Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak buat Yuki ChibiHitsu-chan, Frigg Nevia07 and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Sukuna bangun dengan malas keesokan paginya. Ia mendapat chat dari Gojo kalau kemungkinan Gojo pulang siang atau sore tergantung keadaan. Pokoknya lewat tengah hari, jadi Sukuna pun malas-malasan di kasur meski sudah jam 8 pagi. Ia terus gegulingan di sana setengah tidur setengah bangun. Setelah perutnya keroncongan barulah ia menggeliat dari tempat tidur.

Ia merenggangkan otot sambil menatap jam dinding. Sudah hampir jam 10. Astaga, nyaris 2 jam dia gegulingan tak jelas. Sukuna menguap, ia meraih ponsel untuk memesan makanan, lalu meninggalkannya ke kamar mandi. Toh mandinya sebentar kalau tidak berendam. Seusai mandi, ia menilik ponsel dan ternyata memang pesanannya belum datang. Ia pun harus menunggu beberapa saat lagi sampai makanan itu tiba.

Setelah ia menerima makanan, ia memilih makan di ruang tengah sambil nonton TV. Porsi nya banyak sekali. Sukuna pun hanya menghabiskan semampunya. Sisanya ia bawa ke dapur, mungkin bisa dimakan lagi nanti. Soalnya sayang kalau dibuang, masih lumayan banyak.

Saat membenahi makanan tersebut, Sukuna mengerutkan alis mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ia menatap jam, baru jam 11 an. Apa Gojo pulang lebih cepat? Sukuna pun melangkah ke depan rumah untuk melihat siapa yang datang. Rupanya bukan Gojo.

Seorang wanita paruh baya berpakaian tradisional, berdiri di depan gerbang dikawal beberapa lelaki ber setelan hitam.

"Gojo Satoru-sama ada?" ucap wanita itu saat melihat Sukuna.

"Belum pulang. Mungkin sebentar lagi," jawab Sukuna. "Anda sudah ada janji?" tanyanya. Ia pikir wanita itu tamu Gojo. Wanita tersebut tampak tersenyum tipis mendengar jawaban Sukuna.

"Ya, sudah ada janji," jawabnya. Sukuna pun membukakan pintu gerbang untuk mereka. Wanita itu menatap kepada para pengawalnya. "Kalian pergi saja. Bawa mobilnya. Nanti kuhubungi saat aku mau pergi," ucap si wanita. Para pengawal itu pun menurut, mereka masuk ke limousine dan membawa pergi kendaraan itu. Sementara si wanita memasuki rumah Gojo dipandu oleh Sukuna.

Suasana cukup awkward bagi Sukuna. Wanita itu tak banyak bicara meski Sukuna mencoba sopan. Ia sekedar membawa wanita itu ke ruang tengah dan mempersilahkan duduk, lalu menawarinya minum. Tapi wanita itu hanya menanggapi singkat sehingga Sukuna tak bisa menyambung obrolan.

Sukuna mengambilkan teh seperti yang diminta wanita itu. Meski yang Sukuna sajikan pastinya es teh, karena praktis tinggal ambil di kulkas.

"Ini yang kau sebut teh?" wanita itu mencibir. Sukuna cengok. "Yang kumaksud teh itu ya teh hijau."

"Nggak ada teh hijau," omel Sukuna. Dia kan tamu, tapi nggak sopan banget menolak suguhannya dan malah minta yang aneh-aneh.

"Heh, kalau begitu air putih saja."

Menghela nafas lelah, Sukuna mengambil kembali teh itu, lalu menggantinya dengan air putih. Karena gondok, Sukuna pun meninggalkan wanita itu sendirian di ruang tengah, sementara ia main game di beranda samping di kursi santai. Setidaknya dia masih bisa mengawasi dari sana, tapi tak perlu mengobrol.

Sekitar jam 1 siang barulah Gojo menghubungi Sukuna kalau ia dalam perjalanan pulang. 'Lama amat!' omel Sukuna dalam hati. Sekitar 15 menit kemudian, terdengar suara mobil Gojo memasuki halaman dan langsung ke garasi. Karena malas dengan wanita tua di ruang tengah, Sukuna pun pergi menjemput Gojo tanpa pamit.

"Sayaaang," riang Gojo begitu melihat Sukuna. Ia langsung memeluk pria itu dan menciumnya. Bahkan membopong tubuh Sukuna dan memepetnya ke tembok. "Aaargh, aku kangen," ucap Gojo, menciumi leher Sukuna.

"Hey, hentikan!" kesal Sukuna.

"Masa nggak boleh? Udah lama nggak ketemu loh," Gojo tak mendengarkan. Ia meraba ke dalam kaos Sukuna dan masih menciumi lehernya.

"Kau ada tamu!" ucap Sukuna.

Seketika Gojo menghentikan gerakan. "Tamu?" ia menjauhkan wajah demi menatap Sukuna.

"Iya. Katanya sudah janjian denganmu. Wanita paruh baya yang menyebalkan."

Mendengar penjelasan itu raut muka Gojo langsung berubah. Ia terlihat marah, lalu seketika melepaskan tubuh Sukuna dan berjalan masuk ke rumah. Sukuna yang menatap heran langsung mengikuti langkah Gojo.

Gojo melangkah dengan langkah lebar menuju ruang tengah di mana wanita itu berada.

"Okaerinasai, Satoru-sama," sambut wanita itu begitu melihat Gojo.

"KELUAR!" bentak Gojo langsung. Sukuna hanya terbelalak mendengar itu. Apa seharusnya ia tak mempersilahlan wanita itu masuk? Dia siapa?

"Apa Anda tak ingin mendengarkan orang tua ini sebentar saja, Satoru-sama. Ini tentang Ibu Anda."

"Aku tidak peduli! Cepat pergi dari rumahku!" Gojo menarik kasar lengan wanita itu lalu mendorongnya menuju pintu keluar. Sukuna segera minggir supaya tak menghalangi. Sepertinya Gojo tengah marah sekali.

Wanita itu ditarik Gojo dengan langkah lebarnya sehingga membuat sang wanita sedikit kewalahan dalam melangkah. "Beliau sedang sakit parah. Apa sekali saja Anda tidak ingin menjenguk? Mungkin sekali ini saja atau apapun itu, beliau terus memikirkan Anda selama ini sampai akhirnya sakit," wanita itu berusaha menjelaskan karena sepertinya Gojo benar-benar tak mau ia berada di sana lebih lama lagi.

"Jangan mengoceh semaumu. Wanita itu tidak pernah memikirkanku dan tak akan pernah melakukannya," Gojo mengeluarkan si wanita ke luar pintu lalu membanting pintu tepat di depan mukanya. Gojo lalu membuka intercom. "Aku tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu! Jadi jangan menggangguku lagi! Aku takkan berubah pikiran!" setelah itu Gojo pun mematikan intercom dan berjalan masuk dengan langkah dihentak-hentakkan.

Ia melewati Sukuna, tapi melirikpun tidak. Ia langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Beberapa saat kemudian, Sukuna yang masih di lantai bawah, mendengar suara pintu kamar yang dibanting keras. Sukuna hanya bisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali. Sepertinya kesalahan besar ia membawa wanita tadi masuk.

.

Sukuna tak mengusik Gojo setelahnya. Tapi ia mulai khawatir saat ia selesai mandi dan Gojo masih belum keluar juga dari kamar. Hari sudah gelap, dan ini sudah hampir waktunya makan malam. Tapi Gojo tak memberikan tanda-tanda akan keluar kamar. Apa ia coba ketuk saja ya pintunya...?

Sukuna ragu. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. Lewat setengah jam dari jam biasa mereka makan malam, pintu kamar Gojo masih tertutup rapat. Tapi lampunya sudah menyala, Sukuna tahu Gojo bangun. Ia pun melangkah ke kamar Gojo. Sebenarnya ia enggan menganggu, tapi ia juga khawatir karena Gojo belum makan sejak siang tadi. Entah dia makan atau belum sebelum pulang.

Sukuna mengetuk dengan sedikit ragu, tak ada jawaban. Ia pun mengetuk sedikit lebih keras. "Satoru..." kali ini ia memanggil. Tetap tak ada respon. Sukuna terdiam, tapi lalu merengut saat sebuah ide muncul di kepalanya. Ia enggan melakukan itu, tapi sepertinya hanya itu yang bisa membuat Gojo merespon. Dengan sweatdrop menggantung di kepala dan wajah sedikit memerah, Sukuna kembali mengetuk.

Tok...tok...tok...!

"S-sayang. Kau bangun? Makan yuk. Kau belum makan loh seharian."

Sial!

Rasanya Sukuna ingin langsung mengubur diri sendiri hidup-hidup. Ia menundukkan kepalanya di pintu dengan wajah yang memanas. Tapi sepertinya triknya berhasil. Ia samar mendengar langkah mendekat, lalu pintu pun terbuka. Gojo muncul dengan muka manyun tapi sedikit senyum kecil terlihat di bibirnya.

"Astaga, belum mandi!" omel Sukuna untuk menghapus rasa malu karena ucapannya tadi. Ia melihat Gojo masih memakai pakaian saat ia pulang tadi.

"Hng..." rajuk Gojo menggumam tak jelas. Ia hanya bersandar ke pintu dengan malas. Sepertinya masih enggan buka suara.

"Mandi dulu sana! Aku pesankan makan malam," perintah Sukuna.

"...mandiin," rajuk Gojo pelan.

"Tch! Ogah!"

Gojo manyun. Sukuna pun menghela nafas lelah lalu menggandeng Gojo ke kamar mandi. Gojo tersenyum tipis meski wajahnya masih ditekuk. "Cepat buka baju!" ceramah Sukuna. Dengan malas-malasan, Gojo pun menanggalkan pakaian dan memasukkannya ke keranjang cucian. "Duduk sini," perintah Sukuna, menggeser sebuah kursi pendek. Gojo pun menurut saja.

Sukuna meraih shower lalu menyalakannya, menyetel nya ke air hangat, karena sepertinya Gojo butuh lebih rileks. Ia mengguyur tubuh Gojo sedikit demi sedikit, dari tangan, punggung, lalu sampai ke rambut. Sesekali Sukuna mengintip wajah Gojo, ia masih diam, menatap hampa ke udara di hadapannya. Sukuna juga tak mau berkomentar.

Ia menyampo rambut Gojo, lalu menyabun tubuhnya. Gojo tak banyak merespon, hanya bergerak sesuai kemauan Sukuna, seperti boneka yang tengah dimainkan. Setelah Sukuna rasa cukup, ia pun membersihkan busa sabun di badan Gojo, membilasnya sampai bersih. Setelah itu ia mengambilkan handuk dan mengerodongkannya ke kepala Gojo.

"Keringkan sendiri, terus gosok gigi. Aku mau ganti baju dulu," ucap Sukuna karena pakaiannya basah kuyup memandikan Gojo.

Gojo hanya mengangguk pelan sebagai respon. Dengan langkah malas ia menaruh handuk di pundak, lalu menuju wastafel untuk gosok gigi. Sukuna kembali ke kamarnya untuk ganti baju. Saat ia kembali ke kamar Gojo, pria itu sudah berpakaian santai.

"Mau makan apa? Ayo pesan makanan," ucap Sukuna.

Gojo menatap Sukuna. "Mau dimaasakin sama kamu."

"Tch! Aku nggak bisa masak. Paling tumis atau goreng-goreng gitu," kesal Sukuna.

"Nggak papa. Sama telur doang juga nggak papa."

Sukuna menghela nafas lelah lalu meng iya kan. Sukuna menuju dapur, Gojo mengikuti di belakang. Sukuna membuka freezer, untungnya masih ada sedikit sayuran di sana. Ia pun masak apa yang ia bisa dari bahan yang ada. Ia membagi dua porsi masakan itu. Sebagian ia masak pedas untuknya sendiri, sebagian ia masak manis untuk Gojo. Setelahnya ia menyajikan ke meja makan, dan mereka pun makan malam bersama.

"Itadakimas," ucap mereka sebelum mulai makan. Mereka makan dalam diam. Sesekali Sukuna melirik Gojo, tapi ia kembali fokus makan saja. Sebenarnya bohong kalau ia tak penasaran dengan apa yang terjadi, tapi ia tak mau mengorek terlalu dalam kalau memang Gojo tak ingin membahasnya.

Yang Sukuna tahu, Gojo pernah bilang kalau orang tua Gojo berlaku buruk kepadanya sejak ia kecil, mungkin hal itu yang membuatnya masih trauma, tak ingin pulang apapun yang terjadi. Meski jika yang dikatakan wanita itu benar, Ibu Gojo tengah sakit keras.

Sukuna menyuapkan makanan ke mulutnya. Well, ia tak mau menceramahi seseorang mengenai bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Ia tak tahu seberapa besar trauma yang dialami Gojo, kalau ia menceramahi seenaknya, ia rasa ialah yang kejam pada Gojo. Ditambah...jika itu dirinya sendiri, mungkin ia melakukan hal yang sama. Seandainya saat ini, Ibu nya yang sudah meninggalkannya sejak ia berusia 3 tahun, kini kembali padanya, Sukuna bahkan tak yakin mau menerimanya kembali atau tidak.

Ia tak begitu ingat dengan Ibu nya itu, tapi ia ingat bagaimana ayahnya yang tak pernah membahas sekalipun tentang wanita itu. Mungkin saja ada memory buruk di sana. Dan untuk seseorang yang memberikan memory buruk pada ayahnya itu...Sukuna tak yakin akan menerima begitu mudah. Ditambah, well, tentu saja...itu sudah lewat berapa puluh tahun. Meskipun Ibu nya muncul di hadapannya saat ini, bagi Sukuna pasti hanyalah orang asing. Tak ada ikatan batin sama sekali. Dan ia rasa, kasus Gojo dengan Ibu nya tak begitu jauh beda.

Gojo bilang ia keluar dari rumah setelah lulus SMU dan hidup bersama Megumi, sudah berapa tahun ia tak bertemu dengan keluarganya. Apalagi dengan kenangan buruk masa kecil. Mungkin Gojo juga sudah menganggap ia tak ada hubungan lagi dengan keluarganya.

"Gochisousama," ucap mereka setelah makan. Sukuna memberesi tempat makan mereka dan membawanya ke wastafel.

"Biar aku saja, kau sudah sering melakukannya," ucap Sukuna. Gojo tak menjawab, hanya menatap dalam diam. Saat Sukuna mencuci piring, Gojo memeluknya dari belakang, menghirup tengkuknya. Tangan Gojo merayap nakal ke selangkangan Sukuna, menekannya cukup kuat supaya bokong Sukuna menggesek selangkangannya.

"Nh..." Sukuna melirik Gojo. "Bersih-bersih dulu sana."

"Hngh..." Gojo menggumam tak jelas, tapi lalu menurut. Ia melepas pelukannya di tubuh Sukuna lalu naik menuju kamar. Sukuna menyelesaikan cuci piring dengan segera lalu naik ke kamar, masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Ia keluar kamar mandi sambil mengelap mulutnya yang basah setelah gosok gigi. Ia pun lalu pergi ke kamar Gojo. Saat ia masuk, Gojo sudah ada di ranjangnya. Ia mengulurkan tangan menyambut Sukuna. Saat Sukuna mendekat, Gojo menarik tangannya, menaikkannya ke pangkuan, lalu memeluk Sukuna erat. Ia merilekskan kepala ke pundak Sukuna.

"Kau benar-benar nggak tanya apa-apa, eh," ucap Gojo lirih.

"..." Sukuna meliriknya lalu memeluk punggung Gojo dan menepuknya pelan. "Bukan hak ku. Lagipula aku yang seenaknya membawa masuk orang ke dalam rumah. Gomen."

Gojo tertawa kecil mendengar itu. Ia lalu menghela nafas panjang, melepas pelukannya lalu mencium Sukuna. Ia melepas ciuman, menarik lepas kaos Sukuna.

"Namanya Sanade. Dia handmaid Ibu ku saat aku masih di clan," ucap Gojo. Ia menyentuh nipple Sukuna, memainkannya pelan. "Sepertinya ia terus mengabdi di sana sampai hari tua nya, seperti sekarang ini. Dia hanya beberapa tahun lebih tua dari Ibu ku."

"Hn, berarti Ibu mu masih cukup muda dong," balas Sukuna.

"Ya, dia melahirkanku saat umur 25. Jadi ya, kau bisa hitung sendiri usianya sekarang," Gojo menjilat nipple Sukuna, satu tangan memilin nipple yang satu.

"Nn, tapi, nn...kenapa dia sakit? Pasti bukan karena usia kan. Ada penyakit bawaan?"

Gojo mengangkat bahu. "Setahuku tidak ada. Mungkin karena stress saja. Kudengar kalau stress, orang bakal gampang mati muda."

"..." Sukuna nyaris memprotes ucapan Gojo yang terdengar lumayan kejam, tapi untunglah tak keceplosan. Lagi, ia mengatakan pada dirinya sendiri ia tak berhak menjudge Gojo. Ia tak tahu seberapa besar trauma yang Gojo alami di masa lalunya. Bagaimana rasanya mau dibunuh oleh orang tua sendiri.

Sukuna menghela nafas panjang lalu mendorong tubuh Gojo hingga terbaring ke ranjang. Ia tak ingin kepikiran yang macam-macam, jadi sebaiknya ia proaktif saja. Ia duduk di selangkangan Gojo, menurunkan celananya, lalu meraih penis Gojo yang masih lemas.

"Kau niat melakukannya tidak sih," omel Sukuna meraih benda yang masih lembek itu.

Gojo tertawa. "Lakukan sesuatu dong biar bangun," godanya. Sukuna pun turun dari tubuh Gojo dan menundukkan badannya, mendekatkan mulut ke penis Gojo. Ia menjilati benda itu, memanjanya juga dengan tangan. Tapi hingga beberapa lama, penis Gojo hanya setengah tegak. Sukuna menegakkan tubuhnya menatap Gojo.

"Gomen Sukuna," ucap Gojo lirih dengan lengan menutup mata. Sukuna menghela nafas lalu menunduk mencium bibir Gojo singkat.

"Kita tidur saja. Kau pasti lelah setelah kegiatan kampus itu," Sukuna berbaring di samping Gojo lalu memeluk kepalanya dengan sayang. Gojo mengangguk pelan lalu balas memeluk Sukuna.

.

~OoooOoooO~

.

Keesokan paginya Gojo berangkat kerja seperti biasa, Sukuna diam di rumah. Menghabiskan waktu sambil nge game. Atau keluar sebentar sekedar jalan-jalan cari angin, atau beli kopi. Saat Gojo pulang kerja, mereka akan ngobrol. Sesekali berpelukan, atau ciuman lembut. Tapi tak melakukan sex. Sepertinya pikiran Gojo masih kalut. Sukuna hanya bisa maklum.

Hari itu Gojo mengajar seperti biasa. Jadwalnya hanya mengajar sampai jam 11. Mungkin ia akan mengerjakan tugas lain sebelum memutuskan untuk pulang. Gojo kini tengah berada di ruangannya, selesai mengoreksi pop quiz kelas yang ia ajar. Ia merenggangkan otot sebelum kembali pada laptop, tapi pintu ruangannya lalu diketuk.

"Masuk," ucap Gojo. Pintu itu terbuka. Seorang laki-laki berjaz hitam muncul di sana. Gojo merengut. Ia mengenali cara berpakaiannya. Pasti bodyguard dari keluarganya. Sekarang mereka bahkan nekat menyusul ke kampus? "Mau apa kau? Pergi!" ketus Gojo tanpa menatap.

"Sanade-sama menyuruh menjemput Anda," ucap pria itu.

"Sudah kubilang aku tidak mau datang!"

"Tapi Megumi-sama sudah dijemput dan sekarang sudah ada di mansion."

Brakk!

Gojo seketika terbelalak sembari menggebrak meja. "Kau—..." ia menatap marah, tapi pria itu tetap dengan poker face nya.

"Mari, mobil jemputan Anda sudah menunggu di depan," pria itu pun membalikkan badan. Meski enggan, Gojo tak bisa menolak. Mereka membawa Megumi.

"Bangsat!" umpat Gojo kesal. Ia pun segera mengikuti pria itu menuju mobil yang dimaksud.

.

~OoooOoooO~

.

Megumi sebenarnya tak begitu mengerti apa yang terjadi. Seseorang datang ke apartment nya, mengaku orang dari keluarga Gojo. Mereka bilang Gojo akan pulang selama beberapa hari, dan meminta Megumi ikut dengannya. Sekalian untuk memperkenalkan Megumi pada keluarganya, mereka bilang.

"Saat ini Satoru-sama sudah ada di mansion, dan beliau menyuruh kami menjemput Anda," ucap orang yang menemui Megumi. Karena itulah Megumi pun menurut untuk ikut mereka. Saat ini ia masih berada di mobil yang melaju entah ke mana. Jalanan asing yang belum pernah ia lewati. Ia memantau melalui maps ia berada di mana. Daerah yang belum pernah ia datangi.

Gojo memang tak pernah menyebutkan apapun soal keluarga nya. Entah itu daerah tempat keluarganya tinggal, atau apapun itu. Jadi Megumi pun hanya diam dan menurut saja saat memasuki daerah baru itu. Mungkin itu tempat di mana keluarga Gojo berasal.

Perjalanan mereka cukup jauh. Mereka bahkan sempat istirahat di jalan untuk makan dan menghirup udara segar, setelah itu berkendara kembali. Megumi mengirim chat pada teman-teman kampusnya untuk mengurus izin tidak masuk kuliah selama beberapa hari. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mobil yang Megumi naiki berhenti di depan sebuah mansion megah. Ia disambut beberapa orang pelayan yang menuntunnya masuk, membawanya ke ruang tamu.

"Tunggulah di sini," ucap mereka lalu meninggalkan Megumi. Beberapa saat kemudian beberapa pelayan lain menghampiri membawa minuman dan makanan kecil, tapi lalu pergi lagi. Megumi hanya diam di sana. Ia mau tanya di mana Gojo juga tak tahu mau tanya pada siapa. Tak ada orang di sana. Karena bosan ia pun menikmati suguhan yang ada. Hingga tak berapa lama kemudian seorang lelaki paruh baya yang terlihat ramah menghampiri dan duduk di sofa di hadapan Megumi.

"Pasti lelah ya setelah perjalanan jauh," ucap pria itu sambil tersenyum. "Mau istirahat di kamar?"

"Tidak perlu. Di sini saja menunggu Tou-san," ucap Megumi tapi kata terakhirnya terasa membekas di lidah. Apa tak apa ia menyebut Gojo tou-san? Pada keluarganya. Tapi ah sudahlah. Mereka menjemput Megumi berarti sudah tahu apa hubungan Megumi dengan Gojo kan. "Dia di mana? Katanya sidah di sini," tambah Megumi.

"Iya. Tadi beliau keluar sebentar, dan saat ini masih ada di perjalanan. Mohon tunggu sebentar lagi," balas pria itu. "Sambil menunggu, izinkan pria tua ini menemani Anda, haha. Jika Anda tidak keberatan tentunya."

"Iya, tentu saja," balas Megumi, mencoba tersenyum ramah. Laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai Tsukasa. Beliau adalah sopir keluarga Gojo, dan dulu paling sering mengantar jemput Gojo kemanapun, termasuk ke sekolah, atau pergi main. Makanya ia yang menemani Megumi supaya bisa ngobrol dengannya. Tapi selain itu, pria tersebut juga berpengetahuan lumayan luas. Ia bisa ngobrol dengan Megumi soal kuliah Megumi dan jurusan yang diambilnya. Jadi Megumi lumayan menikmati obrolan mereka.

Obrolan mereka memang menyenangkan, tapi Megumi heran saat Gojo tak kunjung datang, padahal hari sudah sore.

"Tou-san masih lama?" tanya Megumi pada akhirnya. Tsukasa tak menjawab, hanya tersenyum penuh arti. Megumi sedikit merinding, ia mulai tahu ada yang salah. Alisnya menajam, kedua tangannya yang saling bertaut kini mencengkeram erat. "Apa aku sebaiknya pergi saja dari sini," ucap Megumi setenang yang ia bisa.

Tsukasa tersenyum. "Tenanglah, Satoru-san memang dalam perjalanan ke sini. Kalau dilihat dari waktunya mungkin..." Tsukasa menilik jam di pergelangan tangannya. "...sekitar satu jam lagi baru tiba."

Mata Megumi memicing. Selama itu? Dengan waktu sebanyak itu, dan ucapan Tsukasa yang bilang Gojo 'dalam perjalanan' ke sini, Megumi mulai bisa menebak apa yang terjadi. Gojo bukannya sudah ada di rumah itu dan sedang pergi. Tapi justru Megumi lah yang duluan berada di sana, sedangkan Gojo baru dijemput setelah dirinya. Yang Megumi tak tahu adalah alasan kenapa justru dirinya duluan yang dijemput.

Mengingat ucapan orang-orang yang menjemput Megumi, bahwa Gojo pulang dan ingin membawa Megumi mengenal keluarganya...jika semua itu bohong seperti kebohongan barusan...berarti ada kemungkinan sebenarnya Gojo tak ingin pulang dan tak ingin mengenalkan Megumi pada keluarganya. Itulah yang kini terlintas di pikiran Megumi.

'Sial,' batin Megumi. Kalau dipikir ulang, Gojo sampai detik ini belum pernah cerita soal keluarganya atau hal semacam itu, kenapa juga tiba-tiba sekarang ia mau pulang dan mengajak Megumi menemui keluarganya. Harusnya Megumi sudah curiga sejak awal. Kini ia mengutuk kebodohannya sendiri kenapa tak menyadari sejak awal.

"Apa mau kalian," akhirnya Megumi menanyakan itu.

Tsukasa hanya tersenyum tipis. "Tidak ada. Kami hanya ingin Satoru-sama kembali ke rumah ini meski hanya satu kali lagi," balas Tsukasa dengan tatapan sendu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di kedua paha.

"Kau menanyakan hal tadi berarti sudah menyadari sesuatu janggal ya," ucap Tsukasa. Ia menatap lurus mata Megumi. "Tapi tenanglah. Kami tak berniat menyakitimu, kami juga tak berniat menahan Satoru-sama di sini. Yang kami inginkan hanya beliau kembali ke rumah ini sekali saja, menemui Ibu nya."

Megumi mengerutkan alis. "Ibu nya?"

Tsukasa mengangguk. "Semenjak kepergian Satoru-sama dari rumah, beliau beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, tapi berhasil kami hentikan. Beliau menjalani terapi beberapa lama, sampai ia tak lagi ingin bunuh diri. Tapi setelah itu...yah, anggap saja kondisinya tetap memburuk. Beliau sering sakit-sakitan. Dokter bilang karena stress dan terlalu banyak pikiran. Dan sekarang...sakitnya sudah semakin parah. Kami tidak tahu beliau akan bertahan berapa lama lagi. Jadi sekali saja...saat beliau kini masih bisa membuka mata, kami ingin mempertemukannya dengan Satoru-sama," jelas Tsukasa panjang lebar. "Jadi...bisakah kau membantu, Megumi-san. Tetaplah di sini selama beberapa hari. Itu saja. Kami tak meminta lebih. Saat ini Satoru-san dalam perjalanan kemari, dan kalau kau bersedia untuk tetap tinggal selama beberapa hari, saya yakin beliau akan mengikuti kemauan Anda."

"..." Megumi tak langsung menjawab. "Kenapa juga aku harus percaya pada ucapanmu itu kalau sejak awal hingga beberapa saat yang lalu yang kalian katakan hanya kebohongan."

Tsukasa tersenyum. "Yeah, memang tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membuatmu percaya setelah semua ini. Tapi kami benar-benar sudah kehabisan akal. Kami sudah menemui Satoru-sama beberapa kali, tapi beliau langsung mengusir kami. Bahkan mendengar kami bicara pun tidak."

Megumi menghela nafas lelah lalu membuang pandangannya ke luar jendela di mana langit mulai gelap. "Akan kubicarakan nanti setelah bertemu dengan Tou-san. Setelah ia menemuiku dengan selamat, baru aku bisa mempertimbangkan ucapanmu."

Tsukasa tersenyum. "Terimakasih banyak," ucapnya sopan. "Ah, hari sudah sore. Biar saya antar Anda ke kamar. Mungkin Anda ingin mandi dan beristirahat."

Megumi melirik tak yakin, tapi akhirnya menerima tawaran itu karena ia belum tahu kapan Gojo tiba. Megumi pun diantar ke sebuah kamar. Pakaian dan segala perlengkapan untuknya sudah disiapkan. Ia mulai goyah, mungkin Tsukasa mengatakan yang sebenarnya. Sejauh ini ia diperlakukan dengan sangat baik. Kalau ia memang mau dicelakai, bisa saja makanan yang disuguhkan untuknya mengandung racun atau obat bius. Tapi tidak ada, semua normal. Bahkan mereka sudah menyiapkan kamar untuknya.

"Kalau butuh sesuatu silahkan langsung panggil saja," ucap Tsukasa sambil menunjukkan intercom untuk memanggil pelayan. "Silahkan beristirahat. Saya pamit dulu," Tsukasa pun meninggalkan kamar itu.

Megumi menghela nafas lelah. Tubuhnya capek, terlebih pikirannya. Ia pun merebahkan diri di ranjang sebelum memulai kegiatan lainnya. Ia meraih ponsel. Mencoba menghubungi Gojo tapi tak diangkat, chat pun tak dibalas, bahkan diread pun tidak.

"Tou-san, kau di mana," gumam Megumi pada diri sendiri.

Setelah merasa cukup beristirahat, ia pun menuju kamar mandi untuk bebersih. Mengguyur tubuhnya yang lelah di bawah tetesan air shower. Setelah mandi, ia keluar kamar mandi dengan memakai bathrobe. Ia langsung menghampiri ponselnya dan duduk di tepi ranjang, berharap sudah ada balasan dari Gojo.

Sayangnya tak ada. Yang ada malah chat dari Sukuna.

'Satoru menghubungimu? Atau malah sedang bersamamu?'

"..." Megumi bingung harus menjawab apa. 'Ya, keadaannya sulit dijelaskan. Tapi dia sedang dalam perjalanan ke sini menemuiku (bukan di apartment ku).'

"..." Sukuna tak membalas lagi. Ia beberapa saat typing, tapi lalu tak jadi. Typing lagi, tapi tak ada chat yang terkirim. Mungkin ia sendiri bingung harus membalas apa. Saat tengah berkutat dengan ponselnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras, dan Gojo muncul di sana.

"Megumi!" panggilnya. Ia langsung menghambur masuk memeluk Megumi, mengecup puncak kepalanya. "Kau tak apa-apa?" ia memegang pundak Megumi, lalu lengannya, seolah memeriksa apa ia terluka.

"Iya aku baik-baik saja, aku baru selesai mandi," jawab Megumi.

Gojo menghela nafas lega mendengar itu. "Yokatta," ucapnya seolah baru bisa bernafas kembali. "Ya sudah. Cepat berpakaian, kita segera pergi dari sini."

Megumi terdiam mendengar itu. Puzzle terakhir di pikirannya lengkap sudah. Intinya Gojo memang tak ingin kembali ke rumah, makanya Megumi dibawa ke rumah itu duluan supaya Gojo mau datang. Sepertinya penjelasan Tsukasa yang terakhir memang benar adanya.

Megumi menatap Tsukasa yang berdiri di depan pintu dengan tatapan cemas. Megumi ganti menatap Gojo.

"Kau kan lelah, dan ini sudah malam. Bagaimana kalau kau mandi, istirahat dulu, lalu kita bicarakan mau pulang langsung atau makan malam dulu. Aku lapar. Kau akan menyiapkan makanan kan, Tsukasa-san?" Megumi ganti menatap Tsukasa yang wajahnya berubah cerah mendengar ucapan Megumi.

"Tentu saja. Akan segera saya sampaikan pada koki di rumah ini," ucap Tsukasa.

"W-wha—..." Gojo menatap Megumi tak percaya.

"Ya, mandi dulu, istirahat, lalu makan malam. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh," Megumi memegang pundak Gojo.

Gojo menghela nafas lelah tapi lalu mengangguk pelan.

.

Makanan sudah tiba saat Gojo masih berada di kamar mandi. Megumi yang menerima troli makanan itu, membawanya masuk ke kamar. Biar ia dan Gojo makan di kamar saja.

Tak berapa lama, Gojo pun keluar dari kamar mandi. Wajahnya masih lesu, tapi Megumi mencoba tak mengindahkan itu. "Ayo makan," ajak Megumi. Lagi, Gojo hanya mengangguk pelan. Mereka pun makan malam dalam diam. Sampai setelah makan pun mereka masih saling diam. Megumi mendorong troli nya keluar kamar, memanggil pelayan mengatakan troli nya sudah di luar kamar. Setelah itu ia kembali pada Gojo, duduk di sampingnya.

"Oke, kau sudah tidak lelah?" tanya Megumi. Gojo mengangguk pelan. "Mau pulang sekarang?" tanya Megumi. Mata Gojo sedikit terbelalak mendengar pertanyaan itu. "Sudah kubilang kan, aku hanya ingin kau istirahat dulu sebentar. Pasti lelah setelah perjalanan jauh. Kalau kau mau mengajak pulang sekarang, ya aku tidak masalah. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku di sini."

"Megumi..." panggil Gojo lirih. Ia menghela nafas panjang. Iya ya, Megumi berada di tengah semua ini tanpa mengetahui apa-apa. Kenapa Gojo bukannya bersikap dewasa untuk Megumi, malah Megumi yang bersikap dewasa untuknya. Ia meraih wajah Megumi dan mengusapnya pelan, menatap raut kedewasaan di wajah putera nya itu. "Memangnya saat mereka membawamu ke sini, mereka bilang apa?" tanya Gojo.

"Katanya kau sudah di sini, dan menyuruh menjemputku karena kau akan mengenalkanku pada keluargamu."

Gojo menghela nafas lelah. "Pantas saja," ucapnya. "Mereka menemuiku beberapa kali menyuruhku pulang, tapi aku mengusir mereka. Jadi mereka membawamu duluan supaya aku mau ke sini," jelas Gojo meski Megumi sudah tahu garis besarnya. "Dan untuk alasan aku tidak mau pulang..." Gojo ragu untuk mengatakannya. "Ya, anggap saja dulu ada masalah. Dan aku keluar rumah untuk hidup bersamamu, aku berniat tak pernah kembali lagi ke rumah ini."

"Tapi kau tahu Ibu mu masih hidup di sini?" tanya Megumi.

Gojo sedikit terbelalak lalu mengangguk pelan. Sekarang ia mulai bertanya-tanya, Megumi sudah tiba di sana terlebih dahulu. "Apa saja yang sudah mereka katakan padamu, Megumi?" tanya Gojo.

"Tidak banyak," jawab Megumi jujur. "Mereka hanya bilang ingin kau pulang karena Ibu mu sedang sakit. Mereka menyuruhku untuk mau tinggal selama beberapa hari, karena dengan begitu kau akan tetap di sini. Hanya itu."

Gojo menghela nafas lagi, menatap kejujuran di mata Megumi. Berarti putera nya itu masih tak mengetahui apa-apa mengenai masa lalunya. Mungkin bagi Megumi, hari ini hanya salah satu hari aneh yang terjadi. Ia dijemput oleh orang tak dikenal dan di bawa ke tempat yang juga tak ia kenal.

"Jadi...kau benar-benar tak ingin menemui Ibu mu meski sudah berada di sini?" tanya Megumi setelahnya. "Aku bukannya mau menggurui, tapi kau sudah melakukan perjalanan jauh sampai ke sini, apa tidak sebaiknya kau menemui beliau walau sebentar saja?"

Gojo terdiam, ia tampak bimbang.

"Aku juga tak tahu masalah apa yang membuatmu pergi dari rumah, tapi...apa kau membenci Ibu mu sampai sekarang?" tambah Megumi.

Gojo mengangguk. Sebuah respon yang lumayan mengejutkan Megumi. Gojo sebegitu benci pada Ibu nya sampai berniat tak menemui meski sudah berada di tempat yang sama. Mungkin masalah yang dulu dialami Gojo lebih buruk dari yang Megumi kira.

"Baiklah, begini saja," Megumi menatap jam lalu kembali menatap Gojo. "Ini sudah malam, bagaimana kalau kita menginap satu malam. Besok pagi kita pulang. Tapi..." Megumi menjeda kalimatnya. "...sebelum pulang aku yang akan menemui beliau," lanjut Megumi yang membuat Gojo terbelalak.

Megumi langsung memeluk Gojo dan menepuk punggungnya pelan. "Aku hanya ingin mengatakan padanya bahwa kau baik-baik saja dan bahwa sekarang kau hidup dengan baik bersamaku. Supaya ia tak khawatir, atau setidaknya ia mendengar langsung kabar tentangmu dari orang terdekatnya. Hanya itu. Setelah itu kita pulang. Aku tidak akan memaksamu berlama-lama di sini. Karena...meski kau membencinya..." Megumi melepas pelukan, menyatukan dahi mereka. Ia membingkai wajah Gojo dengan kedua telapak tangannya. "Bagiku dia orang yang berjasa telah membawamu ke dunia ini. Aku berterimakasih karena kau telah terlahir ke dunia dan memilih untuk menjadi Tou-san ku."

Mata Gojo terbelalak, iris nya berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Megumi dengan sangat erat, dan Megumi balas memeluknya, menepuk punggungnya pelan. Tubuh Gojo bergetar halus detik berikutnya.

"Gomen Megumi...Gomen," ucap Gojo sambil terisak. Ia merasa bahagia sekaligus merasa bersalah di saat yang bersamaan. Ia begitu senang Megumi merasa beruntung bertemu dengannya, tapi di sisi lain ia merasa begitu berdosa karena ia lah yang telah merenggut keluarga Megumi. Merenggut sosok Ayah dan Ibu yang begitu sempurna untuk Megumi.

"Sshh..." Megumi menenangkan Gojo, mengusap-usap punggungnya. Ia membiarkan saja Gojo menangis di pelukannya. Hingga akhirnya Gojo terlelap setelah lelah menangis.

Megumi meraih ponselnya yang berdering pelan. Ada telefon dari Sukuna. Megumi melirik Gojo yang terlelap, dengan hati-hati, Megumi pergi dari tempat tidur menuju balkon untuk menerima telefon itu.

"Megumi, bagaimana? Satoru sudah bersamamu?" tanya Sukuna langsung, dari suaranya terdengar panik. "Karena kalau tidak, kami mungkin saja lapor polisi untuk laporan kasus orang hilang."

"Ochitsuite. Iya dia ada bersamaku. Wait...'kami'?" tanya Megumi balik.

"Iya. Aku dapat kabar dari Utahime. Katanya ruang kerja Satoru kosong, laptopnya menyala, handphone nya tertinggal, dompet juga. Seseorang terakhir melihat Satoru pergi dijemput orang mencurigakan mengenakan pakaian serba hitam," jelas Sukuna masih terdengar panik padahal tadi Megumi sudah bilang Gojo bersamanya. Mungkin karena panik, ia tak dengar penjelasan Megumi.

Megumi menghela nafas panjang sambil memijit pelipisnya pelan. Pantas saja ia menelfon Gojo dan mengirim chat tak pernah mendapat respon. Rupanya Gojo meninggalkan semua barangnya di kampus. Tapi dari itu, Megumi tahu seberapa paniknya Gojo saat kemari karena mengetahui Megumi dibawa duluan.

"Tenanglah, Tou-san ada bersamaku," ulang Megumi. "Keadaannya cukup rumit, aku tak bisa menjelaskannya dengan baik."

"..." Sukuna terdiam di ujung telefon. "Apa ada hubungannya dengan wanita tua itu?"

Megumi mengerutkan sebelah alis. "Wanita tua yang mana?"

"Ah bukan apa-apa. Sudahlah, nanti kutanyakan sendiri pada Satoru. Yang penting sekarang Satoru sudah ada bersamamu."

"Ya. Kami akan pulang besok kalau tak ada perubahan rencana," jelas Megumi. Setelah itu ia pun mengakhiri panggilannya dengan Sukuna.

Megumi menoleh lewat pintu kaca, menatap Gojo yang masih terlelap. Ia pun masuk kembali ke dalam kamar dan ikut beristirahat.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra