Disclaimer : I do not own Harry Potter. I own nothing. Harry Potter belong to J.K. Rowling. I did not make money off this story. Title is from "Hari Bersamanya", a song by Sheila on 7.

Warning: Drarry/DMHP. OOC. Fluff. Pendek. Boy's Love.

Note: Setting cerita saat mereka tingkat 6 (movie HBD).


Hari telah berganti hari, tak bisa kuhindari


Di suatu sore setelah kelas, Draco melangkah masuk menuju Kamar Kebutuhan. Seseorang tak kasatmata yang mengikutinya sedari selesai kelas tadi juga ikut. Meski tak tampak, Draco sadar seseorang ini ada ketika dalam perjalanan ke sini, terdengar suara menabrak salah satu patung prajurit namun tidak ada orang begitu ia melihat. Mengingat peristiwa di Hogwarts Express awal tahun ajaran, ia yakin sekali jati diri yang mengikutinya ini.

Hening.

Ia tak bergerak karena mempertajam pendengaran untuk mendengar suara di sekitar setelah Kamar Kebutuhan mengubah ruangan menjadi mirip ruang rekreasi Slytherin. Menunggu seorang penghuni lagi menunjukkan diri namun setelah beberapa menit masih dengan keheningan, Draco mendengus tak sabar.

"Jadi?" Ia buka suara dengan nada menyindir kentara. "Kau tak mau memperlihatkan dirimu?"

Alisnya terangkat, menunggu respon apapun tapi tak juga datang. "Lebih suka hidungmu kupatahkan lagi?"

Terdengar suara kain tapi tetap tidak ada sosok yang terlihat.

Draco menambahkan, "Kau mengikutiku seperti anak anjing kehilangan majikan dan sekarang malu berhadapan dengan sang majikan, Potter?"

"Aku bukan anak anjing!" Sergah Harry sambil menarik lepas Jubah Tak Kasatmata yang menutupi dirinya sedari tadi. Draco tampak tidak terkesan dengan pelototan dari Harry. Alisnya masih terangkat dan mengedikkan bahu ia kembali menyindir dengan sarkas.

"Yah, benar, salah terbesarku, memandang Gryffindor, seharusnya aku menyebut anak kucing," Draco memasang wajah seolah dia bersalah sebagai ejekan.

Harry dengan muka cemberut bilang, "Bukan itu intinya, Malfoy!"

"Oh?" kali ini si Slytherin pirang memasang muka polos tak tahu apa-apa. "Jadi intinya apa dong? Kau menguntitku ke tempat sepi begini, pasti ada maksud kan?"

"Itu yang mau kucari tahu! Kau pasti ada rencana tidak-tidak, Malfoy! Akan kutemukan dengan cara apapun!" Balas Harry.

Draco tertawa mengejek, "Apa kau dengar kata-katamu sendiri, Potter? Kau baru saja membenarkan tuduhanku dan kau merasa berhak menghakimiku? Wow. Sekali Gryffindor memang akan terus Gryffindor."

Pipi Harry merona sedikit karena apa yang dibilang Draco memang benar tapi merasa perlu membela diri, si remaja Gryffindor menjabarkan, "Ini bukan tanpa alasan. Aku melihatmu dan ibumu di Knockturn Alley dan... dan..."

"Itu sebabnya kau bersembunyi di kompartemenku?" Draco mendengus. "Apa aneh jika aku dan ibuku ada di Knockturn Alley? Itu bukan tempat yang dilarang Kementrian Sihir."

Alis Harry mengernyit, perkataan Draco benar dan asumsi Harry saja yang meraja, maka ia melanjutkan, "Tapi kau terlihat aneh tahun ini, Malfoy."

Draco menyipitkan mata sekejab sebelum mencibir, "Aku tetap tidak berkacamata dan rambutku tidak berantakan seperti seseorang jika itu yang kau maksud."

Muka Harry tampak kesal, ia menekankan "Maksudku! Kau tidak mengangguku atau teman-temanku sama sekali tahun ini. Mengejek pun tidak padahal setiap tahun setiap ada kesempatan tidak pernah kau lewatkan..."

"Kau tahu, Potter? Aku tersanjung kau merindukan ejekan dan gangguanku," Draco memasang wajah seolah ia tergugah, "tapi maaf, mungkin kau masih kecil dan tidak familiar dengan kata 'beranjak dewasa' tapi itu yang kualami sekarang."

"Menyendiri bahkan di meja Slytherin? Melamun berkepanjangan? Ke ruangan ini sendirian setiap ada waktu luang? Tidak bersemangat dengan Quidditch? Itu yang kau maksud Dewasa? Aku menyebutnya bermasalah."

Draco tampak terkejut sungguhan. Tidak memprediksi bahwa Harry akan menyadari tingkah lakunya sedetail itu mengingat sejarah mereka jelas bukan dikategorikan dalam sahabat dekat. Berteman pun tidak. Dia mengira Harry tidak akan pernah tahu apapun tentang dirinya jika dia tidak menganggu kehidupan si Anak Yang Bertahan Hidup tersebut. Ada rasa senang tak terkatakan merebak dalam diri Slytherin pirang ini. Ia tersenyum tipis sebelum mencemooh setelah senyum itu hilang, "Selamat, Potter! Kau ada bakat jadi penguntit! Ada apa denganmu?!?!?! Kau memperhatikan aku sebegitunya? Oh, aku berada di langit ke 7!"

"Aku—"

"Atau ini caramu menyatakan cinta?"

Tentu saja Draco hanya bercanda. Namun, melihat Harry tercengang dengan pipi memerah semakin jelas, mau tak mau kelabu kembar miliknya ikut melebar. Mereka berdua sempat terpaku saling memandang satu sama lain dengan rona merah tipis tampak di pipi Draco.

Menyadari mereka mempunyai momen, keduanya mengalihkan pandangan di saat bersamaan karena rasa malu memuncak seketika! Harry membasahi tenggorokan dan terbatuk canggung sebelum berkata, "Nga-ngaco! A-apaan sih, Malfoy?"

Ketika Draco mencuri pandang, didapatinya Harry memandang ke lantai dengan muka merah dan tangan bersidekap. Terlihat konyol tapi sangat menggemaskan di mata Draco. Ia tersenyum lalu memasukkan kedua tangan ke saku celana dan berjalan mendekati Harry. "Kau payah ternyata dalam masalah ginian," godanya dengan senyum jahil.

"Hah?" Harry cengo masih dengan sisa rona merah di pipi. Tidak paham tertulis jelas di wajah polosnya. Pemandangan yang memuaskan Draco.

"Potter, dilarang memasang wajah imut di saat aku serius. Itu pelanggaran," ia menaikkan alis tanpa menghentikan langkah dan berhenti hanya kurang dari 20cm dari si Gryffindor. Harry mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mengerti maksud dari si Slytherin dengan hasil nihil.

Akhirnya dia bertanya, "Sehat, Malfoy?"

Draco tergelak tawa lalu mengarahkan kedua tangannya ke arah Harry. Remaja yang lebih pendek itu awalnya mulai panik, berpikir bahwa si pirang akan menyerang secara fisik seperti mendorongnya atau sejenis itu. Nah, memang hal yang terjadi adalah secara fisik tapi bukan didorong. Harry justru ditarik jatuh dalam pelukan Draco dengan kedua tangan remaja Slytherin mendekapnya erat tapi lembut. Sebagian mulutnya tertutup bahu Draco sementara kedua matanya terbelalak kaget.

"Ma-Malfoy!" Dia mencoba mendorong remaja yang lebih tinggi darinya itu tapi Draco mengeratkan pelukannya.

Tersenyum mengejek, Draco berkata, "Itu caramu bicara ke pacarmu?"

"Pacar? Si—!"

"Kan tadi kau menembakku, Potter."

"Hah? Kap—!"

"Kau tidak membantah pas aku bilang 'ini caramu menyatakan cinta' ya kan?"

Muka Harry memerah dan suaranya terdengar malu, "I-itu tidak berarti—!"

"Oke, ini jelas-jelas sudah tindak kriminal, Potter. Berhenti memasang muka imut atau aku akan menciummu dan tidak akan melepaskanmu," Draco menggoda dengan mencium pelipis Harry.

"Ma-Malfoy!" Harry sudah resmi jadi kepiting rebus yang malu-malu.

Draco tersenyum, "Aku sudah memperingatkanmu, Potter. Bukan salahku." Lalu ia menghapus jarak antara wajah mereka dan menempelkan bibir dengan lembut. Secara refleks keduanya juga menutup mata dan ciuman kedua Harry ini... jauh terasa lebih manis dibanding ciuman sebelumnya tahun lalu, jika kau tahu siapa yang dimaksud.

Tanpa sadar, kedua tangan Harry sudah di bahu si pirang sementara pinggangnya direngkuh lembut oleh tangan Draco. Jemarinya menyentuh ringan pipi Slytherin tampan selagi mereka berciuman. Ada ketergesaan terasa dari pagutan bibir keduanya. Ada penantian tak terkatakan. Seolah memang ini yang sudah mereka tunggu tanpa mereka mengetahui atau bahkan mengakui pada diri mereka sendiri. Mereka jelas menikmati rasa bibir masing-masing sebab ciuman lembut manis ini berlangsung selama lebih dari beberapa detik. Seakan mereka tidak mau terpisah lagi.

Ketika akhirnya keduanya mempunyai kesepakatan tanpa kata untuk menarik diri, mereka menempelkan dahi dengan nafas sedikit terengah.

"Wow," ucap Harry, masih dengan pipi merona. Draco tertawa kecil, menyetujui, "Yah, wow."

"Malfoy..."

"Hm?"

"Kau... pacarku sekarang?" Tanya Harry malu-malu.

Draco ingin menggoda Harry lagi tapi melihat keimutan Gryffindor satu ini, untuk kali ini dia mengalah. Dia menjawab tegas, "Ya. Kita pacaran sekarang."

Harry bertanya ragu, "Kau menyukaiku? Bukannya kau membenciku?"

"Hey, aku menganggumu sejak kita pertama kenal, meniupkan pesan kertas hanya untukmu saat di kelas dimana Snape tengah mengajar bahkan aku memanjat pohon cuma untuk terlihat keren saat mengejekmu, Potter. Kalau itu tidak termasuk dalam mencari perhatianmu dengan nekat, aku tidak mengerti standar nekatmu."

Harry tertawa lepas, lalu memandang Draco yang tersenyum dengan alis terangkat. Ia memberanikan diri dengan mendekatkan wajah mereka lagi sambil menggesekkan ujung hidung mereka dengan main-main. "Siapa yang imut sekarang, coba?" Goda Harry sedikit malu-malu.

Draco tertawa kecil dan mencium Harry lagi.

Pacarnya!


Terima kasih sudah mau baca~! Review boleh dong ya kalo ga keberatan hehe~!

Ada rencana sih ini dibuat drabble romance keseharian Drarry pacaran gitu tapi tergantung kalian sih hehe ada yang baca atau review gak~ Lanjut gak menurut kalian? Kasih tahu ya~~!