Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak buat kokorocchi, SiloidBlue, emperor it's me and aulerecit yang udah yempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
Sukuna sedikit berdebar menanti hari kencan mereka tiba. Walau hanya sedikit, itu membuatnya bersemangat dalam melakukan pekerjaan. Setidaknya mood nya tidak buruk meskipun otaknya terus-terusan dipakai berpikir mengerjakan rancangan projek.
Tapi hari itu, Jumat. Saat Sukuna tengah sibuk di depan komputer, ponselnya bergetar halus. Sengaja dalam mode silent supaya ia tak terganggu. Ia mengerutkan sebelah alis saat melihat nama Gojo tertera di sana. Sukuna meneka tombol answer.
"Ya?" jawab Sukuna langsung.
"Na, kencannya bisa ganti Sabtu nggak? Kayaknya Minggu aku ada acara deh sama dosen dari kampus lain. Mendadak gitu, barusan banget mereka memutuskan acaranya."
"..." Sukuna diam, ia menghela nafas panjang meski sepelan yang ia bisa supaya Gojo tak mendengar. "Sabtu nggak bisa," balas Sukuna. Ya mau bagaimana, dia menyanggupi kencan hari Minggu bukan karena dia nggak ada kerjaan, tapi sengaja meluangkan waktu dari jadwal pekerjaannya. Jadi nggak bisa segampang itu dirubah.
Terdengar Gojo menghela nafas di ujung telefon. "Terus gimana dong. Masa batal lagi."
"Ya mau gimana. Lah ada kerjaan."
"..." cukup lama Gojo terdiam, hanya terdengar menghela nafas beberapa kali. "Ya udah, kencannya lain waktu lagi berarti. Maaf ya..."
"Ya," Sukuna mematikan telefon. Ia berdecih kesal. Tapi mau bagaimana lagi. Dia juga ada kerjaan, dan dia juga nggak bisa menyalahkan Gojo karena acara itu masih berhubungan dengan pekerjaannya. Sukuna kembali meraih ponselnya lalu ganti menghubungi Uraume.
"Minggu aku nggak jadi pergi. Jadwal kerjaan yang sebelumnya balikin lagi aja," ucapnya singkat lalu melanjutkan pekerjaannya di depan laptop.
.
~OoooOoooO~
.
Sukuna sudah menyelesaikan desain rumah untuk client, dan saat ini sedang menunggu respon dari client tersebut. Dia ada waktu luang sampai client memberikan respon. Setelah beres-beres rumah dan mandi, pagi menjelang siang itu ia rebahan santai di sofa depan TV. Ia membiarkan TV menyala sementara ia memainkan ponsel. Ia membuka chat nya dengan Gojo, tapi ragu mau menghubungi.
Ini bukan hari libur, jadi bisa dipastikan Gojo sedang sibuk di kampus. Kalau Sukuna menghubungi, mungkin saja ia hanya akan mengganggu. Lagipula, dia mau menghubungi untuk bilang apa? Sukuna tak tahu harus membuka pembicaraan bagaimana.
Sukuna menyecroll chat mereka sampai atas, menatap chat pertama Gojo setelah mereka jadian.
'Hi sayang, lagi apa?'
Lama Sukuna menatap kalimat itu. Iya ya, saat ini mereka sudah pacaran. Harusnya small talk seperti itu bukanlah hal aneh lagi. Tapi Sukuna ragu untuk memulai. Apa tak apa, ia mengirim chat tak berarti seperti itu? Hanya sekedar menanyakan hal tak penting, hanya sekedar mengatakan...ia rindu.
Tatapan Sukuna menyipit. Ia menghela nafas lelah dan meletakkan ponselnya di perut. Pada akhirnya ia tak mengirimkan pesan apapun. Sepertinya sekarang ia mengerti kenapa pacar-pacarnya yang dulu suka mengirim pesan mengenai hal-hal trivial. Hanya sekedar ingin mendengar kabar dari orang yang dicintai, meminta sedikit perhatian darinya. Mungkin mereka sendiri sadar kalau itu bisa mengganggu, tapi mereka tak bisa membendung perasaan mereka untuk sedikit lebih dekat dengan orang yang mereka sayangi. Dan sekarang Sukuna merasakan itu. Meski ego nya masih terlalu tinggi, meski ia menggunakan tameng 'takut ia sibuk' sebagai alasan ia tak mengirimkan chat pada Gojo. Pada akhirnya Sukuna mengakui kalau ego nya sendiri lah yang menghalangi untuk tak menghubungi Gojo hanya untuk menanyakan hal-hal tak berarti. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia merindukan kekasihnya itu.
"Aaahhh! Satoru brengsek!" akhirnya hanya kata itu yang terlontar dari mulut Sukuna.
.
Beberapa hari kemudian Sukuna mendapat respon dari client nya. Mereka menginginkan tambahan kolam ikan di depan rumah, jadi Sukuna harus me revisi rancangan rumah itu. Yeah, hal yang biasa terjadi sih. Masih mending itu hanya menginginkan tambahan kolam ikan. Ada juga client yang sama sekali tak puas dengan desain Sukuna dan meminta rombak dari awal untuk mencari model lain. Sudah resiko pekerjaan. Sukuna pun kembali sibuk mengerjakan pekerjaannya di depan laptop. Meski hanya menambah kolam ikan, bukan berarti bisa dikerjakan dalam waktu satu atau dua jam. Karena ia juga harus mengubah desain halaman rumah mengikuti perubahan yang akan ia lakukan. Mungkin akan butuh waktu beberapa hari.
Bzzttt...
Ponselnya bergetar halus. Sebuah panggilan masuk dari Gojo.
"Apaan?" Sukuna mengangkat telefon.
"Na, sibuk nggak?" tanya Gojo.
Sukuna menatap pekerjaannya di layar laptop. "Ada apaan emang?" ia hanya membalikkan pertanyaan, tak mau mengatakan soal kesibukannya.
"Mau makan siang bareng?" tanya Gojo.
Sukuna mengerutkan sebelah alis menatap kalender di laptop. Itu bukan hari libur padahal. "Memangnya kau nggak di kampus?" Sukuna balik bertanya.
"Ngajar ntar jam 2. Bisa makan siang di luar kalau mau."
"Ya udah sih kalau sibuk ya sibuk saja. Makan saja di kampus, ntar yang capek kau juga masih harus ngajar setelah itu."
"Tapi kangen."
"..." seketika Sukuna bungkam. Genggaman Sukuna mengerat di ponsel yang ia pegang. Kata-kata yang baginya sangat sulit ia ucapkan, terwakilkan dengan mudahnya oleh Gojo. Rasanya dada Sukuna seperti diremas. Dalam hati ia sangat bahagia mengetahui Gojo juga merasakan hal yang sama. Ternyata bukan hanya dirinya yang rindu.
Sukuna menghela nafas panjang untuk menormalkan diri. "Ya udah ayok. Makan di mana?"
"Eh, beneran?" balas Gojo terdengar kelewat senang. Mau tak mau Sukuna jadi tersenyum mendengar nada suara Gojo.
"Deket kampus mu aja, biar kau nggak jauh-jauh amat baliknya."
"Oke. Yaudah ntar aku share lokasi ya. Mmmchh!"
"..." Sukuna tak membalas hingga Gojo mematikan telefon. Tapi setelah telefon itu tertutup, Sukuna mengecup ponselnya sendiri dengan lembut. "I miss you too," lirihnya kemudian.
.
Sukuna berkendara menuju lokasi yang Gojo share, tapi sepertinya malah dia duluan yang datang ke tempat itu. Ia pun duduk di salah satu meja kosong dan memesan segelas air putih sambil menunggu Gojo datang. Tak berapa lama, beberapa orang mahasiswi datang dan duduk di belakang meja yang diduduki Sukuna. Itu memang menjelang jam makan siang, jadi tempat itu pun ramai.
"Eh, kok kau ngajak makan di tempat ini sih? Kan lumayan jauh dari kampus? Bukannya jam 1 kau ada kelas ya?" karena berada di dekat meja mereka, mau tak mau Sukuna mendengar obrolan cewek-cewek itu.
"Aku dengar, Gojo-Sensei sering makan di sini. Ya siapa tahu kan dia bakal makan siang di sini sekarang. Lumayan buat cuci mata."
"Gojo-Sensei? Oooh, dosenmu yang mantan model itu ya?"
"Aaahhh iri banget deh punya dosen ganteng."
"Iya ih, dosen di fakultas ku udah tua semua. Nggak asik."
"Eh, dia udah nikah belum sih?"
"Kayaknya sih belum. Soalnya kakak tingkat ku ada yang bimbingan skripsi sama dia kan, pernah ke rumahnya juga. Ada anaknya Sensei yang kelas 3 SMU."
"Lah, udah punya anak dong. Ya masa belum nikah?"
"Tch. Mikir lah. Ya kali anak dia udah kelas 3 SMU. Dia punya anak pas umur berapa dong. Udah pasti tuh anak bukan anak kandung dia. Terus kata kakak tingkat juga wajah anaknya sama sekali nggak mirip sama Sensei. Mungkin anak adopsi?"
"Ooh gitu. Bisa dong kita PDKT in. Barangkali dapet ya kan."
Mereka tertawa riuh.
"Eh, memangnya dia belom punya pacar? Nggak mungkin kan cogan nggak punya pacar?" mereka lanjut ngobrol sementara Sukuna memijit pelan pelipisnya. Ia ingin pindah meja tapi semuanya sudah penuh.
"Nggak tahu, mungkin punya. Tapi cogan biasanya playboy kan, jadi yang kedua atau ketiga juga rela aku," mereka kembali tertawa.
"Iya bener. Apalagi dengan ukuran dia, kujamin dia nggak bakal puas deh sama satu cewek."
"Huh, ukuran? Ukuran apaan?" mereka menurunkan suara mereka, setengah berbisik dengan penuh antusias. "Kok kau sampai tahu ukurannya, emang pernah lihat?"
"Temen kuliahku yang gay pernah sengaja ngikutin Sensei ke kamar mandi, terus pura-pura pipis di urinoir sebelahnya, sengaja biar bisa ngintip kan. Terus terus, dia cerita, kalau ukuran sensei..." mereka semakin berbisik, berkerumun sampai Sukuna tak mendengar ucapan mereka. Tapi tentu saja ia sudah tahu, karena ia sendiri yang sudah sering melihat milik Gojo dan tahu ukurannya baik saat lemas ataupun sudah berdiri.
"Eeehhh, seriuuus? Gila banget," para mahasiswi itu kembali berbisik. "Oh my God, aku nggak bisa bayangin itu masuk."
"Iya, mungkin paginya kita nggak bakal bisa jalan ya kalo abis main sama Sensei."
"Mungkin kita langsung harus ke rumah sakit buat dijahit," canda mereka dan kembali tertawa.
"Selamat datang," terdengar pelayan rumah makan menyambut saat pintu terbuka. Gojo muncul dari sana. Ia celingukan sesaat mencari-cari keberadaan Sukuna, ia tersenyum saat menemukan pria itu.
"Eh eh, beneran loh. Itu Gojo-sensei kan? Iya kan?" cewek-cewek di belakang Sukuna heboh sendiri.
"Eh, dia senyum ke arah sini nggak sih?"
"Iya loh. Eh, dia jalan ke sini. Dia jalan menuju kemari kan?"
"Oh my gosh, ini beneran? Nggak mimpi kan?"
Gojo semakin mendekat tapi lalu menuju meja di sebelah meja mereka. "Sorry, lama nunggu?" tanya Gojo seraya duduk di hadapan Sukuna. Terlihat sekali ia bahagia melihat wajah Sukuna setelah beberapa lama tak bertemu.
"Lumayan, tapi aku juga yang datang terlalu cepat," balas Sukuna. Dalam hati ia bersorak karena cewek-cewek di belakang Sukuna akhirnya diam. Sukuna mengangkat tangan untuk memanggil pelayan, mereka pun memesan makan siang mereka. Setelah pelayan pergi, Sukuna meraih ponselnya dan mengetik sesuatu.
Gojo merengut melihat itu. "Ish, jangan main HP dong. Ketemu bentaran doang juga," kesalnya.
Tapi Sukuna lalu menunjuk ke bawah, dan Gojo baru menyadari ponselnya bergetar halus. Ia meraih ponselnya, sebuah pesan masuk dari Sukuna.
'Kalau sampai kau ketahuan pacaran dengan cowok nggak masalah dengan pekerjaanmu? Di belakang ku ada mahasiswi-mahasiswi dari kampusmu.'
Gojo tersenyum membaca itu lalu menyakukan ponselnya tanpa mengetik pesan balasan. "Nggak papa. Sekarang pernikahan sesama jenis saja sudah legal kan di negara kita," ucap Gojo.
"Hee," balas Sukuna. Sepertinya ia tak perlu terlalu berhati-hati. Tapi syukurlah, tak berapa lama cewek-cewek itu pergi juga, membuat Sukuna lebih bisa bernafas lega.
"Lagi sibuk apa?" tanya Gojo memulai obrolan kecil mereka.
"Biasa lah, desain rumah orang," balas Sukuna sedikit kikuk. Ia belum terbiasa dengan obrolan ringan semacam itu. "Um, kau sendiri?" ia hanya bisa membalik pertanyaan karena tak tahu harus bicara apa. Gojo tertawa kecil sebagai respon. "Huh, apaan sih?" kesal Sukuna.
"Kok kau jadi kaku gini sih. Biasanya juga asal ceplos ngobrol nggak jelas. Kenapa kau jadi canggung begini?" tawa Gojo.
Wajah Sukuna memerah, ia malu. Apa dia terlihat se awkward itu? "Ah, diamlah brengsek! Memangnya aku harus merespon apa?!" kesal Sukuna.
"Nah gitu dong. Nggak usah canggung napa. Perasaan, kita uda kenal lama," Gojo mencubit kecil pipi Sukuna yang masih memerah.
"Tch! Uruse," Sukuna menampik tangan Gojo dan membuang muka.
Pesanan mereka datang beberapa saat kemudian. Mereka pun menyantap makan siang mereka.
"Terus, kau ada waktu lagi kapan? Sabtu depan gimana? Atau Minggu?" tanya Gojo di tengah acara makan mereka.
"Nggak tahu. Coba lihat nanti deh," balas Sukuna.
"Chee, jangan gitu dong. Luangin waktu lah sebelum kau pergi."
"Huh, pergi?"
"Iya, biasanya kau bakalan mengawasi jalannya pembangunan proyek kan. Luangin waktu lah sebelum itu."
"..." Sukuna tampak berpikir. Benar juga ya. "Ya udah, minggu depan kuusahakan. Tapi hari nya belum pasti."
"Oke deh. Kabari saja nanti," balas Gojo.
Sukuna melanjutkan makan dengan sedikit berpikir. Gojo sama sekali tak membahas soal balasan chat nya yang singkat, atau mengomel karena Sukuna tak pernah menghubungi dulu. Tadi ia juga mengatakan 'kabari saja nanti' seolah hal yang biasa.
"Kenapa? Nggak enak?" tanya Gojo melihat Sukuna hanya memain-mainkan makanannya.
"Bukan itu," Sukuna melanjutkan makan. Ia terdiam sesaat menyiapkan kata-kata. "Kau...nggak masalah dengan aku yang jarang menghubungi atau hanya membalas singkat chat mu?" akhirnya Sukuna menanyakan itu. Sempat terdiam sesaat, Gojo terkikik kecil setelahnya. "Apanya yang lucu, bangsat!" Sukuna jadi kesal sendiri.
"Nggak, bukan apa-apa," balas Gojo masih setengah tertawa. "Eh, kau bawa mobil kan?" ia malah mengalihkan pembicaraan. Sukuna mengangguk. "Nanti anterin ke kampus ya."
Sukuna mengerutkan sebelah alis. "Lah kau nggak bawa mobil ke kampus? Tadi ke sini naik apa?"
"Bawa ke kampus, tapi tadi ke sini pesan transportasi online. Biar baliknya bisa minta dianter kamu."
Blush...!
Lagi, wajah Sukuna bersemu dibuatnya, ia pun terpaksa mengalihkan pandangan dan dengan kikuk meminum jus jeruk yang ia pesan, langsung dari gelasnya. Meski kemudian ia baru sadar kalau ada sedotan di gelas tersebut.
"Aaah, kusooo," umpat Gojo sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Ketawa aja teruuuss, sampai puas!" kesal Sukuna menyadari kebodohan yang ia lakukan gara-gara salah tingkah.
"Baaka, bukan begitu," Gojo menurunkan tangan nya, memperlihatkan wajahnya yang ternyata juga merona. "Kau kenapa jadi manis begini sih. Aku ingin menciummu sekarang juga."
"Uhuk!" Sukuna langsung tersedak mendengar itu. Wajahnya semakin memerah. Untuk beberapa lama mereka melanjutkan makan dalam diam dan suasana yang awkward. Mereka pun cepat-cepat menghabiskan makanan mereka supaya bisa terbebas dari suasana awkward itu.
"Langsung anter balik yok," ucap Gojo begitu mereka selesai makan.
Sukuna mengernyit heran, padahal baru jam 1 lewat sedikit, sementara Gojo bilang ia akan mengajar jam 2 nanti. Perjalanan dari tempat itu ke kampus paling sekitar 15 menit pakai mobil. Jadi harusnya masih ada waktu. Well, mungkin Gojo ada pekerjaan lain atau apa, akhirnya Sukuna mengangguk meng iya kan. Hanya saja tadi kan Gojo sempat bilang kangen padanya, tapi malah sekarang cepat-cepat ingin pergi, tak mengobrol lebih jauh dengan Sukuna.
Mereka pun berjalan menuju tempat parkir. Sukuna menekan kunci mobil nya, terdengar suara bip khas mobil tanda mobil itu sudah tak terkunci. Gojo yang berdiri di belakang Sukuna, malah mendahului membuka pintu belakang mobil, lalu menarik Sukuna ke sana.
Brug...!
Gojo sedikit membanting pintu mobil supaya tertutup. Tanpa kata, ia langsung mendekap tubuh Sukuna dan mencium bibirnya. Mata Sukuna terbelalak mendapat perlakuan mendadak begitu.
"Kau menguji kesabaranku," ucap Gojo tertahan seolah sedang menahan diri. Ia kembali mencium bibir Sukuna, kali ini memagut bibirnya dengan rakus.
"Mnnh..." perlahan Sukuna memejamkan mata menikmati ciuman itu. Tangannya yang memegang lengan Gojo berganti memeluk lehernya. Cukup lama mereka berciuman, hingga tangan Gojo mulai nakal meremas dada Sukuna.
"Hei, nggak ada waktu untuk ini. Kau harus mengajar jam 2 nanti kan," cegah Sukuna meraih tangan Gojo yang menggerayangi tubuhnya.
"Sebentar saja," Gojo sepertinya tak peduli. Nafasnya memburu, ia menciumi leher Sukuna, dan tangannya melanjutkan meremas dada Sukuna. Di luar terdengar obrolan orang-orang yang menuju arah mobil mereka, beberapa mobil tampak juga memasuki area parkiran itu.
"Seriusan, nggak bisa Satoru. Ini tengah hari, di tempat umum begini," ucap Sukuna. Gojo sepertinya juga menyadari itu, ia pun menghela nafas lelah dan menghentikan kegiatannya. Ia mengubah posisi duduk bersandar ke kursi, lalu menarik Sukuna ke pangkuan, memeluknya seperti koala. Sukuna juga balas memeluk, merilekskan kepala di pundak Gojo. Wajahnya sedikit memanas saat merasakan benda keras di selangkangan Gojo. Sepertinya ia sudah ereksi sejak tadi.
Sukuna diam saja mendengarkan nafas Gojo yang masih terengah, tengah berusaha menenangkan diri. Perlahan nafas Gojo mulai tenang, ia mengusap rambut Sukuna dan mengecup belakang kepala nya.
"Tadi kau menanyakan soal apa aku tidak marah kau jarang menghubungi dan membalas singkat chat ku," ucap Gojo.
"Hng," Sukuna hanya menggumam tak jelas.
"Well, sebenarnya sedikit kesal sih. Tapi aku tahu kau orang yang seperti apa. Jadi aku sadar kau nggak mungkin langsung berubah dalam waktu singkat hanya karena status kita sudah pacaran sekarang. Lagipula kalau memang character mu sudah seperti itu dari sana nya, justru aku yang aneh kalau berharap kau berubah hanya karena aku."
"..." Pelukan Sukuna mengerat. "Sebenarnya...aku juga ingin menghubungi. Tapi tidak tahu harus bicara apa. Takutnya mengganggu kesibukanmu juga."
Gojo tertawa kecil. "Ya apa saja kan bisa. Mengirim chat soal hal nggak penting juga nggak masalah. Kita sudah pacaran, tidak perlu lagi cari-cari alasan untuk sekedar ingin menghubungi," Gojo kembali mengecup kepala Sukuna. "Soal kesibukan, ya kita kan sama-sama sudah kerja, tau sendiri kerjaan itu seperti apa. Jadi asal kirim saja, kan bisa dibalas nanti saat sedang tidak sibuk. Waktu itu juga sama kan, aku chat jam berapa, kau balas jam berapa. Nggak masalah."
Sukuna melepas pelukan demi menatap wajah Gojo. Gojo tersenyum lalu menyatukan dahi mereka. "Makanya, sesekali hubungi aku dong. Jangan aku terus yang duluan. Aku juga ingin dapat chat dari pacarku."
"Iya. Lain kali deh kalau aku minat," balas Sukuna.
"Chee, dasar," Gojo kembali menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman lembut. Ia lalu memeluk tubuh Sukuna dan mulai merengek. "Aaaahh aku ingin melakukannyaaaa," ucap Gojo frustasi.
"Ya sudah, bolos mengajar saja kau nanti."
"Mana bisa begitu!"
"Kalau begitu berhenti merengek!" Sukuna menjitak kepala Gojo.
"Itte."
Setelah itu Sukuna pun mengantar Gojo sampai kampus. Kemudian barulah ia pulang, kembali pada pekerjaannya.
.
~OoooOoooO~
.
Jiiiitttt...
Sukuna memandang lama ponsel di hadapannya. Ia ingin mengirim pesan pada Gojo, tapi masih belum bisa memutuskan mau mengatakan apa. Kerjaannya sudah selesai saat ini, sedang menunggu respon client. Jadi dia sedang santai, makanya ingin mengirim pesan. Tapi sudah sekitar 30 menit ia belum mengetik apapun.
"Aaahh menyebalkan," ucapnya frustasi. Ia pun bangkit dari ruang kerja nya menuju dapur untuk mencari cemilan. Saat ia kembali, ia melirik Yuuji yang berada di ruang tengah dengan beberapa buku terbuka, tapi ia sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memegangi ponsel.
"Woy!" Sukuna sengaja mengagetkan.
"AARGH-..." Yuuji nyaris menjatuhkan ponselnya. "Ah, Nii-san!" kesal Yuuji.
"Lagi ngapain? Belajar kok malah main HP."
"Lagi break sebentar. Capek juga belajar terus."
"Chattingan sama Megumi?"
Yuuji mengangguk. Sukuna sempat terdiam sesaat. "Kalau chat sama Megumi, memangnya biasa ngobrolin apa?"
"Dih Nii-san kepo," goda Yuuji.
"Tch, pelit amat. Cuma nanya topik nya, nggak lagi interogasi juga," Sukuna menjitak pelan kepala Yuuji.
"Ya apa saja kan, kayak ngobrol biasa saja. Kadang ya penting sih, kayak nanya soal atau pelajaran yang belum ku mengerti. Tapi banyakan ya cuma nanya lagi ngapain, atau sekedar ngasih tau menu makan malam. Atau kalo nemu meme lucu di internet."
"Astaga, nggak penting banget deh."
"Aaahh berisik deh. Memangnya ngobrol sama pacar harus hal penting terus apa. Suka-suka aku dong."
"Yee sewot. Becanda doang," Sukuna mengacak rambut Yuuji lalu kembali ke kamar. "Hmm...menu makan malam ya. Atau meme," gumam Sukuna. Ia kembali menghampiri ponsel. Tapi makan malam sudah lewat jauh, kayaknya bakal aneh membahas menu makan malam. Memes? Kayaknya norak saja tiba-tiba mengirim memes yang nggak tahu bakal lucu atau nggak menurut Gojo. Sukuna menghela nafas lelah sembari membuka bungkus cemilan di tangannya. Ia berhenti sejenak menatap cemilan itu.
"Oh," ucapnya kemudian. Ia lalu mengambil ponsel dan memotret cemilannya. Ia mengirim foto itu pada Gojo. 'Ngemil,' hanya itu caption yang Sukuna tulis. Beberapa detik ia terdiam menatap centang dua di foto yang barusan ia kirim. Ia sedikit menyesali itu. Apa captionnya tak terlalu pendek? Memangnya ia berharap Gojo membalas apa hanya dengan sebuah foto dan caption absurd begitu?
"Aaahhh bodo ah," kesal Sukuna pada akhirnya. Ia pun duduk di tepi ranjang sambil memakan cemilan itu.
Kling...
Tak berapa lama Gojo membalas. Sukuna cepat-cepat membuka chat dari Gojo.
'Nggak suka yang asin. Suka yang manis,' Gojo balas mengirimkan foto permen coklat warna-warni.
'Woy, udah malem. Makan manis terus. Nggak sehat,' balas Sukuna.
'Mana ada cemilan sehat mau malem atau siang. Cemilan di tanganmu itu juga nggak sehat tauk. Awas kolestrol ossan.'
Sukuna tertawa kecil membaca itu. Ia mengetik balasan dengan bersemangat. Tanpa ia sadar, obrolan mereka mengalir begitu saja. Sepertinya tak sesulit yang Sukuna bayangkan untuk sekedar mengobrol dengan pacarnya itu.
.
~OoooOoooO~
.
Hari Minggu akhirnya Sukuna menyanggupi ajakan kencan Gojo meski ia bilang ada urusan sebelum acara kencan. Sukuna meminta bertemu di sebuah food court di depan sebuah Mall sekitar jam 1 siang. Gojo pun menurut saja.
Setelah memarkir mobil, Gojo berjalan menuju food court yang dimaksud. Di kejauhan ia melihat siluet berambut putih yang ia kenali. Benar saja, Uraume. Ia melambai saat melihat Gojo seolah menyuruh untuk mendekat.
"Di sini. Sukuna-sama menyuruh menunggu di sini," ucap Uraume. Meski sedikit merasa aneh, Gojo pun duduk satu meja dengan Uraume. "Mau pesan sesuatu? Sukuna-sama bilang mungkin 15 menitan lagi baru datang."
"Yeah, kurasa," ucap Gojo. Ia memesan float vanilla sementara Uraume memesan lemon tea. Mereka berdua diam tanpa obrolan, rasanya aneh sekali. "Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau kerja dengan Sukuna?" obrol Gojo meski ia sudah dengar ceritanya dari Sukuna. Ia hanya ingin memecah keheningan yang sangat canggung itu.
"Sejak awal," ucap Uraume. "Sejak di kampus kami sudah bersama. Aku mengagumi nya sejak awal. Pemikirannya luas sekali, dan desain yang ia ciptakan benar-benar out of the box. Rasanya fresh setiap kali melihat rancangan desain yang Sukuna-sama buat. Benar-benar tak terpikir sebelumnya. Bahkan para dosen juga memuji nya. Meski ia terlihat kasar dan galak, padahal aslinya dia sangat baik. Mungkin dia terlihat cuek, tapi sebenarnya dia hanya tidak tahu cara mengungkapkan perasaan. Kebanyakan ia menunjukkannya lewat tindakan daripada ucapan."
Twitch...twitch...!
Alis Gojo berkedut sebelah mendengar ocehan panjang lebar Uraume. Padahal ia hanya bertanya singkat, tapi Uraume malah seperti mendeskripsikan sebuah makalah. Lagipula apa-apaan deskripsinya itu. Bukankah itu seperti ia memuja Sukuna? Apa sebenarnya dia menyukai Sukuna, hanya saja Sukuna yang kelewat nggak peka, sehingga selama ini ia tak menganggap perasaan Uraume? Well, mengingat betapa bebal nya dia dulu saat Gojo memberikan hints bahwa ia cemburu, sepertinya hal itu mungkin saja terjadi. Gojo meminum floatnya untuk menenangkan diri. Ia lalu memainkan sendok kecil di gelas untuk melelehkan sebagian es krim di float itu.
"Sepertinya kau sangat menyukai Sukuna ya," ucap Gojo basa-basi.
"Ahahah apa sejelas itu ya."
"UHUK!" Gojo langsung tersedak. Ia menatap Uraume dengan pupil bergetar. Uraume tampak menyentuh wajahnya yang kini merona, matanya terpejam dan bibirnya menyunggingkan senyum. Gojo menghela nafas dalam-dalam. Sepertinya benar apa yang dia pikirkan. Sukuna itu sangat tidak peka, super duper dense, bisa saja selama ini dia tidak sadar kalau Uraume menyukainya. Bahkan mungkin sejak awal kuliah. Lagipula siapa juga yang mau menempel pada manusia sepertu Sukuna, menemani nya dari 0, kalau bukan karena suka?
'Sukuna Temeeee,' teriak batin Gojo.
"Ka-kalau begitu kenapa tidak pacaran dengannya?" tanya Gojo. Ia meraih gelas dan minum langsung tanpa sedotan. Tangannya terlihat sedikit gemetar hingga gelas itu bergoyang.
'Tenanglah brengsek,' batin Gojo. Meski kalau dipikir lagi bagaimana ia bisa tenang? Tergantung jawaban Uraume, mungkin Gojo harus melepaskan Sukuna. Yeah, mungkin tidak masalah, mumpung mereka belum lama pacaran, jadi belum terlalu dalam hubungan mereka. Tapi tetap saja kan?! Aaaaahhhhh...
"Huh? Pacaran?" balas Uraume.
"Iya, ehm," Gojo berdehem saat mendengar suaranya sendiri yang sumbang. "Iya," ia mengulang. "Kau bilang kau menyukai Sukuna. Kenapa kalian nggak pacaran saja," berusaha setenang yang ia bisa.
"Nggak, bukan rasa suka yang seperti itu," Uraume mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.
"Eh?"
"Hmm...suka seperti apa ya," Uraume tampak berpikir, memegang dagunya dengan satu tangan. "Mengagumi? Tapi sepertinya terlalu rendah. Mengagungkan? Tapi sepertinya terlalu tinggi. Umm...mungkin memuja nya? Kau tahu, mungkin kalau di cerita fiksi, dia adalah raja iblis, dan aku adalah orang yang selalu setia kepadanya selama ribuan tahun. Seperti itu. Hahahaha, sepertinya keren juga."
Gojo sweatdrop mendengar penuturan Uraume. Bisa dipastikan orang ini level aneh nya mungkin di atas Sukuna. Syukurlah tak lama kemudian Sukuna datang, jadi Gojo tak lagi harus melayani obrolan aneh Uraume.
"Ah, Sukuna-sama," sapa Uraume saat Sukuna menghampiri. Terlihat sekali bahwa ia sangat bahagia hanya dengan melihat wajah Sukuna.
"Yo, makasih sudah datang. Sorry ngrepotin," ia melemparkan kunci mobil pada Uraume. "Aku sudah e-mail kan pembagian pekerjaannya. Untukmu dan Mahito juga. Nanti konsultasikan padaku kalau ada yang perlu."
"Baik," balas Uraume sopan. Setelah itu Uraume pun pamit.
Sukuna duduk di kursi sebelah Gojo lalu seenaknya meminum float Gojo.
"Dia datang hanya untuk ini?" ucap Gojo.
Sukuna mengangguk. "Ya habis kau juga bawa mobil kan. Terus mobilku masa ditinggal di sini, atau malah kita kencan bawa mobil sendiri-sendiri. Nggak asik banget."
"Ya dari awal kenapa juga kau bawa mobil? Ke sini naik taxi atau transport online kan bisa."
"..." Sukuna mematung sesaat mendengar itu. Apa jangan-jangan dia nggak kepikiran untuk melakukan itu? Astaga. "Aahh, sudahlah. Ayo pergi. Jadi kencan nggak sih," kesal Sukuna sementara Gojo hanya bisa geleng-geleng kepala.
Gojo pun bangkit dan berjalan bersebelahan dengan Sukuna. "Memangnya kita mau ke mana?" tanya Gojo. Seketika Sukuna menghentikan langkah.
"Memangnya kau belum memikirkan kita bakal ke mana?" ia balas bertanya.
"Belom. Lah aku nggak tau kau suka nya apa, biasa hang out ke mana. Ntar udah aku planning ternyata kamu nggak suka, percuma juga."
"Biasanya kalau sama pacar, kau kencan ke mana?"
"Ke salon. Atau ke mall nemenin belanja. Emang kamu mau?"
"..." Sukuna menatap horror ke arah Gojo.
"Ya makanya. Tentuin bareng lah kita mau ke mana. Biar sama-sama have fun," Gojo mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Sukuna yang turun ke dahi. Ia tersenyum melihat Sukuna sedikit salah tingkah.
"Hng..." Sukuna mengalihkan pandangan, menatap ke arah Mall. "Timezone? Kayaknya kekanakan banget deh buat seusia kita. Bioskop?" ia menatap Gojo, tapi baru ingat Gojo nggak bisa nonton bioskop. "Geez, ke mana dong."
Gojo menghela nafas panjang dan tampak berpikir. "Mau bowling? Atau batting cage?"
Sukuna menyeringai mendengar itu. "Batting Cage," ia menjentikkan jarinya. Setelah itu mereka pun berjalan menuju parkiran, dan meninggalkan tempat itu menuju salah satu Batting Center. Mereka memesan dua batting cage yang bersebelahan supaya bisa sambil ngobrol.
Gojo melepaskan coat dan kemeja, menyisakan kaos putih ketat yang membentuk sempurna lekuk tubuhnya. Sementara Sukuna hanya melepas coat, menggulung selengan kemeja ketat yang ia pakai.
"Mau saingan nggak?" ucap Gojo.
Sukuna menyeringai. "Siapa takut," balasnya.
Mereka pun mengatur pitching machine mereka dengan kecepatan sama, lalu mulai memukul bola-bola yang mengarah ke mereka dengan baseball bat.
.
Menjelang pukul 4 barulah mereka keluar dari batting cage, berjalan keluar cage menenteng pakaian mereka.
"Hahahaha aku menang," Sukuna menyeringai puas.
"Iya deh iya," Gojo meng iya kan. Mereka menghampiri kursi panjang yang masih di dalam area cage itu untuk istirahat, menikmati sejuknya pendingin ruangan sambil menatap orang lain yang masih bermain di cage mereka.
"Fuah, panas banget," ujar Sukuna sembari mengibas-ngibaskan kemeja nya yang basah oleh keringat.
Gojo tersenyum menatap itu. "Sexy," komentarnya menatap tubuh Sukuna yang jadi terlihat cukup jelas.
Sukuna balas menyeringai. Ia sengaja menarik naik sedikit kemeja nya, memperlihatkan perutnya yang six pack. "Sange?" godanya.
"Banget," balas Gojo setengah tertawa.
"Mau cari hotel?" Sukuna mengenakan kembali coat nya.
"Yaelah Na, baru jam segini udah cari hotel," Gojo ikutan memakai kemeja nya lalu coat.
"Ya nggak papa. Sekalian mandi juga. Baju biar di dry-clean di hotel. Terus malem kita baru lanjut kencan."
Karena merasa sangat gerah, akhirnya Gojo setuju. Mereka pun menuju ke parkiran lalu berkendara untuk cari hotel. Selama perjalanan, Sukuna menatap ke luar jendela sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Apaan sih. Segitu senengnya menang dariku?" ucap Gojo menatap Sukuna yang cengengesan nggak jelas.
"Oh iya dong. Dasar lemah," balas Sukuna songong.
"Hmm yaudah. Kapan-kapan bowling deh. Kujamin kau yang bakal kalah."
Sukuna tertawa keras mendengar itu. Ia lalu menyalakan musik dan mulai bernyanyi nggak jelas mengikuti lagu yang ia putar. Gojo ikut-ikutan karaoke gaje sambil menyetir menuju tujuan mereka.
Sebenarnya bukan kemenangan itu yang membuat Sukuna senang sampai sebegitunya. Ia senang karena baru kali ini begitu menikmati kencan dengan pacar. Seingatnya dulu saat punya pacar, ia sering BT pergi bersama ceweknya. Sama seperti yang Gojo bilang sebelum ini, menemani ke salon, atau berbelanja. Pokoknya ke tempat favorit cewek Sukuna. Sedangkan saat Sukuna mengajak ke tempat yang ia suka, biasanya ceweknya akan BT terus selama di sana. Baru kali ini ia kencan ke tempat di mana ia dan pacarnya sama-sama have fun.
Karena itu lah, Sukuna masih terbawa suasana dan senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan.
"Next time, ke tempat bowling kan," ucap Sukuna. Ia tak sabar menantikan kencan selanjutnya dengan Gojo. "Ah, lain kali main bilyard juga gimana? Atau mini golf?"
"Boleh saja. Atau sekalian taruhan. Nanti yang kalah bayarin makan," balas Gojo.
Sukuna kembali tertawa. "Bisa bisa. Nah, berarti kali ini kau yang bayarin makan ya."
"Iya sayang," balas Gojo yang langsung membuat Sukuna bungkam dan salah tingkah. Gojo tertawa puas melihat itu.
"Dasar curang!" omel Sukuna dengan wajah memerah, ia kembali menatap ke luar jendela.
"Emang," balas Gojo santai. Ia menyempatkan untuk membelai rambut Sukuna singkat, lalu kembali konsentrasi ke jalanan.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
