Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak buat kokorocchi, SiloidBlue, loeybby and Lordofgame yang udah yempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

"Hei! Sudah kubilang kau nggak perlu mengantarku!" protes Sukuna saat Gojo meraih jaketnya di dinding.

"Argh, sudahlah. Ayo!" balas Gojo.

Mereka pun keluar rumah menghampiri mobil Sukuna. Gojo merebut kunci mobil pria itu lalu duduk di kursi kemudi. Sukuna pun pasrah, ia duduk di kursi sebelah Gojo.

"Sshh..." Sukuna meringis pelan saat duduk di kursi itu, bagian bawah tubuhnya terasa nyeri.

"Nggak ada bantal duduk?" tanya Gojo.

Sukuna menggeleng. "Huh? Chotto—..." Sukuna cengok saat Gojo turun dari mobil dan kembali memasuki rumah. Tak berapa lama ia kembali dengan membawa sebuah bantal kecil.

"Nih, pakai," Gojo memberikan bantal itu pada Sukuna.

Sukuna menghela nafas. Ia pun menerima bantal itu dan menggunakannya untuk duduk. Baru setelahnya Gojo mulai menyetir meninggalkan halaman rumah. Selama perjalanan, terkadang Sukuna meringis nyeri saat mobil melewati jalanan yang tidak rata, atau melewati polisi tidur. Mungkin ada benarnya Gojo mengantar ia pulang. Kalau ia menyetir sendirian entah bagaimana ia mengemudi sambil kesakitan.

Suasana rumah Sukuna sudah sepi saat mobil mereka berhenti di depan gerbang. "Mungkin Yuuji sudah tidur," ujar Gojo. "Ya sudah. Aku balik duluan ya."

"Kau pulang naik apa?"

"Gampang. Pesen taxi atau transportasi online kan bisa."

"Ooh..."

Gojo meraih pipi Sukuna, mengusapnya pelan. Ia lalu mencondongkan wajahnya ke wajah Sukuna. Perlahan Sukuna memejamkan mata saat tahu Gojo akan menciumnya. Mereka berciuman untuk beberapa saat, sebuah ciuman yang lembut.

"Oyasumi," lirih Gojo, menepuk pelan pipi Sukuna.

Sukuna hanya mengangguk sebagai balasan.

Setelah Sukuna membawa mobilnya masuk dan menutup gerbang, Gojo pun memesan transportasi online. Ia berdiri diam menunggu jemputannya datang. Hingga gerbang kembali terbuka dan Sukuna muncul dari sana. Tanpa kata ia langsung menubruk Gojo dan mencium bibirnya.

Gojo tertawa pelan menyambut ciuman itu, tapi ia tak keberatan. Ia memeluk tubuh Sukuna dan melanjutkan ciuman. Tak peduli mereka ada di luar. Sampai saat mereka melihat lampu mobil mendekat dari kejauahan, barulah mereka melepas ciuman.

"Sampai nanti," ucap Gojo dan menyempatkan diri mencium singkat Sukuna sekali lagi sebelum memasuki mobil yang dipesannya. Sukuna tetap berdiri di sana sampai mobil yang dinaiki Gojo tak terlihat lagi.

.

~OoooOoooO~

.

Sukuna sudah mendapatkan detail projek yang akan mereka kerjakan dari Uraume. Jadi saat ini ia tengah mendesain rumah berdasarkan hasil deskripsi client tersebut. Ia sudah serius dari pagi, sarapan yang Yuuji buatkan bahkan baru habis setengah. Punggungnya mulai terasa pegal, saat ia menatap jam, rupanya sudah menjelang tengah hari. Pantas saja.

Sukuna pun memberesi laptop lalu bangun dari kursi dan merenggangkan otot. Dihabiskannya sarapan buatan Yuuji sambil berdiri. Ia lalu membawa piring-piring kotor ke wastafel. Ada tumpukan piring kotor lain di sana, sengaja Yuuji tinggalkan. Memang itulah pembagian tugas rumah mereka. Yuuji yang masak, Sukuna yang cuci piring. Terutama kalau Yuuji pergi ke sekolah. Setelah selesai cuci piring, Sukuna memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci—termasuk pakaian Yuuji juga. Lagi, karena itulah pembagian tugas mereka. Ia tak mau Yuuji yang mengurus semua pekerjaan rumah. Sesibuk apapun Sukuna ia berusaha membagi tugas rumah, well, kecuali dia sedang benar-benar nggak bisa bangun dari meja kerja sih. Dan sekarang Yuuji lah yang sedang dalam masa ujian, jadi sebisa mungkin ia meringankan pekerjaan Yuuji.

Sambil menunggu cucian, Sukuna meraih vacuum cleaner dan mulai membersihkan rumah. Ya, kadang dia menyewa orang untuk membersihkan rumah, tapi selama ia bisa mengerjakan, ia memilih melakukan sendiri. Selai lebih hemat, pastinya untuk change of pace juga. Karena berada di depan computer terus itu melelahkan. Mengerjakan pekerjaan rumah membuat ototnya yang kaku jadi leluasa bergerak, juga ganti suasana dari kondisi ruang kerja.

Setelah selesai mengurus rumah, menjemur dan lain-lain, dia baru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah itu barulah ia bisa duduk santai di depan TV sambil mengeringkan rambut, ia hanya mengenakan celana santai dan membiarkan tubuhnya topless. Ia menonton TV barang sejenak, menikmati acara komedi receh di salah satu stasiun TV. Merasa cukup, barulah ia kembali ke ruang kerja masih belum mengenakan baju. Ia menatap ponsel nya yang tergeletak di meja kerja, ia baru ingat ia belum mengecek ponselnya sejak tadi

Masih agak malas, ia pun meraih ponsel dan berbaring santai di ranjang single bed yang ada di ruang kerja nya sambil membuka ponsel. Tidak begitu banyak chat yang masuk, kebanyakan notif masuk dari iklan atau dari aplikasi yang terpasang di HP. Sukuna membuka chat dan melihat siapa saja yang mengirim pesan. Ia mengerutkan sebelah alis melihat nama Gojo di sana. Tumben orang itu chat, biasanya kalau ada perlu kan langsung telefon, biar cepat. Sukuna membuka chat itu.

'Hi sayang, lagi apa?'

...

"..."

Prak...!

Sukuna refleks melempar ponsel nya ke lantai, ia seperti menatap tak percaya pada benda itu. Tubuhnya yg tadinya chill dan segar karena habis mandi seketika saja memanas. Pipinya memanas. Ia bahkan menekan kedua telapak tangannya di pipi karena wajahnya terasa berasap.

"Aaaaarggh!" ia berteriak sesaat. Iya ya, dia baru ingat sekarang ia punya pacar. Pacar!

Deg...deg...deg...

Jantung Sukuna yang sudah berdegup tidak karuan sejak tadi sepertinya belum juga mau tenang. Setelah berusaha menormalkan nafas, perlahan ia meraih kembali ponsel itu dengan hati-hati. Ia memeluk bantal sambil kembali menatap chat dari Gojo.

'Hi sayang, lagi apa?' Lagi, ia membaca chat itu.

Deg...deg...deg...

Jantungnya berdegup tidak karuan. Ia mencoba membalas pesan itu, tanpa ia sadar bahkan ibu jari nya bergetar halus sebelum menekan keypad. Ia berpikir sejenak apa yang harus ia ketik sebagai balasan.

'Baru selesai beres-beres rumah dan mandi,' Sukuna akhirnya membalas itu. Tapi ia kemudian berpikir lagi. Apa tidak terlalu singkat? Lalu, kalau ia hanya membalas begitu, bukankah percakapan mereka akan berakhir di situ? Sukuna pun cepat-cepat mengirimkan pesan tambahan.

'Kau sendiri? Di kampus?'

Dan…sent. Sukuna menatap centang dua di pesan yang barusan ia kirim, tapi beberapa lama menunggu, tak ada respon dari Gojo. Bahkan status last seen nya beberapa jam yang lalu.

Sukuna menghela nafas lelah lalu meletakkan ponselnya. Ia sendiri telat jawab, kenapa ia mengharapkan fast response dari Gojo? Pacarnya itu juga bukan orang nganggur yang selalu memainkan ponselnya.

Pacar...

Blush...!

Wajah Sukuna kembali memerah saat kata pacar terlintas di kepalanya. Ia memeluk bantal, lalu guling-guling tak jelas di ranjang. Beberapa saat barulah ia berhenti. Ia masih memeluk bantal, kali ini menatap ke langit-langit. Memangnya...dulu ia bagaimana kalau pacaran? Sepertinya baru kali ini ia merasa selalu salah tingkah atau kikuk setiap kali sesuatu berhubungan dengan Gojo.

Yang Sukuna ingat, dulu kalau ia pacaran ya...dia biasa saja. Kadang bahkan merasa risih kalau ceweknya terus menanyakan ia di mana, sedang apa, sudah makan atau belum. Menurutnya pertanyaan-pertanyaan trivial seperti itu sangat mengganggu. Dikiranya dia tidak punya kesibukan atau apa sampai-sampai ia harus ditanyai setiap detail kegiatannya. Ia hanya akan membalas sesekali chat-chat itu. Lalu soal kencan, paling ia membawa ceweknya ke cafe, atau restaurant untuk makan. Pergi ke bioskop, lalu berakhir pulang ke tempat si cewek, atau menyewa hotel untuk sex.

Tapi ia tidak pernah sekalipun merasa seperti sekarang. Cukup lama ia berpikir. Huh, apa jangan-jangan karena sekarang posisinya yang terbalik ya? Kalau dalam hubungan normal kan, berarti posisi Sukuna adalah posisi si cewek. Dan sekarang ia blushing-blushing gaje seperti cewek ABG yang punya pacar pertama.

"HHAAAAHHH, YANG BENAR SAJA!" omel Sukuna, ia bangkit seraya melempar bantal yang dipeluknya ke tembok. "Siapa yang cewek ABG!" umpatnya pada diri sendiri.

Kling...!

Terdengar denting ponsel Sukuna. Spontan ia meraih ponsel itu dengan wajah berbunga-bunga. Ia membaca pesan balasan dari Gojo sambil tersenyum aneh.

Glek...!

Tapi ia langsung tersadar dengan apa yang ia lakukan. "Gaaaahhh!" ia membanting ponselnya ke kasur. "Berhentilah jadi tolol begini, Ryomen Sukuna!" teriaknya. Ia lalu menghela nafas panjaaaaang untuk menormalkan diri. Ia lalu kembali meraih ponsel malang itu. Ia berbaring di atas tumpukan bantal, membaca apa yang tertera di sana.

Wah, rajin bener. Baru tau aku kalau kau juga beres2 rumah. Kupikir semua kau serahkan pada Yuuji.'

'Iya aku di kampus. Baru selesai ngajar ini.'

Sukuna kembali meraih bantal yang sempat ia lempar. Ia memeluk bantal itu, mencengkeram tepiannya. Meski benci mengakui, ia tak bisa mengelak saat ia merasa bahagia hanya dari obrolan kecil seperti itu.

Sukuna berniat mengetik balasan. Tapi ia juga bingung mau membalas apa. Dia tak terbiasa dengan small talk seperti itu. Beberapa kali ia mengetik, tapi lalu dihapus. Hingga akhirnya Gojo kembali typing, dan Sukuna tak jadi mengirim pesan balasan. Ia hanya menunggu Gojo menyelesaikan typing nya.

'Sibuk nggak hari ini? Nanti sore mau kencan denganku? Hari ini aku hanya mengajar sampai jam 2 an.'

Deg...!

Lagi, jantung Sukuna berdegup kencang karena hal sepele. Padahal tentu saja itu bukan pertama kalinya ia punya pacar, bukan juga pertama kali diajak kencan. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa begitu.

Sukuna menatap laptop. Ia ada kerjaan sih, tp deadline nya masih beberapa lama. Bisa lah dia meluangkan waktu untuk kencan.

'Boleh.'

Sukuna ingin menjawab dengan kalimat yang lebih panjang. Tapi ia tak tahu harus mengatakan apa lagi.

'Ya sudah. Nanti kujemput ya. Mungkin se ngaret-ngaretnya sampai jam 3 atau setengah 4. Aku pulang dan mandi dulu juga,' balas Gojo.

'Ok,' balas Sukuna. Setelah itu tak ada jawaban lagi.

"..." Sukuna bungkam menatap layar ponselnya. "AAAAAAAAARGHH..." teriakmya kemudian sambil memegangi kepala. Ia benar-benar mengutuk kemampuan mengobrolnya yang di bawah rata-rata. Ia sama sekali tak kepikiran harus menulis apa selain kata-kata singkat itu.

"Ah, sudahlah! Bodo amat!" Sukuna pun pasrah.

.

~OoooOoooO~

.

Pukul setengah 3 sore, Sukuna berdiam diri di depan lemari nya yang terbuka. Ia harus mengenakan baju apa? Ia mulai mengabsen koleksi baju nya, mengambil dua buah baju, membandingkannya di tangan kanan dan kiri.

"Nii-san kau mau pergi?" tanya Yuuji, melongok dari pintu kamar yang Sukuna baru sadar kalau pintu itu terbuka.

"...umm, ya," balas Sukuna singkat. Ia baru ingat Yuuji sudah pulang. Kalau adiknya itu tahu ia bakal kencan dengan Gojo bagaimana dong. Padahal ia belum bicara pada Yuuji soal hubungannya dan Gojo. "Ada apa?" tanya Sukuna basa-basi. Ia akhirnya memilih pakaian biasa karena tak mau Yuuji curiga ia akan pergi kencan.

"Baliknya beli susu ya, stoknya sudah hampir habis. Di konbini dekat rumah saja. Tadinya aku mau beli, tapi melihatmu mau pergi jadi nitip saja deh," balas Yuuji.

"Tapi aku pulangnya mungkin lama loh."

"Nggak papa. Masih ada setengah di dalam kulkas kok."

"Okay."

Yuuji pun pergi setelah Sukuna meng iya kan. Menghela nafas lega, Sukuna lalu meraih ponselnya dari atas kasur. Ia segera mengirim pesan pada Gojo.

'Jangan jemput ke sini deh, nanti ketahuan Yuuji aku pergi denganmu. Kita ketemuan saja di mana gitu,' tulis Sukuna. Tapi tak langsung ada respon jadi ia lanjut memilih baju.

Setelah memutuskan pakai baju yang mana, Sukuna pun bersiap-siap. Ia memakai gel rambut supaya rambutnya rapi, juga menyemprot parfum, tak lupa memakai deodorant biar wangi. Tapi sampai jam 3 lewat, Gojo belum menghubungi juga. Bahkan chat dari Sukuna yang sebelumnya belum diread.

"Tch! Jadi apa nggak sih!" kesal Sukuna. Tapi ia masih menunggu dengan sabar karena Gojo bilang se ngaret-ngaretnya sampai setengah 4. Tapi, hingga jarum jam menunjuk angka 4. 15 Gojo belum menghubungi juga.

Kesal, Sukuna meraih ponsel untuk menelfon Gojo. Tak diangkat. "Sialan!" omelnya. Ia lalu beralih menelfon Megumi. "Megumi, Satoru sudah pulang?" tanya Sukuna tanpa basa-basi.

"Belum. Ada apa Sukuna-san? Kalau penting nanti kusampaikan saat Tou-san pulang," jawab Megumi.

"Ah, bukan apa-apa kok. Ya sudah, bye Megumi," Sukuna pun mematikan telefon. "Tch! Dasar brengsek. Kalau nggak jadi seenggaknya ngabarin kek," Sukuna bersungut-sungut. Mana ia sudah rapi pula. Dan Yuuji sudah melihat kalau ia mau pergi, bahkan nitip susu, kalau tiba-tiba batal rasanya aneh saja. Akhirnya Sukuna pun keluar rumah membawa kunci mobil.

Ia berkendara sampai ke taman dekat rumah, memarkir mobilnya di sana lalu memainkan ponsel, ia belum memutuskan mau pergi ke mana. Ia jadi terpikir, apa susul saja ya ke kampus? Well, sepertinya ide itu boleh juga. Sukuna pun mencari lokasi kampus Gojo di map. Beruntung kampus itu adalah kampus besar, jadi bahkan lokasi setiap fakultas nya pun muncul di map. Sukuna berkendara menuju tempat itu.

.

Suasana sudah cukup sepi saat Sukuna memarkir mobilnya di salah satu parkiran kampus. Tentu saja, tak banyak mahasiswa yang kuliah sore atau malam. Sukuna sempat menanyakan pada mahasiswa yang tengah duduk di sebuah bangku taman di mana letak ruang staff dan dosen. Setelah itu ia pun pergi mengikuti arahan mahasiswa tersebut. Well, namanya kampus, banyak orang berlalu-lalang yang tak perlu tahu mereka siapa. Mungkin salah satu staff, mungkin pekerja, mungkin pegawai office nya, atau bahkan orang dari kampus lain. Tidak akan ada yang mencurigai siapa Sukuna dan mau apa di sana.

Sukuna memasuki gedung staff. Ternyata ada daftar nama-nama dosen yang ruangannya berada di tempat itu. Ia mencari nama Gojo, ada. Dan di papan presensi juga terpampang kalau dia masih on (work). Sukuna menuju ruangan Gojo, tapi ia mengernyit heran saat ruangan itu sepi. Ia bahkan mencoba membuka pintunya dan terkunci. Ia melihat sekeliling, ada seorang mahasiswa yang tengah berdiri menggunakan komputer umum kampus. Sukuna menghampiri, menanyakan keberadaan Gojo siapa tahu mahasiswa itu tahu.

"Oh, Gojo-sensei sedang memimpin sidang skripsi. Mungkin sebentar lagi selesai," jawab mahasiswa itu.

Sukuna menghela nafas lelah dan akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku panjang depan ruangan Gojo. Menunggu pria itu kembali.

.

Sekitar pukul lima, barulah Sukuna mendengar suara Gojo di lorong tengah mengobrol dengan seseorang, suara langkah kaki mereka menggema dan terdengar mendekat. Benar saja, tak berapa lama Gojo muncul dari ujung lorong, menghampiri ruangannya. Ia tampak terkejut melihat Sukuna.

"Hei, kenapa kau di sini?" ucap Gojo

"Menurutmu?" balas Sukuna sedikit ketus.

Gojo menghela nafas lelah lalu membuka pintu ruangannya. Ia mempersilahkan orang yang tadi bersamanya untuk masuk ke ruangan, sementara ia menemui Sukuna terlebih dahulu.

"Sorry, ada perubahan jadwal mendadak. Aku bahkan nggak bisa pegang HP untuk sekedar mengabarimu," ucap Gojo. Sukuna tak menjawab, masih kesal. "Tunggu sebentar lagi ya. Atau tunggu di dalam kalau kau mau," Gojo mengacak rambut Sukuna.

"Tch! Minggir ah!" Sukuna menampik kasar tangan Gojo. Gojo menghela nafas lelah lalu memasuki ruangan, membiarkan pintunya setengah terbuka. Terdengar suara Gojo kembali berbicara dengan orang tadi. Sekitar setengah jam kemudian, barulah orang itu keluar meninggalkan ruangan Gojo. Gojo muncul di pintu, menatap Sukuna yang wajahnya masih ditekuk. Gojo menghela nafas, lalu menarik lengan Sukuna dan sedikit memaksanya memasuki ruangan.

"Iya iya, aku minta maaf. Aku salah, maafkan aku," ucap Gojo seraya memeluk Sukuna erat. Sukuna tak membalas apa-apa. Gojo melepas pelukan, meraih wajah Sukuna denga kedua tangannya. "Masih mau pergi kencan denganku?"

"Ogah ah. Udah males," Sukuna melepas tangan Gojo dengan kasar lalu seenaknya duduk di sofa, menaikkan kaki nya ke atas meja.

"Geez, ya gimana. Masalah pekerjaan, mau bagaimana lagi," Gojo duduk di samping Sukuna, meletakkan tangannya di lutut Sukuna.

Well, Sukuna juga tahu itu. Kalau masalah pekerjaan mana bisa ditoleransi, dia yang seorang working adult juga merasakan itu. Hanya saja dia masih kesal.

"Yaudah, makan malem bareng aja yok. Kencannya lain kali lagi," ucap Gojo. Sukuna masih tak mau menjawab. Gojo menghela nafas lelah lalu bangkit dan berjalan menuju meja nya untuk beres-beres. Saat itulah Sukuna memeluk dari belakang, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Gojo.

Gojo sempat terbelalak, tapi lalu tersenyum. Ia tak menyangka Sukuna bisa jadi semanis ini. Sebelum pacaran mana ada dia bersikap manja begitu. Yang ada langsung menubruknya hingga membentur meja atau menendang punggungnya sampai ia tersungkur. Gojo meraih tangan Sukuna lalu mengecupnya lembut, bisa ia rasakan tubuh itu berjengit pelan meski hanya dari kecupan kecil. Gojo memutar tubuhnya, ditatapnya wajah Sukuna yang memerah dan mengalihkan pandangan tak mau menatapnya. Gojo meraih wajah itu, lalu perlahan mengeliminasi jarak mereka. Tapi baru saja Gojo meraup bibir Sukuna, pintu ruangan Gojo diketuk.

"Gojo-sensei, Anda masih di sini?" suara seseorang.

Grrr...!

Sukuna menoleh murka ke arah pintu. Gojo sweatdrop menatap itu, wajah manis Sukuna sedetik yang lalu kini berubah jadi tatapan setan yang mau makan manusia bulat-bulat.

"Ya," Gojo berteriak sedikit keras menjawab panggilan barusan. Sukuna menatap Gojo tak suka.

"Saya masih butuh beberapa tanda tangan Sensei untuk lembar pengesahan saya."

"Kalau begitu masuklah—...hey—...Sukuna!" ucapan Gojo tercekat saat Sukuna mendorong Gojo duduk di kursi kerja nya, lalu Sukuna berlutut di bawah meja, melepas sabuk Gojo dengan paksa. "Hey—...! Sukuna! Hen-hentikan—...oi! Aku serius," Gojo berusaha menghentikan Sukuna tapi pria itu tak berhenti.

"Baiklah, permisi," mahasiswa tersebut membuka pintu ruangan Gojo dan masuk. Dengan terpaksa Gojo pun berhenti melawan Sukuna karena pastinya akan terlihat aneh apa yang sedang terjadi. Yang bisa ia lakukan selanjutnya adalah memajukan kursi agar jarak tubuhnya dengan meja tertutup rapat supaya Sukuna tak kelihatan.

"Ya, mana lembar pengesahannya," ucap Gojo berusaha sebiasa mungkin. Di bawah sana Sukuna sudah mengeluarkan penis Gojo, menjilatinya, memainkan lubang kemaluan Gojo dengan ujung lidah. Gojo bergerak tak nyaman mencoba menahan sensasi yang ia rasakan.

Sukuna menurunkan celana nya sendiri, ia mengocok penisnya dengan satu tangan sementara satu tangan membantu mulutnya memainkan penis Gojo yang perlahan tegak. Ia mendengar obrolan Gojo dengan mahasiswa itu, tapi ia tak memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Ia sedang kesal, dan ia ingin melampiaskan kekesalan itu dengan sex. Tapi bahkan ciuman mereka pun terganggu. Bangsat! Pikir Sukuna.

Sukuna menjilat batang penis Gojo yang uratnya mulai terbentuk karena penis itu semakin tegang. Sukuna menjilat di sepanjang urat itu, merasakan kedutan dan suhunya yang panas. Merasa tak cukup, Sukuna menggunakan kedua tangannya untuk memegang penis Gojo, lidahnya memainkan kepala penis Gojo, menjilat sekeliling, lalu ujungnya, menjilati lubang penisnya beberapa lama. Setelah itu Sukuna memasukkan penis itu ke dalam mulut, bergerak maju mundur. Ia memasukkannya hingga nyaris menyentuh pangkal tenggorokan dan membuatnya nyaris tersedak, tapi itu bahkan belum keseluruhan penis Gojo masuk. Sukuna menggunakan kedua tangannya untuk mengocok batang penis Gojo yang tak bisa masuk ke mulutnya.

Penis itu basah oleh saliva Sukuna, membuat Sukuna makin bersemangat memainkan benda keras itu. Ia merasa benda itu berdenyut keras, apa Gojo mau klimaks? Sukuna mempercepat gerakan tangannya, ia hanya menjilat ujung penis Gojo sekarang, ia ingin merasakan sperma Gojo.

'Hng, cepat keluarkan,' pikir Sukuna. Ia menjilati area sekitar lubang penis Gojo, menantikan cairan panas keluar dari sana. Tangannya semakin cepat mengocok penis Gojo, sedikit meremasnya kuat. Tak berapa lama akhirnya yang Sukuna nantikan tiba, cairan sperma menyembur dari lubang penis Gojo, melumuri wajah Sukuna, sebagian masuk ke mulutnya. Sukuna menjilati lubang penis Gojo, memaksa semua cairan keluar, menikmati cairan putih lengket itu.

"Mnnh...nnh...nn," Sukuna mengerang menikmati cairan Gojo. Ia berhenti saat merasakan tubuh Gojo menjauh, Gojo memundurkan kursi nya. Sukuna bisa melihat wajah Gojo sekarang. Pria itu berkeringat, wajahnya memerah dan nafasnya tampak sedikit tersengal. Sukuna tak lagi mendengr suara mahasiswa yang tadi bersama Gojo.

"Kau ini ya...benar-benar," geram Gojo kesal.

Sukuna tak menjawab, matanya masih penuh kabut nafsu. Ia belum klimaks. Ia pun keluar dari bawah meja, lalu duduk di meja depan Gojo, memegang penisnya yang masih tegak. Ia melepas celananya secara keseluruhan. "Satoru, lakukan sesuatu. Aku ingin klimaks," ucap Sukuna, tak peduli pada kekesalan Gojo.

Gojo hanya bisa menghela nafas lelah, lalu kembali memajukan kursi nya, ia sedikit menundukkan kepala untuk mengulum penis Sukuna. "Hng...ahh," Sukuna mengerang keras. Kakinya naik ke atas meja dan membuka lebar paha nya, tangannya meremas kepala Gojo dengan kuat. "Ngh...ahh...Satoru...Satoru...ahhh," ia mendesah tak karuan. Ia merasa nikmat rongga basah Gojo mengulum miliknya. Tangan Gojo meremas paha dalam Sukuna, menekannya sehingga membuat tubuh Sukuna sedikit condong ke belakang. Sukuna merasa hasratnya sudah di ujung, tapi tiba-tiba saja Gojo melepas mulutnya dari penis Sukuna. Ia beralih menjilat lubang Sukuna, memainkan ujung lidahnya di sana.

"AAAHHHHH-...SATORU...SATORU..." hanya dalan beberapa detik Sukuna klimaks, nafasnya memburu. Gojo menarik wajahnya dari lubang Sukuna, tapi lalu menggunakan tangannya untuk mengocok penis Sukuna dengan sangat cepat, satu tangan lagi memilin nipple Sukuna. "Ooggh...aahhh, hng...aahh, Sato—ru...aaahhhh," Sukuna kembali klimaks, ia mendongak penuh saat hasratnya memuncak. Cairan putih muncrat sampai membasahi lehernya sendiri. "Hosh...hosh..." nafas Sukuna terengah. Ia menatap wajah Gojo yang tampak masih bernafsu, begitu juga dirinya. Ia ingin dimasuki, mereka bahkan belum sampai ke kegiatan utama mereka.

Tapi Gojo bangkit. "Satoru...!" panggil Sukuna, padahal ia masih ingin. Tapi rupanya Gojo menghampiri pintu, menguncinya, lalu mematikan lampu, hanya menyisakan lampu temaram berwarna orange hangat. Sukuna tersenyum lalu berlari menghampiri Gojo, mendekapnya erat. Gojo langsung meraih kepalanya, mendongakkannya, lalu tanpa basa-basi mencium Sukuna dengan penuh nafsu. Ia mendorong tubuh Sukuna ke sofa. Sukuna baru duduk di lengan sofa, tapi seperti Gojo tak tahan lagi. Ia mengangkat paha Sukuna naik, lalu langsung melakukan penetrasi.

"Ngh...ssshh...ahh, nh, Sukuna...nn," ia mendesah kecil seraya menyentak masuk dengan keras. Sukuna berpegangan ke lengan Gojo supaya lebih stabil. Ia mendesah keras setiap kali Gojo menyodok sweetspot nya. "Ngh...ahh, Satoru, mmnh, ahh..." Sukuna menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan.

Tok...tok...tok...

"Gojo-sensei..." kembali, suara ketukan di pintu. Tapi kali ini suara mahasiswi, mungkin sekitar dua orang.

Sukuna merengut kesal ke arah pintu, tapi ia lalu terbelalak saat Gojo malah menciumnya, mengunci bibirnya erat, dan bergerak semakin liar. Sukuna menyeringai puas di dalam ciuman mereka, dicengkeramnya belakang kepala Gojo erat untuk memperdalam ciuman. Ia bisa mendengar suara Gojo mencengkeram erat sofa di belakang tubuh Sukuna, sepertinya ia mau klimaks.

"Eh, sepertinya Gojo-sensei sudah pulang. Padahal tadi Sano bilang masih di ruangan," terdengar mahasiswi di luar ruangan Gojo berucap.

"Yah, kita telat deh. Tadi Sano bilang sensei sudah ditunggu seseorang juga sih di depang ruangan. Mungkin mereka langsung pergi," balas mahasiswi lainnya. Setelah itu langkah mereka pun terdengar menjauh.

Sementara di dalam, Sukuna tengah mencengkeram punggung Gojo erat, ia merasakan sperma Gojo banjir di dalam lubangnya, meski begitu Gojo masih bergerak kuat, dan Sukuna pun orgasme lagi. Ia ingin istirahat sejenak, tapi tubuhnya malah ganti dibaringkan di sofa, dan Gojo kembali memasukinya dengan brutal. Sukuna tak bisa menolak, ia kalah dengan rasa nikmat yang menguasai nya.

Kepala Sukuna mendongak, ia menyentuh tepian lubangnya yang banjir oleh sperma, sementara penis Gojo masih keluar masuk di sana. "Ngh...ahh, nn, Satoru...nn," satu tangan Sukuna mencengkeram lengan sofa di atas kepalanya. "Hyaahhh..." ia mengerang keras saat tangan Gojo beralih memilin kedua nipple nya dengan keras. "Aahhh...aahhh," ia bergeliutan keenakan, lubangnya mencengkeram erat di bawah sana. Rangsangan yang ia terima di nipple nya benar-benar nikmat.

Tubuh Sukuna terus bergoncang kuat seiring pergerakan Gojo. Ia kembali klimaks saat Gojo mempercepat gerakannya. "Ungh...ahh," Sukuna mengerang tak nyaman karena Gojo terus bergerak padahal ia baru klimaks. Tak berapa lama Gojo juga klimaks di dalam tubuhnya, dan mau tak mau membuat Sukuna kembali orgasme merasakan cairan panas menggelitik isi perutnya.

"Hosh...hosh..." Sukuna terengah. Ia menatap wajah Gojo yang juga kelelahan. Kepalanya tertunduk menatap Sukuna, rambutnya yang turun dan basah oleh keringat terlihat sangat sexy di mata Sukuna. Sukuna meraih wajah itu dengan tangan, lalu menariknya turun dan mengajak berciuman, menutup kegiatan mereka.

Gojo gantian tiduran di sofa dengan berbantal lengan sofa, Sukuna berbaring meringkuk di atas tubuhnya.

"Aaaah, aku lapar," ucap Gojo sembari mengusap-usap lembut rambut Sukuna. "Padahal aku sudah kehabisan energy seharian ini, dan sekarang malah melakukan sesuatu yang lebih menguras energy."

Sukuna hanya tertawa menanggapi itu. Ia lalu memutar tubuh, tengkurap di atas tubuh Gojo. Ia menekuk kedua tangannya di dada Gojo dan menggunakannya untuk tumpuan dagu supaya ia bisa menatap Gojo lebih dekat. "Ya sudah, ayo makan malam bareng, seperti rencanamu tadi."

Gojo mengangguk, ia memainkan rambut Sukuna yang turun ke dahi. Ia menatap lurus iris crimson Sukuna. "Aku benar-benar minta maaf soal hari ini," ucap Gojo kemudian.

"Tch! Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kita kencan lain waktu," balas Sukuna.

"Bagaimana kalau Minggu? Kita bisa kencan dari pagi."

Sukuna tampak berpikir, mengingat-ingat jadwal. "Oke deh, bisa," ia memutuskan akan meluangkan waktu untuk kencan mereka.

Gojo tersenyum mendengar itu lalu mengecup dahi Sukuna. "Baiklah. Minggu ya. Kali ini aku tidak akan mengacaukan kencan kita."

.

.

.

~TBC~

Support me on Trakteer : Noisseggra