"The brain sees what it wants to see."


Special for NaruHina Tragedy Day Event

REPOSTED FROM WATTPAD

Enjoy the story :)


(NARUTO POV)

Aku melihat pintu bercat putih, terdapat kaca transparan yang memanjang vertikal, namun tak terlihat apapun didalam sana. Aku mencoba bergerak tapi seolah tubuhku membeku, bahkan aku tak bisa melihat anggota tubuhku yang lain, seolah aku hanya sepasang mata tanpa tubuh. Samar-samar aku mendengar suara 'bip' yang berulang-ulang, aku coba mengedarkan pandanganku namun nihil, hanya pintu itu yang terlihat dan sisanya hanya warna putih.

Dan tiba-tiba tercium bau bunga yang sangat menyengat.

Sekali lagi aku mencoba menggerakkan anggota badanku, dan sentakan kaki yang kurasakan seketika membuatku terbangun.

Aku amati ruangan berwarna ungu pastel ini, mengedarkan pandangannku pada seisi ruangan yang berdekorasi feminim ini. Saat mataku menangkap figura foto sepasang manusia dengan warna rambut yang kontras, tertulis nama 'Naruto Hinata' di sisi bawah foto itu. Itu aku dan Hinata?

Hinata?

Ah ya, Hyuuga Hinata. Putri sulung keluarga Hyuuga yang baru saja berganti nama belakang menjadi Uzumaki. Sekarang aku mulai sadar jika aku berada di kamar Hinata.

Ternyata aku tertidur, fisik dan pikiranku terlalu lelah melewati serangkaian acara pernikahanku dengan Hinata yang berlangsung selama 3 hari. Setelah runtutan acara yang sangat menguras waktu dan tenaga, kami memutuskan untuk menginap selama 2 hari di rumah keluarga Hyuuga sebelum pindah ke rumah kami di Prefektur Gunma.

Aku kembali merebahkan tubuhku di atas ranjang queen size milik Hinata, suara gemericik air dari arah kamar mandi secara tidak langsung memberitahu dimana gadis yang baru resmi menjadi istriku itu berada.

Gadis? Ya tentu saja aku belum menyentuhnya. Beruntung Hinata memiliki keluarga yang sangat menjunjung tinggi tradisi kolot tentang hubungan intim sepasang kekasih.

"Naruto-kun."

Suaranya lembut mengalun indah, aku mengubah posisiku menjadi duduk, menghadap sang pemilik suara. "Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat," lanjutnya.

"Aku ingin mandi bersamamu."

Lihat pipi meronanya yang sangat menggemaskan, aku selalu menikmati momen menggoda Hinata.

"Berhenti menggodaku, Naruto-kun."

Oh sayang, betapa munafiknya dirimu. Kau tak ingin kugoda? Tapi lihatlah penampilanmu yang membangkitkan nafsu buas ini untuk menyerangmu sekarang juga. Rambut indigo basahnya dibalut dengan handuk dan digulung, memperlihatkan leher jenjang mulus yang ingin sekali kutandai dengan kecupan-kecupan manis. Bathrobe minim itu hanya menutupi seperempat pahanya, memperlihatkan dengan jelas kulit seputih susu dan kujamin sangat halus berkat perawatan diri sang gadis. Tak sabar ingin menjadikannya wanita.


Bangun tidur aku tidak mendapati Hinata di sampingku, aku putuskan untuk keluar dan mencarinya. Saat melewati ruang keluarga Hyuuga, samar-samar aku dengar suara televisi menyala. Mungkin Hinata disana, namun ternyata nihil. Aku hanya melihat televisi yang sedang menampilkan kilas berita.

"Hmm, kasihan sekali ia harus mengalami kejadian mengerikan di usianya yang masih muda," ujar Hinata yang tiba-tiba sudah berada di sebelahku.

Aku mengamati berita yang masih menampilkan video sebuah mobil terbalik di sisi jalan, dilihat dari kondisi mobilnya yang sangat parah kemungkinan mobil itu sempat terguling beberapa kali sebelum menabrak pembatas jalan. Dari judul utama berita itu, aku tahu bahwa orang tersebut merupakan anak dari seorang pengusaha kaya raya yang cukup berpengaruh di Jepang. Kecelakaan tersebut disorot oleh berbagai media, terbukti ketika aku menemukan berita yang sama di hampir semua stasiun televisi nasional.

Yang lebih membuatku tertarik adalah fakta bahwa si korban menderita gangguan mental, scizofrenia. Sedikit sekali kutahu orang Jepang yang mengidap penyakit mental itu. Dari beberapa artikel yang kubaca, scizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi ini membuat penderitanya sulit membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.

Setelah kecelakaan naas itu, beruntunglah si korban masih hidup meski harus mengalami koma. Namun jika ia bermimpi dalam keadaan koma, bisa jadi ia akan menganggap mimpinya itu sebagai kenyataan, dan pada akhirnya ia tak akan bangun sampai ajal menjemput. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku berada di posisi orang itu.

"Ayo sarapan Naruto-kun," ajak Hinata, mengalihkan semua pikiranku tentang kejadian itu.


Kami pindah setelah melalui perdebatan kolot dengan orang tuaku yang memaksa kami untuk tetap tinggal di Tokyo. Aku memberi pengertian kepada para orang tua alasan mengapa kami memutuskan untuk tinggal di Prefektur Gunma lebih tepatnya di Kota Numata, disini aku ingin memulai kehidupan baru bersama dengan Hinata jauh dari hiruk pikuk ibukota. Aku melamar pekerjaan di salah satu kantor surat kabar swasta, sedangkan Hinata ingin sekali menjadi guru di taman kanak-kanak.

Baru beberapa minggu kami tinggal di kota ini, Hinata sudah mengenal banyak sekali orang. Setiap malam menjelang tidur ia selalu bercerita tentang orang-orang yang baru dikenalnya. Tentu saja aku senang karena sifat Hinata yang supel dan mudah bergaul dengan banyak orang. Dan karena sifatnya itu bahkan Hinata sudah lebih dulu mendapat pekerjaan sebagai guru TK. Sedangkan aku harus menunggu setidaknya satu bulan sampai akhirnya mendapat panggilan dari kantor redaksi surat kabar.

Salah satu tetangga yang cukup dekat dengan kami, pasangan Shimura. Mereka menyulap halaman belakang rumah mereka menjadi kebun pribadi yang terisi dengan berbagai macam bunga. Ino Shimura yang memiliki kecintaan pada bunga dan Sai Shimura sang artis yang mengabadikan berbagai koleksi Ino ke dalam bentuk lukisan cat. Mereka pasangan yang serasi. Seringkali Ino membawakan bunga lavender untuk Hinata, yang katanya Hinata memiliki pesona yang sama dengan bunga lavender, dan aku setuju mengenai hal itu.


Aku pulang lebih awal dari biasanya, beruntung kemarin aku lembur jadi hari ini pekerjaanku selesai lebih cepat. Saat baru sampai di depan rumah, aku berpapasan dengan petugas pengantar pos.

"Untuk Nyonya Hinata Uzumaki," kata si pengantar pos.

Setelah mengisi formulir tanda terima, aku membawa masuk kotak persegi yang terbungkus kertas coklat. Tak tercantum identitas pengirim yang membuatku sedikit curiga dengan isi paket ini. Sering melihat berita tentang paket-paket misterius yang berisi hal-hal aneh atau bahkan sesuatu yang berbahaya, aku memutuskan membuka segel paket tersebut untuk melihat isinya.

Di dalam kotak karton tebal masih ada kotak styrofoam yang di tengahnya terdapat sebuah botol parfum berisi cairan berwarna coklat keruh. Tak ada merk atau tulisan apapun. Kucoba menyemprotkannya ke lengan kiriku dan kucium baunya.


Aku terbangun di atas tempat tidur. Aku bahkan tidak tahu kapan aku masuk ke kamar. Hal terakhir yang kuingat adalah aku membuka paket milik Hinata, dan kepalaku terasa pening setelah mencium bau parfum aneh itu, lalu setelahnya aku tak mengingat apapun.

Kucoba menanyakan hal ini pada Hinata, namun ia malah menatapku bingung. Hinata tidak mengetahui apapun soal paket itu dan berkata bahwa mungkin saja aku bermimpi karena saat wanita itu pulang, aku sudah tertidur di kamar.

Sujurnya aku merasa bingung, kalau hal tadi itu mimpi, tapi rasanya terlalu nyata.


Sore ini aku baru saja kembali dari kantor saat kulihat keramaian di depan rumahku, ada beberapa mobil polisi dan ambulance. Seketika aku panik memikirkan Hinata, aku mendekati kerumunan orang-orang tersebut dan saat melihat lebih dekat, ternyata rumah pasangan Shimura yang sedang mendapat kunjungan dari para polisi. Aku menghampiri polisi yang sedang berbicara dengan seorang rekannya.

"Ada apa ini?" tanyaku.

"Naruto?" Orang bertanya balik, "Naruto Uzumaki?"

Saat kuteliti wajanya, betapa terkejutnya aku melihat teman masa kecilku, si Sasuke Uchiha. Aku tak mendengar kabarnya selama belasan tahun semenjak lulus dari taman kanak-kanak. Dan ia sekarang bekerja di kepolisian?

"Sasuke Uchiha? Tunggu sebentar, kenapa kau ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Itu rumahmu Tuan Uzumaki?" Rekan Sasuke menyela, sambil menunjuk rumah bercat coklat krem. Aku mengangguk.

Setelah membisikkan sesuatu dengan rekannya, Sasuke mengajakku untuk berbicara di dalam rumahku.

"Ada apa dengan keluarga Shimura?" Aku tak ingin berbasa-basi lagi.

Sasuke menghela nafas, "Aku akan menjelaskannya secara cepat jadi jangan menyela," Aku mengangguk kemudian Sasuke melanjutkan, "Ino dan Sai ditemukan meninggal di kediaman mereka. Dari tempat kejadian diduga mereka terlibat pertengkaran, rumah mereka berantakan dan ada beberapa barang yang dirusak. Sepertinya Sai mengamuk, entah karena alasan apa ia menyerang Ino. Terdapat luka sobek di dahi dan lebam bekas cekikan di leher Ino, ia meninggal karena kehabisan nafas. Dan kami menemukan mayat Sai di kebun, dengan mulut penuh busa. Sepertinya ia memakan salah satu tanaman beracun setelah membunuh Ino."

Berita ini sangat mengejutkanku. Tentu saja, mereka tetangga rumah yang hanya terpisah oleh pagar kayu. Dan selama yang aku ingat, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Belum pernah sekalipun aku melihat mereka terlibat adu mulut.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku.

"Entahlah. Kami masih menyelidiki kasus ini dan mencari keterangan dari kerabat dan teman dekat korban. Untuk itulah aku ingin bicara denganmu Naruto."

Lalu Sasuke mulai melontarkan beberapa pertanyaan terkait Ino dan Sai. Kurang lebih 1 jam lamanya Sasuke mengintrogasiku, sebelum akhirnya ia pulang untuk melanjutkan penyelidikan. Aku mengantarkan Sasuke sampai ke depan gerbang bertepatan dengan Hinata yang baru saja sampai menggunakan taksi.

"Naruto-kun ada apa ini?" tanya Hinata bingung mendapati keramaian di depannya.

"Sasuke, ini istriku Hinata. Dan Hinata, ini Sasuke." Mereka berjabat tangan, "Akan aku ceritakan di dalam." Kemudian aku mengajak Hinata masuk dan menceritakan semua yang aku tahu.

Hinata menangis tersedu, tentu saja karena ia cukup dekat dengan Ino meskipun terhitung baru 2 bulan kami tinggal disini. Hinata bercerita bahwa ia sempat menemui Ino sebelum berangkat bekerja untuk meminta maaf.

"Meminta maaf? Kalian bertengkar?" tanyaku heran.

Hinata menyeka air matanya sebelum menjawab, "Kemarin aku meminta Ino-chan beberapa tangkai bunga matahari yang baru mekar, namun Ino-chan menolak dengan alasan ingin menyimpannya sampai Sai-san selesai membuat lukisan bunga itu dan kami sempat terlibat adu mulut. Tadi pagi aku pergi untuk meminta maaf namun hanya bertemu dengan Sai-san." Air mata Hinata kembali mengalir deras, "Aku merasa bersalah belum sempat meminta maaf secara langsung."

Aku mendekap tubuh mungilnya. Mencoba memberi semangat dan kekuatan di tengah duka dan penyesalan yang mendalam.

Keesokan harinya, Sasuke kembali menghubungiku. Kami bertemu di sebuah kafe dekat dengan pusat rehabilitasi tahanan. Ternyata istri Sasuke-Sakura Uchiha-merupakan salah satu dokter yang bekerja di tempat para tahanan yang mengalami gangguan mental serta para tahanan yang mengonsumsi narkoba.

"Jadi bagaimana hasil penyelidikannya?" tanyaku tanpa banyak berbasa-basi, aku yakin ini masih berkaitan dengan kasus pembunuhan Ino-Sai kemarin.

Sasuke terkekeh, "Kau tanggap sekali, dobe. Tak kusangka kau semakin pintar."

Aku hanya memutar kedua bola mataku-tak mengacuhkan candaan garing itu.

"Hasil otopsi pada jasad Sai sangat mengejutkan. Dia dihipnotis," kata Sasuke

"What? Hipnotis? Bagaimana kau tahu itu hipnotis dari hasil otopsi?" Aku merasa bodoh atau memang kata-kata Sasuke yang tidak masuk akal?

"Dasar kau memang bodoh. Ada satu jenis narkoba yang bisa menghipnotis pemakainya, namanya scopolamine. Narkoba jenis ini pertama kali digunakan untuk aksi kriminal di Kolombia pada tahun 1980-an. Siapapun yang menggunakan narkoba jenis ini akan mengalami halusinasi dan ia bisa diperintah oleh siapapun yang berada di dekatnya. Korban tidak akan ingat apapun yang telah dilakukannya selama dalam pengaruh scopolamine. Ada juga yang menyebutnya serum kebenaran," jelas Sasuke. "Dan dari hasil otopsi, kami menemukan bahwa si pelaku menyemprotkan cairan yang mengandung scopolamine tepat pada wajah Sai."

"Kau yakin orang lain yang melakukannya?"

Sasuke mengangguk, "Kami sudah menggeledah seisi rumah dan tidak menemukan scopolamine dalam bentuk apapun."

Aku kembali teringat dengan paket milik Hinata. Paket yang di dalamnya terdapat botol parfum tanpa merk yang berisi cairan coklat keruh. Dan aku yakin sekali itu bukan mimpi

Mungkinkah Hinata berbohong?

~TO BE CONTINUE~


Thank you for reading my story.

Hope you like it.Please support my story by FAV and REVIEW down below!

See you in the next chapter!