Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak buat kokorocchi, Frigg Nevia07 dan emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
Hari upacara kelulusan Megumi dan Yuuji akhirnya tiba juga. Bocah-bocah itu sudah berangkat duluan saat pagi, sementara Gojo dan Sukuna kini masih bersiap. Untuk wali murid memang dijadwalkan jam 9 untuk datang. Saat ini Gojo tengah berpakaian sambil berbicara dengan Sukuna di telefon. Pacarnya itu juga tengah bersiap-siap.
"Bawa apa aja sih nih," ucap Sukuna.
"Ya nggak bawa apa-apa lah. Bawa diri doang."
"Ya maksudku, kado buat bocah-bocah itu. Terus apa lagi."
"Udah. Itu doang."
"Eh kau bawa mobil yang mana?"
"Mobil yang biasa lah."
"Huh, gede banget kan mobil itu. Kapasitas keluarga nggak bawa mobil yang satu? Pamer sekalian."
"Geez, mau pamer sama siapa juga."
"Hee kau nggak tahu, biasanya orang tua yang datang ke kelulusan anaknya buat sambil pamer. Biar Megumi bangga sekalian. Sayang juga loh punya mobil mahal cuma dipanasin doang tiap hari."
"Hnnngg..." Gojo masih terdengar enggan.
"Kalau kau nggak mau biar aku kesitu bawa mobilmu deh, kau yang bawa mobilku. Hahahahaha," Sukuna terkekeh.
"Geez. Iya deh iya aku bawa mobil yang satu," akhirnya Gojo mengalah. "Memangnya kau pakai mobil yang mana? Katanya mau pamer buat datang di kelulusan."
"Keh, aku cuma punya mobil satu ini. Ya pake yang ini lah. Kalau aku punya mobil mu aku juga bawa mobil yang kece itu."
Gojo menghela nafas. "Ya udah deh. Nih aku udah selesai. Berangkat yuk."
"Ok. Sampai nanti," Sukuna pun mematikan telefon. Gojo melirik manyun ke airpod di telinganya. Nggak ada kissbye atau apapun. "Dasar menyebalkan!" umpatnya. Ia lalu merapikan jaz nya untuk terakhir kali, lalu mengambil kado untul Megumi dan Yuuji, dan meraih kunci mobil yang tergantung di dinding. Ia sempat berpikir untuk membawa mobil yang biasa, tapi mengingat ucapan Sukuna tadi kayaknya Sukuna bakal ngamuk kalau tidak dituruti. Akhirnya Gojo meraih kunci mobil satunya lalu turun ke garasi.
Ia menekan kunci mobil Zenvo TSR-S miliknya, sebuah mobil yang masuk jajaran mobil termahal di dunia. Dulu ia beli saat ia masih menjadi model, karena pihak agency nya rewel yang ia beli malah mobil keluarga. Akhirnya Gojo membeli satu mobil mahal itu untuk pencitraan, hanya ia pakai untuk ke tempat-tempat tertentu yang berhubungan dengan pekerjaannya di dunia modelling. Kalau saat ini ia pakai kadang untuk datang ke tempat semacam interview atau fans sign untuk buku nya. Pokoknya benar-benar untuk pencitraan. Ia juga tak peduli kalau sudah banyak mobil mahal keluaran yang lebih baru, ia tak berniat membeli yang lain, cukup satu itu saja.
Gojo memanaskan mobilnya beberapa saat sebelum memacu mobil gagah itu ke jalanan.
.
Begitu sampai di sekolah Megumi, tentu saja dia jadi pusat perhatian. Semua langsung menatap ke arah mobilnya. Gojo melajukan pelan mobil itu menuju tempat parkir. Ia juga menatap banyak jajaran mobil mewah di sana, tapi tentu saja miliknya yang paling mencolok apalagi dengan bentuk mobilnya yang sangat kece. Bahkan para wali murid yang berada di mobil-mobil mewah mereka tetap menatap melongo ke arah mobilnya, ada juga yang menatap jengkel. Sepertinya benar kata Sukuna, hari kelulusan itu waktunya pamer buat wali murid.
Setelah memarkirkan mobilnya di salah satu tempat kosong, Gojo keluar dari mobil itu, masih menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan tampangnya yang ganteng, postur tubuh yang ideal, dan tinggi badan yang di atas rata-rata, dia benar-benar menjadi eye-candy di sana.
"Eh eh bukannya itu Gojo Satoru yang itu ya? Dulu model," ia bahkan mendengar bisik-bisik beberapa orang yang masih mengenali dirinya di pekerjaan yang dulu. Gojo hanya menghela nafas dalam lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Sukuna. "Sukuna kamu udah di mana?" tanya Gojo.
"Kau masuk duluan deh, nanti aku nyusul. Masih di jalan aku," jawab Sukuna.
"Ya udah aku tunggu di parkiran aja. Masih ada waktu ju—..."
"Nggak. Kau masuk duluan. Nanti orang-orang memandangku kayak kuman kalau aku jalan di sampingmu."
"Huh?! Apaan sih. K—..."
"Pokoknya kau duluan saja. Awas kalau menungguku," Sukuna pun mematikan telefon.
"Geezz...!" kesal Gojo. Ia pun menyakukan ponselnya lalu berjalan menuju auditorium. Sebenarnya dia tak nyaman terus ditatap dan diperhatikan sepanjang jalan, kalau ada Sukuna pasti lebih nyaman. Ia cukup tak peduli pada mereka dan menatap indah pada wajah pacarnya itu, tapi Sukuna kalau sudah keras kepala bilang tidak pasti bakalan tidak. Akhirnya Gojo pasrah. Berusaha tak peduli pada tatapan-tatapan yang terus terarah kepadanya. Dalam hati sangat bersyukur sudah tak memiliki kemampuannya yang dulu untuk bisa membaca pikiran.
Gojo pun masuk ke gedung auditorium, panitia mengantarnya ke kursi yang sudah disediakan. Karena ia datang lumayan awal, ia masih dapat kursi untuk wali murid di bagian depan yang ada di belakang deretan kursi untuk para siswa nantinya. Saat ini kursi-kursi itu masih kosong. Gojo sengaja menaruh kacamata nya di bangku sebelah hanya supaya bangku itu tak diduduki orang lain, biar nanti Sukuna duduk di sana. Kursi untuk wali murid biasanya tak diatur seperti kursi untuk murid, makanya bebas saja mau duduk di mana.
Gojo kembali memainkan ponselnya sambil menunggu Sukuna, ia juga mengatakan kalau ia menyimpan satu tempat duduk untuk Sukuna. Perlahan auditorium itu mulai terisi dengan para wali murid. Sukuna juga akhirnya datang. Ia tak kesulitan mencari Gojo karena rambut Gojo yang mencolok dan juga tinggi badannya.
"Yo," sapa Sukuna begitu mendekat.
"Lama amat," ucap Gojo. Ia mengambil kacamata nya kembali supaya Sukuna bisa duduk.
"Tadi udah rame di depan. Nyari tempat parkir, juga udah ngantri masuk ke sini ngisi daftar wali murid," Sukuna menghela nafas lega setelah akhirnya duduk. Ia melirik sekeliling dan menyeringai mengetahui kalau Gojo diperhatikan sana-sini. "Kalau aku teriak kau milikku dan menciummu di depan mereka kira-kira bagaimana ya?"
Gojo balas tersenyum. Ia mencondongkan wajahnya ke arah Sukuna, tapi untunglah Sukuna refleks meletakkan tangannya di wajah Gojo dan mendorongnya menjauh. "Gila!" omelnya dengan wajah kesal meski sedikit memerah.
"Katanya ingin tahu," goda Gojo.
"Kan hanya berandai-andai. Nggak betulan juga!" omel Sukuna.
"Kenapa harus berandai-andai kalau bisa dilakukan."
"Tch! Dasar gila. Kasihan Yuuji sama Megumi juga kalau orang tahu kita wali mereka."
"Kan mereka udah lulus ini."
"Ah, bodo ah. Jangan macam-macam," omel Sukuna dan mendorong Gojo sedikit kasar, sementara pria itu hanya terkekeh.
Tak lama kemudian acara dimulai. MC memandu acara dengan mempersilahkan para murid memasuki audit. Mereka berjalan rapi menuju tempat duduk masing-masing, sudah diatur berdasarkan kelas dan nama. Yuuji dan Megumi sempat melirik ke arah Gojo dan Sukuna lalu nyengir. Maklum lah Gojo gampang ditemukan di kerumunan, jadi mudah saja bagi mereka menemukan pria itu, lengkap dengan Sukuna di sampingnya. Sayangnya tempat duduk Megumi dan Yuuji lumayan jauh dari tempat duduk Gojo dan Sukuna.
Acara dilanjutkan sesuai urutan yang dibacakan MC. Ada sambutan-sambutan, hiburan dari murid-murid kelas satu dan dua, lalu mulai memasuki acara inti dimana murid-murid kelas tiga menerima ijazah kelulusan mereka. Mereka maju satu per satu dipanggil berdasarkan urutan nama, tapi sampai akhir, nama Megumi belum dipanggil. Setelah acara itu rupanya ada penghargaan khusus untuk beberapa murid berprestasi, mereka dipanggil ke atas panggung untuk menerima ijazah beserta penghargaan untuk mereka, rupanya Megumi berada di daftar itu. MC pun mempersilahkan murid-murid berprestasi itu naik ke atas panggung bersama wali murid mereka. Jadi Gojo pun bangkit dari kursi lalu menuju panggung bersama wali murid lain. Ia langsung jadi pusat perhatian lagi tentunya, apalagi setelah berdiri di atas panggung.
Gojo tak begitu peduli dengan tatapan-tatapan yang ada. Dadanya tengah sesak karena bahagia. Ia menatap Megumi yang berdiri di depannya berjejer dengan murid lain. Rambut Megumi dirapikan, dan Gojo merasa ia melihat wajah Toji tercetak jelas di sana. Tanpa sadar mata Gojo memanas. Ia langsung memakai kacamata hitam nya untuk menutupi mata yang mulai berair.
"Toji-san, putramu sudah besar," lirih Gojo sambil menatap Megumi.
Sebagai pemilik nilai tertinggi, Megumi diminta untuk menyampailan pidato singkat. Ia pun naik ke mimbar untuk menyampaikan pidato nya. Ia mengucapkan terimakasih serta pesan dan kesan untuk sekolah, ia juga menyampaikan beberapa kata motivasi untuk adik-adik angkatan serta teman-teman seangkatan. Typical pidato biasa. Dan di akhir, ia menyampaikan rasa terimakasih terbesarnya untuk Gojo, ia menyebut kata 'Tou-san' kali itu di hadapan semua orang. Bukan lagi mengakuinya sebagai Sensei atau saudara jauh atau apapun itu.
Mata Gojo sempat terbelalak, tapi untunglah tertutup kacamata hitam nya. Air matanya tumpah sudah, tapi ia mencoba menahan diri dengan hanya menundukkan kepala. Megumi pun mengakhiri pidato disambut tepuk tangan riuh dari para tamu. Ia kembali ke barisan dan menghampiri Gojo yang tertunduk. Megumi mengerutkan sebelah alis lalu meraih sapu tangan dari saku jaz nya, dan mengelapkan benda itu ke wajah Gojo.
"Dasar cengeng," lirih Megumi.
Deg...!
Mata Gojo melebar saat ia melihat wajah Toji tepat di hadapannya, mengucapkan kata yang barusan Megumi ucapkan.
"Toji-san..." ucap Gojo tersendat.
Mata Megumi menyipit. "Aku Megumi. Dan Gojo Satoru adalah Tou-san ku."
Gojo tak bisa lagi membendung perasaannya. Ia pun langsung memeluk Megumi, tak peduli ia berada di atas panggung. Samar ia merasakan Megumi menepuk punggungnya dan berkata.
"Mereka sudah tidak akan kembali, jangan melihat ke belakang lagi. Ini aku yang ada di depanmu, kau cukup melihat ke depan saja, Papa."
Gojo tak dapat berkata apa-apa lagi. Rasanya ia ingin menjerit sekencang-kencangnya. Tapi dia masih sadar diri. Ia pun hanya melepas pelukan Megumi. Dan sepertinya yang ia lakukan barusan tidak aneh, karena ternyata murid yang lain juga dipeluk dengan bangga oleh orang tua mereka sambil mengucap kata selamat. Setelah itu mereka pum turun dari panggung dan kembali ke kursi masing-masing.
Sukuna yang melihat Gojo kembali dengan mata sembab hanya diam saja. Ia juga tak mengajak ngobrol lagi, sementara Gojo juga diam saja di kursi nya, tak bicara sepatah kata pun. Sukuna melirik tangan Gojo yang rileks di samping tubuh, perlahan ia pun meraih jemari kekasihnya itu dan menggenggamnya erat. Gojo tersenyum tipis karenanya. Ia berniat menyandarkan kepalamya ke pundak Sukuna tapi tak bisa, jadi ia pun menyandar ke kepala Sukuna.
"Dasar pendek," dalam keadaan begitu dia masih sempat-sempatnya ngatain orang.
"Kau yang kayak tiang, sialan!" balas Sukuna tapi membiarkan saja Gojo menyandar kepadanya.
.
.
Acara kelulusan itu berakhir sekitar pukul satu. Gojo menge chat Megumi dan Yuuji untuk santai saja kalau mau bersama teman-temannya dulu, foto-foto atau semacamnya, smentara ia dan Sukuna duduk di salah satu gazebo sekolah sambil meminum minuman dari vending machine. Gojo menaruh kaleng minuman dinginnya di mata, mungkin biar tidak bengkak lagi.
"Bayi besar," goda Sukuna.
Gojo hanya tersenyum menanggapi ledekan pacarnya. "Wajah Megumi benar-benar mirip Toji-san, apalagi dengan rambut dirapikan begitu," ucap Gojo. Sukuna tak merespon, hanya mendengarkan sambil menyesap minuman kalengnya. "Aku jadi membayangkan, bagaimana kalau hari ini yang datang adalah orang tua Megumi, mereka pasti akan bangga sekali melihat putera mereka naik ke atas panggung mendapat nilai tertinggi. Lalu aku akan menunggu mereka keluar di gerbang sekolah," Gojo tak mengakhiri kalimatnya dengan baik, ia sudah menangis lagi. Ia pun menundukkan kepalanya ke meja, menyembunyikan wajahnya di balik lengan.
Sukuna masih diam, ia meletakkan kaleng minuman yang dingin di atas kepala Gojo, memain-mainkannya. Pelan ia menepuk kepala Gojo. Ia ingin membelainya, tapi canggung karena ada di tempat umum. Tak berapa lama ia melihat Yuuji dan Megumi menghampiri, tapi ia kengerutkan alis saat melihat pemandangan yang ada.
"Nii-san, Sensei," panggil Yuuji setengah berteriak sambil menghampiri. Mendengar suara Yuuji Gojo berniat bangun, tapi Sukuna menahan kepalanya supaya tetap menunduk ke meja. Pasalnya mereka menghampiri bersama serombongan siswi yang sambil cengar-cengir gaje, beberapa bahkan dengan ibu mereka yang masih terlihat muda. Bisa dipastikan mereka pasti mau memanfaatkan Megumi dan Yuuji untuk minta foto kelulusan bersama dengan Gojo juga. Sementara Gojo sedang dalam kondisi begini, Sukuna tak ingin mood Gojo memburuk karena hal itu.
"Sudah selesai?" tanya Sukuna masih menahan kepala Gojo di meja.
"Hmm, belum, masih ingin foto-foto. Kalian nggak mau ikut foto-foto nih? Nii-san, Sensei juga," ucap Yuuji terlihat canggung sambil melirik orang-orang di sampingnya.
"Ooh, kalau begitu selesaikan saja. Satoru sakit kepala katanya. Makanya istirahat sebentar. Kalau kalian masih belum selesai malah bagus, biar Satoru istirahat lebih lama lagi."
Siswi-siswi dan para wali murid itu pun tampak kecewa. Jadi memang benar dugaan Sukuna soal mereka yang mau minta foto bareng Gojo.
"Ooh, begitu, ya sudah," balas Yuuji. "Ayo teman-teman, lanjutkan foto kelasnya," Yuuji pun menggiring teman-temannya pergi. Megumi memgikuti langkah Yuuji, tapi sebelum itu ia menyempatkan diri membelai singkat rambut Gojo. Sepertinya mengerti apa yang sedang terjadi.
Setelah langkah mereka menjauh barulah Sukuna menyingkirkan kaleng minumannya dari atas kepala Gojo untuk memberi tanda kalau sudah tidak masalah jika ia bangun.
"Ada apaan?" tanya Gojo, kacamata nya jatuh ke meja menunjukkan matanya yang sembab.
"Nggak. Mukamu jelek banget, cuci muka sana."
"Geez," ia melihat sekeliling dan melihat keran di dekat lapangan olahraga. Ia pun bangkit dan menarik Sukuna ke sana. "Ayo, temenin," rengeknya. Sukuna hanya bisa menghela nafas lelah lalu menurut.
Gojo melepas jaz nya, mengerudungkan seenaknya ke kepala Sukuna, lalu menggulung kemeja hingga sesiku dan menyalakan keran untuk cuci muka. Ia juga membasahi sedikit kepalanya supaya lebih segar. "Aaah, nggak ada handuk buat lap," ucapnya sambil mematikan keran. Sukuna mengelapkan sebuah kain ke wajah Gojo, sebuah sapu tangan. "Arigatou."
"Sapu tangan mu sendiri kok," seringai setan Sukuna.
"Dasar," balas Gojo. Sapu tangannya basah total karena untuk mengelap wajah dan tangan. Ia lalu dengan jahil meraih sapu tangan di jaz Sukuna dan menggunakannya sebagai lap kedua supaya lebih kering.
"Sialan," omel Sukuna, Gojo hanya tertawa kecil. Mereka berjalan kembali ke gazebo tadi, Gojo membuang sapu tangan mereka ke tempat sampah karena basah kuyup dan malas bawa. "Kau lagi nggak kerja nih?" obrol Gojo setelah mereka kembali duduk di gazebo.
"Aku bilang ke Uraume minta kosongkan projek sampai April. Buat kelulusan Yuuji, juga dia yang masuk FFA. Aku ingin ada waktu untuknya seenggaknya sampai dia settle di sana," balas Sukuna.
"Hee kakak yang baik."
"Chee, kau juga sama saja kan."
"Hehe, iya, aku ambil cuti," Gojo merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tak berapa lama Megumi dan Yuuji menghampiri, kali ini mereka hanya berdua saja.
"Sudah selesai nih, gantian kita yang foto-foto yuk," cengir Yuuji. "Gomen Sensei, tadi itu susah sekali mau menolak. Pas udah ditolak malah ibu mereka ikutan membujuk, nggak enak kalau nolak orang tua," jelas Yuuji.
"Oooh," balas Gojo, sepertinya ia mengerti apa yang Yuuji bicarakan. "Iya nggak papa Yuuji, untung Sukuna jado ngibul."
"Sialan!" omel Sukuna sementara Yuuji dan Megumi tertawa. Setelah itu mereka foto-foto berempat, sambil memegang ijazah, juga sambil memegang buket bunga pemberian Gojo dan Sukuna. Yuuji dan Megumi juga foto berdua di depan monumen sekolah mereka. Setelah merasa cukup dengan foto-foto itu, mereka pun mengajak pergi. "Kalian tunggu di depan saja, kami ambil mobil dulu," ucap Sukuna. Mereka berdua pun mengangguk. Yuuji dan Megumi menunggu di dekat gerbang sekolah sambil melihat hasil foto-foto tadi.
"Hihi, nanti setelah msuk FFA aku bisa lebih tinggi dari Sensei nggak ya," cengir Yuuji.
"Ntahlah, tinggi badan kan salah satu faktor nya dari gen juga," goda Megumi.
"Ah Megumi ah," manyun Yuuji. Ia menengadah dari layar ponsel saat mendengar deru keras mesin mobil. Perlahan matanya membola saat melihat mobil Gojo mendekat dan berhenti di dekat mereka, membuka pintu mobil dengan sangat elegan. "Senseeeeiiiii," Yuuji langsung menghampiri. "Aku baru lihat kau pakai mobil ini. Tunggu tunggu, aku mau foto dulu dong. Megumi fotoin," ia ribut sendiri. Gojo hanya tertawa. Ia menepikan mobilnya supaya tak menghalangi jalan, lalu keluar dari mobil dan memakaikan kacamata nya pada Yuuji.
"Dah, foto. Biar ganteng," ucapnya.
Yuuji nyengir lebar. Ia lalu foto-foto dengan mobil itu, bahkan sepertinya fotonya dengan mobil jauh lebih banyak dari foto kelulusannya.
"Masuk saja Yuuji, pura-pura nyetir," ucap Gojo. Yuuji pun dengan bersemangat masuk ke mobil dan bergaya sok cool di sana. Megumi hanya menghela nafas lelah sambil terus mengambil foto.
"Tch, udah belum sih. Norak banget," omel Sukuna yang juga sudah ada di sana menunggu dengan mobilnya. Capek menunggu dia.
"Ah, Nii-san, nggak bisa lihat orang seneng aja," manyun Yuuji lalu turun dari mobil.
"Kalau kau segitu senangnya sama mobil ini, kau semobil saja dengan Tou-san. Aku sama Sukuna-san," ucap Megumi sambil menyerahkan ponsel Yuuji.
"Eh? Boleh?" girang Yuuji. Megumi mengangguk. "Yattaaa," girang Yuuji lalu menghampiri pintu sebelah. "Let's go, Senseeii," teriaknya.
"Let's goooo," Gojo ikutan heboh lalu menghampiri kursi kemudi, sementara Megumi menghampiri mobil Sukuna dan duduk di sebelahnya.
"Dasar bocah," ucap Megumi dan Sukuna bersamaan. Mereka lalu tertawa karenanya. Mereka pun menyetir meninggalkan sekolah, mobil Gojo di belakang mengikuti mobil Sukuna.
"Sensei Sensei, ayo salip, biar mobil Nii-san ketinggalan," celoteh Yuuji.
"Pffft, oke deh," Gojo menurut. Ia pun mempercepat laju mobilnya, menyalip mobil Sukuna. Yuuji memasang kacamata dan bergaya sok keren saat mobil menyalip. Sukuna hanya menghela nafas lelah lalu mengotak-atik gigi mobilnya.
"Mau balapan? Kalah cepat nggak nih?" goda Megumi.
"Secepat apapun Satoru, dia masih ada di jalanan kota. Kalau melebihi batas kecepatan maksimal, bakal diuber polisi. Jadi, selama mematuhi peraturan yang ada..." Sukuna menyeringai setan. "Mobilku juga masih kuat melaju segitu," dan ia pun langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.
Megumi menahan nafas sedetik lalu mengencangkan sabuk pengaman. Ia tertawa pelan saja menikmati balapan bodoh ini. Yuuji tampak shock saat melihat mobil Sukuna sejajar dengan mobil mereka. Gojo hanya terkekeh. Sepertinya Sukuna mengerti dengan batasan kecepatan yang harus mereka patuhi. Gojo pun hanya bisa memacu mobilnya di bawah batas kecepatan itu, jadinya setara dengan mobil Sukuna. Tapi untunglah sampai di tempat yang dituju, Gojo menang karena berhasil masuk ke jalan masuk duluan, dan lajurnya hanya muat satu mobil, jadilah dia yang duluan masuk dan berhenti di tempat parkir.
"Uwaahh hampir saja kalah," ucap Yuuji keluar dari mobil. "Sensei, mobil ini nggak bisa lebih cepat lagi? Kan mobil keren."
"Bisa, tapi jangan di kota lah, nanti datangkap polisi. Kapan-kapan yuk, berkendara di jalanan yang tanpa batas kecepatan. Nanti kau bisa rasakan kecepatan maksimal mobil ini."
"Woaahh mau mau mau," ucap Yuuji bersemangat. Mereka pun pergi dari tempat parkir itu. Saat ini mereka berada di sebuah restaurant, Gojo sudah reservasi untuk makan siang mereka.
"Kau nggak mau coba mobilnya nih," goda Gojo pada Sukuna. Mereka berjalan di belakang sementara Yuuji dan Megumi di depan.
"Nggak ah, males," balas Sukuna.
"Dih, jaim. Padahal tadi pagi yang minta pakai mobil ini kau sendiri."
Sukuna hanya menarik sebelah bibir. Ia merapatkan tubuhnya untuk menggandeng tangan Gojo sembunyi-sembunyi. "Tapi kalau diajak kencan pakai mobil itu kurasa tak buruk juga."
Gojo tersenyum lalu mengacak rambut Sukuna singkat. "Ya udah, kapan-kapan yuk, kencan pakai mobil itu."
Sukuna mengangguk setuju.
.
"Selamat atas kelulusannya!"
Klang...!
Mereka bersulang dan meminum minuman masing-masing meski non-alcohol. Kali itu mereka hanya makan biasa tak mereservasi ruangan sendiri untuk perayaan. Toh tadi mereka sudah heboh di sekolah. Mereka langsung makan karena sudah lewat jam makan siang dan perut mereka sudah keroncongan. Barulah setelah itu Gojo dan Sukuna memberikan hadiah mereka untuk bocah-bocah itu.
Gojo memberikan hoodie untuk Yuuji, sememtara Sukuna memberikan jam tangan untuk Megumi.
"Woah," komentar Megumi sambil mencoba jam tangan itu.
"Kau suka?" tanya Sukuna.
Megumi mengangguk. "Model nya keren," ucapnya masih meneliti setiap detail jam tangan itu. Dia suka bentuk dan lining warna nya. Sepertinya Sukuna paham selera Megumi terhadap sesuatu. Sementara Yuuji juga sedang bling bling menatap hoodie baru nya.
"Gomen Yuuji, hanya ini yang kepikiran saat memilih hadiah. Pasti koleksi hoodie mu sudah banyak ya," ucap Gojo.
"Iya aku memang suka pakai hoodie. Jadi kalau punya banyak malah aku suka. Makasih Sensei," cengir Yuuji.
"Dan...ini kado yang kau minta dariku," Sukuna meletakkan ponselnya di hadapan Yuuji, menampakkan sebuah halaman website yang menjual photobook Jenifer Lawrence. "Pilih photobook yang mana. Aku tidak tahu yang kau mau."
"Wooaaaaahhh," Yuuji langsung bling bling. Dengan bersemangat ia memilih photobook yang ia inginkan dan memasukkannya ke daftar beli. "Ini ya," ia menunjukkan list nya pada Sukuna.
"Iya iya terserah kau saja. Langsung check out sekalian," balas Sukuna.
"Yattaa," girang Yuuji.
Sementara Gojo merogoh sesuatu dari saku jaz bagian dalam.
"Sudah kubilang kau tidak perlu membelikan kado," ucap Megumi melihat itu.
"Iya iya nggak beli kok," ucap Gojo. Ia mengeluarkan sebuah kotak kado kecil dari sana dan meletakkan di meja, mendorongnya ke arah Megumi.
"Apaan?"
"Buka aja," Gojo menunjuk menggunakan wajahnya. "Karena kau bersikeras tak mau dibelikan kado, jadi..." Megumi membuka kotak itu, di dalamnya ada sebuah kunci motor yang diikat pita. "Motor yang itu untukmu saja. Bisa kau bawa kuliah, hemat transport juga."
"Woaah motor yang itu kan Sensei, yang pernah kulihat di garasimu itu," ucap Yuuji bersemangat. Gojo mengangguk. "Gaah, keren banget. Aku juga kapan-kapan ingin mengendarainya."
"Aku jarang pakai juga, lebih sering bawa mobil. Jadi motornya untukmu saja," ucap Gojo. "Atau kau mau mobil yang kubawa itu? Itu juga boleh kalau kau mau."
"Nggak nggak, motor saja sudah cukup," ucap Megumi. "Pakai motor ini saja sudah bakal mencolok, apalagi mobil yang itu."
"Megumi, lain kali aku pinjam dong. Aku juga ingin coba motor itu," rengek Yuuji.
"Iya iya, terserah kau saja," Megumi menghela nafas lelah. Ia ganti menatap Gojo. "Terimakasih banyak Tou-san," ujarnya.
"Keh, nanti kalian kencan saja bawa motor itu. Bisa sambil pelukan tuh," goda Sukuna yang sontak membuat wajah Yuuji memerah.
"A-aku bukan berpikir seperti itu," protes Yuuji. Megumi hanya berdehem kecil dan mengalihkan wajahnya yang sedikit bersemu.
"Ah, ngomong-ngomong, kami sekalian mau bilang," ucap Sukuna sambil memasukkan sepotong kecil apel ke dalam mulutnya. "Sepertinya kami akan menuruti saran kalian soal tinggal bersama."
"Ehh, beneran?" ucap Yuuji.
Sukuna mengangguk. "Nggak selalu sih, ada kalanya aku tinggal di rumah juga, karena beberapa alat kerjaku susah untuk dipindah. Tapi yah, kurang lebih aku akan menghabiskan lebih banyak waktu di tempat Satoru. Aku juga sudah bicara pada Uraume dan Mahito, mereka setuju untuk tinggal di rumah kita. Biar rumah nggak kosong kalau aku sedang di rumah Satoru."
"Hooh, bagus dong. Sekarang nggak perlu khawatir lagi kalian sendirian setelah kami kuliah nanti. Ya kan Megumi?"
"Yeah," balas Megumi. "Akan kupastikan aku menghubungi dulu sebelum pulang ke rumah. Biar nggak mendadak. Takutnya mengganggu."
Sukuna langsung tersedak buah yang tengah dikunyahnya.
"Mengganggu bagaimana, Megumi?" Tanya Yuuji.
"Ya maksudku, siapa tahu Sukuna-san sedang kerja serius kan, takutnya aku mengganggu. Bisa-bisa rumah yang dia bangun roboh kalau dia nggak konsentrasi."
"Hee, begitu ya. Yah, asal dia mengerjakan di dalam kamar biasanya sih nggak bakal dengar ada orang teriak-teriak sekalipun."
Megumi hanya mengedikkan bahu.
.
.
.
~TBC~
.
Hi gaes, kumau buka komis writing nih barangkali ada yang minat~ bisa fanfiction, bisa original story~ bisa character X OC. Buka 2 slot ajah karena 1 slot udah keisi dan belum selesai wkwkwk
Untuk fandom nya…saat ini buka khusus buat fandom yang author tahu aja yak, soalnya kalau fandom yang harus research dulu (nonton anime/movie/baca manga/novel nya) lagi belom bisa nih saat ini, susah nyari waktu. Jadi buka buat fandom yang author tahu aja. Untuk list fandom, atau detail lain yg mau ditanyakan, bisa langsung tanya-tanya di PM. Makasih~
Langsung inbox aja ya kalo site ini ada fasilitas inbox nya. Kalo nggak ada, author bisa dihubungi di :
* facebook : Kai Shadowchrive Noisseggra
* instagram : noisseggra
Yoroshiku onegaishimas~
.
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
