Hallo aku Hiyo, kalau kenal aku biasa nulis AU Sosmed di twitter hehe (tapi namanya bukan Hiyo di twt, ayo tebak siapa)
Ini baru pertama kali publish fanfiction di sini huhu, jadi mohon maaf kalau masih ada kesalahan, minta kritik saran yang membangunnya ya...
Chapter 1 : Day and Night (Day6)
"Sad sad sad sad
What can we do?
Always bad bad bad bad
Timing all the time
If one person is hot
The other is cold
What should we do?"
Disclaimer: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto, saya cuma pinjem karakternya saja
"Kau, Sasuke?" celetuk seseorang yang tiba-tiba berdiri di depanku, bayangannya menutupi cahaya matahari yang mengarah pada kanvas.
Sedikit terganggu, aku menengadahkan kepala untuk melihat orang yang mengusik kegiatanku.
"Hallo! Aku Sakura," sapanya dengan tersenyum lebar.
Aku menatapnya asing. Siapa gadis ini? Rambutnya berwarna merah muda sebahu, dengan mata hijau yang baru pertama kali aku lihat ada pada manusia sungguhan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, mungkin hanya mencapai daguku. Ia memakai kemeja biru muda, dan rok span hitam selutut, juga sepatu hak berwarna hitam.
Aku tidak mengenalnya. Dilihat dari wajahnya, ia terlihat lebih muda dariku. Namun, pakaiannya benar-benar tidak mencerminkan kalau dia seumuran denganku, terlalu formal, terlalu kaku untuk gadis usia 20 tahun.
Aku terlalu sibuk menilai penampilannya sehingga lupa untuk membalas pertanyaan yang ia lontarkan. Mungkin dia adik kelasku, karena aku baru pertama kali melihatnya di sini. Kalau senior, sebagian besar aku mengenali wajah mereka, hanya wajah tidak dengan nama.
"Hn," responku pendek, entah untuk menjawab pertanyaan yang mana.
Dia menepuk kedua tangannya di depan dada, matanya berbinar cerah menatapku. Setelah itu, matanya menoleh kesana-kemari mencari sesuatu, aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia lakukan. Aku melihatnya menghela nafas lelah, kemudian dengan sedikit ragu dia mulai menurunkan tubuhnya dan jongkok di hadapanku.
"Jadi, aku punya pekerjaan untukmu."
"Apa yang kau lakukan di situ?"
Secara tak sadar kami berbicara secara berbarengan, aku tidak mendengar kalimat yang dia katakan tadi. Ia sempat menatapku kaget, kemudian tawanya pecah. Ia tertawa dengan lepas, mata hijaunya tertutupi oleh kelopak mata yang menyipit. Mulutnya sedikit terbuka, karena aku bisa mendengar suara tawanya yang cukup besar.
Tidak seperti kebanyakan gadis yang kukenal, gadis ini benar-benar unik. Beberapa gadis akan bersikap sebaik mungkin di hadapanku, misalnya kalau tertawa seperti ini gadis-gadis itu akan menutup mulutnya dan menekan tawanya. Entah kenapa aku tidak suka melihat mereka seperti itu, tidak bisakah bersikap normal di hadapanku?
"Maaf! Aku juga lancang, tiba-tiba mengatakan itu padamu," ucapnya setelah tawanya mereda.
"Memang kau mengatakan apa?" tanyaku penasaran. "Dan jawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan disitu?" lanjutku masih terganggu dengan posisinya yang berjongkok di sebelah kanvasku.
Dia tersentak dan melihat keadaan dirinya sendiri, kemudian matanya melirik ke arahku dengan gugup. Perlahan dia kembali berdiri, dengan menyelipkan rambut ke belakang telinga, semburat merah muncul di pipinya.
"Aku mau duduk, tapi tidak ada kursi. Jadi, aku jongkok saja di situ. Maaf, ya," jelasnya malu-malu.
Aku menatapnya datar, kemudian beranjak dari kursi dan berjalan meninggalkannya. Menolehkan kepalaku ke arahnya, aku mengintruksikan agar dia mengikutiku. Ia sempat kebingungan dan menunjuk jari telunjuk ke dadanya, aku mengangguk.
~o~
Langkah sepatu haknya terdengar cukup nyaring di lorong yang sepi ini. Ia cukup kesulitan menyamakan langkahku karena rok span yang membatasi langkahnya.
Aku bisa mendengar suara gerutuan darinya, mengutuk rok dan sepatu yang hari ini dia pakai. Ada-ada saja, dia yang memakai, dia juga yang kesal sendiri. Aku hanya menggelengkan kepalaku heran.
"Apa yang kau tertawakan?" suaranya terdengar kesal. Tunggu, memangnya aku tertawa? Aku tidak sadar. "Dan kenapa kau mengajakku ke sini?" lanjutnya sambil melihat keadaan sekitar dengan tangan memegang lengan satunya.
"Kau mau duduk, 'kan? Ya, di sini," tunjukku dengan gestur daguku mengarah pada sebuah bangku panjang di sebelah mesin minuman otomatis.
Ia menatapku ragu, tanpa berkata apa pun ia mendudukan dirinya di bangku tersebut. Aku menghampiri mesin minuman otomatis, memasukan beberapa koin, dan memencet tombol yang ada pada mesin. Aku memilih membeli kopi, semua orang suka kopi, 'kan? Jadi, tidak ada salahnya aku membelikannya kopi.
"Hoi!" panggilku sambil menyodorkan kaleng kopi di depan wajahnya. Ia menoleh ke kaleng kopi di hadapannya, lalu bergantian menatap wajahku yang sedang menatapnya aneh.
"Ini... kopi?" tanyanya retoris. Aku memilih diam tidak meresponnya. "Maaf, aku tidak suka kopi," jelasnya sambil tertawa paksa.
Memutar bola mataku bosan, aku segera menarik tanganku yang sedang memegang kaleng kopi untuknya. Namun, sentuhan mendadak darinya membuatku menghentikan gerakan. Kedua tangannya sudah menggenggam erat tangan kananku beserta kaleng kopi yang niatnya kuberikan padanya tadi.
"Eh, kalau sudah dibelikan tidak apa. Aku ambil, ya?" ucapnya gugup. "Ah! Maaf!" lanjutnya ketika menyadari tangannya yang menggengam erat tangan kananku.
Dasar gadis aneh, plin-plan sekali. Katanya tidak suka kopi, tapi tetap menerima kopi itu. Aku meminum kopi dinginku dengan ekor mata yang masih memperhatikan gerak-gerik si gadis aneh.
Dia membuka tutup kaleng kopi, tidak langsung meminumnya ia malah mengamati kopi yang ada di genggamannya dengan serius. Ekspresinya tidak bisa kubaca saat itu, perlahan dia mengangkat kaleng kopi mendekati mulutnya.
Matanya terpejam kuat, dengan menjulurkan lidahnya keluar. Entah kenapa melihatnya dengan ekspresi seperti itu membuatku menyunggingkan senyum tipis. Ralat, gadis ini bukan aneh tapi unik. Baru pertama kali aku menemui gadis yang memiliki ekspresi se unik ini.
Tiba-tiba ia menolehkan kepalanya ke arahku, aku buru-buru memalingkan wajah menghindari tatapannya. Bisa gawat kalau dia memergokiku yang sedang memperhatikan tingkahnya.
"Jadi, aku ulangi lagi. Aku Sakura, dan aku ingin memberimu pekerjaan," ujar gadis itu setelah menaruh kaleng kopi di sebelahnya.
"Pekerjaan?" tanyaku sangsi.
"Iya, kau pelukis, 'kan? Tenang saja, aku akan memberikan pekerjaan yang berhubungan dengan melukis," jelasnya panjang lebar.
"Kenapa harus aku?" tidak bermaksud menjawab pertanyaannya, aku malah balik bertanya memastikan kalau aku lah orang yang dia cari.
Matanya kemudian menerawang, dengan tangan menopang dagu memandang langit-langit. Sebelah matanya melirik ke wajahku.
"Karena gambarmu hidup!" teriaknya sambil merentangkan tangan lebar.
"Darimana kau-," perkataanku tidak selesai karena dia memotongnya dengan cepat.
"Aku melihatmu, melihat karyamu di pameran kemarin. Kau Sasuke, 'kan?" pertanyaannya ini membutuhkan kepastian, bukan lagi jawaban berbeda.
Jadi, dia telah melihat hasil karya yang aku ikut sertakan di pameran. Memang lukisanku tidak begitu menarik seperti yang lain, tetapi saat itu aku menggambar dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata, dan aku sangat menikmatinya. Aku pikir, hasil mengurung selama 3 hari di kamar tidak sia-sia.
"Hidup bagaimana?" pancingku, aku ingin tahu apakah dia benar bersungguh-sungguh mengerti apa yang aku maksud atau tidak.
"Hidup. Aku bisa melihat pohon itu menari dalam hembusan angin, rumput dibawahnya juga mengikuti gerakan si pohon," kebanyakan orang juga mengatakan hal ini saat melihat lukisanku.
Rasanya tidak aneh, dia sama seperti mereka yang hanya melihat luarnya saja. Namun, pesan yang tersimpan dalam lukisan itu, belum ada yang berhasil memecahkannya.
"Dan yang paling kusuka adalah langitnya, langitnya tidak biru seperti yang kubayangkan. Sedikit gelap, mendung, mungkin? Aku pikir itu adalah pemandangan yang menjelaskan tentang "kita harus bersiap-siap akan badai atau cuaca buruk yang akan datang pada kita, mungkin kita merasa hidup sudah sempurna, tapi pasti ada saja yang akan menerjang" benar 'kan?" tambahnya lagi dengan mata berbinar.
Aku membelalakan mataku lebar, pernyataannya nyaris benar mendekati apa yang aku tuangkan pada lukisan itu. Bahkan aku sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, sementara ia menceritakan lukisanku dengan lancar tanpa hambatan. Ini baru pertama kali kita bertemu dan dia seperti sudah mengenalku selama ribuan tahun.
Seperti déjà vu, aku bisa melihat lukisanku dengan jelas di mata hijaunya yang teduh. Bagaimana bisa? Pamerannya saja sudah selesai 2 minggu yang lalu, tapi dia masih ingat dengan detail lukisan yang kugambar waktu itu. Gadis ini, benar-benar di luar dugaanku. Aku sudah meremehkannya.
"Hallo?" suaranya membuyarkan lamunan, dengan tangannya melambai-lambai di depan wajahku.
Aku sedikit tersentak, berdehem pelan untuk menghilangkan rasa takjub tadi. Kemudian aku meluruskan pandangan ke arah matanya yang menatapku polos.
"Pekerjaan seperti apa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Oh! Melukis tembok!"
"Hah?"
"Iya, melukis tembok! Kau akan melukis tembok di TK. Kau tahu? Taman kanak-kanak?" apakah ini sungguhan? Dia memintaku untuk melukis di tembok taman kanak-kanak?
"Tembok TK? Kau bercanda?" aku mendengus pelan.
"Tidak! Aku benar-benar ingin menyuruhmu melukis di tembok. Dengar! Bibiku baru saja membangun taman kanak-kanak untuk anak-anak yang tidak mampu. Dia harap, anak-anak akan tetap semangat belajar walau keadaan tidak memungkinkan," jelasnya dengan memelas.
Gadis ini benar-benar cerewet, sangat menjengkelkan. Baru saja aku takjub padanya karena berhasil menebak pesan tersembunyi di lukisanku, sekarang dia memanfaatkan kemampuan berbicaranya agar aku menuruti permintaannya. Heh, tidak semudah itu, nona!
Aku beranjak dari tempat dudukku, berdiri membelakanginya. Lalu, kudengar bunyi kaleng terjatuh di belakangku, sepertinya dia juga berdiri dengan tergesa-gesa sehingga menjatuhkan kaleng kopi di sebelahnya.
"Ah, sial!" umpatnya dengan berbisik.
Tanpa menghiraukannya, aku berjalan meninggalkannya sendirian yang kerepotan dengan kaleng kopi yang tadi terjatuh. Lalu, terdengar langkah kaki yang berlari menyusulku.
"Sasuke!" teriaknya sambil menarik lenganku.
Aku memutar tubuhku dan menatapnya dengan ekspresi datar. Kenapa dia sangat bersikeras menginginkanku untuk menerima pekerjaan ini? Aku benar-benar tidak tertarik untuk melakukan pekerjaan sosial seperti ini. Aku menginginkan karyaku dikenal oleh orang banyak, bukan anak-anak ingusan yang bisanya hanya bernyanyi dan tidur siang.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menyetujuinya sekarang," ujarnya dengan nafas memburu karena habis berlari mengejar langkahku. "Tapi, tolong pikirkan baik-baik," lanjutnya sambil mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Sebuah kartu berwarna merah muda seperti rambutnya.
"Ini, kartu namamu?"
"Bukan, itu voucher makanan gratis. Ya, tentu saja itu kartu namaku," ucapnya memutar bola mata bosan.
Aku tersenyum miring mendengar kalimat yang dilontarkannya. Ia berhasil mengubah rasa jengkelku menjadi normal kembali. Memang diri ini tak berniat menerima pekerjaan itu, tapi secara tak sadar aku juga memasukan kartu namanya ke kantung celanaku.
"Kalau kau berubah pikiran, hubungi saja aku," nadanya terdengar serius, dirinya bersikap seperti seorang yang profesional. "Oh dan jangan khawatir, aku yang akan membersihkan tumpahan kopi tadi," desahnya pelan.
"Memang kau yang harus membersihkannya, 'kan?" ejekku menyeringai jahil.
Mulutnya terbuka seolah akan mengatakan sesuatu. Namun, ia mengurungkan niatnya dan menggigit bibir bawahnya dengan pandangan menunduk ke lantai.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku memutar tubuh dan berjalan meninggalkannya. Ia juga sudah berbalik menyibukkan diri dengan kopi yang telah ditumpahkannya tadi.
~o~
Aku menatap kosong kartu nama yang dia berikan, padahal jelas-jelas aku sudah menolaknya. Tapi hati ini berkata lain, seperti menyuruhku untuk mencoba melakukan hal yang belum pernah kulakukan.
Sekelebat warna merah muda melintas di hadapanku, membuatku mengalihkan fokus ke objek yang lewat tadi. Gadis itu baru saja keluar dari lobi dengan wajah tertekuk, sepertinya dia masih kesal karena harus membersihkan tumpahan kopi yang dia perbuat sendiri.
Sudut bibirku sedikit terangkat mengingat tingkahnya yang tidak terduga, baru kali ini ada seorang gadis yang berhasil membuatku banyak bicara dan aku sangat tertarik memperhatikan ekspresinya yang bermacam-macam.
Mataku kembali melirik ke benda yang daritadi ku pegang, "Haruno Sakura," ejaku pelan menyebut namanya yang tertera di kartu berwarna merah muda. Nama yang cocok dengan penampilannya, juga sifatnya yang seperti angin musim semi. Angin musim semi yang kadang mengesalkan karena udara terasa agak panas, namun kadang juga menyenangkan karena saat itulah bunga-bunga bermekaran dengan indahnya.
Haruno Sakura, kau angin musim semi yang nyaris berhasil mencairkan es di hidupku. Tapi, hawa mu yang terlalu panas juga membuatku sedikit tidak nyaman, kau terlalu bersinar untukku yang gelap gulita dan dingin. Aku harap, semoga kita tidak bertemu lagi.
~o~
"Naruto," ucapku, berbaring menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Hmm?" gumamnya terdengar jengkel, karena aku menganggu dirinya yang sibuk dengan game konsol yang sedang ia mainkan.
"Apa yang kau pikirkan tentang lukisanku?" ujarku dengan satu tarikan nafas.
"Hah?"
"Sudah, lupakan saja," aku membalikan tubuhku, memunggungi Naruto yang sedang duduk di atas kasur yang sama. Jangan berpikir yang tidak-tidak, dia hanya iseng mengunjungi kamarku saat sedang kesepian.
Hening, tidak ada suara yang terdengar selain suara yang berasal dari game konsol milik Naruto. Kami terdiam cukup lama, sampai suara game konsol Naruto berhenti berbunyi.
"Lukisanmu ya? Aku 'kan sudah menebaknya waktu itu, tapi kau bilang salah," Naruto menggerutu kesal.
"Memang salah, kau menemukan jawabannya sekarang?"
Kasurku terasa sedikit bergerak, aku bangun dari posisi tidur miringku dan melihat Naruto yang sudah ada di depan pintu kamar. Perlahan dia membuka kenop pintu, menariknya ke dalam. Sebelum keluar dari kamar dia menolehkan kepalanya ke arahku.
"Aku tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu sampai kau mengatakannya padaku," ucapnya dari mulut pintu.
"Andai aku bisa mengatakannya padamu," balasku.
"Menyebalkan!" ocehnya sambil menutup pintu dengan kasar.
Aku menggelengkan kepala pasrah, menyaksikan pintu kamarku ditutup keras oleh Naruto. Namun, ada perasaan aneh yang menggelitik di hatiku. Karena ada seseorang yang akhirnya memahami maksud pesan yang ingin kusampaikan. Haruno Sakura.
TBC.
Author notes: Makasih buat yang udah mau bersedia baca ceritaku ini (ngetik apa sih aku wkwk). Tinggalkan jejak ya, review yang membangun sangat dibutuhkan (aku orangnya suka jbjb jadi review kamu pasti kubalas satu-satu hehe). Maaf banget, jangan tinggalin review negatif ya, karena aku cuma manusia yang banyak kesalahan. Gak baik kalau kalian jatuhin orang dengan ketikan, kalian juga gamau digituin, 'kan?. Kalau gak ada kata yang baik yang bisa diucapkan, lebih baik diam dan tinggalkan. Jadi, please spread the love and peace, kamu senang aku pun senang. Okay? You like it? Like it? (nada kek Doun wkwk). Sampai bertemu di chapter selanjutnya~ (Hiyo)
