Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banya buat 'sukunatampan' yang udah support author di Trakteer. Selamat meniqmati bokong Sukuna ya wkwkwk FanArt nya bisa dilihat di halaman karya~

Dan semoga tetap mau mengikuti story ini. Selamat membaca chapter baru~

.

#Makasih banyak juga buat Frigg Nevia07 dan emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Yuuji diterima masuk FireFighter Academy, Megumi juga sudah diterima masuk di universitas pilihannya dan mengambil jurusan kedokteran hewan. Hari itu Gojo tengah menemani Megumi untuk cari apartment yang akan ia tinggali selama kuliah.

"Ini bagus," ucap Gojo, mengamati seluruh ruangan.

"Harga nya?" tanya Megumi.

Estate Agent yang menawari mereka tempat itu menyebutkan harga.

"Mahal," ucap Megumi.

"Nggak papa, aku saja yang bayar," ucap Gojo.

"Nggak mau. Kalau bisa aku mau bayar sendiri."

"Ya untuk beberapa bulan awal aku deh, nanti sisanya kamu kalau sudah mengumpulkan uang sendiri."

"Iya tapi tetap mahal. Cari yang kisaran harga di bawah ini deh. Kecil nggak papa. Aku juga bakal tinggal sendiri."

"Iya, tapi keamanan itu yang paling utama. Aku nggak mau terjadi sesuatu padamu. Ini pertama kalinya kamu tinggal sendirian."

"Tapi kan bla...bla...bla..."

Agent itu hanya sweatdrop. Pasalnya ini sudah perdebatan mereka berdua entah yang ke berapa. Setelah berdebat cukup panas akhirnya Megumi menang dan mereka memutuskan mencari apartment lain. Kali ini sebuah apartment yang lebih kecil, lokasinya juga tak begitu jauh dari kampus. Ukurannya lumayan luas, dan menurut Gojo keamanannya cukup baik.

Sebenarnya Megumi ingin menolak lagi, karena yang ada di bayangannya, ia akan mencari apartment dengan satu kamar, cukup berisi single bed, ada dapur, kamar mandi, ruang makan dan ruang tengah gabung jadi satu tak masalah, pokoknya sebuah apartment minimalis. Tapi yang ini adalah apartment dengan dua kamar luas yang bahkan memiliki kamar mandi dalam, ranjangnya juga hampir sama besar dengan ranjang Megumi di rumah. Dapur lengkap dengan counter, kulkas dan lain-lain, ada meja makan juga. Ruang TV sendiri lengkap dengan sofa dan perabot lain. Bahkan ada balkon yang lumayan luas di luar kamar itu. Ngomong-ngomong apartment itu ada 7 lantai dan kamar tersebut ada di lantai 5.

Megumi menghela nafas lelah. Sebenarnya ia sudah mau protes lagi, tapi melihat ekspresi Gojo yang sudah siap mengomel akhirnya Megumi batal protes. Mereka pun menyetujui untuk mengambil apartment tersebut.

.

Gojo membantu Megumi pindahan setelahnya. Enaknya punya mobil keluarga, kapasitasnya besar jadi bisa sekalian untuk pindahan. Gojo yang menyetir mobil itu sementara Megumi menggunakan motor sekalian biar motornya tetap berada di sana untuk transportasi selama kuliah. Jarak dari apartment ke kampus tidak terlalu jauh, sekitar 10 menit pakai motor.

"Tck, ada dua kamar yang satu kamar buat apaan," ucap Megumi. Saat ini mereka sedang membongkar kardus-kardus dan mulai menata barang.

"Ya terserah kamu kan, mungkin bisa untuk menyimpan alat-alat perkuliahan. Atau kalau mau bikin shelter kecil untuk hewan, siapa tahu kau mau latihan merawat hewan sekalian. Di apartment ini boleh pelihara binatang kan," balas Gojo sambil membuka kardus dengan cutter.

"..." Megumi terdiam. Ia baru kepikiran soal itu. Yeah, ia rasa tak buruk juga punya apartment besar.

Sekitar jam 10 malam mereka baru selesai beres-beres. Megumi melipat kardus-kardus dan mengikatnya dengan tali plastik.

"Megumi, aku mandi duluan ya," ucap Gojo.

"Iya," balas Megumi singkat. Ia selesai memberesi kardus, menaruhnya di balkon supaya tak mengganggu. Ia menatap balkon itu yang masih kosong. Hanya ada kursi serta meja di salah satu sudut balkon, juga dua buah pot tanaman hias. Megumi jadi berpikir untuk memelihara tanaman lain. Semacam tomat atau apa lah yang kecil dan muat dalam pot. Sebagai hobby saja. Well, coba lihat nanti kalau dia senggang selama kuliah.

Ia kembali masuk ke dalam apartment dan meraih handuk. Gojo mandi di kamar mandi yang ada di kamar, jadi Megumi mandi di kamar mandi yang ada di luar, ia hanya membawa handuk tanpa pakaian ganti. Toh hanya ada mereka berdua di sana.

Jadi setelah selesai mandi, Megumi keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk di pinggang, tangannya menenteng pakaian kotor yang ia lemparkan ke keranjang cucian. Gojo sudah ada di dapur saat itu.

"Laper," ucapnya. Kompor dan segala peralatan dapur sudah langsung bisa difungsikan saat mereka pindah, pokoknya semua fasilitas sudah bisa dinikmati, termasuk keran air panas, juga TV LED di ruang tengah dengan ukuran 32inch.

Setelah berpakaian, Megumi ke dapur untuk makan bersama Gojo. Hanya makan ringan saja karena sudah malam. Lalu karena lelah, setelah makan mereka langsung naik ke atas ranjang untuk istirahat, meski belum langsung tidur sambil menunggu makanan mereka turun.

"Kau sudah bilang ke Yuuji kalau sudah pindah?" tanya Gojo.

"Sudah. Kuberikan juga alamat sini kalau suatu saat dia mau main," balas Megumi.

"Ah, kalau dia tinggalnya di asrama ya, nggak perlu cari apartment. Ketat nggak sih? Kau nggak bisa main ke sana?"

"Bisa sih. Tapi dia bilang untuk anak baru asrama nya satu kamar untuk 4 orang. Jadi kayaknya bakal lebih santai kalau dia yang ke sini."

Gojo tersenyum mendengar itu. Ia meraih bantal lalu memeluknya. Ia sedikit mencondongkan badan ke arah Megumi untuk mengobrol sedikit lebih serius.

"Ngomong-ngomong, kalian sudah kuliah nih. Belum kepikiran, buat lanjut ke step selanjutnya?" goda Gojo.

"...step...apa?" bingung Megumi. Tapi melihat ekspresi Gojo ia langsung mengerti apa yang Gojo maksud. Wajah Megumi sontak memerah. "I...itu..." ucapnya kikuk.

Gojo tertawa puas. Sebenarnya dia tak yakin antara Megumi sudah pernah melakukannya atau belum dengan Yuuji, tapi melihat ekspresi Megumi, sekarang ia jadi yakin kalau mereka belum pernah melakukannya.

"Ah, ya sudahlah. Terserah Megumi saja, aku hanya tanya, hehe," cengir Gojo. Ia lalu menata bantal dan merebahkan kepalanya, mencoba memejamkan mata. Tapi baru beberapa saat, ia merasakan kaosnya ditarik. Ia pun kembali membuka mata dan melihat Megumi yang tengah menarik kaos nya dengan wajah tertunduk dan memerah.

"Ba-bagaimana...cara memulainya," tanya Megumi gagap. Gojo pun nyengir nista dan kembali duduk menghadap Megumi.

"Memulai?" tanya Gojo.

Megumi mengangguk. "Kalau mau mengajaknya...mulai dari mana? Aku bahkan tidak tahu caranya minta Yuuji melakukan itu. Mengingat bocah itu, aku malah jadi ragu apa dia tahu kalau sesama cowok bisa melakukan...s-sex."

Gojo sweatdrop. "Iya juga ya," dia jadi ikut kepikiran. "Kalau soal itu bicarakan pelan-pelan saja deh dengan Yuuji. Kau kan pacarnya, pasti paham bagaimana caranya bicara dengan Yuuji kan."

Megumi menelan ludah berat lalu mengangguk. "Terus, kalau misal nih, dia sudah mau. Pertama-tama harus apa?"

"Hng..." Gojo pasang pose berpikir. "First thing first, yang mau memasukkan kau atau Yuuji?"

"..." Megumi bengong. "...memasukkan..."

"Iya. Kau tahu kan kalau cowok sama cowok itu yang satu memasuki dan yang satu dimasuki," ia memperagakannya dengan gesture tangan.

"..." masih bengong, tapi seketika wajah Megumi memerah total. "Ah sudahlah. Aku tidak tahu," ia langsung membanting tubuhnya ke ranjang dan membenamkan kepala ke bantal.

Gojo hanya bisa sweatdrop maklum. Mereka belum pernah melakukan, membahas saja belum. Maklum saja belum kepikiran sampai hal itu. Gojo pun ikut merebahkan tubuh di samping Megumi. "Oyasumi Megumi," ucapnya dan mulai memejamkan mata meski mengetahui mungkin Megumi tak bisa tidur karena kepikiran.

.

~OoooOoooO~

.

Sesuai rencana, setelah Megumi dan Yuuji settle di lingkungan baru mereka, Sukuna juga pindah ke rumah Gojo. Gojo memberikan satu kamar untuk Sukuna di lantai dua yang dekat dengan balkon, menghadap halaman belakang rumah.

"Kau cuma bawa barang segini?" tanya Gojo melihat barang-barang pindahan Sukuna.

"Ya kan aku bukannya pindah keseluruhan. Kenapa juga harus bawa barang banyak-banyak," balas Sukuna.

"Hish, kau ini!" kesal Gojo. Rasanya ia masih tak suka mendengar Sukuna bukan menetap tinggal di sana, hanya seperti tempat sementara saja.

"Apa sih, sudah bagus aku mau pindah," Sukuna menjewer pipi Gojo seperti karet, menariknya beberapa kali.

"Hnnghh," Gojo hanya merajuk, melingkarkan tangannya ke pinggang Sukuna. Saat ini ia duduk di tepi ranjang, Sukuna berdiri di hadapannya. "Sekarang kau lagi nggak sibuk?"

Sukuna menatap ke arah lain seolah sedang berpikir, lalu balik menatap Gojo. "Uraume baru kusuruh menerima job lagi. Jadi kerjaanku sekarang-sekarang ini ya bolak-balik ketemu client dulu."

Gojo menghela nafas lelah mendengar itu. Sukuna menjambak rambut Gojo pelan. "Sudah kubilang aku bukan orang nganggur. Kau pikir aku bakal jadi pacar yang selalu bisa menyambutmu saat kau pulang kerja dan menyiapkan bathtub untukmu."

"Iya iyaaa," Gojo menarik tubuh Sukuna ke pelukannya lalu berbaring ke ranjang, membawa tubuh Sukuna. Tapi ia hanya diam saja, menyembunyikan wajahnya di dada Sukuna. Sukuna juga tak berkata apapun, hanya membelai lembut rambut Gojo. "Tidur bareng ya," ucap Gojo setelah hening cukup lama.

"Tapi matiin lampu."

"Hiisshh."

"Ya salahmu nggak install lampu redup."

"Yaudah ayo beli."

"Yaudah beli. Bangun."

"Hngh..." Gojo malah mengusap-usapkan kepalanya ke dada Sukuna. Setelah cukup lama barulah ia bangkit dengan sangat malas. "Ayo," rengeknya menarik tangan Sukuna, menyuruh bangun. Sukuna hanya tertawa kecil, sengaja tak mengangkat tubuhnya. "Sukuna ayo ah."

"Males. Kamu aja deh."

"Geh, males sendirian. Ayo banguunn."

"Beli online aja, beli online."

"Biar dipasang sekalian sama tukangnya ih, Sukunaaa."

"Aku bisa kok masang lampu."

"Sama penyangganya juga? Ada alatnya?" Sukuna cuma nyengir. "Ayo ah," Gojo kembali menarik Sukuna tapi pria itu masih tak bergeming. "Cium nih," Gojo menundukkan tubuhnya lalu mendekatkan wajah mereka. Sukuna malah tertawa dan melingkarkan tangan di leher Gojo, menyambut ciumamnya. Mereka berciuman untuk beberapa lama, hingga Gojo melepas ciuman dan bangkit. "Ayo ah," ia lalu menarik paksa Sukuna bangun dan membawanya pergi untuk beli lampu tidur.

.

Gojo membeli 2 set sekalian untuk dipasang di kamar Sukuna dan di kamarmya sendiri. Ia berniat memasangnya di bagian atas ranjang. Dipasang hari itu juga karena Gojo menyambangi toko nya, jadi pihak toko langsung mengirim pegawai mereka ke rumah Gojo untuk memasang lampu-lampu itu. Setelah memastikan lampu-lampu tersebut bekerja dengan baik, para pegawai toko itu pergi.

"Akhirnya selesai juga," Gojo membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap Sukuna yang sibuk dengan ponselnya. Ia manyun, sebenarnya tak suka, tapi tak berani protes karena takutnya itu masalah pekerjaan. "Sukuna aku mandi duluan ya," ucap Gojo dan bangkit dari ranjang. Matahari sudah mulai terbenam di luar sana.

Sukuna mengalihkan pandangan dari ponsel. "Nggak mandi bareng?" seringainya nakal.

"Nggak, nanti pengen lagi."

"Ya kenapa. Kan udah tinggal bareng. Bukannya biar bebas mau melakukan itu."

"Iya sih, tapi nanti aku ada kerjaan. Besok berangkat pagi juga. Hari ini nggak dulu deh," ucap Gojo lalu menuju kamar mandi. Sukuna malah tersenyum setan mendengar itu.

.

Setelah mandi, mereka masak, lalu makan malam bersama.

"Aku keluar sebentar setelah ini ya," ucap Sukuna saat Gojo cuci piring.

"Kemana?"

"Uraume."

"..." Gojo tak menjawab.

"Masalah pekerjaan," tambah Sukuna, mencubit pinggang Gojo. "Aku siap-siap dulu. Sorry, nggak bantu cuci-cuci," ucapnya lalu beranjak ke kamar. Ia pamit pergi setelahnya. Gojo menghela nafas lelah. Ia ada pekerjaan, jadi ia juga mengurung diri di ruang kerja nya. Lebih baik kerja daripada kepikiran Sukuna pergi kemana dengan siapa. Sepertinya tinggal bersama ada buruknya juga. Ia jadi tahu kalau Sukuna pergi dengan orang lain. Kalau biasanya ia kan tak akan tahu, jadi tak terlalu kepikiran.

.

"Tadaima," pukul 10 malam Sukuna baru kembali. Tak ada jawaban, mungkin Gojo sudah tidur? Atau sedang kerja. Sukuna menaruh sepatunya di rak lalu naik menuju kamarnya, melewati ruang kerja Gojo yang masih menyala. "Oh, lagi kerja ternyata," ucapnya dan melanjutkan jalan menuju kamar. Ia bersih-bersih, lalu ganti ke pakaian santai. Setelahnya ia menuju ruang kerja Gojo.

"Satoru," panggilnya.

"Hng?" Gojo menengadah dari layar laptop di hadapannya. Ia memakai kacamata bulat bening, mungkin kacamata anti radiasi atau semacamnya. Sukuna sempat berdebar melihat itu. "Kau sudah pulang," Tanya Gojo, melepas kacamata.

Sukuna menghampiri dan duduk di meja, ia meraih kacamata itu dan memakaikannya kembali pada Gojo. "Kau manis pakai kacamata ini."

Iris Gojo sedikit membola dan ia langsung membuang pandangan dengan pipi sedikit bersemu. "Apa sih," ketusnya dan kembali menatap laptop sementara Sukuna tertawa. Ia menatap Gojo yang mulai mengerjakan sesuatu di laptopnya. Ia mengusap lengan Gojo dengan sensual sebagai ajakan.

Gojo menghela nafas lalu berhenti mengetik, menatap Sukuna. "Nggak bisa. Ini harus selesai sekarang. Buat besok pagi," ucap Gojo.

"Sebentar doang. Susah tidur nih kalau belum keluar," ucap Sukuna.

"Ya pake tangan dulu deh."

"Ada pacar tapi suruh pakai tangan?" Sukuna menyingkirkan tangan Gojo supaya bisa masuk dan duduk di pangkuan Gojo. "Sekali doang, ya," rayunya, mendekatkan wajah ke wajah Gojo, lalu perlahan memejamkan mata saat ia menyatukan bibir mereka. Sukuna mencium beberapa saat, tapi lalu melepasnya lagi saat merasakan respon Gojo sepertinya ogah-ogahan. "Beneran nggak mau?"

Gojo mengangguk. "Kerjaanku harus selesai malam ini."

Sukuna menghela nafas lelah. Mungkin Gojo harus lembur juga karena tadi seharian membantu Sukuna pindahan, juga membeli lampu, alhasil sekarang baru bisa kerja. Sukuna pun bangkit dan menepuk pelan pipi Gojo. "Oyasumi," ucapnya lalu pergi.

"Oyasumi," balas Gojo.

Sukuna kembali menuju kamarnya, mencoba tidur meski belum mengantuk. Pada akhirnya ia gegulingan tak jelas hampir selama dua jam. Bolak-balik memainkan HP, mencoba tidur, main HP, mencoba tidur, begitu terus. Sampai akhirnya ia capek sendiri dan mulai mengantuk. Saat ia memejamkan mata, ia mendengar pintu kamarnya terbuka pelan lalu tertutup lagi. Tak lama kemudian ia merasakan pergerakan pelan di ranjang, lalu sebuah tangan memeluk pinggangnya.

"Oyasumi," terdengar lirih suara Gojo yang lalu mengecup pipi Sukuna lembut, setelah itu tidur di belakang Sukuna sambil memeluknya. Sukuna tak membuka mata, hanya tersenyum tipis dan melanjutkan tidur.

.

.

Sukuna terbangung keesokan paginya karena alarm. Ia masih setengah kaget dan celingukan. Ia merasakan pergerakan Gojo di belakangnya, tangan Gojo meraba-raba mencari ponsel lalu mematikan alarm itu. Gojo menggeliat lalu bangun dengan malas. Sukuna yang juga jadi terbangun karena alarm dan pergerakan Gojo, ikutan menilik ponsel. Jam 5 pagi.

"Gila pagi banget," umpatnya dengan suara khas orang baru bangun tidur.

"Oh kau sudah bangun," balas Gojo setengah terpejam menatap Sukuna.

"Iya lah. Gara-gara alarm sialanmu!" kesal Sukuna. "Kau biasa bangun jam segini?"

Gojo menguap. "Iya, workout dulu sebelum siap-siap kerja," Gojo turun dari ranjang. "Mau ikut?"

"Ogah!" kesal Sukuna.

"Ya udah," Gojo pun pergi dari kamar itu.

Sukuna mendengus kesal karena bangun terlalu pagi. Ia berniat tidur kembali tapi sudah tidak bisa karena terlanjur melek. "Aaaaargh, sialan!" umpatnya kesal sambil meninju bantal. Pada akhirnya ia bangun juga dan menuju dapur untuk minum. Gojo baru selesai olahraga.

"Haha akhirnya bangun juga," tawa Gojo.

"Nggak bisa tidur lagi gara-gara kebangun!" kesal Sukuna.

"Bangun pagi itu sehat loh," Gojo mencubit hidung Sukuna. Sukuna melepasnya dengan kesal, Gojo hanya tertawa pelan. Ia lalu tampak berpikir saat melihat Sukuna. Dia peluk tubuh Sukuna dari belakang, merilekskan kepala di pundak. "Yang, bikinin sarapan dong. Sesekali lah. Aku mandi, terus habis mandi turun buat sarapan. Ya?" rayu Gojo. Sukuna melirik dengan wajah merengut. Tapi Gojo tak peduli, ia malah nyengir kuda. "Ya? Yang simple aja. Bisa kan?"

Sukuna tak menjawab. Hanya meraih teflon dan sedikit membantingnya ke atas kompor. "Yeeey," riang Gojo dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi.

"Sialan! Udah bangun kepagian. Disuruh bikin sarapan juga," gerutu Sukuna. Sepertinya ia harus mulai menyesuaikan jam baru setelah tinggal bersama Gojo. Rupanya tinggal satu atap ada tantangannya juga. Jadwal yang berbeda, kegiatan yang berbeda, semua butuh penyesuaian.

Tak berapa lama Gojo turun untuk sarapan, dan mereka pun makan pagi berdua.

.

.

Sukuna kembali menemui client hari itu. Ia berhasil deal kontrak dengam client tersebut dan akan mulai merancang rumahnya. Kali ini client nya orang berduit, jadi Sukuna sedikit bebas bisa menentukan design. Karena biasanya orang-orang seperti itu menginginkan design yang unik, beda dari typical rumah biasa. Kalau orang dengan budget umum, biasanya Sukuna bahkan hanya menggunakan model default yang dimodif sedikit, tak berkreasi sesuai keinginannya.

Begitu sampai rumah Sukuna langsung membuka sketchbook nya untuk mendesain kasar rancangan yang ia mau. Well, kadang ia langsung pakai laptop sih, tapi kadang pakai kertas dulu kalau design yang ingin dia wujudkan masih benar-benar absurd. Ia suka mencoret-coret kertas sambil memikirkan ia mau membuat rumah yang bagaimana.

Goresan demi goresan ia gambar, lembar demi lembar kertas berganti. Ia berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya sampai tak sadar hingga seseorang memeluknya dari belakang.

"Fokus amat sampai nggak tahu aku pulang," ucap Gojo. Sukuna menatap keluar jendela, ia baru sadar matahari sudah berwarna jingga. Gojo membenamkan bibirnya di surai Sukuna, mengecup puncak kepalanya singkat. "Udah makan?"

Sukuna mendengar perutnya berbunyi, dan ia baru merasa lapar. "Belum."

Gojo menghela nafas lelah lalu melepas pelukan. "Pantas saja Yuuji khawatir banget kalau kau tinggal sendirian. Mandi dulu sana, aku siapkan makan malam," ucap Gojo seraya meninggalkan kamar Sukuna. Sukuna meletakkan sketchbook nya di meja lalu mengejar langkah Gojo, memeluknya, lalu meminta ciuman. Gojo tersenyum di sela ciuman mereka. Ia memeluk erat Sukuna dan bahkan mengangkat tubuhnya dengan gemas.

"Aku bersyukur kita tinggal bareng," ucap Gojo di sela ciuman.

"Yeah, kurasa tak buruk," balas Sukuna lalu kembali mencium Gojo. Mereka ciuman cukup lama sebelum akhirnya melepas pelukan. Sukuna pergi ke kamar mandi, Gojo ke dapur untuk masak.

Saat Sukuna selesai mandi dan menuju dapur, Gojo belum selesai masak.

"Lanjutin yak, aku mandi dulu," cengir Gojo. "Tinggal tambah kecap. Ah, goreng tempura juga kalau mau," ia pun berlalu dari dapur, membiarkan Sukuna melanjutkan masakannya. Sukuna menatap masakan Gojo, lalu meraih kecap. Ia menimbang-nimbang kecap itu di tangannya lalu menyeringai nista. Ia beralih meraih sambal dengan logo ekstra pedas.

"Masakan special ala cheff Sukuna," seringainya. Tak berapa lama Gojo turun untuk makan malam. Menu sudah tersedia di meja, sudah Sukuna bagi menjadi dua untuk mereka. Mereka pun duduk dan mulai makan.

"Itadakimasu," ucap mereka bersamaan lalu mulai menyuapkan makanan ke mulut. Sukuna mencoba menahan senyum menunggu reaksi Gojo. Pria itu tampak mengunyah, lalu terdiam merasakan makanan di mulutnya.

"Huaah, kok pedes banget," ia langsung megap-megap mencari air, dan ia baru sadar kalau di meja Sukuna belum menyediakan gelas. Ia pun langsung berlari menuju kulkas sementara Sukuna tertawa lepas. Gojo merengut kesal, tapi ia belum bisa mengomel karena tengah minum. Seusai minum ia menumpu pada pintu kulkas, menatap kesal Sukuna yang masih tertawa.

"Bwahahaha mukamu jelek banget," tawa Sukuna. "Astaga, aku baru tahu mukamu bisa semerah itu kalau kepedesan. Sasuga Albino."

"Tch!" decih kesal Gojo dan menutup pintu kulkas dengan sedikit dibanting. Ia lalu melangkah pergi.

"Mau ke mana?" tanya Sukuna.

"Cari makan di luar," jawabnya ketus.

Sukuna meletakkan sumpit lalu melangkah menarik Gojo kembali ke meja makan masih setengah tertawa.

"Apaan sih!" Gojo dengan kesal menyentak pegangan tangan Sukuna.

Sukuna menukar makanan yang ada di depannya dengan makanan milik Gojo. "Tuh yang normal, pakai kecap manis nggak kutambah sambal," ucap Sukuna. Gojo masih manyun, menatap curiga. "Beneran, tadi aku hanya ingin mengerjai. Itu sudah kusisihkan yang buatmu sama yang kutaruh cabai," Jelas Sukuna.

Meski masih curiga, Gojo pun kembali duduk di kursinya. Ia mencicipi lagi masakan itu dengan hati-hati, dan kali ini rasanya normal, tak seperti tadi. Sukuna juga kembali makan meski masih terkikik. Ia memakan menu yang pedas tadi. Toh dia memang suka makanan pedas, jadi tak masalah baginya.

.

Malamnya mereka masing-masing mendekam di kamar. Sukuna dengan pekerjaannya sendiri, Gojo dengan pekerjaannya sendiri. Sekitar jam 11 malam, pintu kamar Sukuna terbuka. Gojo menatap kamar yang berantakan, penuh kertas berserakan di sana sini, Sukuna tampak masih sibuk dengan kertas dan laptopnya. Ia memengadah karena Gojo masuk.

"Masih kerja?" tanya Gojo. Sukuna mengangguk. Gojo pun menghela nafas dan masuk menghampiri Sukuna, memeluknya lalu mengecup kepalanya singkat. "Aku tidur duluan ya," ucapnya.

Sukuna mengangguk. "Oyasumi."

"Oyasumi," Gojo pergi dari kamar Sukuna. Kali itu ia memilih tidur di kamarnya sendiri karena takut mengganggu Sukuna. Gojo tidur dengan lampu menyala seperti biasa. Setelah tidur entah berapa lama, ia terbangun saat merasakan pergerakan di belakangnya. Sukuna naik ke ranjang lalu memeluknya dari belakang, tidur dengan kepala tertunduk di punggung Gojo. Gojo tersenyum kecil karenanya. Ia merasakan nafas Sukuna teratur, mungkin langsung terlelap karena lelah. Hati-hati Gojo bangun untuk mematikan lampu dan menggunakan lampu redup saja. Ia meraih ponsel, pukul setengah 3 pagi. Gojo menyetel ringtone alarm nya ke volume terkecil lalu meletakkan di dekat bantal, ia tak mau Sukuna bangun kepagian nanti karena Sukuna baru tidur jam segitu. Gojo kembali naik ke ranjang dan memeluk Sukuna, lalu kembali memejamkan mata.

.

Paginya, alarm Gojo berbunyi pelan. Mungkin karena sudah terbiasa bangun jam segitu, Gojo bisa bangun meski volume nya lirih. Ia segera mematikan alarm. Dilihatnya Sukuna yang masih terlelap. Pelan-pelan ia bangun, lalu menjalankan aktivitas pagi nya seperti biasa.

Sampai ia mau berangkat ke kampus, Sukuna belum membuka mata. Gojo sengaja tak membuka tirai jendela supaya kondisi kamar tetap gelap, ia bahkan mematikan lampu redup yang ada.

"Ittekimas," lirihnya lalu mengecup pelipis Sukuna. Setelah itu ia pun berangkat ke kampus.

.

~OoooOoooO~

.

Sukuna sedang super bad mood hari itu. Project yang ia pegang mendapat saingan yang siap menjatuhkan timnya. Maklum lah client kali ini orang kaya, jadi mereka meminta beberapa arsitek untuk melakukan perancangan, dan akan memilih salah satu yang dianggapnya terbaik. Tim saingan Sukuna menjelek-jelekkan projek nya dengan membongkar bahwa ia menggunakan material cacat. Padahal Sukuna menggunakan material tersebut untuk bagian yang tidak terlalu penting, dan tidak secacat yang mereka pikirkan.

Jadi, ia memilih salah satu material kayu yang yang dimakan serangga. Ia berpikir itu bisa dilakukan untuk menekan biaya, lagipula meski dibilang kayu yang dimakan serangga, bukan berarti semuanya termakan serangga. Hanya beberapa bagian kecil, dan mungkin warna nya yang sedikit pudar. Kalau soal ketahanan material sama sekali tak berpengaruh. Tapi yah, namanya saingan, pasti ingin menjatuhkan. Apalagi kebanyakan client itu orang awam yang akan terpengaruh dengan sedikit provokasi mengenai kejelekan suatu objek. Jadilah Sukuna berada dalam masalah sekarang.

Brakkk...!

Sukuna menggebrak meja dengan tinju nya, tak peduli tangannya memerah sekarang. Ia lalu meraih secangkir kopi yang sudah dingin dan menenggaknya habis, matanya menatap tajam.

"Kalian mau berperang. Ayo saja," ucapnya penuh ancaman.

.

Gara-gara hal itu, Sukuna jadi super serius mengurusi pekerjaannya. Ia tak pernah lagi makan bersama Gojo karena sibuk di dalam kamar. Bahkan kalau Gojo tak mengantarkan makanan ke kamarnya, ia bisa saja tak makan sama sekali. Beberapa kali Gojo mengomel, terutama saat ia harus pulang telat karena urusan kampus atau dengan dosen lain, ia mengingatkan Sukuna untuk tak lupa makan, tapi tak Sukuna gubris. Saat Gojo menelfon juga kebanyakan tak diangkat, chat tak dibalas. Saat ia pulang larut malam dan menghampiri kamar Sukuna, pria itu sudah tumbang karena kelelahan dan ngantuk, tapi perutnya berbunyi karena kelaparan.

Gojo pun menyeret paksa Sukuna bangun dan menghidangkan makanan untuknya. Bahkan menjejalkan makanan ke mulut Sukuna karena ia setengah terpejam.

"Makan! Nanti kau mati!" omel Gojo, sementara Sukuna mengunyah dengan pelan makanan di mulutnya.

Setelah beberapa hari, Sukuna mengatakan ia harus kembali ke rumah karena ada hal yang tak bisa dikerjakan dari tempat Gojo. Sukuna pun pulang ke rumahnya, melanjutkan pekerjaan di sana bersama Uraume dan Mahito. Mereka menyempurnakan presentasi mereka dan menambahkan point keunggulan untuk material tersebut.

Sebenarnya Sukuna bisa saja ganti material, tapi kalau ia ganti, rasanya ia kalah dan mengakui kalau design nya yang sebelum itu memang cacat. Itu bisa sangat berpengaruh dengan reputasi tim nya, jadi Sukuna tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ia memilih menambahkan point lebih untuk material tersebut. Ia akan menjadikan material tersebut sebagai interior bernilai seni yang menghias isi rumah. Ia juga membuktikan bahwa material tersebut durability nya sama dengan material lain, bahkan saat ia menunjukkan secara langsung, clients tak menyadari kalau kayu itu termakan serangga, karena memang hanya sebagian kecil yang termakan, sama sekali tak terlihat kalau tak diperhatikan baik-baik. Ia juga menambahkan bahwa material tersebut sangat populer di luar negeri, sedangkan di Jepang peminatnya juga sudah mulai banyak. Ia sampai membuat koneksi dengan perusahaan ternama yang mulai mempopulerkan material tersebut dan mengembangkannya di Jepang.

Pokoknya dengan semua materi itu, Sukuna sudah siap perang dengan saingannya.

.

.

Begitu hari yang ditentukan tiba, Sukuna mempresentasikan ulang project nya dengan materi yang sudah ia garap matang bersama tim nya. Karena itu persaingan, tentunya ia juga menyerang tim lawan dengan menunjukkan kekurangan dalam projek lawan. Bagaimana mereka terlalu menghabiskan budget tapi untuk keamanan dan durability di bagian vital bangunan malah biasa saja, mereka lebih mementingkan kualitas bagus di keseluruhan tempat, tak memusatkan di bagian penting.

Di akhir persaingan itu, tim yang Sukuna pimpin menang mutlak. Tim lawan sepertinya malah tak begitu menguasai mengenai material yang mereka pilih, hanya menuruti saja saran dari pihak supplier. Mereka malah jadi terkesan plin plan dan tak menguasai bidang yang seharusnya mereka kendalikan. Dengan kepala terangkat tinggi, Sukuna dan tim nya pun keluar dari ruangan itu mengantongi kontrak lanjutan untuk projek tersebut.

Bagi Sukuna sebenarnya ia bukan mementingkan uang atau projek itu. Yang jelas itu menyangkut nama baik tim nya, mungkin bisa berpengaruh juga dengan projek yang akan mereka terima ke depannya. Atau mungkin...alasan utama Sukuna menerima perang itu hanya karena ia tak ingin kalah. Sepertinya pantang bagi Sukuna untuk diremehkan lalu pergi begitu saja.

.

Seusai perang itu, Sukuna dan tim nya pulang dengan tubuh lelah. Meski keberhasilan itu perlu dibanggakan, mereka tak punya energy untuk sekedar berkata horray. Bahkan Mahito yang biasanya paling energetic, dia tidur di pangkuan Uraume di kursi belakang transportasi online yang mereka pesan, sementara Sukuna diam saja di kursi depan. Mereka tak menyetir sendiri karena terlalu lelah.

Transportasi online itu berhenti di depan rumah Sukuna. Uraume turun menyeret Mahito. Sukuna diam sejenak menatap rumah. Ia sangat lelah, ia ingin memeluk Gojo dan bersandar padanya. Sepertinya kini ia baru menyadari ucapan Gojo waktu itu saat merayu Sukuna untuk pindah. Katanya kalau ia lelah sepulang kerja, ia bisa memeluk Sukuna. Kini Sukuna merasakan hal yang sama.

"Aku ke rumah Satoru saja," ucap Sukuna.

Uraume hanya tersenyum dan mengangguk. "Itterashai," ucapnya.

Sukuna pun menyuruh driver transportasi online itu menyetir ke rumah Gojo. Matahari sudah mendekati garis cakrawala kala itu. Sukuna meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Gojo.

'Aku pulang ke tempatmu hari ini,' ketik Sukuna.

Tak berapa lama ada chat balasan masuk. "Oh, baguslah. Aku sudah kangen (smile),' balas Gojo. Sukuna tersenyum menatap balasan itu. Gojo masih typing. Beberapa detik kemudian ia kembali mengirim chat. 'Nyalakan lampu-lampu sekalian ya. Aku masih di luar, mungkin pulang jam 8 atau 9.'

Sukuna manyun. Padahal ia ingin memeluk Gojo saat ini juga. 'Mmg lg dmn?' ketik Sukuna singkat karena kesal.

'Ada di univ lain. Urusan kerja kok, bukan yang lain-lain. Jangan ngambek lah sayang.'

Sukuna hanya merengut meski dalam hati sedikit senang Gojo tahu ia ngambek hanya dari style penulisannya. Sukuna tak membalas lagi karena masih kesal. Ia menyakukan ponselnya dan memilih menatap ke luar jendela menikmati matahari sore.

Setelah mobil berhenti di depan rumah Gojo, ia membayar driver itu dan turun dari mobil dengan langkah gontai. Ia sangat lelah, rasanya ingin langsung memeluk—...ia kembali merengut mengingat Gojo tak ada. Ia pun masuk ke dalam rumah.

"Tadaima," ucapnya lirih pada lorong rumah yang mulai gelap. Sukuna melepas sepatu dan berjalan naik ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar, lalu membanting tubuh ke ranjang. Tak mandi tak cuci muka, ia hanya ingin tidur saat ini juga. Ah, mungkin nanti saat ia bangun sudah ada Gojo yang memeluknya. Pikir Sukuna lalu perlahan memejamkan mata.

.

Entah sudah berapa lama ia tertidur, ia terbangun karena getaran dari ponselnya yang masih ada di saku celana. Masih dalam keadaan silent karena tadi ia membawanya untuk bertemu client. Sukuna membuka mata dan menggeliat, getaran di ponselnya sudah berhenti. Ia merenggangkan otot dan kembali merengut kesal karena Gojo tak ada di sampingnya. Padahal tadi ia sudah berhayal nanti Gojo sudah memeluknya saat bangun.

Bzzz...

Ponselnya kembali bergetar halus. Ia meraih benda itu, ia mengerutkan dahi saat melihat nama Gojo yang menelfonnya. Apa dia belum pulang? Jangan-jangan mau izin dia bakal menginap di rumah rekannya.

"Brengsek," umpat Sukuna sebelum menekan tombol answer. "Hoi," ucapnya begitu mengangkat telefon.

"Ditelfon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat!" malah Gojo yang mengomel duluan.

"Apaan sih, tiba-tiba ngomel," kesal Sukuna, padahal dia yang harusnya marah.

"Kau di mana? Jadi pulang ke sini nggak?"

"Jadi lah. Lah ini aku udah di kamar. Barusan bangun. Capek banget tadi, pulang langsung tidur."

"Tck! Terus kenapaaa lampu belum dinyalakaaannn?! Tadi kan aku sudah suruh kau menyalakan lampu saat kau pulang!"

"..." twik twik, Sukuna mengerjap bengong. Ia menatap sekitar yang memang gelap. Mungkin karena ia masih terbiasa dengan kondisi di rumahnya, makanya gelap bukanlah hal yang aneh bagi dirinya. Sukuna langsung berlari turun dari ranjang menuju balkon depan dan menatap ke bawah. Gojo ada di sana dengan memegang handphone di telinga. Ia menoleh ke atas saat mendengar langkah Sukuna tadi, mukanya tampak kesal.

"Pfftr...HAHAHAHAHAHA," sontak Sukuna tertawa keras karena hal itu. Ia sampai berlutut memegangi perutnya. "Oke oke, tunggu sebentar. Bwahahaha," tawa Sukuna. Ia lalu bangkit dan pergi meninggalkan balkon. Ia menyalakan flash HP untuk penerangan karena memang gelap total. Ia menatap jam yang sudah menunjukkan angka 10, dan ia baru melihat kalau ada puluhan misscall dan chat dari Gojo. Pantas saja, mungkin Gojo sudah menunggu satu jam lebih di luar sana.

"Haha, hihihi," Sukuna masih terkekeh saat membukakan pintu depan untuk Gojo, sementara Gojo masih tetap merengut seperti tadi. "Masuk masuk," tawa Sukuna melihat ekspresi Gojo.

Gojo menatap rumah yang masih gelap. "Ya kenapa kau nggak nyalain lampu sambil jalan turun tadi?! Malah menggunakan flash HP buat penerangan!"

Sukuna mengerutkan alis menatap flash HP nya lalu kembali tertawa keras menertawakan kekonyolannya sendiri. Mungkin ia baru bangun tidur dan nyawanya belum terkumpul, sampai hal logis begitu saja tak ia lakukan.

"HAHAHAHA, as-astaga. Hahahahha, ampun perutku sampai sakit...hahahaha," Sukuna berjongkok bersandar ke dinding sambil memegangi perutnya. Matanya berair karena kebanyakan tertawa. Melihat itu Gojo pun jadi geli juga. Ia menghela nafas lelah lalu menarik Sukuna berdiri, memeluknya dengan gemas karena masih sedikit kesal.

Sukuna masih terkikik geli, tapi ia membalas pelukan Gojo dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. "Gomen gomen," ucap Sukuna setengah tertawa. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya untuk menenangkan diri. Ia lalu melepas pelukan dan berjalan masuk sambil menyalakan lampu-lampu, barulah Gojo berani masuk ke rumah.

Sukuna menumpukan tangan ke sofa ruang tengah dan tertawa kecil, masih menertawakan kekonyolan yang ada. Gojo menyentil dahi Sukuna pelan, Sukuna menarik tubuh Gojo ke pelukannya, mencium bibir Gojo dan menyembunyikan wajah di dada Gojo. "Gomen gomen, kau menunggu lama di luar ya."

Gojo hanya menghela nafas lelah, membelai lembut surai Sukuna. "Padahal tadi aku sudah berusaha menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat supaya bisa segera pulang menemuimu."

"Hihi, warui," Sukuna terkikik. Melepas wajahnya dari dada Gojo meski tangannya masih melingkar di pinggang. "Lah terus kalau tadi aku nggak pulang ke sini, kau pulang bagaimana kalau nggak berani masuk rumah buat nyalain lampu?"

"Tadinya aku mau mengajak Utahime-sensei pulang buat dimintain tolong nyalain lampu. Tapi kau kirim chat katanya pulang ke sini, jadi aku nggak jadi minta tolong sama dia. Malah kamu nya sama aja," Gojo mencubit hidung Sukuna sampai memerah.

"Hngh, memang nya sebelum ini nggak pernah pulang larut?"

"Ya pernah. Tapi biasanya kan Megumi yang udah di rumah, udah nyalain semua lampu. Sejak Megumi pergi baru kali ini aku pulang malam yang belum ada orang di rumah, sebelum ini juga kau yang di rumah. Kemarin saat kau ada di rumahmu terus, kebetulan aku lagi nggak pernah pulang malam."

Sukuna hanya tersenyum mendengar penjelasan Gojo lalu kembali meminta maaf. "Gomen gomen, tadi aku serius capek banget dan langsung tepar. Lupa nggak nyalain lampu mungkin karena masih kebiasaan juga Yuuji yang biasanya nyalain," Sukuna menggerakkan telunjuknya sensual dari dada turun hingga selangkangan Gojo. "Akan kutebus dengan hal lain," ia menatap nakal.

Mata Gojo menyala menatap ekspresi itu, bibirnya menyeringai. "Katanya capek," ucapnya.

"Hngh, sekarang udah nggak capek setelah melihat wajahmu."

"Halah," Gojo membopong Sukuna bridal style menuju tangga naik, tapi lalu menurunkannya kembali. "Aaahh nggak jadi nggak jadi, lampu lantai dua belum dinyalain."

Sukuna kembali tertawa, ia berjalan mendahului Gojo untuk menyalakan lampu, tapi Gojo lalu menarik tangannya.

"Tunggu tunggu, lampu bawah belum dinyalain. Lampu dapur, kamar mandi, ruang belakang, beranda, halaman belakang juga."

"Astagaa, memangnya mau apa jam segini di sana?"

"Bodo amat, pokoknya nyalain semua."

"Hemat listrik woy," ucap Sukuna meski ia sambil jalan ke arah yang Gojo maksud.

"Bodooo, aku yang bayar listriknya."

Sukuna hanya terkekeh sambil menyalakan sisa lampu di lantai bawah.

Rasanya mereka sudah mulai terbiasa tinggal bersama. Mungkin masih butuh beberapa penyesuaian. Kesibukan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, kelebihan serta kekurangan masing-masing dari mereka. Mungkin bisa mereka lalui sedikit demi sedikit seraya melangkah maju dalam menjalani hidup bersama.

Tamat.

.

.

.

Canda geys. Ini masih ~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra