Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak juga buat Frigg Nevia07, kokorocchi dan emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Semenjak kepulangan Sukuna hari itu, Gojo jadi lebih berhati-hati. Meski Sukuna bilang tidak apa-apa, tapi ia masih bisa melihat ekspresi tak suka dari wajah Sukuna. Ya maklum saja, ia sendiri juga tak bisa tak merasakan apa-apa selama Sukuna terus keluar bersama yang lain. Jadi Gojo berkaca pada diri sendiri.

Gojo mulai membiasakan diri dengan kesunyian rumah itu. Ia lebih memilih menyalakan speaker keras-keras untuk mengisi keheningan yang ada. Sesekali ia masih mengizinkan Utahime datang, tapi sudah tak sesering sebelumnya. Ia juga memastikan selalu mengecek ponsel kalau-kalau Sukuna mengatakan akan pulang, dan memastikan Utahime sedang tak di sana saat Sukuna pulang.

"Hee, sepertinya kau sudah mulai terbiasa sendirian ya," goda Utahime suatu hari. Sepertinya ia juga menyadari kalau Gojo tak sesering sebelumnya mengundang ia datang. Beberapa kali ia juga ditolak untuk datang meski Gojo memberikan alasan yang valid. Tapi entahlah, siapa tahu itu memang hanya alasan kan, pikir Utahime.

"Hehe, lumayan," ucap Gojo. "Aku juga merasa tak enak merepotkanmu terus. Ditambah...memangnya tak ada yang marah kalau kau sering bersamaku?" goda Gojo. Tapi seketika ia menyesal mengatakan itu. Dia terdengar seperti baru saja menggoda Utahime dengan trik lama, pura-pura bertanya apa tak ada yang marah padahal aslinya hanya ingin mengetahui apa orang yang kita incar memiliki pasangan atau tidak. Trik basic sejak jaman batu.

"..." Utahime terdiam sesaat, membuat Gojo yakin pemikirannya tadi benar. "Nggak ada. Saat ini nggak punya seseorang yang seperti itu," balas Utahime sambil menopang wajah, menatap lurus ke arah TV seolah bosan. Tapi Gojo tahu ucapannya tadi mengena untuk wanita itu. Karena kalau normal, Utahime akan mengomel seperti mengatakan 'apa urusanmu dengan kehidupan pribadiku', atau balas menggoda 'mau apa tanya-tanya. Kau tertarik padaku?'

Mereka memang sudah dekat dari dulu, karena itulah Gojo paham sifat Utahime. Tapi tadi Utahime menjawab normal layakanya gadis pada umumnya, bukan menjawab dengan candaan atau omelan. Sudah jelas Gojo jadi seperti mengirimkan sinyal-sinyal lain yang menjurus ke arah hubungan serius.

'Aaah, aku bodoh banget ya,' Gojo memijit kepalanya pelan. Dia harus apa untuk mengembalikan hubungannya dengan Utahime seperti dulu? Hanya sebatas teman, tanpa baper, tanpa ada pemikiran unthk melangkah lebih jauh.

"Hora, tapi bukannya Nanami-sensei sepertinya juga dekat denganmu? Kurasa beliau ada rasa padamu loh," Gojo mencoba mencomblangkan Utahime dengan orang lain.

"Nggak tuh, kami hanya berteman biasa. Jarang bicara juga selain masalah pekerjaan. Kudengar dia juga sudah punya kekasih yang kerja di toko roti. Anak-anak sering menggosipkannya. Maklum lah Nanami-sensei juga lumayan populer."

"Ooh, begitu ya," balas Gojo kikuk. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Utahime-sensei, pliis jangan baper, jangan menyukaiku, batin Gojo.

Mereka lanjut menonton TV yang suaranya lumayan keras. Samar Gojo mendengar suara mesin mobil, tapi lalu lenyap lagi. Jadi ia tak berpikir macam-macam, mungkin mobil lewat pikirnya. Tapi ia lalu mendengar pintu terbuka. Alis Gojo bertaut, ia menoleh ke belakang sofa menantikan siapa yang datang, dan ternyata Sukuna muncul dari sana. Gojo terbelalak. Ia menilik HP nya, memastikan tak ada chat atau telefon yang mengatakan kalau Sukuna akan pulang.

"Sukuna, kau pulang," Gojo bangkit, menghampiri Sukuna. "Kok nggak mengabari dulu."

"Yeah, soalnya tadi juga nggak berniat pulang. Tapi karena dekat jadi akhirnya kesini. Uraume bawa mobilku pulang," balas Sukuna. Ia menatap ke arah Utahime lalu mengangguk sebagai salam karena Utahime juga melakukan hal yang sama.

"Ya sudah, aku mau ganti baju dulu," Sukuna berniat naik, Gojo mengikuti tapi Sukuna mencegah. "Ada tamu. Temani sana, nggak sopan tamu ditinggal sendirian."

"Tapi..." ucap Gojo.

"Atau sekalian masak sana. Sudah hampir jam makan siang kan. Aku lapar," Sukuna menepuk pelan perutnya.

Gojo menghela nafas lalu mengangguk. Ia pun berbalik langkah menuju dapur.

"Utahime-sensei, aku mau masak makan siang. Kau nonton TV saja," ucap Gojo sambil berjalan menuju dapur.

"Biar kubantu," Utahime meraih remote dan mematikan TV lalu berjalan mengikuti Gojo.

"Eeh, nggak usah, biar aku saja. Kau bersantai saja."

"Nggak masalah. Acara TV nya juga membosankan."

Mereka menghilang menuju arah dapur sementara Sukuna masih mematung di tempatnya.

.

Gojo memasak dibantu Utahime. Mereka masak cukup banyak karena untuk tiga orang. Sukuna menuju dapur setelah mengganti pakaiannya dengan baju santai. Ia menuju kulkas untuk minum sambil mengamati keduanya memasak.

"Sukuna, aku masak tumis daging kesukaanmu," ucap Gojo.

"Hee. Tapi jangan ditambahi mayounise loh. Kecap manis juga jangan kebanyakan, tambah cabai juga," protes Sukuna.

Utahime menoleh ke arahnya. "Jadi dia memang biasa masak begitu?" tanyanya.

Sukuna mengangguk. "Yang suka manis dia tapi semua orang di sekelilingnya harus ikut merasakan makanan manis. Mana kadang menunya aneh dicampur bahan-bahan yang tidak umum. Seperti mayounaise tadi."

"Astaga, kupikir aku saja yang menganggap dia aneh. Waktu itu dia juga pernah menambah susu kental manis di kare, coba. Ya aku tahu sih ada resep kare yang ditambah sedikit cokelat batang, tapi dia ini menambahkan susu kental manis loh!"

"Yang penting rasanya kan nggak jauh beda," protes Gojo.

"Dasar bodoh," ucap Utahime dan Sukuna bersamaan. Mereka langsung menoleh satu sama lain, lalu tanpa kata mereka mendekat dan high-five meski tanpa persetujuan terlebih dahulu.

"Dia memang aneh," ucap Utahime sambil geleng-geleng kepala.

"Sangat aneh," tambah Sukuna.

"Woyyy!" kesal Gojo.

Utahime dan Sukuna malah jadi akrab setelah itu. Mereka banyak ngobrol soal Gojo dan keanehan-keanehannya, pokoknya 80% obrolan mereka adalah membully Gojo.

"Pernah masa, dia datang ke seminar dengan lollipop besar warna-warni di saku kemeja nya. Itu loh permen yang besar banget spiral gitu. Lupa kalau permen itu ada di saku katanya," ucap Utahime saat mereka makan siang bersama.

"Gila. Malu-maluin jurusan nggak sih tuh," balas Sukuna.

"Malu-maluin banget lah. Untung aja moderator nya profesional jadi bisa membuat suasana terkesan biasa dengan lollipop itu."

"Aaargh sudah dong," kesal Gojo. Tapi tetap saja keduanya ngobrol seru. Gojo pun hanya bisa pasrah.

.

Menjelang sore Gojo mengantar Utahime pulang. Ia sekalian belanja untuk makan malam, Sukuna bilang sedang ingin makan ikan katanya.

"Tadaima," ucap Gojo setelah memasuki rumah.

"Okaeri," Sukuna menyambut, membantu membawa belanjaan ke dapur. "Utahime orangnya asyik juga," cengir Sukuna.

"..." Gojo tersenyum melirik ke arah Sukuna. "Jangan-jangan kau yang naksir padanya."

"Nggak lah. Maksudku ya...seru aja kalau punya teman seperti dia. Kurasa aku sekarang paham kenapa kau sering memintanya datang," ucap Sukuna sambil mengeluarkan barang belanjaan dari tas cokelat.

"Nggak cemburu lagi nih," goda Sukuna.

Sukuna tersenyum lalu menggeleng. Ia mendekat dan melingkarkan tangannya ke leher Gojo. "Tapi beneran kan, kau nggak ada hubungan special dengannya? Aku mempercayaimu loh ini."

"Iya nggak ada. Kayak kamu aja sama dia tadi. Seru aja kan berteman sama dia. Aku nggak ada perasaan lebih," Gojo melingkarkan tangannya di pinggang Sukuna. Tanpa persetujuan wajah mereka mendekat dan bibir mereka menyatu. Sukuna memejamkan matanya menikmati ciuman, tapi Gojo tetap membuka mata. Ia menatap kosong, yang ia khawatirkan bukan dirinya, tapi ia takut Utahime lah yang memiliki rasa terhadapnya. Ia hanya tak ingin menyakiti siapapun.

.

~OoooOoooO~

.

Semenjak keseruan di hari itu, Sukuna sering menanyakan Utahime. Kalau ia pulang, biasanya ia menyuruh Gojo untuk mengundang Utahime datang. Mereka have fun bertiga, seru-seruan di rumah. Beberapa kali mereka keluar ke cafe atau ke karaoke.

Sukuna merasa ia memiliki beberapa kesamaan dengan wanita itu. Selera makanan mereka banyak yang sama, terutama untuk makanan pedas. Soal film juga Utahime tahu banyak. Mereka bahkan pernah nonton bersama sementara Gojo ditinggalkan begitu saja keluyuran sendiri di Mall.

"Hee, jad kalian nggak pernah nonton bareng," ucap Utahime saat mereka keluar dari bioskop.

"Nggak pernah lah. Tahu sendiri dia takut gelap. Kalau pergi sama dia paling ke bating cage atau ke tempat bowling. Pokoknya tempat selain bioskop," jawab Sukuna.

Mereka berjalan keluar dan menghampiri Gojo yang menunggu mereka di food court dekat sana.

"Hee, nggak jalan-jalan kau," Utahime seenaknya meraih minuman Gojo dan meminumnya, ia duduk di kursi samping Gojo, Sukuna duduk di kursi yang berseberangan dengan Gojo.

"Udah muter-muter. Ampe capek," manyun Gojo. Sukuna dan Utahime hanya tertawa.

"Salah sendiri nggak mau ikutan nonton," ucap Utahime.

"Bodo ah, tahu gini aku di rumah aja," Gojo menopang dagunya kesal.

"Memangnya di rumah mau ngapain?" goda Sukuna.

"...ya...nggak ngapa-ngapain," Gojo menjawab lesu yang kembali ditertawakan oleh mereka berdua.

"Utututu tayang tayang, iya deh habis ini kita main bareng," goda Utahime. Ia mencubit pipi Gojo dengan gemas. "Mau main apa. Mandi bola? Atau main mesin capit? Hahahaha," Utahime kembali tertawa sementara Gojo mengomel kesal.

Sukuna terdiam menatap mereka dengan senyum tipis. Tatapannya terarah singkat pada Utahime. Ia memang memiliki banyak kesamaan dengan wanita itu. Hobby yang sama, selera makanan yang sama, dan juga...menyukai orang yang sama.

Ya, sejak akrab dengan Utahime, Sukuna juga bisa merasakan kalau wanita itu memang menyukai Gojo. Ia bisa tahu karena sering melihat tatapan Utahime pada Gojo, sikapnya juga. Semua menunjukkan kalau wanita cantik itu memiliki perasaan lebih. Dan Sukuna tak bisa melakukan apapun untuk itu.

Memangnya dia bisa apa untuk mencegah perasaan seseorang. Ditambah yang membuatnya makin tak bisa berbuat apa-apa, adalah fakta bahwa Utahime seorang wanita. Meski Gojo mengatakan memilih Sukuna, di dalan hati Sukuna tetap ada kekhawatiran kalau suatu saat Gojo akan beralih menyukai Utahime. Perasaan manusia selalu berubah-ubah kan. Kalau suatu hari tiba-tiba Gojo mengatakan ingin memiliki keluarga, Utahime bisa memberikan apa yang Gojo mau. Sementara Sukuna tak bisa melakukan itu.

Sukuna pun hanya bisa mengeratkan kepalan tangannya di dalam saku jaket saat memikirkan itu.

.

~OoooOoooO~

.

"...sama. Sukuna-sama."

Sukuna tersentak saat mendengar panggilan Uraume. "Ya...?"

"Anda dengar penjelasan saya?"

Sukuna menatap ke arah tab yang Uraume tunjukkan padanya. "Ah, gomen. Bagaimana tadi?"

Uraume menghela nafas lelah lalu menjelaskan ulang apa yang baru dijabarkannya. Untung saja kali itu Sukuna merespon, jadi pembicaraan mereka berlangsung lancar setelahnya. Uraume menyimpan tablet nya setelah selesai dengan Sukuna.

"Oh ya, lalu untuk nanti malam," ucap Uraume. "Client kita mengajak Anda makan malam."

"Ooh, baiklah. Di mana?" tanya Sukuna. Uraume terdiam, tampak sedikit berpikir. "Ada apa?" tanya Sukuna.

"Sebenarnya...mereka tidak mengatakan secara langsung sih, tapi sepertinya mereka ingin Anda bertemu dengan puteri mereka. Jadi ya..." Uraume hanya mengedikkan bahu, ia tahu Sukuna mengerti apa yang ia maksud.

Sukuna pun menghela nafas lelah. "Sudahlah. Terima saja. Nggak sopan nolak ajakan client. Urusan itu belakangan saja," balas Sukuna pada akhirnya.

.

Malamnya Sukuna pun memenuhi ajakan makan malam itu. Client nya yang bernama Kurosaki menunggu nya di lounge restaurant supaya bisa berjalan berdua dengan Sukuna menuju tempat makan. Ia basa basi dengan mengatakan soal pekerjaan dan lain-lain, hingga akhirnya ia menyinggung juga soal Sukuna yang masih single meski sudah mapan dan sudah usia menikah.

"Karena itulah aku berniat mempertemukanmu dengan puteri ku, Lily. Ya kenalan saja dulu, siapa tahu nanti cocok kan," ucap Kurosaki diakhiri dengan tawa basa basi.

Ia membawa Sukuna ke ruang makan, di sana sudah ada istri Kurosaki bersama seorang gadis cantik bergaun merah. Kurosaki pun memperkenalkan mereka. Sukuna hanya mengikuti alur makan malam itu.

Sesekali ia melirik Lily. Dia memang cantik, perilakunya juga anggun. Tapi mata Sukuna sayu memikirkan Gojo. Ia mencintai Gojo. Tapi ia takut suatu hari akan kehilangan lelaki itu yang mungkin memilih Utahime. Lalu...bagaimana kalau Sukuna juga mulai mencoba membuka hati untuk orang lain. Seperti Lily misalnya. Sama seperti Gojo, ia bisa memiliki keluarga. Mungkin suatu hari ia dan istrinya, lalu Gojo dan istrinya, bisa berkumpul bersama saling tertawa mengobrolkan sesuatu. Bukan masa depan yang buruk. Tapi dada Sukuna terasa sesak saat pemikiran mengenai Gojo yang bersama orang lain memasuki kepalanya. Untuk saat ini Sukuna sangat mencintai Gojo, ia tak ingin kehilangan pria itu. Tapi ia takut Gojo tak merasakan hal yang sama dengannya.

.

Makan malam berjalan lancar. Sukuna hanya mengikuti alur saja. Ia pun menurut saat harus bertukar kontak dengan Lily. Mau menolak juga tidak mungkin kan dalam kondisi seperti itu. Setelahnya Sukuna pun kembali ke apartment.

Ia berbaring sambil menatap layar ponselnya di mana sekarang tertera nama Lily. Ia sama sekali tak minat untuk menghubungi duluan. Hanya saja ia masih berkutat dengan pemikirannya yang tadi.

Bar notifikasi muncul di ponsel Sukuna. Chat dari Gojo. Sukuna membuka chat itu.

'Sayang, kapan pulang lagi? Aku dapat kupon diskon di toko donat yang baru buka nih. Temenin yuk.'

Sukuna tersenyum menatap itu. 'Sampai tanggal kapan memangnya?'

'Masih dua minggu nih.'

'Oke, akan kusempatkan pulang. Tapi untuk hari nya belum pasti.'

'Yeeyy (heart).'

Sukuna tersenyum, tapi lalu senyumnya memudar saat mengingat Utahime. 'Sama Utahime juga?' tanya Sukuna berikutnya.

Lama Gojo tak menjawab. Hingga akhirnya ia membalas hanya dengan huruf 'Y'.

'Tch, apa-apaan balasanmu itu,' ketik Sukuna. Tapi Gojo tak membalas lagi.

.

~OoooOoooO~

.

Sukuna sudah memberikan waktu janjian ia akan pulang. Tapi karena ada urusan sebelum itu, ia meminta bertemu di dekat stasiun saja, baru nanti setelah jalan-jalan ia akan pulang ke rumah Gojo.

"Hey," Utahime melambai dan berjalan ke arahnya bersama Gojo.

"Yo," sapa Sukuna.

"Lama nunggu nih?"

"Nggak kok, baru saja. Di mana toko nya?"

"Dekat dari sini. Kita jalan kaki saja. Ayo," ajak Utahime. Sukuna pun menurut. Saat ia melangkah ia baru menyadari kalau Gojo tertinggal, jalannya pelan seperti malas.

"Hei ayo, kutinggal loh," ucap Sukuna. Gojo hanya mempercepat langkahnya tanpa menjawab.

"Woaah kelihatannya enak," ucap Utahime setelah mereka memasuki toko. Ia mengamati donat-donat yang ada di etalase. "Kau mau coba yang mana, Sukuna-san? Ini bisa dicampur loh. Kita beli yang beda varian saja, nanti saling mencicipi."

"Ya, ide bagus," balas Sukuna. Ia merasa variannya lumayan menarik, ia juga jadi ingin mencicipi semuanya. Keh, jangan-jangan Satoru bakalan beli semua varian dari ujung ke ujung, pikir Sukuna. Ia menyeringai lalu menoleh mencari Gojo. Cowok itu berada di deretan lain, bukannya melihat-lihat isi counter, ia malah sibuk main HP.

Sukuna menatap heran. Padahal biasanya Gojo yang paling bersemangat kalau soal makanan manis. Dia juga tampak bersemangat saat mengajak Sukuna ke toko ini. Tapi sekarang malah kelihatan malas. Sukuna menghampiri Gojo.

"Hei, kau nggak milih mana yang mau kau beli?" tanya Sukuna. Gojo hanya mengangkat pundak. "Hoi, yang mengajak ke sini kan kau. Aku sudah luangkan waktu padahal!"

Gojo hanya menyempatkan mengangkat pandangan dari layar ponsel, tapi lalu kembali menatap benda itu.

"Woy, kau lagi chattingan sama seseorang?" Sukuna meraih paksa ponsel Gojo, melihat layarnya. Gojo hanya sedang memainkan candy crush saga. Sepenting itu? Sukuna mengembalikan ponsel itu pada Gojo. "Ayo ah, cepat milih. Nanti kalau merengek di rumah aku nggak akan belikan loh," Sukuna menarik lengan Gojo untuk menghampiri counter-counter berisi donat.

Mereka pun membeli varian yang mereka mau, tapi Gojo masih lebih banyak diam. Utahime meraih donat yang mau dibayar Sukuna, lalu meletakkannya di meja kasir saat Gojo mau membayar donatnya.

"Bayarin ya," goda Utahime. Biasanya Gojo akan rewel atau protes apa. Tapi kali itu ia hanya menjawab 'ya' singkat bahkan tanpa menoleh. Ia pun membayar donat mereka lalu keluar dari toko. "Makan di sana aja yuk. Ada meja kosong tuh," tunjuk Utahime. Mereka pun menghampiri meja itu dan duduk untuk mencicipi donat yang barusan dibeli. Untuk minumannya mereka beli dari vending machine.

"Hmmm, enak juga. Lembut," komentar Utahime.

"Yeah, hey yang ini ada isinya," Sukuna ikut mencicipi. Gojo makan dalam diam, tak berkomentar apapun.

"Hey setelah ini mau kemana?" tanya Utahime.

"Hng...nonton? Karaoke?" Sukuna memberikan pilihan.

"Atau ke distrik J? Banyak barang-barang murah loh. Jajanan juga banyak."

"Boleh boleh. Bagaimana Satoru?" Sukuna menoleh ke arah Gojo.

"Hng..." Gojo menilik ponselnya lalu menyakukan benda itu. "Kalian saja deh. Aku ada janji dengan orang lain."

"Dengan siapa?" tanya Sukuna.

"Seseorang," jawab Gojo singkat. Ia kembali menilik ponselnya yang bergetar halus. "Ah, dia minta ketemu sekarang. Aku duluan ya," Gojo bangkit. "Oh, donatnya untuk kalian saja. Aku kenyang," setelah itu Gojo pun pergi dari hadapan mereka ke arah stasiun.

.

Gojo menaiki salah satu kereta sambil menatap ke luar jendela. Kebetulan kereta cukup lengang karena bukan di rush hour, jadi ia kebagian tempat duduk.

Setelah turun dari kereta, ia celingukan mencari seseorang tapi tak ketemu. Ia kembali menilik ponselnya lalu berjalan menjauh dari stasiun menuju tempat parkir. Ia melambai saat melihat orang yang dimaksud.

"Yo, Megumi," sapa Gojo. "Mengganggu?"

"Nggak kok. Aku juga cuma santai di apartment," Megumi memberikan helm untuk Gojo. Gojo pun naik ke kursi belakang dan Megumi melajukan motornya menjauh dari tempat itu. "Beli snack nggak?" tanya Megumi saat di perjalanan.

"Kau nggak ada stock?"

"Ada, tapi kebanyakan snack asin. Makanan manisnya cuma snickers. Sama soda."

"Nggak papa deh. Lagi nggak terlalu pengen yang manis juga."

Megumi shock mendengar kata itu terucap dari mulut Gojo. "Kau sakit?"

"Nggak gitu juga astagaa."

"Habisnya aneh banget kalau kau sampai nggak suka makanan manis, Tou-san."

Gojo tak menjawab. Ia hanya memeluk Megumi dan sedikit menyandarkan kepalanya di pundak cowok itu. Megumi tak berkomentar lagi. Ia hanya tahu Gojo sedang ada masalah.

.

Mereka melepas sepatu lalu memasuki apartment Megumi. Gojo menatap sekeliling, sudah ada beberapa yang berubah sejak terakhir kali ia di sana. Beberapa barang sudah bertambah, juga letaknya di seluruh apartment.

"Sorry berantakan. Kau nggak bilang dulu mau kemari sih," ucap Megumi sambil meraih pakaian yang tersampir di sofa.

"Nggak masalah. Kayak sama siapa saja," balas Gojo. Ia menghampiri sofa dan langsung telungkup di sana memeluk bantal duduk. Ia melihat meja yang terdapat tumpukan buku dan kertas-kertas. Sepertinya Megumi sedang belajar. Rajin sekali. Padahal Sabtu.

Tak berapa lama Megumi muncul membawa snacks dan dua botol kecil minuman bersoda.

"Sekarang tinggal sendiri jadi beli nya yang mini-mini," ucap Megumi, meletakkan snacks dan soda di meja.

"Hee, masak juga nggak? Apa beli terus?" Gojo duduk. Meraih sebungkus snack dan membukanya.

"Kadang masak. Kadang beli," Megumi memberesi buku nya dari atas meja.

"Rajin banget belajar terus," goda Gojo.

"Kebetulan lagi ada tugas," jawabnya santai, ikut memakan snack di tangan Gojo. Megumi meraih remote dan menyalakan TV, menonton national geographic. Gojo tertawa pelan, Megumi memang dari dulu suka nonton itu. Mungkin itu juga salah satu yang membuatnya ingin jadi dokter hewan.

"Eh, kau nggak pelihara hewan gitu, anjing atau kucing?" tanya Gojo.

"Takut nggak kerawat. Bolak balik kuliah, kerja sambilan. Lagipula jadi dokter hewan bukan berarti harus pelihara hewan kan."

"Hee, kau sudah kerja sambilan lagi. Bisa bagi waktu nggak?"

"Bisa. Lagian semester-semester awal jadwal kuliahnya belum terlalu padat. Aku juga hanya kerja sambilan beberapa jam."

"Kerja di mana emang?"

Megumi menoleh dan tersenyum. "Cafe anjing."

"Yee, pantes seneng," goda Gojo. Megumi tertawa kecil mendengarnya. "Kerja berapa jam emang?"

"Cuma tiga atau empat jam. Tapi bayarannya lumayan loh," Megumi menaikkan alis seolah pamer. "Soalnya itu termasuk cafe mahal. Untuk perawatan anjingnya dan segala macam, jadi tarif masuknya lumayan besar. Makanya gaji karyawannya juga lumayan."

Gojo tersenyum lalu mengacak rambut Megumi. "Pokoknya jangan kerja terlalu keras. Kalau butuh uang bilang saja, jangan malah maksa kerja sampai tepar."

"Iya iya Tou-san," Megumi menyandarkan kepala nya ke pundak Gojo untuk beberapa saat.

Keduanya lanjut mengobrol sampai hari berubah sore. Megumi bangkit untuk ke balkon. Awalnya Gojo tak ikut, tapi ia penasaran dengan apa yang Megumi lakukan, jadi ia pun menyusul ke balkon.

"Heee," ucap Gojo saat melihat Megumi yang tengah menyirami tanaman. Ada beberapa tanaman dalam pot di sana. Tomat, cabai, bahkan jeruk.

"Habis balkon nya luas. Jadi ingin coba-coba," ucap Megumi. "Buat iseng saja. Kalau tanaman kan nggak kayak hewan yang harus dikasih makan tepat waktu, diajak jalan-jalan, dimandiin, grooming. Aku cukup menyirami dan memberikan pupuk, selesai."

"Haha kalau gagal panen bagaimana?"

"Ya nggak papa. Memang buat iseng saja kok. Kalau berbuah ya kumakan, kalau nggak berbuah ya kurawat saja selama belum mati."

Gojo tertawa pelan mendemgar itu. Ia menatap langit yang berwarna jingga, matanya menerawangan kosong ke udara. "Megumi..." panggilnya kemudian. "...aku menginap ya."

"..." Megumi melirik sesaat lalu kembali melanjutkan menyiram tanaman. "Iya," jawabnya, meletakkan pot air ke pojokan balkon. "Ya sudah, ayo ke konbini."

"Huh? Ngapain?"

"Belanja lah. Memangnya kau mau pakai celana dalam yang sedang kau pakai lagi nanti setelah mandi?"

Gojo tertawa lalu mengikuti langkah Megumi.

"Pasti kebiasaan ya cuma membalik yang luar jadi di dalam biar nggak banyak cucian."

"Yeee enak aja. Nggak lah."

Merekapun meninggalkan apartment.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra