Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak juga buat Frigg Nevia07, kokorocchi dan emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
"Megumi, celana longgarmu nggak ada," teriak Gojo sambil membuka lemari.
"Ada kok, di lemari yang kiri itu loh," balas Megumi dari kamar mandi.
"Hng..." Gojo membuka lemari sebelah kiri lalu menemukan apa yang ia cari. Ia pun memakai celana milik Megumi. Kaos yang ia pakai juga kaos milik Megumi, sementara pakaiannya sudah masuk ke laundry untuk dibersihkan.
"Ketemu?" tanya Megumi setelah keluar dari kamar mandi.
Gojo mengangguk. "Hey, kau tambah besar loh. Pakaianmu lumayan ngepas buatku," komentar Gojo.
"Ya itu kan all-size, memang muat sampai XL," Megumi menghampiri lemari untuk berpakaian.
"Hmm...yakin?" Gojo berdiri di dekat Megumi, menggunakan tangannya untuk menyentuh atas kepala Megumi seperti mengukur tinggi. Tinggi Megumi sekarang sudah sekitar setinggi mulut Gojo. "Waktu liburan di cottage pas ke aquarium aku masih bisa menaruh dagu ku dengan mudah di atas kepalamu loh."
"Hee, iya kah," Megumi menyeringai. "Mungkin aku bisa menyaingi tinggi badanmu nanti, Tou-san. Di usiaku sekarang kayaknya masih bisa tambah tinggi deh."
Gojo ikutan nyengir. "Mungkin saja. Soalnya dulu Toji-san juga lebih tinggi dariku."
"Tapi waktu itu kau masih SMU. Tentu saja dia lebih tinggi. Totalnya dia berapa cm sih?" Megumi menyelesaikan memakai pakaiannya.
"Hmm...kalau sama pintu sekitar segitu. Mungkin 183cm kali ya. Atau 185. Ntahlah."
"Nah kan. Kau saja sekarang 190."
"Ya siapa tahu kan kau bakal lebih tinggi," Gojo mengurung kepala Megumi dengan jemari-jemari kurus tangannya.
"Heh, sekarang malah jadi tambah tak yakin setelah mendengar ucapanmu tadi. Ditambah, Kaa-san katamu mungil. Aku ada gen dari dia juga kan."
"Iya, dulu dia setinggi dada Toji-san loh. Mungil sekali kalau berjejer dengan Toji-san, apalagi Toji-san kekar banget kan. Hahaha," tawa Gojo. Ia menatap wajah Megumi lalu menjewer pipinya. "Tapi kurasa kau dapat gen cantiknya kalau dari Kaa-san mu. Wajahmu mirip dengannya—campuran sih sama wajah Toji-san, tapi gesture halusmu mirip dia. Bulu matamu juga. Bulu matamu lentik banget."
"Say someone yang bulu matanya setara sama eyelash extension," sindir Megumi. Gojo hanya tertawa keras meresponnya. Setelah itu mereka pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Megumi ikut membantu saat itu. Ia yang memotong-motong bahan makanannya. Ia menoleh saat melihat ponsel Gojo yang tergeletak di meja layarnya menyala dan menunjukkan battery low.
"Tou-san, HP mu lowbat loh," ucap Megumi.
"Biarin lah, aku nggak bawa charger," jawab Gojo tanpa menoleh.
"Kan aku ada. Biar ku charge du—..."
"Nggak usah. Biarkan aja."
"..." Megumi tak membalas lagi, ia kembali meletakkan ponsel Gojo dan lanjut memotong bahan makanan.
.
Seusai makan malam mereka kembali nonton TV di ruang tengah. Kalau malam acaranya lumayan bagus di stasiun TV tertentu. Kali itu mereka menonton film action-comedy yang lumayan seru.
Meski film nya seru, sesekali Megumi mendapati Gojo melamun, seolah menatap kosong ke layar TV di hadapan mereka.
Film berakhir pukul 11. Mereka pun menggeliat bangun dan bersiap tidur.
"Kau nggak lembur nugas?" tanya Gojo sambil merenggangkan otot. "Biasanya mahasiswa tak pernah tidur cepat."
"Nggak ah, males. Besok masih Minggu juga," ucap Megumi sambil berjalan menuju kamar yang satu, bukan kamar tidurnya.
"..." Gojo terdiam. Apa Megumi menyiapkan kamar untuknya?
Tak berapa lama Megumi keluar dari kamar itu, ia menatap ekspresi Gojo yang seperti anak anjing terbuang. "Aku hanya mengambil sesuatu," Megumi menunjukkan bantal guling yang baru diambilnya. "Kita tidur sekamar kan?"
Barulah Gojo mengangguk sambil tersenyum seperti anak anjing yang mau dibawa jalan-jalan. Megumi hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil. Mereka kembali le kamar Megumi setelahnya, gosok gigi, cuci muka, lalu naik ke ranjang.
"Oyasumi, Tou-san," ucap Megumi.
"Oyasumi, Megumi," balas Gojo. Mereka tidur saling memunggungi sambil memeluk bantal guling masing-masing. Megumi sudah mulai terlelap saat merasakan Gojo bergerak lalu memeluknya, menyamankan kepala di belakang Megumi. Megumi sempat membuka mata sedikit tapi akhirnya memejam lagi, membiarkan saja Gojo memeluknya. Ia sempat menepuk-nepuk pelan tangan Gojo sebelum memegangnya dan melanjutkan tidur.
.
.
"Serius sampai stasiun doang?" tanya Megumi sambil memakai sarung tangan motor nya. "Aku nggak masalah loh antar sampai rumah. Pakai motor kan cepat."
"Nggak usah, sampai stasiun aja. Aku naik kereta kayak kemarin," Gojo menenteng dua helm untuknya dan Megumi.
Megumi menghela nafas lalu meng iya kan. Mereka pun turun ke parkiran dan pergi menuju stasiun.
"Ja~ Megumi~" Gojo melambai saat kereta yang akan ia naiki tiba.
"Ja matta," balas Megumi singkat. Ia menunggu sampai kereta yang Gojo naiki pergi, baru ia kembali ke parkiran.
Gojo menatap jam di atas pintu gerbong. Mengira-ngira kapan ia akan sampai rumah. "Mungkin jam 4 sudah sampai kali ya," gumamnya pelan. Ia lanjut menatap pemandangan di luar jendela.
Setelah tiba di stasiun tujuan, Gojo berjalan menuju pangkalan taxi. Ia naik taxi karena tak bisa pesan transportasi online dengan HP yang mati. Gojo pun naik ke taxi itu menuju rumahnya. Dalam hati ia berharap Sukuna sudah tidak ada di sana. Ini sudah Minggu sore. Sukuna bilang menyempatkan pulang Sabtu, lalu Minggu pagi akan berangkat lagi. Jadi ia rasa sekarang Sukuna tak ada lagi di rumah.
Taxi berhenti di depan rumah Gojo. Setelah membayar driver itu, ia melangkah masuk ke rumahnya. Suasana hening. Ia sedikit lega karena itu. Ia mulai menyalakan lampu rumah meski di luar masih cukup terang. Gojo berjalan menuju dapur untuk minum. Saat membuka kulkas ia melihat donat yang dibelinya kemarin ada di sana. Dua box malah, dengan donat milik Sukuna juga. Gojo berniat mengambil donat itu dan memakannya untuk menenangkan diri, tapi ia berhenti saat mendengar suara seseorang.
"Dari mana saja kau?" suara Sukuna.
Gojo menghela nafas lelah lalu menutup kulkas, tak jadi mengambil donat itu. Ia berbalik, Sukuna ada di belakangnya dengan tangan terlipat di depan dada.
"Belum balik kau," tanya Gojo lirih sambil berlalu melewati tubuh Sukuna. Ia berjalan cepat menuju tangga.
"Satoru!" kejar Sukuna. "Hei!"
Gojo tak merespon, tak memelankan langkahnya juga. Ia langsung menuju kamar. Tapi saat hampir membuka pintu, Sukuna berhasil mengejarnya, mencekal tangannya.
"Kau apa-apaan sih! Padahal aku sudah sempatkan waktu untuk pulang, tapi kau malah marah-marah! Malah kabur!" omel Sukuna.
Gojo menyentak lepas tangan Sukuna dengan kasar. "Luangkan saja waktu untuk Utahime. Kau juga lebih suka hang out dengannya kan daripada denganku!"
"Huh! Kau gila. Aku meluangkan waktu untukmu! Kau yang memintaku datang dan aku menuruti kemauanmu!" Sukuna menunjuk dada Gojo.
"Iya tapi sama Utahime juga kan! Sejak kau kenal dia, kapan sih kau pulang ke sini nggak nanyain dia dan ngajak dia pergi bareng?! Kemarin aku hanya mengajakmu saja, aku ingin pergi berdua denganmu, menghabiskan waktu denganmu! Tapi kau tanya soal Utahime lagi Utahime lagi! Nggak bisa kalau nggak sama Utahime? Udah nggak suka hang out berdua sama aku doang?!"
"Bukan begitu! Aku hanya—..." jawaban Sukuna teecekat di tenggorokan. Ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan pemikirannya yang begitu rumit.
"Aargh, terserah lah!" ucap Gojo murka. Ia menanti penjelasan, tapi yang ia dapat hanya kebisuan. Itu berarti Sukuna membenarkan ucapannya tadi kan? Gojo pun masuk ke kamar dan membanting pintu. Ia yang seumur-umur tak pernah mengunci pintu, kini terdengar bunyi kunci tertutup dari dalam pintu kamar.
Sukuna mematung di depan pintu kamar Gojo tapi tak berani mengetuk. Ia hanya menundukkan kepala nya di daun pintu. Bagaimana menjelaskannya...pikiran Sukuna kalut.
.
Gojo mengurung diri di kamar. Ia menge charge ponsel nya tapi masih belum menyalakan benda itu. Hingga sekitar pukul 7, ia mendengar suara mobil menjauh dari rumahnya. Sepertinya Sukuna sudah pergi. Gojo menghela nafas lelah, ia berbaring di ranjang menatap langit-langit, ia letakkan tangannya di dahi. Ia benci bertengkar dengan Sukuna, tapi rasanya ia marah saja dengan keadaan yang ada.
Mungkin sejak awal tidak seharusnya ia mempertemukan Sukuna dengan Utahime. Membiarkan saja Sukuna cemburu dan ia cukup menjelaskan. Atau lebih baik lagi, seharusnya ia tak pernah mengundang Utahime ke rumahnya. Ia bisa menginap di hotel malam itu. Tak peduli jika harus telat masuk karena harus pulang dulu ke rumah saat hari sudah terang.
Tapi waktu tak bisa diputar kembali, dan ia bukannya benci juga mereka berdua akrab. Ia hanya ingin meminta sedikit waktu Sukuna untuk bersamanya. Hanya berdua saja. Sejauh ini ia sudah terus menurut saja untuk hang out bertiga. Jadi sesekali ia ingin pergi berdua saja dengan Sukuna, kencan. Tapi lagi-lagi Sukuna menanyakan tentang Utahime. Harus banget kah hang out ada dia?
Gojo meninju keras kasurnya karena kesal. Meski yang ada tangannya hanya memantul di benda empuk itu.
Gojo memutuskan untuk bangun karena perutnya lapar. Memang sudah mendekati jam makan malam sih. Ia menghampiri pintu kamar tapi berhenti saat mengingat sesuatu. Tadi dia baru sempat menyalakan lampu bawah saja, juga bagian depan. Dia belum menyalakan lampu-lampu di atas.
Dengan jantung berdebar Gojo membuka pintu pelan-pelan, mengintip dari celah pintu. Ia sudah bersiap-siap kalau keadaan luar gelap, tapi ia tak menyangka saat melihat lorong rumah terang. Ia pun berani keluar kamar. Ia menatap sekeliling, semua lampu sudah menyala. Termasuk lampu lamar lain, juga lampu balkon. Gojo turun ke lantai satu. Lampu di tangga juga menyala. Ia menuju arah dapur, melongok ruang belakang yang tadi belum ia nyalakan lampunya. Tapi kini suasana terang. Lampu lorong, lampu kamar, beranda samping, beranda belakang, semuanya juga sudah menyala.
Gojo menggigit bibir bawahnya merasakan dadanya sesak. Sukuna tetap melakukan semua itu untuknya meski sedang marah. Gojo berjongkok menundukkan kepala di meja dapur.
"Sukuna...aku nggak mau kita marahan. Aku hanya ingin perhatian darimu," rengek Gojo.
.
~OoooOoooO~
.
"Otsukaresama..." suara pekerja mengucapkan kalimat itu setelah jam kerja usai. Sukuna juga melangkah pergi dari sana. Kali itu ia mengawasi sampai malam karena ada bagian mendetail dari pembangunan yang diminta khusus oleh client. Jadilah Sukuna ikut lembur juga. Tapi karena tak sengebut seperti saat membangun kuil, jam kerja malam selesai pukul 9. Tidak selarut saat di kuil.
Sukuna kali itu bersama Mahito. Mereka berjalan menuju mobil.
"Geh, tapi seriusan. Client kali ini cerewet banget ya harus kau yang turun tangan," ucap Mahito. "Dia juga sering banget ke site pembangunan untuk menemuimu. Biasanya client kan hanya datang sesekali saja. Dia itu lagi merayumu jadi menantunya atau apa."
"Yeah, mungkin saja," balas Sukuna malas sambil memasuki mobil. Ia melemparkan kunci mobil ke Mahito karena sedang malas nyetir.
"Heee. Iya juga ya. Uraume bilang makan malam waktu itu kau dicomblangkan dengan anaknya ya. Pantas saja dia terus sok akrab denganmu," Mahito menyalakan mobil dan menekan pedal gas. Sukuna memasang sabuk pengaman, ia tahu kalau Mahito yang menyetir itu seperti orang cari mati. Tapi Sukuna benar-benar sedang malas, jadi dia pasrah saja.
Meski ugal-ugalan, mereka berhasil sampai apartment dengan selamat. Sukuna berjalan menuju apartment sambil memainkan HP. Ada chat masuk, sayangnya bukan dari Gojo. Sukuna menghela nafas lelah menatap chat Gojo yang hening semenjak hari itu. Chat yang barusan masuk adalah dari Lily. Setelah sekian lama Sukuna tak pernah memulai chat duluan, akhirnya perempuan itu mengirim chat duluan ke Sukuna.
'Selamat malam Sukuna-san, ini aku Lily.'
Sukuna hanya me read chat itu dan menyakukan ponselnya. Ia masuk ke apartment untuk mandi. Saat ia berganti pakaian, Mahito menggedor dari luar.
"Sukuna-sama~ kami beli pizza. Kalau mau ke kamar Uraume," teriak Mahito.
"Ya," jawab Sukuna singkat. Ia segera berpakaian dan menuju kamar Uraume. Mahito seenaknya gegulingan di ranjang Uraume sambil makan pizza dan main game di HP, sementara Uraume makan dengan normal di meja makan. Sukuna duduk di kursi yang berseberangan dengan Uraume dan menggigit sepotong pizza. Mereka makan dalam diam, hanya terdengar Mahito yang sesekali mengumpat karena game. Uraume memperhatikan Sukuna yang sering menatap kosong.
"Akhir-akhir ini Anda sering melamun," ucap Uraume.
"Iya kah," Sukuna menopang dagu nya.
"Ada masalah dengan hubunganmu dengan Satoru-san?"
"Uhuk...!" Sukuna langsung tersedak. Uraume menyodorkan minum, dan Sukuna pun minum untuk menenangkan diri. "Kau...tahu soal hubunganku dengannya?" tanya Sukuna setelah tenang. Soalnya ia tak pernah cerita apapun pada Uraume kalau ia punya pacar.
Uraume mengedikkan bahu dan menggigit pizza nya. "Ya kalau dilihat dari sikap Anda, saya kurang lebih bisa menebak ada sesuatu di antara kalian," balas Uraume. "Hei, tenanglah. Saya bukan sedang men judge atau apa."
Sukuna menghela nafas panjang. Ia meletakkan pizza nya yang tinggal setengah, ia bersandar ke sandaran kursi, menatap lelah.
"Ya aku sedang ada masalah dengannya," ucap Sukuna pada akhirnya. "Dia disukai seorang wanita. Wanita yang baik," Sukuna mengusap wajahnya sampai ke kepala.
"Satoru-san minta putus dengan Anda?" tanya Uraume, kembali menggigit pizza nya.
"Bukan begitu. Hanya saja...aku kepikiran bagaimana kalau suatu saat Satoru menginginkan keluarga, wanita itu bisa memberikan itu padanya, sedangkan aku tidak."
Uraume menelengkan kepalanya bingung. "Tapi Satoru-san tidak meminta putus dengan Anda kan?"
"Ya...enggak sih. Aku kan sedang bicara soal kemungkinan di masa yang akan datang."
"Kalau Anda mempertimbangkan hal itu...apa berarti anda juga mempertimbangkan mau menikah dengan puteri Kurosaki-sama? Well, tidak harus dia sih. Maksud saya, dengan wanita."
"Aku...tidak tahu. Aku merasa tidak minat sih. Chat darinya saja kuabaikan," Sukuna menopang dagu nya, kembali makan potongan pizza yang masih setengah.
"Berarti...pertimbangan masa depan Anda soal Satoru-san juga hanya perasaan Anda saja ya? Belum membicarakan langsung dengannya?"
"..." Sukuna berhenti mengunyah. "...maksudmu...?"
"Ya...aku hanya berpikir, bagaimana kalau pemikiran Satoru-san sama seperti Anda. Tidak minat untuk menikah dengan wanita lain. Habisnya...yang menyukai Satoru-san wanita nya kan, bukan Satoru-san yang menyukai wanita itu. Satoru-san masih mau menjalani hubungan dengan Anda. Tuh dia tidak meminta untuk putus."
Sukuna mengunyah pelan makanannya, matanya terarah entah ke mana. Pikirannya mengingat saat Gojo marah-marah waktu itu. Dia marah juga karena ia ingin kencan dengan Sukuna, tapi Sukuna malah menanyakan Utahime. Well, waktu itu Sukuna berpikiran ingin mendekatkan Gojo dengan Utahime sih, tapi kalau ternyata Gojo tak suka...?
Deg...
Rasanya Sukuna baru sadar dengan kebodohannya.
"Yeah, kalau menurut saya, lebih baik kalian bicara dulu deh. Bertemu langsung, bicara tatap muka. Biar Anda juga tak hanya memikirkan sendiri soal masa depan masing-masing. Yang ada malah jadi salah paham dan bikin ruet."
"..." Sukuna melanjutkan makan. "Yeah..." ujarnya lirih.
.
~OoooOoooO~
.
Gojo baru selesai mengajar saat Utahime menghampirinya di kelas. Murid-murid sudah pergi dari kelas itu, tinggal Gojo yang memberesi laptop serta modul nya.
"Satoru-sensei," panggil Utahime. "Mau makan malam bareng hari ini?" tanyanya.
Gojo hanya tersenyum singkat, lanjut memberesi barang-barang. "Sukuna lagi nggak di rumah loh," ucapnya.
"Ya...nggak papa. Berdua saja."
"Hmm..." Gojo tampak berpikir, alasan apa yang bisa ia gunakan untuk menolak. "Aku sedang banyak kerjaan nih. Mungkin bakal pesan delivery dan makan di ruang kerjaku," ucap Gojo.
"Ooh, ya sudah. Mau tentukan waktu untuk makan malam berdua?"
Gojo menatap Utahime, membaca gelagatnya. Apa Utahime mau menyatakan cinta? Kenapa dia bersikeras ingin bertemu berdua? Soalnya biasanya Gojo memberikan alasan pasti sudah cukup untuknya memahami kalau Gojo sedang enggan. Tapi kali ini ia bersikeras ingin bertemu berdua, bahkan sampai mengusulkan untuk membuat rencana.
"Hmm...kapan ya," Gojo tampak berpikir. Ia menoleh saat ponselnya bergetar halus. Ia tersenyum tipis melihat layar ponselnya lalu tampak berpikir. Ia meletakkan ponsel itu, beralih menatap Utahime.
"Malam Minggu gimana?" Gojo menawarkan.
Wajah Utahime berubah cerah. "Oke," jawabnya singkat.
"Oke, malam Minggu ya. Nanti aku yang reservasi restaurant nya nggak papa," tambah Gojo.
.
~OoooOoooO~
.
Malam Minggu yang dinantikan pun tiba. Utahime mematut diri di cermin, ia memakai pakaian terbaik yang ia miliki. Sebuah gaun maroon elegant dan tas tangan warna senada, ia juga menata rambutnya lebih cantik.
"Oke Utahime, kau bisa," ia bicara pada diri sendiri. Ia meraih ponselnya dan membuka chat masuk dari Gojo. "Huh?!" ia menaikkan sebelah alis saat Gojo malah share lokasi. Jadi dia tidak menjemput?
Utahime menghela nafas lelah dan akhirnya memilih naik taxi ke restaurant tersebut.
'Masuk duluan saja, bilang reservasi atas nama Gojo Satoru. Aku masih di perjalanan nih,' chat Gojo. Utahime pun menurut. Ia ditunjukkan tempatnya oleh pegawai restaurant.
Utahime takjub melihat tempat yang dipilih Gojo. Sebuah gazebo terbuka yang berada di tengah taman. Jalan menuju gazebo itu dihiasi lampu-lampu bernuansa orange lembut, indah sekali. Taman-tamannya juga terdapat banyak tanaman lampu hias yang menawan. Utahime menuju gazebo itu, kursi-kursi nya kosong, tak ada pengunjung lain. Apa Gojo mereservasi tempat itu khusus untuk mereka sendiri? Utahime tersenyum karena itu. Ia pun menuju gazebo dan duduk di salah satu kursi, menanti Gojo dan kejutan berikutnya.
Tak berapa lama Utahime mendengar seperti ada pelayan yang mempersilahkan tamu, dan itu mengarah ke tempatnya. Dengan berdebar Utahime menunggu siapa yang datang, ia tersenyum menantikannya. Tapi senyum itu segera reda saat melihat Sukuna lah yang muncul bersama pelayan restaurant. Sukuna juga sama terkejutnya saat melihat Utahime.
"Sudah sampai sini saja," Sukuna mempersilahkan pelayan itu pergi. Sukuna pun menghampiri Utahime. "Satoru?" tanyanya. Utahime mengangguk. "Tch! Si brengsek itu," Sukuna menarik kursi dan duduk di hadapan Utahime. Ia lalu mengambil HP dan menelfon nomor Gojo. "Kau di mana bangsat?!" tanya Sukuna begitu telefon diangkat, bahkan sebelum Gojo mengucap salam.
"Aku masih di perjalanan. Mungkin 10 menit lagi sampai. Banyak lampu merah nih," ucap Gojo. Sukuna dan Utahime saling tatap. Setidaknya Gojo bukan hanya menjebak mereka berdua untuk bertemu. Sukuna pun mematikan telefon tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia menghela nafas lelah, menopang dagu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Hanya keheningan mengisi ruang antar keduanya.
"Jadi...Satoru-sensei juga mengajakmu makan malam eh," ucap Utahime berusaha mengobrol. Soalnya awkward sekali mereka saling diam.
"Aku yang ajak. Tapi dia tidak menyebutkan akan mengajakmu juga," balas Sukuna.
"Ooh," Utahime membuang pandangan. "Kalian sering makan malam berdua?"
"Yeah. Tapi akhir-akhir ini jarang karena kita pergi bertiga terus," kini sepertinya Sukuna sedikit mengerti perasaan Gojo waktu itu. "Padahal tadinya aku ingin bicara serius dengannya malam ini. Khh..."
"Hee. Maaf deh, aku nggak tahu. Tadinya aku juga mau bicara serius dengan Satoru-sensei. Aku tidak menyangka dia mengundangmu juga."
Sukuna melirik tajam ke Utahime. Bicara serius? Sukuna bisa menduga ke mana arah pembicaraan itu.
Tak berapa lama terdengar kembali pelayan mempersilahkan tamu. Baik Sukuna maupun Utahime menatap ke arah pintu masuk. Mereka mengernyit saat mendengar suara orang lebih dari satu, dan Sukuna mengenali suaranya.
"Woaah bagus banget. Kayak candle...candle...light dinner. Ya kan," suara Yuuji.
"Iya dong. Bagus kan bagus kan," sahut Gojo. Tak lama kemudian ia muncul bersama Yuuji dan Megumi. "Ommatashee~..." sapa nya riang pada Utahime dan Sukuna.
"Nii-san, gimana? Aku keren nggak pakai jaz?" Yuuji berlari mendekat. "Ini pertama kali nya aku datang ke makan malam pakai pakaian resmi. Aku jadi deg-deg an," Yuuji menatap ke arah Utahime. "O-oh, hai...uhm..." sepertinya Gojo belum cerita soal Utahime.
"Yo minna-san, biar kuperkenalkan. Yuuji, Megumi, Sukuna, ini Utahime-sensei, rekan kerja ku di kampus. Utahime-sensei, ini Yuuji adiknya Sukuna. Dan ini Megumi putera ku," Gojo memperkenalkan.
"Domo," Megumi memberi salam. Yuuji hanya melambaikan tangan.
"Sa, duduk duduk. Kita pesan makan malamnya," ucap Gojo. Mereka lalu memilih menu dan memesan makanan.
"Eh, ini harus menerapkan table manner nggak?" ucap Yuuji saat mau mulai makan.
"Hahaha nggak usah Yuuji, makan sesukamu saja," balas Gojo.
"Aaah yokatta. Pernah baca soal table manner tapi sudah lupa. Thehe."
Mereka pun makan sambil mengobrol sesekali. Kebanyakan mengenai kuliah Yuuji dan Megumi. Sesekali mengobrol soal film atau hal random lainnya yang tiba-tiba terbawa topik.
"Yuuji mau coba?" Gojo menawarkan saat ia minum minuman beralcohol.
"Hoi, mereka belum legal," omel Utahime.
"Iya sih, tapi mereka sudah kuliah kan. Siapa tahu mau coba-coba," cengir Gojo.
"Hng..." Yuuji tampak ragu. Tapi malah Megumi duluan yang meraih gelas Gojo. "Aaak, Megumi."
"Tou-san ku sendiri yang menawarkan, aku harus izin pada siapa lagi?" seringai Megumi sementara Gojo terkekeh.
"Iya, coba saja sedikit. Daripada penasaran kan," cengir Gojo.
Megumi menatap minuman di tangannya, lalu menyecap minuman itu sedikit. Ia langsung mengerutkan muka saat minuman itu menyentuh lidahnya, ia mengecap beberapa kali.
"Bagaimana?" tanya Yuuji penasaran.
Megumi bergidik. "Aneh," komentarnya singkat tapi lalu menyecap lagi minuman itu sampai tak tersisa.
"Buset, bisa habis dong," seringai Sukuna menatap itu.
"Aaah aku juga pengin dong. Ya ya ya," ia merayu Sukuna, meminta izin.
"Sedikit saja tapi," Sukuna menghela nafas lelah.
"Ehehe," Gojo meraih gelas tadi lalu menuangkan porsi yang sama seperti untuk Megumi tadi, lalu memberikannya pada Yuuji.
"Hngg..." Yuuji memandang sesaat minuman itu. Lalu menenggaknya habis dalam sekali minum.
"Woooohhhh," Gojo, Megumi dan Sukuna bersorak, Gojo bahkan bertepuk tangan beberapa kali.
"Ggaaah, mazui," Yuuji menjulurkan lidahnya. "kenhafa khasanya ankeh vegini."
Yang lain hanya menertawakan. Kecuali Utahime yang menopang dagu. "Pengajar katanya. Role model katanya," sindirnya pada Gojo. Gojo hanya nyengir gaje.
Mereka menghabiskan waktu di sana sampai pukul 10 malam.
"Bisa jalan nggak?" tanya Gojo.
"Aargh, aku sedikit pusing," ucap Yuuji. Megumi juga tampak menggeleng beberapa kali.
"Haha, ya sudah sini aku papah. Eh, kalian menginap di rumahku saja. Rame-rame sekalian," Gojo menyarankan. "Utahime-sensei juga, biar satu mobil sekalian."
Sukuna bungkam, Utahime juga diam seribu bahasa.
"Iya, besok kan minggu, lib...ur...bwaah," ucapan Yuuji sedikit tidak jelas.
"Aku..." Utahime belum memutuskan.
"Nggak papa. Kan rame-rame, bukan berduaan doang."
"...baiklah," akhirnya Utahime pun meng iya kan.
Mereka pulang dalam satu mobil. Sukuna sengaja tak bawa mobil karena ia pikir pulangnya akan ke rumah Gojo menggunakan mobil dia, dan well...memang benar sih, hanya saja situasinya berbeda dari yang ia bayangkan.
Megumi dan Yuuji berada di kursi tengah, Yuuji tampak lumayan teler sementara Megumi tampak lebih tenang meski sesekali memijit kepala nya. Sukuna berada di kursi belakang bersama Utahime karena tak enak meninggalkannya sendirian di belakang, dan yang jelas dia takkan membiarkan Utahime malah duduk di kursi depan berdua dengan Gojo.
Mobil berhenti di garasi rumah, Gojo turun pertama dari sana.
"Megumi, kau bisa jalan?" tanya Gojo.
Megumi mengangguk. Ia membuka pintu mobil, ia sempat terhuyung, Gojo memapahnya langsung. "Tunggu sebentar oke," ia menyandarkan Megumi ke mobil. "Yuuji, ayo," ia membantu Yuuji turun, sepertinya Yuuji lebih teler dari Megumi. Setelah kedua bocah itu turun barulah Sukuna dan Utahime bisa keluar.
"Kau papah Yuuji ya," Gojo menyerahkan Yuuji pada Sukuna, sementara ia memapah Megumi. "Ayo Utahime-sensei," ia mengajak mereka memasuki rumah. "Utahime-sensei tunggu sebentar ya, biar kusiapkan kamar. Di lantai 1 nggak papa kan?"
"...yeah," balas Utahime. Ia pun memutuskan menunggu di ruang tengah sementara Gojo dan Sukuna mengantar bocah-bocah itu ke kamar Megumi.
"Kau urus mereka ya, aku siapkan kamar untuk Utahime-sensei dulu," ucap Gojo merujuk pada Yuuji yang masih memakai suit, dan Megumi juga sepertinya tak sepenuhnya sadar meski terlihat tenang. Sukuna menghela nafas lelah dan mengangguk.
Gojo pun turun ke lantai satu, menyiapkan kamar untuk Utahime. Well, yang dimaksud menyiapkan kamar hanya menaruh sandal kamar dan beberapa peralatan kamar mandi seperti handuk dan pasta gigi, juga sikat gigi baru tentunya. Dia selalu punya stok. Sisanya kamar memang sudah selalu rapi dan dibersihkan rutin, jadi sudah siap pakai.
Utahime memasuki kamar saat Gojo menaruh barang-barang itu di pojokan ranjang. Ia melipat tangannya di depan dada, bersandar ke tembok dekat pintu.
"Aku tidak mengerti dengan perilakumu akhir-akhir ini. Saat ke toko donat, dan makan malam ini," ucap Utahime.
Gojo yang bersiap pergi melangkah menuju pintu, tapi berhenti untuk menjawab ucapan Utahime. "Tidak mengerti bagaimana? Waktu di toko donat aku bilang aku ada urusan dengan seseorang kan, jadi aku harus pergi. Dan makan malam tadi kupikir menyenangkan."
Utahime menghela nafas lelah. "Ano na, kau tidak bilang makan malamnya bukan hanya denganku. Tadi itu aku mengundangmu makan malam karena ingin bicara berdua saja denganmu!"
Gojo tersenyum. "Bicara apa?"
"..." Utahime bungkam. Rasanya aneh saja kalau di situasi sekarang menyatakan perasaan.
"Kan sekarang kita juga hanya berdua. Kau ingin mengatakan sesuatu?" tambah Gojo. Utahime hanya menajamkan alisnya. Gojo pun mengedikkan bahu dan melangkah pergi. "Oyasumi, Utahime-sensei," ucapnya sembari menutup pintu.
Saat Gojo naik ke kamarnya, Sukuna sudah menanti di depan pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
"Apa maksud semua ini? Kau mau balas dendam padaku?" ucap Sukuna.
"Balas dendam apanya? Karena kupikir lebih ramai lebih seru, lagipula Yuuji dan Megumi sedang libur. Kau nggak suka mereka ikut?" ucap Gojo santai sambil membuka pintu kamar.
"Bukan itu maksudku! Ka—..." ucapan Sukuna terhenti karena Gojo menutup pintu.
"Sukuna sudah punya kamar sendiri yang nggak perlu kusiapkan ya. Oyasumi~" ucap Gojo dari balik pintu, dan lagi-lagi samar terdengar kunci pintu tertutup.
"Sial!" umpat Sukuna. Dia pun memilih kembali ke kamarnya.
.
.
.
~TBC~
.
Ahaha kemaren tidur gasik bet, bangun bangun jam 12 malem XD. Jadi mikir, ah update besok aja deh. Gitu.
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
