Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak buat Frigg Nevia07, kokorocchi and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
"Hosh…hosh…" Yuuji bernafas teratur, ia tengah lari pagi saat ini. Sesekali ia menatap sekeliling, menikmati pemandangan pagi. Udaranya masih sangat segar, ia berhenti untuk menarik nafas panjang, menghirup udara pagi masuk ke paru-parunya. Ia menoleh ke belakang di mana Megumi mengikutinya dengan bersepeda—sepeda Yuuji. Karena jalanan sedikit menanjak sepertinya ia sedikit kewalahan.
Ckiiitt…!
Megumi berhenti di dekat Yuuji, nafasnya terengah. "Istirahat dulu, capeeekk," keluh Megumi, menundukkan kepala di stang.
"Haha, selama nanjak kau tuntun saja deh, nanti kalau sudah menurun baru naiki lagi. Nanti aku tunggu di atas tanjakan."
Megumi pun setuju. Akhirnya Yuuji lari duluan sampai atas, sementara Megumi menuntun sepedanya. Yuuji menunggu sambil lari-lari kecil di tempat. Setelah sampai, Megumi langsung menaiki sepedanya yang melaju sangat cepat karena jalanan menurun.
"Wohoo…" teriaknya.
"Aahh dasar curang," omel Yuuji. Ia berlari sedikit lebih cepat mengikuti laju Megumi. Tapi rupanya Megumi menunggu Yuuji setelah jalanan rata.
"Mau bonceng nggak? Sepertinya kau sudah capek," ucap Megumi melihat Yuuji yang ngos-ngosan mengejarnya.
"Hmm…nggak deh, masih kuat kayaknya," ucap Yuuji. "Finish di taman ya, kita istirahat di sana nanti."
Megumi mengangguk. Ia pun mengayuh sepeda menyesuaikan kecepata lari Yuuji. Mereka menuju taman, Megumi memarkirkan sepedanya sementara Yuuji melakukan gerakan pendinginan. Megumi yang sudah kehabisan tenaga memilih meregangkan otot sesaat lalu duduk di bangku semen yang melingkari sebuah pohon di belakang Yuuji.
"Kau jadi rajin olahraga sekarang," ucap Megumi sambil menenggak cairan isotonic.
"Iya, nanti buat masuk FFA kan ada tes fisiknya. Harus kuat dong badanku," ucap Yuuji. "Makasih ya udah nemenin."
"Santai. Aku saja pakai sepeda," balas Megumi.
Yuuji tertawa. "Bersepeda kan juga olahraga. Apalagi di jalanan nanjak."
"Geez," Megumi hanya menghela nafas lelah.
Yuuji menyelesaikan pendinginannya lalu duduk di samping Megumi, cowok itu memberikan cairan isotonicnya, menyuruh Yuuji minum. Megumi melamun menatap kosong entah ke mana.
"Mikirin apaan?" tanya Yuuji, menutup botol minuman isotoniknya.
"…kalau kita kuliah nanti, aku bingung bagimana dengan Tou-san. Dia bakal tinggal sendiri. Aku khawatir, bayangin dia capek-capek pulang kerja, harus masak sendiri, makan malam sendiri. Terutama yang kutakutkan kalau dia sedang ketakutan malam-malam karena…karena sesuatu," ucap Megumi. Ia menatap Yuuji. "Kau sendiri, apa nggak khawatir sama Nii-san mu."
"Ya…khawatir sih. Apalagi Nii-san kalau sudah kerja bisa lupa waktu. Kalau sudah lapar baru sadar kalau seharian belum makan. Takut juga kalau tiba-tiba dia collapse karena lupa makan," balas Yuuji. "Apa kusuruh Uraume-san buat tinggal di rumah kami saja ya, untuk menemani Nii-san."
"Yah, masih mending ada yang bisa diandalkan. Aku nggak tahu Tou-san mau kusuruh tinggal sama siapa. Kalau dia punya pacar mending tuh, suruh tinggal bareng."
Yuuji tersedak. "Huh, masa pacar tinggal bareng? Belum menikah?"
"Ya…kalau orang dewasa bukannya biasa gitu? Bawa pacar ke rumah, tinggal bareng," ucap Megumi. "Ah, atau mungkin Tou-san nggak pernah bawa cewek ke rumah karena ada aku ya. Mungkin setelah aku nggak ada dia bakal sering gonta-ganti cewek."
"Hee, Sensei playboy ya."
"Ya lihat saja tampangnya kayak apa. Pergi keluar sebentar aja dikerubutin cewek."
"Tapi siapa tahu dia sepertimu Megumi."
"Huh, aku nggak playboy!" omel Megumi.
"Nggaaak, bukan itu," Yuuji menghela nafas lelah. "Kau ini kan cuek sama orang yang nggak kau suka. Mungkin saja meski sensei dikerubuti cewek begitu dia hanya mencoba ramah sama mereka, bukan berarti mau jadi playboy juga."
Megumi hanya mengedikkan bahu.
"Sudahlah, kita pikirkan sendiri juga nggak ada selesainya. Kapan-kapan kita bicara serius aja dengan mereka," tambah Yuuji. Megumi pun mengangguk setuju.
.
~OoooOoooO~
.
Gojo tengah membuat kopi penuh dengan krim di dapur, mungkin malah bisa dibilang itu krim ditambah sedikit kopi. Ia berniat mengambil satu mug lagi untuk membuat kopi hitam untuk Sukuna, tapi tangannya berhenti sebelum menyentuh mug itu. Ia melirik ragu-ragu, tapi lalu mencoba melakukan apa yang ia pikirkan. Ia mencoba mengangkat Mug itu tanpa menyentuh, ia ingin tahu apa kemampuannya benar-benar sudah lenyap. Ia berkonsentrasi, memusatkan perhatian pada mug itu.
Trrkk…
Mug itu bergetar halus. Gojo mengangkat tangannya perlahan, dan mug itu terangkat naik beberapa centi, tapi beberapa saat kemudian mug itu kembali jatuh. Gojo menghela nafas panjang, ia kembali berkonsentrasi, kali ini lebih serius dari yang tadi. Perlahan mug itu bergetar lagi dan melayang mengikuti pergerakan tangan Gojo. Dengan ekstra hati-hati ia menuntun mug menjauh dari rak, melayang melewati atas counter.
"Satoru jangan tambahkan krim di kopi ku loh," teriak Sukuna, melongok dari tangga.
Prakk…!
Mug itu pun jatuh ke atas counter. "Huh, iya," Gojo menoleh dengan grogi ke arah Sukuna. Sukuna mengerutkan alis mendengar suara itu, ia pun menuju dapur. Dengan kikuk Gojo mengambil kembali mug yang menggelinding itu dengan tangannya. "Tadi nyelip, tanganku licin," ucap Gojo. Sepertinya ia masih bisa telekinesis, hanya saja ia harus berkonsentrasi penuh, dan tadi juga lumayan sulit baginya. Tak semudah dulu.
"Hee, tapi nggak pecah kan?" Sukuna melongok dari balik pundak Gojo.
"Nggak, kan mug tebel. Jatuhnya nggak tinggi juga," Gojo melanjutkan membuat kopi dengan kikuk. Sukuna melirik gelagat aneh Gojo.
"Jangan bilang tadi kau pakai telekinesis buat ambil mug nya," ucap Sukuna. Sebuah panah langsung menancap di dada Gojo.
"Enggak lah udah dibilangin aku udah nggak bisa," ucap Gojo tanpa berani menatap mata Sukuna. Sukuna melongokkan badannya dari belakang tubuh Gojo, menatap ke arah Gojo.
"Beneran?" tanya Sukuna sangsi.
"Beneran, apaan sih," kesal Gojo.
Sukuna menggelitik pinggang Gojo. "Ngaku nggak, ngakuuu, tadi pakai telekinesis kan. Mana ada megang mug nyelip, licin apaan tanganmu kering gitu."
"Hish, yang namanya nyelip mau gimana. Kecelakaan itu jatohnya, woii," Gojo terkikik berusaha menghentikan Sukuna yang terus menggelitikinya.
"Bodoooo, nggak percaya aku. Coba angkat lagi, aku pengen lihat."
"Nggak bisaaaa, angkat pakai tangan kayak biasa tadi itu. Iiisshhh, Sukuna ahh…!" Gojo menangkap tangan Sukuna lalu memutar tubuhnya ke belakang. Ia membopong tubuh Sukuna dan mendudukkannya di meja dapur. Sukuna tertawa. "Dasar," Gojo menekan pipi Sukuna dengan kedua telapak tangannya, lalu mencium bibir Sukuna yang monyong seperti ikan koi. Tapi perlahan ia melepaskan tangannya supaya bisa mencium bibir Sukuna dengan leluasa. Ia memagut lembut bibir kenyal itu, mata mereka terpejam menikmati ciuman. Mereka melepas ciuman setelah berapa lama.
Sukuna melingkarkan tangannya ke leher Gojo. "Oh ya, kenapa kau nggak menulis di novel mu soal kemampuanmu yang lainnya? Telekinensis, teleport. Kau hanya menulis tentang Rokugan mu saja," ucap Sukuna.
"Terlalu halu. Nanti pembaca nggak bakal percaya itu berdasarkan kisah nyata, pasti dikira murni fiksi," balas Gojo.
Sukuna tertawa pelan. "Meskipun itu memang nyata?"
"Yeah, tapi orang mana percaya yang seperti itu," Gojo menyatukan dahi mereka, lalu perlahan kembali menaut bibir Sukuna, melanjutkan ciuman panas mereka. Sukuna memajukan tubuhnya untuk merasakan bagian tubuh bawah Gojo yang sudah mengeras. Gojo melirik ke bawah ke selangkangan Sukuna. "Anjay nggak pake celana dalem," komentarnya melihat gundukan di celana longgar Sukuna yang terlihat kelewat tinggi.
Sukuna tertawa kecil. "Kumasukin mesin cuci ta—…gyaahhh," Sukuna berteriak saat Gojo membopongnya pergi, sontak ia pun mengeratkan pegangan. "Emang kuat?" tanya Sukuna saat Gojo menuju ke arah tangga naik, untuk menuju kamarnya.
"Kuat dong, enteng mah," balas Gojo santai.
"Pasti pakai telekinesis ya."
"Telekinesis lagi astagaaaa."
Sukuna hanya tertawa.
.
~OoooOoooO~
.
"Tadaima," ucap Megumi sembari memasuki rumah.
"Okaeri," balas Gojo. "Lah, pulang? Kirain nginep lagi. Besok masih libur kan?"
"Iya, tapi besok kerja sambilan. Baju ganti ku udah abis juga," Megumi menatap ke luar di mana pakaian masih terjemur. Ia pun menuju tempat itu.
"Ah, gomen. Belum sempat angkat jemuran," ucap Gojo yang masih sibuk di laptopnya.
"Santai, hanya angkat jemuran kok," balas Megumi. Ia meraih jemuran satu persatu dan memasukkannya ke keranjang. Ia mengerutkan alis saat menemukan benda yang menurutnya asing, tapi tetap ia masukkan ke keranjang dan membawanya masuk. "Tou-san ini celana dalammu?" tanya Megumi memperlihatkan sebuah celana dalam.
"A-ah, ya," balas Gojo.
"Kayaknya celana dalammu bukan ukuran ini deh."
"Itu celana dalam lama ku. Tadi sempet nyobain siapa tahu muat, tapi karena nggak muat langsung kulempar ke mesin cuci."
"Ooh," ucap Megumi lalu beranjak pergi.
"Cuciannya taruh saja di kamarku, nantu kulipat sendiri."
"Iya iya," balas Megumi yang suaranya terdengar menggema karena sudah menaiki tangga. Gojo melongok ke belakang, memastikan Megumi sudah tak terlihat. Ia lalu menelfon seseorang sambil tertawa kecil. "Sukuna, celana dalammu ketinggalan tahu," ucap Gojo setengah berbisik.
"Huh, ya kan kubilang waktu itu celana dalamnya kumasukin mesin cuci," balas Sukuna di ujung telefon.
"Masalahnya Megumi yang ngangkat jemuran. Tadi dia nanyain itu punya siapa."
"H-huh! Terus…?"
"Kujawab celana dalam lamaku," Gojo kembali tertawa kecil. Ia lalu menghela nafas panjang. "Tapi serius, kapan kita mau bilang ke Megumi dan Yuuji soal hubungan kita. Mereka udah selesai ujian loh."
"Iya sih…tapi lagi fokus masuk kuliah juga. Bakal shock nggak sih mereka? Aku takutnya mereka jadi kepikiran terus nggak konsen gitu loh."
"Iya sih, aku juga mikirnya gitu. Mana mereka tahunya kita berantem terus," tambah Gojo. Ia kembali menghela nafas panjang. "Ya udah, nunggu mereka settle aja pa? setelah mereka masuk kuliah, mereka udah kebiasa dengan kehidupan kuliah mereka, baru kita bilang."
"Ya…nggak masalah sih. Nggak terburu-buru juga kan kita."
"Oke," Gojo pun menyetujui.
.
~OoooOoooO~
.
Hari valentine sudah dekat. Tapi saat Megumi menanyakan pada Gojo apakah akan merayakan valentine bersama, Gojo bilang ada acara dan meminta untuk merayakan valentine keesokan harinya saja.
"Aneh banget nggak sih, padahal dia kan suka banget cokelat. Harusnya meluangkan waktu demi valentine dong," ucap Megumi di telfon. Ia tengah menelfon Yuuji.
"Ya mungkin dia beneran lagi ada acara, mau gimana lagi. Tapi kan dia bilang rayain keesokan harinya. Nih aku lagi bikin cokelat buat sensei. soalnya kita bakal tetap rayain kan."
"Buatku enggak?" manyun Megumi.
"Memangnya kamu suka cokelat?"
"Hiiiihhhh," kesal Megumi.
Yuuji tertawa. "Iya iya, aku buatin kok. Buatmu aku bikin dark chocho nih."
"Ooh," balas Megumi.
"Hey jangan ngambek doong, aku hanya bercanda."
"Iya iya."
"Yuuji, ini terus gimana?" terdengar suara Sukuna.
Megumi mengerutkan alis. "Sukuna-san ikut bikin cokelat sama kamu?"
"Iya nih, tumben. Katanya dia mau bikin buat seseorang. Ciee…gebetan?" goda Yuuji.
"Urusai. Aku bikin buat kalian juga, aku hanya sedang nganggur dan ingin coba bikin."
"Aaah, nggak asik. Kirain buat pacar."
"Hng," balas Sukuna. "Oh ya Megumi, malam valentine mau nonton bareng di sini?" tanya Sukuna.
"Nonton apaan?" tanya Megumi dan Yuuji bersamaan.
"Award nya Satoru. Katanya tayang loh di salah satu stasiun TV."
"Huh? Award apaan?" ucap Megumi.
"Eh? Satoru nggak bilang padamu? Astagaaa, si bangsat itu," umpat Sukuna. "Novel horror nya itu loh, yang dibikin pas kita liburan di cottage. Menang Conventional award…apa ya. World Horror Convention Grand Master Award. Ya, itu."
"Tch!" Megumi mendecih kesal lalu mematikan telefon. Ia mencoba menghubungi Gojo, tapi tak diangkat. Pantas saja Gojo tak bisa pulang saat valentine. Rupanya acara penghargaan. Tapi kenapa dia nggak bilang? Itu hal yang membanggakan kan? Megumi pun kembali menelfon Yuuji. "Iya aku ke sana, nonton bareng," ucapnya terdengar bersungut-sungut.
"Satoru udah nggak di rumah?"
"Udah nggak ada sejak kemarin. Perjalanan bisnis katanya. Anjing lah!" kesal Megumi.
Sukuna hanya bisa menahan nafas dan terbelalak mendengar Megumi bisa berkata kasar. Sementara Yuuji terkekeh menepuk-nepuk dada kakaknya. Ia lalu menghampiri ponsel.
"Ya udah kamu ke sini aja. Sekalian besok kita rayain valentine, sambil nonton award nya sensei bareng."
Tanpa menjawab, Megumi menutup telefon. Rasanya ia masih kesal.
.
~OoooOoooO~
.
Hari valentine Megumi rayakan bersama Yuuji dan Sukuna. Mereka makan coklat, lalu jalan-jalan dan makan di luar, juga nonton film. Sore nya mereka pulang, supaya nanti malam bisa dengan santai menonton TV untuk melihat acara award Gojo. sekitar pukul 7 acara award itu dimulai. Mereka makan malam lebih cepat supaya bisa menonton acara itu dari awal.
Acara diisi dengan beberapa selingan musik, hiburan, juga beberapa pemghargaan lainnya, sebelum menuju puncak award.
"Hey, bukannya masuk nomisani penghargaan sebesar ini sudah oke banget ya? Hanya dengan judul nya disebut dalam nominasi saja, sudah bakal mendongkrak banget buat novel nya kan," ucap Yuuji sambil mengunyah popcorn. "Tapi kok Sensei biasa aja, nggak pamer atau bilang-bilang ke kita. Kalau aku sih udah salto sambil teriak-teriak, ya nggak sih."
"Yeah, dia merayakan di publisher dan di kampus. Katanya nggak bilang ke kalian karena takut mengganggu ujian kalian," sahut Sukuna yang memeluk bantal duduk sambil terus menatap layar TV.
"Geez, mengganggu apanya, kan kabar bahagia. Kalau kabar buruk baru deh mengganggu."
Sukuna hanya mengedikkan bahu. Ia terus menatap TV. Sesekali kamera menyorot ke deretan para tamu, dan tentunya menyorot Gojo sesekali. Pria itu tampak rapi dengan setelan resmi, rambutnya dirapikan, ia juga tak memakai kacamata bulat yang biasa ia pakai, sehingga iris cemerlangnya tertangkap sempurna oleh lensa kamera. Cahaya panggung menambah indah mata itu, ditambah bulu mata putih yang membingkai iris langitnya. Sukuna tersenyum menatap itu. Ingin sekali ia meneriakkan kalau pria itu adalah miliknya.
"Megumi, popcorn," Yuuji menyodorkan popcorn ke Megumi. Cowok stoic yang tengah bad mood itu meraih popcorn tersebut. Tapi tanpa Sukuna sadari, Megumi menatap ke arahnya sambil mengunyah popcorn.
.
Acara terus berlanjut hingga ke puncaknya. Award tertinggi di acara tersebut, dan benar saja, Gojo memenangkan award itu. Ia pun naik ke atas panggung bersama beberapa orang dari publisher, ia memberikan beberapa patah kata sambil memegang piala penghargaan. Ia berbicara menggunakan bahasa Inggris yang fasih, menatap ke arah penonton, lalu ke kamera, membuatnya seolah menatap mata orang yang tengah menonton layar kaca. Termasuk Sukuna.
Kyuunn…
Jantung Sukuna berdegup hanya karena hal itu. Tenanglah brengsek, dia menatap ke semua orang di balik layar TV, omel Sukuna dalam hati pada diri sendiri.
Malam sudah larut saat acara itu selesai. Mereka pun mematikan TV dan menggeliat bangun.
"Nii-san, kau nggak kerja kan malam ini?" tanya Yuuji sambil menguap.
"Nggak. Kenapa memang?" jawab Sukuna.
"Aku tidur di ruang kerjamu ya."
Sukuna mengerutkan dahi. "Jadi selama ini kalau Megumi menginap, kalian nggak pernah tidur sekamar?"
"Ya enggak dong!" omel Yuuji dengan wajah memerah. Megumi hanya memalingkan wajahnya yang sedikit bersemu.
"Ya kenapa nggak sekamar? Kalian kan sudah pernah sekamar saat kita liburan."
"I-iya sih. Tapi itu kan beda, itu sedang liburan. Kalau di rumah kan, pas kami sendirian saja kau atau Sensei nggak ada, masa kami tidur sekamar sih."
"Ya nggak papa. Kan kalian pacaran. Ditambah…" Sukuna menyeringai. "Ini malam valentine loh."
Blush…!
Wajah Yuuji dan Megumi langsung memerah total sementara Sukuna tertawa puas. "Sudahlah, tidur sekamar saja kalian. Sudah hampir lulus SMU kok, masih malu-malu begitu," ucap Sukuna seenaknya lalu berjalan menjauh dari ruang tengah. "Ruang kerjaku kukunci ya," teriak Sukuna dari kejauhan, sementara Yuuji dan Megumi masih mematung di tempat dengan muka masih memerah.
"Hng…y-ya sudah, ayo. Aku sudah ngantuk," ucap Yuuji. Ia dan Megumi pun menuju kamar Yuuji. "K-kau mau ke kamar mandi duluan atau aku?" tanya Yuuji sambil mengusap tengkuknya.
"Kau duluan saja," ucap Megumi. Yuuji pun mengangguk dan menuju kamar mandi. "Kau nggak ada futon? Biar aku tidur di bawah saja," ucap Megumi begitu Yuuji keluar dari kamar mandi.
Yuuji menggeleng. "Nggak ada," balasnya.
"Kamar lain nggak bisa dipakai?"
"Bisa sih…tapi belum dibersihkan. Karena jarang dipakai jadi dibersihkan juga paling seminggu sekali. Ditambah, kalau kamar jarang dipakai kan dingin."
"Ya sudah deh. Nggak papa kan kita tidur seranjang?"
Yuuji mengangguk kikuk.
"Atau aku bisa tidur di sofa—…"
"Nggak, kita seranjang saja. kan ranjangnya luas," cegah Yuuji.
"Okay," Megumi lalu pergi ke kamar mandi sementara Yuuji menarik nafas panjang supaya meredam ke nervous sannya.
"Kenapa ya, rasanya beda saja sekamar saat liburan sama sekamar pas di rumah," gumam Yuuji pada diri sendiri. Tak berapa lama Megumi selesai dari kamar mandi, mereka pun bersiap untuk tidur. "Megumi, tidur matikan lampu ya," ucap Yuuji. Megumi mengangguk. Yuuji pun menekan saklar untuk mematikan lampu, lalu naik ke ranjang berbaring di samping Megumi. Mereka berbaring miring saling berhadapan untuk mengobrol sebelum tidur. "Kau kan bisa tidur lampu nyala atau mati, tapi kau lebih suka yang mana?" tanya Yuuji.
"Hng…sama saja sih. Kalau dulu lebih suka lampu mati. Tapi sejak Tou-san pernah tidur di depan pintu kamarku aku jadi sering tidur dengan lampu menyala atau dengan lampu redup. Jadi aku sudah terbiasa tidur dengan lampu menyala," jawab Megumi.
"Ehh? Sensei tidur di depan pintu kamarmu? Kenapa?"
"Ya kau tahu sendiri dia punya kemampuan lebih. Kadang…tiba-tiba dia merasa ketakutan tanpa sebab, terutama kalau malam sedang hujan atau petir. Dia biasa lari ke kamarku dan minta tidur bersama. Tapi malam itu hujannya baru mulai saat tengah malam, petirnya juga keras sekali. Saat dia mau minta tidur bersama, malam itu aku mematikan lampu. Meski pintu kamarku nggak kukunci, Tou-san nggak berani masuk kamarku. Akhirnya dia tidur di depan pintu, bahkan nggak pakai selimut. Dia nggak berani balik ke kamar buat ambil selimut."
"Astaga, padahal pasti dingin banget kan," Yuuji bergidik.
Megumi mengangguk. "Makanya aku nggak pernah lagi mematikan lampu. Seenggaknya lampu redup kunyalakan, atau lampu belajar pasti menyala. Aku nggak mau kejadian itu sampai terulang lagi."
Yuuji mengulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk kepala Megumi. "Hihi, Megumi perhatian banget ya sama Sensei."
"Ya mau bagaimana. Dia kan Tou-san ku. Dia juga akan melakukan hal yang sama kalau aku tidak suka pada sesuatu," Megumi meraih tangan Yuuji yang menepuk kepala nya, lalu mencium lembut tangan itu. Tubuh Yuuji sedikit berjengit, tapi ia tak melepas genggaman tangan Megumi. "Kau juga pasti melakukan hal yang sama untuk Sukuna-san kan, begitu juga sebaliknya, Sukuna-san pasti akan melakukan apapun demi kau."
Yuuji mengangguk kikuk, tak tahu harus merespon apa. Ia ingin menjawab, tapi ia terlalu nervous karena diperlakukan demikian. Megumi menatap lurus iris Yuuji lalu membelai pipinya. "Boleh cium?" tanya Megumi. Yuuji mengangguk kikuk. Megumi pun mengangkat setengah tubuhnya lalu mendekatkan wajah ke wajah Yuuji, perlahan ia menempelkan bibir mereka, memagutnya lembut untuk beberapa saat. "Happy valentine, Yuuji," lirih Megumi.
"Happy valentine Megumi," balas Yuuji. Mereka lalu saling memeluk dan mulai memejamkan mata.
Sementara di luar pintu, Sukuna tampak merengut karena tak mendengar suara aneh sedikitpun dari dalam kamar.
"Geez, mereka betulan belum pernah sex kah," gerutunya pelan lalu menjauhkan telinga dari daun pintu. Ia pun menuju kamarnya sendiri dan bersiap tidur. Ia menyempatkan meraih ponsel, mengirimi Gojo chat meski mungkin takkan dibalas. Seperti yang Gojo pernah bilang, tak harus selalu fast respon, yang penting mereka terus komunikasi. Jadi sekarang Sukuna nyaman saja mengirim chat kapanpun ia mau.
'Omedetou. Tadi aku nonton award nya. Selamat sudah menang, sayang (heart),' tulis Sukuna, tapi ia lalu menghapus kata 'sayang' dan icon heart nya, barulah ia menekan tombol send. Ia meletakkan ponsel di meja samping ranjang dan menyamankan posisi bantal. Saat mau memejamkan mata, ia mendengar ponselnya bergetar halus. Sukuna pun segera meraih benda itu. Ia tersenyum melihat nama Gojo tertera di sana. Ia tak menyangka akan langsung dibalas.
'Makasih sayang,' balas Gojo. Sukuna menggigit bibir bawahnya. Andai saja tadi ia tak jadi menghapus kata sayang di kalimatnya. 'Belum tidur?' chat Gojo selanjutnya.
'Baru mau tidur. Kau sendiri?'
'Ini lagi di perjalanan menuju hotel. Macet banget dari acara tadi.'
'Hee, begitu. Oh, besok sudah bisa pulang?'
'Hng...semoga sudah.'
'Semoga?'
'Belum pasti. Mungkin masih ada wawancara atau semacamnya. Aku belum bicara pada orang dari publisher. Kelewat capek.'
'Wah, sibuknya pemenang award ini,' goda Sukuna. 'Padahal aku sudah buatkan cokelat untukmu.'
'EHH? COKELAT? KAU YANG BIKIN?'
Sukuna tersenyum puas mendapat respon itu dari Gojo. 'Iya aku yang bikin,' jemari Sukuna berhenti mengetik. Ia terdiam sesaat, lalu memberanikan diri mengetik kalimat sebelumnya yang tak jadi ia tulis. 'Happy valentine, sayang,' dan send.
Blush...!
Sukuna langsung membenamkan wajah ke bantal begitu pesan itu terkirim. Ia mendengar getar halus ponselnya di meja, tapi belum berani membuka chat balasan dari Gojo. Hingga beberapa menit kemudian setelah ia mulai tenang, barulah ia memberanikan diri meraih kembali ponsel itu dengan wajah yang masih terasa panas.
'AAAAHHHHH, ini valentine terbaik. Hey, sering-sering panggil aku sayang dong. Oh, dan cokelatnya, makasih banyak udah dibuatin. Simpen di kulkas, jangan dimakan sampai aku datang.'
'Hiish, aku ingin menelfon, tapi masih di jalan. Aku semobil sama editor ku,' tambah Gojo.
"..." Sukuna tak tahu harus menjawab apa. Ia masih deg-deg an membaca respon Gojo. Ia mengetik, tapi menghapusnya lagi. Begitu sampai beberapa kali hingga akhirnya ia hanya menulis, 'aku ngantuk. Tidur duluan ya. Oyasumi.'
'Dasar jahat. Padahal aku ingin telefon setelah sampai di hotel nanti,' balas Gojo.
'Geez, kau juga pasti capek kan habis acara tadi. Istirahatlah. Telfonnya besok saja.'
'Iya deh iya. Selamat tidur, sayang. Mimpiin aku ya, hehe.'
Sukuna terkikik membaca itu. 'Alay, kayak anak SMP,' tulis Sukuna, tapi batal ia kirim. Sepertinya kelewat jahat. Ditambah...tadi Gojo mengatakan soal panggilan sayang. Sukuna pun mengganti kalimatnya.
'Iya. Datang ke mimpi ku ya, sayang. Love you,' balas Sukuna. Ia sedikit cringe membaca tulisannya sendiri, tapi ia juga deg-deg an menatap kalimat itu. Biarlah ia sedikit lebay, cringe mungkin. Tapi itu hanya antara dia dan kekasihnya. Sukuna berpikir tak ada yang salah dengan itu.
'Love you too. Aaah, aku seriusan ingin menciummu sekarang, dan ingin dengar langsung kata-kata itu dari bibirmu.'
'Makanya cepat pulang.'
'Iya kuusahakan. Oyasumi, hon.'
'Oyasumi,' Sukuna pun mengecup pelan ponselnya sendiri. Setelah itu ia memejamkan mata dengan bibir yang masih tersenyum tipis.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
