Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak buat kokorocchi and Lordofgame yang udah yempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Setelah liburan tahun baru itu, mereka pun pulang. Gojo pulang bersama Yuuji dan Megumi, sementara Sukuna harus pulang bersama para rekan kerjanya karena dia harus memberesi barang-barang terlebih dahulu.

Musim ujian dimulai bagi Yuuji dan Megumi setelahnya. Saat ini Sukuna tengah berada di café bersama Uraume untuk membicarakan pekerjaan karena ruang kerja Sukuna belum diberesi sejak kekacauan pekerjaan sebelumnya, dan kalau membicarakan di ruang tamu, ia takut akan mengganggu Yuuji yang tengah serius belajar.

Sukuna menyedot minumannya sambil mendengarkan Uraume berbicara. Mereka duduk di bangku panjang yang menghadap ke dinding kaca sebuah café.

"Hng…ambil yang ini saja deh. Aku masih lelah gara-gara projek kemarin," ucap Sukuna, menunjuk salah satu tawaran proyek di tab Uraume.

"Hng, tapi ini kan bisa selesai cepat. Nggak mau ambil yang lain lagi kah?" tanya Uraume. "Kalau Anda masih lelah, Anda bisa mengerjakan bagian utama nya saja. Biar saya dan yang lain mengerjakan sisanya."

Sukuna menggigit-gigit sedotan di mulutnya. "Aku juga ingin bisa free bulan April nanti. Kalau sekarang ambil lebih dari 1 projek, aku takutya keteteran dan susah cari waktu April nanti."

"Oh, begitu," Uraume meng iya kan lalu memainkan tab nya. "Memangnya ada apa bulan April nanti?"

"Kelulusannya Yuuji dan Megumi."

"Ah, benar juga. Itu sih beneran nggak bisa diskip ya," Uraume meletakkan tab nya. "Aku sudah menerima job yang tadi Anda maksud. Sisa nya saya tolak. Tapi saya juga menambahkan kalau ada yang mau menunggu kita kosong bisa menghubungi lagi nanti."

"Ya, tidak masalah," Sukuna mengusap ke belakang rambutnya yang turun ke dahi. "Hng…?" ia menoleh dan sweatdrop saat menyadari Uraume tampak terpesona menatapnya. Tapi begitu tahu Sukuna menoleh, Uraume langsung membuang muka seolah barusan tak terjadi apa-apa.

'Tunggu, apa Uraume betulan menyukaiku? Makanya Satoru bisa merasakan itu dan jadi cemburu?' pikir Sukuna panik sendiri.

"Sukuna-sama?" sweatdrop Uraume saat tanpa sadar Sukuna sudah menjauhkan diri dari Uraume.

Sukuna juga jadi bingung sendiri. Sepertinya tubuhnya bergerak spontan. "Ah, ngomong-ngomong soal boneka yang kemarin. Kau apakan?" akhirnya Sukuna mengalihkan pembicaraan karena masih kikuk.

"Oh, saya taruh di kamar saya. Saya suka memeluknya kalau tidur."

Dalam hati Sukuna makin panik. Jangan-jangan Uraume berpikir boneka itu sebagai pengganti dirinya. Uraume betulan menyukainya!

"Ano sa, Uraume. Kau tahu kan boneka itu bukan milikku," Sukuna hanya ingin memastikan Uraume tak berpikir untuk membawa hubungan mereka lebih jauh. Ia akui ia memang paling dekat dengan Uraume dibanding dengan rekan kerja yang lain, tapi hanya itu, sebatas rekan kerja.

"Iya saya tahu. Karena seperti yang saya bilang malam itu, kalau Anda sendiri yang dapat boneka itu dari stall tembak target, Anda pasti sudah membuangnya, bukan membawanya," jawab Uraume santai, menyedot minuman yang dipesannya. "Lalu apa? Pemilik asli boneka itu marah-marah padamu kah, Sukuna-sama?"

"Hng…ya, kurang lebih."

"Ya saya sudah menduga nya sih. Tapi mengingat Sukuna-sama sendiri yang memberikannya pada saya, yang saya pikir hanyalah Sukuna-sama tidak masalah kalau orang itu-marah-marah. Saya pribadi berpikir tidak ada yang berani memarahi Sukuna-sama, dan sekalipun ada, pasti tidak akan ada yang menang dari Anda. Makanya saya santai saja menerima boneka itu."

Sukuna tertunduk dengan wajah menghitam. Mendengar kalimat Uraume, yang Sukuna tangkap adalah bahwa Uraume sangat memandang tinggi dirinya. Dia beneran menyukaiku, dia beneran menyukaiku kan? Panik Sukuna. Tapi bagaimana caranya menyuruh Uraume berhenti menyukainya kalau Uraume sendiri tak pernah mengakui atau mengatakan soal itu.

Ponsel Sukuna berdering pelan, ia pun meraih ponsel itu. Ia sedikit panik saat melihat nama Gojo Satoru tertera di sana. Apa Gojo akan ngamuk lagi kalau tahu saat ini ia sedang bersama Uraume? Padahal ia hanya membahas soal pekerjaan.

"Sebentar ya," ucap Sukuna lalu memilih pergi dari duduknya. Padahal ia tipe orang yang biasanya menerima telfon tanpa bergerak kemanapun karena malas, tapi kali ini ia memilih keluar café. "Apa," ucapnya begitu mengangkat telefon.

"Tadi kau bilang kau mau keluar kan ya," ucap Gojo langsung. Seperti biasa, selalu tak ada basa basi antara mereka. Sukuna panik lagi. Apa Gojo akan menanyakan dia keluar dengan siapa? Aahh, persetan. Ia cukup bilang untuk masalah pekerjaan kan.

"Iya kenapa?" balas Sukuna.

"Dekat dengan rumahku nggak? Nitip belikan sesuatu dong," ucap Gojo. Sukuna menghela nafas lega mendengar itu.

"Nitip apa?" tanya Sukuna. Sebenarnya ia nggak sedang berada di tempat yang dekat dengan rumah Gojo sih, tapi tidak masalah.

"Beliin stabilo. Itu loh, yang kayak spidol tapi yang gede."

"Iya ngerti kok, kau pikir aku nggak pernah pakai benda itu!"

"Hehe, ya kirain. Oh, terus kalau kau kebetulan lewat café atau toko kue, beliin sweets juga dong. Aku kekurangan asupan gula."

"Ok," Sukuna mematikan telefon lalu kembali ke café untuk mengambil jaketnya. "Aku pergi dulu ya. Pembicaraan kita sudah selesai kan," pamit Sukuna.

"Iya, nanti saya akan kirimkan detailnya lewat email seperti biasa," balas Uraume.

Sukuna sudah hampir melangkah pergi, tapi batal. "Ya sudah ayo kuantar kau pulang sekalian."

"Oh, nggak usah. Saya naik bus saja tidak apa-apa."

"Sudahlah, sekalian jalan saja," ucap Sukuna. Akhirnya Uraume menurut. Sukuna pun mengantar Uraume dulu meski sebenarnya berbeda arah dengan rumah Gojo. Saat di mobil Sukuna pundung sendiri menyadari kalau yang ia lakukan saat ini seperti orang yang sedang PDKT. Padahal ia tidak tega saja pada teman kerja nya dan ingin memberikan tumpangan. Dia juga sudah biasa melakukan itu. Tapi sekarang, kalau Gojo sampai tahu, mungkin ceritanya sudah beda lagi.

Setelah mengantar Uraume ke apartment nya, Sukuna kembali berkendara untuk membelikan pesanan Gojo. Ia membeli satu pack stabilo, lalu mencari toko sweets. Setelah mendapatkan semua pesanan Gojo, ia pun menuju rumah pria itu. Gerbangnya terbuka, jadi Sukuna langsung masuk, memarkirkan mobilnya di halaman.

"Ugh…" Sukuna berhenti sesaat sebelum memasuki rumah Gojo. "Pokoknya jangan sampai Staoru tahu. Kalau sampai dia tahu ya…pokoknya aku harus meyakinkan kalau aku bertemu Uraume untuk urusan pekerjaan," oceh Sukuna pada dirinya sendiri. Ia pun menghampiri pintu. Tapi saat mau menekan bell, ponselnya kembali berdering pelan. Ia meraih benda itu dulu.

'Aku dengar suara mobil tadi. Kau sudah sampai?' Gojo mengirim pesan.

'Iya, aku di depan pintu rumahmu,' balas Sukuna.

'Bagus. Masuk saja, nggak usah tekan bell. Nanti Megumi ngamuk, dia lagi belajar.'

"Pfftt…" Sukuna tertawa pelan membaca itu. Sepertinya Megumi tipe yang serius banget kalau belajar dan lingkungannya harus hening. Kalau Yuuji masih bisa belajar sambil mendengarkan music. Asal tidak ada orang bicara saja. Katanya mengganggu karena tanpa sadar jadi memerhatikan apa yang sedang dibicarakan.

Sukuna pun masuk tanpa menekan bell. Suasana begtu hening. Ia menghampiri ruang kerja Gojo. Tapi saat mau membuka pintu, samar ia mendengar suara cewek dari dalam ruangan itu.

Krekk!

Kedutan kesal langsung muncul di pelipis Sukuna. Padahal dia dari tadi panik sendiri karena khawatir soal Gojo akan cemburu pada Uraume. Tapi sekarang ternyata Gojo malah sedang main sama perempuan? Sialan!

Dengan murka Sukuna membuka ruang kerja Gojo sehingga menimbulkan suara keras di pintu.

"Satoru-teme!" omelnya.

"Ssssssttttt!" Gojo langsung menaruh telunjuknya di depan bibir. "Kubilang jangan berisik! Nanti Megumi ngamuk," ucapnya setengah berbisik.

"Hng…?" Sukuna menatap ke arah Gojo. Ia tengah duduk di meja kerja nya dengan lembaran-lembaran kertas serta sebuah laptop di meja, di sampingnya ada seorang perempuan yang duduk di kursi sebelahan dengan Gojo. Sementara di depan meja Gojo ada dua perempuan lagi yang duduk di masing-masing kursi. Mereka menatap ke arah Sukuna yang baru saja mendobrak pintu.

"Ghh…kau ini, padahal sudah kubilang jangan ribut," Gojo bangkit dari kursinya menghampiri Sukuna. Ia melewati tubuh Sukuna berniat untuk menutup pintu, hingga ia swetadrop saat menatap pintu kamar Megumi perlahan terbuka, lalu Megumi muncul di sana dengan penuh aura membunuh. "Ah, gomen," ucap Gojo.

Sukuna ikutan menoleh. "Yo Megumi," sapa Sukuna seenaknya.

Bletak!

Gojo menjitak kepala Sukuna. "Sudah lanjutkan saja belajar nya. Kami tidak akan ribut lagi," ucap Gojo. Megumi pun kembali ke dalam kamarnya. Menghela nafas lelah, Gojo dengan hati-hati menutup pintu. "Dasar kau! Sama sekali nggak dengerin orang ngomong ya!" omel Gojo, kali ini dengan suara sedikit keras. Toh ruangan di rumah nya lumayan kedap suara, tak akan sampai ke kamar lain. Paling hanya terdengar lirih saja dari luar pintu kalau mendengarkan seksama seperti Sukuna tadi.

"Bodo ah," balas Sukuna enggan menjelaskan kenapa tadi dia begitu. "Jadi kau sedang apa?"

"Bimbingan skripsi. Mana stabilo nya?"

"…" Sukuna speechless. Ia lalu meyerahkan pesanan Gojo.

"Makasih," Gojo meraih tas kertas dari Sukuna. "Kau mau pulang? Atau mau menungguku selesai? Kalau mau menunggu lakukan saja sesukamu, tapi jangan terlalu ribut. Kalau mau nonton TV di kamarku saja. Kalau butuh sesuatu di dapur ambil saja. Yang penting. Jangan. Ribut," ulang Gojo.

"Menunggu saja deh," balas Sukuna dan berjalan santai menghampiri rak buku Gojo.

"Hey—…"

"Apa? Aku nggak akan ribut kok. Kau lanjutkan saja bimbingan skripsi mu."

Gojo menghela nafas lelah tapi lalu kembali ke kursi nya. Membiarkan saja Sukuna goleran di sofa dekat rak buku. Ada dua rak buku besar di ruangan itu, dan sofa serta meja computer berada di antara keduanya. Sementara meja Gojo berada di sisi kanan dari rak buku sehingga tak terlihat dari tempat Sukuna berada.

Sukuna membaca buku yang tak ia minati di tangannya. Ia juga tak begitu memerhatikan apa isi buku itu. Ia memfokuskan penuh pendengarannya pada suara Gojo dan ketiga mahasiswi nya yang tengah bimbingan skripsi. Meski antar dosen dan mahasiswi, mereka terdengar akrab. Sesekali obrolan tak formal terdengar saat skripsi mereka selesai Gojo bahas.

'Memangnya dosen dan mahasiswa bisa seakrab itu ya! Lagipula kenapa dia bimbingan di rumah nggak di kampus saja!' omel Sukuna dalam hati.

Merasa bosan dengan buku di tangannya, ia mengembalikan buku itu ke tempat semula. Ia mencoba mencari buku lain yang mungkin menarik minatnya. Saat memilih buku itu, ia melihat satu buku yang menarik perhatiannya meski hanya melihat bagian samping sampul karena buku itu masih tertata rapi di rak. Buku itu berwarna silver dengan cetakan tulisan hitam. Design nya elegan. Sekali lihat saja orang pasti tertarik untuk memilih buku itu meski belum mengetahui apa isi bukunya. Sukuna berniat meraih buku itu saat ponselnya berdering pelan. Sukuna segera meraih ponselnya, mematikan panggilan, lalu menyalakan mode silent. Ia ganti mengirim pesan pada orang yang barusan menelfonnya.

'Ada apa?' ketik Sukuna pada kontak yang ia namai Mahito.

'Mau keluar bareng nggak? Aku bosan di apartment terus,' balas Mahito.

Twitch!

Sukuna berkedut kesal. Mahito menelfon hanya untuk menanyakan itu?! Tak jadi mengambil buku, Sukuna kembali ke sofa untuk chattingan dengan Mahito.

'Enggak. Lagi nggak di rumah juga aku,' balas Sukuna. Terakhir ia menuruti Mahito keluyuran, rekan kerjanya itu membawa Sukuna ke kelas balet. Tobat sudah Sukuna diajak keluar oleh Mahito.

'Dih, nggak seru. Ya sudah, main game online saja yuk. Kita battle.'

"…" mengingat Sukuna juga gabut, ia pun melayani Mahito. Cukup lama ia main game, tapi ia bosan karena lebih banyak kalah daripada menang dari Mahito. Karena Mahito itu seperti anak kecil, jadi sepertinya dia jago banget soal game. Sukuna pun offline tanpa pamit lalu mematikan ponselnya supaya tak bisa dihubungi Mahito. Ia menghela nafas lelah berbaring di sofa menatap langit-langit ruangan. Sebenarnya ia sedikit haus, tapi malas ke dapur untuk ambil minum. Ditambah ia masih mendengar suara obrolan Gojo dan mahasiswi-mahasiswi itu, sepertinya itulah alasan utama Sukuna tak ingin pergi dari ruangan. Jangan-jangan terjadi sesuatu saat ia tak di sana.

Bosan menunggu, tanpa sadar Sukuna pun tertidur. Ia terbangun saat cahaya orange matahari menembus masuk lewat jendela besar ruangan. Nafasnya sedikit terkesiap sambil menatap sekeliling, masih mencoba mengumpulkan kesadaran. Suasana hening. Sepertinya bimbingan skripsi Gojo sudah selesai. Sukuna duduk sambil menguap keras. Saat itulah Gojo menghampiri membawa sebotol air mineral.

"Baru bangun," ucap Gojo menyodorkan botol minum itu pada Sukuna. Ia sendiri menenggak botol isotonic. Ia tampak berkeringat, ia memakai baju tanpa lengan, handuk kecil melingkar di pundaknya.

"Yeah," balas Sukuna menenggak air mineral di botol. "Kau habis nge gym?"

"Iya. Habis bosan kau malah tidur, dan Megumi masih belajar," Gojo duduk di sofa samping Sukuna.

"…" Sukuna terdiam sesaat. Ia sedikit ragu mau bertanya, tapi pada akhirnya ia tak bisa menahan diri. "Kenapa tadi bimbingan skripsi di rumah, nggak di kampus? Kau biasa mengundang mahasiswi mu ke rumah?"

"Nggak juga. Hari ini jadwal mengajarku hanya dua kelas. Jadi aku pulang cepat, lagipula pekerjaanku ada yang bisa dikerjakan dari rumah. Tapi beberapa mahasiswi ku menghubungi katanya minta bimbingan, jadi ya kusuruh ke rumah saja."

Sukuna merengut mendengar itu.

"Apa sih? Kau cemburu?" Gojo mencubit hidung Sukuna.

"Tch!" Sukuna menampik kasar tangan Gojo.

"Hey, kami hanya bimbingan skripsi, nggak lebih. Kau juga dengar tadi kan kami ngapain saja. Nggak usah mikir aneh-aneh deh."

"Ooh begitu," Sukuna menopang dagunya dengan satu tangan. Wajahnya menatap ke luar jendela. "Terus kalau aku bilang tadi aku keluar bersama Uraume apa kau juga biasa saja?"

Gojo hanya mengangguk sambil meminum isotonicnya. Setelah menelan cairan itu barulah ia menjawab. "Iya nggak masalah. Dia rekan kerjamu kan. Paling bahas pekerjaan."

"Hah!" Sukuna sedikit terkejut dan agak kesal. "Jadi maksudmu kau sudah nggak cemburu lagi?"

"Ya habisnya mengingat malam itu saat aku memberi hints bahwa aku cemburu, tapi kau sama sekali tak kepikiran sampai situ hingga aku mengatakannya secara jelas, sudah jadi cukup bukti bahwa kau menganggap hubunganmu dengan Uraume tak lebih dari sekedar rekan kerja. Makanya kau nggak kepikiran bahwa kedekatanmu dengan Uraume bisa menjadi sesuatu yang membuatku cemburu."

"Tch!" lagi-lagi Sukuna mendecih kesal. Begitu ya, jadi Gojo tak cemburu lagi ya.

"Geez, kau membahas soal beginian terus. Tapi sebenarnya hubungan kita ini seperti apa sih? Apa sekarang kita resmi pacaran karena sudah saling merasa cemburu? Atau kau masih mau menolakku? Sampai kapan aku harus menunggu?"

"Huh? Apa maksudmu? Kapan aku menolakmu? Dan siapa juga yang menyuruhmu menunggu!"

Twitch!

"Ano na! Kau ini pikun atau apa sih!" Gojo menjewer pipi Sukuna. "Pembicaraan kita waktu dulu di bar. Pas liburan di cottage itu loh! Aku kan mengajakmu pacaran, tapi kau menolakku."

"Tapi waktu itu kau kan sama-sama menolak karena menganggap kita nggak ada perasaan? Bukan salahku dong aku menganggap kita mulai dari awal lagi."

"Iya deh iyaaa," kesal Gojo. Ia meletakkan satu tangannya di sandaran sofa lalu merebahkan kepalanya di sana. "Terus bagaimana dengan sekarang? Kau masih nggak ada rasa terhadapku? Kalau kuajak pacaran, apa kau akan menolak lagi?"

"…" Sukuna tak langsung menjawab. Ia menumpukan kedua siku nya di paha, sementara jari-jarinya saling bertaut. "Kau sendiri…apa kau sudah ada rasa terhadapku? Kau sudah mau pacaran denganku?"

"Kenapa malah bertanya. Aku mengatakan ini karena aku merasa nggak masalah kita mengubah status kita jadi pacaran," ucap Gojo. Sukuna kembali diam. Gojo menatap punggung Sukuna, tangannya beralih untuk menyusuri tulang punggung Sukuna dari atas sampai bawah, membuat tubuh itu sedikit berjengit. "Sukuna," Gojo beralih memeluk Sukuna dari belakang, menciumi lehernya. Tangannya meremas dada Sukuna yang berotot.

"Hnn…" Sukuna seolah tak kuasa menolak. Ia mencengkeram tangan Gojo, tapi tak menghentikannya. "Hnn…ahh," desahan kecil terselip dari bibir Sukuna saat Gojo menggigit tengkuknya. "Satoru…" panggil Sukuna. Tatapannya tertunduk. "Kalau kita pacaran… memangnya apa yang akan berbeda dari sekarang?"

"…" Gojo menghentikan aktivitasnya mendengar pertanyaan itu. Bibirnya terbuka untuk menjawab sesuatu, tapi batal. Ia ganti menyeringai, sepertinya ia tahu jawaban lain yang lebih menarik. Ia menarik dagu Sukuna, membuat Sukuna menoleh ke arahnya. "Kalau begitu cari tahu saja sendiri. Ayo pacaran, biar kau temukan sendiri jawabannya."

Blush…!

Seketika wajah Sukuna memerah total. Sepertinya Gojo berhasil. Tipe seperti Sukuna memang bukan orang yang percaya begitu saja apa yang akan Gojo katakan, jadi lebih baik suruh dia mengalaminya sendiri saja.

"Bagaimana, Sukuna-chan?" Gojo mengeliminasi jarak di antara mereka dan mencium bibir Sukuna, kemudian menginvasi rongga basah Sukuna, membawa lidah Sukuna untuk saling menaut. Mereka berciuman cukup lama, sampai Sukuna melepas ciuman karena mulai kehabisan nafas. Gojo menyeringai sembari menjilat bibirnya sensual. "Apa kau lupa caranya bernafas saat ciuman, Sukuna? Kau sampai terengah begitu. Kau suka ciuman dengan pacar barumu ini?" Gojo kembali menyatukan bibir mereka.

"Mnnm…nnhh…" Sukuna mengerang, tapi tak berapa lama ia kembali melepas ciuman dan mendorong tubuh Gojo menjauh. Nafasnya terengah, wajahnya juga memerah. "Wakatta! Wakatta!" ucap Sukuna, masih berusaha menormalkan nafasnya.

Gojo menyeringai, ia kembali mendekatkan wajahnya, tapi hanya itu. Tak mencium Sukuna kembali. "Mengerti apa?" tanya Gojo. Wajah Sukuna kian memerah mendapat pertanyaan itu.

"Pa…Pacaran…denganmu," ucap Sukuna terbata. "Mulai sekarang kita paca—… mmnhh…!" belum selesai Sukuna menjawab, Gojo kembali mencium Sukuna. Kali ini ciuman basah, ia bahkan mendorong tubuh Sukuna hingga berbaring ke sofa. Gojo meraih bantal duduk dan dengan lembut mengangkat kepala Sukuna, menidurkannya di sana. "Hmn…" Sukuna memeluk Gojo erat mendapatkan perlakuan itu. Lidahnya masih melayani ciuman Gojo. Pelukannya mengerat saat merasakan jemari Gojo menelusup masuk ke balik kemeja nya, memilin nipple nya.

"Hosh…hosh…" nafas Sukuna terengah saat Gojo melepas ciuman, mengalihkan lidahnya ke leher Sukuna. Sukuna mendongak nikmat seraya meremas belakang kepala Gojo. "Ngh…ahh…" ia mendesah, kakinya bergerak tak nyaman. Meski begitu ia tak bisa bergerak bebas karena kedua kaki Gojo ada di antara kakinya. Ia bisa merasakan kejantanan Gojo menggesek pintu lubangnya meski mereka masih sama-sama memakai pakaian.

Tok…tok…tok…

"Tou-san, kau sedang sibuk?" terdengar suara Megumi dari luar.

Gojo pun menghentikan aktivitas nya dan menghela nafas lelah. Ia menegakkan tubuh untuk menatap ke arah pintu. "Ada apa Megumi?" tanya Gojo.

"Aku mau masak makan malam. Sukuna-san masih di sini apa sudah pulang? Biar kumasakkan untuknya juga."

"Dia masih d—…" tapi ucapan Gojo terhenti saat ia melirik Sukuna dan melihat ekspresi nya. Bibir Gojo menyeringai, matanya menyala menatap pemandangan itu. "Megumi, kau masak makan malam untukmu saja. Kau juga sedang sibuk belajar kan. Nanti aku urus makan malam sendiri. Aku sedang ada kesibukan lain."

"…" terdiam sesaat. "…baiklah. Kalau begitu aku makan di kamar saja nanti," jawab Megumi lalu hening.

"Satoru…" panggil Sukuna, tangannya menarik baju Gojo. Nafasnya terengah, tatapannya dipenuhi kabut nafsu. Wajahnya yang memerah menambah sempurna pemandangan itu. "Sa—toru…Satoru…" ia seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya ia hanya menyuarakan nama Gojo.

Gojo menundukkan tubuhnya. "Iya sayang," balasnya lembut, lalu menaikkan kemeja Sukuna, menjilat nipple nya pelan.

"Ngh…aahhhh, aaahhhh," padahal hanya rangsangan kecil saja, tapi Sukuna klimaks. Gojo tersenyum melihat celana Sukuna yang basah. Dengan perlahan Gojo mengalihkan wajahnya dari dada ke leher sukuna, lalu ke pipi dan telinganya, sengaja cukup dekat supaya Sukuna merasakan hembus nafasnya. Gojo menjilat cuping telinga Sukuna lalu beralih mencium pipinya. "Sayang, boleh aku masuk? Aku juga ingin klimaks," bisik Gojo.

Sukuna tak menjawab, nafasnya masih terengah. Tapi ia lalu memaksa bangun dan membuat Gojo duduk bersandar ke sandaran sofa. Sukuna bangkit dari sofa lalu melepas celananya sendiri, setelah itu ia naik ke pangkuan Gojo. Ia menurunkan celana olahraga Gojo dan mengeluarkan penisnya dari sana. Ia mengocok benda besar itu, kemudian menuntunnya ke arah lubang Sukuna.

"Nghh…sshhh…" perlahan Sukuna menurunkan tubuhnya hingga penis Gojo masuk setengah. Gojo tersenyum melihat itu. Ia melepas satu per satu kancing kemeja Sukuna, tapi sengaja tak melepas kemejanya. Ia mengusap dada Sukuna sensual lalu memilin kecil nipple Sukuna, membuat Sukuna berhenti bergerak karena menikmati sensasi di dadanya. Gojo mendekatkan bibirnya ke telinga Sukuna, menjilatnya.

"Ayo masukkan. Aku ingin segera menikmati lubangmu," ucap Gojo.

Sukuna pun lanjut menurunkan tubuhnya hingga penis Gojo masuk keseluruhan. Nafas Sukuna terengah, belum terbiasa dengan keberadaan benda itu. Tapi tiba-tiba saja Gojo meraih pinggul Sukuna dan menggerakkannya naik turun dengan cepat.

"AAAAHHH—…mph…!" Sukuna langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangan saat menyadari teriakannya terlalu keras. "Mmpph…mmm…" ia mengerang tertahan seiring Gojo yang terus menggerakkan tubuhnya. Lama-kelamaan Sukuna juga ikut bergerak, ia berpegangan pada pundak Gojo supaya lebih stabil. Ia bergerak naik turun dengan cepat dibantu oleh Gojo. Ia mengerang merasakan benda panas di dalam tubuhnya bergerak keluar masuk menyentuh sweetspot nya berkali-kali.

"Unggh…ahh…nnh, Satoru…" Sukuna mulai bergerak sesukanya, berusaha mencari kenikmatan dari setiap sentakan penis Gojo di dalam tubuhnya. "Oohh…nnghh, aahhh… Satoru…aahhh," ia merasa nyaris klimaks lagi, tapi Gojo meremas batang penisnya, lalu menutup lubang Sukuna dengan ibu jari.

"Jangan klimaks dulu sayang, puaskan aku. Kita klimaks bersama oke," Gojo menjilat nipple Sukuna lalu mengemutnya. Satu tangannya meremas bokong Sukuna, satu tangan masih menahan penis Sukuna.

"Mmnnhh…aahhh, tapi…sudah tidak—…tahan…" ujar Sukuna tanpa berhenti bergerak.

"Ganbare ganbare," seringai Gojo. "Aku juga sebentar lagi klimaks kok. Tunggu sebentar lagi oke."

"Ugh…" Sukuna pun menurut. Ia ganti memeluk Gojo erat sambil terus bergerak, ia menahan hasrat untuk tidak segera orgasme. Tapi sulit sekali karena setiap kali penis Gojo menggesek sweetspot nya, Sukuna merasa sperma nya mau keluar. "Satoru…ugh, cepat… klimaks. Aku…sudah tidak tahan," pinta Sukuna.

Gojo menyeringai di balik pelukan Sukuna. "Panggil aku sayang dong, nanti kubiarkan kau klimaks."

"H-huh!" Sukuna terkejut.

"Ayolah. Kau bilang kita sekarang pacaran kan," Gojo mengecup pundak Sukuna yang masih memeluknya erat.

"…sa…" Sukuna tampak masih gagap. "…sayang…"

Gojo tersenyum puas. Ia mengocok penis Sukuna cepat seraya membantu Sukuna bergerak naik turun.

"AAAHHH—…AHHHH…" Sukuna sepertinya tak peduli lagi pada suaranya yang mungkin kelewat keras. Ia tak bisa menahan diri dan akhirnya klimaks sangat banyak di tangan Gojo. Ia belum selesai orgasme, tapi Gojo lalu membanting tubuhnya kembali berbaring ke sofa, lalu tanpa peringatan langsung bergerak kuat memasuki lubang Sukuna.

"Aaaahhhh…! Satoru…ahhh, hnghh, oowhh…pelan sedikit. Aku masih ahh—…" sperma kembali muncrat dari lubang Sukuna, tapi Gojo tak berhenti.

"Ngh…nn…ahh," Gojo mencengkeram paha Sukuna sembari menekannya ke atas supaya lebih mudah penetrasi. Ia terus bergerak cepat tanpa memedulikan ucapan Sukuna. Ia sudah hampir klimaks. "Ngh…aahh, oohh…" dalam beberapa kali sodokan keras Gojo klimaks di dalam lubang Sukuna. Sperma nya mengalir turun ke sela-sela bokong Sukuna.

"Hosh…hosh…" nafas Sukuna tersengal. Tubuhnya banjir oleh sperma nya sendiri. Ia pikir itu sudah berakhir, tapi Gojo memutar tubuhnya menjadi menungging dan kembali melakukan penetrasi.

"Satoru hentikan! Aku serius, ahh…istirahat dulu. Aku mau ke—…ahhh…"

"Hngh…" lagi, Gojo tak peduli. Ia meraih tubuh Sukuna dan memeluknya tanpa menghentikan gerakan. Ia menjilati leher Sukuna, satu tangannya kembali mengocok penis Sukuna yang masih lemas.

"Satoru…serius, ahhh…hentikan. Sudah mau keluar…" pinta Sukuna.

"Hng…padahal penismu belum tegak," balas Gojo, beralih menggigit kecil cuping telinga Sukuna. Tangannya tetap tak berhenti memanja kejantanan Sukuna.

"Bukan itu. Aahh…serius, berhenti—…aahhhh…" tapi akhirnya Sukuna tak tahan lagi. Air seni keluar dari ujung kejantanannya, membasahi karpet hingga meja di depan sofa, lalu sedikit mengenai sofa saat akhirnya nyaris berhenti. Nafas Sukuna terengah, wajahnya memerah.

"Sudah kubilang aku sudah tidak tahan! Kau malah tidak mau berhenti," omel Sukuna. "Hngh…!" tapi ia terbelalak saat justru merasakan penis Gojo semakin membesar di dalam lubangnya. "Satoru apa yang—…" Gojo menekan tengkuk Sukuna hingga kepalanya rebah di lengan sofa. Dengan posisi itu Gojo kembali menyentak keras memauski lubang Sukuna.

"Ogh…ahhh! Satoru…! Satoru…!" panggil Sukuna. Kedua tangannya mencengkeram erat lengan sofa. Tengkuknya masih ditahan oleh Gojo, seolah mengunci pergerakan Sukuna. Ia pun hanya bisa pasrah dimasuki oleh Gojo dengan keras. Tubuhnya tersentak di setiap gerakan kuat Gojo.

"Nghh…Suku—…na…" hingga akhirnya Gojo kembali klimaks di lubang Sukuna. Perlahan ia melepas cegkeramanya di tengkuk Sukuna, meninggalkan bekas kemerahan di sana. Gojo terengah, perlahan ia menarik keluar penisnya dari lubang Sukuna, meninggalkan lubang kemerahan itu dialiri sperma yang merangsek keluar. "Sukuna, kau tidak a—…" ucapan Gojo terhenti saat tubuh Sukuna ambruk ke sofa, matanya terpejam.

"Sukuna…? Sukuna…?" Gojo menepuk-nepuk pelan pipi Sukuna, tapi tak ada respon. "Aah, sepertinya aku sedikit berlebihan ya," ucap Gojo kemudian.

.

~OoooOoooO~

.

Sukuna membuka mata dan menyadari ia berada di kamar Gojo. Lampunya menyala. Sepertinya Gojo masih saja takut gelap. Sukuna ingin melihat sekeliling, tapi baru ia sadari kalau ia tak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya sakit semua, dan sendi-sendinya terasa kaku. Saat ia mencoba bergerak, rasa sakit langsung menghampiri seperti sengatan listrik. Akhirnya ia hanya bisa tepar di sana untuk beberapa lama.

Beberapa saat kemudian terdengar pintu kamar terbuka. Sukuna hanya melirik untuk melihat siapa yang datang karena bahkan lehernya terasa nyeri saat digerakkan.

"Oh, kau sudah bangun," ucap Gojo seraya menghampiri. Ia duduk di tepian ranjang di samping Sukuna, lalu membungkukkan badan untuk mencium kening Sukuna dengan lembut.

Deg...!

Jantung Sukuna berdegup keras. Ini pertama kalinya Gojo melakukan itu. Biasanya dia mana peduli, pasti hanya teriak-teriak membangunkan Sukuna atau hal semacam itu.

"Badanmu gimana?" tanya Gojo.

"Hng..." Sukuna perlahan menggerakkan tubuhnya, masih sedikit linu, tapi kali ini ia berhasil duduk. "Sakit semua," ucap Sukuna jujur.

"Gomenne, sepertinya aku sedikit berlebihan," Gojo sweatdrop. "Tadi aku cukup panik saat kau pingsan."

Sukuna menyeringai, ia melingkarkan tangannya di leher Gojo. "Tapi tadi tidak buruk juga. Aku baru tahu kau bisa seliar itu."

Gojo balas menyeringai. Ia hampir lupa kalau Sukuna bukan tipe orang manis meski ia berusaha bersikap manis padanya. "Itu baru permulaan. Aku bisa membuatmu mengeluarkan lebih banyak fountain dari yang tadi," Gojo mengangkat dagu Sukuna dengan telunjuknya.

Blush...!

Seketika wajah Sukuna memerah mengingat apa yang terjadi sebelumnya. "Diamlah brengsek! Padahal aku sudah menyuruhmu berhenti, tapi kau-...!" Sukuna menjambak rambut Gojo.

"Hahaha," Gojo hanya tertawa menanggapinya. "Udah ah, mandi sana. Terus makan. Laper nih," Gojo meraih kedua tangan Sukuna, menggenggamnya sekaligus untuk menghentikan ulah Sukuna.

Sukuna sempat bengong sesaat. Jangan bilang Gojo belum makan karena menunggunya bangun?

Oh shit! Ingin Sukuna teriak sekencang yang ia bisa. Rasanya ia benar-benar belum terbiasa dengan perlakuan manis Gojo. Tapi ia segera berdehem kecil untuk kembali ke dunia nyata.

"Iya iya, ini juga mau mandi! Berisik amat sih!" omelnya, ia tak mau Gojo menyadari kalau ia sedikit salah tingkah. Sukuna berniat bangun, tapi ia langsung mengaduh kesakitan. Ia lupa kalau tubuhnya sedang remuk. "Aaargh! Shit shit shit! Sial, aku lup-...heyy!" ia terkejut saat tiba-tiba Gojo membopongnya.

"Biar kubantu," ucap Gojo santai sambil melangkah menuju kamar mandi.

"Tidak perlu! Aku bisa-..."

Chuu..

Ocehan Sukuna seketika terhenti saat Gojo mengecup pelipisnya. Dengan pipi memerah, Sukuna hanya bisa menyembunyikan wajah di dada Gojo.

Gojo membopong Sukuna ke kamar mandi, ia mendudukkan Sukuna di kloset yang tertutup, lalu menyiapkan air di bathtub. "Tapi jangan lama-lama ok, aku sudah lapar," oceh Gojo.

"Iya ah, bawel banget deh," ucap Sukuna. Sambil menunggu Gojo menyiapkan air di bathtub, ia berniat membersihkan diri—terutama lubangnya—tapi saat ia menunduk untuk menyentuh lubangnya, ia baru sadar kalau lubangnya sudah bersih. Ia juga menatap sekujur tubuhnya, tak berkeringat, juga tak lagi lengket. Apa Gojo membersihkannya sebelum ini? Astaga. Dia bisa seperhatian apa sih! Pikir Sukuna dengan wajah kembali merona. Tapi lalu berteriak dalam hati sambil mengacak rambutnya sendiri.

'Aaaaaa berhenti merona dan bertingkah seperti anak SMU yang baru jatuh cinta, brengsek!' batin Sukuna kesal sendiri.

Gojo yang melihat tingkah Sukuna hanya bisa sweatdrop. "Daijobu?" ucapnya datar seperti melihat orang gila.

"Urusai! Ini semua salahmu!" omel Sukuna.

"H-huh?" Gojo hanya bisa cengok. "Sudahlah, cepat mandi sana," Gojo bangun lalu membopong Sukuna, memasukkannya ke bathtub dengan pelan-pelaaaaaannnnnn, seolah supaya Sukuna tak kesakitan. "Dah, mandi sendiri ya," Gojo mengacak rambut Sukuna.

"Iya lah, siapa juga yang mau dimandiin!" Sukuna menampik keras tangan Gojo.

"Geez, mattaku," Gojo menghela nafas lelah sebelum meninggalkan kamar mandi.

"..." Sukuna speechless sepeninggal Gojo. Detik berikutnya ia menenggelamkan wajah ke bathtub, lalu berteriak menghembuskan nafas sampai airnya bergelembung seperti air mendidih. Beberapa detik kemudian ia mengangkat wajahnya, ia bersandar ke tepian bathtub dan menurunkan tubuhnya hingga terendam semua ke dalam air. Ia hanya menyisakan sebagian kepala tetap berada di permukaan—dari hidung ke atas—supaya tetap bisa bernafas. Wajah Sukuna masih memerah, entah karena air bathtub yang kelewat panas atau karena hal lain.

Serius Satoru jadi bersikap begitu? Pikir Sukuna. Ia nggak habis pikir Gojo akan bersikap manis begini setelah mereka pacaran. Tunggu, apa Satoru tipe orang yang selalu memanjakan pasangannya dan menuruti semua kemauan mereka? Seketika Sukuna menyeringai setan. Mungkin ia bisa mencoba itu. Apa Gojo mau menuruti semua keinginan dan kemauannya.

"Haha HAHAHAHA," Sukuna tertawa iblis. Ia ingin segera menge test itu. Ia pun mempercepat mandi nya. Setelah selesai, ia mengambil handuk, tapi saat mau mengelap tubuhnya, ia tak jadi melakukan itu karena mengingat pemikirannya tadi. Mungkin saja Gojo sudah berada di luar kamar menunggunya selesai mandi. Sukuna menyeringai, ia mau meminta Gojo saja mengeringkan tubuhnya, lalu mengeringkan rambutnya dengan hairdyer. Sukuna pun segera membuka pintu kamar mandi.

"Satoru! Keringkan ra—..." tapi Sukuna bungkam saat melihat suasana kamar hening. Gojo tak berada di sana. "AAAHHH DASAR BRENGSEK. Apanya yang perhatian! Dasar setan!" omel Sukuna dan membanting handuknya ke lantai. Akhirnya ia pun mengeringkan tubuhnya sendiri dan berganti pakaian. Dengan wajah masih bersungut-sungut, ia keluar kamar mencari keberadaan Gojo. Ia mendengar suara dari dapur, jadi ia pun menuju ke sana. Ternyata Gojo tengah memasak, dua piring kosong sudah berada di atas meja. Gojo menoleh saat menyadari seseorang memasuki dapur.

"Oh, kau sudah selesai. Tepat waktu, masakannya sudah hampir matang," ucap Gojo. "Duduklah."

Melihat itu, Sukuna pun tak jadi marah. Ia duduk di salah satu kursi, Gojo menyajikan masakannya di piring saji lalu membawanya ke meja.

"Kau menginap malam ini?" tanya Gojo, meletakkan peralatan masaknya di atas kompor yang sudah mati.

Sukuna menatap ke arah jam dinding. Jam 10 lewat sedikit. "Nggak deh, habis makan aku pulang. Aku nggak mau meninggalkan Yuuji sendirian. Apalagi besok dia ujian."

"Hee, sayang sekali. Kupikir kau mau menginap," Gojo menghampiri meja makan kembali.

"Lalu apa? Kau mau tambah membuatku nggak bisa berjalan?"

"Hahahaha," Gojo tertawa lalu mengecup sisi kepala Sukuna. Lagi. Hal yang belum membuat Sukuna terbiasa.

Megumi memasuki dapur membawa piring dan gelas yang sudah kosong. "Oh, Sukuna-san, kau masih di sini."

"Iya, tadi aku ketiduran," balas Sukuna.

"Taruh di wastafel saja, nanti sekalian kucuci bareng ini," ucap Gojo.

"Arigatou, Tou-san," Megumi pun menurut. Saat membalikkan tubuh dan mau melangkah pergi, Gojo meraih tubuhnya, memeluknya sesaat lalu mengacak rambut Megumi.

"Jangan belajar sampai larut loh. Besok malah nggak bisa bangun pagi," ucap Gojo.

"Iya, aku sudah menjadwal waktu belajar dan waktu tidurku kok," Megumi balas memeluk Gojo singkat lalu pamit untuk kembali ke kamar.

Sukuna yang melihat itu hanya diam. Sepertinya memang sudah dari sana nya Gojo itu perhatian. Mungkin ia saja yang tak pernah menyadari itu.

Gojo duduk di kursi sebelah Sukuna, lalu mereka pun mulai makan.

"Ngomong-ngomong soal Megumi," ucap Sukuna saat mereka menyantap masakan mereka. "Apa kita akan mengatakan pada Megumi dan Yuuji soal hubungan kita sekarang?"

Gojo sempat menghentikan gerakannya sesaat. "Ya, kurasa. Kalau kita memang berniat serius, kita harus memberitahu mereka."

"Uhuk..." Sukuna tersedak kecil mendengar itu. Berniat serius? Hubungan serius maksudnya? Apa tidak terlalu cepat memikirkan itu? Padahal mereka baru saja jadian bebarapa jam yang lalu. "Y-yeah, kalau kita sudah berniat serius saja," ucap Sukuna.

Gojo mengangkat sebelah alis lalu melayangkan tatapan ke Sukuna. "Jadi maksudmu sekarang cuma main-main? Nggak ada gunanya pacaran dong. Balik jadi fuck buddies saja."

"Bukan begitu! Kita kan baru saja jad—...aah, ya sudah. Kita tunggu ujian mereka selesai saja baru katakan. Kalau sekarang nanti malah mengganggu konsentrasi mereka."

Dalam hati Gojo tertawa puas mendengar itu, tapi ia berusaha tak menunjukkannya. "Baiklah kalau begitu," balasnya dan melanjutkan makan.

.

.

.

~TBC~

Support me on Trakteer : Noisseggra