Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
Makasih buat yang udah nyempetin review :
# Kenmeng : Chapter 21 : wakwo iyaa Megumi sangad peka. Sasuga Megumi~
Chapter 27 : - iyeeshhh Sukuna so cuuttte~ hehe, belom waktunya Megu sm Uuji tahu
Wakwo kan anime JJK juga update seminggu sekali XD jadi ikut2 an aja wkwkwk
Btw makasih banyak udah read and review ya~
.
#Makasih banyak juga buat Frigg Nevia07, kokorocchi and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
Sukuna mendapatkan projek di tempat yang jauh kali itu. Ia bahkan harus naik pesawat kalau mau mempersingkat waktu.
"Begituah. Jadi...kemungkinan aku benar-benar akan jarang pulang," jelas Sukuna.
"AAAAAAAAAAAHHHHH, nggak mauuu, jangan pergiiiii," lagi-lagi Gojo merengek sambil memeluk Sukuna, melarangnya pergi.
"Geez, mau bagaimana lagi. Ini pekerjaanku," Sukuna menjitak pelan kepala Gojo.
Gojo manyun. "Ya sudah, sampai Uraume datang aku mau nge charge dulu," Gojo memeluk Sukuna seperti bantal guling.
Sukuna hanya menghela nafas. Ia menepuk-nepuk tangan Gojo lalu mengecup pipinya. Mereka cuddling sampai klakson mobil terdengar dari bawah.
"Aku pergi dulu," pamit Sukuna. Meski enggan, Gojo pun mengantar kepergian Sukuna.
Uraume dan Mahito menjemput naik taxi karena mereka mau menuju bandara. Sukuna melambai lalu naik taxi itu. Sampai taxi itu menghilang di jalan yang berbelok barulah Gojo kembali masuk ke rumahnya.
"Sepi lagi," keluhnya menatap keheningan rumah yang ada.
.
~OoooOoooO~
.
Sukuna mendapat projek membangun sebuah pabrik kali itu. Estimasi pengerjaannya sekitar 4 bulan karena memang pabrik besar. Jadi ya, kemungkinan dia akan di sana selama itu. Mungkin kalau bisa menyempatkan pulang, tapi terlalu melelahkan karena perjalanan jauh. Lagi-lagi Sukuna menghela nafas lelah. Lihat kondisi nanti deh, pikirnya.
Selama di sana ia tetap rutin chat dengan Gojo. Meski jadi membuatnya tambah rindu rumah. Tapi kalau tak komunikasi dia malah jadi kepikiran Gojo sedang apa, apa yang terjadi di sana dan lain sebagainya.
'Sukunaaa, kangeeen,' kira-kira itu isi chat rutin Gojo setiap hari. Sukuna menghela nafas.
"Kau pikir kau saja yang kangen, aku juga tauk!" gumam Sukuna pada diri sendiri. Ia masih sedikit gengsi untuk mengatakan rindu, jadi paling dia hanya membalas dengan kalimat, 'aku juga'.
Jam kerja pembangunan kali itu hanya sampai jam 4 sore, kalau lembur pun maksimal hanya sampai jam 6, jadi para pekerjanya bisa santai dan istirahat total di malam hari. Kalau Sukuna sih, dia memang kebanyakan hanya mengawasi atau berurusan dengan pihak kontraktor, jadi jauh lebih santai daripada pekerjanya yang ada di bagian pembangunan.
Hari itu karena gabut Sukuna mengawasi sampai jam kerja usai.
"Otsukaresamaa," para pekerja mengucapkan salam sambil memberesi peralatan. Seorang ketua proyek juga bersiap pergi, ia memyempatkan diri menghampiri Sukuna untuk pamit.
"Sukuna-san, mau ikut tidak? Beberapa dari kami mau njajan nih," cengirnya.
Sukuna mengerutkan sebelah alis. "Njajan?"
"Halah, masa tidak mengerti," ia memberikan ekspresi nakal.
Sukuna baru menangkap apa yang dia maksud. "Oooohh," ucapnya. Ia mengerutkan dahi, menatap ke arah pegawai yang tengah beberes, lalu pada ketua proyek di hadapannya. "Bukannya kebanyakan sudah menikah. Termasuk kau juga," ucap Sukuna.
"Halah, kan hanya njajan. Pekerja seperti mereka kan lebih sering kerja di luar daripada di rumah. Kalau tak pernah njajan mana mungkin kuat. Ditambah, isteri-isteri mereka juga siapa yang tahu apa yang mereka lakukan saat ditinggal suaminya."
Sukuna menyeringai. "Tapi ketua proyek sepertimu kan lebih bebas dari mereka, masih tetap suka njajan meski bisa pulang ketemu isteri?"
"Hahaha, tapi kan jauh. Malas bolak balik, capek di perjalanan. Sukuna-san sendiri pasti punya kekasih atau semacamnya kan. Juga lebih memilih di sini daripada bolak-balik."
"..." Sukuna terdiam sejenak tapi pada akhirnya ia menolak. Ia pun memilih kembali ke apartment bersama Uraume.
"Sukuna-sama, nanti malam kau mau keluar?" tanya Uraume saat Sukuna membuka kunci pintu kamarnya.
"Nggak, kenapa?" balas Sukuna.
"Ah, tidak. Saya hanya ingin pergi ke bar atau diskotek, tapi tidak yakin mau mengajak Anda. Karena sekarang Anda sudah bersama Satoru-san."
"..." Sukuna kembali terdiam. "...mmm," ia tampak berpikir sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tidak ada kegiatan nanti malam. Tapi kalau pergi ke tempat-tempat seperti itu nanti dia pengen. Bisa gawat. "...nggak dulu deh," akhirnya Sukuna memutuskan.
"Baiklah kalau begitu."
Mereka pun memasuki apartment masing-masing.
Sukuna menjalani malam nya seperti biasa. Mandi, memesan makanan, lalu menyalakan TV supaya tak sepi sementara ia berbaring di ranjang sambil memainkan ponsel. Ia menatap kalender. Apa dia pulang saja ya, sepertinya proyeknya berjalan baik. Tapi ada material yang akan datang beberapa hari lagi, ia mungkin harus ada di sana untuk menge cek. Tapi kan ada Uraume, ia berpikir ulang.
Setelah mendengar ucapan rekan kerjanya tadi ia jadi sedikit gelisah kalau pergi terlalu lama. Ia takut Gojo selingkuh, atau semacamnya. Tahu sendiri dia itu orangnya gampang banget akrab sama siapapun. Yeah, seperti kasus dengan Utahime yang lalu sih. Meski berakhir baik, tapi Sukuna sempat memiliki masalah dengan Gojo karena hal itu. Ia tak mau itu terjadi lagi.
Saat tengah berkutat dengan pikirannya itu, sebuah chat masuk dari Gojo.
'Sayang, lagi apa?'
Sukuna segera membalas. 'Lagi gabut,' balasnya singkat.
'Haha sini aku temani,' balas Gojo. 'Oh ngomong-ngomong, aku ingin mengatakan sesuatu. Senpai ku dulu dari agency saat aku jadi model, bakal tinggal di sini beberapa waktu. Boleh kan?'
Krek...!
Kedutan kesal nangkring di pelipis Sukuna. Padahal baru saja dia memikirkan soal itu, dan Gojo sudah langsung mengatakan hal yang dikhawatirkan Sukuna.
'Cwk pa cwk?' tanya Sukuna singkat karena kesal.
'Cowok. Namanya Akuragawa Shun. Cari saja di internet, aku yakin kau pernah lihat wajahnya satu atau dua kali.'
Sukuna terdiam, sepertinya mengenal nama itu.
'Dia lagi ada project di sekitar sini. Lalu karena tahu rumahku di sekitar sini, dia tanya apa boleh menginap di sini saja daripada cari apartment. Hitung-hitung ketemu lagi sama kouhai, gitu dia bilang. Dan ya...karena aku kesepian tinggal sendiri, kupikir aku akan memperbolehkannya. Tapi ya itu, aku izin dulu padamu. Jangan sampai kejadian kayak kemarin lagi pas sama Utahime. Aku nggak mau berantem lagi. Capeeeekkkk.'
Sukuna menarik nafas panjang. Sepertinya Gojo juga berpikiran hal yang sama dengannya. Sukuna rasa ia bisa tenang kali ini. Toh cuma senpai, laki-laki pula. Dia kasihan juga membayangkan Gojo sendirian di rumah tak ada yang diajak ngobrol.
'Baiklah,' akhirnya Sukuna menyetujui.
'Yeeyy, makasih hon. Love you. Ah, tapi kau beneran nggak bisa pulang? Aku kangen.'
"..." Sukuna terdiam. Ia ingin pulang, tapi waktunya mepet-mepet. Paling beberapa hari kosong, lalu ada hal yang perlu di cek, kosong beberapa hari, lalu ada yang perlu ia awasi. Ia kembali menatap kalender. Mungkin ia kembali nanti saja sekalian ia sempatkan pulang satu atau dua minggu. Biar puas dan tak lelah di perjalanan juga.
'Sekarang belum bisa. Tapi nanti aku sempatkan, setelah semuanya settle di sini,' akhirnya ia menjawab itu.
'Oke. Aku tunggu ya (kiss).'
'Iya (heart),' meski sedikit ragu dan nyaris menghapusnya lagi, tapi akhirnya ia tetap menyertakan emoticon heart itu.
'Kyaahhh (blush),' balas Gojo yang akhirnya berhasil membuat wajah Sukuna berasap.
Sukuna merebahkan tubuhnya ke bantal. Ia ganti membuka browser untuk mencari tahu nama Shun yang tadi Gojo sebutkan. Rupanya Sukuna memang mengenali wajah itu. Ia seorang model majalah fashion, tapi juga sudah membintangi banyak iklan dan beberapa film layar lebar. Pastinya Sukuna pernah lihat wajahnya satu atau dua kali entah di papan reklame atau di layar kaca.
"Hee, kenalannya Satoru orang seperti ini ya. Mungkin kalau dia dulu tak keluar jadi model, sekarang sudah seperti ini juga," gumam Sukuna. Ia menemukan akun medsos Shun saat mencari info tentangnya, dan tanpa berpikir, ia mem-follow akun itu. Well, apa salahnya sih, hanya mem follow saja.
.
~OoooOoooO~
.
Keesokan hari sebenarnya Sukuna nganggur, tapi daripada di apartment tak ada kegiatan, akhirnya ia ke site pembangunan sekedar menghabiskan waktu. Sial bagi Sukuna, karena kejadian kemarin itu, obrolan para pekerja hari itu tak jauh-jauh soal wanita dan kegiatan mereka di hari kemarin. Menceritakan masing-masing pengalaman mereka bersama wanita yang mereka dapat di tempat hiburan sambil makan siang.
'Sialan!' batin Sukuna. Karena kesal akhirnya ia memutuskan pulang ke apartment. Toh memang proyeknya berjalan lancar.
Sukuna membanting diri di ranjang, tengkurap sambil memeluk bantal. Di telinganya kembali terngiang obrolan para pekerja tadi. Maklum saja, Sukuna sudah lama tak melalukan sex, dia jadi sensitive dengan obrolan seputar itu.
Sukuna membuka ponselnya, lalu membuka gallery. Ditatapnya foto Gojo, menge zoom nya di bagian bibir. Bibir pria itu sangat manis, warna cherry yang begitu menggoda, kontras dengan kulit Gojo yang putih.
"Hn…" perlahan tubuh Sukuna memanas. Ia menelusupkan tangannya ke dalam celana, meremas kejantanannya yang mulai bangun. "Satoru…" ia memanggil nama Gojo. Satu tangan Sukuna menyecroll layar ponsel, menge zoom foto Gojo di bagian lain, di area selangkangannya. "Hng…ahh," Sukuna mendesah pelan. Ia tak menyangka ia bisa terangsang hanya dari foto. Ia jadi berpikir mungkin seharusnya ia meminta foto Gojo yang lebih terbuka, yeah, mungkin suatu saat ia akan memintanya.
"Hnn…" Sukuna mulai bergerak tak nyaman. Ia lalu melepas celana, juga boxer nya, supaya ia lebih bebas memanja penisnya yang kini tegak sempurna. Ia menyamankan tubuh dengan bersandar ke kepala ranjang dan mengganjal punggungnya dengan bantal. "Hng…ahh," ia mengocok semakin cepat, tapi entah kenapa ia merasa tak puas, lubangnya berdenyut, merasa hampa karena tak disentuh. "Ahhh, Satoru brengsek!" umpat Sukuna. Ia ingin ada Gojo di sana bersamanya.
"Hn…" dengan wajah memerah, Sukuna membasahi jemarinya sendiri, lalu memasukkan dua jari ke lubangnya. "Sshhn…nn," ia tetap merasa tak puas. Jemarinya tak cukup panjang seperti milik Gojo, ia ingin lebih. "Ugh…Satoru…" keluhnya. Ia masih mencoba memuaskan diri, mencari kenikmatan meski tak sepuas saat bersama Gojo. Setidaknya ia ingin klimaks supaya tak stress.
"Hng…ahh, nn…" perlahan puncak kenikmatan kian mendekat. Ia memasukkan satu jari lagi ke lubangnya. "Hng…ahh…nnn…"
Kriiinngg…
Sukuna menghentikan kegiatan saat ponselnya berdering. Ia menatap murka pada benda itu, padahal ia susah untuk klimaks, dan saat baru mau klimaks dia malah terganggu. Ia ingin mengabaikan panggilan itu tapi sudah terlanjur terganggu. Ia pun meraih benda sialan itu.
Detik berikutnya Sukuna terbelalak saat mengetahui kalau yang menelfon adalah Gojo, dan itu sebuah video call.
"H-huh…" Sukuna panik. Ia mau menekan tombol reject, tapi ia ingat kemarin ia mengatakan pada Gojo hari itu ia senggang, paling ke site kalau mau, atau hanya berdiam di apartment. Jadilah Sukuna tak jadi menolak panggilan itu. Ia segera menarik selimut sampai menutupi perutnya, lalu menekan tombol answer.
"Hai sayang," sapa Gojo. Ia tampak berada di ruangan kerja nya yang ada di kampus, sedang mengetik sesuatu di laptop. Mungkin ia meletakkan ponselnya di samping laptop.
"Hai—…ehm," suara Sukuna sedikit sumbang. "Hai," ulangnya kikuk. "Nggak ngajar?" tanyanya basa-basi.
"Barusan selesai. Hari ini sudah selesai ngajar, tinggal nunggu jam pulang sambil ngerjain kerjaan lain," balas Gojo tersenyum, ia menatap wajah kekasihnya itu. Ia mengerutkan alis saat melihat wajah Sukuna yang berkeringat, lalu kalau diperhatikan lagi, Sukuna memakai selimut. "Kamu sakit?" Tanya Gojo.
"Enggak," jawab Sukuna kikuk.
"Kok pakai selimut? Terus keringetan gitu."
Sukuna langsung gelagapan. "Itu…aku habis olahraga…"
"Olahraga apaan kok di ranjang!" Gojo langsung merengut. "Kamu nggak nyewa PSK kan?! Atau bawa pulang cewek dari bar lagi?!"
"NGGAK! Aku nggak melakukan itu!"
"Terus ngapain?!" kesal Gojo. Sukuna masih gelagapan untuk menjawab. "Padahal selama kamu nggak ada aku nggak pernah cari pelampiasan loh! Kok kamu jahat sih," rengek Gojo.
"Dibilangin enggaaak," sergah Sukuna. Gojo masih manyun. "Ghh…" Sukuna mengacak rambutnya sendiri. Ia melirik ke arah Gojo, lalu dengan wajah memerah ia membuka selimut yang menutupi tubuh bawahnya. Penisnya masih setengah tegak.
"Tuh kan kamu lagi—…" ucapan Gojo terhenti saat menatap kembali wajah Sukuna. Seketika wajah Gojo ikutan memerah.
"Puas sekarang?!" omel Sukuna dengan wajah memerah total.
"Ung…" Gojo menatap intens ke arah Sukuna, lalu menatap ke arah lain. Ia lalu pergi dari kursi kerja nya untuk mengunci pintu dan mematikan lampu, hanya menggunakan lampu remang. Ia lalu kembali ke depan ponsel. "VCS yuk," ucapnya.
"H-huh…?!" Sukuna makin kelabakan.
"Udah lama nggak lihat tubuhmu. Aku nggak kuat," ucap Gojo. Dengan tergesa ia melepas sabuknya dan menurunkan resletting, lalu mengeluarkan penisnya dari sana.
"H-huh, kau serius," ucap Sukuna.
"Menurutmu?" balas Gojo dengan nafas terengah. Ia bersandar ke punggung kursi, lalu mulai mengocok penisnya dengan mata terarah ke layar ponsel.
"Ugh…" Sukuna jadi terpengaruh juga. Ia meletakkan ponsenya ke meja samping ranjang lalu menata posisi, menyamankan diri di depan kamera menatap Gojo. Ia juga sudah lama tak melihat milik Gojo, dan itu membuatnya tegak kembali meski belum menyentuh penisnya. Perlahan Sukuna juga mulai mengocok penisnya sendiri.
"Sukuna…buka kaki kamu dong, pengen lihat lubangmu," pinta Gojo dengan nafas memburu.
"Kau gila! Nggak mau, memalukan," ucap Sukuna.
"Sukuna, ayo dong. Ya…" pinta Gojo.
Menatap wajah sange Gojo, Sukuna jadi terbawa nafsu. Dengan malu-malu ia pun mengangkat lutut lalu membuka lebar pahanya supaya lubangnya terlihat oleh Gojo.
"Hnn…ahhh, hng, aku ingin sekali masuk ke sana, ahh," ucap Gojo. Tangannya mengocok semakin cepat, matanya tak lepas dari layar ponsel.
Sukuna meneguk ludah berat. Lubangnya juga jadi berkedut tak nyaman karena ucapan Gojo, apalagi menatap penis Gojo yang kian membesar, ia benar-benar ingin dimasuki benda itu. "Ugh…" karena tak tahan lagi, akhirnya Sukuna memasukkan jari ke lubangnya sendiri, menggerakkannya keluar masuk. Gojo menyeringai dengan tatapan menyala melihat pemandangan itu. Lidahnya menjilat sensual bibirnya sendiri.
"Satoru…Satoru…" Sukuna mulai kehilangan kendali. Rasanya beda sekali dengan tadi ia bermain sendiri dengan sekarang di mana ia bisa menatap Gojo dan melihatnya onani. Sukuna merasa ia lebih terangsang sekarang. "Ungh…ahh, mau keluar…" ia menyempitkan kakinya menahan diri.
"Buka yang lebar dong sayang, aku ingin lihat," goda Gojo.
"Ugh…tapi sudah nggak tahan," keluh Sukuna, meski ia menuruti ucapan Gojo. Ia mempercepat gerakannya di penis serta lubangnya sendiri. "Ungh…ahh, m-mou…keluar…ahh, aaahhh…" Sukuna klimaks, sperma muncrat membasahi tangannya dan sebagian mengena sampai wajah.
"Hng…nn," Gojo menggigit bibir bawahnya merasa hasratnya memuncak, ia mengocok semakin cepat dan akhirnya klimaks, nafasnya terengah, tangannya masih mengocok pelan kejantanannya itu. Ia menatap Sukuna dengan mata sayu, Sukuna menatap dengan tatapan yang sama. "Cepat pulang…" lirih Gojo.
"…ya…" balas Sukuna.
Mereka berdua lalu mulai memberesi kekacauan yang ada. Gojo meraih tissue dan mengelap penisnya sendiri, Sukuna juga membersihkan tubuhnya lalu kembali memakai celana.
"Oh ya Sukuna, Shun datang nanti malam," ucap Gojo sambil menylettingkan celana.
"Hng…? Ooh," balas Sukuna santai. "Berapa lama dia di sana?"
"Entahlah. Mungkin satu atau dua minggu. Tergantung projek nya selesai kapan. Aku kasih dia kamar yang di lantai satu kok, jangan cemburu lagi ya."
"Iya. Kalau cemburu sama semua orang yang ada di dekatmu kayaknya nggak bakal ada selesainya!"
Gojo tertawa pelan mendengar itu.
.
Malamnya Sukuna mengikuti ajakan Mahito untuk jalan-jalan. Daripada gabut sesekali dia jadi babysitter buat Mahito sepertinya tak masalah. Ia bersama Uraume juga. Mereka jalan-jalan mengelilingi kota itu. Naik bus kota dan turun di tempat-tempat random. Sukuna tengah menunggu Mahito dan Uraume membeli takoyaki saat ponselnya ada notifikasi masuk dari medsos nya Shun. Sukuna membuka notifikasi itu.
'Touchdown di rumah kouhai (heart). Aaah, lama sekali tidak bertemu dia. Tapi maaf ya disensor, dia nggak mau difoto nih. Takut aku kalah ganteng katanya. Haha,' begitu caption nya. Itu foto selfie Shun dengan Gojo, tapi wajah Gojo disensor dengan stiker besar sampai rambutnya pun tak kelihatan. Hanya tubuhnya saja dengan tangan berpose tanda peace.
Sukuna tersenyum kecil melihat post itu. Well, sepertinya tak ada salahnya ia mem follow akun medsos Shun. Ia jadi tahu update an kegiatan Shun di rumah Gojo.
.
~OoooOoooO~
.
Semenjak mereka pernah VCS satu kali, mereka jadi sering VCS lagi setelahnya. Sukuna rasa itu lebih baik daripada melakukannya sendiri, atau lebih parah, mencari seseorang di luar sana untuk pelampiasan. Kalau dulu mungkin iya, ia sering ke bar atau diskotek lalu mengajak cewek ke Love Hotel, tapi kalau sekarang Sukuna tak ingin melakukannya, terlebih lagi ia juga tak ingin Gojo yang melakukan hal serupa. Sukuna juga lumayan rajin stalking akun medsos Shun, ia jarang update soal kegiatannya di rumah Gojo, kebanyakan soal pekerjaan dan kesehariannya di lokasi shooting. Kalau di rumah Gojo paling dia update semacam 'dimasakkan oleh Kouhai-kun (heart)', atau 'di rumah ini tenang sekali. Jadi betah' atau semacamnya. Sukuna rasa tak ada yang aneh dengan itu. Lagipula semua post yang ada foto dengan Gojo, pasti disensor.
Hari itu Sukuna mengecek material yang datang untuk pembangunan pabrik. Ia rasa setelah pengecekan tersebut, ia akan punya banyak waktu luang, jadi ia memutuskan untuk pulang. Tapi ternyata saat materialnya datang, terjadi kesalahan karena miss komunikasi, alhasil kepulangannya pun jadi molor lagi. Untung saja dia belum sempat mengabari Gojo, jadi ia tak membuat pacarnya itu kecewa. Saat pulang ke apartment, barulah ia mengabari Gojo, hanya saja mengatakan kalau pulangnya masih beberapa hari lagi.
"Beneran?" ucap Gojo antusias.
"Iya, tapi nunggu material datang dulu. Nanti habis nge cek aku pulang," balas Sukuna.
"Lama nggak di rumahnya?"
"Lama, mungkin satu atau dua minggu."
"Yeeyyy."
"Oh, Shun masih di situ?"
"Ng…masih. Tapi dia bilang dua atau tiga hari lagi dia sudah pergi. Kau pulang duluan atau dia duluan ya?"
"Mungkin dia duluan. Aku kayaknya lima hari lagi baru bisa pulang."
"Ooh, ya bagus deh malah nggak harus perang dunia dulu. Hehe."
"Geez, apaan sih. Siapa juga yang mau ngajak perang," ucap Sukuna.
Gojo tertawa pelan, ia begitu menantikan hari kepulangan Sukuna.
.
Rupanya material yang Sukuna harapkan datang lebih cepat dari perkiraan. Ia dan Uraume segera mengecek dan approve untuk melanjutkan projek. Sukuna sedikit berniat untuk pulang hari itu juga meski sudah lewat tengah hari, mungkin ia bisa ambil penerbangan sore atau malam. Tapi sialnya, masalah baru muncul lagi. Saat Sukuna tengah packing di apartment nya, ia mendapat telefon dari kepala proyek, menanyakan apakah Sukuna bisa mengubah rancangan desain nya.
"Huh? Kenapa harus dirubah? Ada kesalahan?" Tanya Sukuna di telefon.
"Bukan begitu, tapi ternyata di lokasi ada sebuah pohon yang masuk ke area pembangunan. Apa tidak bisa arah bangunannya di rubah letter L, nanti biar pohonnya sudah masuk ke area halaman," ucap si kepala proyek.
"Pohon sebesar apa? Nggak bisa ditebang?"
Kepala proyek itu mengirimkan foto pohon yang dipermasalahkan. Sebuah pohon kecil, paling batangnya sebesar lengan orang dewasa, tingginya juga paling sekitar lima meter. "Huh, pohon sekecil itu. Tebang saja lah. Kan banyak juga menebang pohon ukuran segitu!" omel Sukuna. Kenapa juga gara-gara pohon segitu kepulangannya jadi terganggu.
"Bukan begitu, tapi penduduk setempat melarang menebang pohon ini. Dikeramatkan katanya. Ya saya sih tidak keberatan menebang pohon ini, tapi meyakinkan penduduk itu loh yang bikin susah. Kalau mereka sampai protes dan demo ramai-ramai, kita juga yang susah."
Sukuna menghela nafas lelah. "Disogok nggak bisa?"
"Percayalah Sukuna-san, kami sudah melakukan segala upaya untuk meyakinkan penduduk. Kalau kami berhasil, kami juga tak ingin sampai menghubungimu padahal hanya karena hal sepele."
"Tck!" Sukuna berdecak kesal. "Ya sudah, besok aku ke sana buat negosiasi sama penduduk. Kalian siapkan saja pertemuannya supaya kita bisa bermediasi dengan mereka."
"Baiklah," ucap si ketua proyek lalu mematikan telfon.
"Aarrgh, ada-ada saja sih!" kesal Sukuna karena kepulangannya tertunda lagi.
.
~OoooOoooO~
.
"Tadaima~" ucap Shun sambil melongok ruang kerja Gojo.
"Okaeri. Sampai larut sekali," balas Gojo.
"Fuh, iya. Diselesaikan hari ini biar besok sudah kelaaarr," Shun merenggangkan ototnya dan masuk ke ruangan Gojo. "Besok aku sudah selesai, tapi nginap satu hari lagi ya, buat istirahat," ia duduk di kursi depan meja Gojo.
"Iya tak masalah. Aku juga senang ada yang menemani," balas Gojo. Ia menutup laptopnya karena pekerjaan sudah selesai.
"Hee, kau sudah selesai kerja juga?"
"Iya, lagi nggak banyak kerjaan juga. Kau lapar? Biar kumasakkan sesuatu."
"Nggak, tadi sudah makan sama kru," Shun bangkit lalu duduk di meja di hadapan Gojo. "Nggak mau melakukan sesuatu yang menyenangkan nih? Kayak dulu," goda Shun. Ia mengusap lengan Gojo dengan telunjuknya secara sensual.
Gojo tersenyum. "Gomen, aku sudah punya pacar."
"Hee, sudah punya pacar ternyata. Kok aku nggak pernah lihat selama di sini?"
"Iya, lagi LDR. Dia lagi ada proyek di daerah lain."
"Cowok apa cewek?" Tanya Shun dengan tatapan menggoda. Gojo hanya tersenyum penuh arti. Shun tertawa mengerti arti senyuman itu. "Ternyata betulan jadi bi sekarang kau."
"Yeah, maklum lah. Siapa dulu yang membuatku jadi bi."
Shun kembali tertawa. "Aah, ya sudah lah. Sayang sekali, padahal aku sangat kangen dan setengah berharap akan melakukan sex dengan mu lagi saat kubilang ingin menginap di sini," ucap Shun. "Tapi beneran nggak mau nih? Pacarmu kan lagi jauh. Kalau nggak bilang nggak papa kan. Kita dulu juga bisa saling jaga rahasia."
"Gomen, pacarku cemburuan banget nih. Mana dia kayak FBI, salah gelagat saja dia bisa tahu."
Shun tertawa. "Ya sudah deh," ucapnya. Ia lalu bangkit. "Oyasumi, Satoru-kun."
"Oyasumi, Shun-san."
.
.
Keesokan paginya Shun terbangun sekitar pukul 9. Suasana rumah sudah sepi, Gojo sudah berangkat ke kampus sepertinya. Shun ke dapur untuk membuat sarapan dan minum. Ia membawa sarapannya ke depan TV supaya tak sepi-sepi amat. Saat tengah menikmati sarapannya, ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ada tamu kah? Pikir Shun. Ia pun berjalan menghampiri pintu depan, lalu melihat siapa yang berdiri di luar gerbang.
Ada sebuah mobil limousine berhenti. Seorang wanita paruh baya didampingi beberapa orang pria bersetelan hitam berdiri di depan gerbang.
"Cari siapa?" Tanya Shun.
"Apa Tuan Gojo Satoru ada?" Tanya wanita itu.
"Nggak ada. Lagi kerja."
"Boleh tahu tempat ia bekerja?"
"…" Shun sedikit enggan menjawab pertanyaan itu. Ia belum pernah ke kampus Gojo, tapi setidaknya ia tahu nama universitasnya. "Nggak tahu," Shun memutuskan menjawab demikian. Ia tak begitu percaya pada orang asing yang bahkan tak memperkenalkan dirinya itu. Tanpa permisi pada Shun, mereka pun kembali masuk ke limousine dan meninggalkan tempat itu.
"Geez, apa-apaan sih. Nggak sopan banget," gerutu Shun sambil menutup pintu rumah. Ia berniat memberitahu Gojo soal tamu tadi, tapi ia berpikir takut mengganggu dan memutuskan memberitahu secara langsung saja setelah Gojo pulang kerja nanti.
Seharian itu Shun hanya bersantai dan bermalas-malasan di rumah Gojo, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena kerja terus sampai hari kemarin. Hingga Gojo pulang, ia masih bermalas-malasan di ruang tengah setelah menyalakan semua lampu sesuai pesan Gojo. Dan ia pun lupa mau mengatakan apa pada kouhai nya itu.
.
Malamnya, Shun baru mandi setelah makan malam bersama Gojo. Ia juga berendam lama sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe. Tubuhnya sudah segar. Ia terpikirkan sesuatu yang nakal lalu pergi ke kamar Gojo. Ia yang tahu Gojo tak pernah mengunci pintu, langsung nyelonong masuk tanpa izin.
"Tada..." ucapnya. Sayangnya Gojo tak sedang melakukan sesuatu yang aneh, dan Shun sedikit kecewa.
"Hoi, ketuk dulu lah," protes Gojo. Ia tengah membaca buku saat itu. Biasanya juga Shun selalu mengetuk, tapi tidak kali itu. Gojo jadi sedikit curiga Shun mau melakukan sesuatu.
"Geez, nggak seru. Padahal mau mengagetkanmu," Shun menghampiri ranjang, duduk di samping Gojo. "Tumben, lagi nggak ada kerjaan?"
"Iya lagi senggang ini," Gojo menutup bukunya karena Shun mengajak mengobrol.
"Nggak telfonan atau chattingan sama pacarmu nih?" goda Shun.
Gojo tertawa kecil. "Lagi sibuk kali dia. Dari tadi chat ku belum dibaca."
"Hee, jangan-jangan dia lagi pergi sama yang lain loh."
"Nggak lah, dia emang orang sibuk."
"Hee, yakin...?" goda Shun. Tangannya mulai nakal menggerayangi paha Gojo. Gojo menghela nafas, sepertinya dugaannya tadi terbukti.
"Shun-san," Gojo menyingkirkan tangan Shun dari paha nya.
"Ayolah. Pacarmu nggak akan tahu. Kita juga dulu nelakukannya tanpa seorang pun yang tahu. Kita sudah terbiasa saling menjaga rahasia."
"Iya. Tapi waktu itu aku sedang tak punya pacar. Jadi bebas dengan siapa saja. Sekarang aku betulan nggak bisa."
Shun melirik nakal, lalu menyusuri lengan Gojo dengan telunjuknya, Gojo hanya menatap dengan senyum konstan. Shun menghela nafas lalu menjauhkan tangannya.
"Baiklah baiklah, aku menyerah," ia mengangkat kedua tangannya seperti orang menyerah, lalu bangkit dari duduk. "Tapi berikan fan service sedikit," ia menyeringai nakal lalu menurunkan bathrobe nya, menampakkan pundak mulus serta sebagian tubuh atasnya.
Gojo hanya bisa terbelalak. "W-whut...?"
.
~OoooOoooO~
.
Setelah negosiasi yang melelahkan, akhirnya Sukuna berhasil meyakinkan warga setempat untuk melanjutkan projek sesuai rancangan awal. Ia tidak mau capek-capek merubah desain hanya karena sebuah pohon kecil, ditambah ia mau pulang, ia tak ingin rencananya berantakan. Ia sudah terpaksa re-schedule tiket pesawat yang ia pesan sebelumnya.
Setelah urusan di site pembangunan selesai, Sukuna pun kembali ke apartment, berniat beres-beres untuk segera pulang. Waktu itu masih sekitar jam 2 siang, dan jadwal penerbangan Sukuna jam 7 malam nanti, jadi masih ada cukup waktu untuk Sukuna beberes. Ia sambil memainkan ponsel untuk membuka sosmed. Lama juga ia tak membuka sosmed nya karena masih banyak urusan. Ia melihat update an dari Shun muncul pertama di feed nya.
Shun berfoto dengan bathrobe setengah terbuka, di belakangnya ada Gojo tapi hanya kelihatan setengah badan bagian belakang, dan itu pun blur. Meski begitu Shun tetap menyensor kepala Gojo dengan sticker.
'Last day di rumah kouhai. Bersenang-senang dulu sebelum besok pisah lagi. Fufu, iya kami seakrab ini sampai-sampai mandi dan tidur bersama, seperti dengan saudara sendiri. Jangan iri ya,' begitu tulis Shun di caption nya.
Krek!
Kedutan kesal langsung nongkrong di pelipis Sukuna. Dan entah efek pencahayaan atau bayangan dari ponsel, Sukuna melihat noda kebiruan di leher dan pundak Shun.
'Si bangsat itu,' batin Sukuna murka. Ia menatap foto itu tanpa berkedip, ia mengenali latar foto itu adalah kamar Gojo. Tambah kesal lah Sukuna. Begitu tiba di apartment, Sukuna langsung menelfon Gojo bahkan sambil berjalan menuju kamar. Gojo tak langsung mengangkat, ya mungkin karena dia sedang mengajar. Maklum lah itu hari kerja. Sukuna tambah kesal jadinya. Ia membanting ponselnya di ranjang, lalu berbaring dengan kesal sambil mengusap kepala. Pikirannya tak karuan.
Padahal Gojo bilang tak akan selingkuh darinya, tapi apa-apaan itu? Mungkin bagi Gojo, selama tak melibatkan perasaan, baginya bukan selingkuh namanya. Seperti menyewa PSK atau sex dengan orang lain yang hanya sex, bukan bercinta. Wajah Sukuna memanas, entah karena marah entah nyaris menangis. Ia membalikkan tubuhnya untuk tengkurap sambil memeluk bantal guling. Kenapa selama ini selalu saja ia yang insecure dan merasa di sisi yang kalah?
Ia tak pernah selingkuh dari Gojo karena ia tak lagi bisa puas dengan orang lain selain Gojo. Ia juga tak berkeinginan lagi melakukan hubungan intim kalau bukan dengan Gojo. Mungkin hal itu karena ia sangat mencintai Gojo, sampai-sampai berpikir untuk bersama yang lain saja tak bisa. Sekedar membuka hati pun tidak. Meskipun ada yang mendekatinya, Sukuna selalu memilih untuk mengacuhkan orang itu karena ia merasa sudah punya Gojo, tak butuh yang lain.
Tapi bagaimana dengan Gojo? Sepertinya pria itu tak memikirkan hal yang sama. Mungkin baginya sama saja, selama itu sex, apapun bisa memuaskannya. Setelah pacaran dengan Sukuna, Gojo juga tetap akrab dengan orang lain. Utahime...lalu sekarang Shun. Ia terus mencari seseorang untuk berada di sisi nya. Seolah ia tak pernah menutup hati untuk orang baru, seperti apa yang Sukuna lakukan.
Dada Sukuna sesak, punggungnya terasa berat. Ia belum pernah mencintai seseorang sampai sedalam ini, sampai sesakit ini. Ia yang biasanya acuh baru kali ini merasa sakit hanya dari hal-hal sepele menyangkut kekasihnya.
Kepala Sukuna mulai pening. Entah ia tertidur atau apa, yang jelas pemandangan di sekitarnya berubah gelap.
.
~OoooOoooO~
.
"..." perlahan Sukuna membuka mata mendengar obrolan di luar. Suara Mahito dan Uraume. Sukuna membuka mata seutuhnya, keadaan apartment gelap, ada cahaya lampu dari luar. Sudah malam kah?
Sukuna mencoba bangun, tapi matanya masih panas, dadanya masih sesak, punggungnya juga berat. Sukuna menempelkan punggung tangannya ke dahi, panas. Ia mengerjap beberapa kali. Sepertinya perasaan tak enak sejak tadi siang bukan karena sakit hati atau mau menangis, sepertinya ia demam. Dan demam tinggi.
"Argh, sial," ucapnya lemah. Ia bangkit dengan tertatih, menghampiri saklar untuk menyalakan lampu. Obrolan Uraume dan Mahito terhenti setelah Sukuna menyalakan lampu kamarnya. Dengan langkah terhuyung, Sukuna menghampiri pintu. Membukanya.
Uraume dan Mahito tampak melihat ke arahnya dalam diam.
"Sukuna-sama? Kau ada di apartment? Kupikir Anda jadi pulang," ucap Uraume.
"Aku ketiduran. Dan sepertinya—...shit...!" Sukuna limbung, Uraume bergegas menghampiri dan memapah Sukuna. Ia terbelalak saat merasakan suhu tubuh Sukuna.
"Anda demam?" ucap Uraume shock.
"Hee, iya kah. Apa ketularan juga ya," ucap Mahito.
"Ketularan apa?" tanya Sukuna.
"Ah, nanti saja saya ceritakan. Saya bawa Anda ke rumah sakit dulu," ucap Uraume.
Sukuna menggeleng. "Nggak ah, males. Belikan aku obat saja. Siapa tahu besok sudah baikan. Demam biasa paling."
"...baiklah, saya antar Anda ke kamar dulu," Uraume merangkullan tangan Sukuna ke pundaknya. Ia menatap Mahito. "Tolong belikan obat sama kompres," perintahnya.
"Baiklah. Ada yang lain lagi? Bubur atau sup?" tanya Mahito.
"Nanti kubuatkan sendiri saja," balas Uraume. Ia lalu memapah Sukuna ke kamar sementara Mahito pergi ke apotek. Uraume merebahkan Sukuna di ranjang, menyamankan kepalanya di bantal lalu menarik selimut hingga ke dada Sukuna. "Apa Anda merasa mual? Mungkin bisa saya ambilkan kantong cokelat biar tak perlu ke kamar mandi kalau ingin muntah."
"Nggak, aku nggak mual. Hanya saja badanku rasanya berat sekali," Sukuna meletakkan lengan di dahinya. "Hey, tadi apa maksud ucapan Mahito?"
"Oh, sebenarnya, tadi kami dapat panggilan dari orang proyek, katanya beberapa pekerja juga sakit, termasuk kepala proyek nya. Mereka juga demam seperti Anda saat ini, dan izin untuk tidak bekerja."
Sukuna mengerutkan dahi. "Jangan-jangan virus? Argh, awas, nanti kau ketularan."
"Tapi gejalanya seperti bemam biasa. Anda tidak batuk atau pilek kan?"
Sukuna terdiam sesaat. Iya, dia memang tak batuk atau pilek, hanya saja tubuhnya panas dan berat.
"Ya sudah, saya buatkan makanan dulu. Mau sup atau bubur?" Uraume menawarkan.
"Sup saja," balas Sukuna.
Uraume pun pergi dari kamar Sukuna untuk membuat sup. Tak berapa lama Mahito kembali membawa berbagai jenis obat, juga kompres, dan pudding.
"Aku nggak tahu cocok yang mana jadi kubeli semua," ucap Mahito, meletakkan belanjaannya di meja. Ia mengambil satu cup pudding lalu memakannya di tepi ranjang Sukuna. "Sukuna-sama~ kau mau?"
"Nggak deh," ucap Sukuna lemah. Ia merasa pakaiannya tak nyaman dan baru ingat ia belum ganti baju sejak pulang dari proyek. "Mahito, bantu ganti pakaian dong," ia duduk perlahan.
"Okay~" Mahito meletakkan pudding nya di meja, lalu membantu Sukuna ganti baju. Sebelum memakaikan pakaian baru, Uraume datang ke kamar Sukuna membawa sup yang tadi ia buat. "Hey, sekalian dikompress saja kalau sudah begitu," cegahnya sebelum Mahito memakaikan baju yang baru.
"Aku lagi makan pudding," ia kembali meraih cup puddingnya. Uraume menghela nafas lelah lalu meletakkan sup di meja, ia meraih handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, lalu membasuh tubuh Sukuna. Sukuna yang lemas hanya bisa pasrah saja. Meski ia sedikit terganggu melihat Uraume tampak menahan senyum dengan pipi memerah saat mengompres tubuh Sukuna dari atas sampai bawah.
Fuck! Apa aku nggak punya rekan kerja yang normal sih! Keluh Sukuna dalam hati.
Setelah mengompres Sukuna dan mengganti baju, Uraume menyuruh Sukuna makan. Ia bahkan bersedia menyuapi Sukuna, tapi Sukuna menolak. Sukuna makan dengan tatapan datar. Ia melirik Uraume yang tampak bahagia melihat Sukuna memakan sup buatannya. Ini nggak ditambahi yang aneh-aneh kan?!
Ah sudahlah, Sukuna tak punya energy untuk yang lain-lain. Setelah makan sup, ia meminum obat, lalu rebahan kembali. Uraume menempelkan kompres dingin di dahinya.
"Kalau butuh sesuatu panggil saja. Kamar Anda jangan dikunci," ucap Uraume sebelum pergi meninggalkan kamar Sukuna bersama Mahito. Sukuna hanya mengangguk lemah dan mengucapkan terimakasih dengan suara yang lirih. Ia sendirian di kamar kini, menatap langit-langit yang bisu.
Ia mendengar suara getar ponsel entah dari mana. Ah, ia lupa belum mengabari Gojo. Sukuna meraba-meraba di balik selimut hingga menemukan ponselnya. Ada beberapa miss call dan chat masuk dari Gojo.
'Gomen, tadi aku lagi ngajar, jadi nggak angkat telefonmu.'
'Kamu jadi pulang hari ini? Mau kujemput di bandara?'
'Sukuna...? Kok nggak bales. Lagi di pesawat kah? Bales nanti setelah landing ya.'
'Sukuna...?'
'Sayang...?'
Sukuna tersenyum kecil membaca chats itu. Ia ingin membalas, tapi rasanya pening sekali hanya melihat layar HP. Tiba-tiba ia melihat tulisan online di nama Gojo, dan tak berapa lama Gojo menelfon kembali. Sukuna berniat mengangkatnya, tapi entah efek obat yang tadi ia minum atau dia memang sudah kelewat lemas, Sukuna tak yakin sudah menekan tombol answer atau belum. Ponsel itu jatuh ke dada nya, dan ia kembali terpejam.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
