Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak buat Frigg Nevia07, kokorocchi, dan emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Yuuji dan Megumi sedang sibuk membuat sarapan pagi itu saat Sukuna menuju dapur sambil menguap. Ia melongok sesaat adiknya itu masak apa, lalu beralih menghampiri kulkas dan mengambil segelas air. Ia duduk di kursi meminum air itu sambil memainkan HP. Ia tertawa kecil sambil memainkan HP, seolah sedang chat asyik dengan seseorang.

"Megumi, hari ini Sensei pulang? Jadi merayakan valentine hari ini?" tanya Yuuji.

"Entahlah, aku belum tanya lagi," balas Megumi.

"Belum bisa," sahut Sukuna. "Katanya hari ini jadi ada wawancara. Makanya belum bisa balik."

"Hee, sepertinya sibuk ya, pemenang award kelas dunia," ucap Yuuji. Sementara Megumi diam saja, ia hanya melirik Sukuna yang masih asyik cengengesan menatap layar ponsel.

.

~OoooOoooO~

.

Rupanya untuk beberapa hari kemudian, Gojo masih sibuk dengan wawancara dan kegiatan lainnya berkaitan dengan nominasi tersebut. Alhasil di akhir February, mereka baru bisa berkumpul untuk merayakan kemenangan Gojo sekaligus merayakan valentine. Mereka memesan sebuah tempat di restaurant di pinggiran kota Tokyo. Pemandangannya bagus. Sebenarnya mereka ingin memesan tempat outdoor karena pemandangan yang menawan, tapi karena bulan February udara masih dingin, mereka memilih tempat indoor.

"Wah, sayang banget, padahal tempat outdoor nya bagus," ucap Yuuji sambil melongok keluar. Tempat outdoor yang mereka incar berupa lahan mirip taman kecil, ada sebuah pohon besar di sana. Disekeliling lahan itu dibatasi pagar pembatas karena berbatasan dengan lembah yang penuh pepohonan hijau. Pokoknya indah sekali. Tapi karena dingin, mereka memesan satu tempat indoor yang memiliki jendela kaca hampir di seluruh ruangan, sehingga mereka masih bisa menikmati pemandangan.

"Sudahlah. Kau segitunya ingin membeku di sana," Sukuna mencengkeram kepala Yuuji untuk beberapa saat. Mereka lalu duduk di meja yang sudah mereka pesan. Mereka membooking seluruh ruangan itu supaya bisa bebas menikmati acara mereka.

"Selamat atas kemenangannyaaa..." ucap mereka bersamaan sambil membuka kotak kue di atas meja. Di sana ada cake bertuliskan ucapan selamat untuk Gojo, dan di tengahnya ada patung dari coklat berbentuk piala award yang diterima Gojo malam itu.

"Yeeyy arigatouu," balas Gojo. "Pokoknya piala itu buatku," matanya bling bling menatap ke arah coklat di atas kue itu.

"Hahaha memang untukmu Sensei. Makan semuaaa," ucap Yuuji. "Nih cokelat valentine dari kami juga makan semua deh."

"Kyaaahh arigatouuu," Gojo meraih cokelat-cokelat dari Yuuji, Sukuna dan Megumi.

"Awas jangan langsung dihabiskan loh!" omel Megumi.

"Yaahh," Gojo langsung pasang puppy eyes.

"Nggak boleh. Simpan kulkas. Jangan habiskan dalam satu hari!" ulang Megumi.

"Tapi kan tapi kan, ini cokelat sudah lama sejak valentine, nanti rusak loh kalau lama-lama disimpan," Gojo cari-cari alasan.

"Hey, itu kami bikin 2x loh," protes Yuuji. "Karena Sensei belum bisa merayakan, akhirnya cokelatnya kami makan dulu terus bikin baru buat hari ini."

"Nah, mau alasan lagi kau," tambah Megumi.

"Sonnnaa..." rengek Gojo.

"Pfftt...sudahlah, makan dulu deh. Lapar aku," Sukuna melerai. Mereka pun makan dulu menu spesial dari restaurant itu untuk perayaan tersebut. Megumi melarang Gojo makan cokelatnya sebelum makan, tapi dia tetap curi-curi sedikit. Mereka tak makan banyak, karena setelah makan mereka potong kue dan foto-foto, juga mulai memakan cokelat—terutama Gojo yang paling doyan makanan manis. Mereka menyewa tempat itu seharian penuh, jadi mereka santai makan menu di sana. Kalau kekenyangan, bisa untuk nanti, kebanyakan menu dimasak dulu menggunakan kompor khusus yang ada di meja. Jadi akan tetap hangat. Mereka cukup masak sebutuh mereka makan. Dengan itu mereka juga jadi santai untuk mengobrol.

"Ugh...novelnya serem nggak sih? Aku belum baca soalnya," ucap Yuuji sambil membuka-buka random novel milik Sukuna.

"Serem. Genre nya 18+. Berarti kalian belum boleh baca sebelum ulang tahun," goda Sukuna.

"Heee iya juga ya," Yuuji nurut-nurut saja.

"Tapi aku sudah terlanjur baca tuh," balas Megumi. Sukuna tertawa sementara Yuuji merengek.

"Masa aku doang yang belum baca," protes Yuuji. "Bagus nggak bagus nggak? Serem nggak?"

"Kalau nggak bagus kenapa juga bisa menang award."

"Ah iya juga ya," Yuuji sweatdrop sendiri.

"Hehe tapi selera orang kan beda-beda. Kalau menurut Yuuji nggak bagus ya nggak tahu juga," ucap Gojo menenangkan. Ia memakan cokelat pemberian Sukuna yang berbentuk hati kecil-kecil, ukuran sekali hap, rasa cokelat dan strawberry. Ia menatap Yuuji yang mulai sibuk membaca novel, sementara Megumi masih makan untuk menghangatkan perutnya. Gojo ganti menatap Sukuna yang tengah mengunyah sepotong daging. Dia ini beneran karnivora deh. "Aku nggak nyangka kau bikinin aku cokelat," ucap Gojo.

Sukuna melirik tajam. "Nanti nggak dibikinin nangis."

"Hehe, iya juga sih," cengir Gojo. Ia lalu meraih tangan Sukuna dan menggandengnya di bawah meja. "Makasih ya. Cokelatnya enak."

"Cokelat ya rasanya begitu-begitu saja kan," Sukuna memalingkan wajahnya yang sedikit bersemu. Meski begitu ia tak melepaskan genggaman tangan Gojo, ia bahkan rela makan dengan satu tangan meski tengah makan daging yang seharusnya menggunakan pisau dan garpu. Ia makan yang tadi sudah ia potong meski masih terlihat cukup besar. Tanpa mereka sadari, Megumi memperhatikan sedikit gelagat mereka meski ia tak mengatakan apa-apa.

.

Mereka mereservasi tempat itu sampai jam makan malam. Jadi setelah makan dan mengobrol, mereka menikmati fasilitas yang disediakan restaurant itu. Ada perlengkapan karaoke di sana, mereka pun karaoke sampai bengek, tentu saja dengan nada yang tak peduli sumbang atau tidak.

Mereka juga main foosball setelahnya. Tim Gojo kalah karena Megumi nggak mahir memainkan permainan sepakbola meja itu. Ini pertama kali baginya memainkan benda itu. Tapi mereka lalu membalik keadaan di permainan maze runner, itu semacam papan labirin di meja, mereka menggiring bola kecil yang dimasukkan ke pintu start, lalu menggoyang-goyangkan meja nya untuk membuat bola itu melewati maze ke garis finish. Tim Gojo-Megumi menyelesaikan permainan dengan mulus, sementara bola milik tim Sukuna-Yuuji malah nyasar ke jalan buntu.

Saat matahari mulai terbenam, mereka menikmati sunset di dekat jendela, menatap pemandangan indah di luar yang meski berawan tebal, cahaya jingga masih terlihat menghiasi langit sore. Indah sekali.

"Aku ke toilet dulu ya," ucap Sukuna setelah mereka menikmati sunset yang ada. Ia lalu pergi ke toilet untuk buang air kecil. Hingga saat ia mencuci tangan di wastafel setelah menyelesaikan urusannya, Gojo menyusul ke kamar mandi.

"Hei, nanti dari sini mau ke mana dulu atau—...mph...!" ucapan Sukuna terhenti saat tiba-tiba Gojo menciumnya. Sukuna sempat terbelalak, tapi perlahan ia memejamkan mata menikmati ciuman dari Gojo. Tangannya bahkan masih berada di wastafel dengan air keran yang mengalir.

"Mmn...mnch..." decak basah mengisi ciuman mereka untuk beberapa lama. Gojo melepas ciuman lalu memeluk erat tubuh Sukuna. "Astaga, aku merindukanmu," ucap Gojo seraya menghirup aroma tubuh Sukuna dari tengkuknya.

Sukuna hanya tertawa singkat tanpa membalas. Ia juga merindukan Gojo, tapi ia tak mau bilang. Ia menyelesaikan cuci tangan lalu mengeringkannya, sementara Gojo masih memeluknya erat. Setelah itu barulah Sukuna menepuk-nepuk lengan Gojo yang masih melingkar di tubuhnya.

"Habis ini langsung ajak pulang bocah-bocah itu? Kita bisa pergi berdua," ucap Sukuna. Gojo mengangguk lalu meraih wajah Sukuna, menolehkannya supaya bisa menciumnya kembali. Ia menelusupkan lidahnya ke mulut Sukuna, mengajak ciuman basah. Tangannya mulai nakal masuk ke dalam kaos Sukuna lewat bagian atas, ia meremas dada Sukuna, memilin nipple nya. Kali ini Sukuna diam saja, tak melarang. Ia juga sudah merindukan sentuhan Gojo. Sekarang setelah pacaran, rasanya jadi lebih berat kalau lama tak bertemu. Dulu mereka biasa saja, bahkan setelah menjadi fuck buddies, rasanya tak separah ini saat tak melakukan sex bersama setelah beberapa waktu. Tapi kini setelah pacaran, rasanya tak bertemu sebentar saja langsung membuat mereka ingin memeluk satu sama lain, merasakan hangat tubuh masing-masing.

"Mmnh, mncch..." Sukuna melepas ciuman, namun posisi wajah mereka masih sangat dekat, merasakan nafas masing-masing yang memburu. "Nanti mereka curiga kalau kita terlalu lama di sini," ucap Sukuna saat Gojo mau menciumnya kembali. Gojo menghela nafas berat lalu mengecup singkat leher Sukuna, ia pun melepas pelukan, juga tangannya dari dada Sukuna.

"Apa kita bilang saja sekarang soal hubungan kita?" tanya Gojo.

"..." Sukuna tampak berpikir. "Nggak jadi setelah mereka settle di tempat baru mereka?"

Gojo hanya menghela nafas lalu mengacak rambut Sukuna. Ia lalu berjalan ke urinoir sementara Sukuna pergi dari kamar mandi. Ia kembali ke ruang makan tapi batal melangkah saat melihat Yuuji yang sedang mingsek-mingsek tak jelas lalu Megumi mendekati, Sukuna pun mundur, menyembunyikan diri untuk melihat apa yang terjadi.

"Sudahlah, jangan nangis lagi. Mukamu jelek banget," ucap Megumi, ia mengusap air mata yang mengalir deras di pipi Yuuji.

"Tapi...tapi, Akira-kun...hiks...Akira-kun...huaaaa," tangis Yuuji. Sepertinya ia masih membaca novel Gojo entah sampai bagian mana. Mungkin masih di chapter depan yang menceritakan kejadian menyakitkan yang dialami Akira saat kecil.

"Kalau di sini kau sudah menangis aku nggak yakin kau bisa baca sampai chapter belakang."

"Huh? Masih sedih lagi? Ini cerita sedih apa cerita horror sih," ucap Yuuji masih mingsek-mingsek.

"Cerita horror. Tapi yang memutuskan menangis kan kau. Padahal Akira hanya sedang menceritakan kejadian mistis yang terjadi padanya."

"Hiks...iya sih. Tapi..."

"Sudahlah, jangan menangis lagi. Nanti Sukuna-san mengejekmu loh."

Yuuji mengangguk dan menyeka air matanya meski masih terisak pelan. "Hiks...isaknya nggak mau berhenti," keluh Yuuji.

"Hng..." Megumi menatap Yuuji lalu meraih pipinya dengan tangan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Yuuji. Sukuna menyeringai melihat itu. Gojo yang sudah selesai dari kamar mandi mengerutkan dahi menatap Sukuna yang tengah ngumpet di balik dinding seolah tengah melihat sesuatu.

"Sukuna, kau—...mph," mulut Gojo langsung dibekap oleh tangan Sukuna.

"Sshh..." Sukuna menyuruhnya diam, lalu menatap kembali ke arah Megumi dan Yuuji. Dengan alis bertaut, Gojo ikutan melongok ke sana dan melihat Megumi dan Yuuji yang tengah berciuman. Ia tersenyum di balik tangan Sukuna yang membekapnya. Sukuna pun melepas bekapan itu lalu melingkarkan tangannya ke leher Gojo, Gojo masih tersenyum seraya menautkan bibirnya ke bibir Sukuna, memagut pelan belahan hangat dan kenyal itu.

"Hei, kalau kita sudah beritahu mereka kita pacaran, pasti akan sangat menyenangkan. Kita bisa double date nanti. Kalau liburan bersama lagi, juga pasti lebih menyenangkan," lirih Gojo.

Sukuna menatap iris Gojo. "Jadi...katakan sekarang pada mereka?"

Gojo hanya mengedikkan bahu. "Kalau ada kesempatan mungkin."

Sukuna menghela nafas lalu mengangguk singkat. Mereka kembali melongok Yuuji dan Megumi, mereka sudah melepas ciuman mereka. Megumi mengacak pelan kepala Yuuji, lalu membantunnya mengelap wajah dengan tissue. Sukuna dan Gojo memutuskan menghampiri, dan Yuuji langsung kelabakan takut ketahuan habis menangis.

"A-aku ke toilet dulu, cuci muka. Tadi kelilipan, ahahaha," ucapnya canggung lalu segera lari ke kamar mandi. Megumi hanya melirik, ia juga diam saja tak menanyai mengapa Gojo dan Sukuna kembali bersamaan dari kamar mandi padahal tadi duluan Sukuna yang ke sana.

Sekitar pukul 7 makan malam dihidangkan. Mereka pun makan sambil mengobrol.

"Hei Yuuji, kau mau hadiah apa saat kelulusan nanti," ucap Gojo.

"Dibanding hadiah kelulusan, aku masih deg-deg an lulus atau nggak," balas Yuuji. "Nii-san, kalau aku nggak lulus bagaimana?"

"Awas saja kalau nggak lulus."

"Sonnaaaa..."

"Haha nggak mungkin nggak lulus dong, kan aku Sensei nya," ucap Gojo songong.

"Sensei, limpahkanlah kekuatanmu pada kertas ujianku."

"Amen," mereka berpose seperti orang yang tengah berdoa.

"Oh ya ngomong-ngomong, aku dan Megumi pernah ngobrol soal kalian," ucap Yuuji yang sontak membuat Gojo dan Sukuna tersedak makanan yang tengah mereka suapkan ke mulut.

"Ngo-ngobrol tentang apa Yuuji?" tanya Gojo berusaha setenang mungkin, sementara Sukuna dengan kikuk mengusap mulutnya dengan tissue untuk mengalihkan perhatian.

"Soal nanti kalau kami sudah kuliah. Anggap aku betulan lulus oke, aku nggak mau memikirkannya sekarang," Yuuji memijit pelipisnya. "Kalau aku lulus nih, Megumi juga, terus kami kuliah, dan ngekos di kampus, nanti kalian tinggal sendirian di rumah. Kami memikirkan bagaimana kalian nanti kalau sendirian."

"Ooohh," ucap Sukuna dan Gojo nyaris bersamaan.

"Apanya yang oh, kalian santai sekali. Terutama kau Nii-san, biasanya kau sampai lupa makan kalau lagi kerja. Nanti kau tiba-tiba mati juga nggak sadar pula," omel Yuuji.

"Y-ya...gampang lah itu. Nanti kupasang alarm atau apa," balas Sukuna.

"Aku sempat berpikir untuk menyuruh Uraume-san untuk tinggal bersamamu saja."

Brakk...!

Gojo menusuk makanan di piringnya menggunakan garpu dengan sangat keras. "Oh maaf, ini keras sekali," senyum Gojo, tapi Sukuna merinding karena merasakan aura dingin dari pacarnya itu.

"N-nggak, Uraume lebih suka tinggal sendirian di apartment kok," ucap Sukuna mencoba menenangkan Gojo.

"Eeh, masa sih? Tapi aku pernah ngobrol dengannya, katanya dia ingin punya lahan yang lebih luas untuk tanaman. Dia suka menanam tanaman dalam pot atau semacamnya. Nah, halaman rumah kita kan lumayan tuh, barangkali dia mau."

"I-itu..."

"Kau coba tanyakan saja dulu padanya."

"..." Sukuna tak menjawab, hanya keringat dingin bercucuran di wajahnya, dan ia menghindari kontak mata dengan Gojo.

"Kalau Sensei bagaimana?" tanya Yuuji. "Kau punya teman yang bisa diajak tinggal bersama?"

"Nggak perlu Yuuji. Aku bisa tinggal sendiri kok. Aku juga bisa masak sendiri. Soal beres-beres rumah aku bisa sewa orang. Kami juga sesekali menyewa orang untuk membersihkan rumah soalnya kalau kami sedang sibuk sendiri-sendiri," balas Gojo.

"Hee, begitu ya. Tapi Megumi khawatir loh kalau kau sendirian di rumah. Iya kan Megumi," Yuuji menoleh ke arah Megumi. Ia ingat Megumi pernah cerita kalau Gojo kadang ketakutan tanpa sebab.

"..." Megumi tak langsung menjawab, menatap makanannya di piring. "Soal ini...bagaimana kalau kalian berdua tinggal bersama saja, Tou-san, Sukuna-san."

"Pffftttt...!" Sukuna langsung menyemburkan minuman di mulutnya, sementara makanan yang Gojo ambil dengan garpu, langsung jatuh kembali ke piring. Plop...!

"H-huh, kenapa begitu," ucap Sukuna kikuk.

"Nggak papa. Just saying," balas Megumi dan kembali makan.

"Woaah sepertinya ide bagus," ucap Yuuji. "Nii-san, kau tinggal di rumah Sensei saja. Nanti rumah kita ditinggali sama Uraume-san, sama rekan kerjamu yang lain. Uhh...siapa namanya lupa. Mahito…?"

"Ma-mana bisa begitu," protes Sukuna. "Kerjaanku bagaimana. Harus pindah-pindah mock-up dan peralatan lainnya sangat merepotkan. Kalau sampai goyang sedikit saja bisa hancur mock-up ku."

"Hee, begitu ya. Kalau Sensei bagaimana? Kau yang pindah ke rumah kami."

"Susah juga Yuuji, bawa kursi kerja, rak buku sebesar itu. Ditambah kalau di rumahmu, jaraknya jadi lebih jauh dari kampus tempatku bekerja."

"Argh, benar juga ya. Terus gimana dong," Yuuji menopang dagunya sementara Gojo dan Sukuna sepertinya baru bisa bernafas lega. Mereka saling lirik, seolah berbicara menggunakan tatapan. Apa mereka bilang sekarang soal hubungan mereka? Tapi rasanya awkward sekali apalagi setelah pembicaraan tadi yang seolah-olah menolak ide untuk tinggal bersama.

Megumi hanya menatap mereka dalam diam, ia tetap makan dengan santai.

.

~OoooOoooO~

.

Tak terasa hari kelulusan pun tiba. Yuuji menari bahagia melihat tulisan LULUS di samping namanya, bahkan nilai hasil ujiannya pun tidak seburuk yang ia takutkan. Ia pun bersorak dan menari bahagia bersama teman-teman sekelas.

Bukannya mengabari Sukuna, Yuuji malah menelfon Gojo duluan untuk mengumumkan kelulusannya.

"Arigatouuuu Senseeeeii, berkat dirimu aku luluuuusss, huaaaa," teriak Yuuji di ujung telefon.

"Haha Yuuji sudah bekerja keras. Itu karena usaha keras Yuuji juga," balas Gojo.

"Iya, aku sudah berusaha keras. Makasih sudah mengajariku dengan sabar Sensei."

"Hei bocah tengik, kenapa kau malah mengabari Satoru duluam bukannya aku," terdengar omelan Sukuna dari ujung telefon.

"Eh? Nii-san? Kau lagi sama Sensei?" bingung Yuuji.

"Huh? E-eh, i-itu...ka-kami lagi cari kado bareng buatmu dan Megumi."

"Oooh begitu. Ya sudah, malah bagus kau sudah dengar sekarang. Jadi aku nggak perlu memberitahumu lagi."

"..." tak ada jawaban. "...nn, hmph...!"

"Nii-san?"

"Gomen Yuuji, di sini ramai sekali jadi berhimpitan. Nanti kami hubungi lagi ya," ucap Gojo, nafasnya sedikit terengah kedengarannya. Sepertinya betulan sedang berdesakan mereka, pikir Yuuji.

"Ooh, ya sudah kalau begitu. Kumatikan ya Sensei, aku mau pergi sama teman-teman setelah ini buat merayakan kelulusan, sama Megumi juga. Bye bye Sensei."

"Bye bye Yuuji," Gojo pun mematikan telefon. Ia meletakkan ponselnya di meja samping ranjang, lalu menatap tubuh Sukuna yang tengah terengah di bawah tubuhnya.

"Hosh...hosh, dasar gila!" umpat Sukuna.

"Haha kau sendiri yang seenaknya bersuara. Padahal kalau enggak, Yuuji nggak bakal tahu kita lagi bareng."

"Keh, tapi bocah sialan itu. Dia malah mengabarimu duluan dibanding aku yang kakak nya. Memangnya—...aahhh..." Sukuna mengerang saat Gojo kembali bergerak.

"Hng, simpan omelanmu untuk nanti," Gojo menundukkan kepalanya di samping leher Sukuna, membuat deru nafasnya terasa di kulit sensitive Sukuna. "Aku sudah tidak tahan. Tadi aku sudah mau keluar saat Yuuji menelfon," Gojo mempercepat gerakannya, ia mencengkeram lengan Sukuna kuat. "Hngh...ahh...hnn..." ia merasakan hasratnya kian memuncak.

"Sshh...dasar kau," Sukuna memeluk tubuh Gojo dengan satu tangan, satu tangan lagi mengocok penisnya sendiri. Ia juga nyaris klimaks merasakan kedutan penis Gojo di dalam lubangnya. "Hnn...sshhh, aahh...hng..." ia merasakan cairan panas mengisi lubangnya, sepertinya Gojo telah klimaks. Hanya beberapa detik Sukuna juga melepaskan spermanya hingga membasahi perut mereka berdua. Nafasnya terengah, ia memeluk tubuh Gojo yang ambruk di atas tubuhnya.

"Hei, kau sudah pikirkan mau memberi kado apa untuk Megumi?" tanya Sukuna setelah nafas mereka mulai teratur.

"Hng...bingung juga aku. Saat kutanya, Megumi bilang tidak mau kado. Katanya uangnya simpan saja buat biaya kuliahnya nanti," jawab Gojo.

"Haha, Megumi banget ya," tawa Sukuna.

Gojo melepas pelukan, duduk menatap Sukuna meski belum melepas tubuh bawah mereka. "Kau sendiri mau memberi kado apa?"

"Yuuji minta dibelikan photobook Jennifer Lawrence," Sukuna menghela nafas lelah. Gojo tertawa pelan.

"Terus tadi kau beralasan kita lagi pergi bareng nyari kado buat mereka, gimana dong? Photobook begitu bukannya beli online dari luar negeri?"

"Oh shit, aku lupa. Aaargh, sial," Sukuna memegangi kepalanya.

"Haha sudahlah, nanti kita beli apa lah sekedar buat alasan," ucap Gojo, mengecup dahi Sukuna. "Dibanding itu..." Gojo menegakkan tubuhnya kembali, menatap tubuh mereka yang masih terhubung. "Aku masih ingin lagi."

"Hnn..." Sukuna ikutan duduk, memeluk leher Gojo lalu mencium bibirnya. "Aku juga belum puas," ucapnya dan melanjutkan ciuman. Gojo tersenyum dalam ciuman mereka, tangannya menyusuri punggung Sukuna, lalu ke bokong, meremas kedua belah bokong Sukuna, membuat cairan sperma mengalir turun dari lubangnya. Gojo mulai menggerakkan tubuh bawahnya pelan.

"Kalau Megumi dan Yuuji pulang bagaimana?" tanya Gojo, kembali merebahkan tubuh Sukuna ke ranjang.

"Tadi mereka bilang mau pergi sama teman-teman sekolah dulu kan. Ahh..." Sukuna mencengkeram bantal di bawah kepalanya. "Nnh...kita masih punya waktu. Hosh...lagipula...ahhh," ia mengerang saat Gojo membalik tubuhnya supaya menungging. "...k-kita...ahh, rayakan berempat nanti saja setelah upacara kelulusan mereka. Sekarang...nn...ahh, sekarang c-cukup...ucapan...haahh," Sukuna berpegangan erat ke kepala ranjang. "Fuck! Feels so good," desahnya.

"Hnn..." Gojo memegang pinggul Sukuna supaya lebih kuat saat penetrasi. Suara kulit mereka saling beradu mengisi seluruh ruangan.

"Sshh...ahh, hhn. Satoru...ahh," Sukuna mendesah memanggil nama kekasihnya. Tangan Gojo beralih meraba dada Sukuna, meremasnya, lalu memilin nipple Sukuna erat. "AAAHHH...!" Sukuna mengerang keras, ia mengeratkan kakinya karena menahan diri. "Aahh...ahhh...kimochi...ahhh..."

"Hnnh...sshh, ishh, ketaatt," lenguh Gojo, ia terpejam merasakan penisnya dicengkeram kuat oleh lubang Sukuna. Gojo beralih menarik tubuh Sukuna, memeluknya erat, tangannya meremas penis Sukuna dan mengocoknya. "Hngh...nn," ia menggigit pundak Sukuna.

"Hnhh...ahh, Satoru...ahh," Sukuna memeluk kepala Gojo, meremas rambutnya. "Hnnh...aku mau keluar."

"Hngh..." Gojo mempercepat gerakan tangannya di penis Sukuna. Satu tangan memilin nipple Sukuna dengan kuat.

"Oough...aahh, he-heyy...aahh, aahhh," Sukuna mencengkeram kuat paha samping Gojo. "Sshh...m-mou...ikkuu...ahhh..." Sukuna pun klimaks di tangan Gojo, lubangnya mencengkeram kuat penis Gojo, membuat sperma Gojo kembali tumpah. Sukuna menyeringai senang ia bisa memuaskan pacarnya itu. Sukuna ganti memeluk leher Gojo, lalu menoleh ke samping untuk meminta ciuman. Mereka berciuman cukup lama, mengulum lidah masing-masing, Sukuna menggigit pelan bibir Gojo, lalu kembali menaut lidahnya.

Sukuna melepas ciuman lalu menyeringai. "Kau puas, Gojo Satoru-sama?"

Gojo balas menyeringai, lalu rebahan sambil memeluk tubuh Sukuna. "Kayaknya bangga banget lihat aku puas."

"Harus dong. Kalau kau sampai nggak puas dan mencari orang lain awas saja."

"Pfftt, iya iya nggak akan," Gojo menarik wajah Sukuna dan kembali menciumnya beberapa saat. "Ngomong-ngomong, soal usulan Megumi dan Yuuji, kau yakin nggak ingin mempertimbangkannya?"

"Usulan yang mana?"

"Kita. Tinggal bersama."

"..." Sukuna terdiam sesaat.

"Pada akhirnya kita juga akan bilang ke mereka kan kalau kita pacaran. Nggak akan aneh kalau kita tinggal bersama. Soal mock-up mu, itu hanya alasanmu saja kan yang kau berikan dadakan saat itu."

"Nggak, kalau soal mock-up emang beneran. Susah tau mindahin mock-up. Dan banyak juga peralatan kerja yang susah buat dipindah, udah tertata dan nyaman di tempatnya."

"Ah, itu mah kamu aja yang udah PW sama penataan ruang kerjamu," Gojo menjewer pipi Sukuna. "Kan bisa ditata lagi di sini, senyamanmu."

"Yeee ya kenapa juga bukan kau yang pindah ke rumahku? Tata ruang kerja 'senyamanmu'. Huh?"

"Kan dibilangin, rumahmu tambah jauh dari tempatku kerja. Makan lebih banyak waktu bolak-balik ke kampus."

"Itu sih kau saja yang malas bangun lebih pagi buat ngampus," Sukuna membalik omongan Gojo.

"Aaaahh," Gojo merajuk lalu memeluk Sukuna erat. Sukuna menepuk-nepuk pelan punggung Gojo.

"Memangnya segitu inginnya tinggal bersama?" tanya Sukuna.

Gojo mengangguk dalam pelukannya. "Nanti sepulang kampus aku bisa melihat wajahmu. Kalau sedang capek bisa langsung memelukmu. Kalau kangen tinggal ke kamarmu."

"Ya dikiranya aku nganggur terus di rumah nungguin kamu pulang," Sukuna mengacak-acak rambut Gojo. "Kalau aku lagi kerja serius aku nggak bisa diganggu tau. Terus, kebanyakan juga aku di luar kalau lagi ngawasin pembangunan kan."

"Iya sih. Tapi saat kamu senggang kan jadi bisa lebih banyak ketemu. Nggak harus nyetir dulu buat aku datang ke sana atau kau ke sini."

Sukuna menghela nafas lalu melepas pelukan untuk menatap wajah Gojo, membelainya lembut. "Ya udah, aku pindah ke sini tapi ya kalau lagi senggang saja di sini, atau kalau lagi ada kerjaan yang bisa dikerjain pakai laptop doang. Aku bisa kerja di sini. Selain itu aku bakal tetap di rumah."

Meski manyun akhirnya Gojo mengangguk setuju. Ia sendiri sudah dewasa, mengerti bagaimana rasanya memindahkan ruang kerja memang berat. "Terus, kamu mau nyuruh Uraume beneran tinggal sama kamu?"

"Hng...lagi kupikir sih. Habis kalau aku lagi di rumahmu terus, rumahku bakal kosong dong. Mungkin benar kata Yuuji, aku bisa suruh Uraume sama Mahito tinggal di sana."

"Ugh...jangan selingkuh loh."

"Apaan sih. Padahal bilang sendiri katanya sudah nggak cemburu sama Uraume. Lagian aku bakal di rumah kalau lagi ada urusan kerja doang, kalau lagi senggang ya aku di sini sama kamu."

"Iya iya," balas Gojo, mengecup dahi Sukuna singkat. "Ngomong-ngomong kamu mau kamar yang mana? Biar kubereskan dulu."

"Atas masih ada kamar?"

"Masih."

"Ya udah atas aja biar bareng sama kamarmu dan Megumi."

"Ya udah. Kamar yang deket balkon belakang itu ya? Luas kok kalau misal kau mau bawa banyak barang. Peralatan kerja juga nggak papa."

Sukuna tertawa. "Masih coba ngrayu nih."

Gojo hanya nyengir.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra