Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak buat kokorocchi, Frigg Nevia07 and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
EDIT : Fanfiction lgi error kah? :V masa gak bisa bales reply lewat PM
Yodah, author bales di sini aja ya…
#kokorocchi : sukuna demam rindu~ #taboq. Uwu, makasih banyak semangatnya. Semangat juga buat skripsimu, moga cepet kelar~
#Frigg Nevia07 : uwu padahal dia udah izin ke sukuna. Dan sukuna ttp ngambek wkwkwkwk. Iya, update tiap kamis~ makasih banyak semangatnya ya! Semangat juga untuk dirimu~
#emperor it's me : wkwkwkwkwkwk iyaaa, raja kutukan kena kutuk XD biar epic. Uwuwu makasih udah nunggu, ini lanjut. Selamat membaca~
.
.
HeartBreak Night
.
.
Sukuna mengalami mimpi buruk. Maklum lah, ia sedang demam. Biasanya orang demam mimpinya selalu tak enak, apapun itu. Meski hanya kejadian sepele, biasanya akan menjadi mimpi buruk. Tapi baru di demam kali ini Sukuna bermimpi sangat aneh. Di mimpinya, kamar Sukuna penuh sesak dan ramai dengan sesuatu yang Sukuna tak tahu apa. Sukuna hanya bisa terbaring di ranjang, udaranya panas sekali, ia berkeringat sangat banyak.
Saking sesaknya kamar Sukuna, ia bahkan merasa tubuhnya ada yang menduduki, punggungnya juga begitu. Dengan susah payah Sukuna membuka mata supaya bangun dari mimpi. Susah sekali. Tapi akhirnya ia bisa bangun juga. Kamar itu lengang, tak ada siapapun. Ia menatap jam, baru jam 9 malam. Astaga, berarti dia baru tidur sebentar sekali. Argh, demam benar-benar menyebalkan, pikirnya.
Sukuna kembali mencoba tidur, tapi ia tak ingin bermimpi karena pasti mimpi buruk. Tapi mau bagaimana lagi, dia sedang demam, yang bisa dilakukannya hanya berbaring dan sesekali terlelap selama beberapa waktu. Lagi. Ia mimpi buruk. Ia melihat makhluk entah apa ingin menyeretnya pergi. Makhluk itu terlihat mengerikan, dan tampak marah.
Sukuna kembali terbangun, dan lagi-lagi kamar senyap. Samar ia mendengar suara Uraume di luar. Pintu terbuka sedikit, Uraume melongok dari celah pintu menatap ke arah Sukuna. Karena Sukuna hanya setengah membuka mata, mungkin Uraume pikir ia tertidur. Uraume pun kembali menutup pintu.
"Dia masih istirahat," terdengar lirih suaranya. "Nanti gantian jaga ya, siapa tahu dia memanggil."
"Iya santai saja. Aku juga mau begadang buat push rank ini," balas Mahito.
"Jangan terlalu fokus sama game mu! Nanti Sukuna memanggil kau nggak dengar!"
Sukuna tersenyum kecil mendengar obrolan mereka. Dan ia mendengar namanya disebut oleh Uraume tanpa akhiran -sama, sangat jarang ia dengar. Sebenarnya ia lebih suka dipanggil begitu, tapi yah karena mereka sudah terbiasa, sudah berapa kali Sukuna meminta mereka berhenti memanggil dengan akhiran -sama, mereka malah tambah ngeyel dan menggunakan kata itu sebagai ledekan.
"Dasar," lirih Sukuna dan kembali memejamkan mata. Lagi, ia bermimpi buruk. Sepertinya kelanjutan mimpi yang tadi. Makhluk mengerikan yang mau membawa Sukuna pergi, mulai mendekat, lebih terlihat sangar. Matanya merah menyala, sangat besar. Tubuhnya berwarna hitam berbulu kasar, taring panjang mencuat dari mulutnya.
Sukuna menggeleng kuat berusaha bangun. Tapi kali itu susah sekali. Makhluk itu kian mendekat, dan Sukuna kian berontak. Ayo bangun, sialan! Bangun! Makhluk itu terus mendekat, mengulurkan tangannya yang besar untuk merengkuh kepala Sukuna sanpai ke badan, seperti boneka barbie. Sukuna mulai sesak nafas. Apa ia akan mati? Mati di dalam mimpi. Tapi bagaimana kalau tubuhnya saat itu juga sedang sesak nafas, dan dia akan benar-benar meninggal?
Saat tengah berkutat dengan makhluk itu, tiba-tiba Sukuna mendengar samar suara Gojo. Dan akhirnya makhluk itu pun pergi. Sukuna menghela nafas lega, ia sudah tak sesak nafas lagi. Akhirnya ganti mimpi juga, pikirnya. Sudahlah, mau mimpi buruk juga kalau ada Gojo tak masalah. Mungkin mimpi buruk Gojo menikah dengan Utahime, atau melakukan sex dengan Shun, yang mana saja pokoknya jangan mimpi buruk yang tadi. Nanti setelah bangun Sukuna bisa memarahi Gojo meski semua itu terjadi hanya dalam mimpi. Sukuna tersenyum kecil dan kembali terlelap.
.
Entah sudah berapa lama ia tidur, Sukuna kembali terbangun. Kali ini bukan karena mimpi buruk, hanya terbangun saja tanpa sebab yang pasti. Ia merasakan tangannya hangat. Ia menatap ke samping ranjang. Ada Gojo di sana. Duduk di kursi dengan kaki menyilang satu di atas lainnya. Tangannya menggenggam tangan Sukuna, tapi tubuhnya menghadap ke arah lain. Kursi yang Gojo duduki menghadap ke arah pojok kamar. Kenapa?
Sukuna beralih menatap sudut kamar. Ada makhluk hitam berbulu yang tadi meremasnya. Ooh, ini masih mimpi, batin Sukuna. Mimpi buruk lagi, tapi karena ada Gojo sepertinya tak begitu buruk. Sukuna pun kembali memejamkan mata.
.
~OoooOooO~
.
Sukuna terbangun keesokan paginya dengan tubuh yang lebih ringan. Ia mengukur suhu dengan termometer, ia masih demam, tapi setidaknya dadanya tak lagi sesak, punggungnya juga tak lagi berat. Seperti demam biasa saja, di mana tubuhnya panas dan kepalanya sedikit pening.
Ia menghela nafas lelah. Meraih ponselnya untuk melihat jam. Hampir jam 8 pagi. Ia melihat layar ponsel, ada miss call dari Gojo. Sepertinya semalam ia betulan tak mengangkat telefon dari Gojo sebelum tertidur—atau pingsan.
Sukuna bangun dengan perlahan, duduk bersandar di kepala ranjang. Kepala nya berdenyut nyeri. Ia haus, jadi meraih segelas air minum di meja. Mungkin Uraume yang siapkan. Ia meminum air itu seteguk demi seteguk, tapi lalu menyemburkannya dan ia pun terbatuk keras.
Ia melihat kursi yang semalam Gojo duduki di mimpinya, ada di samping ranjang. Mungkin Uraume atau Mahito, pikir Sukuna. Tapi ia melihat jaket yang tersampir di punggung kursi adalah jaket Gojo, ia mengenali benda itu. Dan ada tas ransel di belakang kursi, bersandar ke tembok. Dan Sukuna juga yakin itu tas Gojo.
Gojo ada di sini...?
Cklek...!
Sukuna langsung menoleh saat mendengar suara pintu dibuka. Dan benar saja, Gojo muncul dari sana, membawa sekantong belanjaan. Gojo langsung tersenyum melihat Sukuna sudah membuka mata.
"Hey, kau sudah bangun," sapa nya. Ia meletakkan belanjaan di meja lalu menghampiri Sukuna. "Demammu?" ia menempelkan tangan di dahi Sukuna, tapi tiba-tiba saja tubuhnya ditarik, dipeluk erat oleh Sukuna.
Jantung Sukuna berdebar keras. Ia tak menyangka ia sebegitu merindukan Gojo. Begitu melihat wajahnya, Sukuna langsung ingin memeluk pria itu. Tak ada lagi sisa kemarahannya yang kemarin, ia bahkan nyaris lupa kenapa ia ingin marah-marah.
Gojo tertawa pelan dipeluk oleh Sukuna. Ia balas memeluk, mengusap-usap punggung Sukuna, lalu mengecup pipinya singkat.
"Kamu masih demam," ucapnya. Ia berusaha melepaskan diri tapi Sukuna masih tak ingin melepas pelukannya.
"Kapan datang?" tanya Sukuna.
"Tadi malam. Sekitar jam 1," balas Gojo.
"Kok tahu alamat sini?"
"Tanya ke Uraume."
"Kok tahu nomor Uraume?"
"Dari Yuuji. Hissh, baru datang sudah diinterogasi. Kenapa sih, cuma nanya soal alamat juga. Nggak boleh simpen nomor Uraume?"
"Boleh. Hanya penasaran saja," Sukuna melepas pelukan, ganti memeluk lengan Gojo dan menyandarkan kepala ke pundak sang kekasih. "Terus, kenapa datang?"
"..." kali itu Gojo tak langsung menjawab. Sukuna mendongak untuk menatap wajah Gojo. Alisnya berkerut sebelah. "Kamu sebenarnya habis ngapain kok sampai begini?"
"Nggak tahu. Kemarin pulang dari site langsung demam."
"Di site ngapain?"
"Ya...kerja. Nggak berenang, nggak hujan-hujanan."
"Serius, kamu di site ngapain?"
Sukuna mengerutkan alis.
"Ada yang aneh nggak pas pembangunan? Atau kau melakukan sesuatu di luar hal yang biasa kau lakukan? Atau ada hal apa gitu di site pembangunanmu?"
Sukuna makin bingung mendengar pertanyaan Gojo. "Maksudnya apa sih? Ya...nggak ada apa-apa. Pembangunan biasa. Kemarin aku menunda pulang itu gara-gara negosiasi sama penduduk yang melarang kami buat nebang pohon kecil di sana."
"Nah ini," Gojo langsung menyimpulkan.
"Huh? Apaan?"
"Ya kamu. Pohon apaan? Kenapa sama penduduk nggak boleh ditebang?"
"Ya nggak tahu. Pusar Desa katanya. Apaan sih, aneh banget. Memangnya desa punya pusar ya, nggak jelas amat."
"Astagaaaa, ya pantas saja," Gojo menghela nafas lelah. Ia meraih ponsel Sukuna. "Semalam, aku menelfonmu. Kamu angkat, terus aku dengar—..."
"Nggak, aku nggak angkat."
"Iya. Tapi ada yang ngangkat, intinya panggilannya tersambung. Dan aku dengar tuh rame banget di ujung telefon. Rame. Banget," Gojo seolah menekankan setiap suku kata.
Sukuna mengerutkan dahi. "Kok bisa. Padahal si sini hening, cuma ada aku."
"Ya makanya, karena aku dengar ramai begitu aku langsung kepikiran, pasti ada apa-apa. Makanya aku langsung ke sini malam itu juga. Untung saja penerbangan malam banyak tiket pesawat yang kosong, jadi bisa pesan tiket dadakan."
"Ya...tapi intinya apa maksudmu?" Sukuna masih bingung.
Gojo menghela nafas lelah. "Pusar Desa yang kamu sebut tadi, banyak kepercayaan yang mengatakan kalau itu tuh pusat makhluk astral di suatu tempat. Makanya para penduduk melarang untuk ditebang, mereka yakin akan berimbas pada penduduk sekitar kalau para penghuninya marah."
"Ah, ngaco. Penduduknya saja yang masih primitif," sergah Sukuna.
"Aku yang ngomong kamu masih nggak percaya juga?" ucap Gojo sambil menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuk dan jari tengah. "Semalam pas aku datang dan masuk ke kamarmu, kamarmu tuh penuh banget sama mereka, tahu! Dan ada satu yang kuat banget, meski aku sudah datang, dia tetap stay di pojokan, mau bawa kamu pergi. Marah banget dia sama kamu."
Nafas Sukuna tercekat. Sepertinya mimpi buruknya semalam tak semuanya mimpi. Kamarnya yang sesak, juga makhluk hitam besar itu.
"Terus, harus gimana? Kayaknya itu pohon udah ditebang deh kemarin," ucap Sukuna.
Gojo menghela nafas lelah. "Kamu ke kuil aja deh, coba. Minta dibersihin. Oh, sama pekerjamu juga, katanya yang demam bukan kau saja kan. Tapi banyak orang sekaligus. Udah tahu aneh begini kok ya nggak curiga atau ngerasa aneh, gitu."
"Ya...mana kutahu. Baru kali ini begini. Kupikir virus atau apa."
Gojo hanya geleng-geleng kepala.
"Ah, tapi gimana caranya ajak mereka ke kuil ya. Pasti diprotes kenapa aneh-aneh dan bukannya ngajak ke rumah sakit," ucap Sukuna.
"Terserah deh, terserah," Gojo menyerah.
"Geez, iya iya. Gitu aja ngambek."
"Iya lah, kamu nggak tahu semalem se hectic apa."
"Iya iya, maaf. Bentar, aku kabarin Uraume," Sukuna meraih ponselnya.
"Ya udah. Aku masak dulu ya. Laper," Gojo pun bangkit dan meraih kantong belanjaan, membawanya ke dapur.
Tak berapa lama Uraume mengetuk dan masuk menghampiri Sukuna.
"Soal itu, sebenarnya saya juga ingin mengatakan hal serupa. Saya mendapat kabar dari Hiroki-san, salah satu pekerja yang sakit, dia juga yang kemarin menebang pohon itu. Katanya dia sudah ke kuil dan memang sembuh, jadi dia menyuruh semua rekannya yang sakit ke kuil saja bukan ke rumah sakit. Dia bilang dia merasa aneh karena sakitnya mendadak dan langsung banyak orang sekaligus, ditambah setelah ada konflik dengan pohon itu. Sepertinya dia orang yang percaya pada hal-hal mistis."
"Tuh, pekerja mu ada yang kepikiran," teriak Gojo dari dapur.
"Iya iyaaaa," balas Sukuna. "Ya sudah, suruh mereka kumpul dan bareng-bareng ke kuil saja," ucap Sukuna pada Uraume. Uraume pun mengangguk.
Sukuna makan pagi dan minum obat sesudah itu. Setelahnya, barulah ia pergi ke kuil bersama pekerja lainnya, didampingi Gojo dan Uraume. Di kuil mereka dimandikan dengan air suci, meskipun kondisi mereka sedang demam, malah dimandikan.
Setelah itu penjaga kuil juga menyarankan untuk berdiskusi dengan warga setempat mengenai pohon itu, karena mereka lebih tahu apa yang harus dilakukan.
"Baiklah, setelah ini saya akan mengatur pertemuan lagi dengan warga," ucap kepala proyek. "Nanti akan saya kabari la—..." ucapannya terpotong saat seorang pekerja mengatakan, ia mendapat pesan dari rekan kerja yang lain yang ada di site. Katanya pohon yang kemarin mereka tebang, kini sudah berdiri lagi seperti tak pernah tersayat apapun.
Sukuna melongo, ia menatap Gojo yang tampak memutar bola mata jengah.
'Kan, kubilang juga apa,' seolah mengatakan demikian.
"Bohong ah," si kepala proyek juga masih belum percaya. Soalnya kemarin dia sendiri yang menyaksikan pohon itu tumbang. Ia pun melakukan panggilan video dengan pekerja yang ada di site. Dan benar saja, pohon itu sudah berdiri tegak seperti tak pernah disentuh, barulah mereka percaya dengan keanehan yang terjadi.
"Argh, ya sudahlah. Kalian kerjakan di bagian yang lain dulu, biar kuhubungi cient untuk merubah desain atau bagaimana," Sukuna memutuskan. Mereka pun mengangguk, menuruti ucapan Sukuna.
.
.
"Astaga, serius ini pertama kali terjadi padaku. Hal aneh begini," ucap Sukuna sambil memasuki apartment.
"Ya lain kali lebih hati-hati lah. Diakui atau tidak, kita hidup berdampingan dengan mereka. Mau kehidupan modern atau masih budaya lama," sahut Gojo, ikut memasuki apartment. Ia meraih tubuh Sukuna, menempelkan tangannya ke dahi Sukuna. "Demammu udah mulai turun. Ya sudah, aku pulang ya."
"HUH?!" Sukuna shock. "Cepet amat!"
"Ya gimana. Aku ke sini ambil cuti dadakan loh. Dan aku cuma ambil cuti 2 hari."
"Ya masih ada besok kan?! Balik besok malem aja, kan ada penerbangan malam."
Gojo manyun. Sepertinya ia banyak kerjaan, tapi akhirnya tak tega melihat Sukuna. "Iya deh iya, aku balik besok malam," Gojo mengecup dahi Sukuna.
"Nah, gitu dong," seringai Sukuna.
"Tapi kau bukannya mau kerja juga. Emang aku nggak ganggu?"
"Nggak lah. Paling aku bakal diskusi ulang dulu sama client buat..." ucapan Sukuna terhenti dan menatap datar pada Gojo. Gojo menghela nafas lelah dan tersenyum datar.
"Nah kan, kau sibuk juga. Ya sudah, aku pulang saja. Nanti kalau kamu udah selesai, kamu jadi pulang," Gojo mengusap pipi Sukuna.
"Tch! Tapi bisa-bisa lama. Kalau client menolak, harus meyakinkan supaya mereka mau. Terus mengubah rancangan juga butuh waktu. Bisa-bisa nggak pulang sampai projek selesai!"
"Ya mau gimana lagi, masalah pekerjaan," Gojo mengacak rambut Sukuna. Gojo melangkah menuju tas nya, tapi Sukuna lalu memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi..." lirihnya, memeluk erat tubuh Gojo. "Gini aja deh. Aku tunda menghubungi client sampai lusa. Biar aku nggak ada kerjaan selama kau di sini."
"Emang nggak masalah? Kehilangan banyak waktu, tenaga, bisa ngaret dari estimasi yang sudah ditentukan, client nggak komplain tuh?"
"..." Sukuna tak menjawab, ia mengeratkan pelukannya. "...nggak papa..." lirihnya kemudian.
Gojo tersenyum tipis, akhirnya tak tega. "Baiklah, aku pulang besok deh," Gojo membalikkan badan lalu memeluk Sukuna, mengusap punggungnya lembut, lalu mengecup puncak kepalanya. Sukuna tersenyum karena itu. "Nah sekarang..." Gojo membopong Sukuna naik ke ranjang. "Karena kau masih demam kau harus banyak istirahat."
"Aku sudah nggak demam," protes Sukuna. Ia meraih termometer untuk mengukur suhu, demam nya memang sudah turun. Tapi yah, namanya sehabis demam pasti masih terasa sedikit aneh. Seperti mati rasa atau sedikit pening.
"Iya iya. Minum obat lagi lah buat jaga-jaga. Eh, udah lewat jam makan siang juga ini. Aku masak dulu deh," Gojo bangkit, tapi Sukuna kembali menariknya. Memeluknya sehingga Gojo terjatuh, berbaring ke ranjang dengan tubuh di pangkuan Sukuna.
"Delivery saja," Sukuna meraih ponselnya, masih memeluk Gojo. "Mau makan apa?"
Gojo tersenyum dengan kelakuan manja Sukuna. Ia menyentil hidung Sukuna lalu memesan makanan. Ia menatap wajah Sukuna yang masih sibuk dengan ponsel untuk pemesanan. "I love you," lirih Gojo yang sontak membuat wajah Sukuna semerah tomat.
"Apaan sih," Sukuna melepaskan pelukannya di tubuh Gojo. Gojo hanya tertawa.
Tak berapa lama pesanan mereka datang. "Aku aja yang ambil di bawah," ucap Gojo. Sukuna pun mengangguk. Saat Gojo turun untuk mengambil makanan, Sukuna keluar kamar untuk menemui Uraume di kamarnya.
"Bisa urus negosiasi dengan client nggak? Lusa aku baru mulai kerja. Gojo di sini sampai besok," ucap Sukuna.
"Iya nggak masalah. Nanti saya sampaikan hasilnya," balas Uraume.
"Oke, thank you ya," ucap Sukuna lalu buru-buru kembali ke kamar sebelum Gojo naik.
"Makanan datang~" ucap Gojo memasuki kamar. Mereka pun ke meja makan untuk makan bersama. Sukuna masih agak mati rasa pada makanan yang dikecapnya, tapi sudah jauh lebih baik dibanding kemarin.
"Eh, soal pohon tadi jadinya gimana?" obrol Gojo saat makan.
"Masih diskusi sama penduduk katanya. Ada upacara khusus atau semacamnya lah. Nanti dikabari lagi," balas Sukuna.
"Lah, rencananya mau ubah desain atau masukin pohonnya dalam area pabrik? Kan ada tuh, kalau di mall-mall, yang dikasih area khusus buat tanaman satu atau dua doang."
"Tergantung, ini client mau nya gimana. Bahas nanti lah sama mereka."
"Eh, ngomong-ngomong, aku sebenarnya nggak terlalu mudeng sama kerjaanmu deh. Kau punya tim pekerja bangunan gitu kan? Kupikir arsitek itu cuma ngasih rancangan terus udah. Nggak perlu ngawasin, nggak perlu ngurus pekerja."
"Ya...yang begitu juga ada sih. Biasanya kalau yang sendirian gitu, jadi kerjaannya benar-benar cuma mendesain bangunan pesanan client. Udah. Nerima job lain, nge desain lagi, kasih client, begitu terus. Tapi ada juga yang punya tim sepertiku. Jadi aku kerjasama dengan Uraume dan Mahito, bagi tugas. Aku yang desain, Uraume yang uji ketahanan material, Mahito yang urus budget. Awal kami bergerak hanya seperti itu, kami bertiga sama-sama cari client juga. Seiring waktu kami kerja sama juga sama pemborong, mereka yang cari tenaga kerja. Kepala proyek gitu lah, mereka punya tim pekerja buat pembangunan. Awalnya cuma satu, tapi projek makin banyak, jadi cari tim lagi."
"Ooo, jadi tiap projek itu ada beberapa kepala proyek gitu kah?" tanya Gojo.
Sukuna mengangguk. "Iya, pembagian tim. Apalagi kalau projek besar. Jadi misal tim A menggarap bagian depan, tim B menggarap bagian samping, dan seterusnya. Gambaran kasarnya begitu, intinya ada pembagian kerja biar jelas dan cepat. Makin ke sini juga makin banyak client yang lebih memilih arsitek yang sudah punya tim sekaligus. Biar mereka nggak perlu cari pemborong. Agak lebih mahal memang, tapi irit waktu dan tenaga, apalagi kalau mereka malas repot atau dikejar waktu. Belum tentu juga pemborong yang mereka sewa kerjanya bagus. Kalau ada leader nya seperti aku kan ada pertanggungjawaban jelas dibanding yang hanya dari tim pemborong. Apalagi kalau dari pemborong, biasanya untuk supplier, pihak kontraktor harus cari sendiri juga. Kalau dari pemborong yang cari sendiri, bisa dikorupsi atau dipalsukan harganya, kan kontraktor tidak tahu. Atau bisa juga materialnya jelek," jelas Sukuna. Ia menyuapkan makanan ke mulut sebelum melanjutkan penjelasan.
"Sedangkan kalau sudah ada tim sepertiku, material serta budget, segala macamnya sudah jelas, sudah kami jelaskan dari awal presentasi projek. Ditambah, kami juga sudah banyak memiliki kerjasama dengan supplier. Pokoknya kontraktor tinggal sediakan budget, sama tawar menawar harga dengan kami. Minta material lain supaya lebih murah, atau lain-lain. Semua itu ada di awal projek sebelum memulai pembangunan."
"Hee, rupanya begitu," Gojo kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. "Terus, kau harus ngawasin gitu di dekat site? Katanya semua sudah di awal proyek."
"Ya iya, untuk jaga-jaga hal tak terduga. Seperti tadi itu. Bisa-bisa harus ganti desain hanya karena sebuah pohon. Pokoknya jaga-jaga untuk hal tertentu. Material yang datang, atau pelaksanaan kerja. Kami tetap harus mengawasi. Ya nggak selalu sih, dibanding para pekerja tentu saja kami jauh lebih santai. Di proyek sebelum ini aku juga bisa sering pulang kan, karena nggak terlalu jauh. Tapi kalau jaraknya jauh, terus nggak ada alasan buat pulang, ngapain juga bolak-balik capek di jalan. Kalau dulu paling sesekali saja buat menemani Yuuji."
Gojo tertawa pelan. "Jadi sekarang ada alasan untuk pulang eh. Wah wah, alasan yang lebih kuat daripada menemani adik sendiri."
Blush...!
Wajah Sukuna seketika memerah. "Ya nggak gitu juga! Habisnya Yuuji sendiri yang bilang nggak usah terlalu sering pulang, takut capek bolak-balik. Dia bilang dia baik-baik saja dan akan mengabari rutin!"
Gojo tertawa. "Iya iya, sayang. Jangan ngambek dong," goda Gojo. Untuk selanjutnya Sukuna makan dalam diam, ia bahkan tak menjawab saat Gojo mengajak ngobrol. "Dih ngambek, aku pulang nih."
"Hngh!" Sukuna merajuk dengan muka ditekuk, Gojo kembali tertawa melihat itu. Gojo selesai makan duluan dan memberesi peralatan makan. "Aku duluan ya. Mau ke kamar mandi," ucapnya. Gojo memberesi bekas makan, lalu pergi ke kamar mandi.
Sukuna mempercepat makan, rasanya tak enak makan sendiri. Ia segera memberesi bekas makannya dan berniat ke kamar mandi, kebetulan Gojo juga sudah selesai. Pria itu tampak mengelap mulut dengan tissue, mengeringkannya. Gojo tersenyum menatap Sukuna yang kini pipinya sedikit merona. Sepertinya Sukuna paham apa yang disinyalkannya.
"Buruan ya," ucap Gojo sembari mengecup pipi Sukuna. Aroma mint segar tercium dari bibirnya. Ia baru menggosok gigi, atau berkumur dengan mouthwash. Sudah cukup kode bagi Sukuna bahwa Gojo ingin berciuman.
Sukuna tak menjawab, hanya melanjutkan langkah ke kamar mandi. Ia berdiri di depan wastafel, menatap bayangan dirinya.
"Shit!" umpatnya sambil menutup muka dengan tangan saat melihat pantulan wajahnya yang memerah di cermin. "Apa wajahku gampang banget terbaca ya," gerutunya sembari meraih pasta gigi dan sikatnya, lalu mulai membersihkan mulut.
Setelah selesai, Sukuna terdiam sesaat. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Ia tampak memikirkan sesuatu.
Sementara di luar, Gojo menunggu Sukuna sambil memainkan ponsel. Ia sedikit heran karena Sukuna tak juga keluar meski sudah cukup lama.
Cklek...!
Gojo mengalihkan wajah dari ponsel saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. "Kok lama banget si—..." ucapan Gojo terhenti dan ponsel yang dipegangnya jatuh ke ranjang saat melihat Sukuna muncul hanya memakai kaos oblong. Entah memakai boxer atau tidak karena tertutup kaos, yang jelas paha mulus Sukuna terekspose bebas.
"Sukuna...jangan mancing deh," ucap Gojo. "Kan kamu lagi demam."
"Biarin. Udah sembuh kok," Sukuna ngeyel. Ia menghampiri Gojo, naik ke ranjang dan naik ke pangkuan Gojo, memeluk lehernya. Tanpa kata ia langsung meminta ciuman, sebuah ciuman basah. Gojo merasakan rongga mulut Sukuna masih sangat panas, ia belum sembuh total. Gojo melepas ciuman, memegang wajah Sukuna dengan kedua tangannya, tapi menjaga jarak wajah mereka tetap dekat.
"Serius, jangan lebih dari ini," ucap Gojo dengan nafas tersengal. Sukuna sengaja duduk di selangkangan Gojo, dan tangannya juga dengan nakal mengusap tengkuk Gojo. "Kau masih demam. Aku nggak—...mmmn..." ucapan Gojo terhenti karena Sukuna kembali menciumnya, menyusupkan lidahnya ke mulut Gojo.
Tak bisa menahan diri, tangan Gojo bergerak mengusap paha Sukuna, meremasnya, laku beralih ke bokong Sukuna di balik kaos. Rupanya ia masih pakai boxer. Gojo mengusap bokong Sukuna, meremasnya. Sukuna melepas ciuman, lalu menjilat cuping telinga Gojo, menggigitnya pelan. Ia beralih mencium leher Gojo, tapi Gojo mendorong tubuhnya ke ranjang, menindihnya, dan beralih Gojo yang menciumi leher Sukuna.
"Ngh...ahh," Sukuna tak peduli lagi. Ia sedikit mengangkat tubuh bawahnya supaya selangkangannya bergesek dengan milik Gojo, tangannya meremas kuat rambut belakang Gojo. Ia tak peduli sama sekali pada demamnya, ia yakin saat ini Gojo menginginkan hal yang sama.
Sukuna menarik baju Gojo, berusaha melepasnya. Gojo pun menegakkan tubuh, melepas pakaiannya menuruti kemauan Sukuna. Gojo juga melepas kaos Sukuna. "Dingin nggak?" tanyanya setengah tertahan, masih mencoba menahan diri.
"Hangatkan aku," Sukuna kembali merengkuh tubuh Gojo, memeluknya erat. Sudah begitu lama ia tak merasakan kehangatan tubuh itu, merasakan sentuhannya. "Ahh..." Sukuna mendesah saat Gojo melakukan penetrasi tanpa melepas pelukan, ia hanya mengeluarkan penisnya dari celana lalu langsung masuk, sepertinya sudah tak sabar. Sukuna tak keberatan dengan itu, ia juga sudah tak sabar ingin dimasuki.
"Hn, ahh," Sukuna mendesah, mencengkeram punggung Gojo kuat. Sudah lama sekali ia tak dimasuki. Selama ini ia hanya bermain dengan jarinya, sama sekali tak membuat ia puas. "Satoru...ahh, lebih cepat. Nn, nn...ahh," desahnya.
Gojo menurut, ia pun mempercepat gerakan. Ia biarkan saja Sukuna memeluknya begitu erat, selama ia masih bisa bergerak keluar masuk.
"Ough...ahh, aaaahhh," hanya butuh waktu sebentar sampai Sukuna klimaks. Tapi ia tak meminta berhenti. Ia malah menelusupkan tangannya ke dalan celana Gojo, meremas bokongnya seolah meminta Gojo masuk lebih dalam. "Hn..keluarkan di dalam. Ahh...cepat."
Gojo meneguk ludah berat. Ia menggigit leher Sukuna sembari mempercepat gerakan. Tangannya mencengkeram kuat paha Sukuna. "Hnn..." ia menyodok keras saat akhirnya ia klimaks, menumpahkan sperma nya di dalam lubang sukuna.
Nafas Gojo terengah, tapi Sukuna tak membiarkannya beristirahat. Sukuna meraih wajah Gojo, mencium bibirnya untuk beberapa lama. Sukuna melepas ciuman, masih menempelkan dahi mereka.
"I miss you," ucap Sukuna.
Mata Gojo terbelalak. Bukan hal biasa Sukuna bisa jujur begitu dengan perasaannya. Gojo mengusap rambut Sukuna ke belakang lalu mengecup dahi Sukuna. "I miss you too. So much," balasnya lalu kembali merengkuh tubuh Sukuna. Memberikan kepuasan yang Sukuna minta.
.
~OoooOoooO~
.
Hari sudah berganti malam. Sebenarnya Sukuna ingin mandi dan bebersih karena tubuhnya begitu lengket, tapi rasanya malas sekali bangun. Ia dengan nyaman tiduran di atas lengan Gojo yang kini memeluknya. Gojo juga tampak malas untuk bangun. Ia memeluk Sukuna, mengecup pelipisnya, lalu membetulkan selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka.
Sukuna bangun sekedar untuk merubah posisi, menarik tangan Gojo ke atas kepalanya supaya tak pegal ia tindih terus. Sukuna ganti menyamankan kepala di dada Gojo, memeluk pinggangnya.
"Kau nggak bisa lebih lama di sini?" tanya Sukuna.
"Nggak bisa. Aku ambil cuti 2 hari doang. Mana mendadak banget. Udah mending dikabulin," ucap Gojo.
Sukuna tersenyum kecil. Iya juga ya, Gojo datang mendadak begitu, tengah malam pula. Rasanya ambil cuti mendadak begitu sungguh sebuah keajaiban bisa dikabulkan. Tapi Gojo tetap melakukannya demi Sukuna. Sukuna rasa Gojo pasti sangat menghawatirkannya.
Gojo membelai rambut Sukuna. "Lagian kamu juga kerja kan. Nanti lah, kalau kau sudah settle dengan kerjaanmu, kamu jadi pulang," tambahnya.
Sukuna mengangguk setuju. Lalu menggulingkan tubuhnya ke tubuh Gojo, sepenuhnya menindih tubuh pria itu. "Sampai besok aku mau begini terus," ucap Sukuna. Gojo tertawa kecil karenanya.
"Kamu sih, nerima job jauh banget. Ambil yang dekat-dekat saja."
"Geez, ya kali bisa gitu. Kita kan ngikutin client," Sukuna mengangkat wajahnya, menatap leher Gojo. Ada kissmark yang ia buat tadi. Sukuna menyentuh kissmark itu. Gojo tersenyum, meraih tangan Sukuna lalu mengecupnya.
"Ah, aku juga bikin nih, di lehermu. Jangan ditutupin ya, hehe," cengir Gojo, ganti menyentuh leher Sukuna.
"Yakali ketemu client atau pekerjaku tapi nggak ditutup. Kau sendiri memangnya bakal ke kampus dengan leher begitu? Dipecat bisa-bisa."
Gojo tertawa mendengar itu.
"Eh, ngomong-ngomong soal kissmark, kamu beneran nggak ngapa-ngapain kan sama Shun?" tanya Sukuna.
"Enggak, astagaaa," Gojo menjewer pipi Sukuna. "Apaan sih, jangan bahas orang lain deh kalau lagi berduaan gini. Males aku."
"Geez, habis foto nya Shun begitu."
"Argh, susah emang dia dibilangin. Disuruh jangan upload tetep diupload juga. Eh, lah kamu ngikutin sosmed nya dia?"
Sukuna mengangguk.
"Dih, kurang kerjaan banget. Unfollow deh."
"Apaan sih, cuma nge follow juga. Aku juga follow beberapa akun celeb kok nggak dia doang. Kalau kau marah gitu aku malah jadi curiga lagi."
"Astagaa, emangnya gimana biar kamu percaya?"
"Habisnya kenapa dia di kamarmu, pakai bathrobe pula."
"Dia asal masuk, pakai bathrobe. Tapi nggak mandi di kamarku kok. Terus dia bilang pengin ngasih fanservice buat fans nya, jadi foto pose kayak gitu. Abis itu dia pakai bathrobe nya bener kok, malah terus pergi dari kamarku. Cuma pencitraan doang fotonya tuh. Aku aja nggak mau ikut difoto, tapi dia asal jepret. Kena sebagian tuh, kan fotoku blur karena aku lagi kabur. Dasar emang gila dia, tetep aja dipost."
"Hee, terus kenapa ada kissmark di leher dia? Sama di pundak."
Gojo mengerutkan alis. "Huh? Kissmark? Mana coba lihat."
Sukuna meraih ponselnya lalu membuka medsos Shun untuk melihat foto itu. Tapi ia mengernyit heran saat fotonya sudah tak ada. "Lah, sudah ditakedown?"
Gojo ikutan melihat ke layar ponsel Sukuna. "Wait, bentar-bentar," Gojo melihat postingan terbaru Shun. Hanya tulisan yang mengatakan 'maaf, tapi tolong jangan dibahas lagi. Itu menyangkut privasi. Dan yang punya fotonya, tolong jangan disebar ya, hapus kalau bisa. Kouhai ku betulan sudah tidak ingin exist di dunia hiburan. Peace.'
"Apaan coba?" Sukuna jadi bingung. Gojo menekan di bagian trending. Dan ia membelalakkan mata melihat hashtag yang trending di sana.
#whitehairedkouhai #gojosatoru #winnerofWHCGMA
Tiga hashtag itu menduduki trend tertinggi di medsos tersebut.
"Mampus," ucap Gojo. Ia buru-buru mengambil ponselnya yang sedari siang tak pernah ia pegang. Ia memghela nafas lelah begitu melihat isinya.
"Apaan?" tanya Sukuna. Gojo memberikan ponselnya pada Sukuna untuk ia lihat. Ada chats masuk dari Shun. Intinya ia meminta maaf. Rupanya foto sebelumnya yang ia post, meski ia sudah menyensor kepala Gojo, ia tak sadar kalau view nya mencakup kaca di lemari Gojo. Dari sana terlihat bayangan kepala Gojo dari belakang, rambutnya yang putih serta kulitnya yang nyaris senada. Hanya dari foto seperti itu, fans bisa mencari tahu siapa kouhai yang selalu Shun sebut dalam postingannya.
Well, tak banyak orang albino. Ditambah, fans bisa saja menelusuri dari majalah model tempat di mana Shun pernah bekerja, dan menemukan satu sosok albino itu tentu saja bukan hal yang sulit. Dari sana fans mengetahui soal Gojo, lalu mulai mencari nama itu. Dan tentu saja ketemu soal award yang pernah ia menangkan dan lain-lain. Intinya, nama Gojo kembali trending di dunia hiburan, foto-foto lama nya saat masih menjadi model juga kembali muncul ke permukaan, padahal ia sudah tak ingin lagi berurusan dengan dunia sana.
Well, trending di dunia literatur atau tulis menulis bukanlah hal yang buruk, dan tentu saja, trending di bagian itu hanya berarti yang mengetahui soal dia adalah orang yang juga menyukai dunia tersebut, tak semua orang tahu. Tapi kalau trending di dunia hiburan...bisa dikatakan cakupan public nya lebih luas. Bukan hanya golongan tertentu saja, tapi bisa dari seluruh lapisan masyarakat.
"Aargh! Dasar Shun brengseeeekkkk," geram Gojo.
Sukuna jadi tak enak mau membahas yang tadi. Ditambah, ia melihat sekali lagi foto yang dikirimkan Shun, sepertinya memang bukan kissmark di leher dan di pundak Shun, hanya bayangan sesuatu karena efek pencahayaan. Mungkin malah kesempatan bagi Sukuna untuk kabur dari topic itu daripada dicap terlalu parno oleh Gojo. Yeah, habisnya saat itu ia dalam keadaan emosi, ditambah demam, pikirannya jadi kemana-mana.
Gojo ganti melihat isi log call nya. Banyak misscall dari pihak agency Gojo yang dulu. Dengan wajah ditekuk, Gojo mem-block satu per satu kontak mereka. Sukuna hanya merinding melihat raut kekesalan Gojo.
Gojo ganti memeluk Sukuna, menggulingkan tubuh pria itu hingga terbaring ke ranjang, lalu membenamkan wajah ke dada Sukuna. "Aaaaaarrgghhhh...!" teriaknya kesal.
Sukuna hanya bisa puk puk kepala Gojo supaya lebih tenang. Mereka cukup lama dalam posisi itu, tapi meski terlihat tenang, sepertinya Gojo masih kesal. Setelah beberapa lama, ia bangkit tanpa kata dan menuju kamar mandi, bahkan sedikit membanting pintunya.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
