Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak buat loeybby, Lordofgame, dan kokorocchi yang udah yempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
Karena Sukuna bakalan sibuk sampai pekerjaannya selesai, Gojo, Megumi dan Yuuji pun liburan bertiga saja. Saat ini mereka tengah berada di sebuah taman kota tepi sungai terbesar di kota itu. Tempat itu memang difungsikan untuk tempat wisata, jadi banyak pengunjung di sana. Apalagi karena akhir tahun itu tidak turun banyak salju, jadi banyak orang keluar.
Mereka berjalan santai keliling taman sambil memakan crepes.
"Eh, Sensei, Megumi, foto di tempat itu yuk," Yuuji menunjuk sebuah spot foto yang disediakan pihak wisata. Tempat foto itu berbentuk hati dengan sebuah ayunan di dekatnya, yang talinya diliit oleh sulur-sulur buatan. Pemandangan di belakangnya mengarah ke jembatan besar sungai itu.
Saat mereka berjalan menuju spot itu, Megumi melihat sebuah poster yang terpajang di papan pengumuman taman. Ia berhenti untuk menatap poster itu. "Ini poster tahun baru di kuil yang sedang dikerjakan Sukuna-san bukan sih?" ucapnya setengah bertanya.
Gojo dan Yuuji mendekat. "Waah, iya," balas Gojo. "Jadi poster sudah disebar jauh sebelum tahun baru ya. Astaga, nggak kebayang pressure yang dirasakan Sukuna kayak apa. Gimana kalau projek nya belum selesai padahal poster sudah disebar begini."
"Gaaah, pantas saja Nii-san stress banget kali ini. Dia bahkan pernah masuk bathtub pakai kaos kaki dan hal-hal absurd lainnya," balas Yuuji. Gojo tertawa mendengar itu. Mereka kembali menatap poster di hadapan mereka. Posternya besar sekali, dengan tulisan highlight pesta kembang api berbentuk love. Dan ada keterangan bahwa pasangan yang ciuman saat kembang api love itu diluncurkan, maka hubungan mereka bakalan langgeng.
"Astaga, memangnya ada yang percaya ya sama hal begini," komentar Megumi.
"Ya, siapa tahu kan. Kembang api nya di kuil yang dikeramatkan loh, siapa tahu ada hal magis yang bisa terjadi. Kenapa kalian nggak coba saja," goda Gojo. Ia menyeringai puas melihat wajah Megumi dan Yuuji memerah.
"A-ah, sudahlah. Ayo foto di tempat tadi, sepertinya sudah kosong tuh," Yuuji mengalihkan pembicaraan dan mengajak mereka melanjutkan langkah.
.
~OoooOoooO~
.
Tanggal 29 akhirnya tiba. Gojo menatap layar ponselnya yang hening tanpa kabar. Harusnya hari ini Sukuna sudah selesai kan, dia bilang semua pekerjaan harus beres di tanggal itu karena tanggal 30 sudah akan mulai ditata untuk acara festival. Tapi sampai jam 7 malam Sukuna belum menghubungi sama sekali.
"Sensei," panggil Yuuji dari luar kamar.
"Ya, masuk saja, nggak kukunci," balas Gojo.
Pintu terbuka, Yuuji dan Megumi muncul di sana membawa mahjong. "Dapat dari pihak onsen nih. Main yuk," ucap Yuuji.
"Boleh," Gojo meng iya kan. Mereka pun main mahjong bertiga. Tapi Gojo tak begitu konsentrasi. Sesekali ia melirik ke arah kuil. "Ne~ Yuuji, kau nggak dapat kabar dari Sukuna?" tanya Gojo pada akhirnya.
"Ng…nggak," balas Yuuji. "Tapi dia bilang ini hari terakhir kan, mungkin besok sudah akan ke sini dia."
"Begitu ya," Gojo hanya tersenyum tipis.
Mereka main sampai jam 11 malam. Yuuji mulai mengantuk dan akhirnya mereka menyudahi permainan. Yuuji dan Megumi kembali ke kamar mereka. Gojo kembali menatap ponselnya yang masih tak ada notifikasi masuk dari Sukuna. Karena penasaran, akhirnya ia memakai jaket dan syal, lalu pergi ke kuil.
Mendekati kuil, Gojo melihat banyak mobil berat berlalu lalang mengangkut peralatan pembangunan. Sepertinya benar, mereka sudah selesai dan mulai beberes. Mungkin Sukuna masih harus mengawasi sampai semuanya benar-benar clear. Ia tak melihat Sukuna di tempat biasa ia menjemput, jadi ia memutuskan untuk sedikit berkeliling. Ditambah karena ia yakin ia melihat beberapa penduduk sipil berkeliaran di sana, mungkin sudah mulai survey tempat untuk persiapan festival tahu baru nanti. Jadi sepertinya tak masalah kalau ia juga memasuki arena kuil itu.
Tak lama berkeliling, ia mendengar suara orang mengobrol, dan salah satu suara yang ia dengar adalah Sukuna. Ia pun melangkah mendekat ke sisi lain bangunan dari tempatnya berada. Memang benar, ia melihat Sukuna, dan orang berambut bob putih yang pernah ia lihat sebelumnya, tengah mengobrol dengan beberapa orang yang mungkin dari dinas atau pengurus kuil. Yang jelas orang yang kemungkinan mempekerjakan Sukuna. Mereka sepertinya tengah memastikan kalau semua memang sudah fix untuk acara besok.
Mereka beralih ke sisi bangunan lain, melihat-lihat, dan Sukuna serta orang bersurai bob yang Sukuna panggil dengan nama Uraume, sesekali menjelaskan soal rekonstruksi yang mereka lakukan di sisi itu. Gojo mengikuti mereka dari jarak aman sehingga obrolan mereka tak begitu jelas ia dengar. Setelah berkeliling beberapa lama, akhirnya orang-orang itu pamit pada Sukuna dan Uraume.
"Biar saya antar," ucap Sukuna.
"Tidak perlu, kami hanya ke depan saja," mereka berbasa-basi sebentar lalu menyalami Sukuna dan pergi. Sukuna menghela nafas lelah setelah orang-orang itu tak terlihat lagi, Gojo tertawa kecil melihat itu. Tapi ia lalu bungkam saat melihat apa yang Sukuna lakukan. Sukuna memeluk Uraume—lebih tepatnya menumpukan seluruh berat badannya.
"Gaahh, Sukuna-samaa, saya juga lelah. Tolong hentikan, saya bisa jatuh," omel Uraume. Tapi Sukuna tak bergeming.
"Uruse, aku capek banget sialan. Kenapa juga mereka harus datang di jam segini, kenapa nggak lebih awal. Harusnya kita bisa selesai lebih cepat. Aahh, bangsat banget deh mereka," Sukuna ngedumel tanpa menggerakkan sedikitpun tubuhnya.
"Ugh…iya, saya tahu, tapi minggir dong. Yang capek bukan Anda saja. saya juga—… gyaah…" akhirnya Uraume tumbang. Ia jatuh dengan punggung menyentuh lantai, gila nya Sukuna tetap nempel di tubuh Uraume tanpa bergerak. "Sukuna-samaaa, ayo pulang. Kalau capek ya istirahat. Ayo balik ke penginapan."
"Nggak bisa. Aku nggak bisa gerak sama sekali. Gendong aku."
"Gila! Saya mana kuat. Badan saya juga sakit semua. Sebentar deh saya panggil taxi atau apa, kita naik taxi saja ke penginapan walau dekat."
"Kalau gitu gendong aku sampai taxi."
"Yang benar saja. Sudah saya bilang saya—…" ucapan Uraume terhenti saat seseorang berdiri di sampingnya, lalu menarik lengan Sukuna sampai tubuhnya sedikit terangkat dari tubuh Uraume yang ditindihnya.
"Hng…" Sukuna menoleh sedikit melihat siapa orang itu. "Oh, Satoru. Tepat waktu, gendong aku. Aku capek banget," ucap Sukuna tanpa tenaga. Gojo hanya tersenyum dingin menatap Sukuna. Tapi karena terlalu capek, Sukuna tak peduli akan hal itu. Ia bergerak pelan untuk bangun dari tubuh Uraume, lalu membantunya berdiri. "Ah, tapi Ume juga capek ya. Hei kau bisa gendong dua orang?" Sukuna menatap Gojo sambil menunjuk Uraume.
Kedutan kesal nangkring di pelipis Gojo meski bibirnya masih tersenyum. "Oh, nggak bisa ya. Ya maklum sih, sekuat apapun kau mana mungkin bisa gendong dua orang dewasa. Ya sudah, ayo Ume," Sukuna memapah tubuh Uraume lalu keduanya berjalan sempoyongan bersama. Tapi Sukuna lalu berhenti dan menoleh ke arah Gojo. "Hoi Teme, ayo ikut. Nanti kalau aku sudah antar Ume ke penginapan, kau gendong aku ke onsen, sialan!" omelnya.
Gojo tambah kesal dibuatnya. "Ano sa Sukuna, kau pikir aku—…"
"Huuh, jadi kau ke sini bukan untuk membantu? Cuih! Ya sudah pergi saja sana. Dasar nggak guna."
Habis sudah kesabaran Gojo. Ia menghampiri Sukuna dan mencengkeram kerah bajunya, Uraume terlepas dari papahan Sukuna dan berdiri bersandar ke salah satu tiang kuil.
"Dasar brengsek, padahal aku sudah khawatir dan memang berniat menjemputmu. Tapi kau malah menjengkelkan begini. Menyesal aku sudah khawatir," omel Gojo.
"Duh, apaan sih. Kalau memang berniat menjemput lalu apa salahnya aku minta kau menggendongku. Waktu itu kau juga menggendongku pulang kan. Sekarang bantu aku lagi dong. Pelit amat."
"Ya kalau begitu ayo saja kugendong kau sampai ke onsen."
"Bodoh. Kau nggak lihat apa rekan kerjaku juga capek. Kalau dia pingsan di jalan aku juga yang bakal kena. Makanya aku mau mengantarnya dulu! Habis itu baru kau antar aku ke onsen. Itu juga kalau kau ingin aku menginap di onsen, kalau enggak ya sudah aku balik ke penginapan sama Uraume saja."
"Ano…" Uraume berniat menyela tapi mereka terus saja bertengkar.
"Kan dia bisa suruh teman kerja lainnya menjemput. Dia bilang juga oke naik taxi. Ya sudah kan, biar dia naik taxi saja."
"Tapi dari sini ke daerah tempat taxi bisa masuk itu lumayan jauh. Kuil ini sangat besar. Kau buta ya."
"Makanya kubilang dia bisa suruh teman lain membantunya. Atau ikut mobil besar yang bawa peralatan tuh sampai gerbang depan buat cari taxi! Kan banyak cara lainnya."
"Iya, tapi dia kecapekan sama sepertiku. Kalau dia tumbang sebelum—…"
"ANO! AKU BAIK-BAIK SAJA JADI BISAKAH KALIAN BERHENTI BERTENGKAR!" teriak Uraume supaya keduanya diam. Ia bahkan menggunakan kedua tangannya seperti corong supaya suaranya terdengar lebih keras. Baik Sukuna maupun Gojo menoleh ke arah Uraume.
Uraume menghela nafas lelah. "Aku memang capek, tapi kalau sekedar jalan ke penginapan atau jalan ke gerbang depan cari taxi masih kuat kok," ucapnya. "Dibanding Sukuna-sama, aku masih punya energy karena Sukuna-sama sebagian mengambil alih pekerjaanku biar aku nggak tumbang. Jadi aku baik-baik saja," Uraume menatap Sukuna. "Anda bisa kembali ke penginapan sama teman Anda. Aku baik-baik saja."
"…" Sukuna cuma bungkam. Tapi setelah memastikan kalau Uraume betulan baik-baik saja, akhirnya ia pun mau kembali ke onsen bersama Gojo—dengan digendong oleh Gojo tentunya. Keduanya diam selama perjalanan, masih sedikit kesal masing-masing.
"Ne~" akhirnya Gojo membuka pembicaraan. "Betul apa yang dia ucapkan? Dia bilang kau mengambil alih sebagian pekerjaannya?"
"Hng…" balas Sukuna tak jelas. Ia merebahkan kepalanya di belakang kepala Gojo. "Dibanding mengambil alih pekerjaan, lebih tepat aku tidak membebankan terlalu banyak pekerjaan untuknya," lanjut Sukuna. "Dia pernah masuk RS seminggu gara-gara overworked. Padahal saat aku memberikan pekerjaan padanya dia bilang oke saja, dan dia juga mengerjakannya dengan baik. Kupikir pembagian tugas dengannya juga seimbang, tapi kurasa ketahanan setiap orang berbeda-beda," Sukuna menghela nafas sesaat. "Kurasa aku harus lebih memperhatikan rekan kerjaku. Tidak semuanya memiliki kemampuan dan kapasitas kerja setara denganku."
"…" Gojo tak langsung menjawab. Sekilas kembali terbayang bagaimana tadi Sukuna memeluk Uraume. "Kau…sepertinya sangat perhatian padanya," lirih Gojo yang sayangnya bisa Sukuna dengar karena jarak mereka yang begitu dekat saat ini.
"Ya, tentu saja. Kami sudah bersama sejak kuliah. Dia juga yang berjuang dari 0 denganku selama aku memulai karir ini. Dia bahkan tetap bersamaku saat kami belum dapat banyak job."
Kkrrtt…!
Tanpa sadar cengkeraman Gojo di paha Sukuna mengerat.
"Woi! Sakit bangsat. Badanku lagi pegal semua nih!" omel Sukuna.
Gojo seolah baru sadar apa yang dilakukannya, ia pun mengendorkan cengkeramannya itu. "Iya maaf maaf," ucap Gojo kesal. Mereka kembali diam, Sukuna mulai merebahkan kembali kepalanya di gendongan Gojo. "Ngomong-ngomong…kalau dia temanmu dari kuliah, kok dia memanggilmu dengan panggilan hormat. Cara ngomongnya juga sopan banget."
"Itu gara-gara dulu saat kuliah, anak-anak kampus memanggilku raja iblis, jadi mereka memanggil dengan akhiran '-sama' sebenarnya untuk meledekku. Tapi Uraume jadi kebiasaan sampai sekarang," Sukuna menguap. "Kenapa kau tanya-tanya terus soal Uraume sih. Kau tertarik padanya?"
"Huh! Siapa juga yang tertarik padanya!"
"Tch! Terus ngapain tanya-tanya terus. Nggak ada hubungannya juga kau sama rekan kerja ku."
"…" Gojo hanya diam dengan muka kesal. Tapi tentu saja Sukuna tak bisa melihatnya. Selebihnya mereka tak ngobrol lagi sampai tiba di onsen.
Sebenarnya Gojo masih kesal, tapi ia tahu Sukuna lelah. Jadi ia pun tak tega mau mengajak berdebat lagi. Ia bahkan menyiapkan futon untuk Sukuna dan membiarkan Sukuna langsung tepar di sana tanpa mandi dulu, hanya sekedar mengganti baju nya pakai piyama dari penginapan supaya tubuhnya lebih nyaman dengan pakaian longgar. Gojo menghela nafas panjang melihat Sukuna yang langsung pulas begitu menyentuh bantal. Tak peduli posisinya berantakan dengan piyama yang tak dipakai dengan benar, bagian dada dan paha nya tersibak dengan jelas.
"Dasar sial," gerutu Gojo dengan wajah sedikit memerah sembari menutup tubuh Sukuna dengan selimut.
.
~OoooOoooO~
.
Gojo sih tak keberatan Sukuna langsung shut down begitu menyentuh futon, yang ia herankan adalah Sukuna sama sekali tak bangun sampai keesokan harinya. Gojo sempat membangunkan untuk sarapan, tapi Sukuna hanya menggumam tak jelas dan bergerak beberapa centi, lalu tak ada pergerakan lagi. Saat siang hari, Gojo kembali membangunkannya untuk makan siang, dan respon Sukuna masih sama. Hingga pada sore hari, akhirnya Gojo memaksa Sukuna bangun, menyeretnya dari futon dan memaksa nya duduk.
"Bangun brengsek. Kalau mau tidur lagi ya seenggaknya makan dulu kek, atau minum dulu. Kau itu tidur apa latihan meninggal sih," omel Gojo.
"Hng…mny mn," Sukuna mengguman tak jelas dengan mata berkedip setengah terpejam. Akhirnya ia minum dan makan, itupun sedikit. Setelahnya ia kembali merangkak ke futon dan terlelap.
"Astaga," Gojo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu.
.
~OoooOoooO~
.
Keesokan paginya barulah Sukuna betulan bangun seperti normal nya orang bangun. Ia merenggangkan otot tangannya sambil menguap. Ia menatap pintu kamar mandi yang terbuka dan Gojo keluar dari sana.
"Oh, sudah hidup lagi kau," ucap Gojo.
"Yah, masih pegal sih. Tapi sudah lumayan," ucapnya sambil menggeretakkan leher nya yang pegal.
"Kalau itu sih aku yakin justru karena kau kebanyakan tidur."
"Bodo ah," Sukuna merapikan futon. "Kau mau berendam nggak? Aku belum mencoba pemandian besar nya."
"Geez, kau mandi dulu deh. Sejak kemarin belum mandi. Kasihan orang yang bakal berendam sama kau."
"Gaah, iya deh iyaaa. Padahal aku nggak sebau itu kan," Sukuna mengendus bau badannya sendiri tapi lalu mual. "Hoek. Ya sudahlah aku mandi dulu," ia pun masuk ke kamar mandi sementara Gojo hanya sweatdrop menatapnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Sukuna mengajak Gojo berendam di pemandian utama onsen itu. Mereka keluar kamar, lalu menghampiri kamar sebelah mereka. "Yuuji, Megumi," Sukuna mengetuk. Tak berapa lama pintu kamar terbuka. Yuuji membukakan pintu dengan muka mengantuk. "Mau ikut berendam nggak?" tanya Sukuna.
"Oh, mau mau. Ini dingin, kurasa berendam enak," Yuuji langsung membuka matanya. Ia kembali ke kamar untuk bersiap-siap. "Megumi, ayo bangun. Berendam yok."
Megumi menggeliat dari futon, menatap keluar yang masih agak suram karena langit kelabu makanya suasana seperti masih gelap. Tapi ia menatap jam, sudah jam 6 lebih sedikit. Ia pun bersiap-siap untuk ikut ke pemandian bersama yang lain.
"Hoaaamh," Megumi menguap selama perjalanan ke pemandian utama. "Kau sudah hidup lagi, Sukuna-san."
"Hidup lagi, dikiranya aku mati suri apa," sweatdrop Sukuna.
"Nii-san kalau habis capek kerja emang kayak orang koma," tambah Yuuji.
Saat mereka masuk ke pemandian, tak begitu banyak orang di sana. Mungkin karena masih pagi, atau karena Gojo sengaja memesan untuk tempat yang lebih eksklusif sehingga memang tak banyak tamu yang menggunakan tempat itu.
"Kau sewa berapa harga untuk tempat ini?" tanya Sukuna sambil mereka bilas sebelum masuk pemandian.
Gojo hanya tersenyum tanpa membalas pertanyaan Sukuna. Jadi Sukuna menyimpulkan kalau Gojo memang sengaja memesan paket eksklusif untuk liburan mereka. Sukuna menghela nafas lelah. "Mau patungan lagi nggak, kayak pas di cottage. Biar nggak semua biaya kau yang tanggung," ucap Sukuna.
"Nggak usah. Lagian kau juga cuma sebentar di sini. Aku yang lebih banyak menikmati fasilitas nya."
"Tapi kan Yuuji bersamamu. Biar aku bayar bagian untuk Yuu—…" tapi Gojo sudah bangkit dan berjalan menuju pemandian menyusul Yuuji da Megumi. "Woi—…!" kesal Sukuna. Ia pun buru-buru menyelesaikan bilas dan menyusul yang lain masuk ke pemandian.
Pemandian besar itu setengah outdoor, jadi ada bagian pemandian yang memiliki atap terbuka, ada juga yang masih dinaungi atap onsen. Banyak hiasan batu alam di sana untuk mempercantik pemandangan. Yuuji dan Megumi bermain-main di arena yang terbuka supaya bisa mengambang santai sambil menatap langit luas. Sementara Gojo dan Sukuna lebih memilih berada di tempat yang masih ternaungi atap onsen, mereka bahkan hanya bersandar di tepian untuk merilekskan tubuh.
"Aaah, ini nyaman sekali," ucap Sukuna.
"Yeah," balas Gojo singkat. Membasuh wajahnya dengan air hangat onsen hingga membasuh sampai kepala. Sukuna memutar tubuhnya ke belakang supaya bisa merebahkan kepala dan lengannya ke lantai di atas pemandian. "Astaga, kau masih mau tidur lagi," tawa Gojo.
"Uruse. Badanku masih pegal nih," balas Sukuna tanpa mengangkat kepala nya.
"Setelah ini pijat saja. Ada fasilitasnya loh di onsen ini."
"Iya kah? Ya, mungkin setelah ini aku pijat deh. Capek banget asli," Sukuna memejamkan matanya supaya lebih rileks. Tapi kembali membuka mata saat mendengar suara langkah di lantai karena ia memang rebah di lantai itu. Ia melihat kalau beberapa orang sudah keluar dari pemandian dan pergi dari tempat itu. Ia menatap jam besar di atas pintu masuk pemandian, baru sekitar jam setengah 7 pagi. Ia jadi menyadari sesuatu.
"Oi Satoru. Tadi pagi kau bangun pagi banget. Pas aku bangun kau bahkan sudah keluar dari toilet dan sudah selesai mandi. Ngapain kau bangun sepagi itu?"
"…" Gojo tak menjawab.
"Oi!" Sukuna menoleh kesal karena diacuhkan, tapi langsung bungkam saat melihat wajah Gojo sedikit merona. Sukuna langsung menyeringai melihat itu. "Jangan bilang kau habis memuaskan hasratmu sendirian ya, huh?" goda Sukuna.
"Berisik ah," kesal Gojo tanpa menatap Sukuna.
Sukuna makin ngakak dibuatnya. "Hah, jangan-jangan kau berbuat mesum pada tubuhku juga ya saat aku tidur, huh," kaki Sukuna dengan nakal ia arahkan ke selangkangan Gojo.
"Nggak lah, aku nggak segila itu memperkosa orang yang sedang tidur," kesal Gojo sambil berusaha menyingkirkan kaki Sukuna.
"Terus kenapa nggak coba cari cewek saja? Biasanya di pemandian besar begini pasti menyediakan secara terselubung ya kan," Sukuna menumpukan sikutnya di lantai dan menopang kepalanya dengan satu tangan. "Jangan bilang kau nggak mau kalau bukan denganku ya?" ia terus menggoda Gojo. Kaki nya terus menyentuh penis Gojo, bahkan sekarang menelusup ke balik kain kecil yang melingkar di pinggang Gojo supaya bisa menyentuh penis Gojo secara langsung.
"Ghh…! Kau ini benar-benar brengsek!" Gojo memutar tubuhnya mengurung tubuh Sukuna supaya tak terlihat dari arah Yuuji dan Megumi. Gojo mencium bibir Sukuna dan menggigitnya sedikit keras. "Kau bisa diam nggak? Atau kucium lagi nih," ucap Gojo setengah berbisik menggoda di telinga Sukuna. Tak ada respon dari Sukuna, Gojo pun menjauhkan tubuhnya hanya untuk menyadari kalau bagian bawah tubuh Sukuna sudah tegak. Gojo sweatdrop. "Kenapa malah kau yang ngaceng huh?"
"Urusai," balas Sukuna dan kembali menarik wajah Gojo mendekat.
"Mau kembali ke kamar?" tanya Gojo.
"Yeah," balas Sukuna dan kembali mencium bibir Gojo beberapa lama. Barulah setelah Sukuna melepas ciuman, Gojo menjauhkan tubuhnya.
"Yuuji, Megumi, kami ke kamar duluan ya," ucap Gojo. "Sukuna sudah kepanasan."
"Okaay," balas Yuuji.
Gojo dan Sukuna pun keluar dari pemandian. Dengan tak sabar mereka memakai yukata sekenanya lalu bergegas menuju kamar. Gojo langsung menutup pintu dan mengunci kamar sembari mencium Sukuna. Ia melepas yukata Sukuna yang memang dipakai secara asal, diusapnya pundak Sukuna, lalu punggungnya dan turun ke bokong, meremasnya kuat.
"Mnn…" Sukuna mengerang di sela ciuman, tangannya melingkar di leher Gojo, tapi lalu bergerak untuk melepas yukata yang dikenakannya. Ia menyentuh penis Gojo yang juga sudah tegak, menyatukan dengan miliknya lalu mengocoknya bersama.
"Sukuna…" panggil Satoru, mengalihkan lidahnya ke leher Sukuna, tiba-tiba sebersit ingatan saat Sukuna memeluk Uraume melintas di kepalanya. Tanpa sadar Gojo meggigit leher Sukuna dengan keras.
"Woy!" Sukuna menjambak rambut Gojo dan menarik kepalanya. "Sakit, brengsek."
"Gomen," ujar Gojo singkat lalu kembali mencium Sukuna, menjilat lidahnya. Ia mendorong tubuh Sukuna hingga rebah ke tatami, hanya beralas yukata mereka tanpa menggelar futon. Gojo menaikkan paha Sukuna, lidahnya kembali memanja leher Sukuna, lalu turun ke dada. Tangan Sukuna memeluk kepalanya.
"Umnn…" erang Sukuna yang entah mengapa mengingatkan Gojo pada saat Sukuna memanggil nama Ume. Krrtt…! Lagi, cengkeraman Gojo mengerat, kuku-kukunya menghujam paha Sukuna.
"Oi Teme! Argh…perih, sialan," ia menyingkirkan tangan Gojo. "Kau ini kenapa sih? Sekarang kau jadi suka main kasar atau apa? Fetish baru mu?"
Gojo tak menjawab, hanya merengut kesal. Fakta bahwa Sukuna tak mengetahui kenapa ia marah entah bagaimana membuat Gojo tambah kesal saja. "Ya, fetish baru ku," jawab Gojo lalu kembali mengangkat paha Sukuna dan melakukan penetrasi.
"Ngh…owh, shit!" Sukuna mendongak penuh mearasakan penetrasi Gojo. Tubuhnya bergoncang keras mengikuti gerakan tubuh Gojo. "Ngh…ahh, aahhh," Sukuna mendesah tiap kali Gojo menyentuh sweetspot nya di dalam sana. "Ummnn…ahh, Satoru…ahh…"
Gojo mengerutkan alisnya kesal. Ia mengangkat sedikit tubuh bawah Sukuna, mencengkeram pahanya kuat, lalu melakukan penetrasi dengan brutal.
"Ogh…ahh, Satoru…hei, kita baru—…ahhh, baru mulai. Pelankan sedikit…ahh," Sukuna berusaha menghentikan Gojo, tapi sepertinya tak digubris, Gojo tetap melakukannya dengan tempo cepat. "Satoru…!" Sukuna memegangi penisnya sendiri, menutup ujung penisnya dengan ibu jari, ia nyaris klimaks, padahal mereka belum lama melakukan sex. "Hei, jangan terlalu—…ahh…cepat…"
"Nnh…" tapi Gojo tak menurut. Ia menyodok keras, Sukuna mendesah keras detik berikutnya. Sperma membuncah membasahi tangan Sukuna sendiri. Gojo juga masih bergerak keras, dan tak berapa lama ia menumpahkan sperma di dalam lubang Sukuna.
"Hosh…hosh…" nafas keduanya terengah, mereka berdiam dalam posisi mereka untuk beberapa saat.
"Hei, kau ini kenapa?" tanya Sukuna pada akhirnya.
"Urusai!" kesal Gojo, ia membalik tubuh Sukuna dan kembali menuntun kejantanannya ke pintu lubang Sukuna, tapi sayangnya ia mendengar suara Yuuji dan Megumi dari luar.
"Nii-san, Senseei, kami sudah selesai nih. Sarapan yok. Aku lapar," teriak Yuuji dari luar sambil mengetuk pintu.
Sukuna melirik Gojo yang tampaknya tak ingin buka suara, jadi ia pun mengalah. "Iya, kalian pesan dulu di kamar kalian. Nanti kami menyusul," balas Sukuna.
"Oke," balas Yuuji, lalu terdengar langkah mereka menjauh.
Sukuna menghela nafas lelah lalu menepuk pipi Gojo. "Kita lanjutkan lain kali. Ayo," ajaknya lalu bangkit untuk membersihkan diri mereka.
Sukuna sedikit khawatir Gojo masih akan manyun selama sarapan, tapi sepertinya ia sudah kembali seperti semula begitu ada di hadapan Megumi dan Yuuji. Jadi sepertinya Sukuna tak perlu khawatir Megumi dan Yuuji juga akan merasakan ada yang aneh dengan Gojo. Ia cukup memikirkannya sendiri apa yang membuat Gojo marah. Well, dia sama sekali tak ada clue.
.
.
.
~TBC~
A/N mon maap mau numpang curhad di mari : layar monitor author rusak lagiiiii padahal ini masih termasuk baru T-T pengen nangid. Ini bisa upload karena udah nge-stok chapter T-T astaga, mana commish gambar belom selese, belom bisa dapet bayaran T-T #curcot beneran
Berharap punya sugar daddy kek Sensei biar bisa bayarin service laptop T-T moga aja bisa cepet bener ini. Stok update an fanfic dan buat bikin chapter lanjutan fanfic juga pake ni laptop T-T hueeeeeee #numpang nangid yak
.
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
