Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak buat SiloidBlue, emperor it's me, ninety shades and kokorocchi yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Sukuna masih suka senyum-senyum sendiri mengingat kencannya bersama Gojo malam itu. Sepertinya baru kali ini ia bisa sangat bahagia karena kencan dengan pacar. Sesekali ia memutar video saat di pasar malam, lalu tertawa sendiri melihat tingkah kekanakan Gojo. Kalau dia upload di internet mungkin bakal heboh tuh, mantan model majalah fashion sekaligus author buku yang dapat nominasi penghargaan internasional, rupanya hanyalah bayi besar yang suka main baling-baling warna-warni. Tapi Sukuna memutuskan untuk menyimpan video itu untuk dirinya sendiri saja.

Dan ngomong-ngomong soal nominasi itu...Sukuna masih berpikir untuk memberikan hadiah apa untuk Gojo. Kalau bunga pasti sudah dapat banyak. Gojo bilang dia sudah merayakan di publisher dan kampus kan, dia pasti sudah dapat banyak bunga dan semacamnya.

"Hadiah apa ya. Apa kutanyakan langsung saja pada Satoru?" lirih Sukuna pada diri sendiri. "Tapi nanti nggak surprise dong," ia jadi ragu. "Aaargh, daripada dia nggak sreg sama hadiah nya," akhirnya ia pun memutuskan untk mengirim chat pada Gojo, menanyakan hadiah apa yang dia inginkan.

'Nggak usah. Besok rayakan bersama saja. Cari waktu bareng. Yuuji sama Megumi juga sudah selesai ujian kan, giliran kau yang cari waktu,' malah begitu jawaban Gojo.

'Ya tapi aku kan ingin ngasih sesuatu. Masa pacar sendiri dapat penghargaan aku nggak ngasih hadiah,' balas Sukuna.

'Ya udah, terserah kamu mau ngasih apa deh.'

'Ya aku bingung takutnya kau nggak suka sama hadiahku. Makanya tanya. Sudahlah, sebutkan saja kau mau apa. Bakal kuturutin.'

'Boleh apa saja?'

'Iya apa saja terserah.'

'Hmm...ok ok.'

Hanya itu balasan Gojo. Sukuna menghela nafas lelah lalu meletakkan ponselnya. Mungkin nanti Gojo akan menghubungi kembali saat sudah memutuskan ia ingin apa.

Hari-hari itu Sukuna sudah mulai mengawasi pembangunan rumah client. Tapi karena semua sudah terkoordinir rapi, ia tak selalu berada di sana. Lagipula ia sudah menyuruh Mahito dan Uraume untuk mengawasi, jadi Sukuna lebih santai. Ia memutuskan untuk keluar cari angin sore itu, sambil berjalan-jalan di daerah sekitar situ. Siapa tahu melihat sesuatu yang bisa jadi inspirasi dia ingin memberikan apa untuk Gojo.

"Uraume, aku keluar dulu ya," pamit Sukuna pada Uraume yang tampak tengah mengangkat jemuran di balkon apartment sebelah.

"Baik," balas Uraume.

Sukuna keluar tak membawa mobil, karena memang ingin jalan-jalan santai saja di sekitar. Ia membeli segelas kopi lalu meminumnya sambil jalan. Melihat-lihat pertokoan yang mulai menyalakan lampu-lampu. Ia menghentikan langkah saat melihat toko buku. Sukuna pun melangkah menuju toko itu. Ia menghabiskan kopi nya karena dilarang membawa minuman ke dalam toko. Setelah membuang cup kopi nya ke tempat sampah, Sukuna masuk. Ia mencari-cari rak novel yang rupanya ada di lantai dua, bersebelahan dengan bagian komik. Ia mencari novel milik Gojo. Meski ia sudah ngoceh soal nominasi penghargaan itu, tapi sebenarnya dia sendiri belum melihat buku Gojo yang masuk nominasi itu.

Ia mencari beberapa saat tapi tak ketemu, akhirnya ia menghampiri komputer di salah satu sudut rak untuk mencari buku yang ia maksud. Ia memasukkan nama author, Gojo Satoru, tapi yang muncul malah buku-buku sejarah dan budaya Jepang yang ditulis Gojo, tak ada novel yang ia maksud. Akhirnya ia pun terpaksa menanyakan pada pegawai toko.

"Novel yang masuk nominasi Convention Grand Award," Sukuna menjelaskan karena ia tak tahu judul novel nya apa. "Horror Novel."

"Ooooh, itu," si pegawai toko mengantarkan Sukuna ke bagian novel yang dimaksud. Ternyata stok nya tinggal 3 buku. "Sedang menunggu re-stock," terang si pegawai. Ia lalu meninggalkan Sukuna di sana. Sukuna menatap buku itu. Buku berwarna silver terang dengan tulisan dan gambar berwarna hitam. Kalau orang lihat pasti langsung tertarik untuk menoleh. Hanya saja tadi Sukuna tak lihat karena stok nya memang tinggal sedikit, dan terhalang tumpukan novel lain di sekeliling. Sukuna mengambil satu novel itu, sepertinya ia pernah lihat. Ia memutar novel di tangannya, menatap bagian samping. Ah, dia ingat. Dia pernah melihat novel itu di rak ruang kerja Gojo. Hanya saja waktu itu Sukuna batal mengambilnya karena mendapat telefon dari Mahito. Astaga, seketika Sukuna menyesal waktu itu tak mengambil buku tersebut.

Sukuna mengamati cover novel itu. Novel nya berjudul Rokugan, the sixth eyes. Tertulis dengan tulisan warna hitam menggunakan font dengan nuansa horror, ada gambar mata berwarna biru terang yang semi transparant di cover itu, mengingatkan Sukuna pada mata milik Gojo. Design covernya begitu elegant, tulisan dan gambarnya sedikit timbul, permukaannya tampak mengkilap, covernya juga tampak mulus. Kalau diperhatikan lagi, ada gambar-gambar transparant di cover itu yang sedikit turun membentuk gambar anak kecil tak berkepala, dan siluet yang tampak seperti anjing besar, lebih besar dari anak kecil itu. Ada beberapa gambar lainnya sebagai background di belakang dua gambar utama tadi, mungkin melambangkan makhluk-makhluk astral yang dituliskan di novel. Gambar-gambar transparant itu seperti melesak ke dalam, berkebalikan dengan tulisan untuk cover nya.

Sementara itu, nama author yang tertera di sana bukanlah Gojo Satoru. Melainkan G.S. Shiro Neko, pantas saja tadi tidak ketemu saat Sukuna cari di komputer. Sepertinya Gojo menggunakan nama samaran, meski tetap mencantumkan namanya dengan disingkat.

Sukuna membalik novel itu untuk membaca sinopsis nya. Ia kembali sweatdrop saat melihat foto si author yang betulan gambar kucing putih berbulu lebat mengenakan kacamata bulat hitam pekat. Dalam hati Sukuna berteriak, ini kan memang muka nya! Tapi tentu saja, bagi orang yang belum kenal Gojo, tidak mungkin mengenali orang dari sebuah foto kucing. Sukuna lanjut membaca sinopsis yang tertera di bagian belakang novel. Hanya dari membaca satu paragraf, ia sudah sangat tertarik untuk membaca isi novel itu. Ia rasa tak salah novel itu masuk nominasi, baru melihat luarnya saja ia sudah se terpesona itu.

"Itu itu, di sebelah sana," empat orang gadis SMU setengah berlari menuju arah Sukuna. "Kemarin aku beli, rak nya di situ. Ada tulisan best seller dan nominated for World Horror Convention Grand Master Award loh."

Sukuna menatap ke bawah. Ia baru sadar di samping rak buku Gojo memang ada standee bertulisakan demikian. Sukuna sweatdrop, kenapa juga dia tadi tidak melihatnya. Kalau dia lihat kan dia nggak perlu tanya ke pegawai toko.

Gadis-gadis itu menghampiri rak buku Gojo dan berebut buku yang tinggal 2 itu.

"Yah, masa aku doang yang belum dapat," rajuk seorang cewek yang nggak kebagian buku itu. Mereka lalu menoleh ke arah Sukuna yang memegang buku yang sama.

"..." Sukuna berkedip beberapa kali menatap balik mereka, dan mereka menatap makin tajam ke arah buku yang Sukuna pegang. Alih-alih memberikan buku itu, Sukuna malah menyeringai mengejek dan berjalan menuju kasir. 'Bodo amat, aku yang duluan,' batin Sukuna puas sementara cewek-cewek itu masih ribut di belakang.

"Iiihhh sebel, masa aku doang yang nggak dapat!"

"Ya udah, nanti kamu baca setelah aku."

"Nggak mau, pengin punya sendiri!"

"Ya udah cari ke toko buku lain yok. Atau nanya ke pegawai nya barangkali masih ada stock."

Mereka masih ribut sementara Sukuna sudah membayar buku itu di kasir, lalu turun ke lantai satu dan pergi dari toko. Setelahnya, Sukuna membeli makanan take out dari McD lalu kembali ke apartment nya. Ia ingin segera membaca buku itu.

Matahari sudah terbenam saat Sukuna kembali. Ia melepas jaket lalu makan. Hanya makan sepotong ayam serta kentang goreng. Burger nya belum ia makan, serta menyisakan lemon tea yang tinggal setengah. Setelah membersihkan tangannya, ia meraih buku yang barusan ia beli lalu naik ke ranjang. Menyamankan posisi bersandar di kepala ranjang dengan mengganjal punggungnya dengan bantal. Ia merobek plastik pembungkus buku. Aroma buku baru menyeruak mengisi indra penciuman Sukuna. Aroma yang menyenangkan. Sebelum mulai membaca kata pengantar, ia membuka bagian terbelakang buku, membaca biography penulisnya.

Di biography itu Gojo tak menulis banyak yang menunjukkan identitasnya. Ia hanya menyebutkan bahwa author sudah memiliki mata keenam sejak kecil, dan sebagian besar yang diceritakan di dalam buku tersebut adalah kisah nyata. Ia tulis, bahwa ia menghormati mereka yang tak terlihat, sehingga apa-apa yang ia tulis di buku tersebut, apabila tulisan mengenai kisah mereka, maka yang ia ceritakan adalah nyata. Hal tersebut adalah apa yang 'mereka' komunikasikan terhadap si author. Masalah percaya atau tidak percaya, semua terserah pembaca.

Sukuna tersenyum, typical cerita horror biasanya menulis demikian supaya pembaca bertanya-tanya apakah betul cerita itu asli. Well, sebagian besar kisah horror memang dilebih-lebihkan, tapi mengingat apa yang Sukuna alami bersama Gojo, ia sendiri sekarang bertanya-tanya apa mungkin benar yang Gojo tulis adalah kisah nyata seluruhnya.

Sukuna kembali ke halaman awal, dan mulai membaca buku itu lembar demi lembar. Dan seperti yang Sukuna duga, tidak semua yang tertulis itu nyata. Tapi entah dengan kisah horror nya. Peran utama di novel itu bukanlah Gojo sendiri, meski novel tersebut menggunakan sudut pandang orang pertama. Si Aku di dalam novel tersebut adalah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Akira.

Novel itu kurang lebih menceritakan pengalaman Akira yang memiliki mata keenam, dan bisa melihat mereka-mereka yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Kelebihan utama dari novel itu adalah karena si tokoh Akira adalah seorang anak kecil, novel itu sukses menyampaikan bagaimana perasaan takut Akira berhadapan dengan mereka yang tak terlihat. Ditambah, meski peran utama nya adalah anak kecil, tapi novel itu bergenre 18+ untuk scene horror nya. Jadi benar-benar terasa, bagaimana kengerian yang bagi orang dewasa juga ekstrim, tapi dialami oleh tokoh utama yang notabene seorang anak kecil berusia 9 tahun.

Sukuna tidak tahu apakah semua itu adalah pengalaman pribadi Gojo, karena ia sendiri tak pernah mendengar apapun dari Gojo. Meski terlihat carefree, sebenarnya Gojo sangat tertutup mengenai hal-hal yang bersifat pribadi. Sukuna bahkan baru mengetahui Gojo bisa melihat makhluk astral setelah kejadian di cottage itu. Lalu soal Megumi, meski ia sudah pernah menanyai beberapa kali, sampai detik ini Gojo belum pernah menceritakan soal bagaimana Gojo mengadopsi Megumi, bagaimana masa lalunya.

"..." Sukuna menyipitkan mata saat memikirkan itu. Tapi ia lalu segera menggeleng untuk kembali ke dunia nyata. Ia melanjutkan membaca novel di tangannya. Kisahnya baru memasuki babak utama.

Mulai kisah utama itu, sepertinya Sukuna mulai mengenali latar ceritanya. Itu adalah pengalaman Gojo bersamanya dan juga Yuuji serta Megumi saat berlibur di cottage. Hanya saja di novel itu, Akira liburan bersama keluarga nya.

Dari membaca novel itu Sukuna mengetahui apa saja yang Gojo alami saat liburan mereka. Seperti batang kayu yang menghantam atap mobil mereka saat melewati jalur lingkar, yang Gojo lihat saat itu adalah kepala manusia yang berlumuran darah, menatap dengan mata terbelalak ke arah mobil mereka. Di situ Gojo juga mengalami shock karena mendapat flashback bagaimana wanita itu dibunuh dengan cara diikatkan ke sebuah pohon, lalu ditabrak dengan mobil berkali-kali hingga tubuhnya remuk, menyisakan kepalanya yang menggelinding putus dari tubuh yang hampir tak berbentuk lagi.

Pantas saja waktu itu Gojo langsung pucat dan berkeringat dingin. Seingat Sukuna Gojo pernah cerita bahwa yang membuatnya takut bukanlah penampakan yang mengerikan, melainkan kisah di baliknya. Seperti pembunuhan tadi, pastilah Gojo harus melihat secara langsung flashback bagaimana pembunuhan tersebut terjadi, bagaimana teriakan si wanita, bagaimana ia meregang nyawa sedikit demi sedikit karena tak langsung meninggal saat ditabrak pertama.

Sukuna juga jadi tahu apa yang terjadi pada Gojo di goa itu, bahwa ia sempat dibawa ke alam mereka untuk beberapa saat, tapi syukurlah ia bisa kembali karena sosok itu ber aura positive. Mungkin karena keberadaan kuil di area itu. Sukuna sedikit mempercepat bacaannya, ia ingin membaca bagian di mana mereka mengalami hal ganjil di kuil dekat cottage. Karena itulah cerita utama yang Gojo sajikan di novel itu.

Mungkin sedikit dilebihkan, tapi Sukuna yakin Gojo menceritakan yang sebenarnya terjadi pada seorang biksu bernama Geto Suguru yang dulu menjaga kuil itu. Yang Sukuna alami terjadi pada Gojo hanyalah bagian luar nya, sementara di novel, Gojo mencerirakan sebagai Akira, yang masuk ke dalam waktu di mana kecelakaan itu terjadi.

Novel itu menceritakan bahwa Suguru adalah seorang biksu penjaga kuil kecil itu. Dulu masih banyak yang berdoa di sana, bahkan festival kecil-kecilan juga sering diadakan di waktu-waktu tertentu, yang pengunjungnya adalah penduduk sekitar. Pokoknya, Suguru adalah sosok yang dikenal sangat baik oleh penduduk desa.

Ada dua orang gadis SMP bernama Nanako dan Mimiko, mereka adalah putri kembar keluarga Hasaba, salah satu keluarga terpandang di daerah sekitar situ. Mereka sangat akrab dengan Suguru dan sering bermain di area kuil sekedar mengobrol, atau belajar karena suasana di sana sangat tenang. Hingga suatu hari, Suguru sedang pergi ke luar untuk suatu urusan, sehingga kuil yang dijaganya kosong. Dan saat Suguru kembali, ia sangat terkejut mendengar suara tangisan Nanako dan Mimiko.

Suguru bergegas memasuki kuil, ia terkejut saat melihat kedua gadis itu tengah diperkosa oleh 8 orang anak SMU. Tidak hanya diperkosa, mereka juga mengalami kekerasan seksual. Tubuh Nanako dan Mimiko berlumur darah, penuh cambukan. Hidung mereka berdarah dan bibir mereka robek. Kemaluan mereka dimasuki benda-benda keras seperti vas bunga dan lilin, bahkan seikat dupa.

Suguru murka melihat itu. Ia langsung menghajar anak-anak SMU itu. Meski kalah jumlah, Suguru berhasil menang, tapi ia sendiri juga terluka parah. Ia tidak peduli, cowok-cowok itu sudah tumbang meski masih bisa bergerak. Mereka hanya merintih kesakitan. Suguru segera memapah Nanako dan Mimiko, ia berniat meminta pertolongan dan membawa keduanya ke rumah sakit. Tapi sepertinya sudah terlambat. Kedua gadis itu menghembuskan nafas terakhir di pelukan Suguru setelah tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Suguru menangis sejadi-jadinya.

Tak berapa lama penduduk desa datang. Tapi melihat pemandangan yang ada, mereka malah menyalahkan Suguru. Ditambah, cowok-cowok yang Suguru hajar barusan, malah memberikan keterangan palsu bahwa Suguru yang memperkosa Nanako dan Mimiko, sementara mereka berusaha menghentikan Suguru, tapi malah dihajar sampai tak berdaya.

Tanpa mendapatkan hak untuk membela diri, Suguru dihakimi masa. Ia dihajar habis-habisan, lehernya diikat dan diseret keluar kuil. Setelah itu kepalanya digorok menggunakan gergaji tangan—bukan gergaji mesin, jadi ia benar-benar kesakitan di setiap gorokan benda itu. Tengkoraknya hanya digergaji sebagian, setelahnya batok kepala Suguru dibuka paksa hingga otaknya terlihat. Suguru pun meninggal karena hal tersebut.

Nafas Sukuna tercekat saat membaca itu. Ia menarik nafas berat, menghembuskannya perlahan. Dadanya benar-benar sesak. Tanpa sadar matanya panas dan buliran bening mengalir dari ujung matanya. Dengan tatapan yang buram karena air mata Sukuna terus melanjutkan membaca novel itu.

Setelah membunuh Suguru, penduduk bersepakat untuk tidak melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwajib. Cowok-cowok SMU itu tentunya tertawa menang. Jasad Nanako dan Mimiko dikebumikan di pemakaman keluarga Hasaba. Sementara jasad Suguru digantung tanpa kepala di pohon belakang kuil. Kepala Suguru diletakkan begitu saja di bawah jasadnya yang bergelantung di dahan pohon.

Bau amis darah mengundang anjing-anjing hutan untuk datang, apalagi tempat itu memang sudah masuk area pegunungan yang banyak pohon rimbun. Sebagian tubuh Geto dikoyak anjing-anjing hutan dan binatang lainnya, sebagian lagi yang tak tersentuh binatang, terurai karena pergantian tahun dan musim. Tak lagi menyisakan bekas kejamnya pembunuhan yang pernah terjadi di kuil kecil itu.

.

Sukuna berdiam cukup lama setelah membaca habis novel itu. Ia berbaring di ranjang dengan lengan menutupi wajah. Sesekali ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan, berusaha menenangkan diri. Saat melepas tangannya dari wajah, tampak hidungnya yang memerah dan matanya yang berair. Ia menyeka air matanya. Kapan terakhir ia menangis? Ia bahkan lupa. Ia melirik novel yang kini tergeletak di samping tubuhnya.

"Novel sialan!" umpat Sukuna lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk cuci muka. Ia menghabiskan burger nya yang belum sempat ia makan dan sisa lemon tea yang sudah tak dingin lagi. Tatapannya menerawang. Rasanya adegan di novel yang barusan ia baca masih berputar di dalam otaknya. Apalagi karena Gojo menjelaskan detail tempatnya sama persis dengan kehidupan nyata. Orang yang belum pernah ke tempat itu mungkin sudah bisa merasakan berada di sana, apalagi Sukuna yang memang benar-benar pernah berada di sana. Rasanya novel itu nyata sekali.

Ia melirik novel itu sambil mengunyah burger. Ia yakin novel itu kejadian nyata yang dialami Gojo sekarang. Hanya saja Gojo mengubah dirinya menjadi versi anak kecil, mungkin sekaligus mewakili dirinya yang kadang masih bertingkah kekanakan. Mungkin ia terjebak di masa kecilnya karena ketakutan-ketakutan yang selalu ia rasakan. Ditambah, nama Akira memiliki arti cerah, masih memiliki kemiripan arti dengan nama Satoru yang berarti pencerahan dalam istilah Budha.

Sukuna mengunyah potongan terakhir burger saat ponselnya berdenting pelan. Ia membuka pesan yang masuk, sebuah chat dari Gojo.

'Sukuna, masih bangun?'

Sukuna mengetik pesan balasan. 'Masih'. Setelah pesan itu terkirim, detik berikutnya Gojo menelfon. Mau tak mau Sukuna pun mengangkat telefon itu.

"Malam sayang," sapa Gojo.

Gulp...!

Sukuna diam seribu bahasa, tak tahu harus membalas apa dengan sapaan seperti itu.

"Dih, kok diem," protes Gojo. "Katanya masih bangun."

"Iya iya, apaan," balas Sukuna.

"Jutek banget sih," kesal Gojo. "Eh, tapi kok suaramu bendeng. Kenapa?"

"Huh, enggak kok," Sukuna menyeka hidungnya dengan tissue.

"Jangan-jangan habis nangis. Habis nangis ya? Kenapa-kenapa, sini cerita."

"Dibilangin enggak," ketus Sukuna. "Tadi tuh, abis mandi, nggak langsung keringin rambut. Jadi meler deh," ia mencari-cari alasan.

"Mandi apaan jam segini," protes Gojo. "Nggak habis main sama cewek lain kan?"

"Enggak lah. Gila aja kau."

"Ya barangkali, mentang-mentang lagi LDR sekarang. Terus kau kebelet dan nyari cewek."

"Enggak. Kan waktu sebelum pacaran juga udah pernah kapok main sama cewek gara-gara nggak puas. Yang ada malah aku sexualy frustrated gara-gara sex tapi nggak puas."

"Hee, bagus deh kalo gitu."

"Ada apaan nelfon jam segini?" tanya Sukuna.

Gojo terkikik kecil. "Kangen," ucapnya yang sontak membuat Sukuna bungkam. Wajahnya seketika memanas.

"Apaan sih, nggak penting banget deh!" omel Sukuna dengan wajah yang masih memerah.

"Huh, emang kamu nggak kangen? Jahat banget. Yang kangen aku doang," rajuk Gojo.

"Iya iya, aku juga," ucap Sukuna.

"Juga apa?" goda Gojo.

Sukuna memijit pelipisnya pelan. "...ka-...kangen padamu," ucap Sukuna. Sontak ia langsung menyembunyikan wajahnya sendiri di balik lengan, sementara di ujung telefon terdengan Gojo tertawa puas. "Aargh, kumatiin nih," ucap Sukuna frustasi.

"Heeh, jangan dong. Baru ngobrol bentar padahal. Ah, soal yang sebelumnya. Kamu jadi, ngasih kado buat aku?"

"Iya jadi, kamu udah mutusin pengin apa?"

"Ya...kurang lebih sih."

"Emang mau apaan?"

"Hehe," Gojo cengengesan nggak jelas.

"Apaan?!" kesal Sukuna.

"Hmm, malem Minggu besok, datang ya ke rumah. Kita dinner bareng. Aku yang masak."

Sukuna mengernyitkan dahi. "Terus, kau mau aku bawain apa?"

"Nggak usah bawa apa-apa. Dateng aja. Aku pengen dinner sama kamu."

"..." Sukuna masih bingung dengan penuturan Gojo. "Dinner resmi? Pake dresscode?"

"Nggak usah. Biasa aja. Dinner biasa kok. Cuma aku yang masak, dinner di rumah. Nanti aku suruh Megumi ke tempatmu buat nemenin Yuuji, biar kita bisa bebas."

"...oke," meski masih bingung, Sukuna menyanggupi itu.

.

.

Hari yang ditentukan pun tiba. Sukuna sudah mengecek urusan pekerjaan pagi tadi, jadi malamnya ia bebas. Untuk besoknya ia titipkan pada Uraume atau Mahito kalau ada apa-apa.

Sukuna mematut diri di depan cermin, ia merapikan rambutnya sekali lagi. Ia sedikit berdebar. Ia tak memakai pakaian resmi, tapi setidaknya ia memakai pakaian yang ia anggap rapi untuk kencannya malam nanti. Meski kencan yang ia maksud hanyalah makan malam di rumah Gojo. Setelah merasa cukup, Sukuna pun keluar dari apartment membawa mobilnya. Ia sengaja berangkat lebih awal karena mau mampir dulu ke toko bunga. Ia sudah memesan bouquet beberapa hari lalu. Meski Gojo bilang tidak usah membawa apa-apa, rasanya aneh saja kado Sukuna untuk Gojo hanyalah datang untuk makan malam yang Gojo siapkan sendiri. Jadi Sukuna pun memesan bunga.

"Irasshaimasen," sambut penjaga toko saat Sukuna masuk. Ia menyebutkan pesanan atas nama Ryomen Sukuna, dan pegawai toko segera mengambilkan pesanannya tersebut.

Sukuna tersenyum puas melihat bouquet yang ia pesan, bouquet nya terlihat segar dan indah. Ada kartu ucapan kecil di bouquet itu dengan kata-kata yang dipesan Sukuna. Setelah membayar bouquet itu, Sukuna meninggalkan toko. Sebelum menuju rumah Gojo, ia menyempatkan diri membeli minuman ber brand mewah yang ia rasa akan cocok menemani makan malam mereka. Sukuna memasukkan botol besar itu ke kantong coklat, lalu membopongnya ke mobil. Ia melirik novel Rokugan yang ada di dashboard mobil, ia masukkan juga ke kantong coklat itu. Siapa tahu nanti bisa untuk membuka obrolan. Setelah itu, Sukuna pun melaju menuju rumah Gojo.

Ting tong...

Ia menekan bel setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Gojo sudah memberitahu kode masuk gerbang rumahnya, jadi sekarang Sukuna sudah bebas keluar masuk rumah Gojo. Tapi kalau soal pintu rumah, well, Sukuna sendiri merasa terlalu lancang kalau harus langsung nyelonong masuk meskipun pemilik rumah adalah pacarnya sendiri.

Tak berapa lama rerdengar langkah mendekat dan suara gagang pintu diputar. Sedikit berdebar, Sukuna menantikan Gojo muncul di balik pintu. Tapi ia langsung mengerutkan dahi saat melihat sosok Gojo yang memakai setelan jazz resmi, lengkap dengan sepatu pantofel.

"Kau bilang nggak pake dresscode!" omel Sukuna begitu melihat Gojo. Ia langsung menjejakkan kakinya ke arah Gojo, sementara Gojo hanya tertawa.

"Iya nggak usah nggak papa," balasnya masih setengah tertawa.

"Dasar brengsek! Kenapa nggak bilang sih! Padahal aku sudah tanya!" Sukuna masih mengomel, memukul-mukulkan bunga di tangannya ke tubuh Gojo yang masih sibuk tertawa.

"Iya iya, udah dong. Nanti bouquet nya rusak. Padahal dikasih aja belom," Gojo meraih pergelangan tangan Sukuna supaya ia berhenti. Gojo juga lalu menarik Sukuna masuk dan menutup pintu. Gojo memeluk pinggang Sukuna, menatap wajah kekasihnya itu. Sukuna masih merengut, tapi dalam hati terpesona melihat Gojo memakai pakaian resmi. Ia bahkan menyisir rambutnya ke belakang, terlihat sangat rapi dan elegan.

"Apa? Naksir?" goda Gojo.

"Geez," Sukuna mendorong bouquet di tangannya ke wajah Gojo.

"Hahaha dasar," Gojo menyingkirkan tangan Sukuna, lalu kembali menatap wajahnya. Tanpa kata ia mengeliminasi jarak di antara mereka, meminta sebuah ciuman singkat. Setelah itu Gojo menggandeng tangan Sukuna masuk ke dalam rumah.

Suasana rumah dihiasi lilin-lilin menghiasi sepanjang jalan menuju meja makan, juga beberapa di sudut ruangan dan di atas meja. Taburan kelopak mawar juga ikut menghiasi dekorasi yang ada.

"Pfftt…" Sukuna meletakkan tangan di mulut menahan tawa.

"Apaan? Kurang romantis?" omel Gojo.

"Ya kamu nyalain lilin banyak tapi lampu terang benderang gini. Nggak kerasa suasana nya dong. Padahal lilin sebanyak ini pasti juga bakal terang kalau matiin satu dua lampu."

"Bodo ah," balas Gojo sewot, ia terus menggandeng Sukuna ke ruang makan. "Tadaa," ucap Gojo bangga. Ia sudah menyulap meja makannya menjadi sebuah jamuan makan malam mewah, dengan hiasan lilin yang indah. "Candle light dinner," ucapnya riang.

"Candle light harusnya matikan lampunya juga," goda Sukuna.

"Boleh, tapi aku nyalakan kembang api biar terang," balas Gojo yang sontak membuat Sukuna merengut. Gojo tertawa kecil dan mengacak rambut Sukuna. Ia lalu menarik kursi, mempersilahkan Sukuna duduk.

"Silahkan duduk, sayangku," ucap Gojo.

Meski enggan, Sukuna jadi tersipu karenanya. Ia benar-benar belum terbiasa dengan panggilan sayang Gojo.

"Bodo ah, sok romantis banget. Nih bunga buatmu," Sukuna menyerahkan bouquet bunga di tangannya.

"Dih, nggak papa dong. Kan suasana nya emang romantis," ucap Gojo. Ia menerima bunga itu dan memajangnya di meja, sementara Sukuna duduk di kursi yang tadi Gojo tarik.

"Aku juga bawa minuman nih," Sukuna menaruh botol yang dibawanya ke atas meja, tapi membiarkan bukunya tetap di kantong cokelat, menaruhnya di dekat kaki kursi yang ia duduki.

"Waaah, mantab. Minuman mahal nih," goda Gojo melihat nama brand nya.

"Sesekali lah, buat dinner istimewa kan," cengir Sukuna.

Gojo menaruh botol itu di mangkuk besar berisi es batu. Setelah itu ia pun memulai acara makan malam mereka.

"Eh, tapi seriusan, kamu nggak minta apa-apa nih?" ucap Sukuna di tengah makan malam mereka..

"Minta dong. Kan tadi udah dibawain bunga, sama minuman mahal," balas Gojo.

"Tapi itu kan atas kemauanku. Yang kau inginkan apa? Masa hanya aku datang untuk makan malam ini."

Gojo menyeringai. "Setelah makan malam aku kasih tahu aku pengennya apa."

Seketika Sukuna merinding. "Kok perasaanku jadi nggak enak, anjing."

Gojo makin menyeringai. "Ayo makan sayang, cepat habiskan. Setelah makan malam, aku beritahu apa yang kuinginkan darimu."

Gulp...!

Sukuna meneguk ludah berat menatap ekspresi Gojo. Mungkin seharusnya ia tak memenuhi undangan makan malam Gojo malam ini.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra