Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Sukuna
Genre : Romance, Drama
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
#Makasih banyak buat Yuki ChibiHitsu-chan, Frigg Nevia07, kokorocchi and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/
.
.
HeartBreak Night
.
.
Pelayan mengantarkan sarapan ke kamar tempat Megumi berada sekitar pukul 8 pagi. Megumi baru selesai mandi saat itu, dan Gojo baru memasuki kamar mandi. Setelah Gojo selesai mandi, mereka pun makan bersama. Masih dalam diam.
Hingga Gojo mengunyah pelan makanannya, tangannya juga berhenti. Ia tampak sedang berpikir.
"Mungkin nanti aku saja yang menemuinya," ucap Gojo setelah keheningan lama di antara mereka. "Tapi hanya sebentar. Setelah itu kita pulang," tambahnya dan melanjutkan makan.
"Baiklah," balas Megumi. Mereka pun melanjutkan makan. Seusai makan, Gojo pun keluar kamar dan minta diantarkan ke kamar Ibu nya. Sementara Megumi menunggu di dalam kamar. Megumi tak tahu berapa banyak waktu yang akan Gojo habiskan di sana. Gojo bilang hanya sebentar. Tapi setelah 15 menit berlalu dan Gojo belum ada tanda-tanda memasuki kamar, Megumi pun tersenyum dan memutuskan untuk bersantai saja. Ia pun mulai membuka applikasi game nya.
.
~OoooOoooO~
.
"Antarkan aku ke kamarnya," ucap Gojo pada Tsukasa. Raut wajah tua itu jelas sekali berubah cerah begitu mendengar kalimat Gojo.
"Silahkan Tuan," Tsukasa pun memandu Gojo untuk menuju kamar Ibu nya.
Meski tak ingin, Gojo mau tak mau menatap pemandangan yang mereka lewati. Ada sedikit rasa nostalgia di sana, dan Gojo benci itu. Baginya tak ada ingatan indah dari pemandangan yang terasa familiar tersebut.
Tsukasa membawa Gojo masuk ke sebuah kamar, kamar Ibu nya. Rupanya kamarnya juga belum ganti, masih yang dulu. Memuakkan. Saat Tsukasa membukakan pintu, terlihat di dalam kamar ada Sanade yang tengah menyuapi seorang wanita yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang, dengan bantal menopang kepala dan punggungnya. Mereka menoleh begitu pintu terbuka dan Gojo serta Tsukasa muncul di sana.
Sanade tampak terkejut tapi terlihat senang, sementara wanita di sampingnya tampak terkejut tak percaya. Tapi tatapan kebencian terpancar dari sana.
"Kenapa kau membawanya ke sini, Sanade!" bentak wanita itu. Tapi Sanade tak mengindahkan. Ia malah bangun dan meletakkan mangkuk makanan ke atas troli.
"Saya permisi dulu Hinoe-sama. Saya akan memberikan waktu kalian untuk bicara," ucap Sanade lalu menjauh.
"Tunggu! Sanade! Aku tidak bilang ingin bicara padanya! Sanade!" panggil Hinoe meski tak Sanade gubris. Wanita paruh baya itu tetap menjauh dan keluar dari kamar bersama Tsukasa, meninggalkan Gojo dan Ibu nya berdua di kamar itu. Hinoe ganti menatap Gojo dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa kau tuli?! Kubilang aku tak ingin bicara denganmu. Pergi!" ucapnya.
"Yang ingin berbicara denganmu juga siapa! Aku menemuimu karena putera ku. Dia bilang dia berterimakasih padamu karena telah melahirkanku. Aku hanya ingin menghargai perasaannya!" balas Gojo.
Hinoe tampak terbelalak tapi lalu membuang muka, tak mau menatap Gojo.
Gojo juga merengut saja. "Lima menit. Aku akan di sini lima menit lagi supaya dianggap sudah cukup berbicara denganmu. Setelah itu aku akan pergi dan tak akan pernah kembali ke rumah ini lagi!" ucap Gojo. Ia melangkah menuju jendela yang terbuka lebar. Saat melewati ranjang Ibu nya, lirih ia mendengar Ibu nya berkata.
"Souka, jadi kau sudah punya anak ya," ucapnya tanpa menggerakkan kepala dan tetap membuang pandangan. Setelah itu meski samar Gojo melihat senyum tipis di bibir Ibu nya. Mata Gojo sayu melihat itu. Ia pun duduk di mulut jendela yang terbuka lebar, bersandar ke bingkai nya, dengan tatapan menatap pemandangan di luar.
Keduanya hanya diam. Tapi lewat lima menit, Gojo tetap tak bergerak dari tempatnya, dan Ibu nya juga tak mengusirnya lagi. Mereka hanya diam. Menikmati kebisuan masing-masing. Mereka sama-sama tahu semua sudah tak bisa diperbaiki, tak ada lagi kata yang bisa untuk sekedar membuat mereka sedikit berdamai dengan masa lalu. Tak ada sama sekali. Jadi yang mereka bisa lakukan saat ini hanyalah diam. Menikmati keberadaan masing-masing di ruangan yang sama, mungkin untuk terakhir kalinya.
.
~OoooOoooO~
.
Lelah bermain game, Megumi meletakkan ponselnya lalu memutuskan keliling kamar. Ia memerhatikan meja belajar di sana. Ya, sebuah meja belajar ada di ruangan itu. Megumi pun mendekati meja itu, beberapa buku pelajaran tertumpuk di sana. Megumi membuka-buka buku itu. Ia mengerutkan alis saat melihat coretan-coretan yang ada di sana. Coretan berantakan yang mengisi buku, juga gambar-gambar nyleneh yang tersisip di beberapa halaman. Ia mengenali tulisan tangan dan gambar-gambar jelek itu, milik Gojo.
Megumi menatap sekeliling kamar seolah baru menyadari. Apa...ini kamar Gojo dulu? Megumi memutuskan untuk duduk di kursi meja belajar itu, membuka-buka lacinya. Ya. Beberapa barang yang menunjukkan itu milik Gojo ada di sana. Seperti coretan berantakan berisi draft cerita, atau kacamata bulat hitam seperti yang biasa Gojo pakai. Megumi meraih kacamata itu dan menerawang nya. Gelap yang sangat pekat.
"Hee, jadi dia sudah suka pakai kacamata gelap begini sejak dulu ya," gumam Megumi. "Pasti mata nya sangat sensitive terhadap cahaya kalau ketebalannya sampai segini."
Setelah puas di meja belajar itu, Megumi berjalan mengelilingi kamar lagi. Sudah tak begitu banyak barang di sana, mungkin sudah dibawa pergi Gojo saat meninggalkan rumah. Ia menghampiri lemari pakaian, mencoba membukanya, rupanya tak dikunci. Megumi tersenyum kecil melihat beberapa pakaian yang ada di sana. Ukurannya kecil, untuk Megumi saja tidak akan muat.
Megumi meraih sebuah baju, menempelkan di tubuhnya. Memang kecil. Megumi terkekeh pelan. Ia tak bisa membayangkan Gojo dengan badan segitu. Tapi ia jadi kepikiran, bahwa Gojo pernah sekecil itu, dan mungkin...di usia itu juga ia memilih memikul tanggungjawab untuk menjadi wali Megumi.
Megumi tersenyum sendu dan mengembalikan baju itu ke dalam lemari. Ia kembali menatap sekeliling. Ia hanya berpikir bahwa kamar itu begitu rapi, dan semua barang-barang lama Gojo tampak terawat. Yang bisa Megumi pikirkan hanyalah para pelayan keluarga itu sangat setia pada tuan mereka, termasuk pada Gojo. Mereka tetap membiarkan kamar itu seperti semula dan merawatnya seolah penghuninya masih berada di sana.
.
Sekitar pukul 2 siang barulah Gojo kembali ke kamar. Megumi sudah makan siang duluan karena pelayan membawakan makanan dan mengatakan Gojo makan bersama Ibu nya.
"Megumi, ayo pulang. Aku sudah selesai," ucap Gojo begitu masuk. Ia langsung memberesi barang-barangnya, memakai pakaian yang kemarin yang sudah dibersihkan pelayan. Megumi melakukan hal yang sama. Setelah itu Gojo menggandeng Megumi keluar mansion. Tsukasa sudah menunggu dengan mobilnya.
"Biar saya antar, Tuan," ucap Tsukasa.
Gojo menghentikan langkah dan tampak enggan memasuki mobil itu, tapi pada akhirnya ia menerima tawaran Tsukasa.
"Antar ke stasiun saja," ucap Gojo dengan tatapan keluar jendela.
"Baik," balas Tsukasa. Ia pun mengendarai mobilnya menuju stasiun. Begitu turun dari mobil, Gojo pergi begitu saja, tapi Megumi menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih pada Tsukasa.
"Jaga diri kalian baik-baik," ucap Tsukasa. "Dan untuk Megumi-san, terimakasih sudah mau membuat Satoru-sama menemui Hanae-sama. Kami sangat berterimakasih."
Megumi pun membalas singkat lalu membungkuk hormat sebelum mengejar langkah Gojo memasuki stasiun. Gojo tampak berhenti di depan pintu masuk, lalu menoleh ke arah Megumi.
"Aku lupa kalau nggak bawa dompet atau HP," ia mewek.
"Pfftt..." mau tak mau Megumi pun tertawa melihat kekonyolan Tou-san nya. "Padahal sudah sok keren tak mau diantar," tawa Megumi.
"Uhuhu..." Gojo hanya bisa merengek.
"Sudahlah, ayo. Biar aku yang beli tiketnya," ucap Megumi. Ia pun membawa Gojo untuk membeli tiket kereta. Ia memilih tujuan kereta yang mau mereka naiki, tapi Gojo mengalihkannya.
"Kita ambil tiket yang ke sini," Gojo menunjuk.
"..." Megumi terdiam, tapi lalu menuruti ucapan Gojo.
Mereka pun menaiki kereta yang tidak terlalu ramai itu. Keduanya diam di kursi masing-masing, menatap pemandangan di luar. Setiba di tujuan, Gojo mengajaknya turun. Kurang lebih Megumi tahu mereka mau ke mana, karena Gojo sudah beberapa kali mengajaknya ke sana.
Mereka berjalan meninggalkan stasiun, naik bus beberapa waktu, lalu turun di salah satu halte. Mereka berjalan lagi, dan mampir ke toko bunga untuk membeli dua buket. Setelahnya mereka kembali jalan menaiki sebuah tangga yang lumayan panjang. Begitu tiba di atas, yang ada di hadapan mereka saat ini adalah pemakaman. Gojo dan Megumi berjalan menyusuri pemakaman itu menuju dua buah makam yang nisan nya sudah tampak cukup tua. Makam kedua orang tua Megumi.
Gojo mengucapkan salam lalu berjongkok di depan kedua makam itu, begitu juga dengan Megumi. Mereka meletakkan buket bunga di masing-masing makam, lalu berdoa untuk beberapa saat.
Gojo menerawang kosong ke langit luas, lalu duduk di tanah dengan satu tangan menumpu di atas lutut. "Ne Megumi," panggilnya. "Sebenarnya...seberapa banyak yang kau ingat dari masa lalu mu?" tanya Gojo. "Seberapa banyak...yang kau ingat tentangku, atau keluargamu?" Gojo memiringkan sedikit wajahnya untuk menatap Megumi.
Megumi melirik sesaat lalu ikut duduk di samping Gojo. "Sebenarnya tak banyak. Sejauh yang aku ingat, kau selalu ada bersamaku. Tapi waktu itu aku belum tahu kau siapa dan apa hubunganmu denganku. Yang kutahu kau selalu ada, yang artinya kau adalah bagian dari keluargaku. Yah, di umur segitu aku bahkan belum tahu apa itu Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Kakak, aku hanya mendengar istilahnya tapi belum tahu persis makna nya. Yang kutahu hanya orang yang dekat denganku, maka aku menyukai orang itu."
Gojo tersenyum mendengar itu. Seolah pikirannya kembali melayang ke masa lalu.
"Hingga di suatu malam kau datang. Aku tak tahu apa yang terjadi. Yang kutahu hanya aku senang kau main ke rumah seperti biasa. Hanya perasaan itu. Setelahnya yang kuingat abu-abu. Aku hanya ingat begitu banyak darah dan Tou-san serta Kaa-san tak bergerak lagi. Selain Tou-san dan Kaa-san juga banyak tubuh lain di sana yang aku tak tahu siapa. Waktu itu aku bahkan tak tahu kalau Kaa-san dan Tou-san sudah meninggal. Aku belum tahu apa itu kematian," Megumi menatap sendu ke arah nisan kedua orang tuanya.
"Setelah malam itu, yang kutahu aku berada di tempat baru. Banyak teman-teman sebayaku. Dulu aku tak tahu di mana, tapi kini aku tahu dulu aku di lembaga perlindungan anak. Aku dibawa menemui mu beberapa kali saat kau berada di trauma center. Setelahnya kau lah yang mengunjungiku di lembaga itu setiap minggu. Sampai suatu hari kau datang dan membawaku pergi dari tempat itu, dan kita hidup bersama," Megumi mencengkeram lengannya erat. Ia baru sadar dengan apa yang barusan diucapkannya. Trauma center. Harusnya dari itu Megumi sadar seberapa buruk keadaannya dulu. Gojo pernah mengalami trauma karena masalah dulu sampai harus berada di trauma center, jadi pantas saja sekarang ia begini terhadap keluarganya. Lagi. Megumi mengutuk kebodohannya sendiri yang begitu mudah dibujuk untuk datang ke rumah keluarga Gojo.
Gojo tak langsung menjawab. Ia membiarkan suara desau angin mengisi keheningan di antara mereka. "Ne Megumi," panggilnya lirih. Ia menatap lurus mata Megumi. "Aku akan menceritakan padamu apa yang sebenarnya terjadi malam itu."
"..." Megumi terdiam, selanjutnya ia hanya mendengarkan penuturan Gojo mengenai masa lalu mereka. Bagaimana masa lalu Gojo, bagaimana ia bertemu dengan keluarga Megumi, semuanya. Juga tentang tragedi yang merenggut nyawa Toji dan isteri nya malam itu.
"Souka..." balas Megumi setelah Gojo menceritakan semuanya. "Jadi begitu kejadiannya," Megumi hanya melingkarkan longgar tangannya di lutut. Tatapannya memperhatikan dengan seksama nisan kedua orang tuanya. Ia larut dalam pikirannya sendiri, dalam hati berdoa semoga orang tuanya mendapatkan tempat yang layak di kehidupan selanjutnya.
"...'souka'...hanya itu responmu?" tanya Gojo.
"Huh?" Megumi menoleh.
"Aku baru saja menceritakan semuanya dan respon mu hanya, 'souka, jadi begitu kejadiannya'. Begitu?" omel Gojo.
"H-huh? Memangnya aku harus bagaimana?" Megumi cengok. "Ya, aku akhirnya mengerti alasan kau tidak menceritakannya padaku sejak dulu. Mungkin kau takut aku trauma atau apa karena kejadiannya mengerikan. Tapi ya...itu, memangnya apalagi? Akhirnya aku mengetahui kronologis kejadiannya. Siapa orang-orang malam itu dan kenapa orang tua ku meninggal. Tapi ya...sudah kan."
Gojo menatap tak percaya. "Ya apa kek. Kau tidak mau mengomel padaku atau memukulku? Bukan hanya 'souka, begitu kejadiannya', lalu diam seribu bahasa," Gojo memperagakan gerakan Megumi tadi.
"H-huh? Kenapa juga aku mau memukulmu?" sweatdrop Megumi.
"Kau nggak dengar ceritaku tadi? Aku. Yang. Membunuh. Orang tuamu," eja Gojo.
"Membunuh bagaimana. Tadi kau cerita yang membunuh mereka orang-orang itu kan, sama satu Shaman, sama ayahmu—dan ayahmu sudah meninggal sekarang, kau sendiri yang membunuhnya."
"Iya, tapi mereka itu kan orang-orang suruhan ayahku. Shaman itu juga."
"Yang menyuruh mereka kan ayahmu, bukan kau. Lalu di mana letak kesalahanmu?"
Gojo makin terbelalak. "Apanya yang di mana. Kan sudah kubilang. Mereka datang karena mengejarku. Ayah dan Ibu mu meninggal karena melindungiku. Kalau saja sejak awal aku tak masuk ke dalam keluargamu, semua itu tak akan terjadi. Ayahku tak akan cari masalah dengan keluargamu, juga tak akan berurusan dengan keluargamu. Kau akan...masih bersama mereka dan hidup bahagia saat ini," suara Gojo pecah di akhir kalimatnya.
"...ya...kenapa juga aku malah harus mikir sejauh itu," ucap Megumi. "Maksudku...siapa sih yang bisa membaca masa depan. Kau datang ke keluarga kami, menjadi bagian penting dari keluarga kami, siapa juga yang mengira semua akan berakhir seperti itu. Kalau kau mengatakannya demikian, itu sama saja seperti menyalahkan keputusan Tou-san ku yang membawamu pulang. Kalau aku sih, aku justru bangga padanya karena dia menolong seorang bocah yang meringkuk di emperan toko dan bukan membiarkanmu sendirian di hari hujan itu."
Mata Gojo terbelalak. Iris langit nya yang berkaca-kaca sejak tadi kini menumpahkan buliran bening dari kedua sudutnya.
Megumi mengerutkan dahi lalu menggerakkan jemarinya untuk menjewer pipi Gojo. "Melihatmu yang cengeng begini, aku yakin kau pasti akan mati kedinginan di hari hujan itu. Mana kau takut petir pula. Terus kalau hari berganti malam dan tidak ada yang memungutmu, kau akan meringkuk tak bergerak dari sana sampai besoknya lagi. Mungkin malamnya sudah mati karena ketakutan hari gelap, atau mati karena dingin dan kehujanan. Aku benar-benar bersyukur Tou-san membawamu pulang dan bukan membiarkan seseorang mati di sana."
"Huaaaaaa aaa, haaa," Gojo menangis makin keras mendengar itu. Megumi menghela nafas lalu memeluk Gojo, membiarkan orang yang ia panggil Tou-san itu menangis di pelukannya. Gojo menangis cukup lama, mingsek-mingsek di pelukan Megumi.
"Kalau mindset mu seperti itu...lalu, apa kau menyesal mengadopsiku," tanya Megumi saat Gojo mulai tenang.
"Hic...mana ada...hic..." balas Gojo masih terisak.
"Ya habisnya gara-gara aku, kau harus keluar clan, berjuang keras demi hidup kita berdua. Padahal kau bisa hidup enak di rumah besar itu, mungkin mewarisi posisi ayahmu sebagai ketua clan."
"Tentu saja tidak begitu. Aku yang ingin keluar dari clan itu, aku benci berada di sana. Aku ingin hidup bersama Megumi di luar clan itu."
"Nah kan, itu pilihanmu. Untuk menolongmu juga keputusan Tou-san sendiri, tak ada yang perlu disalahkan. Kau keluar dari clan juga keputusanmu sendiri, tidak ada yang berhak menyalahkanmu. Kau memutuskan untuk mengadopsiku, kalau seandainya suatu saat di masa depan aku yang menyebabkan kematianmu, apa orang akan menyalahkanmu karena telah mengadopsiku?"
"..." Gojo terdiam mendengar itu. Ia melepas pelukan Megumi lalu mengecup puncak kepalanya, dan gantian memeluk Megumi ke dadanya. "Aku tidak akan pernah menyesal mengadopsimu."
Megumi tersenyum lalu balas memeluk dan mengusap punggung Gojo. "Ya, dan aku tahu Tou-san juga tak akan pernah menyesal telah membawamu ke keluarga kami."
Gojo melepas pelukan, ia menyeka matanya yang basah. Mereka masih di sana untuk beberapa lama. Saat matahari mulai mendekati garis cakrawala, barulah Gojo membawa Megumi pergi dengan menggandeng tangannya erat.
.
~OoooOoooO~
.
Mereka kembali menuju stasiun dan menaiki kereta—Megumi yang bayar pastinya. Mereka bahkan makan malam di kereta karena malas cari makan dulu. Saat tiba di stasiun tujuan, jam sudah menunjuk pukul 10 malam. Gojo merenggangkan otot tangannya setelah turun dari kereta. Megumi memainkan ponsel.
"Pesan transport online saja kan? Kau mau pulang ke tempatku atau ke rumah?" tanya Megumi.
"Mn..." Gojo sempat berpikir. "Ke rumah saja. Tapi...kita pesan satu mobil, pilih dua titik pengantaran," Gojo menggandeng tangan Megumi.
"...baiklah," balas Megumi. Ia memesan satu mobil, tapi dengan dua titik pengantaran. Yang pertama adalah apartment nya, yang kedua barulah rumah Gojo. Selama perjalanan, Gojo tetap menggandeng tangan Megumi, mungkin ia masih emosional. Setiba di depan apartment Megumi, cowok itu menatap Gojo lalu mengacak rambutnya pelan.
"Oyasumi, Tou-san," ucap Megumi sebelum turun dari mobil.
"Oyasumi," balas Gojo. Mobil pun melaju ke titik pengantaran selanjutnya, menuju rumah Gojo. Saat ia tiba, kondisi rumah sudah terang. Samar ia melihat bayangan seseorang lewat jendela. Gojo tersenyum. Ia pun turun dari mobil dan menuju rumah. Sebelum ia membuka pintu, Sukuna sudah duluan membukakan pintu. Gojo tersenyum.
"Kau belum tidur?" tanya Gojo sembari memasuki rumah, menutup pintu di belakangnya.
"Tch! Bagaimana bisa tidur. Kau sejak kemarin tak ada kabar. Ponsel ketinggalan di kampus, dompet juga. Kau pergi tanpa kabar," omel Sukuna.
"Gomen gomen, lah, kau tahu barang-barangku ketinggalan, kau ke kampus menyusulku?" mereka berjalan menuju lantai dua.
"Enggak, Utahime yang kesini mengantarkan barang-barangmu. Dikiranya kau diculik, sudah mau lapor polisi dia. Tapi aku menghubungi Megumi katanya dia bersamamu. Tapi tetap saja, tidak ada kejelasan kabar kalian di mana sedang apa."
Gojo hanya tertawa kecil. Kini mereka berdiri di depan pintu kamar Gojo. Gojo berhenti melangkah dan menghadap ke arah Sukuna. "Aku..." ucap Gojo, memberi jeda pada kalimatnya. "...aku sudah mengatakan semuanya pada Megumi."
"..." Sukuna tak menjawab. Detik berikutnya ia sudah memeluk Gojo, mengusap-usap punggungnya. Gojo balas memeluk leher Sukuna, sedikit menyandarkan kepala ke surai pinkish Sukuna.
"Aku benar-benar bersyukur dia tak membenciku. Dia bahkan mengatakan merasa beruntung aku terlahir ke dunia dan memilih mengadopsinya, menjadi Tou-san nya," ucap Gojo.
Sukuna menghela nafas lalu mengecup pipi Gojo. "Kan sudah kubilang dia tidak akan membencimu," balas Sukuna.
Gojo tersenyum lalu mengecup singkat bibir Sukuna. Hanya sebuah kecupan ringan. Gojo membelai lembut pipi Sukuna. "Mau lanjutkan yang malam itu?" godanya.
Sukuna nerengut. "Nggak ah, aku ngantuk. Nggak tidur dari kemarin gara-gara kau. Aku mau tidur sampai besok siang."
"Aah Sukuna aaa," rengek Gojo.
"Bodo amaaat, oyasumi," ucap Sukuna dan berlalu menuju kamarnya.
Sukuna betulan langsung naik ke tempat tidur. Matanya benar-benar panas. Tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap. Entah berapa lama ia tertidur, ia merasakan seseorang naik ke atas ranjang lalu memeluk tubuhnya, juga mencium puncak kepalanya. Sukuna tersenyum tipis dan lanjut memejamkan mata, menyamankan diri di dalam pelukan kekasihnya itu.
.
~OoooOoooO~
.
Keesokan harinya saat Sukuna bangun, hari sudah terang benderang. Sukuna menatap jam dan ternyata sudah hampir jam 11 siang.
"Astaga," ucapnya pada diri sendiri, meski tetap goleran di tempat tidur. Sekitar 15 menit kemudian barulah ia merangkak bangun. Ia menatap kalender, dan menatap hari yang tertera di sana. Ini hari Jumat. Yang artinya besok Gojo libur. Kali ini ia tak mau rencananya rusak. Ia akan menghabiskan akhir pekan itu dengan melakukan banyak sex dengan Gojo.
"Argh, mandi dulu," ia merenggangkan otot lalu berjalan ke kamar mandi.
.
Sore hari, Sukuna mandi lebih cepat. Pokoknya ia harus sudah rapi saat Gojo pulang nanti. Ia tengah menyisir rambutnya saat Gojo menelfon.
"Sayang, ini kan malam Sabtu. Mau keluar nggak buat jalan-jalan?" tanya Gojo. "Ada film bagus nih. Kau bisa nonton sama Utahime. Nanti aku nongkrong di toko cokelat. Mereka baru meluncurkan produk baru, aku ingin mencicipinya."
Suara Gojo terdengar antusias, tapi Sukuna tersenyum dengan tatapan mati.
"Pulang. Sekarang," ucap Sukuna singkat, padat dan jelas kalau ia marah. Gojo yang ada di ujung telefon kini sweatdrop menatap ponselnya yang kini terdengar nada sambungan terputus.
"Aku nggak tahu dia marah kenapa, tapi sepertinya aku harus pulang," ucap Gojo lemas.
"Ya sudah, lain kali saja. Mungkin dia kangen padamu," balas Utahime.
Gojo pun menghela nafas dan tersenyum, lalu pamit untuk pulang.
.
.
"Tadaima, Sukuna," panggil Gojo sembari memasuki rumah. Sukuna terlihat baru menuruni tangga, menyambut Gojo. Gojo sedikit merinding karena tadi Sukuna ngamuk, tapi begitu melihatnya, Sukuna langsung menghampiri dan memeluk, bahkan meminta ciuman. Gojo tersenyum dalam ciumannya. Ia menghirup aroma wangi dari tubuh Sukuna.
"Kamu udah mandi," ucap Gojo, mengusap lengan Sukuna dan meremasnya pelan.
"Yeah," Sukuna kembali mencium Gojo beberapa saat.
"Pantas saja langsung menyuruh pulang, nggak mau diajak jalan-jalan," Gojo membopong tubuh Sukuna dan mendesaknya ke tembok, tangannya mencengkeram bokong Sukuna, kembali mengajaknya berciuman.
"Salahmu sendiri pakai acara lemah syahwat selama seminggu. Kau harus menebusnya."
Gojo tertawa pelan lalu membopong tubuh Sukuna, membawanya naik ke lantai 2. "Ya, akan kupastikan kau tidak bisa bangun dari tempat tidur besok," tawa Gojo. Ia membopong Sukuna ke kamarnya, menaikkannya ke ranjang. "Tapi aku gerah, mandi dulu ya. Biar segar kayak kamu."
Sukuna merengut mendengar itu.
"Ayolah, bentar doang. Oke," Gojo mengecup singkat bibir Sukuna lalu berlalu ke kamar mandi. Gojo mandi dengan cepat, lalu mengelap tubuh dengan handuk ala kadarnya. Ia keluar kamar mandi sambil melilitkan handuk di pinggang, tapi handuk itu langsung merosot turun saat kembali ke kamar dan melihat Sukuna yang tengah onani di atas ranjangnya.
Gojo menyeringai menatap pemandangan itu. "Ara ara, sepertinya ada yang sudah tidak tahan," goda Gojo. Ia menghampiri, merangkak di atas tubuh Sukuna.
"Uru—...sai..." ucap Sukuna terengah. Ia langsung memeluk leher Gojo dan mencium bibirnya. Satu tangan meraih penis Gojo yang setengah tegak, lalu memasukkannya ke lubang. "Mmn, mmn..." erangnya dan mulai bergerak pelan.
Gojo menggigit pelan bibir Sukuna, tangannya secara sensual menyusuri paha mulus Sukuna, tapi detik berikutnya ia mencengkeram kuat paha itu, dan tiba-tiba menyodok keras.
"AAAHHHHH—..." Sukuna melepas ciuman dan mengerang keras. Lubangnya mencengkeram erat, tubuhnya melengkung nikmat. "Ugh...ahh...hn, aahh," detik berikutnya ia hanya mendesah heboh. Tubuhnya berguncang keras mengikuti gerakan Gojo. "Satoru...Satoru..." ia mencengkeram punggung Gojo kuat, hasratnya membuncah, membasahi perut mereka. Ia terengah dalam pelukan Gojo.
Gojo mengecup pipi Sukuna, tapi lalu tangannya mengangkat satu kaki Sukuna, kembali memasukinya dalam posisi miring.
"Hngh, ugh..." Sukuna mencengkeram sprei dengan erat, tapi Gojo lalu menarik tangan Sukuna supaya tubuhnya menghadap ke Gojo.
"Lihat aku, sayang," goda Gojo, menyentuh dagu Sukuna, memasukkan ibu jarinya ke mulut Sukuna. Ia terus bergerak memasuki lubang Sukuna. Tangan Gojo beralih memilin nipple Sukuna, memainkannya dengan nakal.
"Nn," Sukuna memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan. Tangannya meraih kejantanannya sendiri. Gojo membiarkan saja. Ia terus bergerak keluar masuk sambil memanja nipple Sukuna. "Hng...nn, ikku..." Sukuna kembali klimaks. Tubuhnya ambruk kelelahan.
"Hei, jangan capek dulu, sayang. Aku belum keluar loh," goda Gojo, mengecup dahi Sukuna, lalu turun ke hidung, dan bibirnya.
"Cepat keluar brengsek, lubangku pegal," omel Sukuna sambil menyentuh tepian lubangnya. Lubang itu sudah sangat memerah.
"Kalau begitu buat aku keluar," seringai Gojo.
"Ugh..." Sukuna merengut. Ia lalu mendorong tubuh Gojo berbaring, ia yang berada di atas. Perlahan ia mulai bergerak naik turun. "Hn...ahh," ia mendesah pelan. Tubuhnya bergerak tak nyaman setiap kali sweetspotnya tersentuh. Tapi ia menatap wajah Gojo yang masih tampak tenang.
"Khh...Satoru, cepat klimaks, brengsek," Sukuna mencengkeram dada Gojo. Padahal ia sudah ingin klimaks lagi, tapi ia merasa kalah kalau kali ini Gojo tak keluar duluan.
Gojo tersenyum, tangannya bergerak untuk kembali memilin nipple Sukuna. "Aarghh, hentikan," Sukuna berusaha melepas tangan Gojo, tapi yang ada malah pilinannya semakin kuat. "Aahh, hen-hentikan...ahhh," Sukuna menahan diri, tapi gagal. Ia kembali klimaks, sperma nya sampai mengenai wajah Gojo.
"Hosh...hosh..." nafas Sukuna tersengal. Tapi saat ia menatap wajah Gojo yang justru menyeringai, ia tahu ia dalam masalah.
Gulp...!
Sukuna menelan ludah berat. "Bisa...istirahat dulu," ucap Sukuna. Tapi yang ada, Gojo malah langsung menindihnya lagi.
.
~OoooOoooO~
.
Suara kicau burung terdengar lirih, sinar matahari menerobos masuk melalui tepian gorden jendela meski sinarnya tak tampak begitu jelas akibat lampu kamar yang belum dimatikan.
Nafas Sukuna terengah, tubuhnya ambruk ke ranjang. Tapi meski begitu, tubuh bawahnya ditarik sedikit meninggi, lalu kembali dimasuki. Sukuna bahkan tak punya energy lagi untuk melawan. Ia hanya mendesah kecil setiap kali penis Gojo menyodok lubang hangatnya yang kini sudah terasa begitu penuh.
"Hnh...ng," Gojo menyelesaikan hasratnya, klimaks kembali di lubang Sukuna. Ia juga terengah. Ditatapnya Sukuna yang sudah kehabisan tenaga. Ia tersenyum lalu membiarkan saja Sukuna tak bergerak. Ia berbaring di samping Sukuna, memeluk tubuhnya yang tertelungkup. Sukuna bergerak pelan sebagai respon. Gojo mengusap rambut Sukuna yang turun ke dahi, menaikkannya dari wajah Sukuna yang tampak letih dan penuh keringat.
Sukuna membalikkan tubuhnya pelan memeluk Gojo, sedetik kemudian ia sudah terlelap. Tampaknya lelah sekali. Gojo mengecup dahi Sukuna, melihat keadaan mereka yang berantakan. Ia ingin membersihkan diri dan juga Sukuna, tapi melihat kekasihnya itu kelelahan dan kini tengah memeluknya, Gojo jadi tak tega mau bangun. Takut mengganggu.
"Ya sudah. Nanti saja deh," gumam Gojo dan ikutan memejamkan mata.
.
.
Mata Sukuna terasa panas sehingga perlahan ia membuka mata. Saat ia terbangun, ia berada di pelukan Gojo. Mereka masih sama-sama telanjang. Sukuna menatap sekitar, ada jam dinding yang sudah menunjuk pukul 1 siang, dan lampu kamar yang masih menyala. Pantas saja.
Bagi Sukuna yang terbiasa tidur dengan lampu mati, matanya akan terasa panas dan merasa tak nyaman dengan cahaya yang terlalu terang. Jadinya ia malah terbangun duluan dibanding Gojo. Padahal dia lah yang lebih kelelah—...
Blush...!
Seketika wajah Sukuna memerah mengingat malam nya yang liar. Ia langsung menyembunyikan wajah di dada Gojo. Tangan Sukuna menyentuh ke bagian bawah tubuhnya, terasa perih dan nyeri, tapi ia puas. Mungkin karena sudah lama tak melakukan sex, lalu saat pulang, Gojo malah tak bisa melakukan dengannya karena sedang ada masalah. Sekarang begitu Gojo mau memenuhi keinginannya, rasanya semua sudah lepas.
Sukuna mengusap-usapkan kepalanya di dada Gojo. "Kau bisa punya energy sebanyak itu dari mana sih," gumam Sukuna pada diri sendiri.
"Nn..." Gojo jadi terbangun karena gerakan Sukuna. Ia mengerjap beberapa kali mengumpulkan kesadaran, ia menatap Sukuna yang masih ngumpet di dada nya. Gojo tertawa pelan. "Kamu bangun duluan," ucapnya dengan suara bendeng baru bangun tidur.
"Hu un," balas Sukuna singkat.
"Hngh," Gojo merenggangkan otot-ototnya lalu duduk, membelai rambut Sukuna. "Mandi yuk. Gerah."
Sukuna mengangguk lalu mencoba bangun. "Arkk..." ia langsung mengaduh, nyaris terjerembah tapi Gojo menangkapnya.
"Hehe," Gojo malah nyengir kuda.
Twitch!
Kedutan kesal nongkrong di pelipis Sukuna. Ia pun menjitak kepala Gojo, tapi Gojo malah makan tertawa.
"Dah ah, ayo mandi, gerah aku," ucap Sukuna.
"Ya ayo. Duluan sana," Gojo menopang wajahnya dengan tangan yang bertumpu ke lutut.
"HUH?!"
"Duluan. Atau...mau minta gendong. Ayo bilang. Sayang, gendong aku, aku nggak bisa jalan. Semalam kamu hot banget," goda Gojo sambil memonyongkan bibirnya.
Wajah Sukuna memerah total. "OGAH!" ucapnya kesal. Meski ia merasakan itu, tak mungkin ia mau mengakuinya secara terang-terangan. "Ya sudah aku juga bisa sendiri kok!" kesalnya lalu merangkak turun dari ranjang, ia bergidik saat cairan kental mengalir dari dalam lubangnya. "Uwaahh...!"
"Hehe ehehehehe," Gojo nyengir nista melihat itu.
"Dasar gila!" umpat Sukuna. Ia turun dari ranjang, mencoba berjalan tapi tentunya tak bisa. Untunglah Gojo langsung menariknya sebelum ia menghantam lantai.
"Bwahaha kau ini benar-benar nggak manis deh. Sesekali manja sama aku kenapa sih," goda Gojo, ia memegang pinggang Sukuna supaya lebih kuat berdiri, satu tangan Sukuna ia rangkulkan ke pundak.
"Ogah bener," ucap Sukuna. Ia melangkah dan Gojo kembali tertawa keras karena Sukuna harus ngangkang saat berjalan. Gojo pun langsung membopong Sukuna bridal style dan mencium bibirnya. "Kamu menggemaskan bangeeettt, aku jadi pengin godain terus," ucap Gojo dengan nada gemas dan memeluk erat tubuh Sukuna.
"Hentai," ucap Sukuna. Gojo hanya tersenyum, ia membopong Sukuna ke kamar mandi. "Bathtub?"
Sukuna mengangguk. Gojo paham betul kemauan Sukuna. Biasanya ia akan berendam sampai air nya tak hangat lagi kalau sedang capek. Gojo mendudukkan Sukuna di closet, lalu menuju bathtub.
"Satoru, shower," ucap Sukuna, minta diambilkan shower.
"Iya bentar, ini ngatur keran dulu."
"Ambilin shower dulu, aku mau bersih-bersih."
"Iya bentar mau isi bathtub dulu!"
"Ambilin duluuuu, biar sambil nunggu kau nyiapin airrrr."
"Sebentar astagaaa," Gojo mengatur keran air ke bathtub, lalu mulai mengisi bathtub itu. Barulah ia mengambilkan shower untuk Sukuna.
"Kan! Harusnya dari tadi kek. Biar kau ngurus air aku sambil bebersih! Kan bakal lebih cepat!" omel Sukuna, mengulurkan tangannya untuk meraih shower tersebut.
"Baweell," Gojo menoel hidung Sukuna, tapi tak memberikan shower itu. Ia berjongkok di depan Sukuna, dan mulai membersihkan tubuh Sukuna.
Sukuna terkesiap, berkedip beberapa kali. Jadi Gojo tak mau mengambilkan shower duluan karena ia mau membantu Sukuna bersih-bersih? Seketika wajah Sukuna bersemu, ia pun langsung memalingkan wajahnya.
"Angkat dikit, sayang," ucap Gojo, menaikkan paha Sukuna. Ia mengarahkan shower ke sana, sedikit membantu supaya kaki Sukuna tetap naik dan lubangnya terlihat. "Ini terlalu panas nggak?" tanya Gojo karena ia harus mengarahkan air shower ke anggota tubuh ter sensitive Sukuna, jadi suhu air yang mungkin hangat pun akan terlalu panas kalau menyentuh tempat itu.
Tak ada jawaban dari Sukuna. Gojo melirik Sukuna yang rupanya tengah memalingkan wajah yang bersemu. Gojo pun tersenyum dan memutuskan pura-pura tak tahu. Ia lanjut membersihkan penis Sukuna, lalu lubangnya. Ia memasukkan satu jari ke sana, bergerak mengeluarkan cairan kental miliknya dari lubang itu.
"Ugh..." Sukuna mengeluh saat merasakan perih, lubangnya mencengkeram erat.
"Mau ke rumah sakit nanti?" tanya Gojo.
"Nggak ah. Apaan sih, lebay banget," ucap Sukuna.
"Ya kalau sakit kan, daripada nanti kenapa-kenapa," Gojo mencoba berhati-hati saat membersihkan lubang itu.
"Kata orang yang menyebabkan ini terjadi."
Gojo nyengir. "Tapi kamu juga mau kan," godanya.
"Urusai," seringai Sukuna.
Gojo berdiri di atas lututnya lalu mencium bibir Sukuna. Mereka berciuman menggunakan lidah, tapi baru sebentar, kegiatan mereka terganggu karena air bathtub yang sudah meluber. Gojo pun bangun dan mematikan keran.
"Satoru," panggil Sukuna.
"Ya?"
"Berendam bareng," rengeknya. Gojo sedikit terbelalak mendengar nada manja Sukuna. Meski tentunya bukan rengekan seperti yang biasa ia ucapkan, karena Sukuna masih terlalu jaim. Tapi Gojo senang mendengar itu. Gojo pun tersenyum lebar dan langsung menghampiri Sukuna, membopongnya lalu mengecup pipinya gemas.
"Iya, ayo berendam bareng," Gojo pun membopong Sukuna ke bathtub. Ia mendudukkan Sukuna di depan tubuhnya, memeluknya dari belakang. Air bathtub yang penuh, tumpah saat mereka masuk dan duduk di dalamnya.
Sukuna bersandar nyaman di tubuh Gojo, ia memainkan jemari Gojo yang memeluknya.
"Besok kamu masih di sini kan, sayang?" tanya Gojo.
Sukuna mengangguk. "Berangkat Senin," sambungnya.
"Yaaah, kok cepet banget."
"Kan udah seminggu aku di rumah."
"Iya sih, tapi masih kangen," Gojo menyandarkan kepalanya ke kepala samping Sukuna. "Haha, salahku juga sih ya kemarin lagi nggak jelas kayak gitu. Jadi nggak menikmati waktu sama kamu."
Sukuna mendongak, lalu mencium pipi Gojo. "Tapi masalah kamu udah selesai?"
Gojo mengangguk. "Aku menemui Ibu ku. Kami nggak ngobrol sama sekali sih, yang maksa ketemu juga orang rumah, bukan dia sendiri. Tapi yang jelas...aku sudah menemuinya, dan harusnya mereka tak lagi menggangguku," Gojo menautkan jemarinya dengan jemari Sukuna, memainkannya. "Dan lagi..." Gojo tersenyum. "Aku sudah memberitahu Megumi soal kejadian itu. Rasanya aku lega sekali. Aku tak menyangka responnya akan seperti itu," ia tertawa kecil mengingat percakapannya dengan Megumi waktu itu.
Sukuna ikutan tersenyum melihat ekspresi Gojo. "Syukurlah kalau begitu," Sukuna kembali menyandarkan kepala ke tubuh Gojo. Gojo memeluknya dan menundukkan kepala ke pundak Sukuna.
"Aaaah, jangan pergi doong. Di sini aja teruuus," Gojo mulai merengek lagi.
"..." Sukuna terdiam menatap kepala Gojo. "Ya...kau tunggu saja," lirih Sukuna.
"Kau bilang apa?" tanya Gojo yang tak mendengar dengan jelas.
"Ya nantinya aku bakal pulang juga kalau kerjaanku sudah selesai."
"Selesainya kapan?"
"Ya...kalau sudah selesai."
"Sebulan lagi? Dua bulan?"
"Entah. Soalnya kemarin ada perubahan rancangan kan, jadi ada penyesuaian waktu lagi."
"Aaaaaaarrrhhhh..." Gojo mulai merengek lagi.
"..." Sukuna terdiam. Ia meraih jemari Gojo dan menautnya. Lalu mengangkat jemari itu, mengecupnya lembut. "Tunggu saja. Sedikit lagi pasti bisa," lirih Sukuna.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
