Lacuna—a blank space; a missing part.

Pairing: Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

Disclaimer:

Apresiasi sebesar-besarnya kepada Tadatoshi Fujimaki sensei yang telah menciptakan Kurobas. Kalau engga ada Fujimaki sensei maka AkaKuro dan karakter Kurobas lainnya engga akan ada:(

Author note:

Please listen Can't Help Falling In Love With You versi Crazy rich asian OST yang Loop 1 Jam (kalau bisa) sambil membaca scene kedua, agar lebih menghayati dan lebih dapet feeling-nya.

- Lacuna -

Should I love you only in my dream?

At a place where you are not at, I secretly say I love you.

Because I'm afraid you might run after hearing it.

I love you without anyone knowing it.

(KWill – Love Is Punishment)

- Lacuna -

Mercedes Benz CLS Class berwarna dark gray terparkir sempurna di depan sebuah bangunan. Sesekali suara sirine ambulans yang memekakkan telinga terdengar, membuat beberapa orang yang berpakain serba putih terburu-buru menghampiri orang yang terbaring lemah di ranjang yang baru saja dikeluarkan dari mobil. Tokyo hospital. Nama tersebut terpampang besar-besar di samping pintu utama.

"Sebentar," suara baritone menghentikan pergerakan Tetsuya untuk membuka pintu mobil. Aquamarine-nya menatap penuh tanda tanya pada sosok disampingnya yang tengah sibuk mengambil sesuatu di kursi penumpang belakang.

"Ambillah."

"Apa...ini?" Tanya Tetsuya bingung ketika melihat paper bag berukuran kecil terjulur di hadapannya. Akashi hanya diam tak menjawab. Ragu-ragu Tetsuya mengambil paper bag tersebut kemudian mengambil benda yang berada di dalamnya. Sebuah kotak berwarna hitam dengan warna emas yang menghiasi pinggiran kotak. Dengan gerakan hati-hati Tetsuya membuka kotak tersebut. Seketika aquamarine-nya membulat tak percaya ketika melihat isi dari kotak tersebut.

"I-ini..."

"Ah, sebelum kau salah paham. Aku akan meluruskan satu hal bahwa dalam sebuah pentas, properti sangat dibutuhkan untuk mendukung jalan cerita."

"M-matte!" Tanpa sadar Tetsuya menarik ujung jas yang dikenakan Akashi. Membuat sosok bersurai merah ruby tersebut menghentikan gerakannya untuk keluar dari mobil.

Akashi tak bersuara. Hanya menatap Tetsuya dengan alis yang saling bertautan, seolah tidak nyaman dengan apa yang baru saja dilakukan Tetsuya, membuat Tetsuya meneguk salivanya. Sejujurnya ia juga tidak tau mengapa ia menghentikan Akashi. Tubuhnya bergerak begitu saja.

Apa yang ia harapkan? Apa Tetsuya berharap bahwa Akashi akan menyematkan cincin ini di jari manisnya? Kemudian mencium keningnya? Pfft. Mimpi.

Dilepasnya ujung jas Akashi, kemudian menggaruk tengkuknya kikuk. "A-ah maaf."

"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan cepat pakai dan keluar dari mobil." kali ini Tetsuya hanya mengangguk dan membiarkan Akashi keluar dari mobil.

Aquamarine Tetsuya kembali menatap benda mungil yang berada dalam kotak hitam tersebut. Sebuah cincin berlapis emas putih dengan desain begitu cantik. Cincin tersebut terukir seperti tangkai bunga dengan dedaunan. Pada sisi samping kiri dan kanan cincin terdapat masing-masing dua buah diamond seolah menggambarkan sebagai bunga yang belum mekar. Bagian terakhir yang membuat cincin tersebut semakin cantik adalah pada bagian tengah terdapat batu permata berwarna sky blue yang entahlah Tetsuya tidak tau nama atau jenis dari permata tersebut, yang jelas permata tersebut seperti diibaratkan sebagai bunga yang telah mekar.

Cantik.

Sungguh desain yang sangat cantik.

Namun apalah arti dari sebuah kecantikan jika tidak ada makna yang berarti dibaliknya. Tidak ada adegan saling menyematkan cincin satu sama lain setelah selesai berikrar untuk sehidup semati. Lupakan perihal itu, bahkan Tetsuya ragu apakah Akashi juga mengenakan cincin yang serupa dengannya atau tidak.

Cincin ini hanyalah properti yang mendukung kepura-puraan mereka, seperti yang dikatakan oleh Akashi tadi. Tapi, di bagian terkecil hati Tetsuya, Tetsuya merasa bahwa cincin ini memang didesain hanya untuk dirinya. Warna permata yang sama dengan warna rambut dan manik matanya. Seolah-olah memang dibuat untuk Tetsuya. Khusus untuk Tetsuya.

Oh ayolah, berhenti mengharapkan hal yang mustahil.

Tok. Tok.

Suara ketukan pada kaca mobil membawa kembali Tetsuya dari pikiran panjangnya. Menyadari di luar mobil Akashi sudah menatapnya sedikit kesal karena Tetsuya tak kunjung keluar. Tetsuya buru-buru memakai cincin tersebut–yang anehnya terasa pas di jari manisnya.

Terlalu sempurna untuk sebuah kebetulan.

"Berhenti membuang waktuku, Tetsuya."

"Maaf." Hanya itu yang bisa Tetsuya ucapkan. Tetsuya lupa bahwa waktu sangat berarti bagi Akashi. Kesibukannya sebagai Direktur utama Akashi corp membuatnya bekerja tak kenal waktu.

Miris. Padahal dahulu Akashi akan meluangkan waktunya kapanpun Tetsuya membutuhkannya. Akashi akan dengan suka rela meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk, hanya untuk bertemu dengan Tetsuya. Bahkan, sering kali Akashi merengek pada Tetsuya untuk membolos bekerja hanya karena ingin menghabiskan waktu dengan si mungil favoritnya. Namun sekarang, kalimat seperti 'jangan membuang waktuku' justru keluar dari mulut orang yang sama yang tidak sudi menghabiskan waktu tanpa Tetsuya.

Akashi hanya menghela nafas kemudian berjalan memasuki rumah sakit mendahului Tetsuya yang mengekor di belakang. Tetsuya tidak dapat memastikan apakah Akashi memakai cincin yang serupa dengannya atau tidak. Karena selama perjalanan sampai berada di depan kamar inap Kouki, Akashi selalu memasuki tangan kirinya di saku celana.

"Oh? Kalian sudah datang?" Kouki tersenyum menyambut kedatangan Akashi dan Tetsuya. Akashi berjalan menghampiri ranjang Kouki dimana sang pemilik nama berada.

"Apa kau menunggu lama?" Tanya Akashi kemudian mencium kening Kouki, membuat sang pemilik rambut caramel tersebut mem-blushing ria. Kikuk tidak tau harus berbuat apa, mengingat status mereka saat ini sudah resmi bercerai.

"Sei, kau tidak perlu melakukan ini. Kita sedang proses bercerai, kau lupa?"

Akashi menggaruk tengkuknya, menyadari kesalahan yang tanpa sadar ia perbuat. "Maaf, kebiasaan agak sulit untuk dihilangkan."

"Hm. Jangan diulangi lagi."

Tetsuya melirik sekilas pemandangan dua orang di hadapannya kemudian kembali menatap lantai putih. Kedua tangannya meremas ujung pakaian yang tengah ia kenakan, menekan segala perasaan sakit hati yang mulai menguasai hatinya. Jika dipikir lucu juga Tetsuya merasakan perasaan sakit hati ini. Mengingat ia bukanlah siapa-siapa di hidup Akashi. Tetsuya hanyalah 'istri kontrak' dan juga pembuat luka di hati Akashi.

Kebiasaan yang sulit hilang, katanya. Haha. Benar, sadar posisimu Tetsuya.

"Tetsuya, sedang apa berdiri di sana? Mendekatlah." Kouki tersenyum ke arah Tetsuya yang masih berdiri di ambang pintu sebentar sebelum kembali menatap Akashi yang berada di sampingnya. "Sei, bisakah memberi kami waktu berdua?"

Akashi melirik sekilas Tetsuya yang sudah berdiri di sampingnya kemudian kembali menatap Kouki. Mengangguk mengerti dan beranjak dari ruangan. Memberikan waktu berdua untuk kakak-beradik tersebut.

"Duduklah Tetsuya." Lagi-lagi Tetsuya mengikuti perintah Kouki. Memposisikan dirinya di kursi yang berada di samping ranjang tidur.

"Bagaimana kondisi, nii-san?" Tetsuya membuka suara. Berusaha untuk menghilangkan suasana canggung yang selama dua tahun kebelakang ini selalu terjalin. Jika dipikir-pikir rasanya sedih sekali, padahal dahulu Kouki dan Tetsuya sangat dekat. Saking dekatnya sampai membuat semua orang tak menyangka bahwa mereka tidak sedarah. Namun sekarang entah kemana kedekatan tersebut pergi.

Kouki tersenyum lembut. "Seperti yang Tetsuya lihat. Tidak ada kemajuan yang berarti. Kondisiku masih sama lemahnya dengan beberapa puluh tahun. Ah, tapi Tetsuya tidak perlu khawatir, pengobatanku ke luar negeri sudah di urus." Tetsuya hanya mengangguk.

"Aku sudah dengar dari Sei terkait pernikahan kalian. Selamat atas pernikahanmu, Tetsuya. Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa hadir ke acara pernikahan kalian."

Tetsuya menggeleng pelan. Tidak ada yang perlu untuk dihadiri, karena pada nyatanya pernikahan itu tidak pernah ada. Tidak ada tamu undangan, tidak ada kehadiran orang tua, tidak ada tepuk tangan atau tangis haru yang mengisi setiap sudut gereja, bahkan tidak ada janji suci yang mengikat mereka. Tidak ada cinta dan kebahagiaan pada hari itu. Semua hanya pentas. Semua hanya kepura-puraan belaka.

"Aku menyuruh Sei membawamu kesini karena aku ingin memberitahumu bahwa Ibu dan ayah belum mengetahui rencana perceraian kami." Kali ini aquamarine Tetsuya menatap Kouki. Menunggu Kouki melanjutkan ceritanya. "Maafkan aku, Tetsuya. Tapi aku tidak tau kapan waktu yang tepat untuk memberi tahu mereka. Tou-san dan—ah maaf, maksudku paman dan bibi juga belum mengetahui hal ini. Mungkin, aku benar-benar akan memberitahu mereka ketika proses perceraian kami benar-benar sudah selesai."

Tetsuya meneguk air liurnya sebelum membuka suara. "A-akashi-kun...?"

"Huh? Ah... Sei membiarkanku untuk menundanya. Ia mengatakan aku bisa memberitahu mereka kapanpun aku siap."

Tetsuya memaklumi bahwa sangat wajar jika Kouki masih belum merelakan Akashi sepenuhnya. Tetsuya sangat tau itu. Tapi mengapa hatinya tetap sakit?

"Tapi kau tenang saja, Tetsuya. Sei tidak akan ikut dalam pengobatanku di luar negeri. Aku sudah memberitahu mereka berempat terkait alasan aku tidak membolehkan Sei ikut, dan mereka menerimanya. Walaupun pada awalnya Paman Masaomi sangat menolak ideku."

"Maaf, mungkin untuk saat ini pernikahan kalian hanya sebatas dihadiri oleh kerabat dekatmu. Setelah aku memberitahu perceraian kami dan keadaan mulai membaik, Tetsuya bisa melangsungkan pernikahan yang sesungguhnya dengan Sei. Jadi, bisakah kau bersabar sedikit lagi? Aku akan memberitahu mereka. Setelah itu, kau bisa memiliki Sei seutuhnya."

Tetsuya hanya mengangguk pelan. Ia hanyalah salah satu boneka dalam pertunjukan Kouki. Sesakit apapun hatinya, ia hanya bisa mengikuti skenario yang diinginkan sang pementas. Dan mungkin, saat waktu yang Kouki maksud tiba, kontrak antara Akashi dan Tetsuya sudah berakhir. Pada akhirnya, Tetsuya tetap tidak bisa memiliki Akashi seutuhnya seperti dulu kala.

Hening. Tetsuya tidak tau harus berbicara apa jadi ia memutuskan untuk tetap menundukkan kepalanya. Sedangkan Kouki hanya tersenyum menatap sang adik yang tengah memainkan benda mungil di jari manisnya. Kouki merasa sedikit lega bahwa Akashi menuruti kemauan egoisnya. Setidaknya, saat ini Kouki sudah mengetahui bahwa mereka benar-benar telah menikah.

"Apa itu cincin pernikahan kalian?" Tetsuya sedikit terkesiap. Tak menyangka bahwa pertanyaan tersebut menjadi pemecah keheningan mereka. Tetsuya hanya mengangguk pelan. "Boleh aku melihatnya?" Lagi-lagi Tetsuya hanya mengangguk. Ragu-ragu memberikan tangan kirinya pada Kouki.

Jari telunjuk Kouki bergerak mengikuti ukiran cincin. "Desain yang cantik," ucapnya dengan seulas senyum yang bagi Tetsuya terlihat sangat sedih. Tetsuya sangat tau, meskipun Kouki memaksanya dan Akashi untuk menikah, namun di dalam hati Kouki nama Akashi akan terus berada di sana. Seperti yang Kouki katakan pada Tetsuya beberapa tahun lalu bahwa Akashi adalah hidup dan cintanya. Sialnya, begitu pula gambaran sosok Akashi di hidup Tetsuya.

Caramel Kouki menatap ukiran cincin yang tersemat di jari manis Tetsuya lekat. "Sungguh cantik. Dibandingkan dengan cincin pernikahan kami..."

"Nii-san...?"

Kouki terkesiap. "A-ah, maaf Tetsuya. Maksudku, apakah Sei memesan cincin ini spesial untukmu?"

"...saa na." Tetsuya hanya tersenyum lemah.

Miris.

Jika saja Kouki mengetahui kebenaran dari benda mungil ini, jika saja Kouki tau bahwa pernikahan yang diinginkannya tidak pernah terjadi, mungkin Kouki tidak akan iri dengan Tetsuya. Mungkin Kouki tidak akan membandingkan cincin pernikahannya dengan cincin pernikahan Tetsuya. Karena seharusnya, Tetsuya yang iri dengan Kouki.

Meskipun pada awalnya pernikahan Akashi dan Kouki terjadi karena permintaan Tetsuya, tetapi setidaknya cincin pernikahan Kouki disematkan oleh Akashi sendiri. Tidak akan pernah terucap kalimat perihal properti dalam sandiwara dari mulut Akashi atau "pernikahan" yang terasa dingin dan hampa. Pernikahan yang tanpa dihadiri keluarga maupun kerabat dekat.

Tetsuya menyeringai samar.

Pernikahan? Pfft. Konyol. Hal tersebut tidak pernah ada.

"Sekali lagi, selamat atas pernikahanmu dan Sei, Tetsuya. Seharusnya aku melakukan hal ini sejak dua tahun yang lalu dan tidak bertindak egois. Semoga ini menjadi keegoisanku yang terakhir."

Benar. Seharusnya sejak dulu seperti ini. Sehingga tidak ada kepura-puraan yang menyakitkan.

- Lacuna -

Sejak belasan menit yang lalu, keheningan menyelimuti perjalanan mereka berdua. Baik Akashi maupun Tetsuya, keduanya tidak ada yang berniat untuk membuka suara. Tetsuya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil. Membiarkan aquamarine-nya menikmati pemandangan yang disajikan selama perjalanan. Entah Akashi mau membawanya kemana, pun jika Tetsuya bertanya, Tetsuya sudah mengetahui respon apa yang akan diberikan oleh Akashi. Akashi hanya akan diam atau menjawab seperti "lihat saja nanti". Jadi diam adalah pilihan terbaik.

Radio menjadi satu-satunya suara bising yang memecah keheningan. Setelah sang penyiar selesai membacakan surat rahasia dari para pendengarnya untuk orang terkasih, suara alunan lagu mulai terputar. Aquamarine Tetsuya sedikit membesar ketika telinganya mendengar intro yang sangat tidak asing untuknya. Tetsuya tau lagu ini, dan Tetsuya yakin Akashi juga mengetahui lagu ini.

Lagu yang tidak asing untuk mereka berdua.

Wise men say, only fools rush in

but I can't help falling in love with you.

Memori masa lalu Tetsuya secara otomatis terputar. Mengenang beberapa tahun lalu saat Akashi masih berada di bangku kuliah. Saat itu, kampus tempat Tetsuya, Akashi, dan Aomine kuliah sedang mengadakan festival tahunan yang biasanya disebut sebagai daigakusai. Setiap departemen menyiapkan event sesuai kesepakatan masing-masing angkatan. Departemen olahraga yang merupakan bidang Aomine mengadakan rumah hantu yang mana menurut Tetsuya sangat tidak menakutkan sama sekali. Yang Tetsuya khawatirkan adalah, dirinya akan terlindas jika saja ia tidak hati-hati mengingat mahasiswa departemen olahraga memiliki proporsi badan yang besar dan juga tinggi dibanding dengan dirinya.

Departemen Tetsuya yaitu departemen Fashion and Design mengadakan fashion show di sore hari. Setiap mahasiswa fashion dan design yang memiliki wajah cantik dan tampan dipilih untuk melakukan catwalk dan Tetsuya termasuk salah satu diantaranya. Well, awalnya Tetsuya yakin dirinya sangat tidak cocok karena ia merasa bahwa ia memiliki wajah yang biasa saja. Tapi menurut saksi mata dari teman-teman fakultasnya, pada saat Tetsuya tampil, semua mata tertuju padanya. Bahkan mereka seperti memakai kalimat yang melebih-lebihkan seperti "kalau bola mata bisa lompat dari tempatnya, mungkin sudah banyak bola mata yang berceceran di area catwalk." yang justru menurut Tetsuya terdengar sangat mengerikan. Oh ayolah, siapa yang ingin melihat bola mata keluar dari tempatnya? Duh, jangan dibayangkan deh.

Sedangkan departemen Bisnis dan Ekonomi yang menjadi bidang Akashi membuat acara butler restaurant yang bertemakan vampire, yang sejak awal mendengarnya saja sudah sangat Tetsuya yakini akan sangat penuh oleh pengunjung, dan benar saja. Jika saja bukan karena Akashi mereservasi tempat untuk Tetsuya dan yang lainnya terlebih dahulu, mungkin sampai festival selesai, mereka tidak akan dapat.

Malam itu, Akashi terlihat sangat tampan dan mempesona dengan full suit serta jubah vampire yang ia kenakan dengan dominasi warna hitam dan merah. Rambut warna ruby-nya ditata sedemikian rupa, menambahkan kesan mempesona pada dirinya. Akashi benar-benar terlihat seperti pangeran vampire yang didambakan oleh sejuta umat termasuk Tetsuya. Kala itu, setiap kali aquamarine-nya bertatap mata dengan mismatched milik Akashi, pipi Tetsuya akan memerah secara otomatis. Ditambah senyum tipis yang dilontarkan Akashi untuk Tetsuya secara tidak langsung pada saat melayani pelanggan yang lain membuat jantung Tetsuya semakin berpacu cepat.

Satu kali, dua kali, tiga kali, bahkan entah sampai berapa kali mereka melakukan kontak mata secara diam-diam. Bahkan sampai Tetsuya tidak dapat mengikuti obrolan Aomine dan Kouki yang kala itu hadir ke festival kampus meskipun Kouki tidak berkuliah akibat kesehatannya yang semakin menurun. Tetsuya bahkan tidak tau apakah makanan yang ia pesan masuk lewat mulut atau lewat lubang hidung. Kepalanya dipenuhi oleh pesona dan ketampanan Akashi Seijuurou. Sampai entah pada tatapan kesekian, Akashi memberikan gerakan bibir yang mampu terbaca dengan baik oleh Tetsuya, tak lupa gesture tangan yang membuat dua jari seperti peace singkat sebelum kembali melayani pelanggan.

Tetsuya berusaha mati-matian menahan senyum senangnya dengan menggigit sumpit yang tengah ia pegang.

Mau pergi? Hanya berdua.

Shall I stay?

Would it be a sin?

If I can't help falling in love with you.

Like a river flows surely to the sea

Darling, so it goes somethings are meant to be.

Masih teringat dengan jelas bagaimana mereka berdua tertawa puas karena berhasil kabur dari Kouki dan Aomine. Akashi terus menggenggam tangan Tetsuya, membawanya pergi menjauh dari vampire butler restaurant yang diadakan oleh departemennya. Menghilang di kerumunan orang yang semakin malam justru semakin padat. Langkah Akashi terhenti di mini concert yang diadakan oleh Departemen Kesenian. Mini konser tersebut hanya disaksikan oleh sedikit orang mengingat pengunjung yang lain tengah bersiap pergi ke main stage untuk menyaksikan pertunjukan musik yang dihadiri oleh beberapa bintang tamu ternama sebagai penutup dari acara festival yang digelar.

Tetsuya mengernyit bingung ketika Akashi membawa Tetsuya untuk duduk di salah satu kursi kosong, namun bukannya ikut duduk bersamanya, Akashi justru mendatangi stage tersebut, berbisik sebentar kepada vocalist yang sedang bertegur sapa oleh pengunjung yang datang. Vocalist tersebut melirik ke arah Tetsuya sekilas sambil tersenyum sebelum mengangguk dan turun dari panggung. Aquamarine Tetsuya membulat tak percaya karena pasalnya Akashi justru naik ke atas panggung. Menyampirkan gitar kemudian duduk dengan microphone di hadapannya. Tersenyum kepada Tetsuya sebelum membiarkan jari jemarinya memetik gitar. Membiarkan alunan musik dari lagu berjudul Can't Help Falling in Love mulai mengalahkan bisingnya suara mengobrol pengunjung.

Tetsuya tidak tau apa yang ia rasakan saat itu ketika Akashi mulai membuka suaranya untuk bernyanyi. Suara tersebut begitu indah dan sangat menenangkan untuk di dengar. Tetsuya tau bahwa Akashi sangat mahir dalam segala hal termasuk alat musik, namun Tetsuya tidak tau bahwa Akashi juga sangat mahir dalam bernyanyi. Sepanjang lagu, mismatched milik Akashi mengunci aquamarine Tetsuya. Pandangannya hanya tertuju pada Tetsuya seorang. Seperti seolah-olah saat ini, hanya ada Tetsuya di muka bumi ini.

"So take my hand, take my whole life too. For I can't help falling in love with you."

Tetsuya tidak menyadari bahwa sedari tadi air matanya jatuh sampai saat suara gemuruh tepuk tangan menjadi tanda selesai sudah performance dadakan dari seorang Akashi Seijuurou. Tak lagi berfokus pada vocalist yang kembali mengambil alih panggung, bola mata Tetsuya terus berfokus kepada Akashi yang berjalan ke arahnya. Dan di bawah sinar lampu led yang menghiasi area mini konser, Tetsuya semakin terisak ketika menyaksikan bibir Akashi bergerak mengucapkan kalimat sakral.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu, Tetsuya.

For I can't help falling in love with you.

- Lacuna -

- To Be Continue -

Uhuk... Halo...? *ngintip di balik laptop* wkwkwk apa sih.

HEY HEY HEY! WOW BEEN A LONG TIME SINCE THE LAST UPDATE OF LACUNA RIGHT?! Gimana kabar kalian? Aku shock banget ternyata aku udah hampir setahun ga update Lacuna dan mungkin bertahun-tahun untuk beberapa fanfictku. I'm so so sorry guys;(

First of all, aku berharap kalian dalam keadaan sehat dan masih setia menunggu kelanjutan cerita ini yang wew aku sejujurnya ngerasa semakin kacau. Tapi semoga kalian menikmati chapter kali ini dan makin penasaran. AND WOW! ONCE AGAIN AKU SHOCK BANGET PAS BUKA WATTPAD FOLLOWERSKU UDAH SATU MILIAR wkwkwk Thank you untuk kalian yang udah follow. Kaget banget udah sampe 114 orang yang follow aku o.O

Aku minta maaf juga karena SUPER SLOW UPDATE karena sibuk banget di real dan nasib mahasiswa semester akhir so yeah, aku punya tanggung jawab buat ngerjain skripsi T.T jadi aku bener-bener fokus kuliah banget. Walaupun skripsiku belom kelar sih sedangkan deadline udh di depan mata *maap jadi curhat*. BUT! REALLY GUYS! MAKASIH BANYAK BANYAK BANYAAAAKK BANGET atas support yang udah kalian kasih ke Mato yang mungkin kalo engga ada kalian, Mato ga bisa nyiptain karya kaya sekarang ini. Mulai dari komen, vote, bahkan ada yang reread, ada yang ninggalin pesan juga di beranda aku, atau diem-diem juga nungguin dengan setia FF-FFku, dan bahkan ngefollow aku, aku bener-bener makasih banget. Aku ga tau ih harus bilang apa lagi selain bilang THANK YOU SO MUCH! HONTOUNI HONTOUNI HONTOUNI ARIGATOOOOO! *bow* *kecup basah kalian*

Semoga kalian suka dengan chapter kali ini. Oh ya, last but not least, di chapter sebelumnya aku bilang mau naikin rate ke M, tapi karena scene terakhir dari chapter ini yang harusnya engga ada, tiba-tiba muncul di otakku jadi aku tunda dulu. Kemungkinan besar akan ada di chapter selanjutnya. Semoga aja beneran terealisasikan dan ga kentang banget rate M-nya wkwkwk. Karena kalo kentang banget harap di maklumi aku hampir ga pernah nulis rate M dan itu bakalan jadi adegan M pertama aku wkwkwk tapi kalo baca sih jangan ditanya ;p but i promise i'll do my best (9^0^)9

Sebenernya banyak banget yang mau aku sampein, tapi jujur! Aku gugup banget mau upload ini chapter. Jadi banyak yang buyar-buyaran;( Oke deh, mungkin sampe sini dulu bebacotannya. Sampai ketemu di FF atau chapter berikutnya guys! Tolong terus support karyaku yaa, dan aku bener-bener sangat terbuka sama kritik dan saran yang membangun. So feel free, buat ngekritik atau ngasih saran untuk semua FFku. Semoga kalian selalu sehat and good luck! KALIAN EMANG YANG TERDEBEST DAH POKOKNYA! I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK DEH POKOKNYA GUYS! Bye bye! Muaahhhh *bow* *poof*

- Matokinite76