Tsukishima Kei cukup memberikan senyum minim tiap kali teman sejak kecilnya menyindir soal kopi dan kantung matanya.

Menyalahkan Kopi

by: Emma

Tsukishima Kei x Hinata Shouyou Takanobu Aone (c) Haikyuu

Saya tidak mengambil keuntungan materi dari pembuatan cerita ini, selamat membaca :)

1.

"Kei, kamu masih bangun?"

"Yep."

"Aku ga bisa tidur."

"Udah selimutan?"

"Udah."

"Tadi mandi ga?"

"Mandi kok."

"Jawabannya kok ragu."

"Soalnya aku laper jadi cepet-cepet."

"Dasar karet wkwk."

"Jangan manyun, jelek."

"Hilih, aku dandan juga kamu ga pernah muji."

"-_-"

"Keii jangan kesel, temenin aku."

"Iya, Hinata Shouyou."

"Good. Kamu lagi apa?"

"Nugas."

"Tugas yang kemarin?"

"Bukan ini buat minggu depan."

"Masih lama Kei, kenapa cepet-cepet?"

"Ya namanya juga mahasiswa teladan."

"DIH APAAN :("

"Wk wk."

"Kei ..."

"Yep."

"Jangan tidur dulu."

"Selo, belum ngantuk."

"Kei ..."

"Yep."

"Kenapa kamu ga nanya alasan aku belum tidur?"

"Pengen ditanya?"

"Engga juga sih. Cuma kamu ga penasaran gitu?"

"G."

"Mau marah."

"Marah aja. Ga didenda kok."

"KEZEL."

"Tidur sana kalo kesel."

"GABISA KEI GABISA TADI AKU MINUM KOPI MAKANNYA INI SEGER BANGET."

"Elah. Tadi diajak minum kopi sama siapa?"

"Mas Aone."

"Tumben."

"Hehehe soalnya tadi aku ditembak Mas Aone :)"

Mata Kei memicing. Kacamatanya diangkat takut salah baca.

"Terus diterima?"

"Iya :)"

"Pajak Jadian."

"Oke, mau roti sarikaya atau martabak telor, Kei?"

"Kopi 10 kaleng."

"Siap bosqu."

Persis di seberang kamarnya Kei, ada kamar Shouyou sebab mereka bertetangga sejak dulu. Siluet dari tirai merah mudanya menunjukkan Shouyou yang merenggangkan tangan ke atas. Gelagatnya kalau sudah low-bat. Kei sengaja melirik jendela dan meminggirkan tirainya. Untung yang pakai kamar ini Kei, kalau cowok mesum, habislah Shouyou diintai tiap hari (kata Kei yang selalu menonton kegiatan Shouyou kalo sempat).

"Udah ngantuk?"

"Eh baru mau bilang."

"Cih yang pengumuman doang."

"Jangan iri Kei, nanti seret jodoh."

"Serah lu."

"HAHAHA, dah Kei. Jangan bagadang lagi, matamu udah hitam haha."

Setelahnya chat dengan Shouyou berhenti. Kei memandang cangkirnya yang kosong dan ia berpikir untuk menyeduh mengambil minum.

Kerongkongannya kembali segar dan dia kembali bergelut dengan tugas. Kei melakukannya bukan karena dia teladan seperti ucapan jemawanya pada Shouyou tadi. Kei hanya mencari kesibukan, karena dia patah hati.

Mas Aone yang menyukai teman masa kecilnya sedang ramai digunjingkan dilingkungan jurusan. Kahim tembok besi akhirnya buka hati. Itu tagar yang ramai dikalangan lambe turah kampus. Yang tidak tahu cuma Mas Aone karena dia tidak terlalu tertarik. Kei juga tidak tertarik jika inisial matahari jurusan planologi tidak disebut-sebut. Karena Shouyou sendiri terkenal sebagai matahari di jurusannya.

Setelah minum segelas, mata Kei melirik ke atas dan memegang leher. Dia baru bertugas belum ada setengah jam tapi rasanya kering. Maka dia turun lagi ke dapur. Saat akan menarik jus dalam kulkas, dilihatnya topeles kopi milik ayahnya. Sebenarnya Kei lebih suka cokelat ketimbang kopi. Tapi hatinya sedang hitam, perasaannya sedang gelap, tadi pun mengatakan ingin 10 kaleng kopi pada Shouyou karena lidahnya terasa pahit ketika gadis itu bilang dia sudah jadian. Otomatis Kei teringat akan kopi yang Shouyou sebut sebagai pelaku susah tidurnya.

Sejak gosip Shouyou dan Mas Aone tersebar, Kei mulai tidak enak tidur. Satu, Kei pernah ditolak sebelum menyatakan perasaannya pada Shouyou. Kedua Mas Aone itu tipenya Shouyou. Cewek itu suka sama yang besar-besar. Kei memang berbadan tinggi tapi dia tidak lebar sementara Shouyou lebih suka yang bulky seperti badannya Mas Aone. Mau memaksakan membentuk tubuh pun, badan Kei tidak kunjung terbentuk. Apalagi setelah Mas Aone terang-terangan, napsu makannya makin minim saja.

Jatuh cinta itu sial sekali kalau kebagian jatuhnya tanpa dapat cinta :( Kei meringis dengan emosi dalam dirinya.

Kei lalu menuang dua sendok teh kopi dan air panas tanpa gula. Dia mengaduk dan meniup-niup cairan pekat yang terasa pahit di rongga hidungnya.

"... jangan bagadang lagi, matamu udah hitam haha."

"Haha katamu, yang bikin hitam itu kamu yang ga bisa aku dapatkan tau."