Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak buat SiloidBlue, kokorocchi, and emperor it's me yang udah yempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Gojo menyerahkan pakaiannya dan pakaian Sukuna ke petugas hotel untuk dibersihkan sementara ia memakai piyama hotel. Setelah membiarkan petugas hotel itu pergi, ia kembali masuk kamar dan melepas piyama. Ia menyusul Sukuna yang berada di kamar mandi. Pria itu tengah mengguyur badannya di bawah shower. Gojo masuk, memeluknya dari belakang. Ia sengaja menggesekkan selangkangannya di antara belahan bokong Sukuna.

"Nggak ah, jangan di kamar mandi. Nggak nyaman tempatnya," tolak Sukuna.

"Geez, jahat amat. Udah pengen," rengek Gojo.

"Ya udah, buruan mandi nya terus lakukan di kamar," Sukuna menyelesaikan mandi lalu memakai bathrobe.

"Ah, dasar menyebalkan," kesal Gojo. Sukuna hanya menjulurkan lidah sembari meninggalkan kamar mandi, sementara Gojo melanjutkan mandi nya.

Tak berapa lama Gojo muncul dari kamar mandi tanpa mengenakan selembar kain pun. Tubuhnya juga masih basah tanpa dilap. "Keringin," ucap Gojo.

Twitch!

Kedutan kesal nangkring di pelipis Sukuna. Padahal dulu ia yang berniat seperti itu, tapi belum kesampaian malah Gojo duluan yang melakukannya. "Ogah!" kesal Sukuna.

"Tch! Pelit amat," Gojo menubruk ke arah Sukuna hingga Sukuna terbaring ke ranjang.

"Heeii awas awas. Badanmu basah begini nanti kasurnya lembab—...hahahaha hahahaha," Sukuna tertawa karena Gojo mulai menggelitikinya.

"Ya kalo gitu keringin badanku," ulang Gojo.

"Iya deh iyaaa. Tch, bawel banget sih," Sukuna pun menyalakan hairdryer dan mengarahkannya ke rambut Gojo.

"Masa rambutku doang. Badanku juga dong."

Sukuna mengarahkan hairdryer nya ke arah badan Gojo.

"Ya kali pakai hairdryer jugaaa. Pake handuk lah, pake bathrobe kek!" omel Gojo tapi Sukuna hanya tertawa lalu malah mengarahkan hairdryer nya ke selangkangan Gojo. "Oi! Panas, sialan!" Gojo berusaha merebut hairdryer itu tapi Sukuna berkelit.

"Mengeringkan rambutmu kan. Tuh di situ juga ada rambut," ledek Sukuna.

"Ah, dasar kau ini!" Gojo terus berusaha merebut hairdryer di tangan Sukuna meski ia terus mengelak. "Panas ih, Sukunaaa!" akhirnya mereka rebutan nggak jelas. Sampai-sampai posisi mereka berubah absurd tak karuan. Pada akhirnya Gojo berhasil merebut hairdryer itu lalu menarik tubuh Sukuna tengkurap di pangkuannya. Ia lalu menyalakan benda itu, mengarahkannya ke bokong Sukuna.

"Satoruuuu, panas brengsek!" omel Sukuna. Giliran Gojo yang tertawa puas. Ia bahkan membuka belahan bokong Sukuna, mengarahkan hairdryer itu ke lubang Sukuna. "Oiii, sialan!" Sukuna terus berontak dan berakhir dengan Gojo menindih tubuhnya untuk mengunci pergerakan. Gojo tertawa pelan menatap Sukuna. Ia menjatuhkan hairdryer yang ia pegang lalu berganti memegang telapak tangan Sukuna, menautkan jari mereka. Gojo juga menurunkan wajahnya untuk mencium bibir Sukuna, mengecupnya hingga menimbulkan decak basah. Sukuna memejamkan mata menikmati ciuman mereka. Kakinya terangkat lalu memeluk tubuh bawah Gojo, menguncinya.

Gojo menumpukan lutut ke ranjang lalu mendorong maju, menggesekkan kejantanannya dengan lubang Sukuna. Gojo melepas ciuman, menatap wajah Sukuna sesaat sebelum menurunkan wajahnya ke leher Sukuna, menciumi di sana beberapa lama. Sukuna mendongak menerima perlakuan itu. Gojo semakin turun hingga ke dada Sukuna, mengulum nipple Sukuna yang kenyal. Ia memain-mainkan benda itu dengan lidahnya, menggigitnya kecil beberapa kali, lalu kembali mengulumnya. Ia merasakan tubuh Sukuna menggeliat nikmat di bawah tubuhnya, membuat libido Gojo makin naik. Ia beralih menurunkan lidah hingga ke perut Sukuna, bermain sejenak di pusarnya, Sukuna menjambak rambut belakang Gojo untuk menahan diri.

Gojo semakin menurunkan kepalanya, ia menjilat rambut kemaluan sukuna, sedikit menariknya dengan mulut, sebelum akhirnya ia menjilat penis Sukuna yang sudah tegak. Ia menjilat batang penis Sukuna, menikmati denyutan di kemaluan Sukuna itu. Ia mengulum benda itu beberapa lama, lalu beralih mengocoknya dengan tangan.

"Ngh...Satoru, stop. Ahh...nn, aku belum ingin klimaks," ucap Sukuna. Gojo pun menurut. Ia berhenti memainkan penis Sukuna, lalu mendorong paha Sukuna naik. Ia beralih menjilati pintu lubang Sukuna.

"Kering banget," komentar Gojo.

"Siapa juga yang nyuruh blow pake hairdryer," omel Sukuna. Gojo tertawa kecil mendengar itu. Ia menjilat lubang Sukuna, membuat lubang pink itu berkedut tak nyaman. Rasanya Gojo ingin langsung menghujam masuk. Kejantanannya sudah berdenyut sejak tadi, ingin merasakan lubang milik Sukuna.

"Na, pengen masuk," ujar Gojo.

"Baaka, mana muat. Persiapkan dulu," protes Sukuna.

"Udah nggak tahan. Salah sendiri kau terus menolakku," Gojo menegakkan badan, memajukan tubuh bawahnya supaya menyentuh lubang Sukuna.

"Huh! Waktu itu kan kau sendiri yang ada kerjaan. Bukan salahku menolak!"

"Iya, tapi kita batal kencan terus. Aku nggak tahan lagi," Gojo menuntun penis nya ke lubang Sukuna, lalu mendorong masuk.

"Ngh...sudah kubilang nggak akan...ahh, ma...suk.. " Sukuna mendongak saat merasakan kepala penis Gojo memaksa menerobos lubangnya.

"Ugh...sempit...ahh, ngilu, sialan," Gojo pun menarik kembali penis nya.

"Hosh...hosh...kau ini nggak dengerin orang ngomong," omel Sukuna.

Gojo manyun lalu menarik Sukuna bangun, mendorong kepala Sukuna ke selangkangan nya. "Lakukan sesuatu selama aku mempersiapkan lubangmu."

Sukuna menyeringai. "Awas saja kalau kau keluar duluan," ucapnya lalu meraih batang kejantanan Gojo dengan tangan, mengocoknya. Lidah Sukuna menjilat kepala penis Gojo. "Nnh.. " Sukuna mengerang saat merasakan jemari Gojo menyentuh lubangnya, lalu perlahan masuk dan melebarkan lubang Sukuna.

Sukuna malah jadi tak bisa konsentrasi memanja penis Gojo karena merasakan lubangnya dimasuki jemari Gojo. Jari-jari panjang dan ramping itu bermain di dalam lubang Sukuna, menyentuh titik-titik sensitive nya, tubuh Sukuna bergetar halus karena itu. "Ngh...a-aahh..." erang Sukuna pelan. Penis Gojo yang ada di depan wajahnya ia biarkan menempel di pipi, tapi tak melakukan apapun pada benda itu.

"Sukuna-chan, ayo lakukan sesuatu," goda Gojo. Ia menyeringai dan menarik dagu Sukuna supaya wajah itu mendongak. Gojo menggerakkan penisnya menggesek bibir Sukuna, tapi tangannya tak berhenti bermain di lubang Sukuna. Sukuna membuka mulutnya, berusaha menjilat penis Gojo, tapi kembali menunduk saat lubangnya dipermainkan dengan lihai oleh Gojo.

"A-aahhhn...Sa-Satoru..." ucap Sukuna terengah. "Masukkan, cepat..." pintanya.

"Nanti, aku belum selesai melebarkannya. Nanti aku belum bisa masuk lagi," seringai Gojo. Sebenarnya dia sudah ingin masuk, tapi melihat ekspresi Sukuna, ia jadi ingin menggoda pacarnya itu.

"S-sudah...cukup kan...ahh," desah Sukuna. Dengan tubuh bergetar halus ia bangun. Wajahnya memerah dan matanya sedikit berair. Ia naik ke pangkuan Gojo, melingkarkan lengannya ke pundak Gojo. "Cepat...masukkan..."

"Kau ini sangat tidak sabaran," goda Gojo.

"Urusai," Sukuna menarik belah bokongnya sendiri, sementara Gojo menuntun kejantanannya menuju lubang Sukuna. Tubuh Sukuna perlahan turun, menelan penis Gojo hingga setengah. Ia terengah dan berpegangan ke pundak Gojo. "Kenapa kau besar sekali sih, sialan!" omel Sukuna. "Kalau sudah lama nggak melakukan jadi nggak bisa langsung masuk semua."

Gojo menyeringai, meraih wajah Sukuna dengan kedua telapak tangannya. "Tapi kau suka kan," Gojo mengeliminasi jarak wajah mereka, menggigit kecil bibir Sukuna, lalu memagutnya. Tubuh Sukuna bergerak naik turun perlahan hingga akhirnya penis Gojo masuk secara keseluruhan. "Nnh..." Sukuna mengeratkan lubangnya saat merasakan sweetspot nya tersentuh. Detik berikutnya ia bergerak semakin cepat menikmati kejantanan Gojo yang menyentuh titik sensitive nya di dalam sana. "Mmn... nnn, Sukuna menjilat lidah Gojo tanpa berhenti bergerak. "Ahhhh—..." ia mengerang keras saat Gojo memilin nipple nya. "Nnh...aahh...Satoru, Satoru..." Sukuna menyuarakan nama itu seiring gerakannya yang bertambah cepat.

"Hmn..." Gojo menatap wajah Sukuna yang tampak keenakan menikmati aktivitas mereka. Penis Gojo kian membesar menatap wajah manis itu.

"A-ahh...ba-baka, jangan bertambah besar lagi," protes Sukuna. Lubangnya mengerat merasakan benda itu membesar di dalam tubuhnya.

"Ssshh...aku sudah tidak tahan," akhirnya Gojo menyerah. Ia mendorong tubuh Sukuna hingga terbaring ke ranjang, lalu segera memasukinya dengan brutal.

"NGH, AAAHH…AAHH..." Sukuna memekik keras. Seketika sperma keluar dari ujung kejantanannya. Sukuna mencengkeram sprei karena Gojo masih belum berhenti menghujam lubangnya. "Satoru...Satoru..." panggil Sukuna beriringan dengan suara kulit mereka yang saling beradu.

"Ngh, Suku—...na, ahhh..." Gojo mendongak saat akhirmya ia mengeluarkan sperma di dalam lubang Sukuna. Nafasnya terengah, ia menundukkan tubuh untuk mencium Sukuna. "Mnnch, mnh..." decak basah mengisi ciuman mereka. Tanpa sadar penis Gojo kembali tegak di dalam lubang Sukuna, dan mereka pun lanjut ke ronde selanjutnya.

.

Mereka mandi lagi setelah aktivitas ranjang mereka. Dengan sedikit paksaan Sukuna mau mandi bersama, berada di satu shower. Gojo memanfaatkan kesempatan itu untuk memeluk Sukuna dan meminta ciuman, menimbulkan decak basah yang menggema di kamar mandi.

"Sudah kubilang aku tidak mau melakukannya di kamar mandi," protes Sukuna karena pada akhirnya penis mereka sama-sama tegak.

"Ayolah, hanya sebentar kan," Gojo memaksa. Ia menciumi leher Sukuna, membuat pria itu pasrah. Gojo mengangkat satu paha Sukuna, lalu melakukan penetrasi sambil berdiri. Sukuna berpegangan ke tembok hanya dengan satu tangan, satu kaki menumpu berat tubuhnya, satu kaki naik ke paha Gojo, dipegangi olehnya.

"Hngh...ahh, mn," Gojo mendesah seraya menghujam masuk lubang Sukuna dengan kuat. Ia memeluk tubuh Sukuna, lalu kembali meminta ciuman tanpa menghentikan penetrasi. Satu tangannya mengocok penis Sukuna dengan cepat, tak berapa lama cairan panas Sukuna keluar membasahi tangannya. Gojo mempercepar gerakan, ia juga ingin klimaks. Ia menyodok kuat, dan beberapa saat kemudian keluar di dalam lubang Sukuna, sebagian sperma nya mengalir keluar lubang dan tersapu guyuran air dari shower.

Setelah itu barulah mereka benar-benar membersihkan diri dan menyudahi acara mereka di hotel itu.

"Mau makan malam di mana nih," tanya Gojo, memasuki mobil dan duduk di belakang kemudi. Sukuna masuk, duduk di kursi sebelahnya.

"Di...mana ya," Sukuna juga belum memutuskan. "Ssshh..." ia mendesis perih dan duduk pelan-pelan. Gojo meraih bantal duduk di kursi belakang dan memberikannya pada Sukuna. "Nggak usah ah, apaan sih!" Sukuna menampik tangan Gojo, tapi ia mengalihkan wajahnya yang sedikit bersemu.

"Udah pake aja napa si," Gojo mengacak rambut Sukuna. Sukuna pun menurut dan menggunakan benda itu sebagai alas duduk. Gojo mulai melajukan mobilnya pelan ke jalan raya. "Hng...makan di Horizon mau nggak?" tanya Gojo.

"Huh, Horizon? Gila saja kau. Nggak ada duit aku," protes Sukuna.

"Ya ambil yang kelas dua atau tiga aja biar nggak mahal-mahal banget."

"Nggak nggak nggak, makan di restaurant biasa aja."

"Ya lagian aku yang bayarin. Kan aku kalah taruhan di baseball cage tadi."

"Nggaak, pokoknya nggak mau. Ntar giliran aku yang kalah taruhan, kau minta di tempat mahal juga."

"Ya nggak lah, terserah kamu mau ngajak makan di mana. Ya sekarang aku yang bayarin terserah aku lah mau bayarin makan di mana."

"Bodo ah, hemat napa sih. Bentar lagi Megumi kuliah kan, bakal butuh banyak duit."

"Heeehh, iya tahu. Tapi kan udah nyiapin duit juga buat kuliahnya dia. Buat sekarang sekali-kali nraktir pacar ke tempat enak masa nggak boleh."

"Ya boleh, tapi nggak harus sekelas Horizon juga. Level International itu."

"Ya makanya nggak usah ambil kelas 1, ambil kelas 2 ajaaaa."

"Nggak, kelas 2 nya juga mahal."

"Ya udah kelas 3!"

"Sama aja! Beda harga berapa sih!"

"Aku yang bayar, astagaaa."

"Tapi kan—..."

Ckiiittt...!

Gojo mengerem mobil mendadak lalu meraih kerah baju Sukuna dan menariknya paksa. Ia mencium bibir Sukuna tiba-tiba. Hanya sesaat, ia kembali melepas ciuman, tapi menjaga jarak wajah mereka begitu dekat. Iris biru langitnya menatap langsung iris crimson Sukuna.

Pimm pimm...!

"Woi! Blabhhagsa...!" mobil di belakang mereka sudah teriak-teriak tidak jelas.

"Horizon. Kelas 3. Fix," ucap Gojo.

"Tch!" Sukuna berdecih. "Iya deh iya," ia pun mengalah.

Gojo kembali melajukan mobilnya menuju tempat makan yang ia maksud.

.

Gojo memesan satu meja di kelas 3 untuknya dan Sukuna. Mereka diantar menuju sebuah ruangan super besar dengan atap tinggi yang dihiasi lampu-lampu elegan, memancarkan cahaya soft yang nyaman di mata. Ada bilik-bilik makan di ruangan itu yang berjajar di sepanjang tembok. Di luar bilik-bilik di ruangan mewah itu, terdapat beberapa meja yang jaraknya cukup berjauhan. Sukuna pikir Gojo memesan di salah satu meja itu, tapi rupanya Gojo memesan di salah satu bilik di tepi ruangan.

Pelayan mengantar mereka ke bilik tersebut, membukakan pintu dengan sopan, dan mempersilahkan mereka masuk.

"Ku kira kau mesen yang di luar," ucap Sukuna setengah berbisik setelah mereka duduk di kursi mereka.

"Ya aku ngajak ke sini tuh karena di sini bisa mesen ruangan pribadi, biar kita enak makannya. Seenggaknya di kelas dua udah bisa dapet satu ruangan sendiri tuh. Tapi kamu nya nggak mau!"

"Lebay banget sih, harus pesen ruangan pribadi segala. Di restaurant biasa kita juga biasa makan di meja. Nggak pake ruangan pribadi juga."

"Ya biar kamu enak juga mau duduk gimana. Bukannya badan mu masih sakit ya."

Seketika Sukuna diam. Jadi...Gojo melakukan semua ini untuknya.

"Ya udah, pesen di level 1 gih. Biar aku bisa sambil kayang di sana," canda Sukuna.

"Eh anjing, udah terlanjur dibayar ini. Tadi diajakin nggak mao," balas Gojo setengah tertawa, ia menjitak pelan kepala Sukuna.

Mereka pun memesan makan malam mereka, lalu makan sambil mengobrol kecil. Sesekali memandang suasana kota malam hari lewat jendela besar di sebelah mereka.

"Abis ini mau ke mana? Baru jam segini nih," ucap Gojo lalu mengelap mulutnya dengan tissue. Makanan di piringnya sudah habis, begitu juga dengan Sukuna.

"Hng...ke mana ya. Ah, enaknya nonton bioskop sih. Tapi kamu nggak bisa diajak nonton. Nggak seru," balas Sukuna.

"Tch!" Gojo berdecih kesal. "Ya udah, nonton kembang api yok. Ke Istabon sono, yang kembang api nya kita pegang sendiri."

"Dih, ogah."

"Ya udah!"

"Hng...ke mana ya. Muter-muter aja mau?" Sukuna menumpukan satu siku ke meja dan menopang dagunya dengan tangan tersebut. "Ntar kalo lihat yang bagus baru kita turun."

"Boleh," balas Gojo.

"Beneran? Nggak ada tempat yang spesifik ingin kau kunjungi? Ntar ngambek lagi."

"Iya beneran. Yaudah, yok, pergi."

"Bentar bentar. Nunggu waktu abis aja deh. Sayang loh udah dibayar."

"Dih, apaan sih. Ayo ah," tawa Gojo lalu menarik Sukuna pergi dari tempat itu.

Mereka berjalan melewati lorong yang berujung di lounge, ruangan sebelum mereka keluar. Beberapa orang terlihat duduk menunggu di sofa-sofa yang tersedia di sana. Hingga seseorang tampak menatap ke arah Gojo.

"Na, abis i—..."

"Saroru-kun?"

Ucapan Gojo terhenti mendengar namanya dipanggil. Ia melihat sekeliling, dan seorang pria paruh baya tersenyum menghampiri.

"Oh, Hatori-san," balas Gojo menyambut pria itu, menyalaminya.

"Lama tidak bertemu. Apa kabar?"

"Baik. Hatori-san sendiri?"

"Aku juga baik."

"Sedang menunggu seseorang, Hatori-san?"

"Iya, mau makan bareng. Mau ikut?"

"Ah, saya baru saja selesai makan."

Hatori mengerutkan dahi. "Tapi kok, tadi dari arah kelas 3. Kau makan di kelas 3?"

"Iya, rekan saya tidak terlalu suka tempat tinggi," alasan Gojo sambil menepuk pundak Sukuna.

"Oh, dengan teman ternyata."

Sukuna berkedut kesal. Jadi dari tadi dia tidak kelihatan atau apa.

"Eh, tapi seriusan. Kau tidak mau gabung makan malam bersama kami? Ada model wanita baru yang akan debut minggu depan. Akan dimasukkan dulu untuk projek duet dengan model pria yang sudah punya nama supaya mendongkrak model baru ini. Model pria nya belum ditentukan loh, siapa tahu kau tertarik. Kita bisa membicarakannya."

"Ah, saya sudah terlalu tua untuk ini. Sekarang model yang populer pasti yang muda-muda kan," tolak Gojo.

"Halah, tapi wajahmu masih oke. Ditambah, masih banyak yang menanyakanmu dan menyayangkan kau keluar secepat itu. Aku yakin kalau kau kembali, akan banyak fans yang suka. Satu projek saja tidak masalah."

"Wah, bagaimana ya. Sepertinya saya sudah lupa bagaimana berpose di depan camera," tolak Gojo secara halus.

"Hal kecil begitu saja, nanti begitu di depan camera kau juga pasti akan langsung mengingatnya lagi. Ayolah, satu projek saja. Lagipula, sebentar lagi nominasi award untuk buku terbaru mu kan? Bisa sekalian mendongkrak popularitasmu biar kau memenangkan award itu."

"Ah, itu..."

Selanjutnya Sukuna tak terlalu mendengarkan obrolan mereka. Waktu di kepala nya terhenti saat mendengar kata nominasi. Gojo mendapat nominasi untuk buku baru nya? Tapi kenapa ia tak mendengar apapun dari Gojo? Ah, dia bahkan tidak tahu kalau buku itu telah publish. Itu buku yang Gojo buat saat mereka liburan di cottage kan? Sukuna tak mendengar apapun mengenai buku itu sejak liburan tersebut. Dan sekarang tiba-tiba saja mendengar buku milik Gojo akan masuk nominasi dan kemungkinan memenangkan award.

"Hey...hey..." Sukuna tersadar dari lamunan saat Gojo memanggilnya. Ia sudah digandeng Gojo keluar dari Horizon sekarang. Ia tak dengar lanjutan obrolan Gojo dengan Hatori, tapi melihat ia yang keluar dari tempat makan itu saat ini, kemungkinan Gojo berhasil menolak tawaran Hatori. "Mikirin apaan?" tanya Gojo melihat Sukuna akhirnya merespon.

"..." belum sempat Sukuna menjawab, seorang petugas parkir sudah membawakan mobil Gojo dan berhenti di hadapan mereka. Mereka pun menaiki mobil tersebut lalu berkendara pergi. "Kau masuk nominasi," ucap Sukuna setelah mereka berkendara di jalan raya.

"Baru masuk nominasi doang, belum tentu menang," jawab Gojo santai.

"Nominasi apaan?"

"Hng."

"Nominasi apaan!"

"...vention."

"HUH?!"

"Convention," ulang Gojo.

"..." Sukuna diam lalu mengeluarkan ponselnya, browsing mengenai award yang diucapkan Gojo.

"Apaan si," Gojo berusaha meraih ponsel Sukuna dengan satu tangan, tapi Sukuna menghindar dan menampik tangan Gojo.

"Udah, nyetir aja kau ah," omel Sukuna. Ia kembali memcoba mengetik di ponselnya, tapi lagi-lagi Gojo rusuh. "Tch! Argh!" Sukuna pun pindah ke kursi belakang.

"Wooyy," omel Gojo tapi Sukuna tak peduli. Ia melanjutkan browsing setelah aman di kursi belakang. "Wow. World Horror Convention Grand Master Award," ucap Sukuna membaca hasil browsing nya.

"Apaan sih. Cuma masuk nominasi doang juga," ucap Gojo.

"Yeah, dan penghargaan sekelas ini, bukannya masuk 'nominasi doang' udah big deal banget ya. Udah wow gitu. Dan aku nggak dengar apapun dari mu."

"Udah lah, nggak usah digede-gedein juga."

"Kamu nya yang terlalu menyepelekan. Hal semacam ini pantas dirayakan lah."

"Megumi sama Yuuji lagi ujian. Mau ngerayain juga gimana."

"Ya seenggaknya bilang ke aku kek. Aku kan nggak lagi ujian."

"Ya barusan kita makan di Horizon. Anggep aja yang tadi perayaannya."

"Ya kali kau yang ngrayain malah kau yang nraktir makan," Sukuna menjejak kursi Gojo.

"Ck, udah capek sama perayaan. Di publisher udah, di kampus juga udah."

"Baguus ya, bagus. Di penerbit sama kampus udah, tapi sama orang terdekat malah enggak."

"Ya udah deh besok aja sekalian kalau beneran menang. Kita rayain berempat deh. Ntar sekalian bareng kelulusannya anak-anak juga."

"Emang kapan award nya?"

"..."

"KAPAN?!"

"February."

"Ya kali award February mau rayain April!" Sukuna kembali menendang kursi Gojo.

"Iya deh iyaaa, nanti aku kasih tahu," balas Gojo.

"Awas aja kau kalau diem-dieman lagi," omel Sukuna lalu kembali ke kursi depan.

"Ya udah, ini mau ke mana," ucap Gojo.

"Tau ah."

"Dih, ngambek."

Untuk selanjutnya mereka berkendara dalam diam. Gojo melajukan mobilnya dengan santai di jalanan kota, melihat-lihat suasana malam yang ramai.

"Eh, Na, Na. Itu pasar malem bukan sih?" ucap Gojo saat melihat bianglala kecil di kejauhan.

"Hng? Mana?" Sukuna melihat ke arah yang dimaksud Gojo. "Ah, kayaknya iya sih."

"Mau ke sana nggak?"

"Hng...boleh."

Gojo pun melajukan mobilnya ke tempat itu. Ternyata memang sebuah pasar malam yang lumayan besar. Suasana masih ramai karena belum terlalu larut. Gojo menggandeng Sukuna berkeliling, melihat-lihat lapak serba murah yang terjajar di sana.

"Mau jajan nggak?" tanya Gojo.

"Kan baru aja selesai makan," balas Sukuna.

"Ya kamu kan doyan makan. Barangkali masih kuat makan."

"Nggak segitunya juga kali."

Mereka lanjut jalan sampai ke wahana bermain. "Mau naik?" tanya Gojo di dekat bianglala. Sukuna menatap wahana itu.

"Kecil banget," komentarnya.

"Ya kamu jangan bandingin sama Ferris Wheel di amusement park lah," protes Gojo.

"Iya deh iya. Yaudah yok, beli tiket."

Mereka pun membeli dua tiket dan masuk ke salah satu cage bianglala itu. Tempatnya tidak terlalu besar. Kalau anak-anak mungkin muat sampai empat orang di masing-masing kursi, tapi karena tubuh mereka besar, mereka hanya masuk dua orang saja. Mereka juga duduk di kursi yang berseberangan supaya cage itu seimbang.

Gojo tertawa kecil saat bianglala itu mulai bergerak naik. Kaki nya yang panjang harus ditekuk dan mengapit kedua kaki Sukuna yang juga ditekuk. Tapi tentu saja kaki Sukuna lebih pendek. Gojo menjahili Sukuna dengan mengapit kakinya lalu melepas lagi, dan mengapit lagi.

"Ah, rese banget deh," Sukuna menggeser kaki Gojo dengan lututnya.

"Yee, ngambek lagi," Gojo mencubit pelan pipi Sukuna.

"Siapa yang ngambek sih. Biasa aja deh," Sukuna menyingkirkan tangan Gojo. Mereka menatap pemandangan dari atas saat cage mereka naik dengan perlahan. Cage itu bahkan tak memiliki kaca, hanya dibatasi kayu-kayu seperti pagar jeruji. Membuat udara malam dengan bebas menyentuh wajah mereka.

"Na, pengen ciuman," ucap Gojo.

"Gila, di tempat terbuka gini," protes Sukuna.

Gojo hanya manyun dan mengalihkan pandangan ke luar. Sukuna menghela nafas lelah lalu menarik kerah baju Gojo, dan mencium bibirnya di tengah-tengah supaya posisi mereka tidak berubah dan cage tidak oleng. Gojo tersenyum menerima ciuman itu, lalu memagut bibir Sukuna lembut. Saat bianglala mulai turun barulah mereka melepas ciuman. Bianglala berputar beberapa kali sampai akhirnya berhenti untuk menurunkan mereka.

"Mau naik wahana lagi?" tanya Gojo setelah mereka turun. Sukuna menatap sekitar, wahana yang ada tidak begitu banyak, dan kebanyakam adalah wahana yang berputar.

"Nggak ah, nggak suka wahana yang mutet-muter. Nggak kuat aku," ucap Sukuna.

"Ya udah. Kora-kora mau? Kan nggak muter tuh."

"Nggak. Kita baru aja makan. Nanti muntah yang ada. Jalan-jalan aja deh."

"Ya udah deh," Gojo mengulurkan tangannya. Sukuna terdiam menatap itu. "Apaan sih, tadi juga gandengan kan," kesal Gojo lalu meraih tangan Sukuna. Mereka kembali berjalan melihat-lihat pasar malam itu. Gojo sedikit memaksa memasukkan tangan Sukuna ke dalam saku coatnya, menaut tangan mereka berdua. Gojo pikir Sukuna membenci itu, tapi saat Sukuna malah merapatkan tubuhnya ke Gojo, Gojo tersenyum mengetahui Sukuna tak membenci perlakuannya.

"Na, mau beli itu," Gojo menunjuk penjual mainan. Ada baling-baling yang cara mainnya dilontarkan ke udara, lalu baling-baling itu akan melayang turun dengan santai, ada lampu warna-warni di baling-baling itu.

"Pfftt...apaan sih, mainan anak kecil itu," tawa Sukuna.

"Biarin," ucap Gojo. Ia pun menghampiri penjual itu lalu membeli tiga buah. "Mau main?" tanya Gojo.

"Ogah," balas Sukuna.

"Ya udah," Gojo melontarkan satu mainan itu ke angkasa. "Yey," girangnya saat menanti benda itu kembali turun. Gojo menangkap benda itu sebelum menyentuh tanah. "Na, coba main deh. Se—..." ucapan Gojo terhenti saat ia menoleh ke arah Sukuna, dan rupanya Sukuna tengah merekam Gojo dengan ponsel sambil menahan tawa.

"Hish, apaan sih," protes Gojo dan berusaha meraih ponsel Sukuna, tapi Sukuna segera menjauh.

"Udah, main lagi sana. Biar kurekam hahaha," tawa Sukuna.

"Tck," Gojo menyerah dan akhirnya malah menurut untuk main lagi. "Rekam yang bener," ucapnya. Kali ini ia menerbangkan tiga mainan itu secara bergantian. "Yeey bagus kan bagus kan," ucap Gojo, menatap ke angkasa menanti tiga mainannya turun. "Yah, yaahh yaaah," teriaknya saat satu mainan mengarah ke atap salah satu lapak.

"Hahahahaha," Sukuna tertawa mengarahkan kamera nya ke baling-baling itu, yang ternyata memang mendarat di atap.

"Nyangkut di atap," ucap Gojo ke arah Sukuna, sementara Sukuna masih tertawa. Akhirnya dengan berat hati Gojo hanya mendapatkan dua baling-baling nya kembali.

"Yaah, ilang satu," ucap Gojo ke arah kamera. Mereka kembali berjalan menyusuri area pasar malam itu.

"Beli lagi lah," ucap Sukuna.

"Hah?"

"Beli lagi."

"Nggak ah. Malu sama mas mas nya masa beli lagi."

"Hahahaha," Sukuna tertawa. "Kirain kau nggak punya malu," Sukuna menge zoom ke wajah Gojo.

"Yakali," balas Gojo. Ia menatap sekeliling lalu balik menatap Sukuna. "Na, beli itu," tunjuknya ke satu arah.

"Apa lagi," ucap Sukuna setengah tertawa, mengarahkan kamera nya ke arah yang ditunjuk Gojo. Ada penjual umbi bakar di sana. Sukuna kembali mengarahkan kamera ke Gojo.

"Ya?" ucap Gojo.

"Iya udah ayok. Tapi abisin loh," balas Sukuna.

"Iya pasti abis kok," ucap Gojo. Sukuna mematikan kamera nya lalu ke penjual itu bersama Gojo. Mereka membeli dua buah ubi dan jagung bakar. "Makan di mobil aja yuk, kayaknya udah mau tutup pasar malemnya," ucap Gojo.

"Ya ayuk," Sukuna menatap sekeliling lalu menunjuk ke arah atas dengan wajahnya. "Mau ke situ nggak?" tanya Sukuna.

Gojo menoleh ke arah yang dituju Sukuna. Ada jalan menanjak yang melingkari bukit kecil di area belakang pasar malan itu. Sepertinya bahu jalannya lumayan lebar karena banyak mobil berhenti di sana. "Boleh," Gojo mengangguk.

"Kuat nggak mobil mu?"

"Kuat lah. Kalau nggak kuat kamu turun, dorong," tawa Gojo.

"Enak aja," tawa Sukuna.

Mereka masuk ke mobil, lalu menuju tempat yang dimaksud. Rupanya benar, beberapa mobil memang sengaja berhenti di sana untuk bersantai menikmati pemandangan kota. Jalanannya memang naik, jadi kota terlihat indah dari atas sana. Gojo mencari tempat yang agak sepi meski harus lebih menanjak lagi. Ia memarkir mobilnya menghadap jalan, mundur menuju tepian pagar pembatas.

"Untung kuat nanjak," ucap Sukuna.

"Kuat dong," balas Gojo. Mereka keluar dari mobil. Gojo membuka bagasi belakang mobil untuk tempat mereka duduk, menikmati pemandangan kota. Sukuna duduk di sebelahnya membawa umbi bakar yang mereka beli barusan.

"Fuuh, masih panas. Padahal udah dibawa jalan," Gojo mengibas-ngibaskan tangannya yang memegang ubi bakar, padahal sudah dibalut kertas coklat.

"Ya bagus dong. Kalo dingin malah nggak enak," Sukuna memilih makan jagung bakar lebih dahulu. Mereka makan dalam diam, menikmati hembusan angin malam dan pemandangan kota. Setelah makan Sukuna menyingkirkan sampah mereka, lalu duduk lebih merapat ke Gojo. Gojo tertawa kecil karena itu, tapi ia juga lalu merangkul Sukuna. Sukuna mengeluarkan ponselnya. "Ponsel lagi," protes Gojo.

"Lihat hasil rekaman tadi," ucap Sukuna. Ia memutar video hasil rekamannya di pasar malam bersama Gojo. Ia kembali tertawa melihat kelakuan Gojo.

"Seneng banget kayaknya," manyun Gojo, menarik kepala Sukuna bersandar di pundak.

"Habis kaya anak kecil. Aneh. Padahal udah om om," tawa Sukuna.

"Udah ah," Gojo merebut ponsel Sukuna lalu menyakukan benda itu ke coat nya.

"Dasar bayi," Sukuna mendongak menatap wajah Gojo meski masih bersandar di pundak pria itu.

"Bayi kok disandarin. Lebih tinggi juga dari kamu."

"Bayi gede," Sukuna menjewer pipi Gojo dengan gemas.

"Aaaa sakitttt," Gojo melepaskan diri sementara Sukuna hanya tertawa. Ia lalu melepas tangan Gojo yang merangkulnya. "Hey-...!" protes Gojo tapi tak jadi saat Sukuna ganti memeluk lengannya itu. Gojo tersenyum, dikecupnya puncak kepala Sukuna. Ia menyandarkan kepala ke kepala Sukuna, menikmati pemandangan malam bersama.

.

.

.

~TBC~

.

A/N : SUPER BT ANJIIINNKKK. App shareit nya ke reset dan semua progress fanfic terbaru ilaaanng krn nyimpenna di folder sono, termasuk lanjutan chapter HeartBreak Night dan satu story GoSuku lagi yang udah puluhan halaman DX

Males bet sialan. Nulis ulang fanfic itu berasa kek nonton bokep tayangan ulang :V

Yah, pokoknya kalo sampe fic ini nggak update, tandanya aing masih males ngetik ulang lanjutannya :V

Sekian

.

Support me on Trakteer : Noisseggra