Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak juga buat Frigg Nevia07, Tata-Senchou, kokorocchi dan emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
Kelopak mata Gojo bergerak pelan tapi ia belum membuka mata. Ia tengah memimpikan sesuatu. Di mimpi nya ia tengah bercinta dengan Sukuna. Pacarnya itu menjilat penisnya dengan bersemangat, ia juga menggunakan tangannya untuk memanja milik Gojo.
"Hnh...ah," Gojo mendesah pelan, meremas kepala Sukuna untuk menahan kenikmatan. Tapi ada yang aneh. Rasanya tangannya berul-betul menyentuh rambut Sukuna secara nyata. Saat itulah perlahan Gojo betulan membuka mata. Hal yang pertama ia lihat adalah langit-langit kamarnya. Astaga, ternyata cuma mimpi, pikir Gojo. Bagaimana ia bisa mimpi basah dengan Sukuna padahal sekarang mereka tidur bersa—...
Gojo menoleh hanya untuk menyadari Sukuna tak ada di sampingnya, ia lalu merasakan sesuatu bergerak di bawah tubuhnya. Gojo segera membuka selimut, dan ternyata Sukuna sudah ada di selangkangannya, tengah memberikan blowjob.
"Oh, khau khudah vvangun," ucap Sukuna dengan penis di mulutnya.
"Kau ngapain pagi-pagi begini udah mulai," ucap Gojo, ia meraih ponselnya. Alarm yang biasa ia pasang bahkan belum berbunyi.
"Mmnh," Sukuna melepas kulumannya, ganti menggunakan tangan untuk memanja penis Gojo. "Tadi pas meluk kamu nggak sengaja ngenain selangkanganmu yang ternyata udah bangun. Aku jadi pengen," ucap Sukuna. "Lagipula..." Sukuna memosisikan lubangnya ke penis Gojo. "...nanti siang aku sudah mau pergi. Jadi ini terakhir kali kita melakukan sebelum aku pergi mengawasi pembangunan projek ku. Ngh..." ia mulai menurunkan tubuhnya sambil bergerak pelan.
"Tempatnya jauh?" tanya Gojo. Ia menyentuh kepala penis Sukuna, memainkannya pelan.
"Lumayan. Yeah, tapi kuusahakan pulang kalau ada waktu. Hngh...ahh," Sukuna berpegangan ke perut Gojo. Gojo mengocok penis Sukuna lebih cepat, membuat gerakan Sukuna terhenti. "A-aahh...hn...ough..." lubangnya mengapit kuat menahan nikmat. "Satoru...Satoru...aahhh," ia mendongak saat akhirnya keluar. Sperma membanjiri tangan Gojo. Nafas Sukuna terengah, menatap sayu wajah Gojo. Lubangnya berkedut merasakan penis Gojo yang masih ereksi maksimal karena belum ejakulasi.
"Hnh...pegal," ucap Sukuna seraya menyentuh pintu lubangnya yang terbuka lebar karena diisi penis Gojo.
Gojo tersenyum. "Bikin klimaks dong biar mengecil."
"Hngh..." perlahan Sukuna mulai bergerak kembali. Tangan Gojo beralih ke dada Sukuna, memilinnya kuat. "Nghh...ahh," tubuh Sukuna berjengit, lubangnya kian mengerat, membuat Gojo tak sabaran. Ia bangkit dan mendorong Sukuna hingga terbaring ke ranjang, lalu ganti ia yang bergerak liar memasuki Sukuna.
"Hng...ahhh, nn, ahhh," Sukuna mendesah tiap kali sweetspotnya tersentuh. Ia mencengkeram sprei erat, satu tangannya memegangi perut di mana ia bisa merasakan pergerakan penis Gojo dari sana. "Sshh...ahh, faster. I want to cum," pinta Sukuna.
"As you wish," Gojo mengangkat kaki Sukuna dan menekannya kuat supaya ia bisa bergerak lebih bebas. Ia mempercepat gerakannya, membuat suara kulit mereka beradu mengisi keheningan kamar itu. Bokong dan lubang Sukuna sampai memerah karenanya.
"Hngh...ahh, aaaahhh," Sukuna sedikit mengangkat tubuh bawahnya saat tak tahan lagi. Ia pun klimaks.
"Ngh, ugh..." Gojo masih bergerak pelan, tapi beberapa saat kemudian ia klimaks di dalam lubang Sukuna. Sukuna menyentuh perutnya, rasanya hangat di dalam sana. Ia bangun untuk meminta ciuman pada Gojo, mengulum basah lidahnya, menimbulkan decak seksi yang menggema di telinga.
Sukuna menatap jam dinding. "Masih ada waktu kan. Ayo lagi. Aku masih ingin."
"Hmn," Gojo kembali mengecup bibir Sukuna, meraba dadanya. "Ya," ucapnya singkat lalu kembali mencondongkan tubuh ke depan untuk mendominasi Sukuna.
.
~OoooOoooO~
.
Sukuna pergi dari rumah Gojo siang itu, menuju site pembangunan rumah client nya. Seperti biasa, ia menyewa apartment di dekat site tersebut bersama tim nya. Mungkin ia akan jarang pulang karena jaraknya yang lumayan jauh. Tapi yah, lihat kondisi nanti.
Sementara Gojo kini tinggal di rumah sendirian. Rasanya jadi sunyi sekali, tak ada suara apapun.
"Huaaa, Megumiii, Sukunaaa," rengeknya sendirian menatap rumah yang begitu kosong. Karena kini ia tinggal sendiri, sebisa mungkin ia tak pernah pulang malam. Minimal saat matahari mulai terbenam dia sudah pulang ke rumah demi menyalakan lampu sebelum gelap.
Hingga hari itu, meski sudah berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan dengam cepat, tapi tepat sebelum ia beberes, seorang dosen wanita menemuinya dan menambah pekerjaan untuknya.
"Huaaa Utahime-senseei, aku mau pulaang," rengek Gojo.
"Jangan merengek, kau pikir yang disuruh lembur kau saja. Ini mau ada acara jurusan kan. Semuanya juga sibuk," omel wanita cantik dengan bekas luka di wajahnya itu.
"Nggak bisa kukerjakan di rumah nih?"
"Kerjakan di rumah bagaimana? Itu loh acaranya di gedung B4! Kau salah satu penanggungjawab nya kan. Jangan seenaknya kabur."
"Ugh..." Gojo pundung. Akhirnya ia pun menurut. Alhasil Gojo masih berada di kampus sampai sekitar jam 8 malam. Sepertinya semua sudah terkoordinir, jadi ia bersiap pulang, membiarkan anak-anak dari kepanitiaan melanjutkan pekerjaan mereka. Gojo berjalan gontai menuju parkiran. Ia bingung harus bagaimana. Apa dia cari hotel saja ya. Tapi besok dia harus berangkat pagi. Bakal merepotkan kalau harus check out dulu terus pulang. "Uhuhu..." ia merengek tak jelas sambil mencari kunci mobil di dalam saku. Hingga saat ia mendongak, ia melihat seseorang berada di dekat mobilnya.
"Utahime-sensei, kau belum pulang," sapa Gojo.
"Aku menunggumu. Kau enggan pulang malam karena nggak berani menyalakan lampu kan. Waktu itu kau berniat menyuruhku melakukannya tapi tak jadi karena teman serumahmu pulang," jawab Utahime.
Mata Gojo bling-bling. Ia langsung menubruk Utahime dan memeluknya erat. "Huaaa Utahime-sensei, kau ingat soal itu."
"Aaahh, apa-apaan sih. Lepas. Sekuhara! Mau kulaporkan polisi?!"
"Hehehehe," Gojo nyengir gaje lalu membukakan pintu mobil untuk Utahime. Silahkan masuk yang mulia."
Utahime hanya menghela nafas lelah lalu masuk ke mobil. Gojo beralih masuk ke kursi kemudi lalu mulai berkendara meninggalkan kampus. Ia dan Utahime memang dekat. Meski sering berantem tapi sebenarnya hubungan mereka lumayan baik. Apalagi karena mereka seumuran, mungkin karena itu juga mereka tak canggung satu sama lain.
Gojo menghentikan mobil di halaman rumahnya, ia lalu membuka pintu rumah, sedikit bergidik melihat kegelapan yang ada.
"Silahkan," Gojo mempersilahkan.
Utahime melangkah mendahului, ia menyalakan flash untuk penerangan. "Lampu ini saklarnya di mana?"
"Itu di dekat rak sepatu," jawab Gojo. Ia masih tak beranjak dari ambang pintu, tak berani masuk.
Utahime menekan saklar sehingga lampu menyala, barulah Gojo berani masuk dan menutup pintu. Sambil melepas sepatu ia jadi teringat kejadian konyol waktu itu dengan Sukuna, saat dia lupa menyalakan lampu. Mau tak mau Gojo terkikik mengingat itu.
"Apa yang kau tertawakan," ucap Utahime melihat kelakuan Gojo.
"Ah bukan apa-apa. Sudah sudah, ayo masuk. Nyalakan lampu yang lain," Gojo mendorong pelan punggung Utahime, menunjukkan di mana saja saklarnya. Utahime pun menyalakan semua lampu di lantai satu dan di lantai dua, juga di beranda dan balkon.
"Yang mana lagi?" tanya Utahime.
"Itu kamar yang itu," tunjuk Gojo. Utahime masuk ke kamar tersebut untuk menyalakan lampu, tapi lalu mengernyit menatap kamar tersebut.
"Memangnya kamar ini ditinggali?" tanya Utahime.
"Enggak, tapi aku mau semua lampu menyala. Ah, kamar yang itu juga, sama yang itu. Yang itu," tunjuk Gojo pada kamar-kamar lainnya.
"Huuuh, kalau nggak dipakai kenapa dinyalakan. Boros listrik!"
"Biarin, aku yang bayar listriknya kok," omel Gojo. "Pokoknya aku nggak suka kalau lihat ada kamar yang dalamnya gelap."
Utahime pun berjalan menuju kamar-kamar lainnya. "Kalau kau segitu takutnya ya sudah nyalakan saja lampu 24 jam, atau setidaknya kalau kau tahu mau pulang malam. Jadinya saat kau pulang semua lampu sudah terang."
"..." Gojo terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak. Kenapa juga dia baru kepikiran hal semacam itu. Rasanya kekonyolanmya setara dengan Sukuna yang waktu itu malah turun menggunakan flash HP untuk penerangan, bukannya menyalakan lampu.
Utahime tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Gojo. "Dasar," ucapnya. Ia pun menyelesaikan tugasnya untuk menyalakan semua lampu tanpa terkecuali. "Ooke, sudah selesai," ia berkacak pinggang menatap rumah yang sudah terang benderang. "Ya sudah, aku pulang dulu."
"Mau langsung pulang? Nggak istirahat dulu," cegah Gojo. "Kau sudah makan? Kumasakkan deh, sebagai ucapan terima kasih. Nanti kuantar kau pulang juga."
Utahime menaikkan sebelah alis dan tersenyum tak yakin. "Memangnya kau bisa masak, Satoru-sensei?" ucapnya dengan tangan terlipat di depan dada.
"Hmh, tentu saja. Masakanku tak kalah dari masakan chef di restaurant bintang lima," Gojo pasang pose sok keren.
Utahime tertawa. "Baiklah, aku jadi ingin lihat skill mu."
Mereka pun menuju dapur. Gojo mengambil bahan makanan dari dalam kulkas, menpersiapkan masakannya. Tapi karena Utahime seorang wanita, akhirnya ia juga ikutan turun tangan untuk membantu Gojo memasak. Mereka pun masak bersama sambil bercanda sana-sini. Setelahnya mereka pun makan bersama.
"Bagaimana. Enak kan masakanku," ucap Gojo.
"Hey, ini kan aku yang membumbui. Kau hanya tinggal masak saja," balas Utahime.
"Aah, tapi tetap saja kan aku yang masak."
Mereka masih sempat-sempatnya berdebat selama makan. Setelah itu, Gojo pun mengantarkan Utahime pulang.
"Hee, kau tinggal di apartment, Utahime-sensei," ucap Gojo saat menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung apartment.
"Iya lah. Aku hidup sendiri. Lebih mudah sewa apartment," balas Utahime sambil melepas sabuk pengaman. Ia berniat turun tapi Gojo menarik tangannya.
"Hei, kalau kau senggang mau main ke rumahku sesekali?" tanya Gojo.
Deg...!
Jantung Utahime sempat berdegup kencang. Wajahnya sedikit memanas.
"Habisnya rumah sepi banget," rengek Gojo. "Biasanya ada Megumi atau Sukuna. Sekarang aku sendirian di rumah. Sunyi banget. Kayak di goa rasanya."
Utahime menelan ludah berat lalu berdehem. "Y-ya. Mungkin sesekali aku bisa menemanimu," ucapnya lalu melepaskan pegangan tangan Gojo.
"Yattaa," cengir Gojo. Utahime menatap kikuk. Ia lalu membuka pintu mobil dan keluar. "Ja ne~" ucap Gojo seraya menyetir menjauh, sementara Utahime hanya melambai pelan. Sampai mobil Gojo tak terlihat lagi, Utahime masih berdiri di sana. Ia lalu menghela nafas panjang sebelum melangkah menuju apartment.
.
~OoooOoooO~
.
Semenjak hari itu Gojo jadi sering bersama Utahime. Sesekali Utahime juga berkunjung ke rumahnya sekedar menghabiskan waktu untuk menemani Gojo. Terkadang mereka mengerjakan pekerjaan kampus di sana, terkadang hanya menghabiskan waktu saja. Utahime juga banyak mengajari Gojo resep masakan baru, maklum lah dia perempuan sehingga lebih paham masalah dapur. Gojo tentu saja dengan senang hati menerima pembelajaran itu, dia kadang juga bosan dengan masakannya sendiri yang itu-itu saja.
Hari itu Utahime kembali berkunjung. Ia membawakan beberapa buku resep untuk Gojo. Karena itu hari Sabtu, Gojo juga tengah bersantai di rumah. Dengan bangga ia memamerkan pudding buatannya, resep yang diajarkan Utahime beberapa waktu yang lalu. Mereka pun menikmati pudding itu di ruang tengah sambil menonton TV.
"Apa ini nggak terlalu berlebihan? Kau sudah menggunakan susu cokelat tapi juga menyiram cokelat cair saat penyajian. Ada gummy bear juga, potongan biskuit juga. Ini pudding apa sih," komentar Utahime.
"Biarin, suka-suka aku dong. Aku suka makanan manis," ucap Gojo sambil menikmati pudding nya.
"Awas diabetes."
"Nggak."
Utahime hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Mereka lanjut makan pudding sambil menonton acara TV, sesekali mengomentari apa yang ada di sana. Udara mulai hangat dan suasana yang begitu lengang membuat rasa kantuk mulai menghampiri.
"Aah, aku ngantuk," Utahime meraih bantal duduk, meletakkannya di samping tempat Gojo duduk dan merebahkan kepalanya di sana. Kakinya harus menekuk supaya muat di sofa panjang itu. Ngomong-ngomong, mereka tadi duduk di sofa panjang dan duduk di masing-masing sudut sofa, sehingga ada space lebar di antara mereka yang kini bisa Utahime gunakan untuk rebahan.
"Hmnh, mau tidur di kamar saja?" tanya Gojo masih menjilati sendok yang berlumuran cokelat.
"Nggak perlu, paling hanya terlelap sebentar."
"Perlu kumatikan TV?"
"Nggak usah, nyaman begini, supaya tak terlalu hening. Sudah ah, diam," Utahime mulai memejamkan mata.
Gojo pun diam saja, sesekali mengganti channel TV mencari acara yang bagus. Ia menatap Utahime. Kakinya tampak tak nyaman karena harus ditekuk. Dengan perlahan Gojo pun mengangkat kepala Utahime, memindahkan bantal duduk ke pangkuannya, lalu merebahkan kembali kepala Utahime di bantal itu. Ia kembali menonton TV dan mulai bosan, ia berniat main HP tapi baru sadar ponselnya ada di meja. Ia tak bisa mengambilnya karena Utahime kini berada di pangkuannya.
"Ah, sudahlah," ucapnya pasrah. Ia pun lanjut nonton TV dengan bosan, dan tak terasa ia pun terlelap bersandar di punggung sofa.
.
.
Gojo terbangun saat lehernya mulai pegal. Ia menggeliat pelan dan menatap ruangan mulai temaram, matahari sore di luar sana mulai terbenam. Gojo langsung terbelalak panik karena ia belum mulai menyalakan lampu. Ia berniat bangun saat menyadari Utahime masih berada di pangkuannya. Gojo pun menghela nafas lega. Ia sebenarnya tak enak mau membangunkan, tapi ia tak mau sampai gelap tetap begitu.
"Sensei, Utahime-Sensei," Gojo menepuk pelan pipi Utahime.
"Hn..." Utahime perlahan bangun. Ia bergerak pelan dan membuka mata. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Gojo yang tepat berada di atasnya. Ia langsung mengamati sekitar, ia baru sadar ada di pangkuan Gojo. Jantungnya langsung berdebar tidak karuan.
"Sensei bangun, bantu nyalain lampu. Mulai gelap," ucap Gojo.
"O-oh, ya," dengan sedikit gelagapan Utahime bangun. Ia pun mulai menyalakan lampu-lampu. "Astaga aku tidur lama sekali berarti ya. Kenapa kau nggak membangunkanku."
"Hoahm, aku juga baru bangun," ucap Gojo sambil menguap dan merenggangkan otot.
Utahime sedikit salah tingkah mengingat ia tadi tidur di pangkuan Gojo. "Kau...yang memindahkanku?" tanyanya lirih. Tak peduli kalau Gojo tak dengar.
"Hng, iya," jawab Gojo yang rupanya bisa mendengar ucapan Utahime tadi. "Habisnya kakimu jadi menekuk, sepertinya nggak nyaman."
"O-oh..." balas Utahime pelan. Ia masih sedikit salah tingkah. "Ya sudah, aku pulang ya," ia kembali menghampiri Gojo untuk mengambil tas nya yang ada di meja.
"Nggak makan malam sekalian? Sudah jam segini loh."
"Nggak perlu. Aku ingin mandi, ingin cuci muka, baru makan malam. Jadi aku pulang saja."
"Fuaah, begitu ya. Ya sudah," Gojo pun bangkit meraih kunci mobil.
"Nggak usah diantar. Aku mau mampir ke supermarket juga," ucap Utahime sambil berjalan keluar rumah.
"Ya nggak papa kuantar sekalian," Gojo mengekor tepat di belakangnya.
"Nggak usah, tahu sendiri cewek kalau belanja lama. Lain kali saja antar aku. Yang sekarang nggak perlu."
"Baiklah," Gojo pun menurut dan hanya mengantar sampai pintu depan. "Sampai jumpa la—..." ucapan Gojo terhenti saat ia menatap pintu gerbang dan melihat mobil Sukuna memasuki halaman rumahnya. Matanya terbuka lebar dengan senyum mengembang. "Sukuna!" ucapnya riang.
"Ooh, itu teman serumahmu yang sering kau sebut itu ya," ucap Utahime.
"Iya," cengir Gojo.
"Baguslah, kau jadi tak kesepian lagi. Sampai jumpa, Satoru-Sensei," Utahime pun pergi. Ia sempat membungkuk sebagai salam saat Sukuna turun dari mobil, Sukuna juga melakukan hal yang sama. Ia menatap Utahime sampai wanita cantik itu hilang tertutup tembok luar rumah.
"Sukuna, kau pulang," girang Gojo dan langsung memeluk Sukuna.
"Kau nggak baca chat ku?" ucap Sukuna.
Gojo mengerutkan dahi. "Oooh, ya, dari tadi aku nggak pegang HP. Aku baru bangun tidur."
Mata Sukuna memicing. Baru bangun tidur? Bukannya barusan ada tamu, si wanita tadi? Kenapa dia tidur saat ada tamu?
"Ayo masuk, akan kusiapkan makan malam. Aku belajar banyak menu baru loh dari Utahime-sensei," Gojo menggandeng tangan Sukuna memasuki rumah.
"Utahime, eh."
"Iya. Beliau juga dosen sepertiku, kami rekan kerja," ucap Gojo santai sambil melangkah menuju dapur. Tapi ia lalu terhenti saat menyadari sesuatu. Ia menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Sukuna dengan kaku. "...kau...nggak lagi cemburu kan?" ucap Gojo. Tapi ia langsung merinding saat melihat aura membunuh dari Sukuna.
"Kami nggak ada hubungan apa-apa! Serius deh," Gojo langsung menjelaskan dengan panik. "Hora, itu loh. Sama seperti kau dengan Uraume. Meskipun akrab tapi hanya sekedar rekan kerja."
"Ya ya. Rekan kerja. Sampai tidur bersama juga. Sampai mengajari banyak menu masakan juga. Berarti dia sering main ke sini ya," ucap Sukuna dengan tangan terlipat di depan dada.
"Urk..." Gojo langsung gelagapan. "Tapi serius, kami nggak ngapa-ngapain. Tidur bersama itu maksudnya di sofa ruang tengah, karena bosan menonton TV," Gojo coba menjelaskan, tapi tak berani bilang soal ia yang memangku Utahime. Bisa-bisa perang dunia betulan terjadi lagi.
"Dan dia sering ke sini sampai-sampai kau belajar 'banyak' resep darinya."
"I-itu...Itu...habisnya rumah sepi banget. Nggak ada Megumi, nggak ada kau. Aku nggak terbiasa sama rumah yang hening banget," rengek Gojo.
"Hooo begitu rupanya. Mungkin benar kata Megumi. Kau cari istri saja yang bisa menemanimu 24/7. Jadi mau kau pulang kapanpun jam berapapun ada yang menyambutmu, masak untukmu, juga tidur bersamamu."
"Gaah...!" Gojo speechless. Ia langsung memeluk Sukuna. "Nggak begitu. Seriusan, kami nggak ada hubungan apa-apa. Jangan marah dong. Oke deh aku akan mulai terbiasa sendirian di rumah. Aku juga akan belajar masak dari internet saja. Jangan marah lagi dong."
"..." mata Sukuna menyipit. Ia jadi tak tega dengan rengekan Gojo. Mungkin benar bayi besarnya itu hanya ingin ditemani. Ia bisa membayangkan Gojo sendirian di rumah sebesar itu, dengan sifatnya itu yang mudah kesepian. Sukuna tak pernah merasakan tinggal sendiri, sekarang Yuuji tak di rumah pun, ada Uraume dan Mahito di rumahnya. Ia belum pernah merasakan bagaimana sepinya hidup sendiri.
Sukuna pun balas memeluk Gojo dan menepuk pelan punggungnya.
"Aku hanya bercanda. Tak masalah kok ada temanmu yang main. Asal kau tak macam-macam dengannya," ucap Sukuna.
"Beneran?!" Gojo melepaskan pelukan demi menatap ekspresi Sukuna. Matanya sudah berair. Sukuna menghela nafas lalu mengusap mata Gojo yang basah. Sepertinya ia bisa merasakan keseriusan di wajah Gojo, bagaimana ia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya beneran. Tapi jangan selingkuh dariku," Sukuna menundukkan kepalanya di dada Gojo.
"Nggak akan. Kami rekan kerja saja, sudah kubilang kan, sama seperti kau dan Uraume. Aku juga kadang cemburu kalau kau sering pergi sama Uraume, tapi karena kau bilang hanya urusan pekerjaan jadi aku mencoba tak cemburu lagi."
"..." Sukuna terdiam lalu kembali menegakkan kepalanya. "Ya sudah. Masak sana. Katanya mau menunjukkan menu baru."
"Hehe, iya dong," cengir Gojo.
.
.
Selama makan Gojo juga terus mengoceh soal Utahime.
"...kata Utahime-sensei akan lebih empuk kalau direbus dulu sebentar. Bisa tambahkan bumbu juga biar lebih meresap...bla bla bla..." ia terus bercerita mengenai tips masakan, atau kegiatan yang dilakukan dengan Utahime.
Sebenarnya niat Gojo supaya Sukuna tahu kalau yang dilakukannya bersama Utahime itu betulan sekedar kegiatan normal, bukan yang aneh-aneh. Tapi tentu saja dari sudut pandang Sukuna, yang ia pikirkan adalah kalau mereka berdua sangat akrab, dan sepertinya Gojo sangat menyukai wanita itu sampai menceritakannya terus-menerus.
"Aku sudah selesai. Aku mandi duluan ya," Sukuna meletakkan sumpitnya di atas mangkuk.
"Eh, sudahan?" ucap Gojo. Ia belum selesai makan. Tapi biasanya kalau mereka makan, siapapun yang selesai duluan, akan menunggu yang satunya untuk selesai makan. Sambil mengobrol atau apa. Baru kali ini Sukuna malah sengaja duluan. Pasti dia masih marah, pikir Gojo. Ia pun membiarkan saja Sukuna duluan menuju kamarnya.
Gojo menghela nafas lelah. Ia pun menyelesaikan makan dengan tak bersemangat, lalu mencuci piring. Setelah itu ia juga naik ke kamarnya untuk mandi.
.
Seusai mandi, ia menghampiri kamar Sukuna. Malah Sukuna yang baru selesai mandi, ia masih memakai handuk di pinggang dan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Habis berendam?" tanya Gojo.
"Iya, badanku capek banget. Jadi ingin berendam," Sukuna selesai mengelap rambutnya lalu duduk di tepi ranjang menyalakan hairdryer.
Gojo menarik tubuh Sukuna supaya berbaring di pangkuannya, ia lalu mengeringkan rambut Sukuna dengan hairdryer. Ia tersenyum menatap wajah kekasihnya itu yang sudah lama tak bertemu.
"Paan?" tanya Sukuna merasa diperhatikan.
"Kangen," ucap Gojo singkat. Ia tersenyum melihat Sukuna yang langsung mengalihkan pandangan dengan pipi sedikit merona. Gojo mematikan hairdryer setelah merasa rambut Sukuna kering. Ia membelai lembut rambut pacarnya itu yang sengaja ia turunkan ke dahi. "Kerjaanmu lancar?"
"Yeah, lancar kok. Tapi client nya lumayan cerewet. Meski sudah dijelaskan detail mereka masih sering tanya-tanya lagi saat pembangunan. Jadinya aku sering berada di site karena kata Uraume mereka seperti tak suka kalau Uraume atau Mahito yang menjelaskan. Harus aku atau semacamnya."
"Hee, kedengarannya berat."
Sukuna beralih menatap wajah Gojo. Ia juga merindukan wajah kekasihnya itu. Ia membingkai wajah Gojo dengan kedua tangannya, lalu menariknya turun.
"Punggungku sakit kalau menunduk banget," protes Gojo.
"Tch!" Sukuna pun duduk, barulah ia mencium Gojo, memagut bibirnya dengan lembut. Gojo tersenyum mendapat ciuman itu. Tangannya bergerak untuk memeluk punggung Sukuna, satu tangan lagi nakal menelusup masuk ke balik handuk Sukuna, menggoda dengan membelai paha dalam Sukuna dan meremasnya beberapa kali.
Sukuna melirik itu dan merengut kesal. Ia menarik tangan Gojo ke arah selangkangannya, memaksa meremas penisnya. Gojo tertawa pelan lalu beralih menciumi leher Sukuna, menjilatinya dan mengecup kecil. Satu tangan lagi beralih meraba dada Sukuna, memainkan nipple nya dengan manja.
"Nn..." Sukuna mengerang pelan, mencengkeram lengan atas Gojo dengan erat.
Gojo mencium semakin ke bawah, ke dada Sukuna. Ia mengecup nipple Sukuna yang mulai ereksi, memainkannya dengan ujung lidah. Kejantananan Sukuna di tangannya juga mulai tegak. Gojo mulai kehilangan kendali, ia ingin segera mendominasi Sukuna.
Ia pun mendorong tubuh Sukuna hingga terbaring ke ranjang. Mencium terus ke bawah ke perut Sukuna, lalu ke bagian selangkangannya. Ia mengulum penis Sukuna sesaat, tapi lalu beralih ke lubangnya, menjilatnya dengan tak sabar. Tangannya memainkan penis Sukuna hingga pre cum membanjir dari sana.
Gojo memasukkan dua jari untuk memperlebar lubang Sukuna, tapi hanya sebentar, sepertinya ia tak tahan lagi.
"Gomen," ucap Gojo. Dengan nafas memburu ia mengeluarkan kejantanannya lalu langsung menerobos masuk. Tak ada ucapan protes dari Sukuna. Pria bertattoo itu juga menatap dengan tatapan penuh nafsu. Mungkin karena mereka sudah lama tak melakukannya.
Sukuna mengusap perut Gojo di balik kaos longgarnya, memberikan rangsangan lebih. Gojo bergerak cepat memasuki lubang Sukuna, seolah tak sabar mencari kenaikmatan dari tubuh itu.
"Aaahhh," Sukuna menjerit saat sweetspot nya tersentuh. "More...faster..." ucapnya dengan nafas menderu.
Tak ada jawaban, hanya saja Gojo menuruti ucapan Sukuna. Ia juga merasakan kenikmatan yang sama. "Hnh...Sukuna...Sukuna," panggil Gojo, tangannya meremas dada Sukuna sambil menyodok kuat. "Hnnh..." ia merasakan hasrat nya memuncak. Ia memejam sebelah saat sperma Sukuna muncrat sampai ke dada nya, sebagian kecil mengeni wajah Gojo.
"Hngh...ahhh," Gojo juga mengeluarkan sperma nya di dalam lubang hangat Sukuna. "Ungh...ahh," ia masih bergerak pelan menyelesaikan orgasme nya. "Sukuna...ahh, kimochi..."
Sukuna menelan ludah berat melihat ekspresi Gojo yang tengah merasakan kenikmatan. Sukuna juga merasakan hal yang sama. Ia memeluk leher Gojo, menariknya turun dan mencium bibirnya dengan rakus. Gojo kembali bergerak keluar masuk merasakan ciuman Sukuna yang penuh nafsu.
"Kau hanya melakukan ini denganku kan," tanya Sukuna di sela ciuman aggresive nya.
"Iya, tentu saja. Aku hanya mencintaimu Sukuna," Gojo meraih kedua tangan Sukuna, menekannya ke ranjang dan menaut jemari nya kuat. Tubuh Sukuna bergerak liar mengikuti gerakan tubuh Gojo. Lubang Sukuna juga memanjanya nakal, meremas penis Gojo kuat di dalam sana. "Aku betulan nggak selingkuh darimu. Percayalah padaku," ucap Gojo seraya mempercepat gerakannya.
"Ya," tubuh Sukuna melengkung merasakan kenikmatan yang ada, lubangnya mencengkeram erat. "Ngh...aku percaya padamu. Awas saja kalau kau sampai...ahhh, oogh, shit shit shit...!" Sukuna tak tahan lagi saat sweetspotnya dihujam tanpa henti. Ia kembali klimaks dan mencengkeram penis Gojo erat.
"Nnh, aaahh," Gojo juga kembali klimaks merasakan itu. Gojo menjilat nipple pink Sukuna yang menggoda. Tapi Sukuna beringsut bangun. Ia melepas kaos Gojo dan membuangnya sembarangan. Gojo tertawa kecil karenanya.
Sukuna memutar posisi, mendorong Gojo berbaring. Ia menarik lepas celana Gojo lalu naik kembali ke atas tubuhnya, memosisikan penis Gojo yang masih tegak ke lubangnya. Ia pun mulai bergerak untuk mencari kenikmatan dari benda itu.
.
~OoooOoooO~
.
Sukuna tinggal untuk beberapa hari di rumah Gojo. Setelahnya ia harus kembali ke projeknya. Gojo memeluknya erat dengan kaki dan tangannya, merengek tak ingin Sukuna pergi.
"Huaaa jangan pergi lagi," rengek Gojo, mengunci tubuh Sukuna supaya tak bangkit dari ranjang.
"Baaka, pekerjaanku bagaimana," Sukuna menyentil pelan dahi Gojo.
"Ung..." Gojo tak membalas lagi.
Sukuna menghela nafas lelah, menepuk-nepuk pelan kepala Gojo. "Kan sudah kubilang nggak papa. Kau boleh mengundang Utahime untuk datang menemanimu. Kau yang menyuruhku percaya padamu kan."
"Hng..." Gojo mengeratkan pelukannya. "Tapi aku paling suka kalau Sukuna yang menemaniku."
Kyuunn...
Jantung Sukuna berdegup keras. "Heh, gimana dengan Megumi?" tapi ia malah memilih menggoda pacarnya itu.
"Urk. Ya...Megumi oke juga. Tapi Sukuna yang terbaik."
"Halah, bilang saja karena kau bisa sange kalau denganku."
Gojo tertawa. "Memangnya kau juga lebih suka saat bersama Uraume daripada denganku? Kau juga sange kalau bersamaku kan."
Sukuna hanya menyeringai lalu mencium bibir Gojo untuk beberapa lama. Ia menepuk pelan kepala Gojo setelah ciuman mereka usai.
"Aku pergi dulu ya," ucap Sukuna.
Gojo menghela nafas berat lalu melepaskan pelukannya. Ia pun mengantar Sukuna sampai ke garasi rumah. "Itterashai," Gojo melambai menatap Sukuna di balik kemudi mobil.
"Ittekimasu," balas Sukuna dan menyetir menjauh.
Gojo pun hanya bisa menghela nafas melihat mobil Sukuna hilang di balik tembok rumah. Ia merenggangkan otot dan bersiap masuk saat ponsel di sakunya berdenting pelan.
'Aku barusan masak banyak. Kau mau? Kalau nggak mau kuberikan pada tetangga apartment ku saja,' chat dari Utahime sambil mengirimi foto masakan.
Gojo tersenyum lalu membalas chat itu. 'Mauuuuuu,' ketiknya.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
