senjata tajam?"
Wanita itu menyimpan Assault riflenya dan mengeluarkan samurai, membuat pria di depannya gemetar di sekujur tubuh.
"J-jangan mendekat!" Pria itu mengacungkan pisau lipatnya.
"Aku malas berlama-lama."
Wanitu itu akhirnya mengayunkan samurai kebanggaannya ke leher pria di hadapannya. Dan bisa ditebak, kepala Ruben menggelinding mendekati kakinya.
"Mission success."
S P O I L- m e
"Hun, kau tahu? Bokongnya benar-benar besar dan kenyal."
"Hm."
"Dan lagi, ekspresinya tadi seperti akan klimaks. Ingin kucium dan-"
"Diamlah bodoh, aku sedang push rank."
"Aku ingin memperkosanya sekarang juga, Hun."
"Just do it, bro. Kenapa tidak langsung serbu seperti biasa?"
"Sangat disayangkan, Baekhyun punya terong di selangkangannya."
"Baekhyun?"
"God damn it, Hun. Tadi pee pee ku bergesekan dengan bokongnya yang montok dan kenyal."
"YOU WHAT?!"
Hai semua! Lama tidak jumpa lagi.
Saya kok lagi pengen remake ni ff ya, ehe.
Miane, saya belum bisa lanjut My Lovely Slut.
Terimakasih sudah membaca! Love you!
Need any kritik dan saran, supaya bisa berkembang.
