Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

A/N : Maap kalo ada komen yang kelewat n ga dibales yak, mungkin kecampur notif ato kelewat pas buka dikira uda dbales, biasanya pas buka tp internet lg busuk, trus pencet back lagi niat kembali nanti, tapi pas kembali bisa lupa XD ato simply kecampur aja sama notif lain macem star sama bookmark, jadi kelewat pas scroll. Tp sebisa mungkin aing bales, soalnya seru aja bisa interaksi sama readers XD

Makasih banyak buat yang udah support ya~ baik lewat komen, like, atau sekedar baca doang. Makasih banyak~

.

.

#Makasih banyak juga buat Frigg Nevia07, emperor it's me and kokorocchi yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Seperti biasa, Gojo bangun pagi meskipun itu hari Minggu. Ia turun ke lantai satu mengenakan pakaian olahraga nya. Ia menuju dapur untuk mengambil air minum terlebih dahulu. Utahime melongok dari pintu kamar dan ikut menuju dapur saat melihat Gojo.

"Ohayou," sapa Gojo lalu menenggak segelas air putih.

"Ohayou," balas Utahime, duduk di salah satu kursi.

"Minum?" Gojo menawarkan. Utahime mengangguk sebagai jawaban, Gojo pun mengambil satu gelas lagi dan menuangkan air untuk Utahime. Dari sudut mata, Gojo melihat Sukuna turun, tapi karena posisi Gojo lumayan membelakangi, ia pura-pura tidak lihat saja. "Nih," Gojo meletakkan gelas itu di hadapan Utahime. "Aku jogging du—..."

"Hey, bisakah kau duduk sebentar? Aku ingin bicara," potong Utahime.

"...oke," Gojo pun menurut. Ia duduk di kursi yang berseberangan dengan Utahime. "Soal semalam kah yang kau bilang ingin bicara berdua saja?" goda Gojo.

Utahime tertawa pelan. "Yeah kurasa," ucapnya. Ia memegang gelas di hadapannya dengan sedikit erat. "Ano sa...aku...mengajakmu makan malam berdua karena aku ingin menyatakan—..."

"Hoahm, kalian sudah bangun? Pagi sekali," ucapan Utahime terpotong saat Sukuna muncul. Senyum tipis tergambar di bibir Gojo meski mereka tak melihatnya.

"Kau juga bangun pagi, tumben," sahut Gojo.

"Entahlah, kurasa jadi terbiasa gara-gara sering dibangunkan alarm mu," Sukuna memeluk Gojo dari belakang, lalu mengecup bibir nya, bahkan sengaja memagut cukup lama bibir Gojo. Ia tahu Utahime terbelalak, tapi Sukuna tak peduli itu. "Kau mau olahraga?"

"Iya, mau ikut?" Gojo juga menggenggam tangan Sukuna yang memeluknya. "Nanti otot mu kendor loh kalau nggak olahraga."

"Olahraga ku di site pembangunan. Ngangkat semen."

"Hahahaha nguli," tawa Gojo.

"Iya nguli. Puas kau?!" Sukuna mencium pipi Gojo, lalu melepasnya dan menuju kulkas mengambil minum. "Tidur nyenyak, Utahime?" ia basa-basi.

"Yeah, nyenyak," balas Utahime dengan tatapan kikuk.

"Aku mau nonton spongebob, ada yang mau ikut?" ucap Sukuna setelah menutup kulkas. Ia memegang segelas susu dingin di tangan.

"Iya, nanti aku nyusul. Spongebob sampai jam 8 masih ada kan," balas Gojo.

"Ya sudah," Sukuna pun pergi dari dapur menuju ruang tengah. Meninggalkan Gojo bersama Utahime.

"Jadi...sampai di mana tadi pembicaraan kita?" ucap Gojo. Di luar samar terdengar suara TV menayangkan spongebob.

"Ehm..." Utahime tampak sedikit gelagapan. "Bill nya, dinner semalam. Siapa tahu kau mau membaginya. Biar aku bayar sebagian, kan aku yang mengajak."

"Ooh, tidak perlu. Lagipula yang banyak makan aku sama anak-anak kok, kau malah makan paling sedikit. Diet ya?"

"Yeah begitulah, jadi cewek itu merepotkan. Makan sedikit saja bisa langsung gendut," Utahime menopang dagunya dan menghela nafas lelah.

"Haha, kedengarannya berat. Ah, kalau sudah tidak ada yang dibicarakan aku pergi jogging ya. Keburu matahari muncul nih."

Utahime mengangguk. Gojo pun pergi dari dapur melewati ruang tengah. Ia tersenyum menatap Sukuna sementara pria itu melirik tajam ke arahnya tapi lalu kembali focus pada TV.

"Pfftt," Gojo tertawa kecil dan melanjutkan keluar rumah untuk jogging.

Cukup lama Sukuna menonton TV dalam diam, hingga Utahime menghampiri nya dengan wajah lesu. Matanya sedikit berair dan hidungnya memerah. Sukuna pura-pura mengabaikan itu.

"Mau nonton spongebob juga," ucap Sukuna.

"Yeah," balas Utahime dengan suara sedikit bendeng. Ia duduk ujung dengan ujung di sofa yang diduduki Sukuna. Lama keduanya terdiam, hanya mendengarkan suara TV yang tak mereka perhatikan. "Sejak kapan...kalian..." tanya Utahime setelah keheningan yang lama.

"Hampir dua tahun," balas Sukuna sedikit berbohong. Well, dia menghitungnya sejak mereka pertama kali melakukan sex, kalau dari tanggal jadian tentu saja belum selama itu.

Utahime tertawa meski setengah terisak. "Andai saja aku memberanikan diri dua tahun lalu, bukannya baru sekarang," ucapnya. Ia tertunduk dengan tangan menyembunyikan wajah, suara isakan pelan terdengar.

Mata Sukuna menyipit. "Ya...kurasa aku hanya sedang beruntung saja. Karena aku juga yakin Satoru menyukaimu. Kalau saja kau yang start duluan mungkin aku yang ada di posisi mu saat ini."

Untuk selanjutnya mereka diam, hanya isakan Utahime yang tersamar suara TV mengisi kesunyian pagi itu. Hingga terdengar suara Yuuji dan Megumi menuruni tangga.

"Astaga, kepalaku masih sakit," ucap Yuuji. "Masa kau biasa saja Megumi?"

"Aku juga sama saja kok," balas Megumi.

"Aku ke kamar dulu," ucap Utahime lirih lalu beranjak menuju kamar sebelum Yuuji dan Megumi mendekat.

"Ohayou," sapa Yuuji dan Megumi.

"Ohayou," balas Sukuna, menatap mereka yang menuju dapur. Sukuna bersandar ke sandaran sofa hingga kepalanya menengadah ke langit-langit. Tatapannya kosong. Ini yang terbaik, batinnya. Rasanya ia teringat kembali pada dirinya dan Gojo dulu saat patah hati karena Megumi dan Yuuji. Tanpa sempat menyatakan cinta mereka patah hati, tanpa orang yang mereka cintai mengetahui, mereka terluka. Tapi kini ia dan Gojo menemukan kebahagiaan masing-masing, lebih baik malah. Sukuna hanya berharap setelah ini Utahime menemukan kebahagiaan yang sama.

Ia tahu Utahime wanita yang baik, meski setelah semua yang terjadi, ia tetap tak membenci Utahime. Semoga Utahime juga tak membencinya dan Gojo setelah ini, dan berharap hubungan mereka akan kembali seperti semula. Meski mungkin butuh waktu.

.

Utahime berniat pulang sebelum Gojo kembali dari jogging, ia belum siap rasanya. Tapi setelah ia berkemas dan pamit singkat pada Sukuna, Gojo kembali.

"Eh, sudah mau pulang? Nggak sarapan bareng dulu?" ucap Gojo.

"Nggak usah. Aku lupa ada laundry yang belum kuambil," Utahime memberi alasan.

"Oh, ya sudah. Megumi di mana? Di atas?" tanya Gojo. Sukuna mengangguk. Gojo lalu teriak pada Megumi. "Megumi, tolong ambilkan kunci mobil."

Utahime gelagapan. "Huh, ah, tidak usah. Aku naik taxi saja atau pesan transport online."

"Halah, santai saja. Aku juga sambil jalan-jalan pagi kok. Gerah juga habis jogging. Ayo," Gojo mengajak keluar. Megumi sudah ada di balkon lalu melemparkan kunci mobil dari sana. "Thanks," ucapnya. Utahime pun tak bisa menolak lagi.

Gojo menyalakan mesin mobil, memanaskannya sebentar lalu mengantar Utahime pulang. Utahime terdiam sesaat setelah mobil berhenti di depan apartment nya.

"...kita...baik-baik saja kan..." ucapnya kemudian.

"...ya. Baik-baik saja," ucap Gojo. "Mungkin sesekali kita bisa hang out bareng bertiga seperti biasanya. Atau berempat kalau kau sudah menemukan yang lain," tambahnya.

Utahime tertawa pelan. "Yea, kedengarannya bagus," Utahime membuka sabuk pengaman, lalu berniat membuka pintu untuk turun.

"Utahime," panggil Gojo sehingga gerakan Utahime terhenti. "...aku minta maaf."

Utahime tersenyum tipis. "Tidak ada yang perlu dimaafkan," ucapnya lalu keluar dari mobil. Ia berjalan dengan kepala tertunduk menuju apartment nya. Gojo masih di sana untuk melihatnya menjauh. Langkah Utahime terhenti, beberapa detik, hingga akhirnya ia berbalik dan berlari kembali ke mobil, memeluk Gojo dan terisak di pelukannya.

Gojo balas memeluk, ia mengusap surai panjang Utahime, mengecup puncak kepala nya lembut.

"Aku mencintaimu brengsek. Aku mencintaimu, hiks..." tangis Utahime.

"Yeah, aku tahu. Memangnya siapa sih orang yang tidak mencintaiku," balas Gojo.

Utahime tertawa pelan di sela tangisnya. "Dasar menyebalkan! Kenapa aku jatuh cinta pada lelaki brengsek sepertimu!" Utahime memukul pelan dada Gojo.

Gojo mempererat pelukannya. "Ya, carilah pria baik-baik, jangan orang brengsek sepertiku," ia mengacak rambut Utahime hingga sedikit berantakan. Ia melepas pelukannya, lalu mengusap air mata di pipi Utahime. Perlahan wajah mereka mendekat, bibir mereka menyatu dan memagut lembut untuk beberapa saat. Mereka sama-sama terpejam menikmati ciuman itu.

Utahime menjauhkan tubuh saat ciuman mereka selesai. Air mata kembali mengalir tapi ia segera menyekanya. "Sampai jumpa hari Senin, Satoru-sensei," ia mencoba tersenyum.

"Sampai jumpa hari Senin, Utahime-sensei. Jangan lupa laporan seminar minggu lalu, harus ada di meja ku sebelum pukul 8," balas Gojo.

Utahime tertawa dan dan menggeleng pelan. Ia keluar dari mobil, menutup pintunya. Setelah berjalan beberapa langkah ia memutar tubuh dan berkata. "Akan kubuat kau menyesal telah menolakku, Satoru," cengirnya sambil berjalan mundur.

"Hei, aku takkan menyesal memilih Sukuna. Tapi ya, mungkin kau bisa membuatku menyesal kenapa aku tidak menjadikan kalian berdua sebagai pacarku saja."

Utahime mengacungkan jari tengah, Gojo tertawa melihatnya. Setelah itu Utahime memutar tubuh dan berjalan memasuki apartment dengan langkah yang ringan. Gojo pun menyetir kembali menuju rumahnya.

.

Saat Gojo kembali, Megumi dan Yuuji tampak sedang asyik entah main apa di balkon belakang. Gojo memasuki kamar, berniat mandi dan ganti pakaian. Tapi saat dia masuk, tubuhnya langsung ditarik dan pintu di belakangnya langsung ditutup.

"Sukuna, apa yang—..mmn..." ucapan Gojo terhenti saat Sukuna tiba-tiba menciumnya. Mata Gojo sedikit terbelalak, ia juga melirik ke bawah saat memdengar kunci pintu Sukuna tutup. Sukuna memagut bibir Gojo, tangannya yang sudah bebas beralih mengusap selangkangan Gojo, meremasnya pelan.

Gojo tersenyum, melepas ciuman sesaat. "Ada anak-anak loh," ucapnya.

"Urusai," balas Sukuna dan kembali mencium Gojo. Kali ini tangannya masuk ke dalam celana Gojo, menyentuh penisnya secara langsung. Perlahan penis Gojo pun tegak.

"Ngh...ahh," Gojo melenguh pelan, nafasnya mulai tak teratur. Sukuna perlahan menurunkan tubuhnya, berlutut di hadapan Gojo. Ia lalu menurunkan celana Gojo, menjilat penisnya yang sudah tegak. Ia menjilat pangkal penis Gojo, membiarkan batangnya yang panas menempel di pipi. Sukuna memainkan benda itu dengan tangan, lalu beralih menjilat bagian bawahnya, juga bola kembar Gojo. Ia lalu memasukkan penis Gojo ke mulutnya meski tak semua muat, ia bergerak keluar masuk memanja benda itu.

"Nghh...ahh, hnn," Gojo mencengkeram kepala Sukuna, ia menggigit bibir bawah merasakan kenikmatan. Tanpa sadar pinggulnya mulai bergerak mencari kenikmatan lebih dari mulut Sukuna. "Hngh...ahh, Sukuna..." ia mempercepat gerakannya, ingin klimaks. Tapi Sukuna malah melepas mulutnya dari sana. "Sukuna..." rajuk Gojo.

Sukuna bangkit dan menarik Gojo ke ranjang, mendorongnya hingga terbaring di sana. Sukuna melepas celananya sendiri, kejantanannya sudah tegak. Sukuna naik ke atas paha Gojo, menyatukan penis mereka. Tangannya ia basahi lalu ia gunakan untuk mempersiapkan lubangnya sendiri, sementara penis mereka saling menggesek.

"Ugh..." Gojo kesulitan menahan diri melihat pemandangan itu. Ia mengusap paha Sukuna, meremasnya kuat. "Sukuna cepat..." pintanya.

"Urusai, kau diam saja di sana," ucap Sukuna dengan nafas memburu. Ia mencabut jemarinya dari lubang, lalu menuntun penis Gojo menuju lubangnya. "Ngh..." perlahan ia bergerak turun.

Tangan Gojo menyentuh penis Sukuna, memainkannya, tapi Sukuna menepis tangan itu. "Sudah kubilang kau diam saja," ucapnya. Sukuna mulai bergerak naik turun memanja penis Gojo. Gerakannya perlahan lebih cepat.

"Nnh..." Gojo memejamkan sebelah mata merasakan kenikmatan. Tangannya mencengkeram paha Sukuna karena Sukuna mencegahnya macam-macam.

"Sensei, kau sudah pulang?" teriak Yuuji dari luar. Gojo menoleh ke arah pintu, tapi Sukuna langsung meraih wajah Gojo supaya berpaling.

"Lihat aku, fokus padaku. Aku tidak mau kau melihat ke orang lain," ucap Sukuna tanpa berhenti bergerak.

Gojo tersenyum lalu duduk. "As you wish," ucapnya lalu mencium bibir Sukuna. Tangannya menelusup masuk ke balik kaos Sukuna, meremas dadanya, lalu memilin nipple Sukuna. Ia bisa rasakan lubang Sukuna mencengkeram penisnya kuat. Gojo beralih membaringkan Sukuna dan bergerak liar.

"Aahh...ahh, padahal kubilang...ahh, kau diam saja. Hngn...mnn, ahh...Satoru..."

"Aku mana tahan melihatmu manis begini, sayang. Biar aku memanjamu," balas Gojo, ia menyeringai merasakan lubang Sukuna makin mengerat, mata Sukuna terbelalak dan ia langsung membuang muka dengan pipi memerah. Meski sudah lama pacaran, ia masih seperti itu saat dipanggil sayang. Manis sekali.

Gojo menundukkan tubuhnya untuk mencium Sukuna, tangannya beralih menaut jemari Sukuna dan menekannya ke ranjang. Ia bergerak semakin cepat hingga ia merasa sakit saat Sukuna menggigit lidahnya bersamaan dengan sperma Sukuna yang membuncah keluar.

Nafas Sukuna terengah, ia masih bisa merasakan penis Gojo yang belum mengecil.

"Jangan capek dulu, sayang," Gojo membalik tubuh Sukuna, mengangkat sedikit bokongnya lalu kembali menghujam masuk.

"Ngh...haahh, aahh, hnn, ahhh," Sukuna mencengkeram sprei erat.

Gojo meremas bokong Sukuna hingga memerah, lubangnya juga memerah karena ia terus memasuki dengan brutal. Gojo menyeringai nakal. Ia menyusuri tulang punggung Sukuna hingga ke tulang ekor.

"AA-AHHH..." tubuh Sukuna bergetar halus, lubangnya mengapit erat. Sukuna kembali klimaks. Tapi Gojo tak membiarkannya istirahat. Ia terus bergerak liar, kali ini sambil meremas penis Sukuna yang sudah banjir oleh spermanya sendiri. "Mou—...Satoru...ahhh."

Gojo memperkuat sodokannya saat merasa hampir klimaks. Temponya sedikit memelan, merasakan sperma nya berlomba menuju ujung. "Hng...ahh, hnn, Sukuna," ia memanggil nama itu saat akhirnya klimaks, menumpahkan cairannya di dalam lubang Sukuna.

Mereka berdua terengah. Sukuna kembali terlentang dengan nafas ngos-ngosan. Gojo menatap jam, mungkin seharusnya mereka berhenti dan keluar untuk sarapan bersama Megumi dan Yuuji, tapi Sukuna kembali menarik tangannya.

"Jangan pergi. Jangan bersama yang lain. Kau milikku," racau Sukuna dengan alis bertaut.

Gojo tersenyum lalu mencium Sukuna kembali, menaut lidahnya, mengecup bibir basahnya. Sementara Sukuna memeluk punggung Gojo, kakinya mengunci tubuh Gojo supaya tak menjauh. Perlahan ia merasakan penis Gojo yang menyentuh kulitnya kembali mengeras. Sukuna menuntun benda itu menuju lubangnya, dan Gojo pun mulai bergerak.

.

.

Pada akhirnya menjelang makan siang mereka baru memutuskan untuk berhenti. Takutnya bingung memberi alasan apa nanti pada Yuuji dan Megumi. Gojo berniat menuju kamar mandi tapi Sukuna kembali memeluk dari belakang, lalu mencium bibirnya.

"Katanya udahan," ucap Gojo.

Sukuna hanya diam, menyandarkan kepalanya di pundak Gojo. Gojo menepuk-nepuk pelan kepala Sukuna.

"Kalau kau sesayang ini padaku kenapa juga kau inginnya selalu bertiga bersama Utahime, bukan berduaan saja denganku," Gojo menghela nafas lelah.

"...kupikir kau menyukainya..." balas Sukina setelah beberapa detik diam.

"Terus, kalau aku menyukainya, kau mau melepaskanku begitu saja?"

Sukuna mengeratkan pelukannya. "Nggak mau."

"Ya sudah, kenapa juga malah seperti kau mau mencomblangkanku dengannya."

"Kupikir kau mau punya keluarga bersamanya. Punya anak juga."

"Lah, memangnya denganmu nggak bisa? Kita berempat bukannya sudah seperti keluarga? Aku, kau, Megumi, Yuuji, kita sudah sangat dekat dan seperti keluarga kan. Memangnya kurang apa lagi?"

Mata Sukuna terbelalak, tapi lalu berkaca-kaca. Ia memeluk Gojo erat, menyembunyikan wajahnya di pundak Gojo. "Tau ah!" ucapnya parau.

Gojo tersenyum, menepuk-nepuk pelan tangan Sukuna yang memeluknya.

"Kalau definisi keluarga buatmu harus selalu berhubungan darah, aku tidak tahu ya. Tapi kalau bagiku...keluarga tidak harus ada hubungan darah. Aku lebih menganggap Toji-san dan keluarganya sebagai keluargaku, daripada orang tua ku sendiri yang seperti itu," tatapan Gojo tajam mengingat perlakuan orang tuanya di masa lalu.

Gojo melirik Sukuna yang masih diam memeluknya. Ia merebahkan tubuh ke ranjang supaya pelukan Sukuna terlepas, ia menumpu miring di samping tubuh Sukuna, memencet hidungnya yang sudah memerah. Ia tersenyum menatap mata Sukuna yang sedikit berair.

"Hora, kalau kau ingin anak, bukannya kau sudah merawat Yuuji sejak kecil, lalu membesarkannya sendirian. Kira-kira seperti itu kan rasanya punya anak. Aku juga sudah merawat Megumi sejak kecil, dan melihatnya tumbuh sampai sekarang sudah mulai dewasa. Bukankah itu sudah cukup untuk memberikan rasa sebagai orang tua," Gojo bangkit lalu menarik tangan Sukuna untuk ikut bangun. "Jadi, aku nggak akan terima alasan kalau suatu saat kau meninggalkanku demi menikah dengan wanita karena ingin punya keluarga. Kau butuh alasan lebih untuk meyakinkanku mau kau tinggalkan."

Sukuna tersenyum lalu memeluk Gojo. "Aku mencintaimu," ucapnya.

Mata Gojo terbelalak mendengar itu, ia menatap Sukuna yang menyembunyikan wajah di dadanya. Gojo memegang kepala Sukuna. "Katakan sekali lagi sambil menatap wajahku!"

Wajah Sukuna langsung memerah menyadari apa yang barusan diucapkannya. "Ogah!" sergahnya dan tetap menyembunyikan wajah meski Gojo berusaha menarik kepalanya.

"Sukunaaaa..." rengek Gojo tapi tak ia pedulikan.

.

Gojo selesai mandi lalu gantian dengan Sukuna, soalnya Sukuna berakhir tak mau mandi bareng gara-gara tadi.

"Dasaar," omel Gojo begitu keluar dari kamar mandi dan gantian Sukuna yang masuk. Ia mengeringkan rambut lalu berganti pakaian. Saat ia memakai kaos, ia mendengar ponsel Sukuna berbunyi. Ia melongok layar ponselnya yang menyala, ada sebuah chat masuk dari kontak bernama Lily. Dengan merengut Gojo membuka chat itu. Ia dan Sukuna memang sudah mengetahui lock ponsel masing-masing.

Gojo membaca history chat dari Lily. Tentang senang berkenalan dengan Sukuna, lalu membahas makan malam yang pernah mereka lakukan, semacam itu. Sukuna hanya membalas sesekali dengan jawaban singkat, tapi Lily tampak begitu senang chat dengannya.

Tak berapa lama Sukuna keluar dari kamar mandi. "Ini siapa?!" omel Gojo langsung sambil menunjukkan layar ponsel Sukuna. Sukuna mendekat menatap layar ponsel itu. Lalu dengan ponsel yang masih dipegang Gojo, ia menekan tombol option di kontak Lily dan memilih option block. Setelahnya Sukuna membuka kontak, lalu menghapus nomor Lily dari daftar kontaknya.

"Udah?" tanya Sukuna lalu berlalu pergi sementara Gojo masih mematung. "Ah, baju gantiku di kamar. Chikuso," ucap Sukuna sambil membuka pintu untuk keluar. Gojo tersenyum lebar setelahnya.

"Sukunaaaa," panggilnya riang lalu mengejar langkah kekasihnya itu.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra