"Zoro, kasih ini ke klub tata boga ya. Gue mesti ikut rapat manajer klub habis ini." Suruh gadis berambut oranye di depan Zoro, tangannya menyodorkan secarik kertas yang dilipat rapi.

"Hah?" Zoro mendongak, dahinya berkerut. Dia sudah kesulitan untuk membuat simpul tali sepatu (salahkan talinya yang selalu "bergerak sendiri"), sekarang penyihir di depannya ini memintanya untuk melakukan sesuatu yang merepotkan. Dia baru saja latihan selama 2 jam non-stop, sementara penyihir itu hanya duduk di bangku pinggir lapangan selama waktu itu. Harusnya, waktu duduk cantiknya itu bisa digunakan untuk memberikan kertas ini ke klub tata boga.

"Udah ah, entar gue telat. Nih." Gadis itu bahkan tidak menunggu Zoro untuk menjawab. Lipatan kertas tadi dia masukkan ke saku dada Zoro dan dia pergi begitu saja.

"Oi Nami! Gue gak bilang bakal gue anterin!" Teriak Zoro tidak terima. Dia belum menyetujuinya, jadi boleh saja kan dia tidak melakukannya.

"Kalo itu kertas ngga nyampe klub tata boga, gue gandain bunga utang lo!" Balas Nami dari kejauhan.

Zoro mendengus kesal. Harga dirinya seperti diinjak-injak. Seorang Roronoa Zoro diperbudak oleh sesosok penyihir dengan jampi-jampi bunga utang.

Ia mengambil kertas itu dari sakunya dan membaca isinya. Mau tidak mau dia harus mengantarkannya.

Konsumsi Klub Kendo

XX/XX/20XX

Oh, konsumsi klub ternyata.

Zoro pun berdiri tanpa mengikat tali sepatunya. Dia sudah lelah berusaha mengikatnya, mereka bergerak sendiri terus (menurut Zoro). Daripada membuang waktunya mencoba mengikat sesuatu yang tidak mau diikat, lebih baik dia antarkan kertas ini ke ruang tata boga supaya utangnya tidak dinaikkan sama seorang nenek sihir berambut oranye.

"Hah? Sekolah gue emang ada ruang tata boga?"