Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak buat Yuki ChibiHitsu-chan, kokorocchi, Ahenkohi and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

"Hnn...ah, mm..." Megumi mendesah pelan seiring gerakan tangannya yang kian cepat. Tak lama kemudian cairan putih lengket membasahi tangannya, membuat nafasnya terengah. Ia segera meraih tissue lalu membersihkan diri.

Ia keluar dari kamar mandi dan membanting diri ke ranjang. Tengkurap sambil memeluk bantal guling. Ia lalu meraih ponselnya, ada chat dari Yuuji yang sudah ia balas tadi.

'Megumi, besok aku ke tempatmu ya. Kau ada acara nggak?'

'Datang saja. Aku tidak ada acara,' balas Megumi.

Karena Yuuji sering datang di akhir pekan, Megumi sengaja selalu mengosongkan jadwal. Padahal ia bisa saja cari kerja sambilan lain, atau hang out dengan teman-teman kuliahnya, tapi ia sengaja luangkan siapa tahu Yuuji akan datang.

Sampai saat ini ia bahkan belum jadi membayar sendiri sewa apartment, masih dibayarkan oleh Gojo, karena selain kerja sambilan di cafe anjing, Megumi tak mencari kerja sambilan lain supaya waktu senggangnya lumayan banyak.

Soalnya Yuuji sangat sibuk di FFA, dia tak bisa ambil kerja sambilan seperti dirinya karena terlalu lelah mengikuti kegiatan academy sepanjang minggu, jadi ia hanya mengandalkan uang dari Sukuna. Sehingga di hari Sabtu dan Minggu, Yuuji menghabiskan waktu untuk istirahat total. Seringnya ke tempat Megumi biar tak ramai oleh teman-teman yang lain.

Sebenarnya saat memasuki tahun kedua, Yuuji sudah boleh keluar asrama dan mencari apartment sendiri. Tapi Yuuji merasa tak enak pada Sukuna kalau harus menambah tanggungan biaya apartment—karena harga sewa asrama jauh lebih murah pastinya—makanya Yuuji tetap tak mau pindah dan memberikan alasan pada Sukuna bahwa ia sudah terlanjur betah di asrama. Hanya pada Megumi, Yuuji mengatakan yang sebenarnya.

Megumi menggulingkan badan menatap langit-langit. Kali ini aku akan mengajaknya, Megumi berkata pada diri sendiri. Seperti yang Gojo dan Sukuna duga, ia dan Yuuji belum melangkah ke tahap selanjutnya. Padahal...sudah berapa tahun mereka pacaran?

Beberapa kali Megumi sudah berniat ingin mengatakannya pada Yuuji, tapi pada akhirnya belum kesampaian.

"Aargh, pokoknya kali ini aku akan bilang," Megumi meyakinkan dirinya sendiri.

.

Hari Sabtu pun tiba. Sekitar jam 9 pagi, Yuuji sudah tiba di apartment Megumi.

"Yahoo, aku bawakan sarapan," ucap Yuuji saat Megumi membukakan pintu.

"Iya, makasih," balas Megumi. Mereka pun masuk ke dalam apartment.

"Aaah, suasana pagi di sini yang terbaik. Tenang sekali," ucap Yuuji. Ia meletakkan hoodie nya di sandaran sofa ruang tengah, lalu menyusul Megumi ke meja makan untuk sarapan bersama.

"Ya kan sudah kubilang, cari apartment saja. Jangan yang mahal-mahal lah, paling Sukuna-san juga tak keberatan," ucap Megumi sambil menata makanan di meja makan.

"Iya sih...Tapi..." Yuuji meletakkan kepalanya di meja, ekspresinya seolah tengah berpikir. "Mungkin aku habiskan tahun ini dulu kali ya, nanti di tahun ke tiga aku baru cari apartment. Habisnya pasti bakal capek banget, kayaknya nggak kuat aku kalau habis kegiatan nggak bisa istirahat total."

"Ya, terserah kau saja," sekilas Megumi menatap Yuuji. Tubuhnya sudah makin berisi karena latihan setiap hari. Yuuji bilang porsi latihannya tak main-main. Benar-benar melelahkan. Kegiatan academy 70% nya latihan di lapangan, sementara pembelajaran di kelas hanya 30% saja.

Megumi duduk di kursi berseberangan dengan Yuuji. Mereka lalu mulai sarapan. "Itadakimasu," ucap mereka sebelum mulai menyantap makanan di hadapan mereka.

"Hei, kudengar FFA itu ada yang hanya 2 tahun. Kau ambil yang 4 tahun?" tanya Megumi.

Yuuji mengangguk, menelan makanannya. "Ada yang dua tahun, bisa langsung kerja. Tapi katanya jenjang karirnya bakal susah, juga keahlian lainnya tidak ada seperti keahlian buat rescue kalau ada korban gitu loh. Keahlian yang dimiliki benar-benar hanya basic. Jadi Nii-san menyuruhku ambil full course saja," jelas Yuuji.

"Hee, begitu rupanya."

"Iya. Habis yang full course saja, jenjang karir nya juga nggak semulus itu. Cuma ya itu lah, lebih besar kesempatannya," tambah Yuuji. "Kau sendiri juga 4 tahun kah?"

Megumi menelengkan kepalanya. "Hmm...ya bisa dibilang begitu," balas Megumi. "4 tahun perkuliahannya, tapi sehabis itu ada program lagi 4 tahun. Tapi ya...tidak seperti kuliah sih. Bisa dikatakan kita kerja tapi harus di bawah bimbingan dokter yang lebih senior. Baru setelah itu bisa mengajukan untuk dapat sertifikat dokter untuk buka praktik sendiri."

"Hee, begitu. Kurasa malah bagus, jadi kayak kerja tapi masih ada penanggungjawab nya gitu loh. Sekalian buat pembimbing."

Megumi mengangguk. "Ya, kurasa."

Seusai makan, mereka bersantai di ruang tengah. Nonton film, ngobrol kesana kemari, hari santai yang biasa. Yuuji tiduran di pangkuan Megumi, tangan mereka saling bertaut, sesekali berciuman singkat, lalu mengobrol lagi. Sekitar jam 1 siang Yuuji sudah molor. Kalau main di tempat Megumi, dia itu hobby tidur siang meski malamnya juga bakal tidur juga, tak begadang. Megumi hanya maklum saja, membiarkan Yuuji istirahat. Karena mungkin Yuuji tak bisa melakukannya selama di asrama.

Yuuji tidur siang di sofa dengan satu kaki naik ke sandaran sofa. Pokoknya berantakan sekali. Pintu kaca ruang tengah yang menuju balkon dibiarkan terbuka, karena katanya Yuuji suka hembusan angin dari luar, meski AC juga tetap dinyalakan.

Megumi duduk di karpet di bawah sofa yang ditiduri Yuuji. Ia menatap wajah Yuuji yang terlelap.

Bagaimana cara bilangnya ya, batin Megumi. Yuuji, ayo lakukan sex, sepertinya terlalu frontal. Yuuji, kita kan sudah lama pacaran, kau nggak kepikiran buat ke step selanjutnya? Megumi berkutat dengan pikirannya sendiri. Atau...

Sebuah pemikiran terlintas di kepala Megumi. Ia akan melakukannya tanpa perlu bilang dulu, secara alami saja. Mungkin ia akan mengajak Yuuji berciuman, lalu mulai menyentuh...menyentuh...

Blush...!

Wajah Megumi memerah sendiri. Sekarang pertanyaanya, apa ia punya nyali untuk melakukan itu?

"Hmny mn..." Yuuji menggumam di dalam tidur nya. Tangannya menggaruk perut, membuat kaosnya tersibak, menampakkan perutnya yang sudah terbentuk sempurna. Megumi langsung memalingkan wajah.

'Kenapa timing nya harus sekarang sih!' umpat Megumi dalam hati. Meski akhirnya ia mencuri pandang lagi. Megumi meneguk ludah berat menatap tubuh Yuuji.

"Hng mnyhaha," lagi, Yuuji menggumam tak jelas, tangannya malah ganti masuk ke dalam celana dan menggaruk selangkangannya.

Uhuk...!

Megumi langsung bangkit dari sana. Ia cepat-cepat meraih jaket beserta dompet dan kunci motor. Ia pun memilih untuk pergi dari apartment.

Ia menghela nafas lelah, bersandar di dinding parkiran. Untuk beberapa lama ia menenangkan diri, melirik motornya. Ia mau kemana sekarang. Ah sudahlah, keliling saja, pikirnya. Megumi pun menaiki motor dan berkeliling. Toh biasanya Yuuji baru akan bangun sore nanti.

Setelah berkeliling, Megumi memutuskan untuk ke supermarket, sekalian belanja untuk makan malam. Ia berjalan di antara rak-rak, memilih apa yang mau ia masak nanti. Saat menyusuri santai tempat itu, tanpa sadar ia lewat di dekat rak yang menjual hal-hal berbau sex. Seperti condom, pelumas, dan lain-lain.

Megumi melirik, lalu menatap sekeliling. Tak begitu banyak orang. Ia menghampiri bagian condom, meraih sekotak. Ia melihat ukurannya, mencari yang sesuai dengan ukuran miliknya.

Megumi sebenarnya tak yakin. Tapi pada akhirnya ia beli juga. Setelah itu ia pun menuju kasir. Ia berdebar saat kondom itu discan barcode nya oleh kasir. Tapi untunglah, kasirnya professional, jadi tak berkomentar atau bereaksi aneh apapun, dan hanya menata belanjaan Megumi di kantong belanja, dan menyebutkan harga yang harus dibayar. Setelah membayar, Megumi pun kembali ke apartment.

Saat ia kembali, Yuuji masih tidur. Posisinya sudah ganti tengkurap dengan bokong sedikit meninggi karena satu kakinya tertekuk ke tepian sofa.

"Ugh..." lagi-lagi Megumi hanya bisa meneguk ludah berat. Ia membereskan belanjaan ke dapur, kecuali kondom yang langsung ia masukkan ke saku jaket. Ia membawa benda itu ke kamar, lalu menghanger jaket nya di dinding. Kondom ia ambil dari saku jaket, ia pun masuk ke kamar mandi.

Megumi membolak-balik kotak kondom di tangannya. Jangankan memakai, seumur hidup baru kali ini ia melihat benda itu secara langsung, berada di tangannya. Megumi membuka kotak kondom itu, melihat isinya. Ada 12 sachet kondom di dalam kotak tersebut. Megumi mengambil satu, merobek pembungkusnya.

Megumi memperhatikan benda itu cukup lama, menyentuhnya terasa aneh. Ia melirik ke arah pintu yang tertutup, lalu berjalan ke sana untuk menguncinya. Setelah itu Megumi menurunkan resletting celana, mengeluarkan penisnya yang tak ereksi.

Megumi melihat cara pakai di bungkus kondom itu, sepertinya simple saja. Megumi pun meraih kondom itu, menaruhnya di ujung penis, menariknya, tapi terlepas kembali. Ia mencoba beberapa kali, tapi tetap gagal. Apa karena ia tak ereksi ya...?

Megumi pun duduk di atas kloset yang tertutup. Ia mulai menyentuh dirinya sendiri. Ia membayangkan tubuh Yuuji. Terakhir kali mereka mandi bersama, saat berada di onsen. Setelah itu ia tak pernah lagi melihat tubuh telanjang Yuuji. Makanya melihat sedikit saja seperti tadi, sudah bisa memengaruhinya.

"Nn..." Megumi mengerang pelan. Akhirnya ia ereksi juga, cairan bening mengalir dari ujung penisnya. Megumi kembali meraih kondom tadi, mencoba sekali lagi memakai di penisnya.

Sedikit sulit, setiap kali ia menariknya, pasti terlepas dan kembali ke wujud semula. Tapi akhirnya Megumi berhasil memakai benda itu, memakainya sampai menutupi seluruh batang kejantanannya.

"Hng...begini ya," Megumi mulai mengocok kejantanannya dari luar kondom. Karena kondom sangat tipis, baginya tak terlalu ada beda dengan tak memakai kondom, ia bisa merasakan sensasi nikmat saat mengocok penisnya sendiri.

"Hngh...ahh..." ia mulai mengerang pelan, berniat menuntaskan hasratnya. Di kepalanya hanya berisi Yuuji. Ia membayangkan bagaimana nanti kalau ia betulan memeluk Yuuji, melihat Yuuji memdesah di bawah tubuhnya. Nipple nya yang berwarna pink begitu menggoda, lalu kejantanannya...

Megumi belum pernah melihat milik Yuuji. Di pemandian pun mereka memakai handuk kecil di pinggang. Di kamar ganti mereka juga memakai bathrobe sebelum berganti pakaian. Megumi hanya bisa membayangkan saja.

'Nn...Megumi, Megumi...' ia membayangkan Yuuji mendesah memanggil namanya. 'Megumi...ahh, aku mau keluar. Nn, aaaaahh..."

Dalam hayalan Megumi, Yuuji klimaks. Di dunia nyata, Megumi klimaks. Sperma nya tumpah di dalam kondom, memberikan sensasi basah dan lengket. Megumi kembali meraih kotak kondom itu, melihat bagaimana cara mengurus komdom yang sudah terpskai. Megumi melepas kondom itu, lalu mengikat ujungnya supaya spermanya tak tumpah. Meski beberapa tetap tumpah juga sih.

Megumi segera membersihkan diri, memakai celana lagi. Ia menggulung kondom itu dengan tissue toilet lalu memasukkan ke tempat sampah. Ia mengikat kantong sampahnya, akan langsung ia buang keluar. Sisa kondom di dalam kotak ia taruh di laci meja kamar. Setelah itu ia keluar apartment untuk buang sampah. Dilihatnya Yuuji masih terlelap di sofa ruang tengah. Syukurlah. Megumi pun menghela nafas lega.

.

~OoooOoooO~

.

Malamnya, Megumi dan Yuuji memutuskan untuk kencan setelah makan malam. Sekalian cari udara segar.

"Nih," Megumi menyerahkan helm pada Yuuji.

"Nongkrong di mana nih kali ini," cengir Yuuji.

"Yah, keliling saja lah, nanti kalau ada yang menarik kita turun. Karena dekat kampus kan banyak tempat nongkrong," Megumi mengunci pintu apartment lalu melangkah menuju parkiran bersama Yuuji.

"Iya sih. Eh, tapi aku lagi pengin nyusu," ucap Yuuji.

Pfftrr...!

Megumi langsung tersedak. "H-huh?"

"Iya. Itu loh, susu kocok atau semacamnya. Yang susu segar gitu."

"Ooh," balas Megumi, menaiki motornya. "Kayaknya aku tahu tempat yang bagus. Tapi mungkin bakalan rame banget."

"Nggak papa sih. Yang penting dapat kursi saja," Yuuji membonceng di belakang Megumi. "Let's goooo."

"..." Megumi melirik, lalu meraih tangan Yuuji dan melingkarkan di pinggangnya.

"Hehe," cengir Yuuji dengan pipi memerah. Ia pun menyandarkan kepalanya ke punggung Megumi saat Megumi mulai melajukan motor menuju jalan raya.

Sebelum ke tempat yang dituju, Megumi sengaja berkeliling dulu sambil menikmati perjalanan mereka. Merasakan hembusan angin malam membelai tubuh mereka, namun tubuh mereka hangat karena memeluk satu sama lain.

Setelah puas berkeliling barulah Megumi menuji cafe yang dituju. Sebuah cafe yang lumayan besar, dengan nama cafe bertulisan It's Milk besar di bagian depannya. Cafe itu memiliki tempat indoor, tapi juga outdoor di lantai satu dan lantai dua. Tempatnya terlihat ramai baik indoor maupun outdoor nya.

Saat mereka masuk, mereka disambut oleh pelayan cafe, mengatakan masih ada meja kosong di area outdoor lantai satu. Mereka pun menuju ke sana. Meski berada di lantai satu, cafe itu terletak di tepian lembah. Jadi pemandangan kerlap kerlip lampu kota terlihat di kejauhan. Indah sekali.

"Suka tempatnya?" tanya Megumi saat mereka menunggu pesanan mereka.

Yuuji mengangguk senang. "Iya bagus banget," cengir Yuuji. "Eh, ini dekat kampusmu kan. Nggak ngeliat temanmu ada di cafe ini?"

Megumi menatap sekeliling. "Sepertinya mereka anak kampus, tapi kebetulan saja bukan yang aku kenal. Ah, teman sekelasku ada yang jadi pegawai di sini juga kerja sambilan, tapi aku nggak tahu dia lagi jaga atau tidak. Bukan teman akrab juga sih, hanya sekedar teman sekelas."

"Hee, begitu rupanya. Oh terus, kalau nanti betulan ada temanmu, ka—..." ucapan Yuuji terpotong saat seseorang menyebut nama Megumi.

"Megumi? Eh benar Megumi loh."

"Iya, Megumi. Haaaii," dua orang cewek dan dua cowok menghampiri meja mereka.

"Oh, kalian. Sedang nongkrong juga," sapa Megumi, sepertinya mengenali orang-orang itu.

"Iya dong, malam mingguan. Boleh gabung nggak? Kayaknya meja kalian senggang."

Megumi beralih menatap Yuuji. "Boleh atau tidak?" tanyanya.

Karena tak enak, tentu saja Yuuji meng iya kan. Mereka pun duduk ber enam di meja itu. Ya karena meja kafe tersebut memang meja serta bangku panjang, bisa buat ramai-ramai.

Megumi memperkenalkan teman-temannya satu per satu pada Yuuji, dan Megumi juga memperkenalkan Yuuji pada mereka. Tak lama pesanan Yuuji dan Megumi datang, karena mereka memesan duluan. Yuuji memesan milkshake strawberry, sementara Megumi memesan yang vanilla. Ada krim yang menggunung serta topping biskuit di atas susu hangat itu.

"Waah, kalau Sensei dibawa kesini pasti senang nih," ucap Yuuji spontan saat melihat menu yang datang.

"Haha, ya. Kapan-kapan kuajak dia ke sini," balas Megumi.

Tak berapa lama, minuman yang dipesan teman-teman Megumi datang, beserta makanan ringan yang Megumi dan Yuuji pesan. Mereka memesan roti bakar dan pisang nugget. Juga seporsi besar kentang goreng, niatnya untuk mereka makan berdua. Tapi yah, karena mereka ramai-ramai, akhirnya dikeroyok bersama sambil menunggu makanan yang teman-teman Megumi pesan datang.

"Ngomong-ngomong, ini kan malam Minggu. Kau nggak kencan sama pacarmu, Megumi. Katanya kau sudah punya pacar," tanya seorang cewek.

Uhuk...!

Yuuji langsung terbatuk kecil, tapi lalu menormalkan diri dan bersikap sewajarnya.

"Iya, ini aku sedang kencan dengannya. Yuuji pacarku," balas Megumi santai.

Ppffftt...!

Yuuji menyemburkan susu yang ia minum, sementara teman-teman Megumi langsung ribut.

"Hee, begitu rupanya."

"Sejak kapan pacaran?"

"Kuliah di mana?"

bla ...bla...bla...

Obrolan mereka pun berlanjut seru. Meski awalnya sedikit kikuk, pada akhirnya Yuuji bisa membaur dengan suasana yang ada.

.

Mereka nongkrong sampai tengah malam di sana. Ngobrol seru, memesan makanan lagi, juga nyanyi-nyanyi tak jelas di panggung terbuka yang memang disediakan oleh pihak cafe untuk siapapun yang mau.

Sekitar setengah satu barulah mereka memutuskan untuk pulang.

"Ja~ ne~ Megumi-kun, Yuuji-kun," teman-teman Megumi naik transportasi online yang mereka pesan, sementara Megumi dan Yuuji menuju tempat parkir untuk mengambil motor.

"Wah, sampai malam sekali cafe belum tutup," ucap Yuuji.

"Iya, kebanyakan cafe di sekitar kampus tutupnya jam 2 pagi," balas Megumi sambil menaiki motor. Yuuji membonceng di belakangnya, dan kali ini, tanpa diminta Yuuji melingkarkan tangan di pinggang Megumi.

Megumi tersenyum kecil karena itu. Ia pun mulai melaju ke jalan raya. Memilih rute terpanjang untuk pulang. Setiba di apartment, suasana sudah sepi. Tak ada lagi tetangga apartment yang berkeliaran di luar. Mereka pun naik menuju lantai lima. Megumi membuka kunci apartment nya lalu masuk diikuti Yuuji.

"Tadai—..." ucapan Megumi terhenti ketika begitu pintu tertutup, Yuuji langsung memeluknya dari belakang. Megumi sedikit terbelalak, tapi lalu meraih tangan Yuuji dan mengecupnya lembut.

"Ada apa?" tanya Megumi.

"Hng..." Yuuji hanya menggumam, menyembunyikan wajahnya di punggung Megumi. "Kau...nggak papa bilang aku pacarmu di depan teman-teman kampusmu?"

"Ya memangnya kenapa. Aku nggak berniat menyembunyikan hubungan kita. Lagipula dengan begini, aku jadi tidak akan didekati lagi oleh orang lain."

"E-ehh? Didekati?" Yuuji terdengar panik.

"Ya...bukannya Ge-Er atau apa. Kurasa di kampus ada beberapa yang mendekatiku. Aku terang-terangan bilang aku sudah punya pacar sih, tapi beberapa ada yang belum percaya karena aku nggak pernah terlihat jalan sama pacarku. Sekarang biar mereka tahu kalau aku betulan punya pacar."

"Hehe, begitu ya," cengir Yuuji.

Megumi tersenyum. Ia membalikkan tubuh supaya bisa menatap wajah Yuuji. Ia meraih pipi Yuuji dengan tangannya, menekannya sedikit. "Terus kalau teman-temanmu tanya kau punya pacar atau belum, kau jawab apa huh? Jangan-jangan malah kau yang menyembunyikan dari teman-temanmu."

"Enggak lah. Aku sudah bilang kau pacarku, soalnya aku kan hampir tiap minggu ke sini, mereka jadi kepo aku ke mana. Aku bilang saja ke tempat pacar. Dan karena kau sudah beberapa kali ke sana, aku bilang saja kalau kau itu pacarku. Tapi beberapa ada yang nggak percaya sih, dikiranya aku bercanda saja."

"Hee, begitu rupanya," Megumi memainkan pipi Yuuji seperti squishy. Ia lalu mendekatkan wajah, meminta ciuman. Yuuji pun memejam menyambut ciuman Megumi.

Jantung Megumi berdebar. Apa mulai sekarang saja ya? Pikirnya. Ia menyentuh lengan atas Yuuji, mencengkeramnya sedikit erat. Jantung Megumi berpacu semakin cepat. Tapi bagaimana kalau Yuuji menolak? Beribu kemungkinan bermain di kepala Megumi. Tapi sebelum Megumi bisa melanjutkan niatnya, Yuuji sudah melepas ciuman. Cowok itu tersenyum lalu memeluk Megumi dengan sayang. Mau tak mau Megumi pun menerima perlakuan itu.

'Aaagh, bagaimana mau memulainya,' teriak batin Megumi.

Setelah itu mereka menuju ke kamar dan berganti pakaian santai, setelahnya gantian ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Yuuji yang selesai duluan, menuju kamar terlebih dahulu sementara Megumi baru selesai gosok gigi dan berniat cuci muka.

"Megumi, ada gunting kuku nggak? Kuku ku mulai panjang nih, bakal ganggu latihan," teriak Yuuji dari kamar.

"Ada. Di laci meja. Ambil saja," balas Megumi melanjutkan cuci muka.

"Oke," terdengar jawaban Yuuji, lalu suara laci ditarik. Megumi terdiam, sepertinya ia melupakan sesuatu, tapi apa? Saat mengeringkan muka dengan handuk, barulah Megumi ingat apa yang dilupakannya tadi. Dengan panik, Megumi langsung keluar dari kamar mandi. Tapi terlambat, saat ia kembali ke kamar, Yuuji tengah bengong di depan laci meja, memegang sekotak kondom yang sudah terbuka.

"Y-Yuuji, aku bisa jelaskan..." ucap Megumi dengan keringat dingin bercucuran.

Yuuji menoleh kaku ke arah Megumi. "Megumi...ini...kondom?" tanyanya.

Sweatdrop bertaburan di kepala Megumi, ia mengangguk kikuk. Apa Yuuji akan marah? Apa dikiranya Megumi selingkuh? Mana satu kondom sudah terpakai lagi. Kalaupun tidak dituduh selingkuh, jangan-jangan Yuuji ngamuk karena belum ada pembicaraan soal sex di antara mereka, tapi Megumi malah sudah duluan beli kondom.

Tapi tak disangka, Yuuji malah nyengir dengan mata bling bling. "Boleh kubuka? Seumur hidup aku baru kali ini pegang kondom."

Gubrak...!

Megumi hanya bisa cengok. "Y-ya, terserah kau saja," ucapnya sweatdrop.

Yuuji naik ke tempat tidur sambil merogoh isi kotak kondom. Dengan masih sweatdrop, Megumi menyusul naik ke ranjang.

"Oooh, isinya begini," Yuuji meraih isi kotak tersebut, membolak baliknya. "Dulu, dulu banget, aku pernah lihat punya Nii-san di atas meja kerjanya. Tapi cuma kardusnya doang. Pas kutanya itu apa dia langsung ambil dan umpetin ke saku. Dia nggak jawab pertanyaanku. Tapi kalau sekarang aku jadi tahu yang waktu itu tuh kondom."

"Hee..." Megumi hanya bisa menjawab singkat, masih blank dengan kejadian yang ada.

"Boleh buka satu?" tanya Yuuji. Megumi mengangguk saja. Yuuji membuka satu kondom, menyentuh-nyentuh isinya. "Hee, tekstur nya begini ya," ia lalu seenaknya menarik benda itu hingga memanjang. "Kelihatannya kecil."

Deg...!

Megumi langsung kena mental. Kecil, apanya yang kecil?

"Tapi kudengar bisa membesar beberapa kali lipat ya. Kayak balon," tambah Yuuji.

Megumi langsung menghela nafas lega dalam hati. Ooo, maksudnya kondomnya. Iya kan, kondomnya! Ia meyakinkan diri sendiri.

"Coba ah," Yuuji memolorkan kondom itu. "Haha, iya loh, bisa melar jauh banget," tawa nya. Ia meraih kotak kondom, melihat ukuran yang tertera di sana. "Wah, buat ukuran segini. Pantas gede."

Megumi tersenyum dalam hati. Untunglaaaah, Yuuji bilang ukuran segitu besar. Ia tak jadi kena mental seperti tadi.

"Megumi, kucoba tiup ya?" ucap Yuuji.

"H-HUH?!"

"Hehe," Yuuji nyengir kuda, lalu betulan meniup kondom itu hingga menggembung besar seperti balon. "Woaah lihat lihat, ini besar banget. Ini kayaknya bisa dibentuk-bentuk kayak balon lucu gitu deh. Tahu kan yang bisa bentuk hewan, atau apa gitu."

Megumi hanya bisa mengangguk menanggapi keabsurdan yang ada.

"Ah, ngomong-ngomong," ucap Yuuji sambil memerhatikan balon kondom di tangannya, ia lalu menoleh ke arah Megumi. "Kenapa ada kondom di laci meja mu?"

"HARUSNYA ITU PERTANYAAN PERTAMAMU!" omel Megumi yang sontak membuat Yuuji sweatdrop.

"E-eeh, habisnya, kupikir ini bukan punyamu. Mungkin punya Sensei, atau punya temanmu yang pernah mampir ke sini, atau siapaaa gitu," sweatdrop Yuuji. "Eh, loh? Berarti ini punyamu?! Kau ngapain beli kondom? Kenapa ini sudah terbuka? Kau sudah pakai? Dengan siapa?" barulah Yuuji terdengar panik.

Megumi menatap mati. Ia yang sudah panik di awal karena takut dengan pertanyaan-pertanyaan itu, kini hanya bisa menghela nafas lelah.

"Iya, punyaku," Megumi meraih kotak kondom itu, memegangnya di sebelah kanan setinggi dagu, seolah memamerkannya pada Yuuji. "Sudah kupakai satu, kupakai sendiri karena ingin coba."

"O-ooh, begitu..." Yuuji tampak bingung. "Jadi karena kau penasatan juga sepertiku tadi, makanya sampai beli biar tak penasaran lagi?"

Megumi hanya menatap datar ke arah Yuuji. Apa pacarnya itu masih nggak paham juga?

"..." Yuuji terdiam selama beberapa saat, ia mengerjap beberapa kali. Hingga ia terkesiap dan berkeringat dingin saat menyadari sesuatu. Sontak ia langsung menutupi bagian belakang tubuhnya dengan kedua tangan. "K-kau...k-au ingin...k-kita...a-anu..." panik Yuuji dengan wajah memerah.

Wajah Megumi jadi bersemu juga karena itu. Ia sedikit membuang pandangan. "K-kalau kau nggak mau ya nggak papa. Aku hanya sesekali membayangkan saja kalau kita...well, kau tahu lah maksudku," ia ganti menatap Yuuji kembali tepat di mata. "Tapi aku nggak akan memaksamu kalau kau nggak mau. Aku senang kita pacaran meskipun kita nggak melakukan sex sekalipun."

Megumi terdiam, lalu wajahnya memerah mengingat ia barusan terang-terangan mengatakan sex. Wajah Yuuji juga memerah total mendengar itu. Untuk beberapa lama mereka diam dengan kekikukan masing-masing.

"A...umm, i-itu..." Yuuji membuang pandangan, mengetuk-ngetukkan ujung kedua jari telunjuknya. "U-umm...a-apa boleh k-kupikirkan dulu?"

Megumi mengangguk. "Sudah kubilang kan aku tidak akan memaksa. Dan aku senang kita pacaran kalaupun kau tak mau s-sex sekalipun, bukan berarti aku mau putus atau apa."

Yuuji mengangguk meski belum berani menatap Megumi. "Ja~ ka-kalau begitu, malam ini aku tidur di kamar sebelah saja ya. Biar kupikirkan dulu soal ini."

Jleb!

Rasanya jantung Megumi langsung kena critical hit. "Iya..." jawabnya lirih dengan darah mengalir dari lubang jantungnya.

"Ka-kalau begitu, selamat malam Megumi," Yuuji turun dari ranjang membawa kondom balon di pelukannya, entah sadar atau tidak. Ia keluar kamar menuju kamar satu lagi di apartment itu. Sementara Megumi tetap di kamarnya.

'Aaaaaaaaaaa,' Megumi berteriak dalam hati sambil memegangi kepalanya. Ia membanting tubuh, membenamkan kepala ke bantal. Kakinya menendang-nendang kasur. Astagaaa, bagaimana ini. Apa Yuuji jadi takut padanya? Dia tidak mau tidur sekamar karena takut Megumi perkosa? Terus, apa hubungan mereka bakal jadi awkward ke depannya? Beribu kepanikan muncul di pikiran Megumi.

Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka, Yuuji muncul di sana. Apa dia sudah selesai memikirkannya? Cepat amat?!

"Megumi, bantal guling," ucapnya.

"O-oh, ya," Megumi baru ingat ia membawa bantal guling dari kamar satunya kalau Yuuji atau Gojo menginap. Karena mereka sama-sama terbiasa tidur dengan bantal itu. Setelah mengambil bantal, Yuuji pun kembali ke kamar sebelah. Sementara Megumi hanya bisa menghela nafas lelah dan menjatuhkan kepalanya ke bantal.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra