Disclaimer : Gege Akutami

A Fanfiction by Noisseggra

Pair : Gojo X Sukuna

Genre : Romance, Drama

Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s), probably OOC,

You have been warned !

Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V

.

.

#Makasih banyak buat Yuki ChibiHitsu-chan, kokorocchi, and emperor it's me yang udah nyempetin review. Dibales lewat PM ya~ ^o^/

.

.

HeartBreak Night

.

.

Sukuna tengah workout pagi itu. Menjaga supaya bentuk tubuhnya tetap sempurna. Mungkin tak bangun sepagi Gojo, atau workout serutin dia, tapi Sukuna memang rutin workout biar badannya tetap bagus. Ia tak ingin Gojo kehilangan nafsu padanya kalau badannya mengendor.

Di tengah workout itu ponsel Sukuna berdering. Ada telefon dari Yuuji. Tumben tuh anak nelfon di Minggu pagi begini. Biasanya Yuuji bangun siang selama liburan karena seminggu sudah capek kegiatan academy. Sukuna pun istirahat dulu untuk mengangkat telefon Yuuji.

"Ya," jawab Sukuna sambil menenggak air mineral. Tapi detik berikutnya ia menyemburkan air itu setelah mendengar ucapan Yuuji. "H-HUH?!"

"Iya, jadi Megumi bilang ingin sex denganku. Kalau sex, berarti dia akan memasukkan titid nya ke lubangku kan? Mana titid nya besar banget pula. Aku belum lihat titid dia sih, tapi semalam aku lihat kondom yang dia beli ukurannya segitu. Gede banget. Kalau titid Megumi segede itu, dia bakal masukin ke lubangku, gimana dong," jelas Yuuji terdengar panik. Saat ini ia tengah berada di kamar sambil memeluk bantal guling. Ponsel ia letakkan di telinga.

Sukuna yang pagi-pagi begitu mendapat pertanyaan soal sex, memijit pelan pelipisnya sambil mendengar ocehan Yuuji.

"Ochitsuite," ucapnya pelan pada Yuuji.

"Tenang bagaimana. Ini loh aku sedang di apartment Megumi. Tidur di kamar sebelah tapi. Aku belum tahu mau ngasih jawaban apa ke Megumi."

Uhuk...!

Sukuna tersedak, lalu meminum air supaya sedikit lebih tenang.

"Ya, kau mencintai Megumi atau tidak. Kalau iya ya, lakukan saja. Daripada Megumi kabur cari yang lain," omel Sukuna.

"Nggak, Megumi bilang nggak akan cari yang lain kok. Dia bilang nggak papa kalau aku nggak mau, dia nggak akan bilang putus. Katanya dia suka pacaran denganku."

Sukuna menarik bibir sebelah. Sasuga Megumi, jauh banget sama bapak nya. Eh, bapak angkat maksudnya.

Sukuna menghela nafas, menenangkan diri. Ia harus lebih dewasa. Yuuji sampai menghubunginya berarti dia benar-benar butuh arahan. "Ya sudah, kalau kau sendiri, kau ingin melakukannya juga atau tidak, dengan Megumi," nada suara Sukuna melembut.

"Umm...y-ya...ingin sih. Tapi...aku juga masih bingung. Habisnya kau nggak lihat sendiri sih Nii-san, ukuran kondomnya...ukurannya..." Yuuji baru sadar ia masih memegang balon kondom semalam. Ia pun dengan segera memotret kondom itu dan mengirimkannya pada Sukuna dengan menuliskan ukuran kondom yang ia lihat semalam tertera di kotak pembungkus. "Tuh segitu," tambah Yuuji.

Sukuna melihat chat yang masuk, membaca ukurannya. "Tenang saja. Punya Satoru lebih gede kok dan aku bisa memasukkannya ke lubangku," Sukuna hampir saja mengatakan itu, untunglah ia tidak keceplosan. Tapi yah...itu memang termasuk ukuran besar. Mungkin Megumi masih tumbuh juga. Kalau benda sebesar itu masuk untuk sex pertama Yuuji...apalagi mereka berdua sama-sama belum berpengalaman...

"..." Sukuna menatap mati, ia memijit kepalanya yang semakin pusing. Dulu ia langsung dimasuki Gojo dan itu sex pertamanya dengan cowok, tapi ia langsung bisa menikmati, karena Gojo sudah pro dan good at sex. Tapi bagaimana kalau dulu Gojo noob dan seenaknya masuk. Yang ada Sukuna bisa saja trauma, bukan menikmati.

"Nii-san, gimana doong," lamunan Sukuna buyar saat Yuuji merengek lagi.

"Hmm..." Sukuna juga bingung harus bagaimana. "Baiklah, kuhubungi nanti. Megumi bilang mau menunggu kan, bilang saja kau belum dapat jawaban."

"Huh, uh...oh, o-oke deh," Yuuji hanya bisa pasrah. "Tapi beneran kasih solusi ya, Nii-san."

"Iya iya, nanti kuhubungi lagi. Dah," Sukuna mematikan telefon. Ia segera mencari kontak Gojo dan menelfonnya.

Gojo tengah memasak untuk sarapan pagi waktu itu. Ia tersenyum melihat nama Sukuna muncul si layar ponselnya. Ia mengangkat panggilan itu. "Selamat pagi sayang," senyum Gojo, mendengarkan balasan Sukuna di ujung telefon. Ia nyengir detik berikutnya. "Ara, pagi-pagi sudah minta tips sex. Kau mau kita VCS jam segini," goda Gojo meski ia tahu Sukuna akan mengomel detik berikutnya. Dan memang itulah yang terjadi. Sukuna mengomel, Gojo hanya terkikik kecil.

"Eh, tapi ngapain kau nanya-nanya soal tips sex dengan cowok. Kau nggak lagi berniat selingkuh dengan cowok dan kau yang mau memasukinya kan?!" Gojo merengut. Ia mendengarkan jawaban Sukuna lalu terbelalak. Ia segera mematikan kompor dan duduk di kursi meja dapur untuk mendengarkan obrolan Sukuna dengan lebih serius.

.

Sukuna menghela nafas lega setelah menutup panggilan dengan Gojo. Ia rasa, Gojo yang akan menyelesaikan sisanya. Sukuna pun ganti menelfon Yuuji lagi.

"Gimana, Nii-san?" ucap Yuuji antusias begitu Sukuna menelfon.

"Kau tenang saja. Serahkan semua pada Megumi," balas Sukuna.

"HUH? Itu sih bukan solusi! Kau ini gimana sih!" omel Yuuji.

"Ya memangnya harus gimana! Kau mau menolak Megumi? Kau sendiri yang bakal jadi virgin seumur hidup! Kecuali kau lah yang berniat selingkuh dari Megumi!"

"Gaaahh..." Yuuji langsung kena mental. Tapi dalam hati ia membenarkan ucapan Sukuna. "Ba-baiklah kalau begitu..." jawab Yuuji lemas pada akhirnya.

.

Sementara di kamar sebelah, Megumi baru selesai mandi pagi. Ia melihat ponsel dan ada satu misscall dari Gojo. Ia pun lalu menelfon balik.

"Ada apa Tou-san. Gomen, tadi aku sedang mandi," ucap Megumi. Ia mendengarkan Gojo di telefon. Sontak wajahnya memerah, tapi ia lalu mendengarkan dengan seksama ucapan Gojo.

.

~OoooOoooO~

.

Tak bisa dipungkiri, Yuuji dan Megumi jadi sedikit awkward setelah itu. Mereka masih masak pagi bareng, sarapan bareng, mengobrol, tapi rasanya tetap awkward. Setelah sarapan, mereka menonton TV di ruang tengah. Tak ada obrolan di antara mereka. Hanya keheningan, pura-pura terlarut dalam acara TV yang ada.

Yuuji melirik Megumi singkat, jantungnya berdegup keras. Ia sambil memeluk bantal, memikirkan kapan ia akan mengatakan pada Megumi. Apa ia menunggu Megumi mengajaknya lagi saja ya? Tapi semalam kan Yuuji bilang dia yang akan memberi jawaban, bagaimana kalau Megumi tak akan mengajak lagi selama Yuuji belum menjawab.

Yuuji menatap jam di dinding, jarum jam sudah menunjuk angka 10. Waktu semakin berjalan, kalau Yuuji tak segera memberi jawaban, bisa-bisa tiba waktu ia harus segera pulang, kembali ke asrama. Soalnya besok sudah Senin, dan mereka sama-sama ada jadwal kuliah.

Yuuji mencengkeram bantal dengan erat. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bilang.

"U-um...Megumi," panggil Yuuji meski tak berani menatap langsung wajah pacarnya. "Soal yang semalam...k-kurasa aku mau saja," Yuuji makin membuang pandangan. "Maksudku...itu hal yang wajar kan. Kita juga...sudah lama pacaran. Jadi kurasa...tidak masalah, kita melakukan s-sex."

"Begitu...baiklah," balas Megumi.

Yuuji melirik Megumi, wajahnya juga bersemu. Sepertinya mereka itu sama saja. Sama-sama grogi.

"Y-ya sudah, ayo," ajak Yuuji.

"Huh? Sekarang? Pagi-pagi begini."

"Ya gimana, nanti sore aku harus pulang ke asrama loh."

"Ya...kan bisa kapan-kapan. Minggu depan mungkin."

"Nggak ah. Kalau ditunda selama itu aku malah jadi makin takut. Seminggu nanti aku bakal kepikiran terus dan makin deg deg an mendekati akhir pekan."

Megumi meneguk ludah berat. "Jadi...sekarang?"

Yuuji mengangguk malu-malu.

"Ya sudah...ayo ke kamar," ajak Megumi.

Mereka pun menuju kamar. "Aku duluan ke kamar mandi ya," ucap Yuuji. Megumi mengangguk saja. Dengan grogi Megumi menunggu di kamar. Ia meraih kondom dari dalam laci, lalu sebuah hand cream. Karena Yuuji sepertinya masih lama di kamar mandi, akhirnya Megumi ke kamar mandi di luar untuk bersih-bersih. Ia bahkan memakai deodorant setelahnya, supaya tak bau keringat ia pikir. Saat ia kembali ke kamar, Yuuji belum keluar. Jadi ia harus menunggu lagi beberapa lama sampai pintu kamar mandi terbuka.

Dengan malu-malu, Yuuji menghampiri. "T-terus...gimana?"

Megumi meneguk ludah berat. Ia harus tenang, supaya Yuuji juga tak tegang lagi. Ia mengulurkan tangannya dengan lembut, mengajak Yuuji mendekat.

"Santai saja, kita pelan-pelan. Oke?"

Yuuji mengangguk. Megumi meraih wajah Yuuji, mendekatkan wajah mereka. Ia mengecup bibir Yuuji lembut. Yuuji memejamkan mata, ciuman mereka yang biasa. Hingga mata Yuuji terbelalak saat merasakan lidah basah Megumi menjilat bibirnya. Sontak Yuuji langsung memundurkan kepala, menatap Megumi dengan sedikit panik. Jantungnya berdegup kencang. "Apa yang..."

Megumi menatap tenang. Ia menjulurkan lidahnya sedikit, mengetuk pelan. "Coba ciuman pakai lidah," ucapnya.

Yuuji tak menjawab. Tapi ia diam saja saat Megumi kembali mengajaknya berciuman. Kali ini Megumi meraup bibir Yuuji, jemarinya menarik dagu Yuuji sehingga bibirnya sedikit terbuka. Megumi menelusupkan lidah ke mulut Yuuji, menaut lidahnya.

"Mnn," Yuuji mengernyit. Ini kali pertama ia ciuman basah dengan Megumi. Ia sedikit kikuk, tapi ia merasa nikmat saat mengecap lidah hangat Megumi. Ia merasa malu dan ingin kabur, tapi di saat yang bersamaan ia juga menyukai sensasi itu. Syukurlah Megumi malah meraih belakang kepalanya sehingga Yuuji tak punya alasan untuk kabur. "Mmn, nn," ciuman mereka semakin dalam. "Fwaahh," Yuuji memaksa lepas ciuman saat kehabisan nafas.

"Coba bernafas lewat hidungmu. Seperti bernafas biasa. Jangan menahan nafas karena mulutmu terisi," ujar Megumi.

Yuuji mengangguk. Lalu kali ini bahkan ia yang mulai duluan untuk ciuman lagi. Yuuji menyatukan bibirnya dengan bibir Megumi, lalu menggunakan lidahnya untuk menaut lidah Megumi. "Mn..ahn," perlahan Yuuji mulai terbiasa. Ia dengan rakus melanjutkan ciuman itu. Tanpa sadar ciuman mereka berubah liar, memagut lidah masing-masing, mencari kenikmatan yang sama.

Ini ciuman basah mereka yang pertama. Rasanya nikmat sekali. Sangat jauh dari ciuman mereka yang biasa. "Mmn...ahn, mnn," tanpa sadar tangan Yuuji mencengkeram dada Megumi, seolah tak mengizinkannya pergi. Ia menaut lidah Megumi, menikmati benda hangat itu. Rasanya ia ingin terus berciuman. Tubuh Yuuji memanas. Dan ia terkejut saat menyadari sesuatu.

Yuuji melepas ciuman, memundurkan tubuhnya. Ia menutupi dengan tangan bagian bawahnya yang sudah menggunduk. "Gomen Megumi...aku malah...sudah berdiri duluan," ucapnya dengan wajah sedikit tertunduk.

"..." Megumi terdiam. Ia mengecup dahi Yuuji, lalu meraih tangannya, menuntunnya untuk menyentuh selangkangan Megumi.

Gasp...!

Yuuji terkesiap. Ia merasakan benda yang panas dan keras di sana.

"Kau tidak sendirian," ucap Megumi.

Wajah Yuuji memanas. Dengan malu-malu ia meremas pelan benda itu. Benda itu...akan masuk ke lubangnya nanti. Memikirkan itu membuat Yuuji jadi deg-deg an lagi.

"Hey, boleh lihat?" lirih Megumi. Ujung jarinya menyentuh selangkangan Yuuji yang menggunduk. Yuuji mengangguk kikuk. Dengan perlahan Meguni menarik celana Yuuji, menampakkan penis nya yang sudah tegak sempurna, cairan pre cum banjir dari ujungnya. Nafas Megumi memburu terasa di daun telinga Yuuji. Megumi menyentuh ujung penis Yuuji, membuat benang tipis terbentuk di sana.

Megumi mencium telinga Yuuji, menjilat daun telinganya. "Buka ya," ucap Megumi, tangannya menarik celana Yuuji lepas. Ia yang berniat pelan-pelan sepertinya mulai kehilangan kendali. Tapi entah mengapa, mendaptkan reaksi Megumi yang seperti itu, Yuuji justru merasa ada sengatan listrik di perutnya. Ia merasa excited karena bisa membuat Megumi terangsang seperti itu.

Setelah melucuti celana Yuuji, Megumi langsung meraih penis pacarnya itu, mengocoknya dengan sedikit terlalu bersemangat.

"Ngh, ahh," Yuuji mendesah keras. Ini pertama kalinya ia disentuh oleh orang lain. Ia tak menyangka rasanya seenak itu jika orang lain yang melakukannya. "Ungh...ahh, Me-Megumi..." ia memanggil nama Megumi.

Mendengar panggilan seksi itu Megumi jadi makin terangsang. Ia menciumi leher Yuuji, menggigitnya, menjilat, menggigit lagi, hingga noda kebiruan tercetak jelas di sana. Tangannya tak berhenti memanja milik Yuuji, membuat Yuuji mendesah makin heboh.

"Me-Megumi, Megumi berhenti," Yuuji mencengkeram pundak Megumi, kepalanya tertunduk.

"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Megumi meski tak menghentikan gerakannya.

"Ng...se-sepertinya aku mau keluar. Sudah nggak tahan."

"Kalau begitu keluarkan saja," Megumi malah mempercepat gerakan tangannya.

"A-ahh, ta-tapi, malu. Masa keluar di depanmu."

"Baaka, kita akan melakukan hal yang lebih memalukan lagi nanti. Jadi tidak masalah," Megumi mengangkat dagu Yuuji, lalu mencium bibirnya.

Yuuji terbelalak. "Mmnh, mmnggh," ia memejam erat, tak bisa menahan diri. Ia merasakan nikmat ciuman, bersamaan dengan tangan Megumi yang memanja penisnya, Yuuji tak tahan lagi. Akhirnya ia klimaks di tangan Megumi. Ia melepas ciuman, nafasnya terengah.

Mata Megumi menyala menatap wajah Yuuji. Wajah yang memerah dengan nafas terengah dan bibir sedikit terbuka, mata sayu yang sedikit berair. Ia tak menyangka wajah Yuuji bia semanis ini.

"A-aah, gomen. Tanganmu jadi kotor. Tissue tissue," Yuuji berniat meraih tissue di meja, tapi setelah ia mengambil selembar, ia melongo saat Megumi malah dengan nakal menjilat sperma Yuuji yang ada di tangannya.

"Asin," ucap Megumi yang sontak membuat wajah Yuuji berasap.

"Kenapa kau malah menjilatnyaaa," rajuk Yuuji dengan wajah memerah total.

Megumi menyeringai. "Mau coba punyaku?"

Wajah Yuuji semakin memerah mendengar itu. Ia pernah nonton AV, jadi tentunya pernah tahu adegan semacam itu.

"Haha, bercanda. Ak—..." ucapan Megumi terhenti saat Yuuji betulan menundukkan wajahnya ke selangkangan Megumi. Padahal tadi Megumi hanya berniat menggoda. "O-oi..."

Gulp...!

Yuuji menelan ludah berat. Ia menurunkan celana Megumi, mengeluarkan penisnya yang sudah tegak. 'Gaahh...' batin Yuuji. Ia sudah membayangkan ukuran Megumi sejak melihat isi kondom itu sih, tapi melihatnya secara langsung sepertinya jauh lebih besar dari yang Yuuji pikirkan.

Yuuji menjilat ujung penis Megumi yang basah. "Bwaahh, iya asin," Yuuji langsung menjulurkan lidah.

"Pffftr," Megumi menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan tawa. Ia tak menyangka Yuuji betulan menuruti ucapannya.

"Hn, begini bukan ya," Yuuji menjilat kepala penis Megumi, lalu batangnya. "Oh, yang sebelah sini nggak asin, mnn."

Megumi memegangi kepalanya, tak menyangka Yuuji bakal seimut itu.

"Gwaah, kok bisa membesar lagi," Yuuji terkejut merasakan penis Megumi di tangannya makin membesar.

"Kau pikir salah siapa huh?!"

"Huh, memangnya salahku? Ungh..." Yuuji mencoba memasukkan penis Megumi ke mulutnya. "Omph, mnn, ngghak mnhuat, mnn," ia bergerak naik turun meski tak semua berhasil masuk. "Pwah...nggak muat," ia melepas penis Megumi dari mulutnya.

"Gomen, aku tak tahan lagi," Megumi meraih penisnya sendiri lalu mengocok cepat di wajah Yuuji. "Mn, ahh, ikku..." ucapnya tertahan saat akhirnya klimaks. Spermanya membanjiri wajah Yuuji hingga ke rambut, sebagian mengalir di wajah sampai ke bibir Yuuji.

"Fuwaah," Yuuji menegakkan badannya, lelehan sperma menghiasi wajahnya yang manis. Ia menjilat sedikit sperma yang mengalir ke bibir. "Pwehh, rasanya aneh," ia menjulurkan lidah.

Megumi hanya bisa menahan diri untuk tidak langsung menubruk Yuuji dengan pose imut nya itu.

"Sudahlah, wajahmu jadi berantakan gitu," Megumi melepaskan kaos Yuuji, lalu menggunakannya untuk mengelap wajah pacarnya itu.

"Kan salahmu," protes Yuuji. Ia menatap tubuhnya yang sudah polos, sementara Megumi masih lengkap, hanya celananya saja yang turun. "Kau juga buka baju!" protes Yuuji.

"Iya iya," Megumi pun melepas bajunya.

"Celana juga!"

"Iyaa," Megumi menurut saja. Setelah ia polos, pada akhirnya Yuuji speechless dengan muka memerah melihat pemandangan itu. "Ugh..." ia langsung menutupi area selangakangannya lagi yang mulai ereksi.

Megumi tertawa pelan. "Kau suka? Baguslah," ujarnya lalu kembali mencium bibir Yuuji. Dengan bersemangat Yuuji berciuman menggunakan lidahnya.

"Yang begini enak," ucap Yuuji. Megumi hanya tersenyum dan melanjutkan ciuman. Ia mendorong tubuh Yuuji hingga rebah di kasur, kulit polos mereka saling menyentuh. Yuuji memeluk Megumi, masih ingin menikmati ciuman mereka. "Nn," ia mendesah pelan saat selangkangan mereka saling bergesek. Yuuji merasakan penis Megumi yang panas, juga mulai tegak kembali seperti miliknya.

Megumi melepas ciuman, nafasnya memburu. Ia menjilat singkat bibir Yuuji.

"Hei, kali ini boleh aku masuk?" tanya Megumi.

Meneguk ludah berat, Yuuji pun mengangguk. Megumi bangkit dari menindih tubuh Yuuji. Ia meraih kondom dan hand cream dari atas meja.

"Hand cream buat apa?" tanya Yuuji.

"Buat pelumas. Karena kemarin aku nggak beli pelumas sekalian. Kata—..." ucapan Megumi terhenti. Kalau dia bilang dia dapat tips dari Gojo, mungkin Yuuji akan malu dan tak mau jadi lanjut mengetahui kalau Gojo tahu mereka mau melakukan sex. "...karena kupikir kondomnya tidak licin, aku takutnya tidak bisa masuk," Megumi meralat ucapannya.

"Oo, begitu," balas Yuuji dengan polosnya.

"Ya sudah. Buka kakimu dong."

Blush...!

Wajah Yuuji memerah. Ia meraih bantal satu lagi untuk ia peluk, sebagian menutupi wajahnya. Ia lalu membuka kakinya perlahan.

Megumi menelan ludah. Ia membasahi jarinya dengan handcream, lalu menyentuh lubang Yuuji. Lubang pink itu berkedut sebagai respon.

'Geehh...!' teriak batin Megumi merasakan darah berdesir di kemaluannya. Ia berusaha keras menahan diri.

"Aku masukkan jariku ya," ucap Megumi.

"Hu um," Yuuji menggumam sebagai respon, masih menggunakan bantal menutupi sebagian wajah.

Jemari Megumi mendorong masuk, ia masukkan dua jari. Ia bergerak keluar masuk, sambil mengingat ucapan Gojo. Ia mencoba mencari sweetspot Yuuji. Tapi ia tak tahu di sebelah mana, ia tak bisa melakukan apapun selain mengira-ngira dari penjelasan Gojo.

"Bagaimana rasanya?" tanya Megumi. Ia ingin memastikan Yuuji baik-baik saja.

"Ugh...rasanya aneh, ada yang bergerak di dalam lubangku," ucap Yuuji.

Megumi sweatdrop, ia jadi sedikit tidak percaya diri mau lanjut. Tapi ia terus bergerak, memasukkan jarinya lebih dalam, memutarnya, mencari titik lain.

"Ahh," Yuuji mendesah saat Megumi menyentuh satu titik. "Hmph," Yuuji langsung menutup mulutnya.

Mata Megumi bersinar, akhirnya ketemu. Ia menyentuh titik itu sekali lagi, dan Yuuji kembali mendesah tertahan.

"Yuuji, bagaimana rasanya?" Megumi ingin memastikan.

"A-aku nggak tahu," Yuuji menggunakan bantal untuk menutupi seluruh wajahnya. "Di-di sana...umm..."

"Enak?"

Yuuji mengangguk malu-malu.

Megumi tersenyum. "Jangan malu begitu. Kalau enak bilang saja enak. Bukankah bagus kalau kita sama-sama menikmatinya nanti."

Yuuji mengangguk lagi. Megumi kembali menyentuh titik itu berkali-kali, Yuuji menggeliat tak nyaman, lubangnya mencengkeram jemari Megumi di dalam sana. Darah kembali berdesir di penis Megumi, ia membayangkan kalau jemari itu adalah penis nya.

"Yuuji, boleh aku masuk? Rasanya aku tidak tahan lagi," pinta Megumi.

"Iya," balas Yuuji. Ia menyingkirkan bantal dari muka nya. "Tapi kalau sakit, berhenti ya."

Megumi sweatdrop. Ia tak berani janji. "I-iya..." tapi akhirnya ia menjawab itu. Ia hanya berharap semoga Yuuji tak minta berhenti.

Megumi merobek satu kondom, lalu memakaikannya di penis. Karena ini kali kedua, ia sudah tak sekikuk sebelumnya. Kondom itu pun terpasang dengan rapi. Megumi kembali melumuri penisnya dengan hand cream, lalu menuntunnya menuju lubang Yuuji.

"Aku masuk ya," ucap Megumi.

Yuuji mengangguk. Megumi mendorong paha dalam Yuuji supaya membuka lebih lebar. Dengan perlahan, ia memasukkan penisnya ke lubang Yuuji. Ternyata lebih sulit dari yang ia duga. Entah lubang Yuuji yang sempit atau penisnya yang kebesaran, ia sulit masuk.

"Yuuji, rileks. Aku nggak bisa masuk," ucap Megumi.

"I-iya. Gomen, aku akan berusaha," ucap Yuuji. Ia berusaha rileks, ia sedikit takut saat merasakan penis Megumi perlahan menyentuh permukaan lubangnya, lalu mendorong masuk. Makanya ia malah mengeratkan lubang. Tapi ia harus rileks demi Megumi. Ia pun mencoba lagi.

"Hng..." Megumi mengerang kecil saat akhirnya kepala penis nya berhasil masuk. Dengan perlahan ia mendorong masuk sepenuhnya. Megumi meneguk ludah berat. Ia tak menyangka sensasi nya sehebat itu. Penisnya dicengkeram oleh dinding-dinding lubang Yuuji yang basah dan hangat. "Gomen...Yuuji, aku...nggak kuat," ucap Megumi dan mulai bergerak keluar masuk.

"Eh, Me-Megumi, tungg-...u...ahhh," Yuuji menjerit, karena ia belum terbiasa dengan keberadaan penis Megumi di dalam tubuhnya, tapi Megumi langsung bergerak cepat.

"Ngh...ahh, gomen, Yuuji, ngh...ahh, ini enak sekali...gomen," racau Megumi.

Yuuji menatap ekspresi Megumi yang berantakan. Baru kali ini ia melihat wajah Megumi tak tenang seperti itu, apa senikmat itu memasuki lubangnya. Yuuji tersenyum, ia suka pemandangan itu.

"Iya, lanjutkan saja," Yuuji pun tak menyuruh berhenti meski ia kesakitan. Lubangnya terasa perih.

Melihat ekspresi Yuuji yang seolah menahan sakit, Megumi mulai mencari kesadarannya kembali. Ia mengingat ucapan Gojo, apa yang harus dilakukannya saat ini.

Megumi mencium Yuuji dengan lidah, ciuman yang Yuuji sukai. Tangan Megumi beralih memilin nipple Yuuji.

"Hngh...!" Yuuji terbelalak di dalam ciumannya menahan sensasi di bagian nipple, lubangnya mengapit lebih kuat, membuat Megumi hilang kendali.

Dengan rakus Megumi mencium Yuuji, tangannya tak berhenti memilin nipple Yuuji yang ereksi. Tubuh Yuuji mulai menggeliat nikmat, dan gerakan Megumi mulai teratur, tak seenaknya sendiri mencari kenikmatan seperti tadi.

"Ng...aahhh," Yuuji mendesah keras saat sweetspotnya tersentuh, ciumannya bahkan sampai terlepas. Nafasnya tercekat merasakan sensasi barusan. "Me...Megumi...di sana, tadi..." pintanya malu.

"Iya," lirih Megumi menahan nafsunya. Ia menyodok di titik yang sama.

"AAHHHH," Yuuji mengerang nikmat. Kendali Megumi lenyap sudah. Ia menggigit leher Yuuji sambil terus bergerak cepat. Satu tangannya meremas penis Yuuji, satu tangan memilin nipplenya. "Megumi—...Megumi," Yuuji mendesah heboh. Ia mendongak total merasakan kenikmatan yang ada. "A-ahhh, aaahhh," Yuuji mendesah panjang saat akhirnya ia klimaks. Sperma nya membasahi tangan Megumi yang meremas penisnya.

"Ngh gomen...hosh hosh..." ucap Yuuji. "Aku malah...hosh, klimaks duluan."

"..." Megumi tak mendengarkan itu semua, kendalinya sudah hilang. Ia menaikkan kaki Yuuji dan kembali memasuki dengan brutal.

"AAA-AAHH, AAHHH..." Yuuji menjerit keras, sperma kembali muncrat dari ujung penisnya. "Megumi...Megumi..." ia memanggil nama kekasihnya berulang-ulang, menggunakan ibu jari untuk menutup lubang kejantanannya.

"Hng...ikku...mn," Megumi menyodok keras dan klimaks. Yuuji juga kembali klimaks merasakan kedutan keras penis Megumi.

Hosh...hosh...

Nafas mereka terengah. Megumi menarik perlahan penisnya dari lubang Yuuji. Ada sedikit darah mengalir dari sana. "Gomen..." lirih Megumi.

Yuuji duduk dan melihat lubangnya yang memerah, bahkan ada setitik darah di sana.

"Ii, tidak apa-apa," balas Yuuji masih terengah.

Megumi melepaskan kondom dari penisnya, mengikat dan membuang benda itu sembarangan di lantai. Yuuji meneguk ludah berat melihat penis Megumi yang basah berlumuran sperma.

"Lagi..." pinta Yuuji yang membuat Megumi terbelalak. Tanpa kata, Megumi pun mencium Yuuji dan kembali menindihnya.

.

.

Mereka melakukan sex sampai sore. Karena lelah, mereka langsung tidur tanpa bebersih dulu. Kasur berantakan, dan kondom berceceran di lantai bersama pakaian mereka.

Saat Yuuji terbangun, kamar dalam keadaan gelap. Hanya samar cahaya dari bagian atas jendela. Ia bangun untuk menyalakan lampu, tapi ia mengaduh kesakitan.

"Aa...ittai ittaai..." keluhnya. Dengan pincang ia menghampiri saklar dan menyalakan lampu. Ia menatap kamar yang berantakan, kondom yang tercecer di lantai. Ia menatap Megumi yang masih terlelap. Tubuh polosnya tertutup selimut sampai pinggang. Yuuji meneguk ludah berat menatap itu.

Ia berjalan menghampiri ranjang, menatap tubuh Megumi lebih dekat. Banyak bekas cakaran kuku Yuuji yang membekas di kulit mulus Megumi. Ah, Yuuji lupa mau memotong kuku. Niatnya waktu itu terhenti gara-gara menemukan kondom.

Yuuji ganti menatap bibir Megumi, ia menyentuh sendiri bibirnya. Ia baru tahu ciuman bisa seenak itu jika menggunakan lidah. Ia juga baru tahu sex seenak ini. Ya, dia tahu kalau katanya sex itu enak. Tapi setelah merasakan sendiri...ia tak bisa menggambarkan perasaannya.

Ia yang awalnya takut untuk dimasuki, sekarang bisa merasakan perasaan nikmat dari hal itu.

"Uwaahh, aku jadi hentai," Yuuji menutup wajahnya sendiri dengan tangan. Saat ia membuka mata, Megumi menggeliat bangun.

"Kau sudah bangun duluan," ucap Megumi dan duduk. Yuuji mengangguk. Megumi menarik Yuuji ke dalam pelukannya, mengecup dahinya pelan. "Badanmu gimana?" tanya Megumi.

"Baik," balas Yuuji.

Megumi melepas pelukan, membelai pipi Yuuji. "Gimana sex tadi? Enak?"

Blush...!

Wajah Yuuji seketika memerah. "K-kenapa harus tanya?!"

"Ya, aku tidak tahu. Aku takutnya kau jadi trauma karenaku atau apa. Ini sex pertama kita, mungkin aku buruk dalam hal ini? Biar nanti bisa kuperbaiki."

Yuuji membuang pandangan. "E-enak kok," balasnya kemudian.

Megumi menghela nafas lega. "Aah, syukurlah. Kupikir aku saja yang keenakan," ia kembali memeluk Yuuji.

Yuuji menyembunyikan wajah di dada Megumi. Sepertinya Megumi sangat menghawatirkannya.

"Jadi yang tadi enak?" Yuuji mencoba menggoda Megumi. Tapi sepertinya Megumi malah biasa saja. Ia mengangguk.

"Iya enak banget," Megumi mengecup puncak kepala Yuuji. "Aku takutnya aku saja yang merasa begini sementara kau kesakitan."

"Nggak kok. Aku juga enak," balas Yuuji meski masih sedikit malu mengatakannya. "Aku jadi berpikir kenapa kita tidak melakukannya lebih cepat ya. Hal seenak ini."

Megumi hanya tertawa kecil menanggapi itu.

"Sudahlah. Ayo mandi. Kubantu kau bersih-bersih. Masih ada kereta jam segini kan untuk kau kembali ke asrama."

"Astaga. Iya ya aku harus balik," ucap Yuuji.

Mereka tak mandi bersama karena Yuuji masih malu. Akhirnya Megumi mandi di luar lagi, Yuuji di kamar mandi kamar. Megumi selesai duluan dan mulai memberesi kamar. Hening dari kamar mandi.

"Yuuji, kau butuh bantuan buat bersih-bersih?" tanya Megumi khawatir. Tak ada jawaban. Tapi beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Yuuji menghambur memeluk Megumi, handuk yang ia pakai lepas.

"Megumi, tasukete," pintanya.

Megumi terbelalak menatap wajah Yuuji yang kini memerah. Penis Yuuji sudah tegak. "Aku ingin lagi. Apa aku sudah berubah jadi orang mesum?"

"...Yuu...ji..."

"Aku tadi sedang membersihkan lubangku. Tapi tiba-tiba saja aku teringat sensasi saat kau masuk. Dan aku langsung ereksi. Dari tadi tidak mau turun. Tolong aku, Megumi. Aku jadi aneh—...mmph..." ucapan Yuuji terhenti saat Megumi mencium bibirnya. Dengan rakus Yuuji langsung merespon ciuman, lidahnya bertaut dengan lidah Megumi. Ia memeluk Megumi saat cowok itu mendorongnya ke ranjang, menindih tubuhnya.

"Sudah kubilang, kau tidak sendirian. Karena aku juga sama," ucap Megumi, menjilat cuping telinga Yuuji. "Mulai sekarang katakan semua perasaanmu. Tidak perlu malu. Aku justru senang kalau kau merasa nikmat dengan kegiatan kita."

Yuuji mengangguk. Ia melepaskan baju Megumi lalu mencium lehernya. Tangannya meremas selangkangan Megumi yang sudah menggunduk.

"Ayo masukkan. Cepat," pintanya.

Megumi mengangguk. Ia menurunkan celana, sekedar bisa mengeluarkan penisnya, lalu menerobos masuk ke lubang Yuuji.

"Ngh...ahh, Megumi...ahh, lebih cepat. Enak sekali," Yuuji meremas rambut Megumi.

Sepertinya kesalahan besar bagi Megumi menyuruh Yuuji menyuarakan perasaannya. Hal itu membuat libidonya memuncak, dan langsung memasuki Yuuji dengan brutal. Meski setelahnya ia justru mendengar desahan nikmat dari Yuuji.

"Yuuji, kondomnya habis," ucap Megumi setelah mereka melakukan beberapa ronde.

"Ahh, cepat masukkan saja. Masa harus beli dulu," rengek Yuuji.

"Hng, baiklah," Megumi pun masuk tanpa kondom. "Hngh..." ia terbelalak merasakan sensasi panas yang ada. Ia mematung sesaat, menatap tempat di mana mereka terhubung. Yuuji juga mematung merasakan sensasi yang ada.

Megumi mulai bergerak. Ia masih tak menyangka dengan sensasi yang dirasakannya. Tanpa kondom, ia bersentuhan langsung dengan rongga basah Yuuji. Begitu hangat dan basah.

"M-Megumi...panas," ucap Yuuji. "Penis mu...panas banget. Enak. Cepat bergerak."

Megumi meneguk ludah berat. Rupanya bukan ia saja yang merasakan. Ia pun langsung masuk dengan brutal, membuat tubuh Yuuji menggelinjang.

"Aah...mou-...ikku, mau klimaks..." ucap Yuuji.

"Nn, Yuuji, ahh, boleh...keluar di dalam?"

"Ya, keluarkan saja."

"Tapi aku nggak pakai kondom."

"Nggak papa. Coba saja."

"Hnn, baiklah," Megumi pun terus bergerak.

"Hnghh...ahhh," Yuuji klimaks duluan, disusul Megumi beberapa saat kemudian. Spermanya tumpah di dalam lubang Yuuji.

Yuuji menyentuh perutnya yang terasa panas. "Punya Megumi...ada di dalam tubuhku, hehe," entah sadar atau tidak ia tersenyum menggoda. "Nanti aku akan punya anak."

Snap...!

Hilang sudah kewarasan Megumi. Ia pun langsung menerjang masuk kembali dengan cepat. Tapi sepertinya Yuuji tak keberatan.

.

~OoooOoooo~

.

Karena terlalu menikmati sex mereka, keesokan harinya mereka tak masuk kuliah. Keduanya sama-sama tepar di ranjang. Mereka melakukan sex sampai tengah malam, istirahat, lalu sex lagi sampai pagi.

"Aku...capek banget," ucap Yuuji dengan nafas tersengal.

"Istirahatlah. Sudah telat juga. Hari ini kita nggak usah kuliah," ucap Megumi melihat jam sudah menunjuk angka 8.

"Ya," Yuuji menurut. Ia pun memejamkan mata. Megumi mengecup lembut pelipis Yuuji, dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya.

.

~OoooOoooO~

.

Gojo baru selesai mengajar saat ia menilik ponsel. Ada chat dari Megumi.

'Telefon aku kalau sudah tak sibuk,' begitu isinya.

Gojo bergegas memberesi barang-barangnya dan kembali ke ruangan. Ia mengunci pintu, lalu menelfon Megumi.

"Moshi moshi, Megumi. Bagaimana...?" ia mendengarkan suara Megumi di ujung telefon, lalu tersenyum lebar. Mereka hanya ngobrol sebentar. Gojo mematikan telefon, lalu beralih menelfon seseorang.

"Sukunaaaaa," teriaknya kemudian.

.

~OoooOoooO~

.

Hari-hari Megumi kembali seperti semula. Setelah akhir pekannya yang liar bersama Yuuji, ia kembali berkuliah seperti biasa.

Ia tengah bersiap untuk pergi kerja sambilan hari itu. Tiba-tiba ponselnya berdering, telefon dari Yuuji.

"Ada apa Yuu—..."

"Megumiiiiii, aku ingiiin," potong Yuuji sebelum Meguni selesai berucap.

"HUH?!"

"Ugh...aku barusan selesai onani di WC FFA, tapi nggak puas. Penginnya sex denganmu. Aaaahh," rengek Yuuji.

"Ochitsuite!" Megumi kelabakan sendiri. Ia harus tenang, karena mendengar itu penisnya juga jadi mulai bereaksi. "Ya, akhir pekan ke sini lagi saja seperti biasa."

"Aargh, akhir pekan lama. Ini baru hari apa sih. Rabu. Astaga masih dua hari lagi. Udah nggak kuat."

Megumi meremas selangkangannya yang mulai tak sabaran. Tapi tentunya mana bisa mereka langsung ketemu detik itu juga. Kecuali punya pintu ajaib doraemon.

"Hish, ya sudah. Jumat sore saja kau ke sini. Sesudah kegiatan kau langsung ke sini," ucap Megumi.

"Hiks...baiklah," Yuuji pun hanya bisa pasrah, lalu mematikan telefon. Megumi menatap selangkangannya yang sudah menggunduk.

"Astaga, jangan sekarang dong. Harus kerja," umpatnya lalu menarik jaket lebih ke bawah. Ia berharap ereksi nya sudah turun selama perjalananan menuju tempat ia kerja.

.

.

Setelah hari-hari yang bagi mereka sangat panjang, akhirnya akhir pekan pun tiba. Yuuji yang seharian sudah kelelahan latihan, tetap tak peduli dan langsung berkemas menuju apartment Megumi. Hari sudah malam saat ia tiba di sana.

Megumi bergegas membukakan pintu saat terdengar suara Yuuji dari intercom. Wajah Megumi bersemu saat membukakan pintu, tapi wajah Yuuji juga tak jauh beda. Tanpa kata, Yuuji menghambur masuk, membanting pintu di belakang tubuhnya, lalu menubruk Megumi. Sepertinya itu akan menjadi hal rutin mereka di akhir pekan.

.

.

.

~TBC~

.

Support me on Trakteer : Noisseggra