Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#makasih banyak buat yg udah nyempetin review ^0^ : kokorocchi dan Lordofgame dibales lewat PM ya~
.
.
HeartBreak Night
.
.
Yuuji dengan bersemangat memakai kimono untuk bersiap-siap pergi ke festival tahun baru. Begitu juga dengan megumi, ia juga memakai kimono. Karena udara dingin, mereka mengenakan kimono lapis tiga, juga memakai syal di leher mereka.
"Wohoo, kau kelihatan bagus pakai kimono itu, Megumi," ucap Yuuji.
"Yeah, kau juga terlihat bagus memakai kimono," Megumi menepuk-nepuk kepala Yuuji.
"Sudah siap nih, Nii-san sama Sensei sudah belum ya?" mereka pergi ke kamar sebelah.
"…masa kau tidak ikut," Gojo tengah mengomel saat Yuuji membuka pintu. Gojo sudah memakai kimono, sementara Sukuna masih memakai pakaian biasa.
"Nii-san, kau kok belum ganti," ucap Yuuji.
"Aku nggak mau ikut. Kalian saja sana," ucapnya sambil menguap.
"Kau ini apa-apaan. Kan tujuan lburan ini buat tahun baruan bareng. Kenapa kau malah nggak ikut," omel Yuuji.
"Tau nih, nggak jelas banget. Padahal sudah dibela-belain ke sini," Gojo menambahi sambil merapikan kimono nya.
"Ya aku tahun baruan di onsen saja!" kesal Sukuna.
"Geez, ikut festival nya kan nggak masalah. Nanti jam 11 kau balik ke onsen deh kalau emang segitu takutnya!" omel Yuuji.
"Hah?" Megumi dan Gojo sama-sama menatap Yuuji.
"Eh?" giliran Yuuji yang cengok. "Kalian belum tahu kah? Nii-san itu takut kembang api."
"…" seketika hening. Gojo dan Megumi sama-sama melongo.
"Aku nggak mau dengar apapun dari orang yang tidur dengan lampu menyala," omel Sukuna dengan tatapan marah pada Gojo.
"Aku nggak bilang apapun!" omel balik Gojo.
"Sudahlah, kalian ini hobby banget berantem deh," Yuuji meghela nafas lelah. "Nii-san cepat siap-siap. Kita ke festival. Nanti mendekati tengah malam kau balik ke onsen biar nggak liat kembang api."
Meski manyun, akhirnya Sukuna pun setuju. Tapi ia keras kepala tak mau memakai kimono, jadi ia pun memakai coat dan syal ke festival itu.
.
Festivalnya sangat ramai. Stall-stall berjajar di kiri kanan jalan, sementara jalanan ramai dipenuhi pengunjung. Lentera-lentera menghiasi bagian atas jalan disertai hiasan lainnya. Benar-benar indah.
"Waahh, aku mau takoyaki," ucap Yuuji.
"Geez, baru masuk festival sudah langsung mau jajan," ucap Megumi.
"Justru jajan dari sekarang, biar bisa mencicipi semuanya."
Mereka pun menikmati festival itu. Makan banyak jajanan, juga main permainan di stall yang disediakan. Yuuji main tangkap koi, tapi ikannya ia berikan pada anak-anak yang ada di situ. Toh akan susah juga kalau dia bawa pulang mengingat perjalanan mereka akan jauh saat kembali ke rumah nanti. Setelah itu mereka main tembak target. Megumi mendapat hadiah boneka harimau seukuran tangan orang dewasa. Megumi berniat memberikannya pada bocah lewat seperti yang Yuuji lakukan dengan ikan koi nya, tapi Yuuji meminta boneka itu.
"Kau suka boneka?" ucap Megumi, mengerutkan sebelah alis.
"Biasa saja. Tapi kan lumayan buat kenang-kenangan. Thehe," cengir Yuuji.
"Mau saingan?" sementara Gojo baru mengambil senapannya karena gantian dengan Megumi dan Yuuji.
Sukuna balas menyeringai. "Siapa takut?" ia memasukkan lima peluru plastic ke dalam senapan, lalu mulai membidik target. Tapi yah, namanya juga stall di festival, pasti penjualnya nggak mau rugi dong, jadi nggak mungkin segampang itu bisa mendapat hadiah. Peluru yang disediakan kecil, ringan pula karena plastic, sementara target nya jauh. Dari lima peluru, Sukuna benar-benar zonk.
"Gaaahhh…!" kesal Sukuna. Yuuji menertawakan kakaknya itu sementara Megumi menepuk pundak Sukuna.
"Aku saja butuh 3 ronde baru dapat boneka itu," ucap Megumi.
"Hahaha lihat aku dong," ucap Gojo songong. Ia membidik target lalu…pop! Menembak. Hebatnya betulan kena di tengah target. Dari lima peluru, ia berhasil mendaratkan 3 peluru di target. Sukuna makin kesal dibuatnya.
"Grrr…kau pasti menggunakan kemampuan mata mu ya?!" ia mencengkeram pundak Gojo dengan satu tangan, satu tangan lagi mau mencolok mata Gojo.
"Gyaaah. Ya pake mata dong. Kalo merem mana bisa lihat, tolol," Gojo mencoba menghentikan jari Sukuna yang berniat mencolok mata nya.
"Heeii sudah sudah," kesal Yuuji.
"Kalian ini kayak anak TK deh!" ucap Megumi, melerai kedua orang itu.
Dari tembak target itu Gojo mendapat sekotak pop corn, sebuah boneka beruang berukuran sedang, dan sebuah topeng kucing mirip topeng Anbu dari serial Naruto. Mereka pun melanjutkan jalan-jalan mereka.
"Ye ye nggak dapat hadiah," goda Gojo, menoel-noelkan hidung boneka nya ke pipi Sukuna.
"Minggir ah!" Kesal Sukuna menyingkirkan tangan Gojo.
"Ahahahha," tawa Gojo sambil makan pop corn. Topeng kucingnya ia pakai di sisi kepala sebelah kiri.
"Sensei, aku mau beli permen apel. Kau mau?" tanya Yuuji.
"Astaga, kau masih ingin makan?" shock Megumi.
"Hei, aku kan belum jajan sebanyak itu. Lagipula ini cuma permen," protes Yuuji.
"Aku mau. Aku juga ingin permen apel," ucap Gojo. "Sukuna, pegangin dong. Aku mau beli permen apel," ia menyerahkan boneka beruangnya pada Sukuna, lalu ke stand permen apel bersama Yuuji dan Megumi.
"Sialan!" omel Sukuna. Ia pun minggir ke tepi jalan menunggu mereka. Banyak orang yang lewat melihat ke arahnya sambil menahan tawa. Bagaimana tidak, penampilan sangar seperti Sukuna dengan tubuh kekar dan wajah penuh tato, memegang sebuah boneka beruang. Sukuna jadi kesal sendiri menatap ke arah Gojo. Mana antrian permen apel nya banyak pula. Sukuna makin kesal dibuatnya.
"Hei, aku kan bisa belikan untukmu, Tou-san," ucap Megumi melihat Sukuna tampak tak nyaman menunggu mereka.
"Pfftt, nggak papa. Biarin tuh, mengerjai Sukuna sesekali," ucap Gojo yang sadar kalau Sukuna jadi perhatian banyak orang lewat.
"Ini sih bukan sesekali lagi. Kau itu hobby banget mengerjai orang," Megumi menghela nafas lelah. Gojo hanya terkikik kecil. Ia terus mengantri untuk permen apel itu sambil sesekali memerhatikan Sukuna dari jauh. Hingga ia terkesiap saat melihat sosok yang ia kenali mendekati Sukuna. Uraume. Ia bersama seseorang bersurai abu-abu kebiruan panjang. Lelaki itu tampak menertawakan Sukuna.
"Bwahahaha Sukuna-sama, apa-apaan boneka beruang itu," tawa nya.
"Uruse, Mahito. Kau kenapa belum pulang sih," kesal Sukuna.
"Dih, sayang dong udah capek-capek bangun kuil, masa nggak menikmati malam tahun baru di sini," ucap orang yang dipanggil Mahito itu.
"Ini kau beli sendiri, Sukuna-sama?" Uraume meraih boneka beruang di tangan Sukuna.
"Enggak, dapet dari stall tembak target tadi," balas Sukuna. Uraume mengelus boneka beruang warna coklat itu, bulunya sangat halus. "Kau suka?" tanya Sukuna.
"Ya, bulunya halus banget. Dan ukurannya juga pas buat dipeluk," ia menyerahkan kembali boneka itu pada Sukuna. "Mungkin saya akan coba main tembak target setelah ini."
"Eeh, kenapa nggak minta yang itu saja? Mendokusai," ucap Mahito.
Sukuna mengerutkan dahi. Boneka itu memang bukan miliknya, tapi ia malas harus pegang-pegang boneka dan diperhatikan banyak orang. Memalukan. "Iya, untukmu saja," ucap Sukuna, menyerahkan boneka itu ke Uraume. Lagipula untuk apa juga Gojo punya boneka beruang. Kalau sekedar kenang-kenangan, topeng yang dipakai Gojo sudah cukup kan.
"Eh? Betulan boleh?" ucap Uraume.
"Iya nggak masalah."
"Memangnya ini milikmu, Sukuna-sama? Kalau kau sendiri yang dapat dari area tembak itu, aku yakin kau sudah membuangnya sih. Mana mau kau bawa-bawa boneka beruang."
Sukuna sweatdrop, Uraume benar-benar paham karakternya. Sementara Mahito tertawa mendengar itu.
"Ah, sudahlah. Buatmu saja! Aku malas bawa-bawa boneka!" kesal Sukuna.
"Tapi—…"
"Sudah, pergi sana nikmati festival," Sukuna mendorong punggung Uraume menjauh. Uraume pun pergi diikuti Mahito yang sempat say bye sambil tertawa.
"Heeh," Sukuna menghela nafas panjang dan melipat tangannya di depan dada. Akhirnya ia tak perlu lagi membawa-bawa boneka beruang itu. "Hng…?" ia menoleh saat seseorang menghampiri. "Oh, Satoru. Sudah selesai beli permen apel—…" ucapan Sukuna terhenti melihat wajah Gojo. Ia tampak marah tapi juga seperti mau menangis.
"Boneka ku mana?" ucapnya.
Gulp…!
Sukuna sweatdrop. "Me-memangnya mau kau apakan boneka seperti itu?! Sejak kapan juga kau suka boneka?" Sukuna malah balas mengomel.
"Tapi itu kan hadiahku! Aku yang menang permainan tembak target itu!"
"Kan masih ada pop corn sama topeng itu di kepalamu! Kalau boneka gampang bisa beli lagi. Di toko manapun juga ada!"
"Tapi aku mau yang itu!"
"Geez, bawel amat sih! Kalau kau segitu suka nya kenapa nggak kau bawa sendiri saja dari tadi!" Sukuna menunjuk dada Gojo.
Gojo tampak marah. "Padahal aku cuma suruh pegang sebent—…"
"Ooke STOP!" Yuuji berdiri di antara keduanya dengan tangan merentang. "Kalian ini nggak bisa ditinggal sebentar saja deh! Masa langsung berantem lag!" omel Yuuji.
"Mattaku, kalian jadi pusat perhatian. Memalukan banget," ucap Megumi. "Tch! Ayo pergi!" Megumi dan Yuuji menyeret keduanya pergi dari tempat itu supaya tak lagi jadi pusat perhatian. Mereka menyusuri jalanan festival dalam diam. Gojo membuang mukanya tak mau menatap Sukuna, begitu juga sebaliknya. Mereka tak saling bicara selama mereka menikmati festival itu.
"Sensei, mau beli permen kapas nggak?" tanya Yuuji saat melihat penjual permen kapas berbentuk character.
"Maauuuu," cengir Gojo. Mereka pun beli permen kapas. Yuuj beli yang berbentuk piyo-piyo, Gojo beli yang berbentuk Kirby. Permen kapas itu sangat besar, bahkan lebih besar dari kepala mereka.
"Megumi, mau nggak? Gede banget nih," Yuuji menghampiri Megumi sambil mencuil permen kapas itu.
"Nyicip deh," Megumi mencuil permen itu dan memakannya. "Rasanya sama saja kayak permen kapas biasa."
"Ya iya lah, kan memang permen kapas," Yuuji sweatdrop.
Gojo menghampiri dengan permen kapas nya. Ia menatap Sukuna, lalu langsung membuang muka. "Hmph!"
"Iya aku nggak bakalan minta juga!" omel Sukuna kesal.
"Hmnph mnghy mnhjk," Gojo menggumam tak jelas sambil memakan permennya.
Yuuji menatap jam di ponsel nya. "Eh, udah setengah 12 loh ternyata," ia kaget sendiri melihat waktu. "Megumi, ke tempat buat nonton kembang api yok, nanti nggak kebagian tempat," ucap Yuuji. Tempat yang dimaksud tentu saja halaman terluas kuil, yang memang diperuntukkan untuk menonton kembang api berbentuk cinta yang digosipkan bisa membuat hubungan sepasang kekasih langgeng jika berciuman saat kembang api itu diluncurkan. Panitia sudah menyediakan tempatnya, se epic itu.
"Tch! Ya sudah, aku kembali ke onsen ya," pamit Sukuna. "Satoru, kunci kamar," ia menengadahkan tangan meminta kunci.
"…" Gojo bungkam.
"Kunci kamar! Kau ngambek jangan segitunya deh!" kesal Sukuna.
"Aku ikut balik saja deh," ucap Gojo pada akhirnya.
"Huh?!"
"Ya aku nonton kembang api sama siapa juga! Masa jomblo sendirian, menyedihkan banget."
"Khh, ya sudah. Ayo ke onsen kalau gitu! Dari sana kembang api nya juga bakal kelihatan kan."
Megumi dan Yuuji sebenarnya sedikit khawatir karena dua orang itu bertengkar terus, tapi pada akhirnya mereka pun membiarkan keduanya pulang bersama, sementara Yuuji dan Megumi ke tempat nonton kembang api.
Sukuna berjalan beberapa langkah di depan Gojo. Ia melirik ke belakang lewat pundaknya, Gojo tampak tertunduk, lalu menghentikan langkah.
"…" Gojo diam lagi.
"Apa lagi sekarag?!" omel Sukuna.
"Tapi aku pengen lihat dari dekat. Kau nggak bisa gitu nonton kembang api di sini. Ya cari tempat lain yang agak jauh gitu, tapi masih di area kuil," ucap Gojo.
"Nggak mau. Kau sendiri juga nggak bakal mau tidur dengan lampu mati kan," protes Sukuna.
"Tapi kalau ada temannya kan aku ok saja mematikan lampu. Kau masa nggak bisa menonton kembang api kalau ditemenin!"
"Ada yang menemani pun nggak bakal ada yang mencegah kalau aku bakal kejatuhan api nya kan!"
"Huh? Kejatuhan api? Mana ada!"
"Nyatanya dulu aku pernah hampir kejatuhan sisa api yang turun setelah kembang apinya meledak. Hampir saja kena mata ku dan membuatku buta."
"Huh?" Gojo mendekat, memerkatikan mata Sukuna. "Seriusan? Terus kena di bagian mana?"
Sukuna mengetuk bagian bawah mata nya yang ditutup tattoo bentuk mata. "Dulu bengkak terus diplester selama seminggu lebih. Kalau aku nggak reflex menghindar, malah mataku yang bakal kena dan aku akan buta sebelah."
Gojo semakin mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas. Ia memegang wajah Sukuna, lalu mengusap pelan tattoo mata di bawah mata kiri Sukuna. Kalau diperhatikan lebih jelas memang ada bekas luka bakar di sana. Tapi tidak terlihat jelas karena sudah ditimpa tattoo.
"Ah, hontou da," ucap Gojo. "Aku baru tahu bisa kejatuhan bara sisa kembang api. Normalnya kan semua terbakar di atas."
"Yeah, mungkin aku sedang sial saja."
"Hee, jadi sejak itu kau jadi takut kembang api?"
"Yeah. Setidaknya aku tak mau lihat dari jarak dekat. Kalau dari kejauhan masih ok."
Keduanya diam sesaat tapi lalu kaget sendiri saat menyadari jarak mereka sangat dekat. Gojo segera melepaskan tangannya dari wajah Sukuna lalu menjauhkan diri. Sukuna juga langsung membalikkan badan.
"Sudah ah, ayo balik ke onsen," omel Sukuna lagi. Mereka kembali melewati jalanan festival, tapi tak berapa jauh mereka berjalan, mereka terjebak di antara kerumunan karena banyak sekali pengunjung yang berbondong-bondong mau menuju tempat kembang api. "Gaahh, sial, nggak bisa lewat!" kesal Sukuna.
Jalanan benar-benar padat, bahkan mungkin di area kembang api sudah membeludak, dan kemungkinan jalanan tetap akan padat sampai peluncuran kembang api. Suara MC juga sudah terdengar memandu acara penghitungan mundur menuju waktu pergantian tahun. Sukuna mulai panik.
"Hei, tapi ini kan jauh dari tempat peluncuran utama nya," ucap Gojo. Ia berusaha mendekat untuk melindungi Sukuna dari desakan pengunjung lain, soalnya Gojo lebih tinggi dari kebanyakan pengunjung. "Memangnya kau nggak bisa nonton kembang api di jarak ini? Nggak bakal ada bara api yang jatuh ke sini juga."
"Ugh…!" Sukuna terdesak pengunjung lain sehingga bersandar di dada Gojo. "Kau buta apa? Nggak lihat sekelilingmu?"
"Huh? Apa?" Gojo melihat sekeliling dan baru menyadari sesuatu. Berderet di sepanjang tepi jalan, ada tiang-tiang cukup tinggi dengan tempat seperti corong di bagian atasnya. "Masaka—…" ucapnya tak percaya.
"Yeah, aku yang merancang kuil ini jadi aku tahu. Mereka meminta tempat peluncuran kembang api juga ada di sepanjang jalan," ucap Sukuna. "Tiang-tiang itu untuk tempat kembang api. Tapi kembang api air mancur sih bukan kembang api yang meluncur ke angkasa."
Gojo memerhatikan tiang-tiang itu. Cukup tinggi, jadi kalau normal sih, mau peluncuran kembang api jenis apapun, bara nya tidak akan mungkin sampai mengenai kepala pengunjung. Tapi kan Sukuna punya phobia karena ketidakmungkinan itu pernah terjadi, jelas Sukuna tetap tak akan nyaman berada di tempat itu.
"Ugh, ya sudah. Ayo coba bergerak, siapa tahu kita bisa bebas dari sini," dengan setengah memeluk Sukuna, Gojo berusaha menerobos kerumunan. Sayangnya sulit sekali. Karena jalanan benar-benar padat. Hingga akhirnya lampu-lampu mulai dimatikan karena penghitungan mundur akan segera dimulai. "Sial," umpat Gojo. Ia melirik Sukuna, wajahya sudah pucat. Bisa Gojo rasakan tubuh Sukuna sedikit gemetar. Dengan panik Gojo melihat sekeliling. Ia melihat barisan stall di sisi kiri yang belakangnya adalah stall dan jalanan lain festival, dari celah ia bisa melihat kalau jalanan sebelah juga sama padatnya. Ia melihat jajaran stall di sisi kanan, bagian belakangnya adalah kebun yang penuh pepohonan besar, sepertinya letak tanahnya sedikit menurun dari deretan stall di sana. Untuk menuju tempat itu, ada celah antar stall yang sepertinya adalah jalan menuju tangga turun, hanya saja jaraknya masih beberapa meter dari tempat Gojo dan Sukuna berada.
Penghitungan mundur dimulai. Gojo mencengkeram erat tubuh Sukuna, lalu menerobos paksa menuju tempat itu. "Permisi, permisi," ucapnya, tapi tetap saja ia kenal omel dan mendapat tatapan kesal dari orang-orang yang harus terdorong olehnya. Tepat saat penghitungan mundur menjadi 0, Gojo mencapai tempat itu. Syukurlah tebakannya benar. Celah antar stall itu memang menuju jalan kecil yang sekitar 2-3 meter didepannya adalah tangga turun menuju kebun.
Gojo meneguk ludah berat. Kebun di hadapannya sangat gelap, tak ada penerangan sama sekali. Ditambah semua lampu juga dimatikan demi peluncuran kembang api. Ia sedikit takut untuk menuju tempat itu. Tapi syukurlah, saat hitung mundur menjadi 0, kembang api diluncurkan, dan kembang api air mancur di tepian jalan juga menyala. Suasana menjadi terang karena itu. Pengunjung bersorak, Gojo membawa Sukuna menuruni tangga menuju kebun, lalu berjalan agak jauh dari tepian jalan, sekiranya bara dari kembang api air mancur itu benar-benar tak mungkin menyentuh mereka.
Ia bersandar di sebuah pohon besar sambil memeluk Sukuna. Ia menghela nafas lelah. Rasanya capek sekali seolah baru selesai lari marathon. Ia melirik Sukuna yang menyembunyikan wajah di dadanya, jemari Sukuna mencengkeram dada Gojo erat, tubuhnya bergetar halus. Gojo mengalihkan pandangan pada kembang api yang diluncurkan. Terlihat indah sekali. Meski sebagian terhalang pepohonan, ia masih bisa menikmati keindahannya. Suara keramaian pengunjung mengisi keheningan di antara mereka.
"…gatou…" lirih Sukuna.
"Hng?"
"Arigatou."
"…" Gojo tercengang lalu nyengir. Ia menepuk-nepuk kepala Sukuna dengan jahil. "Nggak nyangka saja yang Mulia Ryoumen Sukuna-sama takut pada kembang api," goda Gojo.
"Urusai! Kau sendiri takut gelap. Kayak anak TK," omel Sukuna meski masih bersembunyi di pelukan Gojo.
"Apanya yang anak TK, dasar ossan!" omel balik Gojo. "Yang sekarang gemetar ketakutan kayak anak TK kan kau!"
"Aku nggak gemetar ketakutan!" Sukuna mengangkat wajahnya. "Kau yang memaksa memelukku!"
Twitch!
Kedutan kesal muncul di pelipis Gojo. Ia menyentuh pipi Sukuna, menekannya sampai bibirnya monyong seperti ikan koi. "Kau itu nggak tahu kapan harus nggak menyebalkan ya?"
"Khuu khyung mnyfbulkun," ucap Sukuna.
Gojo mencium bibir Sukuna sesaat supaya diam, tapi masih menjaga jarak wajah mereka cukup dekat. "Masih mau mengomel lagi?" ucap Gojo setengah berbisik.
"Ukhushai," dan Sukuna menarik leher Gojo, kembali menyatukan bibir mereka.
"Mnn…mn," Gojo menikmati ciuman mereka. Samar lewat matanya yang sedikit tertunduk karena tengah berciuman, ia bisa melihat kembang api berbentuk love tengah diluncurkan. Sepertinya itu kembang api puncak. Mungkin saat ini Yuuji dan Megumi tengah berciuman seperti pasangan lain yang melihat kembang api itu, seperti juga dirinya dan Sukuna. Gojo memejamkan mata, ia meremas belakang kepala Sukuna untuk memperdalam ciuman. Lidahnya menginvasi rongga basah Sukuna, menaut lidahnya yang hangat dan basah.
Mereka berciuman untuk waktu yang lama, hingga mereka melepas ciuman dengan nafas tersengal, saliva membasahi bibir mereka, menyisakan benang tipis saat bibir keduanya terlepas. Mereka saling menatap mata masing-masing. Perlahan, tanpa perlu kata, wajah mereka kembali mendekat dan bibir mereka kembali bertaut.
"Hn…" Sukuna mengerang, ia mendesak tubuhnya ke arah Gojo, menggesekkan selangkangan mereka. Ia merinding merasakan sensasi nikmat saat selangkangan mereka saling menyentuh. Tangan Sukuna bergerak untuk menyibak kimono Gojo, meremas selangkangan Gojo di balik boxer.
"Baka, kau pikir kita di mana," ucap Gojo dengan nafas tersengah.
"Aku ingin," ucap Sukuna dengan nada tertahan, ia menggigit lidah Gojo, menjilatnya, menciuminya. Tangannya menyusup masuk ke balik kimono Gojo, mengusap-usap dadanya, lalu meremas dada berotot itu.
"Ngh…" Gojo menjilati telinga Sukuna, tangannya menelusup masuk ke balik celana Sukuna, meremas bokongnya dengan kuat. "Ugh…coba tadi kau pakai kimono juga," ucap Gojo. Ujung jarinya mengusap lubang Sukuna, memainkannya sebelum menerobos masuk.
"Ngh…ahh," Sukuna semakin memepet tubuhnya ke arah Gojo merasakan lubangnya dimasuki. Ia menarik turun sletting celananya sendiri, menarik keluar penisnya yang sudah ereksi. Ia juga menarik penis Gojo dari balik boxer, lalu menyatukan keduanya untuk ia kocok bersama. "Ngh…ahhh, Satoru…nnh," ia mendesah tertahan. "Lebih dalam, masukkan jarimu ahh…lebih dalam."
"Hnn…" Gojo menurut. Ia memasukkan jemarinya hingga ke pangkal, lalu bergerak liar di dalam lubang Sukuna. Ia sempat menyadari kalau suasana perlahan berubah gelap, mungkin peluncuran kembang api sudah berakhir, tapi Gojo tak begitu peduli saat ini. Yang ia tahu ia merasakan kenikmatan dari apa yang tengah dilakukannya dengan Sukuna. "Sukuna, aku ingin masuk. Ahh…nn…" ucap Gojo.
"Ya, hnn…masuklah," Sukuna melepaskan tangannya. Ia berganti posisi menunduk dan berpegangan ke pohon. Ia sempat melirik ke arah jalanan. Lampu-lampu mulai dinyalakan kembali dan para pengunjung berbondong-bondong meninggalkan tempat itu. Mungkin Yuuji dan Megumi juga akan segera—… "Aahhh…" lamunan Sukuna buyar saat ia merasakan penis Gojo memasuki lubangnya. "Hngh…" ia melirik Gojo lewat pundaknya, pria itu tampak menikmati penetrasinya. "Nnh…ahh…ahh," Sukuna mendesah saat Gojo mulai bergerak cepat. Pinggang Sukuna dicengkeram oleh Gojo supaya bisa lebih stabil memasuki Sukuna.
"Ogh…shit…! Ahh…" Sukuna mendesah. Ia merasa ia bisa klimaks detik itu juga, tapi ia menahan diri. Ia masih ingin menikmati Gojo menyentuh sweetspot nya.
"Hn…Sukuna…ahh, nn…" Gojo mengusap bokong Sukuna, ia menarik kedua belah bokong Sukuna ke samping, melihat tempat dimana ia terhubung dengan Sukuna dengan lebih jelas. Lubang Sukuna terlihat sangat sexy saat ia memasuki tempat itu dengan penis nya. "Hngh…ahh, Sukuna…" ibu jari Gojo mengusap tepian lubang Sukuna, ia bisa rasakan lubang Sukuna mencengkeram lebih erat di dalam sana. "Sshh…ahh. Sukuna…"
"Ngh…Satoru…aku mau ahh… keluar…" ucap Sukuna.
"Hnn…mn," satu tangan Gojo beralih menyentuh penis Sukuna, mengocoknya cepat.
"Ssshh…mnn, ahh…Sato—…ru…aahhh," Sukuna klimaks. Sperma nya menyembur hingga ke pohon tempat ia berpegangan. Nafas Sukuna terengah.
"Hn…tunggu sebentar Sukuna. Aku belum klimaks," Gojo menarik tubuh Sukuna, memeluknya miring. Gojo menaikkan satu kaki Sukuna tinggi-tinggi, membuat Sukuna berpegangan ke pohon dengan satu tangan. Gojo menarik kepala Sukuna dan menolehkannya, mengajaknya berciuman. Ia kembali bergerak keluar masuk di lubang Sukuna. Hasratnya sudah di ujung. Ia tak melepas ciuman meski ia merasa sudah hampir klimaks. Tangan Gojo yang memeluk tubuh Sukuna memilin nipple pria itu. "Hngh…ahhh, nnnhh…" Gojo memilin nipple Sukuna sangat kuat saat akhirnya ia klimaks. Bisa ia lihat Sukuna juga kembali orgasme, sperma muncrat dari ujung kejantanannya.
"Hnghh…ahh…" Gojo masih bergerak pelan menuntaskan orgasme, cairan sperma mengalir turun dari lubang Sukuna.
Nafas mereka terengah. Gojo duduk bersandar ke pohon dengan memangku Sukuna, penisnya masih berada di lubang Sukuna. Udara dingin tak lagi mereka rasakan akibat aktivitas yang mereka lakukan. Sukuna menyandarkan tubuhnya yang lelah ke dada Gojo. Ia bergerak untuk menyamankan posisinya, tapi justru memberi rangsangan pada penis Gojo yang masih di lubangnya.
"Hngh…" Gojo memeluk Sukuna, memilin nipple nya. Penis Gojo jembali ereksi, ia mulai bergerak naik turun, memaksa Sukuna bergerak. "Mnhh…gomen, aku masih ingin," Gojo menjilati leher Sukuna.
"Yeah," balas Sukuna. Ia mulai bergerak naik turun dibantu Gojo, ia juga mulai ereksi kembali. "Sshh…ahh," Sukuna menyentuh penis Gojo yang tengah keluar masuk lubangnya, licin karena sperma miliknya sendiri. "Satoru…ahh, nnh, lebih cepat."
"Hng…ya, nnh," Gojo mempercepat gerakannya seiring gerakan Sukuna. Tangannya kembali memanja penis Sukuna. "Nghh…ahh, keluar—…ahh, mnn…" Gojo klimaks kembali, beberapa detik kemudian Sukuna juga klimaks, membanjiri tangan Gojo dengan sperma.
Nafas Gojo terengah, tapi ia meraih wajah Sukuna lalu kembali mengajak ciuman untuk waktu yang cukup lama. Setelah menormalkan nafas, mereka mulai merapikan pakaian mereka.
"…" Sukuna melirik Gojo sembari mengancingkan kemeja nya. "Warui," ucapnya tapi lalu membuang pendangan.
"Huh?" tanya Gojo, masih merapikan kimono nya.
"Boneka mu," ucap Sukuna. "Lain kali kubelikan deh. Mau yang seperti apa? Atau mau yang super besar? Yang lebih besar dari tubuhmu?"
Gojo merengut. "Yang kupermasalahkan bukan boneka nya!" kesal Gojo.
"Huh? Apa maksudmu? Bukannya tadi kau marah-marah karena bonekamu kuberikan pada Uraume?"
"Ya makanya kan. Yang kupermasalahkan bukan boneka nya. Tapi kenapa kau memberikan boneka itu pada Uraume!"
"Huh?!" Sukuna menatap makin bingung.
Gojo tambah kesal saja menatap muka tolol Sukuna. "Yang aku nggak suka itu! Kau! Memberikannya! Untuk! Uraume!" Gojo mengeja tiap kata yang ia ucap.
Sukuna masih bengong, seolah memproses ucapan Gojo. "Kau nggak suka Uraume?" akhirnya ia menyimpulkan. "Kemarin kau menanyakan soal dia terus, kupikir kau tertarik padanya. Dan sekarang kau bilang benci pada Uraume? Jadi yang mana?"
Kreekk!
Gojo makin kesal dibuatnya, sementara Sukuna makin bingung.
"Ditambah, kau dan Uraume kan nggak saling kenal. Kenapa bisa kau punya masalah dengannya?" lanjut Sukuna.
"Heeeehhhh aku nggak tau ternyata kau bisa setolol ini!" kesal Gojo.
"HUH! Siapa yang kau bilang to—…hsghfsak!" ucapan Sukuna terhenti karena Gojo kembali menekan pipiya dengan kedua tangan.
"Yang aku nggak suka itu, kau dekat banget sama Uraume. Kau bahkan kemarin memeluknya. Dan sekarang kau memberikan boneka ku untuknya!"
"…" Sukuna bengong meski Gojo sudah mengendorkan tangannya di pipi Sukuna. "Ya…dia kan rekan kerjaku…jadi…kami dekat…" ucap Sukuna ragu karena masih setengah bingung kenapa Gojo marah. Hingga akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud Gojo. Sukuna terbelalak dan wajahnya memerah total. "K-…kau…cemburu…?" tanya Sukuna.
Gojo tak menjawab, hanya mengalihkan tatapan mata dengan wajah yang juga memerah. Sukuna jawdrop, ia tak bisa berkata-kata beberapa lama, hanya mulutnya yang membentuk aa ee aa oo tapi tak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Katakan sesuatu dong!" omel Gojo. Tapi jutsru hening di antara mereka, wajah mereka sama-sama berasap untuk beberapa detik.
"Po-pokoknya dia hanya rekan kerjaku. Kami nggak ada hubungan apa-apa!" omel Sukuna kemudian, masih dengan wajah memerah.
"Aku tahu! Tapi aku nggak suka kau peluk-peluk dia! Mana sekarang ngasih boneka juga!" balas Gojo, sama kikuknya.
"Y-ya, waktu itu aku kan hanya kelelahan dan hampir pingsan. Aku bukan memeluknya, tapi bersandar padanya. Dan tadi aku memberikan boneka itu karena aku malas pegang boneka dan diperhatikan orang-orang!"
"Hmph!" Gojo manyun dan membuang muka.
Sukuna sweatdrop. "Iya aku minta maaf. Berhentilah merengek brengsek!"
"Hmph!"
"Satoruuu…!"
Gojo melirik ke arah Sukuna meski masih membuang muka. "Cium," ucap Gojo.
"Huh?"
"Kubilang cium! Kau mau kumaafkan kan. Cium aku!"
Wajah Sukuna kembali memerah. "Nggak ah, tadi kan sudah!"
"Kenapa jadi keras kepala sekali sih. Biasanya kau juga minta ciuman gampang saja. Kenapa sekarang menolak!"
"Urk…!" Sukuna speechless. Iya ya, padahal biasanya juga dia minta ciuman, kenapa sekarang jadi canggung begini. "Iya deh!" kesal Sukuna. Gojo memejamkan mata, Sukuna meraih wajahnya, lalu perlahan mengeliminasi jarak. Perlahan Sukuna bisa merasakan hangat nafas Gojo, dan entah kenapa jantungnya berdegup begitu kencang. Saking kencangnya ia rasa ia bisa mendengar suara jantung itu.
"Sukuna…" panggil Gojo. Ia membuka mata. "Rasanya aku bisa mendengar debar jantung keras sekali."
Sontak Sukuna langsung menjauhkan wajahnya yang kembali semerah tomat. "Satoru Baaka! Aho! Teme!" omel Sukuna memundurkan langkah. "Bodo ah! Dasar sial! Brengsek kau! Shine!" omelnya sambil melangkah pergi.
"H-Huh?!" Gojo bingung sendiri. "Apa dia bisa mendengar suara debaran jantungku ya? Ah, memalukan sekali," Gojo pundung sendiri, memeluk lutut untuk menyembunyikan wajahnya yang seperti kepiting rebus. "Kusoo…! Kalau begini sih, bisa-bisa malah aku duluan yang jatuh cinta padanya."
Sukuna masih bersungut-sungut sambil menuju jalanan festival dengan langkah yang dihentak-hentakkan. "Satoru baka! Baakkkkaa!" gerutu nya sepanjang jalan. Saat menaiki tangga naik terakhir, ia menghentikan langkah. Ia melihat suasana sudah gelap, kebanyakan stand sudah beberes dan mematikan lampu. Ia merasa ia melupakan sesuatu. Hingga saat Sukuna ingat apa itu, ia langsung cengok dan memutar balik langkah.
"Satoru—…!"
.
Sementara di tempat tadi, Gojo akhirnya sedikit tenang. Wajahnya sudah tak memerah lagi. Ia melepaskan tangannya dari memeluk lutut, ia menatap sekeliling. Gelap. Gelap total. Di kejauhan ia melihat cahaya stall sudah tak seterang sebelumnya. Lampu-lampu kuil juga terlihat sangat jauh karena memang jaraknya lumayan dari tempat ia berada.
"Sukuna…" panggilnya dengan suara bergetar, ia melihat sekeliling. Hanya ada kegelapan. Ia bahkan tak berani bergerak untuk segera berlari ke tempat yang masih ada cahaya.
"Satoruuu…!" panggil Sukuna sembari berlari mendekat. Saking panikya ia bahkan lupa cara menyalakan flash HP. Beberapa kali ia salah tekan sebelum akhirnya berhasil menyalakan flash. Ia bergegas kembali ke tempat Gojo berada. Dan saat ia tiba, ia menyorotkan flash itu ke arah Gojo. Terlihat Gojo duduk di bawah pohon dengan tangan memeluk lutut, wajahnya sudah mau menangis.
"Sukuna…" panggilnya dengan nada bergetar. Matanya berkaca-kaca.
Gyuuu…!
Sukuna ingin menampar dirinya sendiri saat malah sekilas ia menganggap bahwa itu imut, rasanya ingin ia ambil karung dan memasukkan Gojo ke sana. Tapi Sukuna segera menggeleng keras untuk kembali ke dunia nyata.
"Gomen gomen, aku hampir lupa," Sukuna bergegas meraih tubuh Gojo dan menggandengnya pergi.
"Hueeee…" Gojo merengek selama perjalanan.
"Iya iya maafkan aku," Sukuna jadi merasa bersalah.
.
Setiba di penginapan, Yuuji dan Megumi sudah menunggu di depan pintu kamar dengan tatapan marah dan tangan bertolak ke pinggang. Apalagi saat melihat Sukuna menggandeng Gojo yang mingsek-mingsek di belakangnya.
"Nii-saaannn," geram Yuuji penuh amarah.
Sukuna sweatdrop. "A-aku minta maaf…" ucap Sukuna.
"Hiks…Yuuji…uhuhuhu…Sukuna, hiks…meninggalkanku di hutan yang gelap," ucap Gojo. "Padahal aku sudah membantu membawanya menjauh dari kembang api. Hueee…"
"NIII-SAAANNNNN!" omel Yuuji dan menarik Gojo ke sisi nya, memeluknya. "Kau ini keterlaluan banget deh! Kau kan tahu Sensei takut gelap! Mau bercanda atau apapun, ini keterlaluan!"
Megumi juga lalu meraih lengan Gojo dan menuntunnya menuju kamar. "Malam ini kau tidur bersamaku saja," ucapnya sambil melirik tajam Sukuna.
"Khh! Dasar Nii-san bodoh!" omel Yuuji sebagai penutup malam itu.
.
.
.
~TBC~
Support me on Trakteer : Noisseggra
