Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak buat kokorocchi, Frigg Nevia07 and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
Sukuna menelan ludah berat saat Gojo mengajaknya ke kamar setelah makan malam mereka. Well, Sukuna sih tidak keberatan kalau Gojo meminta sex. Tapi entah kenapa malam ini sepertinya ada yang beda.
"Aku duluan ya," ucap Gojo yang lebih dulu selesai gosok gigi dan berkumur dengan mouthwash, sementara Sukuna masih menggosok giginya. Ia cepat-cepat menyelesaikan gosok giginya dan berkumur dengan mouthwash karena curiga pada kelakuan Gojo. Setelah mengeringkan mulut dengan tissue, Sukuna kembali ke kamar Gojo. Di sana Gojo sudah menanti di tepi ranjang, ia masih memakai pakaian resmi, hanya saja dasi nya sudah dilonggarkan. Sukuna mendekat dengan tatapan penuh selidik.
"Udah selesai?" tanya Gojo. Sukuna hanya mengangguk sebagai jawaban. "Ya sini dong," Gojo menarik tangan Sukuna supaya mendekat. "Kamu juga tahu kan kita mau ngapain setelah ini," ia mendudukkan Sukuna di pangkuan.
"Beneran, cuma mau sex?" ucap Sukuna.
"Iya, memangnya apa lagi," balas Gojo. "Tapi..."
"Nah ini. Tapi ini nih yang menghawatirkan," potong Sukuna yang sontak membuat Gojo tertawa. "Apaan? Dari awal udah curiga aku sama gelagat mu."
"Hei, padahal kau bilang kau mau memberikan apa saja untukku sebagai hadiah."
"Iya sih, tapi awas saja kalau yang aneh-aneh."
"Hehe, buat malem ini aja kok."
Sukuna menatap horror. "Memangnya apa yang kau mau?"
Gojo menyeringai lalu menarik sebuah tas kertas dari atas ranjang. "Pakai," ia menyerahkan tas itu pada Sukuna.
"Apaan," Sukuna melongok ke dalam isi tas itu.
"Udah, pakai sana," Gojo mendorong Sukuna kembali ke kamar mandi. Dengan terpaksa Sukuna pun menurut. Ia meraih pakaian yang ada di dalam tas kertas itu, tapi lalu terbelalak menatapnya.
"INI APAAN!" ia berniat mendobrak keluar, tapi Gojo menahan pintu kamar mandi. "Satoru brengsek!"
"Pakai. Kalau nggak mau nggak kubukain pintu nih, biar kau membeku di kamar mandi," teriak Gojo dari luar.
"Sialan! Hei, siapa juga yang mau pakai benda ini!"
"Padahal kau bilang mau memberikan kado apa saja yang kuminta. Jangan narik ucapan sendiri dong."
Seketika Sukuna bungkam. Ia paling benci dianggap pecundang, tapi menatap pakaian yang ada di tangannya, rasanya ia benar-benar ogah memakai benda itu.
"Satoru aaah, kado yang lain deh," Sukuna mencoba membujuk.
"Nggak mauuu. Sudah sengaja kubelikan loh," jawab Gojo.
"Tch!" Sukuna mendecih kesal. Sepertinya Gojo serius mau mengurungnya di kamar mandi kalau ia tak mau pakai. "Iya deh iya!" kesal Sukuna. Ia menghela nafas beberapa kali sebelum akhirnya mulai menanggalkan pakaian satu per satu. Ia menelan ludah berat menatap pakaian yang ada di tangannya, dengan berat hati ia memaka benda-benda itu.
"Satoru..." panggilnya pelan setelah mengenakan pakaian-pakaian itu. Tak ada jawaban. Ia pikir Gojo ada di depan pintu masih mencoba menghalanginya keluar, tapi sepertinya tidak lagi. Tahu begini Sukuna enggan menuruti kemauan Gojo memakai baju tersebut, tapi sekarang karena ia sudah terlanjur pakai, ia jadi berpikir...mungkin tidak masalah menuruti kemauan Gojo sesekali. Toh seperti yang dikatakan Gojo, ini adalah kado darinya untuk nominasi itu.
Krieettt...!
Sukuna membuka pintu dengan perlahan. Ia memicingkan mata karena sialnya kamar Gojo tak memiliki lampu redup, sehingga keadaan kamar terang benderang. Dengan wajah memerah, Sukuna keluar dari kamar mandi.
Gojo yang sudah duduk kembali di tepian ranjang, menyeringai menatap Sukuna. Pacarnya itu memakai pakaian bergaya neko mimi super sexy. Bando bertelinga kucing menempel di kepala Sukuna, lengkap dengan pita dan lonceng. Di lehernya ada choker yang juga dihiasi pita beserta lonceng. Bagian dada nya seperti bikini, hanya saja ada lubang di bagian tengah membentuk love sehingga nipple Sukuna terekspose bebas. Di bagian lengan ada frill pendek menghiasi lengan atas Sukuna.
Rok nya mengembang dengan frill di bagian tepi, panjangnya hanya beberapa centi, hanya cukup menutup sampa paha atas Sukuna. Bahkan bagian belakang rok terbelah menjadi dua, memberikan celah untuk ekor, sehingga membuat kedua belah bokong Sukuna terekspose bebas. Celana dalam yang ia pakai hanyalah G-string yang tali di bagian belakangnya masuk ke belahan bokong Sukuna. Ekor yang terpasang, ujungnya merupakan sebuah vibrator, yang cara memasang ekor nya memang dengan memasukkan vibrator itu ke lubang Sukuna.
Mata Gojo menyala melihat pemandangan menggoda itu. Tangannya terulur seolah meminta Sukuna mendekat tanpa kata-kata. Dengan wajah memerah total, Sukuna menyambut uluran tangan Gojo dan mendekat.
"Puas kau!" omel Sukuna yang kini pinggangnya dipeluk Gojo.
Gojo mengangguk dan tersenyum senang. "Kau manis banget pakai ini," ucapnya.
"Seenggaknya pilih warna lain kek!" omel Sukuna karena pakaian yang dikenakannya berwarna soft pink dengan frill putih.
"Bagus kok, cocok dengan warna rambutmu," cengir Gojo. Melihat senyum itu mau tak mau membuat Sukuna luluh. "Hng...Sukuna wangy," Gojo membenamkan wajahnya di belahan dada Sukuna yang berotot, tangannya mengelus buntut Sukuna.
"Hyaahh...!" Sukuna merasakan sensasi aneh saat Gojo mengelus buntut itu.
"Haha, beneran kerasa ya?" ucap Gojo, kembali mengelus buntut Sukuna. "Petugas tokonya bilang ekor ini memiliki sensor khusus yang bisa terasa sampai ke bagian vibrator walaupun ekornya yang dipegang. Benar-benar seperti kucing."
"Ngh..." Sukuna hanya bisa mengerang merasakan sentuhan Gojo.
"Mnh, mau yang lebih?" tangan Gojo meraba ke ranjang samping tubuhnya, ada sebuah remote kecil di sana. Ia menekan tombol remote itu, dan sontak Sukuna menjerit karena vibrator di dalam lubangnya bergerak.
"Hmn, mn," Gojo menghirup aroma tubuh Sukuna. Ia memainkan jemarinya di sekitar nipple Sukuna tanpa perlu menyibakkan pakaian Sukuna. Gojo menjilati nipple itu, mengemutnya, sementara tangannya meremas bokong mulus Sukuna dengan tak sabaran. Ia bisa merasakan getaran vibrator itu di dalam tubuh Sukuna, hal itu membuat Gojo meremas bokong Sukuna lebih kuat.
"Ngh...ahhh, Sa-Satoru..." sukuna mendesah, ia meremas belakang kepala Gojo dengan erat. Ia menatap ke bawah di mana Gojo masih mengulum nipple nya dengan penuh nafsu. Melihat pemandangan itu membuat libido Sukuna semakin naik. Bagian bawah tububnya sudah terasa sesak. Ia ingin disentuh.
"Satoru...ahh, nnh, Saroru...sesak. Nnn..." ia menggeliat tak nyaman.
"Hng..." tapi alih-alih menuruti kemauan Sukuna, Gojo hanya mengusap buntut Sukuna dengan lebih kuat, satu tangan lagi meraba paha Sukuna, sengaja mendekati bagian penis tapi tak menyentuh benda itu.
"Aaaahh, Satoru...ah, kumohon...nn. Ingin...disentuh," pinta Sukuna.
"Iya, sebentar lagi, oke," Gojo masih mengulum nipple Sukuna. Ia ganti menarik buntut Sukuna, lalu menggerakkannya keluar masuk dengan cepat.
"Aaaaahhhh, aaahhhh...!" Sukuna tak tahan lagi. Ia klimaks. Spermanya basah membanjiri celana dalam yang ia pakai. "Hosh...hosh..." nafas Sukuna terengah. Gojo berniat memasukkan kembali vibrator itu ke lubang Sukuna, tapi Sukuna mencegah.
"Nggak mau, nggak puas," protesnya. Ia meremas selangkangan Gojo yang sudah menggunduk. "Mau ini."
Kesabaran Gojo habis sudah. Ia menarik Sukuna ke ranjang, membuatnya menungging. Dengan tak sabar Gojo mengeluarkan penis nya dari dalam celana, lalu langsung menghujam masuk. Ia hanya menepikan G-string Sukuna tanpa melepasnya.
"Ngh...fuck!" umpat Gojo yang sudah tidak tahan. Ia langsung menghujam masuk dan beegerak liar. Tangannya meremas bokong Sukuna dengan kuat, menariknya ke samping sehingga membuat lubang Sukuna yang ia masuki terlihat lebih jelas. Lubang pink itu semakin memerah karena dimasuki Gojo, pemandangan yang membuat nafsu Gojo kian memuncak. "Owh...shit, ahhh...Sukuna—...ahhh," Gojo menghujam keras beberapa kali.
"Nghhh, Satoru...aaahh," Sukuna mendesah di setiap hentakan keras itu. Ia kembali klimaks. Beberapa sentakan kemudian ia merasakan tubuh Gojo bergetar halus, cairan panas mengisi lubangnya. Tanpa sadar Sukuna tersenyum tipis merasakan kenikmatan itu.
Sperma Sukuna banjir hingga menuruni pahanya. Gojo meraba celana dalam Sukuna yang sudah lengket oleh spermanya sendiri. Gojo menurunkan celana dalam itu, ia meremas penis Sukuna yang sudah licin berlumuran sperma. Perlahan Gojo mengocok penis Sukuna dan bertambah cepat. Tanpa sadar ia sudah bergerak keluar masuk lagi di dalam lubang Sukuna. Ia mengocok penis Sukuna di balik rok, membuat penis Sukuna terlihat menggunduk di balik kain pendek itu, juga gerakan tangannya yang tengah mengocok penis Sukuna di bawah rok itu. Entah kenapa Gojo menyukai pemandangan itu, mungkin fetish baru baginya? Gojo tak peduli.
Penis Gojo semakin membesar di dalam lubang Sukuna dan ia bergerak semakin liar.
"Ungh...ahh, Satoru...Satoru..." panggil Sukuna berulang-ulang. Tangannya mencengkeram sprei dengan kuat. Gojo merasakan Sukuna hampir klimaks lagi, tapi ia malah sengaja menghentikan gerakan tangannya di penis Sukuna. "Hey—...!" protes Sukuna.
Gojo mengubah posisi, kali ini membiarkan Sukuna terlentang. Ia membuka paha Sukuna lebar-lebar lalu kembali melakukan penetrasi. Ia sengaja menurunkan rok Sukuna menutupi penisnya, membuat rok Sukuna menonjol karena penis Sukuna yang ereksi penuh.
"Ngh...hah...ahhh," Gojo mendesah, nafasnya memburu melihat pemandangan itu. Tangannya bergerak untuk meremas penis Sukuna dari atas rok.
"Ahh, Satoru...nnh, sentuh langsung," pinta Sukuna.
"Hnn, yeah," Gojo mengalihkan tangannya ke balik rok Sukuna, lanjut mengocok penis itu.
"Sshhh, aahh, mn," tubuh bawah Sukuna terangkat menahan kenikmatan, lubangnya mengerat.
"Ugh...aku hampir..." Gojo tak tahan dengan cengkeraman lubang Sukuna di dalam sana. Ia mempercepat gerakan, beberapa saat kemudian ia klimaks, disusul Sukuna yang juga klimaks di tangannya. Sperma Sukuna tembus membasahi rok yang ia pakai.
"Hosh...hosh..." nafas keduanya terengah. Gojo menunduk di atas tubuh Sukuna, mencoba menormalkan nafasnya. Setelah sedikit tenang, ia mencium Sukuna, mengecup basah bibir ranum itu. Beberapa saat ia melepas ciuman, ditatapnya wajah Sukuna dari jarak yang begitu dekat.
"Masih kuat?" tanya Gojo. Sukuna mengangguk sebagai jawaban. Ia pun melingkarkan tangan di leher Gojo, dan mereka melanjutkan kegiatan ranjang mereka.
.
~OoooOoooO~
.
Matahari sudah tinggi saat mereka membuka mata. Gojo merenggangkan ototnya, menatap jam dinding yang sudah menunjuk angka 10 lewat. Sukuna menggeliat di sampingnya.
"Ohayou," sapa Gojo.
"Hngh..." Sukuna mengguman tak jelas. Ia membuka mata lalu memejam kembali. Gojo tertawa pelan melihat itu.
"Aku mandi duluan ya," Gojo mengecup pelipis Sukuna. Tapi saat ia mau beranjak bangun, Sukuna memeluk perutnya.
"Hnghhh..." erangnya tak jelas.
Gojo pun batal bangun, ia berbaring di samping Sukuna, menatap wajah terpejam itu. Ia menoel kecil hidung Sukuna, membuat pria itu membuka mata walau terlihat berat. "Udah siang," ucap Gojo.
"Hngh..." Sukuna beralih merangkak ke atas tubuh Gojo, berbaring di atas nya. Kembali merebahkan kepala di dada Gojo dan memejamkan mata.
"Hey, bangun lah udah siang," Gojo membelai rambut Sukuna.
"Males. Kau juga libur kan," balas Sukuna.
"Iya sih. Tapi nanti sakit kepala kebanyakan tidur."
"Kebanyakan tidur apaan. Kita tidur jam tengah 7 pagi tadi loh."
"Iya sih, tapi sekarang udah nggak ngantuk gara-gara kebangun."
Dengan malas Sukuna bangun, duduk di perut Gojo. Gojo tertawa kecil melihat penis Sukuna yang ereksi. Ia menyentil benda itu dengan jahil. Sukuna tersenyum kecil karenanya. Gojo mengusap kepala penis Sukuna, menyentuh-nyentuh lubangnya sesaat.
"Ngh..." Sukuna mencengkeram dada Gojo.
"Mandi dulu ah, gerah," Gojo duduk, memeluk Sukuna.
"Masih ngantuk," ucap Sukuna sambil menguap.
"Ya udah, aku mandi duluan. Kamu tidur lagi aja," Gojo menepuk-nepuk pelan punggung Sukuna.
"Hngh..." Sukuna menggumam tak jelas, ia malah merebahkan kepala ke pundak Gojo.
"Geez, dasar," Gojo pun bangkit membopong Sukuna seperti koala, dan membawanya ke kamar mandi. Sukuna tertawa karena itu, ia memeluk tubuh Gojo erat supaya tak jatuh.
"Turun ah, mandi yang bener," Gojo menyalakan shower dan mengguyur tubuh mereka.
"Siapin air bathtub dong," protes Sukuna.
"Aku nggak mau berendam."
"Aku yang mau berendam."
"Hish, dasar," Gojo mencubit pipi Sukuna. Ia memaksa Sukuna turun lalu menyerahkan shower ke Sukuna. Ia lalu pergi ke bathtub mengisi air hangat, sementara Sukuna terkekeh sambil membilas tubuhnya dengan shower.
Sukuna duduk di atas closet duduk yang tertutup, ia menaikkan kaki, membuka pahanya lebar-lebar. Ia mengarahkan shower ke lubangnya, lalu memasukkan dua jari untuk mengeluarkan cairan putih dari dalam lubangnya.
"Banyak banget anjir," ucap Sukuna merasakan cairan lengket itu tak berhenti keluar. Gojo tertawa pelan lalu menghampiri Sukuna, ia membantu Sukuna mengeluarkan cairan itu dari lubangnya. Setelah membersihkan tubuh Sukuna, Gojo membopong pacarnya itu masuk ke bathtub. Sukuna tak melepaskan rangkulannya saat Gojo berniat bangun. "Sini ah, masuk," omel Sukuna.
"Aku lagi males berendam," protes Gojo.
"Bodo amat. Masuk!"
"Tch!" akhirnya Gojo pun mengalah. Ia masuk ke bak mandi, memangku Sukuna, memeluknya dari belakang. Sukuna bersandar rileks di dada Gojo. "Jangan tidur loh."
"Ngh, berisik," sepertinya ia betulan memejamkan mata.
"Sukunaaaa, jangan tidur lagi," Gojo menjewer pipi Sukuna dari belakang.
"Bentar doang."
"Ah, kau ini," Gojo memeluk Sukuna, mengecup lehernya. "Bangun."
Sukuna tertawa pelan. "Kalau dibegitukan terus beneran bangun loh."
Gojo balas tertawa lalu meremas penis Sukuna yang kini lemas. "Ah, udah ah," Gojo memaksa keluar dari bathtub, lalu mandi menggunakan shower, sementara Sukuna masih menikmati kehangatan bathtub. Alhasil Gojo pun selesai mandi duluan. Ia membersihkan wajahnya dengan sabun muka, lalu gosok gigi dan berkumur dengan mouthwash.
"Duluan ya," ucap Gojo sambil menaruh sikat giginya.
"Hngh," Sukuna menggumam tak jelas. "Eh tunggu tunggu," cegahnya saat Gojo membuka pintu, membuat pria itu menghentikan langkah.
"Apa?" tanya Gojo.
"Nanti selesai aku mandi kau di kamar ya."
"Huh?"
"Pokoknya nanti kalau aku selesai mandi, kau harus ada di kamar."
Gojo mengernyit heran tapi lalu meng iyakan. "Iya iya," jawabnya lalu keluar dari kamar mandi.
Sukuna berendam sampai air bathtub mulai dingin. Barulah ia menuju shower dan menyelesaikan mandinya. Setelah selesai di kamar mandi, ia menyambar handuk lalu membuka pintu kamar mandi. "Satoru," panggilnya. Kali ini Gojo ada di kamar, masih memakai bathrobe. "Keringin badanku," ucap Sukuna sambil mengacungkan handuk di tangannya.
Gojo tertawa tertahan. Jadi itu tujuan Sukuna menyuruhnya berada di kamar saat ia keluar? "Iya iya," Gojo menghampiri lalu mengelap tubuh Sukuna dengan handuk. Ia sempat meremas selangkangan Sukuna dari balik handuk untuk menggodanya.
"Sekuhara," canda Sukuna.
"Bodo amat," Gojo membalut tubuh Sukuna dengan handuk, lalu membopongnya ke ranjang. "Biar kukeringkan sekalian rambutmu," ia memangku Sukuna di tepi ranjang, lalu meraih hairdryer yang tadi ia pakai. Ia mengeringkan rambut Sukuna.
"Hng...?" Sukuna menatap ke meja dan baru menyadari ada empat potong sandwitch dan dua gelas susu di sana.
"Males masak, dapurnya masih berantakan gara-gara semalem," jelas Gojo. Ia selesai mengeringkan rambut Sukuna yang kini berantakan jatuh ke dahi, tak rapi seperti yang biasa Sukuna lakukan. Gojo tersenyum menatap itu. "Imut," komentarnya yang sontak membuat wajah Sukuna memerah.
"Apaan sih!" kesal Sukuna, ia merapikan rambutnya ke belakang tapi Gojo kembali mengacaknya.
"Udah gini aja. Sekali-kali lah, beb," panggil Gojo yang sontak membuat Sukuna menurut. Rasanya Gojo benar-benar gemas pada kelakuan pacarnya itu. "Hiisshh," ia mencubit pipi Sukuna.
"Eh, yang semalan belum diberesin?" ucap Sukuna.
"Belum, kan tahu sendiri abis dinner aku langsung ngajak ke kamar."
Sukuna jadi teringat buku nya yang ia taruh di kantong coklat. Sukuna bangkit dari pangkuan Gojo menuju ruang makan. "Hei, pakai baju dulu," teriak Gojo pada Sukuna yang bahkan tak memakai handuknya.
"Bentaran doang," teriak Sukuna dari arah dapur. Ia menghampiri kantong coklat yang semalam ia bawa, rupanya memang masih berada di sana. Ia membawa kantong coklat itu kembali ke kamar.
"Itu apaan?" tanya Gojo saat Sukuna kembali ke pelukannya.
"Novel mu. Kemarin aku beli," Sukuna mengambil buku itu dan membuang sembarangan kantong coklat nya ke lantai.
"Astaga, dibeli. Padahal di rak ku ada tuh kalau kau penasaran."
"Biarin. Biar kau dapat royalti juga."
"Haha, makasih," Gojo mengecup pelipis Sukuna. "Terus gimana? Bagus nggak?"
Sukuna mengangguk. "Bagus," ia menatap wajah Gojo. "Selamat ya dapat nominasi. Sepertinya semalam aku belum sempat memberi selamat."
"Iya sama-sama, makasih udah dateng dan nurutin kemauanku," Gojo mendekap tubuh Sukuna. Seketika Sukuna ingat dengan kejadian semalam.
"Aaaaargh pokoknya sekali itu doang. Aku nggak bakalan mau lagi!" omel Sukuna.
"Ah, pelit amat. Padahal aku udah mikirin kostum lain buat hadiah kalau aku menang nanti."
"Ogah!"
"Peliiiitttt."
"Bodoooommph-..." ocehan Sukuna terhenti saat Gojo mencium bibirnya. Mereka berciuman untuk beberapa saat. Gojo tersenyum lalu mengecup dahi Sukuna.
"Ngomong-ngomong, ini beneran kisah nyata?" Sukuna menyamankan diri bersandar ke tubuh Gojo, ia membuka-buka random novel di tangannya.
"Iya. Cuma ya di lebay-lebay in dikit, namanya juga novel. Tapi kejadiannya nyata. Cuma sebenarnya timeline nya acak. Itu hal-hal yang kualami sejak dulu sampai sekarang, bukan terjadi dalam satu waktu. Aku ambil hal-hal besar yang kualami saja. Kalau semua dimasukin nggak baka muat lah."
"Yang Suguru juga beneran?"
Gojo mengangguk. "Iya, yang aku sampai pingsan itu loh."
"Terus nggak lapor polisi nih?"
"Ya gimana, nggak ada bukti juga. Ya kali yang jadi saksi di pengadilan makhluk astral."
"Lah, emang orang-orang yang terlibat nggak ada yang bisa disuruh ngaku?"
"Itu kejadian tahun berapa sih. Semua pelaku juga sudah meninggal. Lagipula warga desa menganggap Suguru pelakunya. Karena pelaku sudah mati ya mereka tenang. Merasa kasus sudah selesai."
"Nggak ada satupun yang merasa bersalah gitu. Heran, bisa hidup damai habis bunuh orang."
"Ya tahunya mereka kan bunuh orang jahat. Mau gimana lagi."
"Terus anak-anak SMU itu juga nggak ada yang ngaku gitu?"
"Nggak ada. Tapi coba tebak, mereka semua meninggal muda."
"Suguru yang bunuh?" Sukuna menyeringai senang.
Gojo menggeleng. "Nanako sama Mimiko."
"..." Sukuna sempat terbelalak. Ia mendongak menatap wajah Gojo. "Kok nggak diceritain di sini?"
"Sama Suguru nggak boleh. Katanya nggak mau anak-anak yang polos itu terkesan jadi pembunuh meskipun hanya arwah sekalipun."
"Heee," gumam Sukuna. Untuk beberapa saat keduanya diam. "Hei, ceritain lagi dong," ucap Sukuna kemudian.
"Cerita apa?" tanya Gojo.
"Masa lalu mu yang nggak ada di buku ini."
"Nggak ah, ngapain juga. Nggak penting."
Sukuna mendorong tubuh Gojo hingga bersandar ke bantal. Sukuna membalik tubuhnya, tengkurap di atas tubuh Gojo. Ia menekuk kedua tangannya di dada Gojo, menggunakannya untuk tumpuan kepala.
"Kita kan udah pacaran. Bukankah sudah waktunya kau sedikit terbuka pada pacarmu ini? Aku ingin tahu soal masa lalumu. Soal bagaimana kau mengadopsi Megumi juga."
"Ah, nggak usah ah," Gojo masih berusaha menolak.
"Curang banget sih, padahal aku udah cerita soal keluargaku padamu."
"Yee, curang apaan. Memangnya ini permainan."
"Tch, terus kenapa nggak mau cerita? Takut aku nyebarin ceritamu?"
"Ya nggak gitu juga."
"Terus?"
"..." Gojo bungkam menatap lurus iris Sukuna. Ia memainkan rambut Sukuna dengan ujung jemarinya. "Ini bukan cerita yang menyenangkan."
"..." Sukuna menatap raut kesedihan di sorot mata Gojo. "Aku mendengarkan," ucapnya kemudian.
Gojo menghela nafas panjang sebelum mulai berucap. "Okay, mulai dari mana?"
"Hmm…mulai dari phobia mu? Kenapa kau takut tempat gelap. Apa karena 'mereka' yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa? Padahal kau bilang kau sudah tak takut pada mereka, tapi kenapa masih takut gelap."
Gojo mengarahkan pandangan entah kemana seolah tengah mengingat. "Dulu waktu kecil aku masih sangat takut dengan 'mereka'. Dan keluargaku yang notabene keluarga modern, sudah tidak percaya pada hal semacam itu, dan mungkin menganggapku gila. Aku pernah dikurung di gudang semalaman. Padahal aku sedang sedikit demam, listrik dimatikan, tak ada sumber cahaya sama sekali, aku ketakutan setengah mati karena gudang itu tempat yang lembab dan kotor, tempat favorit mereka-mereka itu."
Sukuna bungkam. Pantas saja Megumi bilang Gojo tak pernah mau menceritakan hal ini pada siapapun, karena ia takut orang yang mendengarnya takkan percaya. Karena keluarganya sendiri juga tak percaya. "Terus? Kau pingsan?" tanya Sukuna.
"Lebih tepatnya…aku dibawa ke alam mereka. Kurasa itu pertama kalinya juga aku melakukan perjalanan astral dan mengetahui masa lalu tragis seseorang. Ah, orang yang kumaksud ini, sosok yang menghampiriku di gudang. Dia sudah mengikutiku sejak sepulang sekolah, seorang korban kecelakaan. Dia membawaku, memperlihatkan masa lalunya, baru setelahnya aku bangun. Dan ternyata aku sudah koma di rumah sakit selama seminggu."
"Whut, seminggu? Astaga," Sukuna geleng-geleng kepala.
"Ya, dan sejak itu aku jadi takut gelap. Meski lama-lama aku nggak takut sama makhluk astral, traumaku terhadap tempat gelap nggak mau hilang. Sepertinya rasa takut yang kualami saat itu terlalu membekas."
Sukuna mengalihkan posisinya berbaring di samping Gojo, takutnya Gojo pegal ia tindih terus. "Apa setelah itu keluargamu jadi jera menghukummu?"
"Enggak lah. Sama saja. Lebih parah malah. Satu-satunya keluarga yang percaya padaku hanya kakek, tapi kakek meninggal saat aku 13 tahun. Aku tambah stress karena setelah kakek meninggal aku malah memperoleh kemampuan lain."
"Kemampuan apa?"
"Membaca pikiran. Sama telekinesis."
Sukuna melongo. Ia langsung duduk tegak, lalu memegang kedua pundak Gojo. "Oke, baca pikiranku."
"Udah nggak bisa," ucap Gojo.
"Atau buat meja itu bergeser."
"Dibilangin udah nggak bisa. Pas SMU aku dikasih tahu seseorang, katanya orang yang punya kemampuan seperti ini biasanya kemampuannya akan hilang setelah menikah, jadi dia berkesimpulan kalau yang punya kekuatan seperti ini adalah anak yang masih suci. Jadi ya…dia menyarankan, kalau aku mau menghilangkan kekuatanku, aku harus membuat diriku tidak 'suci' lagi. Aku melakukan sex. Berulang kali. Dan lama kelamaan kemampuanku hilang kecuali kemampuan melihat makhluk astral, hanya tersisa hal ini saja. Ah, palingan sama yang mengetahui masa lalu seseorang. Kalau energy nya kuat, seperti Suguru, aku bisa melihatnya. Tapi kalau yang biasa, aku sudah nggak bisa. Dulu aku bisa loh, memegang sesuatu, terus mengetahui history benda itu. Melihatnya secara langsung seperti kembali ke masa lalu."
"Aaaahhhh terus kenapa dihilangiiin. Padahal kemampuan-kemampuan yang kau miliki sekeren itu," omel Sukuna.
"Gila, stress aku. Tiap ketemu manusia, aku bisa membaca pikiran mereka. Beda apa yang diomongin sama yang dipikirin. Terus kalau ketemu makhluk halus dikit-dikit flashback, dikit-dikit flashback, lama-lama aku nggak tahu mana yang nyata mana yang flashback. Ya mending kalau masa lalunya bagus, kalau tragis? Lama-lama aku masuk RSJ yang ada."
Sukuna manyun, sepertinya memang berat. Ia menghela nafas panjang lalu kembali rebahan di samping Gojo. "Terus, yang telekinesis gimana? Kan kece, nggak bikin stress juga. Malah memudahkan hidupmu kan."
Gojo menghela nafas lalu rebahan miring supaya bisa menatap Sukuna. "Keren ya, bisa terbang, terus nerbangin benda-benda juga."
Sukuna mengangguk mendengar itu. "Huh? Kau bisa terbang juga? Nggak Cuma nggerakin benda?"
Gojo mengangguk. "Aku bisa melayang, bisa membuat benda lain melayang. Bahkan bisa teleport jarak dekat."
Sukuna terbelalak dan melongo. "Serius?"
Gojo mengangguk. "Tapi kalau teleport, energy nya besar. Biasanya aku langsung mimisan habis teleport."
"Terus, kenapa dihilangin? Kan bagus itu."
Gojo tak menjawab, menatap lurus ke iris Sukuna. "Yakin mau dengar?" ucapnya datar. Kali ini Sukuna tak langsung mengangguk, ia melihat kesedihan di wajah Gojo. Ia pun mengusap pipi Gojo dengan lembut.
"Melihat ekspresimu, apa kau yakin hal itu tidak terlalu menyakitkan kalau kau tanggung sendiri? Aku siap menanggungnya bersamamu," ucap Sukuna.
"…" Gojo tersenyum kecil. Ia meraih tangan Sukuna di pipinya lalu mengecup lembut. Ia memberi jeda sebelum mulai bercerita kembali. "Aku…pernah membunuh orang, dengan kekuatanku. Banyak orang. Termasuk ayahku sendiri. Juga…ayah Megumi mati gara-gara aku."
Bohong kalau Sukuna tak terkejut. Tapi ia memilih untuk menelan keterkejutannya. Gojo bukannya bercerita sambil tertawa puas juga, ia mengatakan itu dengan raut wajah sedih. Pasti ia bukan membunuh karena hal sepele kan.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Sukuna.
Sebulir cairan bening meleleh dari sudut mata Gojo, ia menyekanya sesaat lalu sedikit menenangkan diri untuk melanjutkan cerita. "Kau ingat tadi aku bilang aku sangat stress setelah kakekku meninggal? Tak ada lagi yang mempercayaiku, aku mendapat kemampuan-kemampuan baru yang membuat kepalaku nyaris meledak, dan keluargaku makin parah memperlakukanku. Aku pernah kabur suatu hari, Cuma lari. Lari terus nggak tahu kemana. Aku baru berhenti saat udah nggak bisa jalan lagi. Waktu itu hujan, aku meringkuk di emperan toko yang tutup. Banyak petir, yeah, aku lumayan takut petir. Dan orang-orang yang lewat juga tak ada yang mempedulikanku. Memangnya siapa yang mau memungut bocah berambut putih aneh dari jalanan. Mereka pikir aku anak berandalan atau mafia—waktu itu aku masih bisa membaca pikiran orang—jadi mereka malah takut."
Gojo menarik nafas panjang. "Tapi ada satu orang yang membantuku, membawaku pulang ke rumahnya. Namanya Toji-san, dia ayah Megumi. Waktu itu Megumi baru berusia 1 tahun. Lucu sekali," Gojo tersenyum mengingat Megumi kecil. "Yeah, intinya dia menampungku sementara, sampai aku merasa baikan dan pulang. Tapi kau tahu, saat aku pulang setelah kabur itu, orang tuaku bahkan tak peduli aku dari mana dan menghilang berapa lama. Masa bodo lah dengan mereka," Gojo mengibaskan tangannya. "Intinya sejak hari itu aku sering main ke tempat Toji-san. Aku biasa menjaga Megumi, Toji-san dan istrinya punya warung makan depan rumah, jadi mereka bisa kerja dengan bebas kalau aku menjaga Megumi."
"Singkatnya, suatu hari, ayahku tahu aku sering main ke tempat Toji-san. Harusnya sih tidak masalah, toh dia tak pernah peduli padaku, tapi dia itu hobby banget cari masalah. Katanya memberi pengaruh buruk padaku, karena aku mengisi angket rencana masa depan di sekolah dengan mau menjadi penulis, bukan mau meneruskan perusahaan ayahku. Ditambah, saat ayahku tahu kalau Toji-san itu dari Zennin. Ngomong-ngomong, Zennin itu keluarga yang bermusuhan dan selalu bersaing dengan Gojo. Padahal Toji-san sudah keluar dari sana dan ganti marga jadi Fushiguro, pokoknya harusnya tak ada masalah. Tapi ayahku itu memang batu."
"Aku sudah berjanji tidak akan ke tempat Toji-san lagi, dan berjanji akan meneruskan perusahaan. Kupikir semua akan baik-baik saja. Tapi kemudian aku mengetahui kalau ayahku menghancurkan bisnis Toji-san, sampai ia sekeluarga terusir dari rumah mereka. Aku benar-benar marah saat itu. Aku membuat kerugian besar di Gojo hanya supaya ayahku mendengarkanku, aku juga mengancamnya dengan menunjukkan kemampuan telekinesisku, menerbangkan semua benda di ruang kerja nya. Dan sepertinya itu sukses membuatnya takut."
"Aku berhasil menemukan Toji-san, membawa mereka kembali ke rumah mereka dan mengurus masalah dengan bisnis mereka. Pokoknya mengembalikan keadaan seperti semula. Di rumah aku juga jadi sering menunjukkan kekuatanku, sekedar mengingatkan ayahku supaya tak macam-macam lagi, supaya ia tahu apa yang bisa kulakukan. Tapi yang terjadi malah lebih buruk."
"Ayahku makin ketakutan melihat kemampuanku, dikira aku monster. Suatu hari ia memanggil Shaman untuk membunuhku. Membunuhku, putra nya sendiri. Aku tahu dia membenciku, aku juga membencinya, tapi aku tidak berpikir dia akan sampai sejauh itu mau membunuhku, karena sebenci apapun aku, aku juga tak pernah berpikiran untuk membunuhnya. Tapi dia serius, dia memanggil Shaman itu untuk mengunci kekuatanku, aku mau dibakar. Tapi untungnya kekuatan teleportku belum terkunci, aku kabur ke rumah Toji-san, karena tak tahu harus ke mana lagi. Entah hal baik atau hal buruk aku kabur ke sana."
"Aku tahu mereka akan mengejarku. Selama ini aku berpikir aku bersalah karena aku kabur ke sana, tapi sekarang kalau kupikir ulang, aku tidak kabur ke sana pun, mereka pasti akan datang ke rumah Toji-san karena tahunya aku akan ke sana. Intinya Ayahku dan anak buahnya, serta Shaman itu, mendatangi rumah Toji-san, menanyakan keberadaanku. Toji-san sudah bilang aku tak ada, tapi benar saja, mereka tetap menyerang. Mereka membunuh Toji-san dan istrinya, aku melindungi Megumi. Aku hampir kehilangan Megumi, tapi hebatnya, di sisa kekuatannya Toji-san masih kuat bangun dan membunuh Shaman itu, jadi kekuatanku tak terkunci lagi."
"Aku yang marah menggunakan kemampuan telekinesisku untuk membuat mereka saling bunuh, dan terakhir aku membuat ayahku menggorok lehernya sendiri dengan pisau. Tak ada saksi, tak ada sidik jariku, tak ada bukti aku yang membunuh. Dan aku bebas dari jerat hukum meski sudah membunuh banyak orang termasuk ayahku, kepala clan Gojo," Gojo menatap kosong mengakhiri kalimat itu.
Sukuna menelan ludah berat, ia tidak tahu harus bereaksi apa mendengar itu. Satu sisi ia terlalu shock mendengar tragedy itu, satu sisi ia merasa sakit melihat ekspresi sedih Gojo. Dalam keadaan normal ia pastinya sudah lari ke polisi dan melaporkan ada pembunuh di hadapannya, tapi mendengar kisah tragis di baliknya, ia tahu Gojo juga korban dari situasi yang ada. Bisa dikatakan ia melakukan itu untuk pembelaan diri.
Sukuna meraih kepala Gojo lalu mendekapnya, menyamankannya di dada Sukuna. Ia mengusap lembut kepala Gojo.
Gojo tertawa kecil. "Kau tidak takut padaku? Aku seorang pembunuh."
"Yeah, tapi kau sudah tidak punya kekuatanmu."
"Tapi aku masih bisa menusukmu dengan tanganku sendiri."
"Aku tidak yakin kau bisa melakukannya pada pacarmu yang sangat kau cintai ini."
Gojo tertawa. "Ya, kurasa," ucapnya. Ia memeluk punggung Sukuna dan semakin menyembunyikan wajahnya di dada Sukuna, mencari kenyamanan di sana. Cukup lama mereka saling diam, larut dalam pikiran masing-masing.
"Jadi…sejak itu kau mengadopsi Megumi?" Sukuna memecah keheningan di antara mereka.
Gojo menghela nafas berat untuk menenangkan diri. "Yeah, aku mengadopsi Megumi setelahnya."
"Tunggu, usia berapa kau saat itu? Karena aku juga kesulitan mendapatkan hak asuh Yuuji meski sudah cukup umur dan memiliki pekerjaan."
"17. Jalan ke 18."
"Whut?! Bagaimana bisa? Kau bahkan masih butuh wali di usia itu."
"Waktu itu aku masih di clan Gojo kan. Aku pakai nama clan untuk mendapat hak asuh Megumi. Lulus SMU aku sudah 18, sudah tidak butuh wali. Aku keluar dari clan untuk hidup bersama Megumi. Nama Gojo di namaku yang sekarang hanya sebuah nama biasa, bukan nama clan. Jadi…" Gojo melepas pelukannya, menatap wajah Sukuna. "…kalau kau mau melaporkanku ke polisi sekarang, tidak ada back up dari clan atau apapun, aku hanya orang biasa seperti orang pada umumnya."
Chuckle. Sukuna menarik sebelah bibirnya. "Pembunuhan waktu itu adalah kasus besar karena yang terbunuh adalah kepala clan Gojo, ayahmu. Bagaimana polisi bisa meloloskanmu saat itu, dan mau menangkapmu di waktu sekarang. Tidak masuk akal. Lagipula mana mungkin mereka mendengar pengakuanku orang asing, sok tahu soal kejadian yang terjadi puluhan tahun lalu, yang tak ada hubungannya sama sekali denganku."
Gojo tersenyum tipis. Ia meraih tangan Sukuna dan menaruhnya di pipi. Merasakan suhu tubuhnya. "Kau orang pertama yang kuberitahu soal ini," ucap Gojo. "Bahkan aku juga belum mengatakannya pada Megumi."
Sukuna mengerutkan alis. "Bukannya Megumi mengalaminya bersamamu?"
"Dia bocah umur 3 tahun Sukuna, kamu pikir dia ingat apa?" ucap Gojo. "Kamu sendiri bilang kamu nggak ingat wajah Ibu mu yang pergi saat kamu usia 3 tahun. Coba kamu pikir, hal apa yang bisa kamu ingat di usia 3 tahun."
"…" Sukuna bungkam.
Gojo menghela nafas dalam. "Aku nggak tahu gimana reaksi Megumi saat aku cerita ini nanti. Pasti dia akan membenciku."
Sukuna menghela nafas berat. Tak tahu harus merespon apa. Ia jadi teringat saat dulu Gojo panik ketika Megumi tak memberitahu soal ia yang kerja sambilan. Gojo waktu itu juga sangat parno Megumi telah membencinya, mungkin ada hubunganya dengan ketakutan tersembunyi Gojo akan hal ini.
Melihat Sukuna diam, Gojo tersenyum lalu menoel hidung Sukuna.
"Gimana, masih mau pacaran dengan pembunuh ini?"
"Nggak, serem. Jangan-jangan ntar aku dibunuh pas tidur."
"Nggak lah, pas bangun aja aku pasti menang, ngapain nunggu tidur."
"Sialan," Sukuna melempar bantal ke wajah Gojo. Gojo meraih bantal itu tapi tak menyingkirkannya dari wajah. Samar Sukuna melihat tubuh Gojo bergetar halus. Sukuna menyingkirkan bantal itu, hidung dan mata Gojo memerah, air mata tumpah dari iris langitnya. Sukuna mengacak rambut Gojo.
"Hmm, segitu takutnya aku putusin. Cup cup cup, dasar bayi besar," Sukuna meraih tubuh Gojo dan memeluknya. Gojo hanya tertawa di sela isak nya, lalu kembali menenggelamkan wajah di dada Sukuna. Sukuna membelai lembut kepala Gojo.
"Tenanglah, yang kau lakukan sudah benar. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Berkat kau Megumi hidup, dan bisa bertemu Yuuji sekarang."
"Yeah, tapi aku terus berpikir bagaimana kalau aku tak pernah berurusan dengan keluarga Toji-san. Mungkin mereka masih hidup bahagia saat ini," balas Gojo diselingi isakan kecil.
"Tapi dia sendiri yang memilih untuk membawamu pulang dari jalanan kan. Padahal bisa saja dia sama seperti orang lain yang menganggapmu berandalan atau anak mafia, lalu mengabaikanmu di hari hujan itu. Tapi dia memilih untuk mengulurkan tangan padamu," Sukuna mengecup puncak kepala Gojo. "Semua mengikuti kehendak takdir. Kalian hanya melakukan apa yang kalian pikir terbaik saat itu. Dan kau juga sedang melakukan yang terbaik saat ini untuk Megumi."
"Yeah…" balas Gojo dengan suara serak.
.
.
.
~TBC~
.
A/N : Bagi yang tertarik lihat gambar Sukuna pakai nekomimi sexy (no sensor), bisa dilihat di Trakteer author ya : Noisseggra.
File nya bisa didownload dan kualitas full HD. Jadi bisa di zoom dan nggak pecah, aing tahu kalian pada doyan nge zoom TeTe sama bokong mulus Sukuna aokawokawok~
Untuk gambar yang sensor bisa dilihat di facebook author : Kai Shadowchrive Noisseggra.
See you next chapter~
