Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

A/N : Kumau ngucapin banyak banyak terimakasih buat kalian yang udah baca fic ini, terutama yang udah support like/vote/star, apalagi yang nyempetin komen n berinteraksi ma author. Sumpah itu mood booster banget, dan buat hiburan banget biar meredakan stress (akhir2 ini lg berantakan banget mood nya ntah kenapa wkwk), jadi dr lubuk hati yang paling dalam *ceilah* makasih banyak buat kalian semua. Loph yu gaes~

.

.

Makasih banyak buat yang udah review :

# Meng : unch uuunnch~ wkwk iya kah serem kah XD btw makasih banyak udah read and review ya…

Makasih juga buat Yuki ChibiHitsu-chan, kokorocchi sama emperor it's me, dibales lewat PM ya~

.

.

HeartBreak Night

.

.

Matahari pagi sudah mengintip dari celah tirai jendela. Gojo menggeliat bangun, dan hal pertama yang ia kerjakan adalah mengecek sosmed, berharap hashtag trend tentangnya sudah turun. Sayangnya belum, dan itu membuat mood nya memburuk di awal pagi.

Sukuna menggeliat bangun di sampingnya. Tapi bukan sambutan selamat pagi hangat yang ia terima dari Gojo, melainkan wajah masamnya yang tengah memainkan ponsel. Semenjak Gojo mengeblock nomor-nomor orang dari agency, kini ponselnya dibombardir misscall oleh nomor tak dikenal. Pasti mereka mencoba menghubungi Gojo dengan nomor lain larena tahu nomor mereka diblock.

"Apa ganti nomor saja ya," gerutu Gojo.

Sukuna bangun dan duduk di samping Gojo. "Ah, ohayou," sapa Gojo, sepertinya baru melihat Sukuna sudah membuka mata.

"Masih rame?" tanya Sukuna. Gojo mengangguk. "Sudahlah, trend biasanya berapa lama sih. Paling seminggu saja udah lewat, ganti sama trending yang baru. Orang-orang sekarang mah, kalau viral terus populer paling lama sebulan dua bulan udah ganti hal lain lagi. Sabar aja lah."

Gojo menggeliat dan menggulingkan tubuhnya ke pangkuan Sukuna, sengaja meninjukan lengannya ke perut Sukuna. "Aaarrggh jadi malas pulaaaanngg," erangnya.

Sukuna tertawa, meraih tangan Gojo lalu menciumnya. "Ya bagus, di sini saja malahan."

"Hngghh..." Gojo hanya menggumam tak jelas. "Dah ah, mandi," ucap Gojo lalu bangun. Sebelum ke kamar mandi, Sukuna melihat kalau Gojo me-non aktifkan ponsel nya. Mungkin sudah muak dengan situasi yang ada.

.

Setelah gantian mandi, Sukuna keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut. Ia sudah memakai baju santai. Dilihatnya Gojo gabut hanya gegulingan di kasur sambil menggonta ganti channel TV. Ia tampak bosan karena ponselnya ia matikan. Gojo ganti melirik Sukuna.

"Kamu kalau mau kerja, kerja aja. Aku paling gegulingan aja di kamar. Males ngapa-ngapain," ucap Gojo.

Sukuna melemparkan handuk ke sandaran kursi, lalu naik ke ranjang dan menyandarkan tubuhnya ke tubuh Gojo. "Kutemani," ucapnya sambil meraih hairdryer lalu mengeringkan rambutnya. Ia memang sudah merencanakan off hari itu demi Gojo. Kekasihnya itu sudah datang jauh-jauh, hanya dua hari pula di sana. Waktu mereka begitu singkat untuk bertemu sebelum harus berpisah lagi.

"Nggak papa, kerja aja. Aku bakal tetap di kamar kok," Gojo ganti meraih hairdryer dan mengeringkan rambut Sukuna.

"Biarin. Kan kemarin aku juga bilang, mau begini terus sama kamu."

Gojo tersenyum kecil mendengar itu.

"Pesan sarapan belum?" tanya Sukuna.

"Belum. HP ku mati," balas Gojo.

Sukuna pun meraih ponselnya dari atas meja. "Mau makan apa?" ia membuka aplikasi untuk order makanan.

"Hmm...apa ya," Gojo ikut menye croll layar ponsel Sukuna. "Eh, ini deket loh. Ke sana langsung saja yu—..." tapi ucapan Gojo langsung terhenti mengingat kehebohan yang sedang ada. Ia jadi takut dikenali kalau sedang di luar. "...pesan ini saja," ralat Gojo lesu.

"Ok," Sukuna pun memesan sarapan untuk mereka berdua.

Gojo bangkit menuju dapur. "Masih ada pudding. Mau nggak?" teriaknya dari dapur.

"Sarapan dulu! Jangan makan pudding nya sekarang!" omel Sukuna. Tak ada jawaban dari Gojo. Sukuna menoleh ke arah ponselnya saat terdengar tone chat masuk. Ia mengerutkan sebelah alis. Chat dari Megumi, menanyakan soal Gojo yang tak bisa dihubungi. Ah, iya ya, kan Gojo mematikan ponsel. Sukuna pun bangkit menyusul ke dapur, rupanya Gojo tengah makan pudding di sana.

"Tck! Dibilangin jangan makan pudding dulu, perut kosong gitu," Sukuna menjitak pelan kepala Gojo.

"Biarin. Bad mood," ucap Gojo cemberut.

"Ini nih, dicariin Megumi," Sukuna memberikan ponselnya ke Gojo. Gojo pun membalas chat Megumi dengan sendok pudding masih di mulut. Tak berapa lama Megumi malah menelfon. Gojo menekan tombol answer, me-loud speaker dan menaruhnya di meja, sementara ia kembali makan pudding dengan santai.

"Lagi rame ya," ucap Megumi di ujung telefon.

"Banget," balas Gojo.

"Aku sama Yuuji ampe kena juga loh ini."

"Huh? Serius?"

"Iya. Teman-teman sekolah yang tahu kau datang ke sekolahku dan foto-foto sama Yuuji juga. Yaa...namanya juga orang banyak, nyebar juga akhirnya."

"Gomen," ucap Gojo lesu.

Megumi menghela nafas. "Tou-san, Banyak tawaran masuk buat modelling lagi?"

"Tau. Ku block nomor mereka."

"Beneran udah nggak mau nerima?"

"Enggak. Kok kamu malah kayak ikutan mojokin sih!" Gojo bersungut-sungut.

"Bukan begitu, hanya ingin memastikan. Biar bisa cari solusi. Jadi beneran udah nggak mau berurusan dengan dunia hiburan?"

"Iya, nggak mau."

"Ya udah. Fix ya. Kalau sudah konfirmasi gini kan aman. Tadinya mau bertindak tapi rada kepikiran siapa tahu kau mau cari keuntungan dari keadaan yang ada."

"Nggak lah. Males aku. Lah, emang bertindak apaan?"

"Buat nyepam hasthtag. Itu, postingan terakhir Shun, mau dispam repost dengan hashtag tentangnu yang lagi trending. Jadi kalau orang mau cari apa yang ada di hashtag itu, yang ketemu bakal spam repost, bukan lagi foto-foto mu atau hal-hal tentangmu."

Gojo dan Sukuna saling pandang. "Huh? Gimana gimana?" Gojo belum terlalu paham.

"Postingan terakhir Shun, yang bilang 'tolong hargai privasi kouhai ku, karena dia udah nggak mau exist di dunia hiburan'. Jadi itu di screenshot, direpost yang banyaaaak, terus hashtag nya pakai 3 hashtag tentangmu yang sedang trending itu. Jadi, kalau orang-orang search soal hashtag tersebut, yang mereka temukan bakal screenshot post nya Shun yang tadi, bukan lagi hal-hal tentangmu."

"Oooooooo," ucap Gojo dan Sukuna bersamaan. "Ternyata bisa gitu ya," tambah Gojo.

"Iya, terinspirasi dari kasus sebelah. Ada juga yang pakai cara semacam ini."

"Lah, emangnya harus spam post berapa banyak biar ketutup? Capek dong kamu."

"Ya nggak aku doang, aku minta sama temen-temen deket juga, temen-temen Yuuji juga, sama temen-temen dunia maya. Coba buka medsos, ada juga kok kubu yang ikut menyerukan supaya menghargai privasi mu. Kurasa, kalau ada trigger, mungkin bakal banyak yang ikut juga."

"Oh, atau kau sendiri juga post soal itu Satoru," Sukuna mengusulkan. "Kau post di medsos mu soal kau yang ingin dihargai privasi nya. Bukannya malah akan lebih mentrigger banyak orang untuk berada di kubu yang pro denganmu."

"Ah, bisa juga tuh. Nanti malah postinganmu yang bakal direpost buat bukti kuat, Tou-san. Oh, kalau bisa suruh Shun ikut repost juga tuh, atau menyuarakan spam repost ini. Dia kan followers nya banyak. Dan dia post permintaan maaf itu harusnya dia mau dong bantu turunin trending nya."

"Oooh, boleh boleh. Oke deh, habis ini aku langsung post. Sama chat Shun juga."

"Oke," balas Megumi singkat. Gojo pun bergegas ke kamar mengambil ponsel dan menyalakan benda itu. Ratusan notifikasi langsung masuk. Gojo hanya menghela nafas lelah lalu menutup semua notif itu. Ia segera membuka medsos, lonceng notifikasi nya ada angka 999+ tapi tak ia hiraukan. Ia segera membuat post, sekedar tulisan singkat. Tapi tentu saja ia harus sopan. Posisinya saat ini adalah influencer, kata-katanya dilihat orang banyak entah dari kalangan mana saja, bisa memberi pengaruh besar bagi siapapun yang membaca. Jadi dia harus hati-hati.

Well, tapi tentu saja Gojo sudah terbiasa bersikap sopan terutama di depan media karena dulu ia pernah jadi model, jadi harus selalu jaga image demi kepopuleran serta nama baik agency. Lalu sekarang ia harus menjaga nama baiknya sebagai author pemenang award, menjaga nama baik publisher serta kampus tempatnya bekerja. Dengan bijak, Gojo memilih kalimatnya.

Intinya dia mengucapkan terimakasih terlebih dahulu atas antusias para netizen, ia hargai itu. Lalu barulah ia menyampaikan bahwa ia sudah tak ingin berkecimpung di dunia hiburan, saat ini ia menjalani kehidupan yang damai seperti orang pada umumnya. Ia ingin menjalani kehidupan biasa tanpa sorotan kamera, dan di akhir kalimat ia mengatakan bahwa ia berharap masyarakat dapat menghargai keputusannya, serta memberinya ruang untuk kehidupan pribadi nya.

Dan…post. Ia lalu menge chat Megumi, mengirimkan link post tersebut.

'Apa ini cukup bagus?' tanyanya.

'Great,' balas Megumi. 'Akan kumulai repost dan meminta teman-teman melakukan hal yang sama.'

'Ok. Makasih Megumi. Setelah ini aku akan hubungi Shun juga.'

Setelahnya Gojo membuka blokir an kontak Shun, dan mengirim chat dengan awalan 'T-A-N-G-G-U-N-G J-A-W-A-B'. Setelah itu Gojo menjelaskan rencana Megumi tadi.

'Ok ok. Siap laksanakan komandan (hormat),' balas Shun. Gojo tinggal menunggu apa yang terjadi.

"Gimana? Udah?" Sukuna menghampiri membawa makanan. Saking seriusnya, Gojo tak sadar kalau tadi Sukuna sudah keluar apartment untuk mengambil makanan yang mereka pesan.

"Iya udah, tinggal nunggu hasil," balas Gojo. Wajahnya sudah tampak ceria, tak murung seperti tadi. "Makan yuk," ucapnya riang. Sukuna jadi tersentum tipis melihat ekspresi Gojo sudah membaik. Mereka pun sarapan bersama di meja makan.

Sambil sarapan, Gojo meletakkan ponsel di samping piringnya, berulangkali melongok ke sana untuk memantau. Membuat tak ada obrolan di acara sarapan mereka. Tapi Sukuna tak protes, biar saja Gojo menyelesaikan masalahnya dulu.

Tak berapa lama Gojo tampak tersenyum lebar. "Sukuna Sukuna, lihat deh," ia menggeser ponselnya mendekati Sukuna. Sukuna pun melongok ke sana.

Post Gojo mendapatkan banyak sekali react dan respon, mereka mengatakan setuju dan berkata akan share post tersebut. Di sisi lain, Shun juga sudah me repost postingan Gojo. Followersnya yang banyak tentu saja langsung gercep menanggapi.

Gojo juga mengecek hashtag tentangnya, rencana Megumi berhasil. Kini hashtag tersebut penuh dengan repost an post Gojo dan post milik Shun. Sampai banyak sekali. Foto-foto nya mulai susah dicari. Terutama foro candid yang diambil diam-diam oleh orang yang tak sengaja bertemu dengannya dulu, misalnya saat di aquarium atau teman-teman sekolah Megumi yang mencuri-curi foto dari kejauhan. Well, tujuan mereka hanya satu kan, pamer, atau pansos. Merasa wow karena pernah bertemu Gojo sebelum viral kini.

Karena dari foto-foto candid semacam itulah fans jadi makin liar, ada yang berasumsi tempat tinggalnya di mana lah, mencari tahu tempat kerja nya lah, atau siapa orang yang selalu bersama nya (Megumi, Yuuji, Sukuna), bahkan ada yang mulai mencari tahu soal clan Gojo, apakah Gojo berasal dari sana atau hanya namanya saja yang kebetulan sama. Pokoknya mereka mulai liar ingin mendalami kehidupan pribadi Gojo. Dan Gojo tak suka itu.

Untunglah Megumi menyarankan hal barusan. Gojo benar-benar berharap kehidupannya akan kembali normal seperti sedia kala. Ia sudah tak ingin disorot public atau mata kamera. Ia hanya ingin menjalani kehidupan bersama putra nya, kekasihnya, dan orang-orang terdekat tanpa perlu ada skandal atau judgement public soal kehidupannya.

Shun kembali mengirimi Gojo chat. 'Hahahaha berterimakasihlah, karena Sachou ngamuk besar padaku telah menaikkan spam repost mu. Dia mau nya merayu kau kembali meskipun hanya satu projek. Memanfaatkan keviral an yang ada.'

'Bodo amat. Kayak nggak ada model lain aja yang bisa ngehasilin duit,' balas Gojo.

"Heeehh," Gojo menghela nafas lega. Ia bisa tersenyum lebar sekarang. Sukuna tersenyum melirik ekspresi Gojo saat itu.

"Habis ini mau jalan-jalan nggak? Kuajak kau keliling kota," ucap Sukuna. "Penerbanganmu nanti malam jam 7 kan?"

Gojo pun tersenyum dan mengangguk bersemangat.

.

~OoooOoooO~

.

Setelah sarapan, Gojo dan Sukuna pun keluar untuk jalan-jalan keliling kota naik bus. Ya, soalnya tidak ada dari mereka yang bawa mobil. Dan terlalu merepotkan kalau harus sewa mobil dulu.

Mereka mencari tempat nongkrong, distrik belanja dan membeli barang-barang khas daerah itu untuk oleh-oleh. Beberapa orang tampak mengenali Gojo, tapi mereka tak heboh dan langsung mengerumuninya atau minta foto dan segala macam. Mereka hanya tampak berbisik, yang lain hanya melirik dan tersenyum lalu melanjutkan langkah. Gojo senang karena itu. Sepertinya tak seburuk yang ia kira, tidak se hectic yang ia pikirkan. Syukurlah.

Gojo dan Sukuna keliling kota sampai jam makan siang. Mereka makan di salah satu restaurant khas di sana, lalu kembali ke apartment. Sukuna bilang sih biar Gojo ada waktu istirahat sebelum perjalanan pulangnya malam nanti.

"Kayaknya setiap kau mengundang orang ke rumah ujung-ujungnya masalah deh," goda Sukuna setelah mereka tiba di kamar. Ia tengah mengganti baju ke baju santai.

"Geez, ya kebetulan aja kali," balas Gojo. "Apa? Kamu mau bilang aku jangan bawa orang ke rumah lagi, gitu?"

"Enggak. Siapa yang bilang begitu yeee," balas Sukuna tanpa menoleh.

Gojo tersenyum tipis menatap punggung Sukuna. Ia menghampiri, memeluk tubuh itu lalu mengecup pipi nya.

"Mau?" tanya Sukuna, merangkul kepala Gojo dengan satu tangan. Gojo tertawa kecil lalu mengecup leher Sukuna.

"Nggak ah, nggak kuat aku. Nanti sore ke bandara, terus perjalanan pulang. Di rumah ada kerjaan," Gojo pun melepaskan tubuh Sukuna dan berbalik menuju ranjang, duduk di tepiannya.

Sukuna melanjutkan pakai baju lalu menghampiri Gojo, memeluknya. "Ya sudah, cuddle saja."

Gojo tersenyum dan berbaring membawa tubuh Sukuna dalam pelukannya. Ia mengusap-usap lembut punggung Sukuna, lalu mengecup puncak kepalanya.

"Hngghh, sayangku," ucap Gojo gemas, mengeratkan pelukan. Pasti sakit, tapi Sukuna tak protes apapun. Wajahnya sedikit bersemu, dan ia juga membalas pelukan Gojo. Gojo tersenyum melihatnya. "Iya, kita cuddle saja," tambah Gojo.

Mereka hanya diam untuk selanjutnya, memeluk tubuh masing-masing, merasakan suhu tubuh orang yang mereka cintai. Mereka akan berpisah lagi nanti. Ya...mungkin tak akan lama, tapi tetap saja kan. Ada rasa rindu yang sudah terasa meski mereka belum terpisah.

.

Sore sekitar pukul 5 Gojo ke bandara, Sukuna ikut mengantarnya ke sana. Mereka duduk menunggu sebelum pesawat take off sambil berpegangan tangan meski sembunyi-sembunyi. Sesekali mengobrol ringan, sesekali hanya diam menikmati kebersamaan mereka.

Hingga akhirnya Gojo sudah harus naik pesawat. Dengan berat hati mereka pun berpisah. Sukuna hanya menghela nafas lelah saat melihat pesawat Gojo take-off dan menjauh hingga hanya titik kecil lampu yang nampak. Setelah itu barulah Sukuna kembali ke apartment nya. Kerjaan sudah menunggu. Masih untung dia ada Uraume yang bisa diandalkan.

.

~OoooOoooO~

.

Pekerjaan Sukuna lumayan lancar ternyata. Kontraktor mereka sangat pengertian. Mereka perusahaan besar yang sudah punya beberapa cabang di berbagai kota, jadi pabrik yang ini bukan pabrik pertama yang mereka bangun. Sudah ada pengalaman sejenis yang dialami saat pembangunan pabrik di lokasi lain, bahwa rencana pembangunan harus sedikit berubah karena hal tak masuk akal, jadi bisa dibilang mereka sudah terbiasa.

Karena itulah mereka mudah saja meng iya kan saat Sukuna bilang harus merubah desain, perubahan rencana lain juga disetujui. Sukuna segera mengerjakan rancangannya, mengubah struktur bangunan, dan pohon yang membuat masalah waktu itu, kini jadi berada di belakang gedung, dibangun tembok melingkar juga untuk melindungi pohon itu daripada menimbyulkan masalah di kemudian hari.

Ritual yang dimaksudkan penduduk juga sudah dilaksanakan. Termasuk persyaratan yang harus dipenuhi setiap tahun untuk pohon itu, bahkan di iya kan oleh pihak kontraktor. Se flexible itu mereka.

Sukuna tersenyum saat mengerjakan rancangannya. Ia bisa segera pulang setelah itu selesai. Ia akan kembali menemui Gojo.

.

~OoooOoooO~

.

Hari itu Gojo pulang lebih awal karena semua urusannya sudah selesai, ada pekerjaan kecil tapi bisa dikerjakan di rumah. Daripada gabut dia pulang saja, towh bukan dia saja yang sudah pulang duluan.

Saat menyetir menuju rumah, ia mengernyitkan dahi ketika sebuah limousine terparkir di depan rumahnya. Ia merasa tak ada janjian dengan siapapun. Apa jangan-jangan orang dari agency? Masih mengurusi soal keviralannya beberapa waktu lalu? Tapi Gojo tak yakin orang agency akan datang ke rumahnya menggunakan limousine.

Gojo menyetir makin dekat ke rumahnya, dan perlahan ia bisa mengenali siapa yang berdiri di samping limousine itu. Gojo terbelalak dan seketika menginjak rem.

"Tch! Mau apa dia," gerutunya dan memilih menekan klakson keras-keras daripada turun dari mobil. Ia mau mereka menyingkir dari depan gerbang rumahnya.

Seorang wanita paruh baya menatap ke arahnya dengan tatapan tenang, tetap tak menyingkir atau masuk ke limousine. Beberapa bodyguard menghampiri mobil Gojo, mengetuk kaca mobilnya, tapi Gojo hanya membuka sekitar 5cm.

"Pergi," ucap Gojo bahkan sebelum mereka mengucapkan sepatah kata pun. Gojo kembali merapatkan kaca mobil, lalu kembali menekan klakson. Dan karena tampaknya mereka keras kepala, Gojo akhirnya memundurkan mobilnya dan memilih pergi dari sana.

.

~OoooOoooO~

.

Sukuna merenggangkan otot tangannya yang pegal. Akhirnya urusannya selesai juga. Rancangannya beres, sudah ACC dengan client, sudah diberikan ke kepala proyek nya. Pokoknya urusan dia sudah selesai. Ia pun bicara dengan Uraume dan Mahito kalau ia ingin pulang. Mereka gampang saja mempersilahkan, towh kalau ada apa-apa, sejauh bukan soal rancangan, mereka berdua bisa urus. Mereka tak pernah bolak balik pulang karena merasa tak punya alasan untuk hal itu. Selama ini mereka kerja dengan Sukuna, pindah-pindah tempat selama proyek, bagi mereka ya itulah hidup mereka. Pindah ke tempat baru, pengalaman baru, mungkin liburan kalau sedang senggang. Bagi mereka itu cukup menyenangkan. Intinya saat ini mereka belum menemukan sesuatu yang mengekang mereka di suatu tempat.

Sukuna memutuskan pulang di hari Jumat. Ia sengaja tak memberitahu Gojo dulu supaya surprise. Nanti saat pulang kerja, Gojo pasti terkejut Sukuna sudah di rumah. Lalu mereka akan menghabiskan Sabtu Minggu dengan berduaan. Sebuah rencana yang sempurna.

Sukuna pun tersenyum senang begitu tiba di rumah Gojo. Ditatapnya rumah itu sepi, tentu saja, itu baru menjelang sore, jadi pasti Gojo masih di kampus. Sukuna pun memasuki rumah, lalu naik ke kamarnya. Ia tak sabar menunggu Gojo pulang.

.

Tapi hingga hari gelap, belum ada tanda-tanda kehadiran Gojo. Dengan keheranan Sukuna menyusuri rumah sambil menyalakan lampu-lampu. Ia mengecek ponselnya, tak ada notif masuk dari Gojo juga. Ia pun mencoba menelfon. Ada nada sambung, tapi tak diangkat. Ia coba menelfon lagi, tapi direject, dan Gojo mengirimkan pesan default yang tersedia dari applikasi tersebut.

'I'll call you right back.'

Sukuna hanya mengerutkan dahi tapi tak bisa berbuat apa-apa. Lalu karena lapar, ia pun memilih memesan makanan daripada menunggu Gojo.

.

Sekitar jam 9 malam saat Sukuna santai menonton TV, barulah Gojo menelfon.

"Gomen gomen, baru senggang nih, lagi makan malam," ujar Gojo. "Kamu udah makan, sayang?"

"..." Sukuna melirik ke arah ponselnya lalu kembali menatap ke arah TV, mengecilkan suaranya. "Kau di mana?" ia malah mengganti pertanyaan, bukan menjawab pertanyaan Gojo.

"Di luar. Lagi ada kegiatan kampus. Kenapa emang?"

"Pulang kapan?"

"Kalau sesuai jadwal sih besok Minggu. Tapi nggak tahu jam berapa."

"HUH?!" Sukuna shock.

"Iya. Soalnya ini kegiatan lapangan. Aku jadi pembimbing nya. Jadi aku ikut kegiatan dari Jumat sampai Minggu. Ya...maaf kalau beberapa hari ke depan aku bakal jarang nelfon atau chat."

Sukuna memijit keningnya pelan. Sepertinya ia menyesal pulang tak bilang dulu untuk menanyakan kegiatan Gojo.

"Kenapa emang? Kok...kamu kayak aneh gitu," tanya Gojo karena Sukuna diam saja.

Sukuna menghela nafas panjang. "Aku ada di rumah," ucapnya kemudian.

"..." hening. "HUH?!" giliran Gojo yang shock. "Kok nggak bilang dulu sih mau pulang. Tau gitu aku lempar tanggungjawab ke dosen lain kan."

"Geez, aku mana tahu kau ada kegiatan! Biasanya Sabtu Minggu libur kan."

"Aargh, terus gimana dong. Aku nggak yakin ada yang mau nggantiin aku udah di tengah acara begini."

Sukuna menghela nafas lelah. "Ya sudahlah. Nggak masalah. Aku di sini lama juga, mungkin seminggu lebih."

"...maaf ya," lirih Gojo.

"Iya iya. Aku juga yang salah nggak ngabarin dulu mau pulang," samar di ujung telefon Sukuna mendengar ada yang memanggil Gojo. "Ya udah, balik ke kesibukanmu sana. Hubungi aku kalau ada waktu saja."

"..." Gojo kembali terdiam. "...gomen," lirihnya lagi, lalu mematikan telefon. Sukuna pun hanya bisa menghela nafas lelah, menyandarkan total tubuhnya ke sandaran sofa, lalu kembali menaikkan suara TV.

.

Sukuna menikmati akhir pekan dengan sendirian di rumah. Ia mau pergi ke mana juga tak ada yang bisa diajak pergi. Ia pulang pun rumahnya kosong. Tak ada Yuuji, tak ada Mahito atau Uraume. Sukuna menatap lorong rumah yang hening, seolah keheningan itu sampai memekakkan telinga. Kini ia mengerti kesepian Gojo selama sendirian di rumah itu.

Selama Sukuna tinggal dengan Gojo, kalau Gojo sedang kerja, Sukuna di rumah tak begitu merasa sepi, karena ia tahu sore nanti Gojo akan pulang. Ia cukup menghabiskan hari itu dengan hal lain.

Tapi bagaimana dengan Gojo saat Sukuna pergi? Gojo akan berada di rumah sendirian. Menunggunya yang entah pulang kapan. Hati Sukuna sedikit sakit membayangkan itu. Ia jadi menyesal sering memarahi Gojo kalau ia membawa orang ke rumah untuk menemani nya. Entah itu Utahime, atau Shun. Kini ia bisa merasakan kesepian yang sama.

"Eh, atau coba hubungi Yuuji ya," Sukuna baru kepikiran. Ia pun menghubungi adiknya itu. Menanyakan apa ia bisa main ke sana, atau menyuruh Yuuji yang datang.

"Gomen, Nii-san. Hari ini aku lagi outbond sama teman-teman academy. Tanya Megumi coba," balas Yuuji.

Meski manyun, Sukuna hanya bisa maklum. Sukuna pun ganti menghubungi Megumi.

"Oh, aku senggang kok. Tapi kalau mau, kau yang ke sini saja Sukuna-san. Aku sedang disuruh menjaga anjing temanku soalnya," balas Megumi. Sukuna pun menyetujui. Megumi segera share loc ke Sukuna.

Sukuna bangkit mau mengambil kunci mobil, tapi ia lalu melirik seolah memikirkan sesuatu. Ia nyengir kemudian mengirim chat ke Gojo.

'Beb, pinjam mobil ya. Sekali-kali,' chat Sukuna. Tak ia sangka Gojo membalas cepat.

'Yee, giliran ada maunya doang panggil 'beb',' balas Gojo yang membuat Sukuna terkekeh. 'Mau kemana emang? Jangan bilang mau pergi kencan!'

'Hahah iya mau kencan sama Megumi. Bweee,' balas Sukuna.

'Geez, awas saja kalau sampai CLBK. Aku ganti PDKT ke Yuuji lagi nih.'

'Enggak astaga. Hanya sedang bosan di rumah. Salahmu sendiri pergi.'

'Salahmu sendiri pulang nggak bilang dulu.'

Sukuna hanya terkekeh. Ia mengirimkan stiker (heart) sebelum mengakhiri chat nya lalu pergi ke kamar Gojo untuk mengambil kunci mobil. Ia pun membawa mobil kece milik Gojo untuk ke apartment Megumi.

.

Sukuna memarkirkan mobilnya di parkiran apartment, lalu naik ke lantai 5 di mana apartment Megumi berada. Ia mencari nomor kamar yang diberitahu oleh Megumi, lalu mengetuk kamar itu.

"Tunggu sebentar," terdengar suara Megumi dari intercom. Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncul Megumi di sana bersama seekor anjing husky di dekat kakinya. Sukuna tampak shock saat melihat Megumi. "Sukuna-san?" panggil Megumi karena Sukuna mematung dengan tatapan terbelalak.

"Kau..." Sukuna menggerak-gerakkan tangannya seolah mengukur tinggi. "Kau jadi tinggi banget."

"Ah..." Megumi menatap kepala Sukuna. Ia baru sadar sekarang ia lebih tinggi dari Sukuna. "Astaga, aku juga baru sadar. Sudah lama juga ya kita tidak bertemu, Sukuna-san," Megumi melangkah masuk, mempersilahkan Sukuna mengikuti tanpa perlu ajakan. "Selama ini aku ketemu sama Tou-san terus jadi nggak terlalu merasa tinggiku bertambah. Soalnya dia masih tetap lebih tinggi dariku."

"Astaga, memangnya kau nggak sadar saat ketemu Yuuji?" balas Sukuna sambil melepas sepatunya.

"Kalau Yuuji kan dari awal sudah lebih pendek dariku. Tambah nggak terasa. Eh, jangan-jangan sekarang Yuuji juga lebih tinggi darimu, Sukuna-san?" seringai Megumi. "Dia latihan fisik terus loh setiap hari."

"Hoi, mau menghina nih."

Megumi hanya tertawa kecil. Ia mempersilahkan Sukuna duduk di ruang tengah, anjing husky itu menatap Sukuna dengan tatapan penasaran. Sukuna pun membelai anjing itu dan mengajaknya bermain, sementara Megumi ke dapur untuk mengambil minuman.

"Apartment mu bagus juga. Nggak kayak punya Yuuji. Dia sekamar berempat tuh, aku pernah ke sana. Mana cowok semua, jadi berantakan banget."

"Haha maklum lah, namanya juga asrama. Kalau ini kan apartment biasa. Tou-san yang pilih juga. Makanya bisa begini," Megumi kembali ke ruang tengah membawa nampan berisi minuman dan snacks.

"Kau pernah ke tempat Yuuji?" tanya Sukuna.

"Pernah beberapa kali. Teman-temannya seru banget. Tapi ya, lebih sering Yuuji yang ke sini sih. Buat tidur yang sepi katanya, sesekali capek tidur ramean terus," Megumi duduk di sebelah Sukuna. Husky itu beralih ke Megumi, dan Megumi mengelusnya.

Sukuna menyeringai. "Hee, kalau dia sering ke sini...sudah pernah...?" Sukuna memberikan kode dengan tangan. Tangannya menggenggam, memasukkan ibu jari di antara telunjuk dan jari tengah.

"Kenapa kalian pertanyaannya sama saja!" omel Megumi sweatdrop dengan wajah memerah.

"Hee, jadi Satoru tanya juga?" cengir Sukuna. Megumi mengangguk kikuk. "Dan kalau melihat reaksimu, sepertinya masih belum ya?" goda Sukuna lagi.

Megumi hanya memalingkan wajah dan memainkan husky di tangannya, Sukuna pun tertawa keras.

"Ya habisnya nunggu apalagi? Kalian sudah lama pacaran loh," ledek Sukuna.

"Urusai," balas Megumi masih menggunakan husky sebagai pelampiasan.

"Heh, mau kuajari?" seringai Sukuna. "Jangan bilang kau belum tahu cara melakukannya?"

"I-itu..." wajah Megumi memerah total. Tapi Sukuna tersenyum mendengar Megumi bukan langsung menolaknya mentah-mentah, artinya ia memang tertarik, tapi malu untuk meng iya kannya.

"Yah, tapi kau harus membangun stamina dulu sih. Kau kan ku—..." Sukuna memegang lengan atas Megumi dan terdiam, ia merasakan otot yang keras. Megumi pun mengangkat lengan dan menyingsingkan lengan kaos nya sampai pundak. Bicep nya mulai terlihat. Ia juga pamer otot perut nya yang mulai terbentuk meski belum sempurna.

"Aku sudah nggak kurus lagi, oke. Mungkin karena jangkung jadi masih kelihatan kurus. Tapi aku sedang membentuk badanku biar kayak Tou-san," ucap Megumi.

"Hee, begitu rupanya," Sukuna menopang dagu dengan tangannya yang menumpu ke sandaran sofa, tubuhnya miring menghadap Megumi.

"Iya, ternyata jadi mahasiswa kedokteran itu lebih berat dari yang kuduga, makanya harus jaga stamina. Awalnya rajin olahraga sama atur pola makan sekedar biar nggak drop saja, tapi aku melihat ototku mulai sedikit terbentuk. Jadinya aku malah ingin beneran membentuk tubuhku."

"Hee, bagus dong. Biar kuat di ranjang sampai pagi," ucap Sukuna dengan asal ceplos nya.

Seketika wajah Megumi memerah kembali. "Kenapa sih kalian bahas itu terus! Nggak ada topik lain apa?!"

Sukuna kembali terkekeh. "Ya sudah, ganti topik deh. Anjing siapa itu? Kenapa kau disuruh menjaganya?" tanya Sukuna setengah meledek.

"Anjing temanku. Dia pulang ke rumah orang tua nya, jadi aku yang disuruh menjaga," balas Megumi sedikit ketus, seolah tahu Sukuna mengganti topik karena menggodanya saja.

"Pfftr..." Sukuna menahan tawa, lalu lanjut ngobrol ke sana ke mari.

.

Sukuna menghabiskan seharian di apartment Megumi. Tapi sore nya dia pulang, tak mau menginap karena takut mengganggu. Ia pun kembali melaju menuju rumah Gojo. Suasana mulai gelap saat ia pulang ke rumah yang senyap itu.

"Heh, sepi lagi," ia menghela nafas lelah lalu masuk ke rumah dan mulai menyalakan lampu. Ia duduk di ruang tengah sebelum memutuskan naik ke lantai dua. Ia mulai berpikir soal kehidupannya dengan Gojo.

Kalau ia bekerja seperti ini terus, ia dan Gojo akan lebih banyak LDR ketimbang hidup bersama. Selama projek Sukuna akan pergi, bisa sebulan, dua bulan, empat bulan. Meski ia bisa pulang sesekali, tetap tak menghapus kenyataan bahwa mereka lebih sering LDR ketimbang hidup bersama. Apa selamanya akan begitu?

"Apa aku jadi arsitek yang betulan hanya merancang bangunan saja ya," gumamnya pada diri sendiri. Ia bisa merancang bangunan, menyerahkan sisanya pada Uraume dan Mahito, lalu dia tetap di rumah. Ya bisa sih, tapi tentu saja bayarannya akan jauh lebih kecil, Mahito itu sangat strict mengenai pembagian uang. Meski itu justru kelebihannya sih.

Sukuna meraih ponsel, melihat saldo tabungannya. Memikirkan kemungkinan kalau ia betulan hanya merancang saja. Kemungkinan bayaran dia segini, lalu karena ia sekarang di rumah Gojo, tak perlu memikirkan soal biaya listrik, air dan lain-lain. Ya dia biasanya ikut patungan sih karena dia juga pakai, tapi tetap lebih hemat kan. Mungkin gajinya akan cukup meski ia hanya merancang saja. Itu kalau untuk dirinya sendiri.

Lalu bagaimana dengan Yuuji? Yuuji dan Megumi masih berada di tahun kedua di perkuliahan mereka. Masih ada banyak waktu sebelum mereka lulus dan mulai mandiri. Meski mereka sudah mandiri pun, Sukuna juga tak mau lepas tangan begitu saja, Yuuji tetap tanggungjawabnya sampai kapanpun, ia tak mau melepas Yuuji sendirian. Dan Sukuna rasa Gojo juga begitu terhadap Megumi.

Sukuna khawatir soal biaya pendidikan Yuuji dan lain-lain kalau gajinya berkurang. Mungkin ia bisa cari client sendiri setelah satu project selesai dan project tersebut digarap oleh tim nya. Tapi itu berarti ia harus siap menguras stamina, dan tentunya ia harus minta persetujuan Uraume dan Mahito dulu, biar bagaimanapun ia tak mau kehilangan tim nya.

Tapi…sampai kapan?

Kalau ia terus melakukan itu, meski sering di rumah, sama saja ia akan sering berada di kamar dalam mode zombie. Tak jauh beda dengan dia tak ada di rumah, malah lebih parah karena tambah merepotkan Gojo kalau dia betulan dalam fase mayat hidup.

"Hngghh, harus bagaimana ya," Sukuna mengusap rambutnya ke belakang. Mulai memikirkan solusi. Ia merenung sesaat hingga tatapannya berubah cerah saat terpikir sesuatu. Ia kembali menatap jumlah tabungannya, lalu tersenyum.

"Yeah, mungkin masih butuh waktu. Tapi kurasa rencana ini bagus juga," ucapnya pada diri sendiri.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra