Just Friend
.
.
.
chloerine16
.
.
.
Harry Potter J.K Rowling
"Harry!! hei, Harry!!" seseorang memanggil namanya dari belakang tapi pria bernama Harry ini tak kunjung menoleh dan membuat orang yang memanggilnya kesal.
"Harry, aku memanggilmu dari tadi!" wanita yang memanggil Harry melepas paksa earphone di telinga sahabatnya itu. Harry yang terkejut karena earphonenya di lepas paksa langsung menoleh dan memaki orang yang sengaja mengganggunya.
"WHAT THE HE-" makian Harry terpotong setelah melihat orang yang mengganggunya.
"Apa?! kau mau memakiku?!" Harry hanya menggeleng cepat sambil menunjukkan jari manis dan tengahnya.
"Peace. okay." ucap Harry dengan senyum pepsodentnya.
"Mau apa kau kesini, Mione? Aku sedang belajar." tanya Harry baik-baik tapi Hermione hanya memandang Harry sinis.
"Oh jadi aku tidak boleh kesini?! dan aku mengganggu belajarmu? begitu?!" Harry speachless, dia bertanya baik-baik tadi dan Mione membentaknya.Sialan! harusnya yang marah itu Harry karena belajarnya di ganggu.
"A-apa. Bukan begitu, Mione." Harry berusaha tidak balik membentak wanita di depannya.
"Lalu?" Harry sedikit begidik ngeri mendengar nada bicara Hermione, meskipun kalem tapi wanita itu tidak mengurangi tatapan sinisnya pada Harry. Harry berusaha memikirkan kalimat yang tepat untuk Hermione.
"Begini, aku hanya ingin tau untuk apa kau kemari." Harry melanjutkan dengan cepat sebelum Hermione menyela, "Maksudku.. kau tadi sedang di perpustakaan bersama Cedric dan tiba-tiba kau disini.. menyusulku, padahal belum lama kau bersama Cedric." Harry menahan nafasnya dan bersiap untuk semburan kalimat super tajam dan kasar dari Hermione, sampai-sampai keringat sebiji jagung muncul saat Hermione semakin meningkatkan tatapan sinisnya.
"M-mione.." Harry berusaha kembali menjelaskan tapi Hermione membungkamnya dengan satu tangan diangkat di depan wajahnya, "Aku tau, maafkan aku, Harry." sumpah demi semua tentakel squidword dan juga clarinet tuanya! Harry di buat kembali speachless dengan sikap Hermione. satu menit yang lalu dia berteriak seakan-akan Harrylah yang membakar semua buku milik Hermione dan satu detik yang lalu Hermione meminta maaf karena bukan Harry yang membakar bukunya. Tentu saja bukan! siapa juga yang mau cari mati dengan membakar semua buku Hermione.
"Mione.. kau tidak per–"
"Tentu saja, Harry. Seharusnya aku tidak perlu minta maaf." what the hell! Hermione dan segala tingkah menyebalkannya.
"Yang harus minta maaf itu kau, Harry." Hermione melanjutkan kalimatnya dengan menunjuk-nunjuk ujung hidung Harry, "Pertama, kau sudah menghilangkan lembar catatanku. Kedua, kau mengotori buku koleksiku. Dan ketiga–" ucapan Hermione berhenti saat ponsel di sakunya berbunyi. Harry segera mundur dengan perlahan-lahan dan bangkit. Alis Hermione mengerut saat menerima sebuah pesan dari operator. "KAU SUDAH MENCURI PULSAKU, HARRY!" terlambat, Harry sudah berlari menjauhi Hermione dan muka merahnya. _
Sejam setelah insiden kaburnya Harry dari Hermione, wanita iblis ini menyeret tubuh serta dompetnya untuk pergi ke pusat toko buku di London. Si iblis wanita memaksa Harry membayar beberapa buku yang di belinya dan jumlahnya mencapai £30. Demi Bikini Bottom dan seluruh penghuninya! Harry tidak akan mencari masalah dengan Hermione lagi. Harry dan Hermione keluar toko buku dengan muka yang berbeda. Hermione dengan wajah sumringahnya, setelah mendapat beberapa buku incarannya tanpa mengeluarkan dompetnya. Harry dengan wajah masam yang di iringi umpatan dari bibirnya yg kissable. Hermione yang belum puas menyiksa dompet Harry beserta isinya, menyeretnya ke Florian's Ice Cream. Dan disinilah mereka sekarang, Hermione sibuk menikmati ice cream jumbo empat rasa dengan ekstra toping-hasil dari memeras Harry-dan Harry menjadi penonton yang di sibukkan dengan mencerca Hermione.
"Dasar licik, pelit, rakus–" Harry terus saja menggumamkan sumpah serapah pada iblis rambut semak di hadapannya.
"Jangan mengumpat di hadapanku, Harry. Atau aku akan benar menghabiskan seluruh isi dompet mu sehingga kau tidak bisa pulang dari sini kecuali dengan berjalan kaki sejauh 10KM." Harry semakin pucat mendengar ucapan Hermione. Tidak, dia masih sayang kaki. Harry memilih menutup mulutnya daripada kakinya tidak berfungsi dan menyandarkan kepala pada meja dengan tangan bermain ponselnya.
Lavender : Harry, dimana kau?
Lavender : Harry.. jawab aku
Lavender : Harry.. jika kau tidak membalasnya, aku akan ke apartment mu!
Lavender : Harry, kau tidak ada di apartment mu dimana kau?
Lavender : jawab aku Harry!!
Pesan Lavender muncul seketika saat Harry menghidupkan wifi-nya.
Harry : Sbb, aku di Florean's ice cream. kenapa?
Lavender : kau tak mengajakku Harry?
Harry : maaf. Hermione yg menyeretku tadi.
Lavender : KAU JAHAT HARRY
Harry mengangkat alisnya tinggi-tinggi setelah membaca pesan terakhir Lavender. Apapula ini, kenapa wanita suka menggunakan emosi ketika bicara?
Harry memilih meninggalkan aplikasi whatsapp dan membuka instagram. Dan betapa terkejutnya Harry saat melihat postingan foto Lavender di depan pintu apartment nya dengan maskara dan eyeliner yang meluber sana-sini, tak lupa gadis itu memberikan caption dan men-tag akunnya. Sebagai sahabat yang baik, Harry akan meng-like dan coment.
"Harry, kenapa kau tidak pesan ice cream saja?" tanya Hermione yang sejak tadi di acuhkan sahabatnya.
"Aku hanya butuh internetnya saja." ingin sekali Harry membalas dompet ku kering karena ulahmu setan! tapi tidak jadi.
"Ohh."
hening lagi..
"Mione, aku akan pesan ice cream." ucap Harry setelah menimbang baik buruknya membeli ice cream disini yang tergolong mahal. Dan Harry memilih pesan yang ukuran mini dengan satu rasa tanpa toping. Miris bukan, tapi hanya itu yang tergolong murah dan aman bagi dompetnya. Dan juga, Harry lelah menahan nafsunya untuk tidak memakan ice cream.
"Satu ice cream mini rasa coklat tanpa toping." Harry merasa malu saat selesai mengatakan pesanannya. Bahkan anak 10 tahun pun tidak sudi memesan ice cream yang seperti itu. Harry harus rela demi menikmati ice cream nya meskipun sangat miris.
Harry segera membayarnya ketika pesanannya sudah jadi. Dengan semangat 45nya, langsung berbalik dan tidak menyadari ada orang yang mengantri di belakangnya. Alhasil, ice creamnya pun jatuh di lantai. Harry merasakan matanya berembun tapi segera menghilang. Dia ingin memaki orang yang di depannya karenanya ice creamnya jatuh tak bersisa, tapi di urungkan karena tidak mau malu untuk kedua kali.
"Um.. maaf kan aku, aku tidak sengaja." ucap Harry pada pria blonde di depannya dan segera pergi setelah menatap nanar ice cream nya yang meleleh di lantai. Menahan godaan untuk menjilati ice cream itu.
Ku ingin marah..
Melampiaskan..
Tapi ku hanyalah sendiri di sini..
Harry menyanyikan bait lagu itu di dalam hatinya. Tidak mungkin juga dia menyanyikannya keras-keras disini. Tidak, tidak disini, tapi nanti, di apartmentnya.
"Harry, mana ice cream mu?" tanya Hermione.
"Jatuh." Harry menahan godaan untuk menangis meraung-raung di depan Hermione dan seluruh pengunjung Cafè.
"Harry, maafkan aku, aku tidak membawa dompetku hari ini. Lain kali, aku akan mengajakmu ke sini dan mentraktirmu. oke?" Hermione tampak bersimpati dan Harry hanya mengangguk mengiyakan ajakan Hermione untuk pulang, tak berniat berucap sepatah kata pun
Hermione memaksa Harry untuk pulang bersama tapi Harry menolaknya karena jarak rumah Hermione dan Harry berlawanan arah. Untung saja Florean's ice cream dekat dengan pemberhentian bis jadi Harry tidak perlu jauh-jauh berjalan.
"Hei.. kau yang menabrakku tadi bukan?" Harry menoleh karena merasa dirinya di ajak bicara. "ya, apa aku merusak barangmu?"
Tidak, kumohon katakan tidak.
"Tidak." seketika semua beban di pundak Harry hilang. Harry menoleh ke samping kanan dan betapa bahagianya dia melihat bis dari kejauhan. Setidaknya dia tidak perlu berjalan terlalu malam untuk sampai di apartmentnya. Harry maju selangkah sebagai isyarat untuk menaiki bis itu.
"Aku akan mengantarmu pulang." betapa terkejutnya Harry mengetahui pria itu masih di sini. "Aku akan mengantarmu pulang, ayo." pria itu menyeret tangan Harry. Harry kesal karena bis nya lewat begitu saja.
"What the fuck, apa yang kau lakukan! Aku ketinggalan bisnya, bisa saja itu bis terakhir!" maki Harry setelah tangannya terlepas dari tangan menjijikan pria blonde itu. Dia pikir Harry mau saja diantar pulang dengan pria yang tidak sengaja di tabraknya. Meskipun dompetnya cukup tipis tapi masih cukup untuk naik bis beberapa hari kedepan. Dan dia sudah cukup mendengar berita pencabulan sana-sini.
"Aku akan mengantarmu. Dan itu bis terakhir." dia masih bersikeras.
"Tidak, aku lebih baik jalan kaki. Rumahku dekat sini." Harry juga bisa bersikeras. Harry berjalan kaki sambil merutuki nasibnya hari ini.
"Jika rumahmu dekat kenapa kau naik bis?" tanya pria blonde yang sudah di samping Harry.
Harry mendiamkannya.
"Mobilku ada di sebelah sana." tunjuknya pada mobil sport berwarna hijau dengan garis perak. Harry cukup Terhipnotis dengan mobil milik pria di sampingnya. Tapi tidak, dia tidak akan menjadi salah satu korban pencabulan.
Harry terus berjalan mengacuhkan pria asing dan sedikit merapatkan jaketnya. Harry melihat jam nya untuk melihat tanggal berapa sekarang. 1 Desember.
"Sialan, kau blonde! Andai saja kau tidak menyeretku aku sudah berada di dalam bisa saat ini! Andai saja aku tidak bertemu denganmu ini pasti tidak akan terjadi! Sial! SIALAN!" Harry meneriakkan kata terakhirnya dengan kencang sehingga membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh.
Harry merogoh saku jaketnya. "Bagus, ponselku mati dan harus benar-benar berjalan sejauh 10KM seperti kata Hermione."
Tangan Harry yang di masukkan ke dalam saku jaketnya pun tidak membantu menghangatkan sama sekali, malah semakin mendingin. Harry menggosokkan kedua tangannya berharap ada rasa hangat yang di terima tangannya. Badannya yang hanya terbalut kaos tipis dan jaket biasa memakin menggigil. Otak Harry tidak berjalan dengan baik di waktu dingin. Harry memutuskan membeli sebotol bir di toko terdekat dan duduk di salah satu bangku kosong di sana. Tak ada rasa hangat yang di rasakan tubuhnya, hanya ada rasa dingin yang semakin menusuknya. Harry memaksakan berjalan meskipun tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi. Harry merasakan kepalanya pusing dan pandangannya menggelap.
